Resume Lesson and Reflection: QS An-Naba 1 – Nouman Ali Khan

[Edisi SSS – Sharing Santai tapi Serius]

Judul: Lesson and Reflection: QS An-Naba (05 Juni 2017)
Sumber video: Kajian Ust. Nouman Ali Khan – Ramadhan Series 2017
Link:

http://stream.bayyinah.tv/share/watch/ramadan-2017/5449770106001/01-al-naba—part-1—ramadan-2017

PENGANTAR

Kebanyakan kita belajar Quran saat ini dengan membaca secara pasif dalam lembaran, dan teks terjemahan. Padahal pengalaman Quran sesungguhnya adalah mereka mendengarkan sounds, kata-kata yang hidup. Bukan silent experience.

Pesan Quran sangat powerful, namun sangat sulit di-capture ketika diterjemahkan, terutama untuk surat yang turun di Mekah. Di mana kebanyakan adalah wahyu awal, yang ayatnya pendek-pendek, sangat puitis, dan urutannya berpindah secara cepat.

Salah satu tujuan lecture ini adalah untuk memahami bagaimana ayat-ayat ini mengalir dalam urutanya, bagian per bagian. An-Naba memiliki alur/koneksi dari bagian awal hingga akhir (perfect literary symmetry).

Pada bagian awal, orang mempertanyakan kebenaran Hari Akhir. Bertanya secara sarkastik, apakah Hari Akhir benar-benar ada? Apakah ini masuk akal? Dan pada bagian akhir, orang-orang tersebut menjadi “ humble”. Tidak ada lagi yang berkata bahwa Hari Akhir hanya ucapan “non-sense”.

Poin lainnya: Allah menyebutkan bahwa “kehidupan ini berpasangan”, yang pada akhirnya akan terpisah menjadi dua pilihan keputusan, di surga atau neraka. Adapun tepat di bagian tengah surat menjelaskan tentang Hari Kebangkitan.

BAGIAN 1: MEMPERTANYAKAN HARI KEBANGKITAN

Sebelumnya kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang al-mukadzibin.

Siapa al-mukadzibin itu?

Mereka adalah orang yang menolak kebenaran. Mereka orang -orang yang tahu pesan-pesan Islam, Quran, ajaran Rasulullah, bahwa itu convincing (meyakinkan), tetapi mereka tidak mau menerimanya.

Mereka mengatakan bahwa Al-Quran dan Rasulullah adalah kebohongan. Mereka mengajak orang-orang lain untuk tidak mempercayai, dan mengatakan bahwa itu adalah kebohongan. Salah satunya dibahas di ayat 1.

AYAT 1

(عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ)

‘amma yatasaaa’aluun

Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?

Dalam Bahasa Arab, sa’ul atau su’al merupakan verb untuk menanyakan pertanyaan. Hal ini bisa berarti dua hal:

1) Menanyakan untuk mengetahui informasi,
2) Pertanyaan sarkastik, bukan menanyakan namun merendahkan. Pertanyaan sarkastik inilah yang dilakukan oleh al-mukadzibin.

Seriously, after life?

Orang-orang mempertanyakan kebenaran Hari Akhir, surga, dan neraka secara sarkastik. Yang sebenarnya bermaksud untuk mencemooh.

Kemana saya akan pergi setelah mati? Hal ini merupakan pertanyaan lama para filosofi, dan Al-Quran memiliki jawaban. Faktanya akan ada Hari Pembalasan, dimana semua hal yang kamu lakukan dalam hidup, akan kembali kepadamu. Semua hal yang kamu kerjakan dicatat, dan ditanyakan, semua dalam pengawasan.

AYAT 2

(عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ)

‘anin-naba’il-azhiim

Tentang berita yang besar (Hari Kebangkitan).

Di Quran ada dua macam istilah untuk menyebutkan “berita”, yakni “ khabr“ untuk hal-hal kecil, seperti saya akan pergi ke suatu tempat, dan memberikan kabar kepadamu. Adapun berita besar seperti perang, gempa bumi, banjir disebut dengan “naba“.

Naba menuntut adanya reaksi/tindakan selanjutnya. Contohnya ketika terdapat kabar terjadi banjir, maka dibutuhkan tindakan berupa evakuasi.

Allah menggunakan kata naba untuk memanggil orang-orang yang menertawakan, yang bertanya secara sarkastik, bahwa mereka harus mengambil ini sebagai berita yang serius.

Makna kata al azhiim bukan hanya besar, tapi juga suatu hal yang solid/ tidak terpatahkan. Dalam hal ini Allah menjelaskan bahwa bukan hanya ‘peristiwa yang besar’, namun juga ‘sesuatu yang sudah diatur, dan pasti akan terjadi’.

AYAT 3

(الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ)

Allathee hum feehi mukhtalifoon

Yang mereka perselisihkan tentang ini.

Yang mereka perselisihkan tentang ini. Mereka sudah mengetahui ini sejak lama, tapi kenapa baru saat ini. Ini karena mereka sarkastik, dan tidak menganggap serius.

AYAT 4 dan 5

(كَلَّا سَيَعْلَمُونَ)

Kalla saya’lamoon

Tidak, kelak mereka akan mengetahui.

(ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ)

Thumma kalla saya’lamoon

Sekali lagi tidak, kelak mereka akan mengetahui.

