Obat Pertama Dan Terpenting Adalah Makan Sedikit


Obat pertama dan terpenting yang dirujuk oleh Rasulullah adalah makan sedikit (eating little). Jika kita mampu melakukannya, (Hakim Archuletta tidak menyelesaikan kalimatnya). Ada yang mengatakan: berapa banyak orang yang menggali kuburannya sendiri dengan giginya (how many people dig their grave with their teeth). Itu pernyataan yang dahsyat (powerful statement). Continue reading “Obat Pertama Dan Terpenting Adalah Makan Sedikit”

Advertisements

Neraka Yang Hilang (Tadabbur Tiga Ayat Terakhir Al-Mulk)


Di ayat ke-28 ada kata ahlakaniya. Berasal dari kata halak. Artinya, violent death. Kematian karena kekerasan. Beda dengan maata yang berarti just death alias meninggal aja. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bilang, jika Allah memberiku kematian karena kekerasan, dan juga kepada orang-orang yang bersamaku, atau jika Allah memberi rahmat kepada kami. Continue reading “Neraka Yang Hilang (Tadabbur Tiga Ayat Terakhir Al-Mulk)”

Needs, Wants, Dan Taqwa


Ada dua hal yang dikejar manusia. Kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Needs adalah sesuatu yang harus kita miliki untuk tetap hidup. Wants adalah sesuatu yang kita berharap bisa memilikinya, untuk menambah kenyamanan dan kenikmatan.

Apapun yang mengandung protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral, adalah needs. Nasi kebuli, gudeg, sop buntut, nasi padang, adalah wants.

Sementara itu, ada hal yang gila (crazy thing) dalam diri kita. Namanya nafs. Nafs ini penuh keinginan. Ingin ini dan ingin itu. Kalau keinginan sudah tak tertahankan, kita tidak bisa lagi membedakan antara needs dan wants.

Saat kita sedang dalam situasi darurat (emergency) untuk bertahan hidup (survival), prioritasnya apa: needs atau wants? Needs.

Anda masih selamat dari musibah kecelakan di laut. Tapi Anda masih terkatung-katung di tengah laut. Sendirian. Satu-satunya teman Anda adalah pelampung. Yang Anda pikirkan adalah bagaimana secepatnya Anda bisa nyampe ke daratan. Sop buntut dan nasi padang tidak Anda pikirkan.

Selama kita berpuasa, Allah mencabut (deprive) sebagian sarana penting (essential means) kita: makan dan minum. Bagi yang sudah menikah, hubungan suami-istri (intimacy) juga dicabut, selama berpuasa. Kita mengalami pencabutan (deprivation) ini selama tiga puluh hari lamanya.

Ada perang yang terjadi di dalam diri kita. Siang hari di bulan Ramadan yang panas, kerongkongan kita meronta. Minta sesuatu untuk diminum. Perut kita juga minta diisi. Tapi ada satu hal di dalam diri kita juga, yang memerintahkan kerongkongan dan perut untuk diam (shut up). “Aku tahu kamu sedang menderita. Tapi bukan sekarang saatnya,” ruh dalam diri Anda berseru memberi komando.

Penderitaan kerongkongan dan perut Anda itu kecil. Yang besar adalah ketakwaan Anda.

Selama tiga puluh hari kita menghidupkan ketakwaan itu. Untuk menghindari hal-hal yang bisa membahayakan kita. Dan untuk melakukan hanya hal-hal yang mendatangkan manfaat buat kita. Kita sedang melindungi (protect) diri kita. Itulah taqwa.

Entah Anda sedang berbaring, tidur, jalan, duduk, atau apapun, Anda sedang menghidupkan taqwa itu.

Ada orang-orang yang tidak bisa lepas dari coklat. Ada orang-orang yang tidak bisa lepas dari ngopi di pagi hari. Ada orang-orang yang bahkan tidak bisa lepas dari rokok. Tidak boleh ada satu jam yang berlalu tanpa rokok. Apakah mereka bisa bertahan (survive) di bulan Ramadan?

Ternyata bisa!

Ternyata mereka bisa. Dan mereka itu mungkin adalah kita.

Ternyata kita semua bisa bertahan dan lulus di bulan Ramadan. Itu membuktikan bahwa kita seharusnya bisa lulus untuk menjalani kehidupan yang Allah kehendaki. Yaitu kehidupan yang mengarah ke arah yang halal (towards halal direction).

Ternyata kita semua bisa salat malam. Ternyata kita semua bisa berpuasa. Ternyata kita semua bisa membaca Alquran. Ternyata kita semua bisa mentadabburi Alquran. Entah secara pasif mendengarkan saat kultum tarawih. Atau kita sendiri yang secara aktif mencarinya.

Masing-masing kita lebih tahu tentang pencapaian spiritual (spiritual achievement) apa yang kita bisa lakukan di bulan ini, lebih dari bulan-bulan sebelumnya.

Itu poin latihannya di bulan Ramadan. La’allakum tattaquun. Kita berlatih mengembangkan ketakwaan di dalam diri kita.

I’m watching 065. Al-Baqarah (Ayah 179-183) – A Deeper Look

Resume oleh Heru Wibowo

Independence Month – Heru Wibowo


Islam adalah pemulihan kembali (restoration) dari warisan (legacy) Ibrahim ‘alayhis salam. Kita bukan kaum yang pertama yang diberi amanah untuk menjunjung tinggi (uphold) warisan ini. Sudah pernah ada kaum yang diberi amanah ini. Siapa mereka? Bani Israil. Dan Bani Israil gagal secara menyedihkan (miserably). Continue reading “Independence Month – Heru Wibowo”

Memeriksa Kembali Cara Kita Berbuka – Heru Wibowo


Kemarin bibi di rumah bikin kolak enak banget. Isinya tidak cuma pisang, kolang-kaling, dan ubi. Aku tidak tahu ingredients apa lagi yang yang ditambahkan, tapi yang jelas racikannya oke punya. Mangkuk pertamaku habis dalam sekejap setelah adzan Maghrib. Sebelum tidur, aku ingat-ingat lagi, tidak kurang ada tiga mangkuk yang aku habiskan sendiri. Continue reading “Memeriksa Kembali Cara Kita Berbuka – Heru Wibowo”

Ayyaaman Ma’duudaat – Heru Wibowo


Ada dua camp ulama yang masing-masing memiliki pendapat yang berbeda terkait ayyaaman ma’duudaat.

Grup pertama berpendapat bahwa alif ta’ pada ma’duudaat menunjukkan jam’u qillah. Artinya, jumlahnya tidak nyampe sepuluh (less than ten). Alias single digit. Continue reading “Ayyaaman Ma’duudaat – Heru Wibowo”

Berbuat Adil Terhadap Ayat Kecurangan – Heru Wibowo


Ayat ini mendadak viral. Menyoal kecurangan dalam pemilu 2019.

(وَیۡلࣱ لِّلۡمُطَفِّفِینَ)

Waylullilmuthaffifiin. Celakalah orang-orang yang curang (QS Al-Muthaffifin, 83:1).
.
Ayat ini membela keadilan. Ayat ini membela kejujuran. Ini yang saya suka dari ayat ini. Continue reading “Berbuat Adil Terhadap Ayat Kecurangan – Heru Wibowo”