10 Hari Terakhir Ramadan – Amalan Harus Lebih Kencang Lagi

KITA TELAH MEMASUKI 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN

Tapi tidak semua orang mengerti esensi betapa berharganya malam-malam Ramadan ini. Di pasar tradisional, tukang bubur ayam laris manis. Para penjual dengan entengnya menyeruput es. Untuk memahami esensi Ramadan saya membuat sebuah analogi. Tentang pesta pernikahan.

Pada pesta pernikahan tak ada orang yang datang memakai kaos oblong dan sandal jepit bukan? Mereka akan mengenakan pakaian terbaiknya. Disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Tidak ada orang yang berani mengenakan baju tidur yang biasa dipakai pada malam hari karena itu akan dianggap tidak menghormati pesta yang digelar. Dan tidak menghormati yang punya acara.

Nah Ramadan juga begitu. Bulan Ramadan adalah bulan yang diistimewakan Allah. Sebuah perayaan yang diadakan oleh Allah dalam rangka turunnya Al Qur’an. Seharusnya kita juga bisa mengistimewakannya sebagaimana Allah mengistimewakannya.

Jangan sampai ibadah kita pada bulan Ramadan sama dengan ibadah kita di bulan lainnya. Usahakan ada perbedaan, meski itu kecil. Tilawah kita, zakat kita, amal salih kita.

Usahakanlah menambah hafalan walau hanya bisa sedikit sebagai kenang-kenangan ramadan pada tahun ini. Usahakan ada perbedaan interaksi Qur’an kita dengan hari-hari biasanya. Meski itu hanya menambah 30 menit berdiam diri di masjid untuk membaca Al-Qur’an.

Hari ini sudah memasuki 10 hari terakhir Ramadan. Amalan harus lebih kencang lagi, ada baiknya kita tidak merepoti ibu-ibu kita dengan masakan ini itu. Makan sahur seadanya saja. Lauk bekas buka diangetin juga tidak apa-apa, Ibu kita juga butuh untuk beribadah.

Mendekati lebaran ini kita jangan rewel, dengan makanan ini-itu, atau baju ini-itu. Gunakan Ramadan sebaik-baiknya. Lekas tidur seusai tarawih. Jangan ngobrol, jangan ngenet. Agar malamnya kita bisa terbangun. Untuk memperbanyak doa-doa kita & tilawah-tilawah kita.

Karena pada Bulan Ramadan Allah sungguh pemurah. Jadi jangan sia-siakan kesempatan itu. Maksimalkan Ramadan kita kali ini, Dan semoga kita bisa mendapatkan Lailatul Qodar-Nya.

– Diambil dari ceramah Nouman Ali dengan gubahan & tambahan seperlunya-

#arkandini

Ditulis oleh: Arkandini Leo

[Transkrip Indonesia] Pengobatan Qurani Bagi Hati – Nouman Ali Khan

Pengobatan Qurani Bagi Hati

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin, wash-sholatu was-salamu ‘alaa sayyidil anbiyaai wal mursaliin, wa alaa aalihi wa shohbihi famanistanna bi sunnatihi ilaa yaumiddin. Allahummaj’alna minhum wa minalladziina aamanu wa ‘amilush-shoolihat watawa saubil haq watawa saubis sabr, aamiin ya robbal-‘aalamiin. Tsumma ‘amma ba’d.

Fa ‘audzu billahi minasy-syaitonir rojiim.

“Wa ‘ibaadur-rohmaanilladziina yamsyuuna‘alal-ardhi haunan wa idzaa khoothobahumul-jaahiluuna qooluu salaaman.” (QS. Al-Furqan ayat 63)

“Walladziina yabiituuna lirobbihim sujjadan wa qiyaaman.” (QS. Al-Furqan ayat 64)

“Walladziina yaquuluuna robbanashrif ‘annaa ‘adzaaba jahannama inna ‘adzaabahaa kaana ghorooman.” (QS. Al-Furqan ayat 65)

“Innahaa saaa’at mustaqorron wa muqooman.” (QS. Al-Furqan ayat 66)

Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul uqdatan min lisaanii, yafqohuu qoulii, aamiin ya robbal-‘aalamiin.

Pertama dan utama sekali saya ingin berterima kasih kepada masjid ini. ELM sudah menjadi satu tempat yang sangat dekat di hati saya. Kenyataannya seringkali saya datang ke sini tanpa memberi tahu seorang pun. Termasuk juga saya pernah melakukan eksperimen sosial di sini.

Jadi beberapa bulan lalu saya datang ke sini. Saya kira saya sudah pernah menceritakan hal ini. Saya datang ke sini beberapa bulan lalu untuk Jum’atan. Saya duduk di antara jamaah, saya kenakan penutup kepala (hoodie). Sehingga tak seorang pun tahu siapa saya. Kepala selalu saya tundukkan.

Saya ingin tahu apakah saya akan dikenali. Ternyata tidak. Saya selamat hingga akhir acara. Seorang lelaki di salah satu baris selama Jum’atan kelihatan agak curiga. Dia melirik dari samping dan segera saya perbaiki hijab saya. Kira-kira demikian dan saya selamat.

Namun bagaimanapun juga, keramahan masjid ini telah saya nikmati. Dan tentunya jumlah Anda yang berlimpah yang datang malam ini adalah indikasi
dari cinta yang ditempatkan Allah di antara kita dan semoga Allah ‘azza wa jalla menerima cinta itu sendiri sebagai wujud ibadah dan meningkatkannya di antara sesama muslim.

Yang ingin saya sampaikan kepada Anda malam ini, adalah suatu bagian dari Al-Qur’an, pada akhir surat Al-Furqan. Ini adalah surat ke-25 dari Al-Qur’an. Bagian ini sangat dekat dan sangat bernilai di hati saya. Tentang sesuatu yang sering kali saya bicarakan sebelumnya, namun setiap beberapa tahun sekali saya merasa perlu untuk melihat kembali dan menyegarkan lagi hubungan saya dengan ayat-ayat ini. Dan jika saya merasa membutuhkannya, saya kira Anda sekalian juga demikian.

Jadi demikianlah latar belakang acara kita ini, yakni berbagi beberapa di antara hasil renungan dari ujung surat nomor 25 dengan Anda semua.

Sebutan bagi orang beriman

Allah ‘azza wa jalla pada bagian ini memberi kita sebuah sebutan khusus. Sebutan itu adalah “Wa ‘ibaadur-rohmaan”. Hamba dari Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Orang-orang yang beriman bisa dipanggil sebagai hamba Allah. Orang-orang beriman sederhananya bisa disebut orang-orang beriman, “Alladziina aamanuu”. Kita bisa juga disebut muslim. Kita punya banyak sebutan. Dan dari semua sebutan itu, sebuah sebutan unik dan spesial yang dipilihkan Allah dalam surat ini adalah “‘Ibaadur-rohmaan” dan sebutan ini menunjukkan sesuatu.

Pertama dan utamanya dari sudut pandang tata bahasa, “‘Ibaadur-rohmaan” adalah sesuatu yang dalam bahasa Arab disebut “‘Idhofah”. Sederhananya “Idhofah” berarti dua kata yang terikat satu sama lain.

Secara tata bahasa artinya dua kata yang bergabung menjadi satu. Dan secara tata bahasa bahkan disebutkan bahwa tidak ada satu pun yang ada di antara “Mudhaaf” (kata pertama) dan “Mudhaaf ilaihi” (kata kedua). Keduanya tak terpisahkan.

Namun dengan menggunakan struktur tersebut secara terpisah karena kita bisa juga mengatakan, “‘İbaadun lil rohmaan”. Hamba bagi Ar-Rahman.

Tapi kenyataan bahwa kedua kata ini telah menyatu itu sendiri menyebabkan beberapa komentator terinspirasi oleh fakta bahwa hal ini menggambarkan hubungan yang sangat dekat antara orang-orang tertentu dengan Allah. Dan nama-nama Allah sendiri tentunya, masing-masingnya memiliki konotasi tertentu, nama itu memunculkan emosi tertentu bagi masing-masing kita.

Dia (Allah) bisa saja mengatakan, “‘Ibaadullaah”. Hamba Allah. Namun Dia memilih dengan kebijaksanaanNya untuk berkata, “‘Ibaad Ar-Rohmaan”.

Maka hubungan yang telah digambarkan dalam ayat ini antara kita dan Allah adalah hubungan tentang cinta, pemeliharaan, dan ampunan.

Kita telah dibawa menuju cinta, pemeliharaan, dan ampunan Allah. Dengan mengalirnya ayat ini, ada dua cara yang berbeda untuk menganalisa apa yang telah difirmankan (Allah).

Salah satunya adalah ada orang-orang dengan kualitas tertentu. Siapakah orang-orang istimewa yang disebut Allah sebagai “‘Ibaadur-rohmaan”?

Dan salah satu cara menganalisanya adalah, ini ada daftar kualitas (‘Ibaadur-rohmaan), jika Anda tidak memiliki semuanya artinya Anda tidak termasuk didalamnya.

Ini salah satu cara untuk memahaminya, bukan demikian? Dan akibatnya, banyak dari kita hanya akan melihat nomor satu dari daftar lalu memutuskan, “Ok, saya sudah terdiskualifikasi.”

Namun cara lain yang sangat jelas untuk memahaminya, cara ini sangat masuk akal sehubungan dengan tata bahasa Arab dari ayat-ayat ini bahwa masing-masing (kualitas) ini adalah mengacu kepada kelompok orang yang berbeda.

Masing-masingnya adalah kelompok orang yang berbeda. Yang sama dari mereka adalah semuanya orang yang beriman. Intinya adalah, – dan ini adalah poin penting yang ingin saya berikan dalam pembukaan ini -, kita semua tidak sama.

Beberapa di antara Anda, seperti seorang wanita yang saya temui sore ini selepas salat Jum’at, dia menemui saya dan berkata, “Saya melakukan salat tahajud tiga jam setiap hari. Apakah itu sudah cukup baik?”

Sungguh itulah yang ditanyakannya pada saya, “Apakah itu sudah cukup baik?”

Saya berkata, Anda seharusnya memperoleh semacam piala karena sebagian orang bahkan tidak mampu tahajud selama lima menit. Kita belum punya — bahkan bangun untuk salat subuh saja luar biasa sulit bagi sebagian orang. Dan wanita ini bertahajud selama tiga jam, dan saya bertanya apa yang mendorong Anda melakukannya dan dia menjawab, “Baiklah… apa yang akan saya lakukan? Menonton TV? Lebih baik saya bicara kepada Allah.”

Itu yang dikatakannya kepada saya dan saya merasa terhormat karena dia datang bertanya kepada saya, padahal saya seharusnya meminta nasihatnya, orang-orang yang sangat dekat dengan Allah ‘azza wa jalla.

Yang saya maksudkan adalah kita semua tidak sama. Saya tak mampu melakukan apa yang dilakukannya, jujur saja. Saya tak mampu melakukan apa yang dilakukan wanita itu. Saya mengagumi kemampuan yang telah diberikan Allah kepadanya. Semoga Allah terus memberinya istiqamah serta menjawab doa-doanya.

Tapi tahukah Anda, ada pula orang-orang yang sangat hebat dalam menolong orang lain. Kecakapan atau karunia yang dimilikinya adalah kemampuan untuk menolong orang lain.

Ada lagi orang lain yang memiliki satu pengaruh saja. Jika dia berada di tengah-tengah orang lain, mereka akan merasa lebih baik. Itu karunia yang mereka miliki. Datangi saja mereka, meski mereka tidak bicara sepatah kata pun, saat Anda bersama mereka Anda seperti — Anda merasakan ada ketenangan dalam diri Anda. Ada kedamaian dalam diri Anda.

Allah telah memberi kita semua karunia yang berbeda-beda. Bagian surat ini, salah satu cara — yang menurut saya lebih meyakinkan adalah menekankan hal yang berbeda terhadap beragam tipe orang beriman.

Jadi ada sekelompok orang beriman yang memiliki satu kualitas khusus. Dan ada kelompok lain yang memiliki kualitas khusus yang berbeda. Itulah yang membuat mereka istimewa.

Seraya kita pelajari ayat-ayat ini, Anda bisa saja menyadari bahwa; saya tidak cocok dengan yang pertama. Saya berharap bisa cocok dengan salah satu kategori yang ada di sini. Dan Insya allahu ta’ala Anda akan menemukan kecocokan.

Anda bahkan bisa masuk ke dalam lebih dari satu kategori dan memenuhi syarat sebagai seorang “‘Ibaadur-rohmaan”. Semoga Allah memasukkan kita semua dalam “‘Ibaadur-rohmaan”-Nya.

Kategori ‘Ibaadur-rohmaan

1. Orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati

Yang pertama dari kategori yang ada, ini menarik. Anda mungkin berpikir, jika Allah bicara tentang mereka yang paling dekat denganNya, yang paling dicintaiNya, mungkin seharusnya dimulai dengan mereka yang paling banyak berdoa (salat) kepadaNya, mereka yang paling banyak menyembahNya, yang paling rajin dalam hal spiritual terhadap Allah. Tapi dari mana Allah memulai?

Dia berkata, “Alladziina yamsyuuna‘alal-ardhi haunan.” (QS. Al Furqan ayat 63)

Hamba dari Yang Maha Penyayang, orang-orang spesial ini adalah mereka yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati.

“Alladziina yamsyuuna‘alal-ardhi haunan.” (QS. Al Furqan ayat 63)

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu memahami apa maksudnya itu. Ini bukan berarti bahwa saat melangkah di jalanan, Anda berjalan setengah rukuk sehingga bahu Anda terkulai, dan berkata saya rendah hati. Rendah hati bukan seperti itu. Anda tetap berjalan dengan tegap. Rendah hati berarti bahwa Anda tidak memperlakukan orang lain lebih rendah dari Anda. Anda tidak berbicara dengan cara menghina.

Dan konsep dari “Fil-ardh” sebenarnya adalah kemanapun Anda pergi, apakah di rumah, di kantor, di sekolah, apakah sedang berurusan dengan bawahan atau atasan apakah berurusan dengan anak-anak atau orang tua, apakah itu orang tua Anda, orang lain, muslim atau non-muslim.

Saat Anda berurusan dengan orang lain Anda menunjukkan sikap rendah hati tertentu, Anda tidak membuat orang lain merasa tak berharga dengan kata-kata Anda, cara Anda memandang mereka, cara Anda membawa diri.

Inilah yang dimaksud dengan “Al masyi ‘alal-ardhi haunan”.

Berjalan di muka bumi dengan kerendahan hati, dengan cara yang rendah hati.

Anda tahu, Al-Qur’an menyoroti bermacam-macam bentuk kesombongan. Semua yang hadir di sini tahu bahwa kesombongan adalah sebuah penyakit hati, dia berada di dalam hati, bukan demikian? Lalu jika ada suatu penyakit di dalam tubuh, seperti sebuah virus, maka akan ada gejala yang terlihat dari luar. Demam, keringatan, dan gejala lainnya.

Al-Qur’an akan menyoroti beberapa gejala dari kesombongan. Contohnya Allah menggambarkan bagaimana orang-orang menatap seseorang. Hanya dari bagaimana dia menatap orang lain. Al-Qur’an menggambarkan ada beberapa orang yang menatap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Yakaadulladziina kafaruu layuzliquunaka bi’abshoorihim.” (QS. Al Qalam ayat 51)

Mereka mendelik kepadamu, sehingga kamu bisa saja terpeleset dan jatuh akibat cara mereka memandangmu. Sebegitu tajamnya mereka menatapmu. Dengan kata lain, mereka tidak mengatakan sepatah kata pun, tidak melakukan apa pun. Di mana kesombongan mereka? Pada wajah mereka. Hanya pada mata mereka.

Khusus bagi para pemuda, ini adalah nasihat bagi kalian, saat orang tua memarahi kalian tentang sesuatu. Adil atau tidak adil tidak masalah. Kamu duduk di sana mendengarkan dengan darah mendidih. Meski ingin balas berteriak, kamu hanya menatap mereka dengan tatapan yang sungguh buruk. Tatapan buruk yang kamu layangkan kepada mereka.

Lalu ibumu berkata, “Mengapa kamu menatapku seperti itu?”

Dan kamu menjawab, “Saya tidak bicara apa-apa.”

Kamu takkan memperoleh penghargaan karena tidak bicara apa-apa. Karena kesombongan itu tidak hanya ada di perkataanmu — selamat kamu tidak berkata apa-apa — itu bagus, karena keadaan bisa menjadi jauh lebih buruk. Namun di sana ada kesombongan, ada kemarahan, tidak ada rendah hati, bahkan di wajah kita.

Bahkan dalam cara bersikap, “Tsumma nazhor, tsumma ‘abasa wa basar, tsumma adbaro wastakbar.” (QS. Al-Mudassir ayat 21-23)

Hanya dari cara Anda memandang seseorang, cara Anda merengut. Hanya dari cara Anda memutar mata Anda. Faktanya, terkadang itu ada pada cara Anda memandang seseorang, terkadang dari cara Anda tidak memandang seseorang.

Seseorang mengucapkan salam kepada Anda, Anda bahkan tidak mau memandangnya. Anda buang pandangan ke arah lain, Anda abaikan dia, atau Anda jawab, “Wa’alaikumussalam,” karena merasa bersalah, namun mengucapkannya dengan suara sangat pelan untuk memastikan mereka tak bisa mendengarnya dan seakan merasa Anda tidak menjawab.

Jadi seperti, Allah tahu saya menjawab salam, tapi saya tak ingin mereka merasakan kepuasan mengetahui bahwa saya menjawab salam mereka. Jadi saat mereka datang dan berkata, “Hai, saya tadi bilang salam, tapi kamu tidak menjawab.”

“Sudah saya jawab kok.”

Itu adalah ciri khusus dari kurangnya “Haun” (rendah hati).

“Alladziina yamsyuuna‘alal-ardhi haunan.” (QS. Al-Furqan ayat 63)

Rendah hati terhadap orang lain, penyayang terhadap anak-anak. Penyayang terhadap orang tua, bahkan penyayang terhadap orang-orang yang tidak layak disayangi. Mereka tidak layak menerimanya dan ini bukan berarti bahwa pada saat yang sama, ini bukan berarti Anda membiarkan mereka bersikap semena-mena terhadap Anda.

Pada kondisi tertentu dalam keluarga kita, di antara teman, dalam kelompok Anda ada orang yang sangat kasar, ini bisa saja terjadi. Ada anggota keluarga Anda, bahkan mungkin saja orang tua Anda, mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan, sesuatu yang sangat tidak adil, dan Anda harus mendengarnya setiap saat, berulang kali.

Ada wanita-wanita di antara hadirin yang tak bisa saya lihat dari sini, atau yang berdomisili di sini, dimanapun mereka, mungkin mereka harus mendengar hal menyakitkan dari mertuanya atau dari saudaranya atau orang lain, saat mereka mendengarnya darah mereka mendidih.

Apa yang Anda lakukan selanjutnya? Anda tetap harus menjaga kerendahhatian Anda. Hal pertama yang harus Anda pelajari adalah, jauhi situasi tersebut. Jika Anda tahu akan kehilangan kesabaran, menjauhlah. Saya tidak bisa bicara saat ini, saya minta maaf, saya harus pergi. Menjauhlah sebelum kemarahan Anda meledak.

Ini hal pertama dan utama, “Yamsyuuna‘alal-ardhi haunan.” (QS. Al-Furqan ayat 63)

Kemudian secara logis sehubungan dengan hal ini di dalam Al-Qur’an adalah “Wa idzaa khoothobahumul-jaahiluuna qooluu salaaman.” (QS. Al-Furqan ayat 63)

Keping demi keping pelajaran yang luar biasa ada di sini. “Idzaa” dalam bahasa Arab tidak berarti “jika”, tetapi “ketika”. Ketika orang yang menjengkelkan, ketika orang yang tidak punya kendali diri bicara kepada mereka. Ketika orang yang bebal bicara kepada mereka, ayat ini tidak berkata “jika” tapi “ketika” mereka bicara kepada kita.

Allah memberi tahu kita bahwa akan ada orang-orang yang bicara pada kita, yang bercakap-cakap dengan kita, berkomunikasi dengan kita, dan komunikasi itu tidak menyenangkan. Itu akan terjadi. Anda tak bisa menghindarinya. Pengalaman ini akan terjadi pada setiap kita termasuk saya. Akan ada orang yang “Jaahil.”

Pahami apa yang dimaksud dengan “Jaahil”. “Jaahil” bukan hanya berarti seorang yang bebal. Anda ingat ketika Musa ‘alaihissalaam ditanya tentang seekor sapi. Dia berkata, “Kalian harus menyembelih seekor sapi.”

Dan mereka menjawab, “Kamu bercanda ya?”

“A tattakhizunaa huzuwaa.” (QS. Al-Baqarah ayat 67)

“Kamu menganggap kami gurauan, kami harus menyembelih seekor sapi?”

“Kita punya masalah serius di sini, kita tidak perlu menyembelih seekor sapi.”

Musa menjadi sangat marah. Dan Anda tahu jika apa yang bisa dilakukan Musa ‘alaihissalaam saat dia marah? Dia bisa melakukan ‘sesuatu’.

Segera Musa menghadap kepada Allah dan berdoa, “A’uudzu billaahi an akuuna minal-jaahiliin.” (QS. Al-Baqarah ayat 67)

“Aku berlindung kepada Allah dari menjadi salah satu dari orang-orang jahil.“

Ini tidak berarti bebal, karena Musa ‘alaihissalaaam adalah salah satu dari orang yang paling berilmu yang pernah ada. Dia tidak bicara tentang bebal.

Dia berkata, aku berlindung kepada Allah dari kehilangan kendali atas emosi saya. Dari mengatakan atau melakukan sesuatu yang sangat ingin saya lakukan sekarang, tapi saya harus menahan diri. Sekarang dengan pemahaman demikian, kita kembali kepada ayat ini.

Ada kalangan orang yang mengatakan hal yang paling buruk tanpa terkendali. Seharusnya ada sesuatu di dalam hati Anda, di dalam pikiran Anda yang akan berjalan menuju lidah Anda. Namun di tengah perjalanannya, seharusnya ada semacam rem.

Mungkin ini tidak seharusnya saya ucapkan. Saya merasakan sesuatu, kata-kata buruk bermunculan dan berjalan hingga mencapai tenggorokan, tapi kata-kata itu tidak seharusnya keluar dari mulut saya, saya harus menelannya kembali.

Namun ada sekelompok orang yang mengatakan apa pun yang muncul di kepalanya. Anda datang dan berkata — Anda bertemu seseorang setelah enam bulan di sebuah pesta, ied, atau lainnya, “Hai, assalamu’alaikum, kamu makin gemuk saja.”