Ada beberapa pendapat yang menyatakan pengulangan ini:

1) Pendapat pertama, adalah bahwa ayat tersebut diulang untuk menekankan pokok beratnya pembicaraan yang dimaksud
2) Pendapat kedua (yang kebanyakan digunakan oleh mufassiroon), yakni ada dua “kalla’ peringatan yang dimaksud yakni: Hari Kebangkitan dan api neraka. “tsumma” menunjukan durasi waktu yang panjang. Mereka akan mengetahui kebenaran pada dua waktu yang terpisah, “tersadarkan” dalam dua tahapan, yakni pertama pada Hari Kebangkitan (judgment day) ketika semua amal dihitung dan diinterogasi. Dan kedua kalinya, saat mereka menyaksikan neraka.

Urutan penjelasan ini juga merupakan bagian dari urutan alur QS An-Naba. Pertama Allah menceritakan tentang judgement day, lalu api neraka.

BAGIAN 2: KETIDAKMAMPUAN MANUSIA, KEKUASAAN ALLAH

What is the idea of after life come from? What should I believe in the judgment day? What the argument that can you give me, God?

Allah tidak menjawab semua pertanyaan sarkastik tersebut. Namun Allah menjelaskannya dengan “menunjukkan bukti” akan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Allah mengajak manusia untuk merefleksi dan berpikir mendalam. Inilah yang dibahas pada bagian berikutnya.

AYAT 6–13

Bukankah kami telah menjadikan bumi ini sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak. Dan kami jadikan kamu berpasang-pasangan. Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan. Dan kami bina di atas kamu tujuh buah langit yang kokoh. Dan kami jadikan pelita yang amat terang (matahari).

Bahasa yang Allah gunakan sangat menakjubkan. Allah menggunakan analogi dan referensi dalam Alquran yang dapat dihubungkan oleh keseharian manusia.

Bukankah kami telah menjadikan bumi ini sebagai hamparan? Bayangkan kita memiliki kamar dan tempat tidur yang nyaman. Tempat tidur yang nyaman tersebut hanya sebagian kecil dari hamparan yang Allah buatkan. Siapa yang membuat hamparan lebih baik? Bahkan Allah membuat hamparan untuk kehidupan makhluk di laut dalam sekalipun.

Dan gunung-gunung sebagai pasak. Dalam kehidupan sehari-hari, pasak digunakan untuk membuat tenda. Ketika anak kecil menggambarkan gunung, seperti apakah bentuknya? Tenda juga kan?

Kamu membuat tenda, dan bandingkan dengan tenda yang Allah buat (gunung). Ketika angin meniup, apa yang terjadi pada tenda-mu? Dan bagaimana tenda yang dibuatkan oleh Allah?

Subhanallah.. Ini mengingatkan manusia betapa humble-nya Allah

Dan kami jadikan kamu berpasang-pasangan. Allah menjadikan manusia berpasang-pasangan. Sadari bahwa kita tidak hidup di dunia ini secara bebas, toh kita tidak bisa memilih sebagai organisme uniseluler, dan kita tidak bisa ada di dunia ini tanpa adanya ibu dan bapak. Kamu diciptakan berpasangan. Ini bagaimana Allah menciptakanmu.

Makna aswaja bukan hanya “pasangan” tapi juga grup. Maknanya Allah menciptakanmu di dalam komunitas. Kamu membutuhkan manusia untuk bertahan hidup, tidak bisa sendirian.

Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Kamu mencintai hidup dan dunia, adapun tidur merupakan bagian dari kematian. Namun, kamu tidak bisa mengelak dari kebutuhan tidur kan? Seberapa lamanya kamu beraktivitas dan terjaga, tetap membutuhkan tidur. Adanya kebutuhan tidur, itulah kasih sayang Allah yang mengatur fitrah dalam tubuh manusia untuk beristirahat.

Dan kami jadikan malam sebagai pakaian. Bayangkan kamu menutupi tubuhmu dengan pakaian. Dan bayangkan Allah menyelimuti seluruh dunia dengan malam. Cakupan kekuatanmu hanya sekecil itu. Mana yang lebih berkuasa?

Dan kami bina di atas kamu tujuh buah langit yang kokoh. Bayangkan kamu melihat langit-langit sebuah bangunan. Kamu takjub dengan keindahan konstruksi, hiasan lampunya. Lalu, tataplah langit. Mana yang lebih berkuasa dan menakjubkan?

Dan kami jadikan pelita yang amat terang (matahari). Coba bandingkan kemampuan manusia yang hanya bisa mengkontruksi dan memasang lampu. Tatap lampu kamar dimana saat ini kamu berada. Lampu itu tidak bisa bertahan lama, sinarnya terbatas hanya berkisar di ruangan saja, dan nanti akan redup..

Lihatlah bahwa “langit” yang Allah buat itu terdapat “lampu”. Lampu yang menyinari terus menerus dalam intensitas dan kisaran suhu yang sama, yang ditujukan untuk kehidupan manusia. Bayangkan jika matahari padam, bagaimana jadinya manusia?

Manusia sungguh amat lemah, dan Allah Maha Kuasa

Advertisements

2 thoughts on “Resume Lesson and Reflection: QS An-Naba 1 – Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s