Di depan semua orang — orang ini — betapa buruknya — bagaimana Anda bisa memikirkannya?

Katakan saja masya allah di kepala Anda, mengapa harus mengatakan itu di hadapan semua orang?

“Jadi kamu dikeluarkan dari sekolah beberapa tahun lalu, sekarang masih belum lulus, masih putus sekolah?”

Mereka ucapkan sesuatu seperti itu dan itu membuat Anda gusar.

Apa yang Anda lakukan dalam situasi tersebut? Allah ‘azza wa jalla berkata dan ini bagian dari kerendahhatian Anda dan saya.

Begini cara Allah menguji kerendahhatian kita. Akan ada orang yang mengatakan dan melakukan hal yang paling menghina dan seringkali mereka adalah orang terdekat kita.

Artinya Anda akan dihadapkan dengan situasi ini berulang kali. Bagaimana Anda mengatasinya?

Allah berkata, “Wa idzaa khoothobahumul-jaahiluuna qooluu salaaman.” (QS. Al Furqan ayat 63)

Ini bermakna beberapa hal, saya bagikan beberapa di antaranya di sini. Saat hal ini terjadi, respons Anda seharusnya, “Damai.”

“Qooluu salaaman” juga bisa berarti sampai jumpa, mereka menjawab, damai, saya tak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Akan saya tinggalkan Anda dalam keadaan terhormat, “Sebentar, saya kira saya punya janji lain.”

Dan Anda bisa mengatakan selebihnya di kepala Anda kepada Allah untuk berdoa. Tapi Anda tak perlu memberi tahu mereka, katakan saja saya punya janji dan segera keluar dari sana. Karena Anda sadar tidak akan mampu menguasai keadaan.

Dengan kata lain, mereka menjauh dari sana dengan cara terhormat, itu satu makna. Saat orang-orang menjengkelkan menemuimu, cari jalan. Apa yang dikatakan Al-Qur’an pada ayat selanjutnya, “Marruu kirooman.” (QS. Al-Furqan ayat 72)

Mereka menghindarinya dengan cara terhormat.

Hal lain yakni saat orang-orang datang dan mencoba untuk –. Ada sekelompok orang yang berusaha mengatakan sesuatu untuk memicu kemarahan Anda. Mereka senang melakukan hal itu.

Mereka mengatakan sesuatu untuk memprovokasi Anda. Beberapa di antara mereka tahu persis apa yang harus dikatakan karena mereka sudah pernah bicara dengan Anda sebelumnya. Dan mereka tahu apa yang bisa menyulut kemarahan Anda, tahu pasti tombol apa yang harus ditekan untuk membuat Anda jengkel.

Anda duduk di sana berpikir, “Tidak sekarang, tidak sekarang.”

Dan selanjutnya Anda menjadi Si Raksasa Hijau Hulk dan semuanya dihancurkan. Sebelum semua itu terjadi Anda harus mengalihkannya, “Maaf, saya tidak ikut…”

Anda bisa bicara dan menyatakan, “Maaf saya tidak menginginkan ada konflik.”

Mari kita makan malam dengan damai. Mari kita lupakan hal itu sejenak. Dan Anda harus mendesaknya. Ini bisa dianggap sebagai “Qooluu salaaman”.

“Saya tidak ingin bertengkar dengan Anda, saya ingin kita bicara hal ini saja dan tidak membiarkan hal buruk terjadi.”

Dengan kata lain, kadang kita tidak bicara sepatah kata pun dan mereka terus menginjak-injak kita. Dalam ayat ini, sebenarnya ada indikasi mungkin, Anda bisa, dengan cara terhormat, dengan cara santun, dengan penuh keyakinan, memberi tahu kepada mereka bahwa mereka sebaiknya mundur, jika mereka keterlaluan, itu tidak baik. Itu tidak menghargai, itu kurang tata krama. Anda bisa membela diri sendiri namun dengan cara yang terhormat, dengan cara yang damai.

“Salaaman” juga bahkan dianggap oleh beberapa orang sebagai suatu kondisi. Dengan kata lain saat merespon, mereka dalam kondisi yang sangat tenang. Itu salah satu implikasi lain.

Ketika orang-orang yang menyebalkan bicara kepada Anda, dan mereka menyulut emosi Anda, mereka membuat Anda gusar, mereka menyatakan satu kebohongan atas kebohongan lainnya dan Anda terpaksa duduk di sana mendengarkan seakan itu semua kebenaran. Mereka juga mengatakannya di depan orang lain. Anda dijadikan korban tanpa alasan jelas.

Saat Anda menjawab, apa pun jawaban Anda, usahakan dalam keadaan tenang. Anda harus tenang dan tidak gusar saat menjawab. Inilah “Qooluu salaaman”. Dan bagi Allah, mereka yang bisa mencapai hal itu dalam hidupnya adalah orang-orang spesial baginya, “‘Ibaadur-rohmaan”.

Dengan kata lain kita harus mengingat motivasi ini. Pada saat itu orang yang Anda hadapi tak butuh ketenangan Anda. Tidak, mereka tidak butuh. Sebenarnya mereka membutuhkan sebuah pukulan di wajahnya. Pada saat yang sama Anda sudah bersiap-siap membalas. Beberapa di antara Anda saat seseorang bicara sarkastik pada Anda, Anda hancurkan mereka.

Oh Tuhanku, jawaban yang bermunculan di kepala Anda, ada sejumlah daftar yang ada di kepala Anda. Mana yang harus saya gunakan, A, B, C atau semuanya? Itulah yang terjadi di kepala Anda.

Dan pada saat Anda memutuskan untuk mundur. Motivasi apa yang Anda dan saya miliki, agar mempunyai kekuatan untuk tidak membalas, tidak bereaksi, untuk tetap tenang, “Saya ingin dimasukkan sebagai salah satu ‘Ibaadur-rohmaan’.”

Akan saya lupakan bahwa saya ada dalam percakapan yang tidak nyaman ini. Karena saat ini, segera setelah ini, saya berada dalam kelompok yang disukai Allah dan “Rohmah”-Nya yang spesial diturunkan kepada saya.

Inilah alasan Dia menempatkan saya dalam situasi ini, agar saya bisa menggapai kedekatan denganNya. Ini sesungguhnya sebuah berkah. Pertemuan yang tidak menyenangkan ini sebenarnya sebuah berkah bagi saya untuk menujuNya. Subhanallah.

“Wa ‘ibaadur-rohmaanilladziina yamsyuuna‘alal-ardhi haunan wa idzaa khoothobahumul-jaahiluuna qooluu salaaman.” (QS. Al-Furqan ayat 63)

2. Mereka yang di tengah malam sujud dan berdiri di hadapan Allah

Perhatikan apa yang disampaikan Allah berikutnya. Kelompok yang kedua, ini keistimewaan mereka. Ini bukan berarti bahwa mereka tidak melakukan hal lain seperti tidak salat, tidak memakan yang halal. Semuanya termasuk. Anda sudah berstatus “’Ibaad” (hamba). Ini melebihi menjadi seorang “’Ibaad” bukan? Apa kualitas hebat kedua, kelompok kedua yang spesial di mata Allah, alasan apa yang membuat mereka spesial?

“Walladziina yabiituuna lirobbihim sujjadan wa qiyaaman.” (QS. Al-Furqan ayat 64)

Mereka yang menghabiskan malam di hadapan Tuhannya dalam keadaan sujud dan berdiri. Mereka salat di tengah malam di mana tak seorang melihatnya. Mereka tak bisa tidur, dan mereka tahu bahwa Allah paling dekat dengan mereka di tengah malam dan itulah yang mereka lakukan.

Bagi kebanyakan kita ini sangat sulit dilakukan dan Anda bisa bayangkan seperti sudah saya katakan sebelumnya. Jika Allah bicara kepada manusia yang paling dekat denganNya, saya kira Dia akan mulai dengan kelompok yang ini.

Saya mengira Allah akan bicara tentang mereka yang paling banyak menyembahNya, khususnya pada jam yang paling dekat denganNya, yakni di tengah malam. Kita seharusnya mulai dari sana tapi ternyata tidak, Dia tidak mulai dari sana, Dia mulai dengan mereka yang rendah hati.

Karena kegiatan di malam hari itu, ketika Anda dan saya merendahkan diri di hadapan Allah, tak ada kesempatan bagi orang lain melihat kita salat, tak ada seorang pun untuk diberi kesan, satu-satunya yang ingin Anda beri kesan adalah Allah. Kebanggaan Anda lenyap. Rasa harga diri Anda hilang. Anda ada di hadapan Allah, mengakui semua kesalahan yang Anda lakukan. Anda melakukan percakapan terbuka di hadapan Allah sama sekali lepas dari semua kebanggaan Anda. Allah ‘azza wa jalla mengajari kita sesuatu yang sangat dalam.

Jika Anda ingin membebaskan diri dari kebanggaan Anda, langkah pertama adalah apakah Anda bisa melepaskan kebanggaan Anda di hadapan manusia. Tahap selanjutnya di hadapan Allah.

Ada orang yang sangat baik dalam ibadahnya, namun sangat kejam kepada orang lain. Hal ini tidak berlaku demikian. Ada sebuah kelompok yang diberi prioritas di sini. Mereka adalah yang rendah hati di hadapan manusia dan selanjutnya tentunya mereka yang datang ke hadapan Allah dalam keadaan rendah hati.

Ini tidak mudah dicapai, tapi jika sekali seminggu, sekali seminggu, saya tahu ini sulit. Tapi sekali seminggu Anda salat isya di masjid, lalu langsung pulang ke rumah dan tidur. Dan ini hanya terjadi jika Anda bangun sangat pagi dan tidak tidur lagi.

Jadi bangunlah saat subuh, jangan tidur. Kuras diri Anda seharian, salat isya lalu pergi tidur lalu atur alarm sekitar 45 menit atau setengah jam sebelum subuh. saya tidak meminta seluruh malam, cukup sedemikian saja. Setengah jam sebelum subuh, atur alarm, bangun dan salatlah beberapa rakaat. Lakukan saja demikian.

Dan pelan-pelan saja, jangan bangunkan orang lain. Lakukan dengan tenang. Cari satu sudut di dalam rumah dan lakukan di sana. Anda bisa mulai melakukan sekali atau dua kali, yang akan Anda temukan, ketenangan yang akan Anda temukan, Anda akan terhubung dengan Allah. Hal ini akan membantu Anda melalui kondisi yang sangat sulit. Dan semoga Allah memasukkan kita ke dalam kelompok ini, yang menghabiskan malamnya di hadapan TuhanNya dalam keadaan sujud dan berdiri.

3. Orang-orang yang berdoa agar dihindarkan dari jahannam

Kemudian ada kelompok yang ketiga. Kelompok ketiga adalah,

“Walladziina yaquuluuna robbanashrif ‘annaa ‘adzaaba jahannama inna ‘adzaabahaa kaana ghorooman.” (QS. Al-Furqan ayat 65)

“Innahaa saaa’at mustaqorron wa muqooman.” (QS. Al-Furqan ayat 66)

Orang-orang yang hanya memanjatkan satu doa, bukan doa dengan daftar panjang, doa mereka hanya, “Ya Allah, saya tidak ingin masuk neraka.”

“Yang lain saja selain jahannam, jangan lemparkan saya ke jahannam. Jauhkan kami dari hukuman jahannam. Itu adalah tempat yang sangat buruk, saya tak ingin melihatnya meski sedetik pun. Saya tak ingin berada di sana sebentar saja atau pun untuk waktu lama.”

Dengarkan doa ini dengan baik, “Innahaa saaa’at mustaqorron wa muqooman.” (QS. Al-Furqan ayat 66)

Pertama hukuman itu adalah penalti yang sangat hebat dan saya tak ingin ada di sana sebentar atau lama. Ada beberapa orang di antara umat di antara muslim yang memiliki penyakit yang sama.

Penyakit yang sama dengan yang diidap Bani Israil. Mereka berkata Allah takkan menghukum kami, “Illaaa ayyaaman ma’duudah,” (QS. Al Baqarah ayat 80) kecuali beberapa hari saja.

Muslim mengidap penyakit ini, “Allah akan menghukum kita tapi tidak selamanya bukan? Kita muslim, pada akhirnya kita akan keluar. Maksud saya, iya, ok, baik, saya akan dimasukkan ke jahannam, tapi hanya seperti akhir minggu panjang, lalu saya akan baik-baik saja.”

Perhatikan doa mereka yang dekat dengan Allah. Mereka katakan kepada Allah, “Ya Allah, saya tidak ingin pergi ke jahannam. Tidak untuk sesaat dan tidak untuk selamanya. Saya tahu itu adalah tempat yang sungguh buruk, ‘mustaqorron wa muqooman’. Meski sebagai tempat singgah atau bermukim, saya tak ingin keduanya.”

Hal ini memiliki banyak implikasi bagi kita, saya soroti salah satunya untuk Anda. Anda tahu, Anda dan saya takkan pernah berhenti digoda. Segala yang haram akan selalu ada di depan kita dan akan memanggil kita.

“Asy-shaithoonu ya’idukumul-faqr.” (QS. Al-Baqarah ayat 268)

Setan akan menjanjikan Anda kebangkrutan, dengan kata lain, jika Anda mengikuti jalan halal, setan akan menjanjikan, “Kamu kehilangan kesempatan, kamu kehilangan kesempatan. Kamu kehilangan kesempatan. Kamu bisa merasakan banyak kesenangan. Kamu bisa menghasilkan lebih banyak uang. Kamu bisa merasakan lebih banyak kenikmatan.“

Dia dengan konsisten akan senantiasa mengatakan itu kepada Anda. Produk alternatif, cara alternatif untuk memenuhi kebutuhan Anda. Takkan pernah berhenti, tak peduli seberapa panjang jenggot Anda, tak peduli seberapa banyak Al-Qur’an sudah Anda hafal. Tidak peduli seberapa banyak Anda melakukan salat tahajjud. Tak satu pun dari semua itu berpengaruh, setan takkan pernah berhenti.

Pada akhirnya Anda masih tetap seorang manusia. Pada akhirnya Anda masih memiliki keinginan-keinginan itu. Dan setan takkan pernah berhenti. Dia akan terus menggoda Anda. Dan pada saat itulah setan, Anda tahu — Allah menggambarkan taktik yang dilakukannya, taktik psikologinya adalah, “Wa zayyana lahumusy-shaithoonu a’maalahum.” (QS. An-Naml ayat 24)

Setan membuat indah amal mereka bagi mereka. Setan akan datang kepada Anda dan Anda tergoda untuk melakukan sesuatu yang salah dan Anda berkata, “Ya ini memang salah tapi saya juga melakukan banyak kebaikan. Ya saya membuat kesalahan, tapi saya juga salat. Kan saya tidak menjadi kafir. Jadi tidak apalah, ini hanya hal kecil — dan saya akan berhenti setelah ini, saya takkan melakukannya lagi kok. Hanya sekali ini saja.”

Anda mulai merasionalisasi tindakan Anda. Anda memberi pembenaran bagi diri sendiri. Dalam pikiran Anda kesalahan ini tidak terlalu buruk. Dan tentu saja Anda juga berada di dalam lingkungan orang-orang yang jika dikatakan kepada mereka, “Anda tahu ini salah.“

Mereka akan menjawab, “Tidak sobat, ayolah tidak sebegitu buruknya. Hentikan, jangan bicara begitu. Tidak, Allah tidak seperti itu. Allah takkan menghukummu. Mengapa kamu bicara begitu menyedihkan? Kamu sangat ekstrim.”

Anda mendengarkan dan kata-kata itu mulai mempengaruhi Anda dan Anda mulai mengatakan pada diri sendiri, “Ya baiklah.”

Tapi saat Anda melakukan apapun yang Anda lakukan itu, apakah itu obat atau alkohol atau sesuatu dengan seseorang, saya tak ingin tahu. Tapi apapun itu, dan Anda katakan pada diri sendiri, ini kali terakhir, tapi tidak. Karena segera setelah kali terakhir dan merasa bersalah selama beberapa hari lalu akan muncul pesan berikutnya di HP Anda. Lalu akan ada dakwah berikutnya.

Dan kembali Anda berkata, “Tidak, ini terakhir kalinya.”

Dan Anda kembali ke lingkaran itu. Anda melakukannya lagi. Dan Anda terus melakukannya. Ini persisnya yang diinginkan setan.

Inilah orang-orang yang bisa menghentikan siklus itu, datang kepada Allah dan berkata, “Ya Allah!”

“Tak peduli apa yang dikatakan teman saya, tak peduli apa yang dibisikkan setan di kepala saya, tak peduli berapa banyak saya mengulangi siklus mengerikan ini, saya berhenti! Cukup sudah saya merasa bersalah dua hari lalu kembali lagi. Cukup sudah saya memohon ampun kepadaMu dan kembali lagi –”

“Wa lam yushirruu ‘alaa maa fa’aluu wa hum ya’lamuun.” (QS. Ali Imran ayat 135)

Mereka tidak bersikeras melakukan dosa yang telah mereka lakukan. Dan mereka memahami apa yang mereka lakukan. “Saya takkan masuk ke dalam kelompok orang-orang itu.”

“Wa laisatit-taubatu lilladziina ya’maluunas-sayyi’aat.” (QS. An Nisa ayat 18)

Taubat, penyesalan tidak berlaku bagi mereka yang terus melakukan dosa bahkan setelah bertaubat. Bukan untuk mereka yang kembali ke siklusnya. Ini adalah orang yang berkata, “Ya Allah! Saya tidak ingin masuk jahannam.”

“Baiklah, saya sudah melakukan beberapa hal yang pantas masuk jahannam, tapi saya akan berhenti sekarang. Cukup sudah.”

Ini adalah orang-orang yang spesial bagi Allah, karena Allah tahu betapa menggodanya melakukan dosa itu. Allah tahu bagaimana kuatnya ketergantungan obat. Allah tahu betapa dalamnya Anda dulu jatuh ke dalam dosa. Allah tahu Anda berada dalam cengkeraman setan sangat lama. Dan Anda bisa melepaskan diri dan kembali kepada Allah.

Perjalanan Anda kembali kepada Allah lebih keras dari perjalanan orang lain. Godaan yang datang ke hadapan Anda sangat kuat, gaya gravitasi terhadap Anda sangat kuat. Dan Anda melawannya lalu kembali kepada Allah, Anda spesial.

Jangan mengira, “Oh, saya tidak pernah tahajjud, jadi saya tidak terlalu baik.”

Atau, “Saya bahkan tak bisa bahasa Arab.”

Atau, “Saya bahkan belum pernah menamatkan Al-Qur’an. Saya bahkan tak tahu tajwid, saya tak tahu –.”

Tidak, tidak, tidak. Anda spesial bukan karena Anda berilmu, Keistimewaan Anda bukan karena Anda telah berhaji 17 kali. Anda tidak istimewa di hadapan Allah karena ilmu atau ibadah Anda, Anda istimewa bagi Allah karena Anda menjauhi dosa, karena Anda takut kepadaNya. Itulah yang membuat Anda istimewa bagi Allah. Anda juga “‘Ibaadur-rohmaan”.

Dan dari sana Allah‚ ‘azza wa jalla membawa kita ke kelompok yang berbeda. Setiap kelompok ini — Pikirkan mana yang cocok dengan Anda. Bagaimana Anda bisa menjadi istimewa bagi Allah? Bagaimana Anda dan saya bisa dekat dengan Allah? Apa sebenarnya manfaatnya bagi kita? Pada akhirnya, apa gunanya bagi kita?

Dosa adalah salah satu bentuk cinta. Anda jatuh cinta kepadanya. Anda kecanduan. Dan bagian ini sebenarnya tentang persaingan dalam cinta. ‘Karena Anda mencintai kenikmatan ini dan mencintai dosa ini, dan Anda tak ingin melepaskannya karena akan membuat Anda sedih.

Dan di sisi lain Allah berkata, “Aku akan menggantikan pemuasan itu dengan diriKu sendiri.”

“Akan Aku gantikan dengan pendampingan dariKu.”

Ini tawaran Allah pada Anda. Dan Anda harus memutuskan jawaban dari masalah ini sendiri. Anda akan ditempatkan dalam situasi ini. Dan tak seorang pun tahu perdebatan sengit yang terjadi di dalam kepala Anda. Tak seorang pun tahu, hanya Allah yang tahu. Hanya Allah yang tahu.

Dan ngomong-ngomong saat Anda menjalani — beberapa di antara pria, sebagai contoh, dalam hubungan yang haram, saya tidak tahu dan tidak menuduh Anda. Beberapa orang, bukan Anda, beberapa orang yang Anda kenal. Dan Anda dalam hubungan yang tidak pantas lalu mencoba mengakhirinya. Anda mendengar khutbah ini, lalu mengirim pesan padanya, “Saya tak bisa melakukan ini lagi.”

Lalu dia membalas, “Apa, kamu tidak mencintaiku? Kamu membenci aku sekarang? Kamu pikir saya penyebab kamu masuk neraka? Saya begitu jahat?”

Sekarang Anda menjadi tidak enak, “Tidak, kamu tidak jahat kok. Tidak, aku benar-benar mencintaimu. Kamu tidak jahat sama sekali. Kamu baik. Oke, kenapa kamu tidak…”

“Oke, baiklah, jika kamu benar-benar ingin putus dengan saya, temui saya malam ini dan katakan langsung pada saya.”

“Tidak, saya tidak bisa.”

“Baiklah, kamu memang benci aku.”

“Oke baiklah saya datang.”

Dan siklus itu kembali berlanjut. Dan kemudian Anda ingin bertobat nanti saja. Anda perhatikan? Ini bukan hanya Anda. Anda bisa saja secara emosi tersedot ke dalam sesuatu. Dan sekarang Anda diperas secara emosi. Kamu membuatku merasa tidak enak. Anda harus melawannya. Anda harus bisa melewatinya. Dan Anda harus tahu bahwa meski Anda mengecewakan seseorang, tapi Anda membuat Allah senang.

Dan Anda melakukannya bukan hanya untuk diri Anda sendiri, tapi juga untuk gadis yang membalas pesan Anda, atau pria yang membalas pesan Anda. Anda tak ingin mereka juga berdiri di hadapan Allah. Anda baru saja menyelamatkan mereka.

Jika Anda sungguh mencintai mereka, tidak hanya bernafsu terhadap mereka, tapi mencintai mereka, maka Anda ingin menyelamatkan mereka juga. Ini juga untuk mereka. Anda paham itu?

4. Mereka yang tidak berlebihan dan tidak pula pelit dalam membelanjakan hartanya

Sekarang, dari sini kita menuju ke tempat yang tidak diperkirakan tentang siapa lagi yang istimewa bagi Allah.

“Walladziina idzaaa anfaquu lam yusrifuu wa lam yaqturuu wa kaana baina dzaalika qowaaman.” (QS. Al-Furqan ayat 67)

Mereka yang saat membelanjakan, artinya saat membelanjakan uang, tidak menghamburkan semua uang yang dimilikinya, mereka tidak berlebihan dan mereka juga tidak pelit. Mereka tidak membelanjakan terlalu banyak atau terlalu sedikit. Mereka memiliki anggaran yang seimbang.

Apa hubungannya anggaran dengan menjadi dekat dengan Allah? Ada hubungannya! Cara Anda membelanjakan uang — karena “Ma’l” (harta) Anda —

“Walladziina fii amwaalihim haqqum ma’luum.” (QS. Al-Ma‘arij ayat 24)

Di dalam hartanya ada hak yang sudah diketahui. Orang tua Anda butuh dukungan finansial. Anak Anda, saudara Anda, istri Anda juga butuh dukungan finansial. Sedekah. Uang Anda juga harus diberikan kepada masyarakat. Ada sebab-sebab tertentu yang membutuhkan bantuan finansial Anda.

Tapi ketika Anda menjadi kecanduan hal-hal yang tidak bermanfaat, Anda selalu menonton film demi film, berlangganan ini itu di internet, game demi game, perangkat elektronik baru untuk mobil Anda. Anda tak butuh pelek ban yang bisa berputar ke belakang, Anda tak butuh itu.

Untuk apa bagi Anda, agar orang bisa melihatnya, Anda bahkan tak bisa melihatnya saat menyetir. Orang lain yang melihatnya. Pelek itu berputar untuk orang lain bukan untuk Anda. Atau perangkat elektronik baru, Anda akan tetap hidup tanpa iPhone baru, Anda akan baik-baik saja. Samsung mungkin sedikit berbahaya, tapi bagaimanapun, hehehe —

Tapi ketika Anda terus membelanjakan uang — Untuk kebanyakan wanita adalah untuk membeli dompet atau tas. Ya Tuhan! Beberapa di antara tas ini sampai berharga ribuan pound. Saya tidak bilang Anda tidak bisa memilikinya. Tapi Allah mengatakan belanjakan, tapi jangan berlebihan.

Dan untuk kalangan yang lain, kesenangan terbesar adalah memegang uang. Anda pergi ke toko kelontong dengan istri Anda, dia memasukkan sekarton susu lalu Anda bertanya, “Kita butuh susu sebanyak ini? Beli yang lebih kecil saja, atau kita tunggu sampai ada diskon!”

Itu cuma susu dan telur. Janganlah terlalu pelit untuk yang seperti itu.

Ada orang yang enggan memberi kepada keluarga mereka yang membutuhkan. Anak Anda butuh sedikit uang, mereka butuh receh untuk sekedar jajan. Istri Anda juga butuh uang. Jika dia mengurus rumah tangga dan dia tidak bekerja, lalu dia bertanya pada Anda, “Boleh saya minta uang £50?”

“Untuk apa uang itu bagimu? Beri saya laporan lengkap! Perlihatkan semua kuitansinya!”

Tunggu, sabar dulu! Ini adalah, “Lam yaqturuu.” (QS. Al Furqan ayat 67)

Ini mungkin tantangan bagi Anda. Jika Anda ingin dekat dengan Allah, jangan jadikan keluarga Anda merasa seperti sampah setiap kali mereka makan sesuatu. Pengeluaran terbaik yang bisa Anda lakukan adalah untuk keluarga Anda. Jangan lakukan itu kepada keluarga Anda tapi juga jangan boros.

Ada sekelompok orang yang menghamburkan uang dan Allah memberi Anda sedikit kekayaan lalu Anda belikan anak Anda yang 16 tahun sebuah BMW, lalu mereka tabrakkan mobil itu ke sisi jalan, kemudian Anda belikan lagi yang baru dan… Tidak, tidak, tidak, Anda tidak boleh melakukan itu.

Ada orang yang memiliki pendekatan yang seimbang terhadap keuangan mereka.

“Lam yusrifuu wa lam yaqturuu wa kaana baina dzaalika qowaaman.” (QS. Al-Furqan ayat 67)

Dan mereka menemukan cara yang jujur dan seimbang di antara keduanya dan mereka dicintai Allah. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari mereka.

5. Mereka yang tidak menyembah selain Allah, tidak membunuh, dan tidak berzina

Kelompok berikutnya adalah favorit saya. Dengarkan ini, ini adalah satu kelompok.

“Walladziina laa yad’uuna ma’alloohu ilaahan aakhoro wa laa yaqtuluunan-nafsallatii harromalloohu illaa bil-haqqi wa laa yaznuuna wa man yaf’al dzaalika yalqo atsaaman.” (QS. Al-Furqan ayat 68)

Mereka yang tidak menyeru Tuhan lain bersamaan dengan Allah. Dan selain tidak menyeru Tuhan lain selain Allah, mereka juga tidak membunuh seorang pun. Dan mereka tidak melakukan perzinaan.

Tiga hal ini; mereka tidak menyembah selain Allah atau tidak menyeru selain Allah, digabungkan dengan tidak melakukan pembunuhan dan tidak melakukan perzinaan. Ketiga hal ini semuanya.

Itu bukan capaian yang luar biasa. Seseorang bisa saja berkata, “Hai, saya masuk daftar, saya belum pernah membunuh seorang pun.”

Tapi tahukah Anda apa yang membuat ini istimewa? Karena ini kelihatannya biasa saja bukan? Ini adalah dosa besar. Dan Allah berkata, kamu bisa menjadi istimewa di mata Allah hanya dengan melakukan ini.

Mengapa ini istimewa? Ya, untuk sekelompok orang — Bayangkan mereka yang dulu di Makkah. Pikirkan keadaan masyarakat di mana Al-Qur’an diturunkan.

Mereka telah melakukan syirik selama ribuan tahun. Pembunuhan menjadi hal yang biasa di antara mereka. Zina tidak ada apa-apanya. Hal yang sangat buruk bagi kita bukan masalah besar bagi mereka. Dan bukan masalah besar bagi orang tua mereka atau orang tua dari orang tua mereka dan seterusnya, ini hanya bagian dari hidup. Kehidupan mereka layaknya kehidupan bandit.

Dan ketika mereka menjauhi semuanya untuk kembali kepada Allah, apakah keluarganya hanya berkata, baiklah sekarang kamu muslim, selamat? Mereka mengalami semua pengalaman yang mengerikan, dari orang-orang yang dicintainya, dari masyarakat, dari teman-temannya. Karena mereka telah meninggalkan semua kejahatan itu, bukan demikian?

Bagi beberapa orang, cukup dengan membaca syahadat, hanya dengan menjauhi kejahatan, menjauhi kehidupan kriminal, hanya menjauhi zina, itu sudah sangat luar biasa. Bagi Anda yang dibesarkan dalam keluarga yang terhormat, dikelilingi oleh lingkungan yang baik, mudah atau lebih mudah untuk tidak terlibat di dalam kesulitan tersebut. Saat ini semuanya mudah.

Tapi bagi Anda yang bangkit, Anda sebelumnya bukan muslim, Anda melihat kejahatan di sekeliling Anda, Anda melihat obat-obatan di sekeliling Anda, Anda melihat perbuatan asusila di sekeliling Anda, setiap akhir minggu ada di klub. Lalu Anda datang kepada Allah, Anda membaca syahadat.

Perjalanan Anda menjauhi kehidupan itu adalah perjalanan yang luar biasa. Dan Allah mengakuinya, dan berkata itu adalah hal yang sungguh besar. Beberapa orang telah berhasil melakukannya. Mereka istimewa hanya berdasarkan hal itu.

Mereka tidak tahu hal lainnya, mereka tidak punya ilmu agama yang dalam, tidak pula banyak melakukan ibadah. Namun kenyataan bahwa mereka bisa bermigrasi, hijrah demi Allah, bermigrasi dari dosa-dosa besar itu menuju Allah, adalah luar biasa.

6. Orang yang bertaubat dan tetap di jalan lurus

Namun kasih sayang Allah dalam ayat ini belum tuntas. Pertama ketiga hal yang telah saya sebutkan itu, syirik dan pembunuhan, menghujat Allah dan pembunuhan, serta perzinaan adalah dosa besar, sangat besar. Jadi apa yang dikatakan Allah?

“Yudhoo’af lahul-‘adzaabu yaumal-qiyaamati wa yakhlud fiihii muhaanaa.” (QS. Al-Furqan ayat 69)

Hukuman akan digandakan bagi orang semacam itu. Dan mereka akan kekal di dalamnya, terhina. Kejahatan ini tidaklah kecil bagi Allah. Khususnya ketiganya bila digabungkan.

Namun ngomong-ngomong, kejahatan terburuk yakni syirik, ada dalam ayat ini. Kejahatan kedua terburuk, yakni ketika Anda membunuh seseorang, seakan Anda telah membunuh apa? Seluruh umat manusia. Itulah kejahatan terbesar kedua. Dan kejahatan terbesar ketiga dalah apa? Zina. Semuanya dalam satu ayat.

Sehingga Allah berkata, orang ini akan memperoleh hukuman yang istimewa pula. Dan mereka akan tetap dihukum, dihinakan selamanya di sana namun bahkan yang terburuk dari yang buruk. Orang ini bukan yang terburuk karena dia hanya mengerjakan satu kejahatan saja. Dia menjadi terburuk karena mengerjakan berapa banyak? Tiga hal. Tiga hal. Ini layaknya hattrick dari neraka.

Apa yang dikatakan Allah tentang dia? Dia berkata, “Illaa man taaba wa aamana wa ‘amila ‘amalan shoolihaan.” (QS. Al-Furqan ayat 70)

Kecuali seseorang yang mohon ampun, dan kembali kepada keimanannya, kembali beriman, dan dari sana bersikap baik. Saya buat pengecualian.

Penting untuk memahami hal ini. Allah menggambarkan yang terburuk dari yang buruk dan yang buruk. Lalu berkata, bahkan jika orang tersebut kembali kepadaKu, Aku takkan melemparkannya ke dalam hukuman.

Tak hanya itu. Kita bicara tentang “‘Ibaad Ar-Rohmaan”. Yang tak terbayangkan penyayangnya. Jadi Dia tak hanya menyelamatkannya dari neraka, apalagi yang dilakukanNya?

“Fa ulaaa’ika yubaddilulloohu sayyi’aatihim hasanaat.” (QS. Al-Furqan ayat 70)

Maka bagi mereka ini, Allah gantikan dosa mereka yang luar biasa besar, — dan boleh saya ingatkan Anda apa saja dosa mereka –, syirik, “Innasy-syirka lazhulmun ‘azhiimun.” (QS. Luqman ayat 13)

Membunuh, “Fa ka’annamaaa qotalan-naasa jamii’an.” (QS. Al-Maidah ayat 32)

Seakan dia membunuh seluruh manusia, dan zina, hubungan di luar nikah. Dosa yang sangat sangat besar. Allah berkata, akan Aku gantikan timbunan kejahatannya yang setinggi gunung dengan amalan baik yang menguntungkan mereka.

Mereka belum pernah melakukan satu amalan pun. Mereka belum pernah beramal. Mereka belum salat, mereka belum beribadah, mereka belum pergi haji, mereka belum berderma.

Satu-satunya yang mereka lakukan adalah mohon ampun. Dan sejak saat ini mereka akan melakukan hal-hal yang benar. Ini sudah cukup bagi Allah untuk mengambil bergunung-gunung dosa yang semestinya membawa mereka ke dalam neraka, selamanya terhina, dan mengubah bergunung-gunung dosa tersebut menjadi bergunung-gunung amal. Ini yang dilakukan Allah untuk mereka yang bertaubat. Dan Anda bisa jadi istimewa hanya karena taubat.

Jadi seraya Anda duduk di sana mendengarkan dan berpikir, “Tapi saya sudah melakukan kesalahan yang cukup besar.”

Mungkin saja ada orang lain yang duduk di antara hadirin yang mungkin sudah pernah membunuh, masuk penjara, lalu keluar dari penjara. Bagaimana mungkin Allah akan mengampuni saya? Beberapa di antara Anda sudah melakukan kesalahan zina, semoga Allah melindungi Anda. Beberapa di antara Anda sedang menuju jalan itu. Beberapa di antara Anda telah melakukan syirik. Berbagai macam kejahatan berlangsung, beberapa orang melakukan sihir yang termasuk jenis syirik.

Anda bisa bertaubat dan kembali kepada Allah, dan semua itu akan sirna. Namun Anda harus tetap lurus setelah itu.

“Wa ‘amila ‘amalan shaalihan faulaaika yubaddilullaahu sayyiaatihim hasanaat.” (QS. Al-Furqan ayat 70)

Dengan kata lain, ketika Anda kembali ke jalan Allah, itu adalah dengan sebenar-benarnya. Bukan dibuat-buat.

“Wa kaanalloohu ghofuuror rohiiman.” (QS. Al-Furqan ayat 70)

Dan Allah senantiasa Maha Pengampun. Sangat pengampun, senantiasa mengasihi, memelihara, dan menyayangi.

Saya kehabisan waktu namun saya akan berbagi beberapa hal yang saya temukan dengan Anda — Mari kita selesaikan daftar ini insya Allah, ini hampir selesai.

Seseorang berkata, tapi saya tidak melakukan pembunuhan. Saya tidak melakukan syirik, juga tidak berzina. Saya cuma melakukan dosa kecil seperti absen salat subuh, dan mencuri susu coklat abang saya kemarin di kulkas. Kemudian beberapa kali saya kehilangan kesabaran terhadap ayah saya, atau saya membicarakan orang kemarin di suatu pesta. Tapi saya tidak membunuh.

Jika taubat ini hanya untuk penjahat kelas kakap, bagaimana dengan saya? Bagaimana dengan pendosa biasa seperti kita? Karena yang dibicarakan di sini adalah pendosa kelas kakap bukan?

Maka ayat selanjutnya mengatakan untuk yang selain mereka, “Wa man taaba,” dan siapa yang bertaubat, taubat apapun.

“Wa ‘amila shoolihaan,” dan berbuat kebaikan.

“Fa innahuu yatuubu ilalloohi mataabaa,” lalu dia juga kembali ke jalan Allah dengan penyesalan yang tulus — Allah juga mengakui hal itu.

Taubat Anda juga baik. Anda tak perlu seperti — pertama pergi dulu merampok bank, baru kemudian bertaubat. Tidak, tidak, tidak. Karena saya harus punya bergunung-gunung dosa dulu baru kemudian dijadikan bergunung-gunung pahala, tidak. Tenang, tunggu sebentar. Tetaplah bertaubat, apapun apapun dosa yang telah Anda lakukan.

“Fa innahuu yatuubu ilalloohi mataabaa.” (QS. Al-Furqan ayat 71)

7. Orang-orang yang tidak bersaksi palsu

“Walladziina laa yasy-haduunaz-zuuuro.” (QS. Al-Furqan ayat 72)

Dan orang-orang yang tidak bersaksi, – secara harfiah di katakan -, tidak bersaksi atas kebohongan, artinya mereka tidak diam saja ketika sesuatu yang salah terjadi.

Ini adalah orang-orang yang istimewa bagi Allah karena ketika di dalam keluarganya, seseorang diperlakukan buruk secara emosional, seseorang diperlakukan buruk secara finansial — Di dalam sebuah keluarga dua saudara menjalankan sebuah usaha, dan salah satu di antaranya mengambil semua uang yang ada dan tak pernah membayar kembali yang satunya.

Sekarang mereka di pengadilan, bertengkar tentang ini, itu, dan lainnya, dan Anda di satu pihak dan dia di pihak lain, Anda takkan diam saja dan membiarkan ketidakadilan terjadi. Anda takkan melakukan itu, meski pun akan melawan ayah Anda sendiri. Meski itu melawan pasangan atau anak Anda sendiri.

Anda tidak boleh hanya diam saja atau berpihak kepada yang salah. Anda harus bicara. Setidaknya Anda tidak menjadi teman dalam diam kepada pihak yang salah, Anda pergi begitu saja, saya tidak ingin terlibat. Saya angkat tangan.

“Laa yasy-haduunaz-zuuuro.” (QS. Al-Furqan ayat 72)

Makna lainnya adalah tidak memberi kesaksian palsu. Kadang ada tekanan kepada Anda untuk memihak yang salah, padahal Anda tahu dia bersalah mereka katakan hal seperti, “Keluarga itu nomor satu kawan.”

Atau, “Saudara itu nomor satu.”

Dan jika Anda melakukan itu, tetap meletakkan kesetiaan Anda pada tempat yang salah, meski Anda tahu Anda salah, maka ini adalah pelanggaran dari “Laa yasy-haduunaz-zuuuro.” (QS. Al-Furqan ayat 72)

8. Mereka yang meninggalkan pembicaraan tak berguna dengan cara terhormat

Bagian kedua dari ayat ini, “Wa idzaa marruu bil-laghwi marruu kirooman,” (QS. Al-Furqan ayat 72) juga menakjubkan.

Yang membuat Anda menakjubkan bagi Allah dalam ayat ini — Anda dalam suatu pertemuan, teman-teman ada di sana atau Anda sedang ada dalam suatu grup WhatsApp atau sejenisnya, ada banyak sekali interaksi yang terjadi hari ini.

Dan dalam interaksi tersebut, mereka bicara omong kosong. Mereka menggunjingkan satu sama lain. Mereka mengolok-olok satu sama lain. Mereka membuang waktu satu sama lain. Dan Anda tidak ingin ikut di dalamnya. Lalu apa yang Anda lakukan?

Tinggalkan grup itu, tapi jangan khotbahi mereka sebelumnya, “Ngomong-ngomong ini semua tak berguna, kalian sudah membuang waktu, astaghfirullah. Saya seru kalian ke jalan Allah dan bertaubat. Lihat video berikut ini. Sekarang saya keluar dari grup ini.”

Jangan — Atau Anda sedang dalam suatu pesta, dan Anda bagai, “Astaghfirullah, kalian semua bergunjing, saya pergi dari sini.”

“Wa idzaa marruu bil-laghwi marruu kirooman.” (QS. Al-Furqan ayat 72)

Jika mereka melewati pertemuan seperti ini, ketika mereka berada dalam situasi seperti itu, mereka keluar dengan cara yang terhormat.

“Marruu kirooman.”

Dengan kata lain mereka menjaga kehormatannya. Mereka tidak terperosok ke dalam situasi di mana mereka menghina orang lain dan diri mereka sendiri. Dan dalam prosesnya mereka tidak melukai perasaan orang lain. Mereka memberikan alasan yang pantas dan terhormat, kemudian keluar dari situasi tersebut.

“Wa idzaa marruu bil-laghwi marruu kirooman.” (QS. Al-Furqan ayat 72)

9. Mereka yang tidak mengabaikan peringatan Allah

Dan akhirnya, “Walladziina idzaa dzukkiruu bi’aayaati robbihim lam yakhirruu ‘alaihaa.” (QS. Al-Furqan ayat 73)

Sebenarnya ini bukan yang terakhir, saya hanya ingin membuat Anda merasa lebih baik.

“Walladziina idzaa dzukkiruu bi’aayaati robbihim lam yakhirruu ‘alaihaa shummaw wa umyaanan.” (QS. Al-Furqan ayat 73)

Itu untuk semua orang yang menghadiri Jumatan. Ketika mereka diingatkan dengan ayat-ayat RabbNya, ketika mereka diberi peringatan, mereka tidak terjebak menjalankan peringatan itu dalam keadaan tuli dan buta. Dengan kata lain, mereka tidak mengabaikannya, mereka tidak menganggapnya ringan.

Mereka tidak mendengar sesuatu lalu berkata, “Ya itu memang tentang saya, tepat sekali mengenai kesadaran saya, namun saya akan melupakan bahwa saya telah mendengarnya.”

“Saya akan menganggap itu bukan tentang saya dan takkan memikirkannya.”

Mereka bukan benar-benar tuli dan juga tidak benar-benar buta terhadap peringatan yang diberikan kepada mereka. Ini memang tentang Anda, tentang apa yang Anda lakukan, apa yang Anda rencanakan. Dan sekarang Anda tak mampu menghadapinya karena Anda tak ingin berubah.

“Bal yuriidul-insaanu liyafjuro amaamahuu.” (QS. Al-Qiyamah ayat 5)

Manusia ingin langsung menyelam ke dalam sesuatu yang ada di hadapan mereka, godaannya sangat kuat. Dan Al-Qur’an, ini adalah tentang “Ulin-nuhaa,” orang-orang yang menahan Anda.

Mereka yang menahan diri mereka. Anda diingatkan untuk menahan diri lalu Anda menjawab, “Saya tak ingin menahan diri, saya merasa cukup baik.”

“Saya sudah mengatur janjian, tanggal, waktu, dan tempat, lalu sudah membeli tiket dan khutbah ini merusak mood saya. Saya akan pergi makan burger saja dan tak memikirkan apa yang saya dengar dalam khutbah. Lalu pergi ke mana saya seharusnya pergi. Apakah ini sudah terlambat bagi saya?”

Mereka tidak seperti itu. Ini adalah orang-orang yang ketika mendengar peringatan mereka membiarkannya mempengaruhi mereka. Mereka biarkan hal itu mengubah mereka. Itulah yang membuat Anda istimewa bagi Allah.

Kadang-kadang, perubahan yang terjadi di dalam diri Anda, tak dilihat seorang pun. Tak seorang pun tahu perbuatan dosa apa yang sedang Anda tuju, dan tak seorang pun tahu Anda berubah haluan karena mendengar sesuatu dari Allah.

Tak seorang pun tahu itu. Itu antara Anda dan Allah. Dan Allah menganggap Anda sebagai ‘Ibaad” (hamba)Nya karena Anda telah melakukan perubahan itu. Semoga Allah menguatkan setiap kita untuk membuat perubahan-perubahan itu.

10. Mereka yang berdoa untuk memperoleh pasangan dan keturunan yang menyejukkan mata

Sekarang, seraya kita simpulkan, ini sebenarnya yang terakhir. Ini adalah orang-orang yang sekarang tak hanya memikirkan dirinya sendiri tapi juga keluarganya.

“Walladziina yaquuluuna robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a’yun.” (QS. Al-Furqan ayat 74)

Mereka yang berdoa kepada Allah, dengan berkata, Tuhan kami, berikan dari pasangan-pasangan dan anak-anak kami yang disebut dengan penyejuk mata kami, beri kami penyejuk mata kami, yang memiliki dua makna.

Saya lewati saja istilah teknis yang ada dan saya beri Anda pemahaman yang sederhana dari “Qurrota a’yun”.

Pertama artinya, “Ya Allah, semua hal lain menyebabkan saya tertekan, semua hal lain menimbulkan masalah bagi saya, namun ketika saya pulang kepada pasangan dan anak-anak saya. Ya Allah! Jadikan mereka tempat saya menemukan ketenangan. Semua masalah saya lenyap ketika saya memandang pasangan saya. Semua masalah saya lenyap ketika saya bersama dengan anak-anak saya. Ya Allah! Berikan hal itu dalam diri istri dan anak-anak saya. Atau dalam diri suami dan anak-anak saya, untuk kedua pihak.”

Dan kemudian, makna lainnya, “Qurrot” berasal dari “Qorroor”. “Qorroor” berarti mata Anda menatap ke satu tempat saja.

“Ya Allah! Buatlah saya sangat mencintai istri saya, sehingga saya tak mampu mengalihkan pandangan saya darinya. Ya Allah! Buatlah saya sangat mencintai Anak-anak saya dan sangat bahagia dengan mereka sehingga takkan membandingkan mereka dengan yang lain. Saya bahagia dengan apa yang saya miliki. Saya tidak membuat mereka merasa tidak nyaman, saya sahkan mereka. Berkahi saya kemampuan untuk menemukan ‘Qurrota a’yun’ pada pasangan dan anak saya. Beri saya keluarga yang kuat dan jadikan saya senang dengan keluarga saya. Jadikan mereka sumber kedamaian bagi keluarga saya.”

Bagi banyak dari Anda satu-satunya stress adalah istri dan anak-anak.

Dalam doa ini satu-satunya pereda stress seharusnya adalah istri dan anak-anak. Dan Anda harus… Anda tak bisa hanya bermohon kepada Allah sesuatu tanpa mengusahakannya. Karena Allah takkan, menurunkan semacam hujan khusus yang mengguyur keluarga Anda lalu tiba-tiba Anda mencintai istri Anda.

Ini butuh usaha. Butuh usaha untuk memperbaiki hubungan dengan anak-anak Anda. Takkan terjadi dalam semalam. Ini sesuatu yang Anda dan saya harus tanam dahulu. Jadi semoga Allah memberi kita kemampuan tidak hanya untuk berdoa tapi juga menghidupi doa tersebut.

Karena Allah akan bertanya pada kita, bahkan dalam doa yang terkenal itu, “Robbanaaa aatinaa fid-dun-yaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar.” (QS. Al-Baqarah ayat 201)

Doa terkenal bukan? Beri kami yang terbaik di kehidupan ini, yang terbaik di kehidupan berikutnya, lindungi kami dari api neraka, hukuman api neraka. Apa yang dikatakan Allah tepat setelahnya?

“Ulaaa’ika lahum nashiibum mimmaa kasabuu.” (QS. Al-Baqarah ayat 202)

Mereka memperoleh bagian yang sepantasnya. Anda tak bisa hanya berdoa tanpa berusaha, Anda harus memantaskan diri. Anda harus berusaha mendapatkannya.

Jadi ketika Anda meminta Allah untuk memberi kedamaian dalam keluarga Anda. Saat Anda peduli dengan hal itu… Dan ngomong-ngomong, apa artinya suami yang masih keluyuran hingga jam 2, 3 pagi di beberapa toko shisha di London dan tidak pulang ke rumah kepada istrinya?

Karena mereka tidak menemukan ketenangan, istrinya tidak menemukan ketenangan pada mereka, dan mereka tidak menemukan ketenangan pada istrinya.

Ketika mereka berkata, “Tidak teman, saya harus pulang.”

Maka mereka istimewa bagi Allah.

Menghabiskan waktu dengan anak-anak mereka, mata mereka beranjak dari anak-anak mereka. Fakta bahwa mata Anda beranjak dari anak-anak Anda sesungguhnya berarti bahwa Anda benar-benar bersama mereka. Bahwa Anda menghabiskan waktu dengan anak-anak Anda dan menikmatinya, sebenarnya adalah yang membuat Anda istimewa di hadapan Allah.

Orang-orang ini, “Ulaaa’ika yujzaunal-ghurfata bimaa shobaruu.” (QS. Al Furqan ayat 75)

“Dan jadikan kami Imam dari mereka yang Muttaqin, jadikan kami pemimpin dari orang-orang yang taqwa. Beri mereka hidup yang baik sehingga ketika saya berdiri dihadapanmu Ya Allah, amal saya akan meningkat karena orang-orang yang ada dalam keluarga saya.”

11. Mereka yang sabar

Sekarang setelah semua ini, “Ulaaa’ika yujzaunal-ghurfata bimaa shobaruu.” (QS. Al Furqan ayat 75)

Mereka ada orang-orang yang akan diberi istana-istana yang tinggi dan megah karena kesabaran yang telah mereka perlihatkan.

Catat bahwa Allah di sini berkata, karena kesabaran yang telah mereka perlihatkan. Jika Anda kembali kepada daftar ini, mereka yang menahan lidahnya saat orang-orang tak berilmu bicara kepada mereka, mereka rendah hati dan menahan lidahnya, mereka yang tidak menyembah satu pun selain Allah, mereka yang beribadah kepada Allah di tengah malam buta.

Daftar yang baru saja kita bahas, setiap mereka butuh kegigihan, kekuatan dan pegangan, serta komitmen dan disitulah letak kata “Sabr” (sabar). Orang-orang ini akan diberi penghargaan karena komitmen yang sudah mereka perlihatkan. Mereka berkomitmen pada hal ini.

Inilah, “Ulaaa’ika yujzaunal-ghurfata bimaa shobaruu.” (QS. Al Furqan ayat 75)

“Wa yulaqqouna fiihaa tahiyyataw wa salaaman.” (QS. Al-Furqan ayat 75)

Dan mereka akan ditemui di dalam istana-istana di dalam surga itu, mereka ditemui dengan salam dan kedamaian. Allah ‘azza wa jalla akan mengirimkan salam kepada mereka. Allah tidak hanya mencintai mereka, Allah juga memuliakan mereka. Ini adalah orang-orang yang khusus diberi penghargaan oleh Allah.

“Kholidiina fiihaa hasunat mustaqorrow wa muqooman.” (QS. Al-Furqan ayat 76)

Mereka akan berdiam dalam penghormatan yang luar biasa itu dan dalam istana-istana yang luar biasa dan megah. Tempat yang luar biasa untuk singgah atau pun berdiam selamanya.

Jadi Allah ‘azza wa jalla membandingkan tempat ini dengan jahannam bukan?
Jahannam berkata, saya tak ingin ada di sana sebentar atau pun selamanya. Allah berkata rasa surga itu, jika Anda bisa mencobanya sedikit saja Anda akan menginginkannya, apalagi jika berada di sana selamanya.

Semoga Allah ‘azza wa jalla memasukkan kita ke dalam surga selamanya. Jadi ini ayat terakhir dan saya tahu saya sudah melebihkan waktu.

Kita dipilih untuk berdoa kepada Allah

Saya sebenarnya ingin memberi Anda waktu untuk tanya jawab, tapi… Saya butuh sekitar tujuh hingga 8 menit. Ayat terakhir ini cukup dalam. Ini ayat terakhir dari surat ini. Dan ayat terakhir dari seluruh bagian ini. Ayat ini tidak berkaitan dengan daftar yang membuat Anda istimewa tadi.

Ayat ini kembali bicara tentang Quraysh, dan seluruh umat manusia. Dan kepada Nabi dikatakan, bahwa sekarang mereka sudah diberi daftar bagaimana caranya mendekat kepada Tuhan. Sekarang apa masalahnya?

“Qul maa ya’ba’u bikum robbii lau laa du’aaa’ukum fa qod kadzdzabtum fa saufa yakuunu lizaamaan.” (QS. Al-Furqan ayat 77)

Ada beberapa cara untuk meninjau ayat ini, saya bagikan beberapa kepada Anda, Karena keterbatasan waktu, saya takkan membahas masalah bahasa. Saya hanya berbagai implikasi ayat ini dalam bahasa Inggris.

Allah itu, pada satu sisi berkata, apa nilaimu di hadapan Allah? Apa hargamu di hadapan Allah? Apa yang kamu pikirkan saat kamu datang ke hadapan Allah? Nilai apa yang kamu miliki?

Jika bukan karena kenyataannya bahwa sebagai manusia kamu diberi tanggung jawab yang tak pernah diberi kepada yang lainnya, “Du’aaa’ukum”.

Kamu akan senantiasa memanggil Allah. Kamu akan memilih untuk memanggil Allah. Gunung, pohon, burung, mereka tak punya pilihan. Tapi mereka tetap memanggil Allah.

“Wa im min syai’in illaa yusabbihu bihamdihii wa laakil laa tafqohuuna tasbiihahum.” (QS. Al-Isra’ ayat 44)

Kamu! Mengapa kamu tidak berharga di hadapan Allah kecuali untuk satu hal. Kenyataan bahwa kamu dipilih untuk memanggil (berdoa) kepadaNya. Namun kamu telah membuang tanggung jawab tersebut.

“Fa qod kadzdzabtum.” (QS. Al-Furqan ayat 77)

Kamu menganggap undangan untuk memanggilNya itu sebagai dusta?

“Fa saufa yakuunu lizaamaan.” (QS. Al-Furqan ayat 77)

Maka hukuman ini takkan meninggalkanmu. Ini akan menjadi sesuatu yang tak bisa dihindari, itu implikasi pertama.

Adanya mereka yang masih berdoa kepada Allah adalah penyebab mereka yang berdosa masih bertahan

Implikasi berikutnya adalah — Allah mengatakan kepada mereka yang tidak beriman dan mereka yang sudah melakukan semua dosa. Kamu tak berharga di hadapanKu, dan satu-satunya alasan kamu masih bertahan adalah karena masih ada beberapa di antaramu yang masih memanggilKu. Masih ada sebagian kecil orang beriman di muka bumi yang masih beristighfar kepada Allah dan merekalah satu-satunya alasan kamu masih bertahan.

Allah masih memberi kesempatan untuk kembali kepadaNya

Sekarang, implikasi ketiga adalah Allah tak punya — bahkan untuk mereka yang kafir dan muslim yang jauh dari Allah, mereka (lelaki dan wanita) sebaiknya juga mendengarkan ini.

Allah bertanya, nilai apa yang Aku peroleh darimu? Kamu tidak salat, tidak patuh, tidak memilih yang halal, kamu melanggar semuanya tapi dalam keadaan putus asa kamu masih memanggilKu, maka setidaknya Aku masih menilai itu darimu. Aku masih memberimu kesempatan, “Lau laa du’aaa’ukum.” (QS. Al-Furqan ayat 77)

Namun secara umum kamu masih menganggap semuanya tak berharga, kamu tidak mengakui semua yang sudah Aku berikan padamu dan apa yang Kusuruh untuk kamu kerjakan sebenarnya bernilai bagimu.

Kamu anggap semua itu tak berguna, hanya suatu kebohongan. Sebaiknya kamu segera merubah jalanmu karena segera ini akan menjadi hukuman yang melekat. Allah tidak berkata kamu akan di hukum. Dia berkata, kamu akan segera di hukum, segera kamu takkan bisa lolos darinya. Artinya saat ini kamu masih punya kesempatan, berbaliklah.

Allah memuliakan kita dengan Al-Qur‘an

Lalu sebuah implikasi, apa yang membuat kamu kaum Quraysh bernilai? Jika tidak karena Allah sudah memanggilmu dalam Al-Qur’an. Allah telah memuliakanmu dengan buku ini. Dan sebagai kelanjutannya Allah sudah memuliakan Anda dan saya dengan Al-Qur’an ini.

Namun Anda singkirkan semua itu? Anda tak peduli dengan buku ini? Pesan yang diberikan Allah kepada Anda? Sebaiknya Anda segera kembali dan memahami nilai mengapa Allah memilih untuk bicara kepada Anda.

Allah tidak ingin menghukum

Implikasi terakhir adalah bahwa Allah ‘azza wa jalla tak ingin menghukum Anda. “Maa ya’ba’u bikum,” implikasi lain secara bahasa adalah bahwa Allah tidak tertarik untuk menghukum Anda.

Dia tidak punya keinginan dan niat untuk menghukum Anda kecuali karena kejahatan yang telah Anda lakukan dengan memanggil seseorang selain Allah sangatlah besar, dan itu perlu dihukum. Dengan kata lain Allah menghukum Anda meski Dia tak ingin melakukannya.

“Maa yaf’alulloohi bi’adzaabikum.” (QS. An Nisa ayat 147)

Allah tidak dapat apa-apa dari menghukum kamu. Apa yang akan diperoleh Allah dari menghukum Anda? Allah mengatakan di sini, Aku tidak ingin menghukummu, tapi kejahatanmu terlalu besar. Dan itu segera akan menjadi permanen, saat ini kejahatan itu masih temporal jadi kamu bisa menghapusnya.

Jadi silahkan kembali, kembali kepada Allah. Setelah memberi kita semua kesempatan ini untuk tak hanya kembali kepadaNya namun juga sangat dekat denganNya, akhirnya Dia berkata, mengapa kamu ingin dihukum? Aku tak ingin menghukummu. Kembalilah.

Semoga Allah ‘azza wa jalla menolong kita memahami hal ini di hati kita dan menjadikan kita bagian dari mereka, karena siapa saja orang di sekitar Anda yang berada dalam dosa, orang di sekitar Anda yang tidak taat kepada Allah, hati mereka juga dilembutkan dan mereka juga kembali menuju Allah ‘azza wa jalla.

Barokalloohu lii wa lakum wa fil qur’aanil hakiim wa nafa’nii wa iyyakum bil ayaati wa dzikril hakiim. Wassalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Sesi Tanya Jawab:

Institusi pernikahan dalam Islam

Baiklah saya mulai dengan pertanyaan yang paling menarik. Cara apa yang halal untuk mendekati seorang gadis yang kita sukai? Meski itu pertanyaan nomor 12, saya kira —

Ini sebenarnya lebih rumit, kita telah membuatnya lebih rumit daripada para sahabat. Para sahabat adalah orang-orang sederhana yang dari masyarakat yang berjiwa pemberontak. Di mana lelaki dan wanita melakukan berbagai hal dan tak seorang pun peduli, kemudian Islam datang.

Di sini saya ingin memberi Anda sedikit latar belakang. Di Madinah di mana para sahabat bermigrasi, kaum Muhajirun dalam kondisi bangkrut, bukan? Mereka meninggalkan segalanya. Dan Madinah saat itu adalah tempat yang buruk, saat ini memang sudah menjadi Madinah Al-Munawwarah. Dahulu Madinah seperti Las Vegas, sangat buruk. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke sana Madinah bukanlah tempat yang baik.

Baiklah, Anda harus paham bahwa masyarakatnya sungguh buruk. Sebagai contoh, industri yang paling lazim di Madinah saat itu adalah prostitusi. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pindah ke sana, Dan wanita-wanita tuna susila di rumah-rumah hiburan, mereka biasanya memiliki bendera penanda di luar rumahnya. Bahwa ini adalah tempat di mana Anda bisa berkunjung untuk maksud tersebut.

Lalu seorang sahabat datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Ya Rasulullah, ada seorang wanita…” — karena lelaki ini tak menghasilkan uang, dia seorang muhajir —

“Ada seorang wanita, dia menghasilkan cukup uang, saya ingin menikahinya.”

“Apa yang dia kerjakan?”

“Dia bekerja di …” — Anda paham yang saya maksudkan. Saya takkan menyebutkannya.

Mengapa saya bicarakan hal ini? Karena saat itu para sahabat bahkan belum tahu tentang hal-hal buruk. Mereka juga belajar, bukan? Mereka tidak langsung berubah jadi malaikat dalam semalam. Mereka juga berkembang.

Jadi lelaki ini bahkan tidak berpikir begitu — dan bayangkan Anda datang kepada Rasulullah lalu menanyakan hal ini. Bisakah Anda bayangkan seseorang datang kepada seorang Imam hari ini lalu berkata, “Hai, jadi saya berkeinginan untuk …”

Jenazah berikutnya mungkin adalah syekh (Imam) ini…

Lalu ayat turun; tidak, kamu tidak boleh menikahi wanita seperti itu di Surat An-Nur. Jadi wahyu datang untuk mengajarkan sahabat dan orang beriman, perhatikan — mereka bukan orang-orang yang bisa kamu nikahi, mereka semua, jangan bercampur dengan mereka.

Sebagaimana Ibn Ashur rahimahullah berkata dalam tafsirnya bahwa ayat ini mengacu kepada pelaku prostitusi profesional. Seorang bukan pezina takkan menikahi seorang pezina sebenarnya mengacu kepada mereka ini, karena pertanyaan diajukan.

Saya ingin mengangkat hal ini karena Anda mungkin berpikir bahwa, jika seorang sahabat melihat seorang wanita dari jarak satu mil, dia akan berbelok ke arah lain dan beristighfar semalaman. Tidak, bukan seperti itu.

Mereka berinteraksi satu sama lain, bicara dengan satu sama lain, bekerja dengan satu sama lain, mereka merupakan rekan usaha. Semua jenis interaksi terjadi di antara lelaki dan wanita namun dengan prinsip bahwa itu terhormat, bahwa itu mulia.

Ketika seorang sahabat — ketika seseorang menyukai orang lain, apa yang mereka lakukan? Ini bagian yang astaghfirullah. Ini yang mereka lakukan.

“Hai, aku suka padamu, mau menikah denganku?”

Dan wanita itu menjawab, “Mungkin, bicaralah pada ayahku.”

Lelaki itu menjawab, “Oke.”

Kemudian dia datang kepada ayahnya dan berkata, “Hai, aku suka dengan putrimu dan dia — saya sudah bicara padanya, dia tidak seratus persen menolak ide ini. Bagaimana, oke?”

Ayahnya menjawab, “Saya bicarakan dulu dengan putri saya.”

Bagaimana yang terjadi sekarang di London. Anda mendekati seorang gadis dengan cara terhormat, sudah menjadi rekan kerja selama tiga tahun, “Maukan kamu menikah denganku?”

Dan dia menjawab — Ooooh.

Mungkin dia berkata, “Jangan bicara dengan ayahku, nanti aku dibunuhnya.”

Karena jika kamu bicara pada ayahku, dia akan berkata, “Jadi ini sebabnya kamu bekerja?”

“Apakah karena ini aku kirim kamu ke universitas?”

– Anda para ayah – saya punya empat putri. (Masya allah). Dengarkan Anda para ayah yang memiliki anak perempuan. Anda kirim putri Anda ke kampus. Anda bawa putri Anda ke negeri ini. Anda buat mereka hidup di sini. Anda keluarkan mereka dari masyarakat. Anda yang membuat keputusan itu.

Dan ketika seseorang — muslim menyukai mereka, itu adalah hal yang baik. Bagaimana mereka bisa menikah jika terus diam di rumah? Siapa yang akan menyukai mereka? Jadi jika seseorang mendekati mereka dengan cara terhormat.

Anda tidak boleh berkata, “Oh, Tuhanku, waktunya sudah tiba, astaghfirullah.”

(Bicara dalam bahasa Urdu).

Sungguh suatu penghinaan, sekarang kami harus membawamu kembali ke Bangladesh dan menyembunyikanmu di sebuah desa karena seorang lelaki suka padamu, astaghfirullah. Lalu ada — Seseorang berkata, “Ruqyah dia dan…”

Tenanglah! Tidak apa-apa. Seseorang menyukai putrimu, itu bagus. Sekarang pergi dan selidikilah. Ini bukan masalah.

Satu-satunya hal yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah — Pendekatan yang dilakukan Musa ‘alaihissalam di Madyan. Dia sendirian, Musa sedang sendirian. Dan kedua gadis itu juga sendirian bekerja di luar rumah.

Dan dia mendatangi mereka dan menolong mereka, dan salah satu gadis itu berkata, “Dia baik.”

Dan si gadis datang pada ayahnya dan mengusulkan untuk menyewa Musa, yang arti sebenarnya adalah, “Ayolah ayah…”

Dan yang terjadi adalah si gadis menyukai si pemuda. Itulah sebenarnya yang terjadi pada kisah Musa. Musa tidak melamar, tapi si gadislah yang melamar. Dan ayahnya tidak bisa melamar kecuali dengan persetujuan putrinya.

Jadi tidak masalah bagi Anda para gadis untuk berkata, “Ayah, ada seorang pemuda, brother ini di MSA (Muslim Student Association). Dia mengisi halaqah hari Kamis. Dia sangat hebat, ayah harus datang melihatnya.”

Putri Anda sedang mengatakan sesuatu kepada Anda. Tidak apa-apa, pergilah menghadiri halaqah. Tidak apa-apa, selidikilah. Jangan buat menjadi rumit. Tak ada yang tidak terhormat dari hal itu.

Jangan pergi kencan dengan seorang gadis. Dan jangan pahami sebagai, Ustadz Nouman memberi khutbah, saya akan membawanya makan malam. Tidak, tidak. Bukan begitu juga. Apakah Anda bisa melakukan interaksi terhormat dengan seseorang yang ingin Anda nikahi? Tentu saja. Tentu saja, tak ada yang salah dengan hal itu.

Bolehkah menggunakan waktu untuk memahami kesukaan dan ketidaksukaan masing-masing? Ya, itu bagus. Pendekatan yang terhormat itu baik. Dengan pengawasan orang tua, dengan cara yang terhormat, tidak ada masalah.

Wanita berhak menolak pernikahan

Jadi yang terjadi adalah, kita memiliki dua ekstrem. Ada yang konservatifnya melebihi para sahabat, dan ada yang sangat liberal melebihi kaum Liberal. Oke? Dan Islam berada tepat ditengahnya, Islam adalah jalan yang wajar. Cara yang sangat wajar, oke?

Jadi saya menganggap sangat penting untuk memberitahukan hal ini kepada keluarga-keluarga dan pada diri Anda sendiri. Bicaralah kepada putri-putri Anda, tanyakan apakah mereka menyukai seseorang.

Jangan buat sebuah — antara ayah dan putrinya seharusnya ada komunikasi yang terbuka. Mereka seharusnya tidak takut untuk mengatakan kepada Anda bahwa mereka tertarik kepada seseorang. Jangan paksa mereka menikahi seseorang yang tidak mereka inginkan.

Jangan paksa putri Anda dan katakan kepada mereka, “Jika kamu tidak menikahi yang ini, siapa yang akan menikahimu nanti?”

“Dan kamu harus — kami sudah mengatakan iya kepada mereka.”

“Jangan permalukan keluarga kita dengan mengatakan tidak.”

Pernikahan seperti ini adalah haram. Saya katakan lagi, pernikahan seperti ini haram. Anda tidak boleh memaksa putri Anda secara emosional dan fisik untuk menikah di bawah tekanan keluarga. Itu bathil.

Dan itu pernah terjadi pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap pernikahan itu batil. Pernikahan itu tidak sah, hingga si gadis secara tulus menyukai si pemuda dan mengatakan sendiri, “Ya, saya ingin menikahinya.”

Tak ada paksaan dari ayah dan ibunya, tak ada paksaan dari seorang pun. Dia menyukainya. Dan meski pada hari pernikahan dia berkata, “Ibu saya tidak ingin melaksanakan pernikahan ini.”

Sang Ibu tidak boleh berkata, “Terlambat nak, terlambat.”

“Kita sudah kedatangan tamu… mereka semua… mereka akan…”

Tidak, jika si gadis mengatakan, “Saya tak ingin melakukan hal ini,” maka, tidak, hentikan.

Allah memberinya hak itu, Anda tidak bisa mengambil haknya. Jika Anda melakukannya, Anda telah menguburnya hidup-hidup. Ini cara baru untuk mengubur wanita hidup-hidup.

Dahulu, mereka biasanya menguburkan bayi perempuan hidup-hidup. Sekarang mereka menguburkannya hidup-hidup di hari pernikahan. Inilah yang kita lakukan. Ini harus dihentikan.

Pernikahan beda suku bangsa tidak masalah

Biarkan mereka menikahi siapa yang mereka inginkan, jika mereka seorang muslim yang terhormat. Dan karena sekarang Anda hidup dalam masyarakat yang berbeda, Anda takkan menemukan seseorang dari desa yang sama lagi, itu bukan masalah. Tidak masalah, seorang Bangladesh bisa menikahi seorang Suriah, tidak masalah.

Saya tahu. Tidak masalah untuk orang Suriah juga, ya… Anda orang-orang Suriah, Turki, Somalia — astaghfirullah Somalia, ya Somalia, tidak masalah.

Anda tahu Musa ‘alaihissalam adalah seorang Arab. Musa adalah seorang Arab. Sebenarnya tidak, dia orang Israel dan dia menikahi seorang Arab. Dia menikah di Madyan, bukan?

Begitu banyak orang Arab berkata, “Kami hanya menikah dengan sesama Arab.”

Benarkah? Musa ‘alaihissalam sebenarnya dari Israel. Bagaimana dengan itu? Tidak masalah, semua oke.

Jadi sekarang waktunya, masa yang aneh di mana kita hidup. Dan sebenarnya satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan kita adalah prinsip dasar agama kita. Dan membuat jalan menuju pernikahan mudah, sebenarnya adalah salah satu perang terbesar melawan setan.

Jika kita membuat jalan menuju pernikahan sulit, jika ada yang berumur 28, 30, 35.

Saya takkan membahas pertanyaan lain, lupakan saja, mari kita bahas yang ini saja…

Apa yang akan kita lakukan — kita memiliki seorang anak lelaki lajang berumur 35 tahun. Bagaimana menurut Anda, dia melakukan tahajud selama 35 tahun? Di planet mana Anda tinggal? Mereka takkan melakukan sesuatu yang haram? Tak ada pikiran jahat muncul di kepalanya? Apa mereka tidak ke kampus, tidak bekerja?

28-29 tahun belum menikah? Ini gila. Ini sungguh konyol. Ini tak bisa diterima, tidak bisa diterima.

Pernikahan berdasarkan urutan umur tidak syar‘i

Dan kita buat standar yang tidak ada dalam agama kita dan tidak masuk akal. Anda punya tiga putri, empat putri. Seseorang melamar putri bungsu Anda. Sedangkan tidak ada lamaran yang datang kepada putri tertua Anda.

“Tidak, tidak, tidak, harus sesuai urutan.”

Siapa bilang harus sesuai urutan? Syariah yang mana?

Jika ada berkah yang baik datang ke rumah Anda, untuk umur berapa saja, apakah akan Anda tolak? Apa yang akan dikatakan orang? Apa yang akan dikatakan Allah ketika Anda harus menjelaskan perbuatan Anda kepadaNya dan berkata, “Saya halangi putri saya dari pernikahan yang baik karena tidak berdasarkan urutan.”

Apa yang akan Anda katakan kepada Allah, coba jelaskan pada saya. Apa yang akan Anda lakukan? Konyol. Omong kosong ini harus dihentikan. Pernikahan harus dibuat mudah.

Mahar dan tradisi hadiah

Dan di pihak pria yang dipengaruhi tradisi Hindu berkata, “Pria adalah hadiah. Jadi pihak wanita harus memberinya hadiah.”

Islam datang dan berkata, lelaki harus memberi apa? Mahar. Pria harus memberi hadiah. Wanitalah yang merupakan hadiah bagi keluarga pria. Dan sekarang kita lakukan ini di Pakistan, India, Bangladesh, Asia Tenggara…

Tidak, tidak, tidak. Kita tak ingin “jahez” (mas kawin). Kita tak ingin hadiah dari pihak wanita. Tapi harus ada sesuatu, setidaknya kulkas…

Itu — itu adalah kebalikan dari apa yang diperintahkan Allah. Itu adalah kebalikan dari apa yang diperintahkan Allah. Anda tak hanya tidak patuh kepada Allah, Anda bahkan memutarbalikkan apa yang sudah dikatakan Allah.

Meminta “jahez” agar diberikan karena Anda berada di pihak pria? Itu sungguh jauh di atas haram, saya bahkan tak tahu itu masuk kategori apa. Setan memberi Anda lima bintang untuk itu. Jangan jatuh ke dalam kategori ini. Jangan beri menantu perempuan Anda hadiah hanya untuk memintanya kembali.

Saat ini itulah yang terjadi. Mereka memberinya perhiasan pada saat pernikahan, “Tidak, itu hanya untuk berfoto.”

Benarkah? Allah ‘azza wa jalla menggambarkan hal ini.

“Laa ta’khudzuu min-hu syai’an a ta’khudzuunahuu buhtaanaw wa itsmam mubiinan.” (QS. An Nisa ayat 20)

Jangan ambil kembali satu pun dari apa yang telah Anda berikan kepada pasangan Anda. Apakah Anda bersedia menerima tuduhan berat terhadap diri Anda? Dan menerima dosa yang sangat jelas atas diri Anda? Saat Anda setuju dengan sebuah mahar — Anda tahu saat ini trendnya adalah, mereka tidak membahas mahar hingga hari pernikahan tiba atau pada menit pernikahan.

Sebelumnya saat masalah mahar disinggung mereka berkata, “Ah ini kan antara keluarga, tidak masalah, akan kita bicarakan, tidak apa-apa.”

Dan ketika waktunya tiba, pihak wanita mengatakan, “Lima puluh ribu (pound).”

Dan mereka bagai — seorang lelaki di pihak pria yang sedang makan biryani, biryaninya terhenti di piring.

“Lima puluh ribu (pound)?”

Dan pamannya berbisik, “Tak masalah, tak seorang pun membayarnya.”

Jika Anda tak punya niat membayar mahar, nikah Anda tidak sah. Jika Anda punya niat untuk meminta istri Anda untuk membatalkan mahar, Anda telah berbuat dosa yang besar, Anda bahkan tak boleh meminta diskon.

Anda tidak boleh, Anda dilarang melakukannya. Anda tidak bisa, dan Anda tidak boleh memberinya kapan saja Anda mau. Dialah (istri Anda) yang memutuskan kapan akan diberikan. Itu hak dia. Itulah yang mengesahkan pernikahan.

Jangan menyetujui mahar yang tak mampu Anda berikan. Jangan menyetujui mahar yang Anda tidak berniat membayarnya. Jangan menyetujui mahar yang Anda niatkan untuk minta pembatalan.

“Oh jika kamu mencintaiku kamu sebaiknya membatalkannya. Mengapa uang menjadi bukti cintaku padamu?”

Karena itu adalah mahar. Dan karena Anda tak bisa menggunakan bahasa semacam itu.

“Fa in thibna lakum ‘an syai’in.” (QS. An Nisa ayat 4)

Jika mereka (istri Anda) dengan keinginan sendiri, karena kebaikan hati mereka memutuskan memberi Anda sebagian dari mahar itu. Umpamanya Anda memberi seribuan sebulan kepadanya sebagai mahar, lalu dia berkata, “Ini aku beri dua pound belilah es krim.”

Itu terserah padanya. Jika dia ingin melakukannya bisa saja, tapi Anda tidak boleh meminta padanya, itu bukan uang Anda. Itu bukan uang Anda.

Mengapa saya menekankan hal-hal semacam ini? Hal-hal semacam ini telah kita masukkan ke dalam adat pernikahan, membuat pernikahan menjadi sulit. Ketika Anda membuat pernikahan menjadi sulit, pintu menuju zina terbuka lebar, pintu menuju kerusakan terbuka lebar. Tidak wajar jika pemuda/pemudi umur 18, 19-20 tahun yang akan kuliah dan berada di kampus selama 5-6 tahun tidak akan menumbuhkan rasa kasih sayang.

Dan bagi mereka untuk begitu saja menikahi seorang sepupu di Lahore (Pakistan). Itu takkan terjadi, dan jika itu terjadi maka itu adalah bentuk penindasan. Karena dia (wanita) secara emosional tertambat kepada orang lain dan tak ada seorang pria pun yang ingin bersama seorang wanita yang hatinya tertambat pada pria lain dan sebaliknya. Itu penindasan.

Terkadang Anda menolak sebuah pernikahan hanya karena bukan Anda yang menikah. Itu bukan masalah Anda. Si pemuda berkata, “Saya suka gadis itu.”

“Tidak, kamu tak berhak memilih, kamu akan menikah dengan pilihan kami.”

“Mengapa? Siapa yang mengatakan demikian? Itu salah, saya tidak suka. Saya tidak suka gadis itu.”

Itu bukan masalah Anda. Itu masalah dia (si pemuda), dia sudah dewasa sekarang, biarkan dia membuat kesalahan itu. Meskipun itu kesalahan yang sangat besar, biarkan saja.

Allah beri pemuda dan pemudi itu hal untuk memilih yang mereka inginkan. Orang tua bisa memberi nasihat, benar, tapi jika Anda mencoba mengontrol apa yang dilakukan anak Anda, maka ini hanya akan menuju bencana. Ini hanya akan menuju bencana.

Saya takkan memberi SIM kepada anak umur 12 atau 14 tahun. Ustadz Nouman berkata saya bisa menikahi siapa saja yang saya mau, tidak. Saya bicara tentang orang dewasa.

Maksud saya, saya sudah bertemu dengan wanita berumur 25-26 tahun yang memiliki karir yang baik, apoteker, dokter, sebut saja. Mereka menyukai seseorang dan ingin menikahinya, keluarganya menolak. Ini sepenuhnya “Zulm” (zalim), tak ada lagi yang bisa menggambarkannya. Ini “Zulm” (zalim).

Jika seorang wanita berkata dia ingin menikahi seseorang dan pria itu muslim, tak ada alasan bagi Anda untuk menghentikannya. Anda tak berhak menghentikannya. Salah jika Anda melakukannya. Anda menyalahgunakan hak yang Allah berikan pada Anda. Anda menyalahgunakannya. Ini seharusnya tidak terjadi.

Nasehat bagi pemuda

Dan bagi para pemuda, sedikit nasihat terakhir bagi para pemuda — jadilah seorang pria. Carilah uang, jadilah orang yang bermartabat, jangan tawarkan kurma sebagai mahar.

Para sahabat biasanya begitu — Apakah Anda salah seorang dari sahabat? Apa yang lain yang bisa Anda beri sebagai mahar selain kit-kat (coklat) — Tidak. Bermartabatlah. Cari rezeki yang baik bagi diri Anda sendiri.

Jangan berkata, “Saya suka padanya. Saya tak punya pekerjaan. Saya tak paham, keluarganya cuma tertarik kepada dunia.”

Ya, karena itulah kita punya mahar. Hanya tertarik kepada dunia? Anda juga harus memperhatikan dunia.

“Wa laa tansa nashiibaka minad-dun-yaa.” (QS. Al-Qasas ayat 77)

Itu di dalam Al-Qur’an. Jangan lupa bagian yang Anda miliki dalam hidup ini. Itu juga keputusan duniawi, tidak hanya keputusan spiritual.

“Bagaimana seseorang bisa memenuhi kebutuhan putri saya? Di mana putri saya akan tinggal? Apakah dia akan hidup layak?”

Ini pertanyaan yang terhormat, ini pertanyaan yang wajar.

Jadi kita harus menganggap hal ini sangat serius dalam masyarakat kita. Dan jika menyangkut urusan pernikahan, Hari ini saya tidak membahas apa yang terjadi setelah pernikahan karena ada setumpuk “Zulm” (kezaliman) yang kita lakukan setelah pernikahan.

Itu kita bahas lain kali, lain kali saya akan mengomeli Anda lagi.

Bersyahadat karena menikah; Allah yang berhak menilainya

Sekarang, mari kita memperbaiki institusi pernikahan itu dulu. Mari kita buat pernikahan itu mudah bagi para pemuda. Khususnya mereka yang sudah siap dan mampu.

“Manistathoo’a minkumul baa’ata fal yatazawwajuu.” (Hadits Mutaffaqun ‘Alaihi)

Barang siapa yang mampu biarkan mereka menikah.

Jika kemampuan ada, tak boleh ada halangan lain. Dan bagi Anda yang — merasa ini kontroversial, tidak masalah. Saya segera pergi dari sini, jadi Anda hadapi saja, Anda bisa berikan tanggapan buruk bagi saya secara online.

Jika putra Anda ingin menikahi seorang yang baru saja mengucapkan syahadat kemarin. Atau seorang gadis ingin menikahi seorang pemuda yang baru masuk Islam seminggu yang lalu atau semacamnya.

Lalu Anda berkata, “Dia menjadi muslim hanya karena ingin menikahi gadis itu. Apakah syahadatnya sungguh-sungguh?”

Siapa yang menilai kemurnian sebuah syahadat? Siapa yang memutuskan? Allah.

Bisakah Anda mengetahui penyebab terjadinya sesuatu? Ketika Usamah — cerita yang terkenal tentang Usamah muncul, bahwa dia ingin membunuh seseorang di sebuah perang.

Di sebuah perang dia akan membunuh seseorang, pria ini sudah terjatuh, dia kehilangan pedangnya dan Usama akan menghabisinya, dan dia berkata, “Asyhadu an laa ‘ilaaha ‘illallaah wa asyhadu anna muhammadar rasuulullaah.”

Dia mengucapkan syahadat dan menjadi muslim. Apakah dia menjadi muslim karena ketika dia jatuh, kepalanya terantuk dengan keras lalu tiba-tiba Islam menjadi masuk akal baginya?

Dia bagai, “Tunggu sebentar, kita berhenti dulu dan — saya siap menjadi muslim sekarang.”

Jelas saja dia mengucapkan syahadat karena tahu muslim tidak membunuh sesama muslim. Dia mengambil kesempatan karena dia kalah. Jika dia yang di atas angin, dia takkan mengucapkan syahadat bukan? Jadi dia berada di bawah dan diucapkannya syahadat.

Dan Usamah memahami itu dan berkata, “Yang benar saja.”

Dia membunuhnya.

Ketika hal itu terjadi, kabarnya sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah itu jelas, layaknya 1000% pria ini mengucapkan syahadat untuk alasan yang salah? Tentunya jelas, jika ada orang lain yang melihatnya.

Nabi berkata, “Apa yang akan kamu lakukan jika ‘laa ‘ilaaha ‘illallaah’ datang kepadamu di Hari Kiamat?”

Itu yang dikatakan Nabi. Bahwa syahadat akan mengeluh di Hari Kiamat, “Saya tidak dihormati.”

Dan itu adalah kasus yang paling jelas, ketika seseorang sudah mengucapkan syahadat. Siapa Anda berani meragukannya alasan mereka? Itu antara mereka dan Allah. Itu tidak masalah.

Bahkan kenyataannya di antara para sahabat ketika ada yang berkata, “Saya ingin menikahimu.”

Wanita ini seorang muslim dan si pria adalah non-muslim.

Si wanita berkata, “Kamu bukan muslim.”

Si pria menjawab, “Oke, saya akan masuk Islam.”

Si wanita berkata, “Baiklah, saya setuju.”

Dan ketika kamu sudah muslim, kita bisa menikah, selesai.

Lalu Anda berkomentar, “Astaghfirullah, dia mengucapkan syahadat karena seorang wanita.”

Ya, tapi Nabi tidak ada masalah dengan hal ini, mengapa Anda mempermasalahkannya? Jika sunnah saja tidak mempermasalahkan, apakah Anda lebih sunni daripada sunnah?

Jadi yang harus Anda lakukan sekarang, apa yang harus Anda dan saya lakukan adalah memahami bahwa kita berada dalam situasi yang sungguh menantang. Dan anak-anak kita terpapar jenis haram yang terburuk bukan hal baru lagi.

Mereka bisa diakses, mereka mudah jatuh kedalamnya. Dan dalam lingkungan demikian, ketika kesempatan untuk nikah ada, sudilah Anda — Adalah kejahatan yang besar bagi kita untuk menyangkal kesempatan itu.

Nasihat diberikan orang tua, keputusan di tangan anak

Pertimbangan itu pasti dibutuhkan, beri anak Anda nasihat.

“Saya kira ini pernikahan yang buruk karena alasan berikut ini… tapi keputusan ada di tanganmu. Keputusan ada di tanganmu.”

Anda harus memberikan nasehat yang tulus, “Ad-dinu nashiihah,” (Agama itu nasihat) Anda harus menasihati.

Tapi pada akhirnya mereka harus memutuskan sendiri. Dan jika itu adalah keputusan yang buruk, biarkan saja. Tidak mengapa. Kesalahan itu tanggung jawab mereka. Itu adalah kesalahan yang masih lebih baik daripada kesalahan yang akan mereka buat di luar pernikahan, Anda paham bukan?

Dan kadang Anda tak mau tahu tentang itu, dan berkata pada diri sendiri, “Tidak, tidak, putra saya, putri saya, mereka takkan melakukannya…”

Benarkah? Benarkah? Karena Anda berasal dari keluarga malaikat? Putra dan putri Anda tidak punya hormon? Mereka tidak punya perasaan? Mereka tidak merasakan cinta? Mereka tidak punya obsesi? Mereka tidak akan tergoda? Mereka akan mengalami semuanya.

Jangan terpedaya dan berpikir bahwa anak Anda — “Dia putra yang baik, dia salat.”

Apa yang bisa dilakukan salat?

Anda mengatakan, “Innash-sholaata tan-haa ‘anil fah-syaaa’i wal-munkar.” (QS. Al-Ankabut ayat 45)

Itu manjur hingga batas tertentu. Namun Allah menciptakan kita dengan sebuah fitrah, Anda menyangkal fitrah itu. Saya tahu saya sudah mulai mengomel, tapi saya merasa harus melakukannya.

Semoga Allah ‘azza wa jalla menjadikan pernikahan mudah dalam komunitas kita dan memberkahi pernikahan yang terjadi. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberi para suami karakter yang kuat dan pengertian untuk menjadi suami yang baik dan para istri, diberi komitmen, kesetiaan dan pengertian untuk menjadi istri yang baik. Sehingga akan muncul keluarga-keluarga hebat.

Barokalloohu lii wa lakum. Ini akhir dari sesi tanya jawab. Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

—–

Transcript Quranic Healing for the Heart – Nouman Ali Khan

– Click caption to active YouTube English Subtitle –

Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin, wash-sholatu was-salamu ‘alaa sayyidil anbiyaai wal mursaliin, wa alaa aalihi wa shohbihi famanistanna bi sunnatihi ilaa yaumiddin. Allahummaj’alna minhum wa minalladziina aamanu wa ‘amilush-shoolihat watawa saubil haq watawa saubis sabr, aamiin ya robbal-‘aalamiin. Tsumma ‘amma ba’d.

Fa ‘audzu billahi minasy-syaitonir rojiim.

“Wa ‘ibaadur-rohmaanilladziina yamsyuuna‘alal-ardhi haunan wa idzaa khoothobahumul-jaahiluuna qooluu salaaman.” (QS. Al-Furqan verse 63)

“Walladziina yabiituuna lirobbihim sujjadan wa qiyaaman.” (QS. Al-Furqan verse 64)

“Walladziina yaquuluuna robbanashrif ‘annaa ‘adzaaba jahannama inna ‘adzaabahaa kaana ghorooman.” (QS. Al-Furqan verse 65)

“Innahaa saaa’at mustaqorron wa muqooman.” (QS. Al-Furqan verse 66)

Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul uqdatan min lisaanii, yafqohuu qoulii, aamiin ya robbal-‘aalamiin.

First and foremost, I’d like to thank the masjid. ELM has been a place that’s very close to my heart. As a matter of fact, I like coming here without telling anyone, often. And I’ve conducted some social experiments here, as well.

So, I was here a few months ago, I think I mentioned this before. But I came here a few months ago to attend Jumu’ah. I was in the audiance, I kept a hoodie on. So nobody’d know who I was. And I kept my head down.

And I wanted to see if I would get caught. And I didn’t. I truly survived the entire experience. One guy, in one of the rows, during the Jumuah, kind of did a side view and I quickly — you know — did better hijab. Basically and then it was fine.

But regardless, the hospitality, it’s been extended to me. And of course, the overwhelming number of you that have come tonight is an indication of the love Allah put between us and May Allah ‘azza wa jalla accept that love itself as an act of ibadah. And only increase that between the muslims.

What I wanted to share with you this evening, is something that a passage of the Qur’an at the end of suratul Furqan. This is the 25th surah of the Qur’an. It’s a passage that very near and dear to my heart. It’s something I’ve talked about many times before but every few years I feel the need to go back and refresh my relationship with these ayats. And if I feel that need, I feel it something that you would need, as well.

And so, that’s the inspiration between our behind, sharing some of these reflections from the end of surah number 25 with you.
Special title for the believers

Allah ‘azza wa jalla, in this passage gives us, people, a special title. And that title is “Wa ‘ibaadur-rohmaan”. Slaves of the incredibly merciful, the incredibly loving.

Believers can be called the slaves of Allah. The believers can be called simply the believers, “Alladziina aamanuu”. We can be called the Muslims. We have many titles.

And of all of those titles, a special, unique title that Allah has chosen in this surah is “‘Ibaadur-rohmaan” and that’s an indication of something.

First and foremost, from a grammatical point of view, “‘Ibaadur-rohmaan” is what they call in Arabic, an “Idafa”. What that simply means is two words that are bonded with each other.

Grammatically two words are fused with each other. And grammatically you say even that nothing comes between “Mudhaaf” and its “Mudhaaf ilaih”. They’re inseparable.

And using that kind of structure in and of itself — ’cause you could say, “‘İbaadun lil rohmaan,” also. Slaves to Ar-Rahman.

But the fact that those two has been fused together itself, some commentators were led to be inspired by the fact that this is describing a very close relationship with certain people and Allah. And the names of Allah — of course, each of them has a certain connotation, it brings about certain emotions for anyone of us.

He could have said, “‘Ibaadullaah”. The Slaves of Allah. But He chose – in His wisdom – to say, “‘Ibaad Ar-Rohmaan”.

And so, the relationship that has been described between us and Allah in this ayah, is one of love, care and mercy.

We have been brought into the folds of Allah’s love, care and mercy. And as the ayat go, there are two ways, two distinct ways of looking at what’s been said.

One way of looking at it, there are going to be certain qualities of the people. Who are these special people that Allah calls “‘Ibaadur-rohmaan”?

And one way of looking at it is, well, here is a list of these qualities and until you have all of them, you have failed. That’s one way of looking at it, isn’t it? And so, for many of us, we’re just going to look at the first one and say, “Ok, well, I already disqualified.”

But another very clear way of looking at it, which is extremely plausible in the Arabic of these ayats is that each one of these are a separate group of people.

Each one of them is a separate group of people. What they have in common is that they’re all believers. But the thing about it is, and this is the point that I want to give you in my introduction, we’re not all the same.

Some of you, like I met a woman this afternoon after Jumuah, she came up to me, and said, “I make tahajjud three hours every day. Is that okay?”

That’s what literally she asked me. “Is that okay?”

And I said, you should get some kind of award because tahajjud for five minutes is impossible for people. We haven’t got, you know — People getting up for Fajr on time is incredibly hard sometimes. And this woman is doing three hours and I said what makes you do that and she says, “Well — You know what am I gonna do? Watch TV? I’d rather talk to Allah.”

And that what she says to me and I was honored that she came to ask me, I should be seeking her advice, for people that are close to Allah ‘azza wa jalla.

What I’m trying to get at is we’re not all the same. I can’t do what she does. I’ll be honest with you. I’m not capable of doing what that woman does. I admire the ability Allah has given her. May Allah continue to give her istiqamah and answer her prayers.

But you know, there are other people who are just amazing at helping others.
Their skill, their gift is to be able to help somebody else. There are yet other people who just have one effect. When they’re around people, they feel better. That’s their gift. You just go to them, even if they don’t say a word, you just hanging around them and you just — you feel like there’s calm in you. There’s a peace in you.

Allah has given all of us different gifts. This passage, one of the ways — I personally find that far more convincing is highlighting different things about different believers.

So, there’s a group of believers that has one special quality. And other group of believers that has another special quality. That’s what makes them special.

And as we go through these ayat, you might find, well, I don’t fit in the first one, I hope I make it into at least one category here. And Insha allahu ta’ala as you will see, you will.

You may even make it into one of the category and that qualifies you to be an “‘Ibaadur-rohmaan”. May Allah include all of us among his “‘Ibaadur-rohmaan”.

The category of ‘Ibaadur-rohmaan

1. Those who walk on the earth in humility

So the first of them, it’s fascinating. You would think if Allah’s talking about these are the closest to him that He loves the most perhaps you should begin with those that pray the most to him, that worship him the most, that are most diligent in their spirituality towards Allah. Where does Allah begin?

He says, “Alladziina yamsyuuna‘alal-ardhi haunan.” (QS. Al Furqan verse 63)

The slaves of the especially merciful, these special people are ones who walk on the earth with humility.

“Alladziina yamsyuuna‘alal-ardhi haunan.” (QS. Al Furqan ayat 63)

Before we go any further, we need to understand what that means. It does not mean that when you walk on the street, you walk half in ruku and make your shoulders are drooping down, and you know, I’m being humble. That’s not humility. You walk upright. Humility means that you don’t treat people like they’re less than you. You don’t talk down to people.

And the idea “Fil-ardh” is actually wherever you go, whether you’re at home, whether you’re at work, whether you’re at school, whether you’re dealing with your employees or you’re dealing with your employer, whether you’re dealing with children or you’re dealing with elders, whether it’s your parents, whether it’s somebody else, whether it’s muslims or non-muslims.

When you deal with people, there’s a certain humility in how you deal with them, you don’t make anybody feel worthless. With your words, with the way you look at them, with the way you carry yourself.

This is “Al masyi ‘alal-ardhi haunan”.

Walking on the earth in humility. In a humble fashion.

You see, the Qur’an will highlight different kinds of arrogance. Now, everybody here knows arrogance is a disease of the heart, it’s inside the heart, yes? But then when there is a disease inside, like a virus is inside, there are symptoms on the outside. There’s high temperature, there’s sweating, all this kind of stuff.

The Qur’an will highlight, what are some symptoms of arrogance. Allah will describe, for instance, the way people stare at someone. Just the way they look at him. They will describe how the Qur’an will say, that there are people who stare at the prophet shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Yakaadulladziina kafaruu layuzliquunaka bi’abshoorihim.” (QS. Al Qalam verse 51)

They stare at you so hard, you might almost slip and fall by the way they’re looking at you. That’s how hard they stare at you. In other words, they didn’t say anything, they didn’t do anything, their arrogance was where? Just on their face. Just in their eyes.

So, for a lot of young people especially, this is an advice to you, your parents are yelling at you, about something; fair, unfair, it doesn’t even matter. And you’re sitting there listening and your blood is boiling. And you want to yell back but you just stare at them with this ugly look. This ugly look you give them.

And your mother says, “Why are you looking at me like that?”

And you say, “I didn’t say anything.”

You don’t get an award because you didn’t say anything. Because the arrogance wasn’t just in your words, congratulations you didn’t say anything, that’s good, because that could’ve been far worse. But there’s a pride, an anger, and a lack of humility, even in our face.

Even in the way, “Tsumma nazhor, tsumma ‘abasa wa basar, tsumma adbaro wastakbar.” (QS. Al-Mudassir verse 21-23)

Just the way you stare at someone, just the way you frown. Just the way you roll your eyes, as a matter of fact, sometimes it’s the way you look at someone, sometimes it’s the way you don’t look at someone.

Somebody said salam to you, you didn’t even look at them. Just looked the other way, you ignored it.

Or just said, “Wa’alaikumussalam,” because you feel guilty, but you said it in especially low voice to make sure they don’t hear it and they feel like you didn’t respond. So it’s like, Allah knows I said it, but I don’t want them to have the satisfaction of knowing that I responded to their salam.

So when they come and say, “Hey, I said salam you didn’t respond.”

“I did say it.”

That’s some special kind of lack of “Haun” (humility).

“Alladziina yamsyuuna‘alal-ardhi haunan.” (QS. Al-Furqan verse 63)

Humility towards people. Mercy towards children. Mercy towards elders. Mercy towards people that are not worthy of it. They’re not worthy of it and this doesn’t mean, by the way, at the same time, this does not mean that people walk all over you.

There are situations in our families, among your friends, in your circles of people that are very abusive, it happens. There are people in your family, maybe sometimes your parents even. That’s say very hurtful thing. That’s say very unfair thing. And you have to hear it all the time, over and over and over again.

There are women in our audience that I can’t see, there’s somewhere in this zip code or postcode, but wherever they are maybe they have to hear things from their in-laws or their siblings or somebody else and they have to hear it all the time and it boils their blood.

What do you then? Well, you have to still retain your humility? What you have to learn to do is one, stay out of those situations. If you know you’re going to lose you cool, walk away. I can’t be part of this conversation right now. I’m sorry, I’m just gonna take a walk. Just get away from there before you explode.

This is, first and foremost, “Yamsyuuna‘alal-ardhi haunan.” (QS. Al-Furqan verse 63)

And then logically what’s connected to it incredibly in the Qur’an is “Wa idzaa khoothobahumul-jaahiluuna qooluu salaaman.” (QS. Al-Furqan verse 63)

It’s piece by piece some incredible lessons here. “Idzaa” in the Arabic language doesn’t mean “if” it means “when”.

When obnoxious people, when people that don’t possess control talk to them, when ignorant people talk to them, it doesn’t say if they talk to them, the ayah says when they talk to them.

Allah is letting you and me know, there are going to be people that address us that engage us in conversation, that communicate with us, that are not going to be nice. That’s going to happen. You cannot avoid it. That kind of unpleasant experience is going to happen to each and everyone of you including myself. There are going to be those are “Jaahil”.

Now, understand what “Jaahil” means. “Jaahil” doesn’t just mean somebody who is ignorant. You know when Mosa ‘alaihissalaam was asked about the cow, you know, he said, “You should slaughter a cow.”

And they said, “Are you kidding?”

“A tattakhizunaa huzuwaa.” (QS. Al-Baqarah verse 67)

“You take us for a joke? We have to slaughter a cow?”

“We have a serious situation here, we don’t need to slaughter no cow.”

He got really upset. And you know what Mosa ‘alaihissalaam when he gets upset? He could do stuff.

So he immediately turns to Allah and says, “A’uudzu billaahi an akuuna minal-jaahiliin.” (QS. Al-Baqarah verse 67)

“I seek Allah’s refuge from becoming people who are jaahil, among people who are jaahil.

That doesn’t mean ignorant ’cause obviously Mosa ‘alaihissalaaam was one of the most knowledgeable people ever live. He’s not talking about ignorant.

He’s saying, I’m asking Allah’s refuge from losing control over my emotions, from losing control over my temper. From saying things or doing things that I really wanna do right now but I need to hold myself back.

Now with that understanding, come back to the ayah. There are people who have — who just say the most horrible things and they have no brakes. You know, there’s supposed to be, there’s something in your heart and something in your mind and it supposed to travel down to your tongue. But on the way there’s supposed to be some brakes.

Maybe this shouldn’t come out of my mouth. I’m feeling something, bad words are coming, they reached all the way here, but they shouldn’t come out my throat. They should go back and swallowed in.

But there are some people, whatever comes in their head they say it. You come and say — You meet somebody after six months at a party, eid or something, “Hey, assalamu’alaikum, you got fat.”

In front of everybody — this guy. What a horrible — How can you think it?

And just say Masha Allah in your head but why you gotta say it in front of everybody?

“Hey, you know, you dropped out of school a few years ago, you’re still not graduated, still a dropped out?”

They say things to you like that and then it upsets you.

What do you do in those situations? Allah ‘azza wa jalla says and this is part of your humility and mine. This is how will Allah check our humility. People will come and say it and do the most offensive things and by the way a lot of times those are the people that are the closest to us. Which means you get thrown in that situation over and over and over again. How do you get out of it?

Allah says, “Wa idzaa khoothobahumul-jaahiluuna qooluu salaaman.” (QS. Al Furqan verse 63)

This means a couple of things, I’ll just share a few of these lessons here.
When this happens, your immediate response should be “Peace.”

“Qooluu salaaman” could also means farewell, they say peace, I don’t want any more of this conversation. I’m gonna leave you in a dignified fashion, “Oh wait, I think I have an appointment.”

And you can say in your head the rest of it with Allah to make dua. But you don’t have to let them know, just say, I have an appointment and just get out of there. Because you know you can’t handle it.

In other words, they walk away from it in a dignified fashion. That’s one meaning. When obnoxious people come to you, find a way of, what Qur’an will later in the surah say, “Marruu kirooman.” (QS. Al-Furqan verse 72)

They pass by in a dignified fashion.

Another is, when people are coming and trying to — There some people who try to say things to get you angry. They actually enjoy doing that. They’ll say things just to provoke you and some of them know exactly what to say because they’ve been in conversation with you before and they know what sets you off so they know exactly what buttons to press and get under your skin.

And you’re sitting there, “Not this time, not this time.”

And then you’re the Incredible Hulk and everything is gonna be destroyed. And when that happens, you need to diffuse it before, “Listen, I don’t want to be in…”

You can actually speak up and say something that declares, “Look I don’t want this conflict.”

Let’s have a peaceful dinner. Let’s not talk about that today. And insist on it. This can also be “Qooluu salaaman”.

I don’t mean to fight with you. I just rather have this conversation and not letting go down on ugly path.

In other words, sometimes we don’t say anything and people keep walking all over us. In the ayah, there’s actually an indication perhaps, that you can, in a dignified way, in a respectable way, and in a confident way, let people know they need to back off, they’re going too far, it’s not right.

That’s not disrespectful, that’s not a lack of adab. You can stand up for yourself but you just have to do it in a dignified way, in a way that is peaceful.

Also “Salaaman” some have looked at even as a state. In other words, when they respond they’re completely at peace. That’s another implication here.

When obnoxious people were talking to you, they’re getting under your skin, they’re making you upset, they’re saying lie after lie and you have to sit there and have to listen to it like it’s true. And they’re saying it in front of other people, too. You’re being thrown under the bus for no reason.

When you respond, whatever your response is, it better be calm. You need to be calm and collected when you’re responding. This is “Qooluu salaaman”. And to Allah, people who can accomplish that in life, special to him, “‘Ibaadur-rohmaan”.

In other words, this motivation, we need to remember. At that time, the person you’re talking to does not deserve your calmness, they don’t. Actually, they may deserve a punch in the face. At the moment, you have so good at comebacks, some of you, when somebody says something sarcastic to you, you can crush them.

Oh my God, the answers that coming to your head. It’s a multiple list that place in your head. Should I go with A, B, C or all of the above? That’s what’s going on in your head. And at that time when you decide to back off what motivation can you and I have, to have the strenght, to not say, to not react, to remain calm, “I wanna be counted among ‘Ibaadur-rohmaan’.”

I’m gonna forget that I’m in this unpleasant conversation because right now, immediately right now, I am in the company of Allah and his special “Rohmah” is descending on me.

That is why He put me in this situation, so I can earn closeness to him. This is actually a blessing. This unpleasant gathering is actually a blessing for me to get to Him. Subhanallah.

“Wa ‘ibaadur-rohmaanilladziina yamsyuuna‘alal-ardhi haunan wa idzaa khoothobahumul-jaahiluuna qooluu salaaman.” (QS. Al-Furqan verse 63)

2. Those who spend their night before their master in sajdah and standing

Look what Allah says next. The second group of people, this is their special part. By the way this doesn’t mean they don’t do anything else like they don’t pray, they don’t eat halal. That’s all covered. You are already “’Ibaad.” This is above and beyond being “’Ibaad”, yes? What’s the second great quality, second group of people that are special to Allah, what reason makes them special?

“Walladziina yabiituuna lirobbihim sujjadan wa qiyaaman.” (QS. Al-Furqan verse 64)

Those who spend their night before their master in sajdah and standing. They’re praying in the middle of the night where nobody sees them. They can’t sleep and they know Allah is closest to them in the middle of the night and that’s what they do.

For a lot of us that’s very difficult and by the way you would imagine, like I told you before. If Allah was talking to the people that are closest to him, I expected Him to begin with this group.

I expected Allah will tell me about the people that pray to him the most, especially at an hour that is the closest to Him, which is in the middle of the night. We should start there but no, He didn’t start there, He started with humility.

Because, that act at night, when you and I are humble before Allah there is no chance of anybody else seeing us pray, there’s nobody to impress, the only one you wanna impress is Allah. Your pride is gone. Your sense of self-worth is gone. You’re in front of Allah, admitting everything you’ve done wrong. You’re having an open conversation before Allah completely stripped of all of your pride. Allah ‘azza wa jalla is teaching us something profound.

If you want to strip yourself of your pride, first step actually, is to see if you can get rid of your pride before people. And then come before Allah.

You know, there are people who are great in worship, and yet really mean to people. It doesn’t work that way. There is a group that was given a priority here. And those were the ones that humble to people and then of course, those who come before Allah in humility.

This is not something easy to accomplish, but if once in a week, once in a week, I know this is gonna be hard. But once in a week you pray isha at the masjid, and you go straight home, and you go to sleep. And it will only happen if you woke up super early and didn’t sleep.

So wake up at fajr, don’t sleep. Exhaust yourself, pray isha and go to sleep and then set your alarm for maybe 45 minutes, half an hour before fajr. I’m not asking for the entire night, it’s ok. Half an hour before fajr, just set the alarm, get up, pray a couple of rakaats. Just do that.

And just take your time doing it and don’t wake anybody else up. Do it quietly. Go in some corner of the house and do it there. And if you can start doing even one time, two times, what you will find, the peace you will find, the connection you will find with Allah. It’s something that will help you through the most difficult of times. And May Allah include us among these people, who spend their night before their master in sajdah and standing.

3. Those who pray to be avoided from jahannam

Then, there’s the third group of people. Third group of people are,

“Walladziina yaquuluuna robbanashrif ‘annaa ‘adzaaba jahannama inna ‘adzaabahaa kaana ghorooman.” (QS. Al-Furqan verse 65)

“Innahaa saaa’at mustaqorron wa muqooman.” (QS. Al-Furqan verse 66)

People who just make one dua, not whole long listed duas, their only dua is, “Ya Allah, I don’t wanna go to hell.”

“Just anything but Jahannam, don’t throw me in Jahannam. Keep us away from punishment of Jahannam. It is a horrible place to be, I don’t wanna see it for one moment. I don’t wanna be there temporarily and I don’t wanna be there in long term.”

Listen to the dua carefully, “Innahaa saaa’at mustaqorron wa muqooman.” (QS. Al-Furqan verse 66)

First of all, it’s punishment, it’s a huge penalty and I don’t wanna be there temporarily, and I don’t wanna be there long term. There are some who develop the same disease among the ummah, among the muslims. The same disease that Bani Israil had. They said, Allah will not punish us, “Illaaa ayyaaman ma’duudah,” (QS. Al Baqarah verse 80) except a few days.

Muslims developed this, and said, “Well, Allah’s gonna punish but not forever, right? We’re muslims, eventually we come out. I mean, yeah, ok, fine, I’m gonna go to Jahannam, but it’s gonna be like a long weekend, and then, you know, I’ll be fine.”

Look at the dua of people who are close to Allah. They’re telling Allah, “Ya Allah, I don’t wanna go to Jahannam. Not temporarily and not permanently. I’m recognizing that it’s a horrible place to be, ‘mustaqorron wa muqooman’. A place to just stop over or just stay forever. I don’t want either of those.”

This has many implications for us, I’ll just highlight one for you. You see, you and I will never stop being tempted. Haram will always be in front of us. And it will call us.

“Asy-shaithoonu ya’idukumul-faqr.” (QS. Al-Baqarah verse 268)

Shaytan will promise you bankruptcy.

In other words, when you go down the road of halal, shaytan will promise you, “You’re missing out, you’re missing out, you’re missing out. You could be having so much more fun. You could be making so much more money. You could be having so much more pleasure.”

He’s constantly going to mark it to you. Alternative products, alternative ways of fulfilling yourself. It will never stop. It doesn’t matter how long you grow your beard; it doesn’t matter how much Qur’an you’ve memorized. It doesn’t matter how much tahajjud you pray. None of that will matter, shaytan will not stop. You’ll still be human being at the end of the day.

You will still have those desires at the end of the day. And shaytan will not stop. He’ll keep going at you. And it is in those times that shaytan, you know — The tactic that Allah describes of him, the psychological tactic is, “Wa zayyana lahumusy-shaithoonu a’maalahum.” (QS. An-Naml verse 24)

Shaytan beautified their deeds to them. Shaytan will come to you and you’re tempted to do something wrong and you say, “Yes it is wrong but I also do a lot of good. Yeah, I did mess up, but I prayed, too. And it’s not like I’m a kaafir. So, it’s okay, I mean, this is just — And I’m gonna stop after this time, it’s not like I’m gonna do it later. I’m just doing it one time.”

You start telling yourself all of these rationalizations. You start justifying it to yourself. In your head, it’s not that bad. And then, of course, you’re around people who when you tell them, “You know, this is wrong.”

They also tell you, “No, man. Come on, it’s not that bad. Stop, don’t talk like that. No, Allah is not like that. Allah is not gonna punish you. Why are you gonna talk so depressing? You’re so extreme.”

And then, you listen to that and it starts impacting you and you start saying to yourself, “Yeah, okay, you know –”

But the time you did it whatever you did, whether it was drugs or alcohol or whether it was something with someone, I don’t wanna know. But whatever that was, and you told yourself it’s a last time, it wasn’t. ‘Cause as soon as the last time and the guilt over a couple of days and then there’s another text message. Then there’s another da’wah.

And you’re like, “No, this is the last time.”

And you go through that cycle again. And you do it again. And you keep on going. This is exactly what shaytan wanted.

These are people, who can stop that cycle, turn to Allah and say, “Ya Allah!”

“No matter what my friends are saying, no matter what was going in my head with shaytan, no matter how many times I repeated this horrible cycle over and over again, I am done! I’m done feeling guilty for two days and then going back. I’m done apologizing to You and then going back –”

“Wa lam yushirruu ‘alaa maa fa’aluu wa hum ya’lamuun.” (QS. Ali Imran verse 135)

They don’t insist on the sins they did. And they know what they’re doing. I’m not gonna be from those people.

“Wa laisatit-taubatu lilladziina ya’maluunas-sayyi’aat.” (QS. An Nisa verse 18)

Tawba, repentance doesn’t work for those who keep on doing sins even after they make tawba. It’s not for those people ewho keep cycling back in. These are people who say, “Ya Allah! I don’t wanna go Jahannam.”

“Fine, I’ve done some pretty Jahannam worthy things, but I’m gonna stop now. And I’m done.”

These are special people to Allah. Because Allah knows how tempting it was. Allah knows how powerful the addiction was. Allah knows how deep into sin you were. Allah knows the holds of shaytan on you for so long. And you were able to break that hold and come back to Allah.

Your journey to Allah is much tougher than other people’s journey. The temptations in front of you are much stronger, the gravitational pull on you is harder. And you faught that and came back to Allah, you’re special.

Don’t think, “Oh, well, I don’t pray tahajjud so I’m not that good.”

Or, “I don’t even know any Arabic.”

Or “I haven’t even read the whole Qur’an. I don’t even know tajweed, I don’t –”

No, no, no. You’re not special because you’re knowledgeable, your specialty doesn’t come because you may hajj 17 times, You’re not special to Allah because of your ‘ilm or your worship, you’re special to Allah because you walked away from sin, and you’re just afraid of him. That what makes you special to Allah. You are also “‘Ibaadur-rohmaan”.

And so, from there, Allah ‘azza wa jalla takes us in a completely different — Each of these groups — Think about what applies to you. How do you wanna be special to Allah? How do you and I wanna get close to Allah? What is it worth to us, really? At the end of the day, what is it worth to us?

Sin is a kind of love. You fall in love with it. You get addicted to it. And this passage is really about a competition of love. ‘Cause you love this pleasure and you love this sin, and you don’t wanna let go, because it’ll make you sad.

And on the other hand, Allah is saying, “I will replace that fulfillment with Myself.”

“I’ll replace it with My company.”

Allah is offering you. And you have to decide this equation for yourself. You’re gonna be put in that situation. And nobody will know that the struggle is happening in your head. Nobody will know, only Allah will know.

Only Allah will know and by the way when you’re walking — some of you guys, for example, in haram relationships, I don’t know, not accusing you. Some people, not you, some people that you know. And you’re in an inappropriate relationship and you’re trying to break it off. So, you heard this talk and texted her, “I can’t do this anymore.”

And she writes back, “What, you don’t love me? You hate me now? Oh do you think I’m the reason you’re going to hell? I’m so evil?”

Now, you’re like, “No, you’re not that evil. No, but I do love you. You’re not that bad at all. You’re great. Okay, why don’t you just –”

“Okay, fine, if you really wanna end it with me, see me tonight and end it to my face.”

“No, I can’t do that.”

“Fine, you hate me.”

“Okay, fine, I’m coming.”

And it starts over again. And then, you wanna do tawba later on. You see? It’s not just you. You might even get emotionally sucked into something. And now, you’re being emotionally blackmailed. You make me to feel bad. You have to fight that. You have to overcome it. And you have to recognize that you might disappoint someone but you’re making Allah happy.

And you’re doing that not just for yourself, you’re also doing it for the girl who is texting you back or the guy who is texting you back. You don’t want them standing in front of Allah, also. You just save them.

If you really loved them, didn’t just lust them but you loved them, then you wanna save them, too. This is for them, also. You understand that?

4. Those who don’t overspend and don’t cheap with money

So now, from here we go to a very unexpected place who else is special to Allah,

“Walladziina idzaaa anfaquu lam yusrifuu wa lam yaqturuu wa kaana baina dzaalika qowaaman.” (QS. Al-Furqan verse 67)

Those people who when they spend money, they don’t blow all the cash they have, they don’t overspend. And they’re not cheap, either. They don’t spend too much, and they don’t spend too little. They have a balanced budget.

What is a budget have to do with getting close to Allah? It does! The way you spend your money — because your “Ma’l” (wealth) —

“Walladziina fii amwaalihim haqqum ma’luum.” (QS. Al-Ma‘arij verse 24)

In their money, there is rights that are known. Your parents deserve financial support, your children do, you siblings do, your spouse does. “Sadaqa”. Your money should go into society. There are causes that deserve your finances.

But when you become addicted to things that are useless, and your money keeps going into movie after movie after movie subscription after subscription, game after game after game, new gadgets for your car. You don’t need rims that spin backwards, you don’t need them.

What you need them to for somebody else, you can’t look at them when you driving. Somebody else is looking at them. They’re spinning for someone else and not you. Or the spoiler or the gadget, you know you’ll survive without the new iPhone, you’ll be fine. The Samsung is a little dangerous but, you know, regardless —

But when you keep on spending — For a lot of sisters it’s a purse or a bag. God! Some of these bags like thousands of pounds. You know? Not saying you can’t have any of it. But Allah does say, okay spend but don’t overspend.

And for some of you, the greatest joy is holding on to money. The wife says, you’re going to groceries with your wife, she puts a carton of milk and then, “We need this much milk? Can’t you get smaller milk? Can we wait till there’s sale?”

That’s milk. It’s eggs. Can you not be cheap with that?

There are people who hold back from the ones they deserve. Your children deserve some money, they need some change, something to get by. Your wife deserves some money. If she’s taking care of the household and she’s not working, and she asks you, “Can I have 50?”

“What do you need it for? Give me a complete report. Show me all the receipts.”

Wait, hold on a second! This is, “Lam yaqturuu.” (QS. Al Furqan verse 67)

That might be your challenge. If you wanna get close to Allah, don’t make your family feel like garbage every time they eat something. The best money you can spend is on your family. Don’t do that to your family. But don’t overspend either.

There are others who are just blowing cash and Allah has given you a little bit of wealth and you’re getting your 16 year old a BMW, they can crash it to the side of the street and then you get them another one and… No, no, you can’t do that, either.

There are people who have a balance approach to their finances.

“Lam yusrifuu wa lam yaqturuu wa kaana baina dzaalika qowaaman.” (QS. Al-Furqan verse 67)

And they find an upright balanced way to stay in between those two and those are beloved to Allah. May Allah make us of them.

5. Those who don’t call other God besides Allah, don’t kill anyone, and don’t commit adultery

This is my favorite one. The next group. Listen to this, this all one group.

“Walladziina laa yad’uuna ma’alloohu ilaahan aakhoro wa laa yaqtuluunan-nafsallatii harromalloohu illaa bil-haqqi wa laa yaznuuna wa man yaf’al dzaalika yalqo atsaaman.” (QS. Al-Furqan verse 68)

Those who don’t call — along with Allah, any other God. And while they don’t call any other God besides Allah, they don’t kill anyone. And they don’t commit adultery.

Three things. They don’t worship anyone other than Allah, they don’t call on anyone other than Allah, combined with it, they don’t commit murder and they don’t commit adultery. Three things together.

That’s not an amazing accomplishment, somebody can say, “Hey, I made it on the list, I haven’t killed anyone.”

But you know why this is special? ‘Cause this seems like very basic, doesn’t it? There’s a major sins. And Allah says, you can be special before Allah if you just do this.

Why is this special? For some people — Think about the people in Makkah. Think about the society in which the Qur’an came.

Those people were doing shirk for thousands of years. Murder became common among them. Zina was nothing. The stuff that is so bad for us was no big deal to them. And it wasn’t a big deal for their parents or their parents or their parents, it was just part of life. It was a gangster life.

And when they walked away from all of it to come to Allah. Did their family just say, okay, you’re a muslim now, congratulations? They went through all kinds of horrible experiences, from their loved ones, from society, from their peers. Because they abandoned those crimes, isn’t it?

For some people, simply taking the shahada, simply walking away from the crime, from the criminal life, simply getting away from zina, it’s so huge. For those of you that have been brought up in respectable families, have been surrounded by a good environment, it’s easy for you to not get into that kind of trouble or easier. Nowadays anything is easy.

But for those of you that came up, you weren’t even muslim, you saw crime all around you, you saw drugs all around you, you saw womanizing all around you, every weekend is at the club. And then you came to Allah, you took shahada.

Your journey away from that life is a huge journey. And Allah acknowledges it. And says, that’s a pretty big deal, some people have done that. They are special just on that account.

They don’t know nothing else, they don’t have no exhaustive knowledge, no exhaustive worship, but the act that they can migrate, they make hijrah for the sake of Allah. They migrated away from those major sins towards Allah, incredible.

6. Those who make tawba and stay in good way

But the mercy of Allah in these ayat isn’t done. First of all, those three things that I’ve mentioned, shirk and murder, blasphemy with Allah and murder and adultery are major, major sins, so what does Allah says?

“Yudhoo’af lahul-‘adzaabu yaumal-qiyaamati wa yakhlud fiihii muhaanaa.” (QS. Al-Furqan verse 69)

Punishment will be doubled for such a person. And they’ll remain in it, humiliated. These crimes are not small to Allah. Especially, three of them combined.

But, by the way, the worst of all crimes, shirk, is in this ayah. The second worst of all crimes, when you kill one person, it is as though you’ve killed what? All of humanity. That’s the second greatest crime. And then the third greatest crime is what? Zina.

All three together in one ayah. Therefore Allah says, this person is going to get some special kind of punishment. And they will be in that punishment humiliated remaining there in but even the worst of the worst of the worst. This guy is not the worst because he’s done one thing, he’s the worst because he’s done how many? Three things. Three things. This is like, this is the hat-trick of hell fire.

What does Allah say about him? He says, “Illaa man taaba wa aamana wa ‘amila ‘amalan shoolihaan.” (QS. Al-Furqan verse 70)

Except somebody who repented, and came to their faith, came to faith,
came to faith, and from then on acted in a good way. I’ll make an exception.

This is important to understand. Allah described the worst of the worst of the worst. And then said, even of that person, if they come back to me, I will not throw them in punishment. But that’s not enough. We’re talking about “‘Ibaad Ar-Rohmaan”. The unimaginably merciful. So, he won’t just spare them from hell. What does he do?

“Fa ulaaa’ika yubaddilulloohu sayyi’aatihim hasanaat.” (QS. Al-Furqan verse 70)

Then, those people, Allah will replace their grand sins, and I remind you what their sins were, shirk, “Innasy-syirka lazhulmun ‘azhiimun.” (QS. Luqman verse 13)

Murder, “Fa ka’annamaaa qotalan-naasa jamii’an.” (QS. Al-Maidah verse 32)

As though he killed all of humanity, and zina, adultery. Major, major sins. Allah says, I will replace their entire mountain of evil with good deeds In their favor. They haven’t done any good deeds yet. They haven’t done any good deeds yet. They haven’t prayed yet, they haven’t worshiped yet, they haven’t done hajj yet, they haven’t given charity yet.

All they’ve done is repentance. And from now on, they’re going to be do right. That is enough for Allah to take the mountains of sins that were going to get them into hell forever humiliated, and convert those mountains of sin into mountains of good deeds. This is Allah for people of tawba. And you get to be special just through tawba.

So as you’re sitting there listening to this and thinking, “Well, I’ve made some pretty good mistakes.”

There maybe somebody sitting in the audience that even committed murder and went to jail and came out. How’s Allah gonna forgive me? Some of you have made the mistake of zina, May Allah protect you. Some of you heading down that path. Some of you have committed shirk. There’s all kinds of crimes happening, some people went into sihr which is a kind of shirk.

And you can make tawba and come back to Allah, all of that is gone. But you gotta keep straight after that.

“Illaa man taaba wa aamana wa ‘amila ‘amalan shoolihaan fa ulaaa’ika yubaddilulloohu sayyi’aatihim hasanaat.” (QS. Al-Furqan verse 70)

In other words, when you come back to Allah, it’s gotta be for real. It can’t be artificial.

“Wa kaanalloohu ghofuuror rohiiman.” (QS. Al-Furqan verse 70)

And Allah has always been forgiving. Extremely forgiving, always loving, caring and merciful.

I am running out of time but I do wanna share a couple more things with you that I find–Let’s just finish this list insha allah, it’s almost done.

Somebody says, but I didn’t do murder. I didn’t do shirk, and I didn’t to zina. I just did like little stuff like, I miss fajr, and you know, I stole my brother’s chocolate milk the other day from the fridge. I think there’s a couple of times I lost my temper with my dad, or I think I did some backbiting the other day at a party. But I didn’t murder.

This tawba is for really bad criminals, what about me? What about regular sinners? Like the rest of us, you know. ‘Cause this is high profile sinners, isn’t it?

So the next ayah says, they’re as for the rest of you, “Wa man taaba,” and whoever would make tawba, any kind of tawba.

“Wa ‘amila shoolihaan,” and did good.

“Fa innahuu yatuubu ilalloohi mataabaa,” then he’s come back to Allah with a sincere repentance also — Allah acknowledges that too.

Your tawba is good too. You don’t have to, like — First go rob a bank then make tawba. No, no, no. ‘Cause I needed to be like mountains evil converted to mountains of good, no. Chill. Hold on a second. Just make your tawba. Whatever indulgence you are into.

“Fa innahuu yatuubu ilalloohi mataabaa.” (QS. Al-Furqan verse 71)

7. Those who don’t witness falsehood

“Walladziina laa yasy-haduunaz-zuuuro.” (QS. Al-Furqan verse 72)

And people who don’t witness, literally says, don’t witness falsehood. What that means is, they don’t stand by when something wrong is happening.

These people are special to Allah because when in their family, somebody is being emotionally abused, somebody is being financially abused–In their family, two brothers went in to a business, and one of them took all the money and never paid the other one back.

And now they’re in court, fighting this, that, the other, and you’re in one side and it’s the other side, you will not stand quietly by and let injustice happen. You won’t do it. Even if it’s against your own dad. Even if it’s against your own spouse or your own child.

You can’t stand idly by and stand for wrong. You’ll speak up. And at least you won’t be a silent partner to it, you’ll walk away from it, I want nothing to do with this. I’m not gonna be a part of it. You know?

“Laa yasy-haduunaz-zuuuro.” (QS. Al-Furqan verse 72)

Other meaning of it is, they don’t give false witness. Sometimes there’s pressure on you to side with people who are wrong, you know they’re wrong but they say things like, “Family first, man.”

Or you know, “Bro’s first.”

And if you do that, if you have your loyalties in the wrong place, knowing that you’re wrong, knowingly, then this is a violation of “Laa yasy-haduunaz-zuuuro.” (QS. Al-Furqan verse 72)

8. Those who pass by a useless gathering in a dignified way

The second piece of it “Wa idzaa marruu bil-laghwi marruu kirooman,” (QS. Al-Furqan verse 72) also amazing.

What makes you amazing to Allah in this ayah–You’re in a gathering, friends are hanging out or you’re on a WhatsApp group or something, there are different kinds of interaction today.

And in those interactions, people are talking nonsense. People are backbiting against each other. They’re making fun of each other. They’re wasting each other’s time. And you don’t want anything to do with this. So what do you do?

You leave the group, but you don’t give them a lecture first, “By the way this is all useless, you people are wasting your time, astaghfirullah. I called you to Allah and to make tawba. Watch the following video. Now, I’m out of this group.”

No — Or you’re at a party and you’re like, “Astaghfirullah, all you’ll are doing ghibah, I’m outta here.”

“Wa idzaa marruu bil-laghwi marruu kirooman.” (QS. Al-Furqan verse 72)

When they pass by this kind of a gathering, when they happen to be in that kind of situation, they get out of it in a dignified fashion.

“Marruu kirooman.”

In other words, they maintain their own dignity, they don’t end up falling into the kind of things that humiliate others and themselves. And in the process, they don’t make anyone else feel bad, either. They make a dignified, respectable excuse and get themselves out of that situation.

“Wa idzaa marruu bil-laghwi marruu kirooman.” (QS. Al-Furqan verse 72)

9. Those who do not ignore the reminder

And finally, “Walladziina idzaa dzukkiruu bi’aayaati robbihim lam yakhirruu ‘alaihaa.” (QS. Al-Furqan verse 73)

It’s not finally but I just said that to make you feel better.

“Walladziina idzaa dzukkiruu bi’aayaati robbihim lam yakhirruu ‘alaihaa shummaw wa umyaanan.” (QS. Al-Furqan verse 73)

That’s for everybody who attends Jumuah. When they are reminded of the ayat of their Rabb, when they’re given reminders, they don’t trip over those reminders deaf and blind. In other words, they don’t ignore them, they don’t take them lightly.

They don’t hear something and then say, “Yeah, that’s talking about me. That hit me right here in my conscience but I’m gonna forget that I’ve heard that.”

“I’m gonna pretend that wasn’t about me and not think about it.”

They’re not deliberately deaf and they’re not deliberately blind to the reminder that was given to them. It was about you. It was about what you’re doing, what you’re up to. And you’re now, you can’t deal with it because you don’t wanna change.

“Bal yuriidul-insaanu liyafjuro amaamahuu.” (QS. Al-Qiyamah verse 5)

Human beings just wanna, just dive right into the things in front of them, the temptation is too strong. And Qur’an, you know, it’s about “Ulin-nuhaa,” it’s people who hold you back.

The people that can hold themselves back. You’re being reminded to hold yourself back and you’re like, “I don’t wanna hold back, I felt pretty good.”

“I already set up the appointment, the date and time and place, and bought the tickets already and then the khutba ruined my mood. I’m just gonna go eat a burger not think about what I just heard in the khutbah. And go where I was gonna go. Is that’s too late already for me?” You know?

They don’t do that. These are people when they hear a reminder, they let it impact them. They let it change them. That makes you special to Allah.

By the way, sometimes that change that happens inside you, nobody sees it. Nobody knows the sin you were heading towards, and nobody knows you changed course, because you heard something from Allah.

Nobody knows that. That’s between you and Allah. And Allah considers you from His “‘Ibaad” because you made that change. May Allah strengthen each and everyone of you and myself to make those changes.

10. Those who make dua to have ‘the coolness of their eyes’ from their family

So now, as we tie this up, this is actually the last one. These are people who are now not only concern about themselves, they concern about their families.

“Walladziina yaquuluuna robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a’yun.” (QS. Al-Furqan verse 74)

Those who pray to Allah, they say to Allah, Master, grant this from our spouses and our children what’s called the coolness of our eyes, give us the coolness of our eyes, which means two things.

I’ll skip the technicalities and give you the simple understanding of “Qurrota a’yun”.

The first one means, “Ya Allah, everything else gives me stress, everything else causes me trouble, but when I come to my spouse and I come to my children, Ya Allah! Give me this place I find my calm. All my troubles disappear, when I look at my spouse. All of my troubles disappear, when I’m with my children. Ya Allah! Give me that in my wife and in my kids. Or my husband and my kids, for each side.” You know.

And then, the other meaning of it, “Qurrot” comes from “Qorroor”. “Qorroor” means when your eyes stay somewhere.

“Ya Allah! Make me so in love with my wife, that I can’t stop looking at her. Ya Allah! Make me so in love with my children and so happy with my children that I don’t compare them to others. I’m happy with what I have. I don’t make them feel bad, I validate them. Grant me the ability to find ‘Qurrota a’yun’ in the spouse and in the child. Give me a strong family and made me content with my family. Make them a source of peace for my family.”

And for a lot of you the only stress is wife and kids.

This dua is, the only stress relief should be wife and kids. And you have to… you don’t just ask Allah for something and not work on it. ‘Cause Allah will not, like, descend some kind of special rain that drenches on your family and now all of a sudden you love your wife.

It takes work. It takes work to fix the relationship you have with your children. It doesn’t happen overnight. It’s something that you and I have to invest into. So, may Allah grant us the ability to not only to make that dua but to live by that dua.

Because Allah will ask us, you know, even in that famous dua, “Robbanaaa aatinaa fid-dun-yaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar.” (QS. Al-Baqarah verse 201)

Famous dua, right? Give us the best in this life, the best in the next life, protect us from the hell fire, the punishment of the hell fire. What does Allah say right after that?

“Ulaaa’ika lahum nashiibum mimmaa kasabuu.” (QS. Al-Baqarah verse 202)

They’ll have the portion they actually earn. You don’t just make dua and not work, you gotta earn it. You gotta put your work in.

So, when you’re gonna ask Allah to give you peace in your family. When you’re gonna be concerned about that? And by the way, what does that mean, husbands that are hanging out until 2,3 in the morning at some shisha place in London and not going home to their wife.

Because they don’t find content, the wife is not finding any contentment in them, and they’re not finding contentment in their wife.

When they say, “No, no brof, I gotta go back home.”

Then they’re special to Allah.

Spending time with their kids, their eyes are moving from their kids. The fact that your eyes are moving from your kids that means that you actually with them. The fact that you’re spending time with your kids and enjoying doing that, is actually in and of itself making you special before Allah.

This, “Ulaaa’ika yujzaunal-ghurfata bimaa shobaruu.” (QS. Al Furqan verse 75) These people.

“And makes us Imam over Muttaqin, make us leaders over righteous people. Give them a good, righteous life, so that when I stand in front of you, Ya Allah, my deeds are only increase by the people that are in my family.”

11. Those who are patient

So now, after all of these, “Ulaaa’ika yujzaunal-ghurfata bimaa shobaruu.” (QS. Al Furqan verse 75)

Those are the people that are going to be given high, lofty palaces because of the patience they’ve demonstrated.

Notice, Allah here says, because of the patience they’ve demonstrated. If you go back to this list, those who hold their tongue when ignorant people talk to them, they’re humble and they hold their tongue, those who worship no one other than Allah, those who are they worship Allah in the middle of the night.

The list that we just went through, each one of them requires perseverance and strength and grip and commitment and that’s the word “Sabr” (patience). Those people are going to be rewarded because of the commitment they’ve showed. They were committed to this.

This is, “Ulaaa’ika yujzaunal-ghurfata bimaa shobaruu.” (QS. Al Furqan verse 75)

“Wa yulaqqouna fiihaa tahiyyataw wa salaaman.” (QS. Al-Furqan verse 75)

And they’re going to be met in those palaces in Jannah, they’re going to be met with greetings and peace. Allah ‘azza wa jalla will send salutations to them, not just that Allah loves them, Allah is honoring them now. These are specially awarded people by Allah.

“Kholidiina fiihaa hasunat mustaqorrow wa muqooman.” (QS. Al-Furqan verse 76)

They will remain in that incredible honor, and those incredible, lofty high palaces. What an amazing place to be for a little while and forever.

So, Allah ‘azza wa jalla contrasting it with Jahannam, right? Jahannam he said, I don’t wanna be there for a little bit, I don’t wanna be there forever. Allah says, the taste of Jannah, if you could even have a little bit you’d wanted it, what to speak of forever.

May Allah ‘azza wa jalla enter all of us into Jannah forever.

We were chosen to make dua to Allah

And so the last ayah and this is I know I’m going over my time, I supposed to give you guys some time for questions also, but… I’ll need seven-eight minutes maybe. This last ayah profound. This is the last ayah of the surah. And the last ayah of this entire passage, it has nothing to do with the list that makes you special.

It’s a turn back to Quraysh, and to all of humanity and the Prophet is told, now that they’ve been given this list of how to get close to God. What is the problem?

“Qul maa ya’ba’u bikum robbii lau laa du’aaa’ukum fa qod kadzdzabtum fa saufa yakuunu lizaamaan.” (QS. Al-Furqan verse 77)

There are several ways to look at this ayah. I wanna share simply some of them with you. Because of the shortage of time I won’t go into the language. I’ll just share the implications just in English.

Allah is, on the one hand, saying, what weight do you have in front of Allah? What do your worth in front of Allah? What do you think when you come before Allah? What value will you have?

Had it not been for the fact that you as human beings were given the responsibility that nobody else was given, “Du’aaa’ukum”.

You were to call on Allah. You were to make the choice to call on Allah. The mountain, the tree, the bird, they don’t have a choice. They call on Allah, anyway.

“Wa im min syai’in illaa yusabbihu bihamdihii wa laakil laa tafqohuuna tasbiihahum.” (QS. Al-Isra’ verse 44)

You! Why are you valuable to Allah if not for one thing. The fact that you were chosen to call on him. But you’ve abandoned that responsibility.
“Fa qod kadzdzabtum.” (QS. Al-Furqan verse 77)

You considered that invitation to call on him a lie?

“Fa saufa yakuunu lizaamaan.” (QS. Al-Furqan verse 77)

Then this punishment will not leave you. This is going to be something you won’t be able to escape. That’s the first implication.

The sinner still survived because of the few who still call on Allah

The other implication is — Allah is telling the disbelievers. And those who have been doing all of the sins. You have no value before me, and the only reason you are still surviving is there are a few among you who still call me. There are still a few believers left on the earth who still make istighfar to Allah and they’re the only reason you’re still surviving.

Allah still gives chance to come back to Him

Now, third implication is Allah has no — even for the kafir and for the muslim who is far away from Allah, he/she should listen to this, too.

Allah says, what value do I have of you? You don’t pray, you don’t obey, you don’t stay with the halal, you violate everything but in moments of desperation you still call me and I still value at least that much about you. I’m still giving you a chance, “Lau laa du’aaa’ukum.” (QS. Al-Furqan verse 77)

But overall, you’ve still considered everything else valueless, you don’t confirm that everything else that I’ve given you and asked you to do is actually meaningful for you.

You considered all of the rest of it useless, or a lie. And you better change your ways because soon this will become a permanently sticking punishment. Allah doesn’t say you will be punished, he says, soon you’ll be punished, soon you won’t be able to escape it, meaning right now you still have a chance, turn around.

Allah honor us with the Qur’an

Then an implication, what would make you people, Quraysh, valuable? Had it not been that Allah has called you in the Qur’an. Allah has honored you with this book. And by extension, Allah has honored you and me with this Qur’an.

And yet, you dismiss it altogether? You don’t care for this book? This message that Allah gave you? You better turn back and recognize the value of Allah choosing to speak to you.

Allah does not want to punish

The final implication is that Allah ‘azza wa jalla does not want to punish you. “Maa ya’ba’u bikum,” another linguistic implication of it is Allah is not interested in punishing you.

He has no desire and no intention of punishing you except the crimes you’ve committed of calling someone other than Allah are so huge, that that needs to be punished. In other words, Allah is punishing you even though He doesn’t want to.

“Maa yaf’alulloohi bi’adzaabikum.” (QS. An Nisa verse 147)

Allah gets nothing out of punishing you. What is Allah gonna get out of punishing you? Allah is saying here, I don’t want to punish you, but your crimes are too, too big. And soon, that will become permanent, right now, it’s temporary, you can erase it.

So, please turn back. Turn back to Allah. After giving us all these opportunities to no just come back to him but be the closest to him, finally he says, why do you want to get punished? I don’t want to punish you. Just come back.

May Allah ‘azza wa jalla help us internalize that in our hearts and make us of those, because of whom the people around you that are in sin, the people around you that are disobeying Allah, their hearts also soften and they come back towards Allah ‘azza wa jalla as well.

Barokalloohu lii wa lakum wa fil qur’aanil hakiim wa nafa’nii wa iyyakum bil ayaati wa dzikril hakiim. Wassalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Q & A Session:

Marriage institution in Islam

Alright, I’ll start with the most fun question. What’s the halal way of approaching a girl you like? Even though that’s question number 12, I thought, you know —

So, this is more complicated, we’ve made it more complicated than the Sahabah. So Sahabah were simple people and they came from a very rebellious society. where men and women did all kinds of things and nobody cared and then Islam came.

And I wanna give you some background here. In Medina, when the Sahabah migrated, the Muhajirun were bankrupt nearly right, they left everything behind. And Medina was a crazy place, right now it’s Medina Munawwarah. Medina back than was Las Vegas, it was bad. When the prophet shallallahu ‘alaihi wa sallam went there it was not a good place.

Okay, you have to understand it was a crazy, crazy society. For instance, one of the most common industries in the city of Medina was prostitution. When the prophet (pbuh) moved there. And the women that were brothels like prostitution houses, they used to have flags outside their house. That this is a place that you can come for those kinds of things.

And a companion comes to the prophet shallallahu ‘alaihi wa sallam and says, “Ya Rasulallah, there’s a woman …” — because he doesn’t make any money, he’s a muhajir —

“There’s a woman, she makes good money, I’d like to marry her.”

“And, what does she do?”

Well, she’s in the …” — You know what I’m saying. I’m not gonna spell it out.

You know, why I’m telling you this? Because Sahabah didn’t even know that’s a bad thing yet. They were also learning, weren’t they? They didn’t become angels overnight. They were being developed.

And so, he doesn’t even think — and imagine, you come to Rasulullah and ask this question. Can you imagine somebody come in to an Imam today and say, “Hey, so, I’m thinking about … ”

Next janazah would be of the sheik (Imam)…

And then the ayat came; no, you cannot marry those kinds of women in Surat an-Nur. Like, revelation came to teach sahabah and teach the believers, look — those are not the kinds of people you want to marry, they are, they’re all, you know, don’t mix with them.

Like Ibn Ashur rahimahullah says in his tafsir that ayah is referring to professional prostitutes. A “Zaanii” will not marry a “Zaanii” is referring to them, because the question was actually raised.

I wanted to bring this up to you because for them, you would think that, you know, if the sahabi saw a woman from a mile away, he went the other way and made istighfar the whole all night.

No, it wasn’t like that. They interacted with each other, they talk to each other, they work with each other, they were in business partnerships. All kinds of interactions happen between men and women but principles. It was respectful, it was dignified.

And when a companion– when somebody likes somebody else, you know what they did? Here’s the astaghfirullah part. Here’s what they did.

“Hey, I like you, you wanna get married?”

And she’d say, “Maybe, talk to my dad.”

He says, “Okay.”

And then, he goes to the dad and say, “Hey, I like your daughter. And she’s — I mean I talked to her, she’s not entirely opposed to the idea. Is it cool?”

And he says, “Let me talk to my daughter.”

How this happens today, in London, As you go to a girl, respectfully, and we work together for three years, “Would you consider marrying me?”

And she’s like — Ooooh.

And maybe she says, “Please don’t talk to my dad, he’ll kill me.”

Because if you talk to my dad, he’ll say, “This is why you go to work?”

“This is why we sent you to Uni?” Like …

– You fathers — I have four daughters. (Masha allah). Listen, those of you that are fathers, that have daughters. You sent your daughters to University. You brought your daughters to this country. You made them live here. You took them outside in society. You made that decision.

And when somebody like– a muslim likes them, that’s a good thing. How are they gonna get married sitting at home? Who’s gonna like them? So, when somebody approaches them in a respectful way, you should not say, “Oh, my God, the day has come, astaghfirullah.”

(Something in Urdu).

What a humiliation, now we have to take you back into Bangladesh and hide you in a village somewhere because some guy likes you, astaghfirullah, you know. And there’s a — Somebody said, “Ruqyah on her and …”

Calm down! It’s okay. Somebody likes your daughter, that’s a good thing. Now, you go and investigate, find out. It’s completely fine.

The only … mentioned in the Qur’an, the only — Approach mentioned in the Qur’an is that of Musa ‘alaihissalam in Madyan. He was by himself, Musa was by himself. And these girls were by themselves working outside. And he went up to them and helped them out and the girl said, “He’s kinda nice.”

And she went back to her dad and said hire him which means, “Come on, dad.” – You know.

And that happened and the girl said I liked the guy. That’s actually what happened in the story of Musa. Musa didn’t propose, the girl proposed. And the father can’t propose unles she has the approval of his daughter.

So, it’s okay for your girls to say, “Dad, there’s this guy, this brother, at the MSA (Muslim Student Association). He does the Thursday halaqah. He’s really good, you should come.”

Your daughter is telling you something. It’s okay, go attend the halaqah. It’s okay, find out. Don’t complicate it. There’s nothing undignified about that.

Don’t go date a girl now. And don’t take, Ustadh Nouman gave a lecture, I’m going to take her out the dinner. No, no. Not that either, but can you have respectful interactions with someone you’re interested in for a marriage? Absolutely. Absolutely, nothing wrong with that.

Can you take your time to understand each other’s likes and dislikes? Yes, it’s fine. Respectful courtship is okay. With parental guidance, in dignified fashion, there’s nothing wrong with it.

Women have the right to reject a marriage

So what happens is, we have two extremes. We have people that are more conservative than the Sahabah. And then we have people that are more liberal than Liberals. Okay? And Islam is right in between, it’s a natural way. It’s completely natural way, okay?

And so, this is something that I find it’s important to mention for families and for yourself. Talk to your daughters, ask if they like someone.

Don’t create a — Between fathers and daughters, there should be open communication. They should not be terrified to tell you that they’re interested in somebody. Don’t force them to marry someone they don’t want to.

Don’t force your daughters and tell them, “If you don’t marry this one, whose gonna come and marry you?”

“And you have to — we already said yes to them.”

“Don’t humiliate the family and say no now.”

Those kind of nikahs are haram. I will say it, they’re haram. You cannot emotionally and psychologically force the girl to get married under family pressure. That is bathil.

And that happened at the time of the Prophet shallallahu ‘alaihi wa sallam. And the Prophet shallallahu ‘alaihi wa sallam considered those nikahs batil. They’re invalid nikahs, until the girl genuinely likes the guy and says, “Yes, I want to marry him,” on her own.

No pressure from her father, no pressure from her mother, no pressure from anybody else. She likes him. And even if the day of nikah she says, “Mom, I don’t wanna do this.”

The mother doesn’t say, “Too late, girl, too late.”

“We’ve got the whole… they’re all… people are gonna…”

No, if the girl says “I don’t wanna do this,” then, no, stop.

Allah gave her that right, you cannot take it away. You’re burying them alive. This is the new way of burying women alive by the way.

Back then, they used to take the baby girl and bury her right then. Now, we bury them at the day of the nikah. This is what we do. This needs to stop.

Marriage between Muslim of different nation is ok

Let them marry who they want. If they’re dignified muslim and because now you’re living in a different society, you won’t find someone from the same village, it’s okay. It’s okay, a Bangladeshi can marry a Syrian, it’s fine.

I know. It’s okay for Syrians too, yeah… You Syrians, Turkish, Somali — astaghfirullah Somali, yes Somali, it’s fine.

You know — You know, Musa ‘alaihissalam is an Arab. Musa is an Arab. Actually not an Arab, he’s from Israel and he married an Arab. He went and married in Madyan, didn’t he?

So many Arabs, “We only marry Arab.”

Really? Musa ‘alaihissalam was actually from Israel. What’s up with that? You know. It’s all good.

So, it’s a time now, it’s a strange time that we live in. And actually the only thing that can save us is the basic principles of our deen. And making the path to marriage easy, is actually one of the greatest battles against shaytan.

When we make the path to marriage difficult, when you have 28, 30, 35 —

I’m not gonna do other questions, forget it, let’s just talk about this —

What we’re gonna do — We have 35-year-old boys not married. What do you think, they were doing tahajjud for 35 years? What planet do you live on? They didn’t do anything haram? No evil thoughts went into their head? They didn’t go to university, they didn’t go to work?

28-29 years-olds’ not being married? This is ridiculous. It’s absolutely absurd. It’s unacceptable. It’s unacceptable.

Marriage with “age order” is not based on shariah

And we create standards that don’t exist in our religion and don’t make any sense. You have three daughters, four daughters. Somebody proposed for the younger daughter. And no proposal came for the older daughter.

“No, no, no, we go in order.”

Who said you go in order? Which shariah?

If there’s a good, blessing that came to your home, for whichever age, how would you deny it? What will people say? What will Allah say, when you explain yourself to Him and say, “I deprived my daughter of a good nikah because it wasn’t in order.”

What will you say to Allah, you tell me that. What are you gonna do? Ridiculous. This nonsense needs to stop. Marriage needs to be made easy.

Mahr and Gift

And the guys side, because Hindu tradition says, “The guy is the gift. So the girl side has to give him gifts.”

Islam came and said, the man has to give what? Mahr. The man has to give a gift. The woman is a gift to the family. And now we do in Pakistan, India, Bangladesh, South East Asia…

No, no, no. We don’t want “jahez” (dowry). We don’t want gifts from the girls’ side. But there should be something. At least a fridge… – you know –

That — that is the opposite of what Allah commanded. That is the opposite of what Allah commanded. You’re not only disobeying Allah, you’re reversing what Allah said.

Asking “jahez” to be gifted because you’re the guys side? That’s like way beyond haram, I don’t even know what category that belong. Shaytan is giving you like five stars for that one. Do not fall into that category. Don’t give your daughter-in-laws and your wives gifts and then ask for them back.

Now this is happening. They’ll give them jewelry at the wedding, “No, that was just for the photos.”

Really? Allah ‘azza wa jalla will describe this.

“Laa ta’khudzuu min-hu syai’an a ta’khudzuunahuu buhtaanaw wa itsmam mubiinan.” (QS. An Nisa verse 20)

Don’t take a single thing from the spouse that you’ve given to them. Are you taking a huge accusation against your own self? And taking clear sin on yourself? When you agree to a mahr — You know, nowadays the fashion is, they don’t discuss the mahr until the day of the nikah or the minute of the nikah.

Before them when the mahr comes up they say, “Oh, it’s family, it’s okay, we’ll work it out, it’s okay.”

And then the time comes,and then the girl side says, “50,000 (pound).”

And they’re like–The other guy who was eating biryani get stuck in his—plate, “50,000 (pound)?”

And then his uncle was like, “It’s okay, nobody pays it.”

If you have no intentions of paying mahr, your nikah is invalid. If you have intentions of asking your wife to forgive the mahr, you’re committing a grave sin, you can’t even ask for a discount.

You cannot, you’re not allowed. You can’t, and you can’t give it when — you know — you decide. She decides when it’s given. That’s her right. That’s what validates the marriage.

Don’t agree to a mahr you can’t afford. Don’t agree to a mahr you have no intention of paying. Don’t agree to a mahr that you intend to get forgiven.

“Oh if you love me you would’ve forgiven it. Why does money have to prove that I love you?”

Because it’s mahr. And because you can’t use that kind of language.

“Fa in thibna lakum ‘an syai’in.” (QS. An Nisa verse 4)

If they’re out of their own free will, out of the goodness of their own heart decide to give you some of it, like you gave the thousand for the month to her of the mahr, and she says, here’s two pounds, get yourself an ice cream.”

That’s up to her. If she wants to do that, she can do that but you cannot, that’s not your money. That is not your money.

Why am I highlighting these random things? These are the things that we’ve introduced into the institution of marriage, making marriage difficult. And when you make marriage difficult, the door to zina is wide open, the door to corruption is wide open. It’s unnatural to think that 18-year-old, 19-20 year old guy/girl are going to be in university and they’re going to be there for 5-6 years and not develop any emotional attachments.

And then for them to randomly marry a cousin back in Lahore (Pakistan). That’s not gonna happen, and if it does happen its form of oppression. Because she’s emotionally attached to somebody else and no man wants to be with a woman who is emotionally attached to somebody else or vice versa. It’s oppression.

Sometimes you’re denying a nikah only because it wasn’t you. You didn’t come up with it. The guy says, “I like the girl.”

“No, you will pick, you will marry who we say.”

“Why? Who said? It’s a mistake, I don’t like it. I don’t like that girl.”

That’s not your problem. That’s his problem. He’s an adult now. Let him make that mistake. If it’s a horrible mistake, so be it.

But Allah gave those young men and women their right to pick who they want. Parents can give advice, yes, but when you try to control what your children are doing, it will only lead to disaster. It will only, only lead to disaster.

I’m not giving license to 12 year olds and 14 year olds. Ustadh Nouman said I can marry whoever I want, no. I’m talking about mature adults.

I mean, I’ve met young women that are 25-26 year old, accomplished in their careers, pharmacist, physician, you name it. And they like somebody and they wanna marry them, their family says no. That is absolutely “Zulm”, nothing else can describe it. That is “Zulm” (unjustly).

If a woman says she wants to marry someone and he is a muslim, there’s no reason for you to stop it. You have no right as a family to stop it. This is wrong of you to do. You’re abusing a right that Allah gave you. Abusing it. It should not happen.

Advice for young man

And for young man, the last bit of advises for young man — become man. Earn a living, be dignified, don’t offer, like, dates for mahr.

The Sahabah used to get — What other thing, are you a Sahabi? Other than the kit-kat you wanna give for mahr? You know — No. Be dignified. Earn a decent living for yourself.

Don’t say, “I like her. I don’t have a job but I don’t know, her family is only interested in Dunya.”

Yeah, that’s why we have mahr. Only interested in dunya. You’re supposed to be concerned about Dunya too.

“Wa laa tansa nashiibaka minad-dun-yaa.” (QS. Al-Qasas verse 77)

it’s in the Qur’an. Don’t forget the portion you are owned in this life. It’s a worldly decision, too. It’s not just a spiritual decision.

“How is somebody gonna provide for my daughter? Where is she going to live? Is she going to live a decent life?”

These are respectable questions, these are decent questions.

So, these things we have to take very-very seriously in our communities. And when it comes to the subject of marriage, I didn’t talk today about what happens after marriage ’cause there’s a whole set of “Zulm” (unjustly) we do after marriage.

That’s for another time, I’ll yell at you another time.

Sincerity of shahadah is decided by Allah

But right now, let’s just fix the institution itself. Let’s make marriage easy for our young people. Especially, the ones that are ready and capable, you know.

“Manistathoo’a minkumul baa’ata fal yatazawwajuu.” (Hadits Mutaffaqun ‘Alaihi)

Whoever is capable let them get married.

If capability is there, no other barrier should be there. And for those of you that — you’ll find this controversial, it’s okay. I’m leaving here anyway soon, so you deal with it troll me on online.

If your son wants to marry somebody who just took shahada yesterday. Right, or the girl wants to marry a guy who just became muslim a week ago or something.

And you say, “He only became muslim, ’cause he wants to marry the girl.”

“Is that a real shahada?”

Who decides what a real shahada is? – Who decides? Allah.

Can you tell why something happens? When Usama — The famous narration of Usama came, that he was about to kill someone in battle.

In battle he’s about to kill someone and the guy falls, the enemy loses his sword and he’s about to strike him down, and he says, “Ashhadu an laa ‘ilaaha ‘illallaah wa ashhadu anna muhammadar rasuulullaah.”

He took shahada, became muslim. Did he become muslim because when he fell down, it hit him really hard on the head and all of a sudden Islam started to making sense? He was like, “Hold on a second, I think we need to stop this and — I’m ready to be muslim now.”

Obviously, he took shahadah because he knows muslims don’t kill each other. He took advantage of the opportunity ’cause he’s losing. If he was the one on top, he wouldn’t have taken shahada, would he? So, he’s on the bottom and he take shahada.

And Usama sees it and says, “Yeah, right.”

He killed him.

And when that happens, this news reaches the Prophet shallallahu ‘alaihi wa sallam. Is it obvious, like, 1000% the guy took shahada for the wrong reason? It’s obvious. If anybody who sees it.

The Prophet says, “What will you do ‘laa ‘ilaaha ‘illallaah’ comes for you on Judgment Day?”

That’s what the prophet says. That shahada will complain on Judgment Day, “I wasn’t respected.”

And that’s in the most obvious of cases, when somebody says they’ve taken shahada. Who are you to question their reasons? That’s between them and Allah. It’s okay.

As a matter of fact, even among the sahabah there were those, somebody said, “I wanna marry you.”

The woman was a muslim and the guy was a non-muslim.

And she said, “You’re not muslim.”

He goes, “Okay, I become muslim.”

She says, “Okay, fine.”

And when you’re muslim, we can marry, done.

And you can say, “Astaghfirullah, he took shahada for a woman.”

Yeah, but the prophet was okay with it,why are you having problem with it? The sunnah is okay, you’re more sunni than the sunnah? You know —

So, what you need to do now, what you and I need to do, is understand that we are in a challenging time. And our children are exposed to the worst kinds of haram are no big deal now.

They’re accessible, they’re easy and they’re not hard to fall into. And in that environment, when the opportunity for nikah is there, please — it is a grave crime for us to deny that opportunity.

Parents advise, children decide

Consider, of course, give your children advice.

“I think this is a bad nikah for this reason, this reason, this reason, but the decision is yours.”

The decision is yours. You have to share sincere advice, “Ad-dinu nashiihah,” (The Religion is advice) you do.

But at the end of the day, they’ll have to make their decision. And it was a bad decision, so be it. That’s okay, too. That’s their mistake to make. That’s a better mistake than the mistakes they will make outside of marriage, you understand that, right?

And that you won’t even know about, and you’ll tell yourself, “No, no, my son, my daughter, they would never…”

Really? Really? Because you come from, like, angel family? Your son and daughters don’t have hormones? They don’t have emotions? They don’t have attachments? They don’t have obsessions? They don’t have temptations? They do.

Don’t be deluded into thinking your child — “He’s a good boy though, he prays.”

Yeah, what is pray gonna do?

You say, “Innash-sholaata tan-haa ‘anil fah-syaaa’i wal-munkar.” (QS. Al-Ankabut verse 45)

That works to an extent. But Allah created us with a fitrah, you’re denying that fitrah. I know I went on a rant but I felt like I had to do it.

May Allah ‘azza wa jalla make marriages easy for our community and bless the marriages that are happening. May Allah ‘azza wa jalla give the husbands the strength of character and the understanding to be good husbands and the wives, the kind of commitment, loyalty and understanding to be good wives and thus raise wonderful families.

Barokalloohu lii wa lakum. That’s the end of the question and answer session. Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tadabbur Qur’an – Surat Al-Fatihah (1) Ayat 6 – Nouman Ali Khan

[Edisi SSS – Sharing Santai tapi Serius]

Judul: Tadabbur Qur’an – Surat Al-Fatihah (1) ayat 6
Sumber video: Ustadz Nouman Ali Khan – Qur’an for Young Adults (A Thematic Overview)
Pengisi Kulwap: Arya Cahyaatmaja (20 Mei 2017) Continue reading

Allah Tidak Membandingkan Diri Kita Dengan Orang Lain – Nouman Ali Khan

Seandainya kita mau belajar untuk memahami apa yang Allah maksudkan di dalam Al-Quran, maka kita akan merasa lebih mudah dalam menjalani hidup ini. Salah satunya firman Allah di dalam Surat Al-Kahfi ayat 24 “..semoga Tuhanku memberi petunjuk sehingga kita bisa lebih dekat kepada-Nya.
Continue reading

[Transkrip Kartun Islami] Kenapa Muslim Berpuasa Di Bulan Ramadhan – Nouman Ali Khan

Bismillahi washsholatu wassalaam ‘alaa rosuulillaahi wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi ajma’iin.
Continue reading

Kulwap SSS: Pelajaran Dari Kisah Qarun – Nouman Ali Khan

Pelajaran dari Kisah Qarun – Bagian 1 (QS Al Qasas ayat 76)

Sumber YouTube:

1. Lessons from Qaroon – Balance in Life (Nouman Ali Khan)

2. The Example of Qarun and Worldly Success – Nouman Ali Khan

Continue reading