Menikah Bahagia – Nouman Ali Khan


Menikah Bahagia

*****

Tentang pernikahan, Allah bilang waja’ala baynakum mawaddatan wa rohmah (QS Ar-Rum, 30:21). Kata-kata yang indah sekali. Kamu bisa terapkan kata-kata ini di sepanjang kehidupan pernikahanmu. Allah menempatkan diantaramu, antara suami-istri, cinta (mawaddah) dan kemurahan hati (rohmah).

Continue reading “Menikah Bahagia – Nouman Ali Khan”

Advertisements

Masuk Ke Bumi – Nouman Ali Khan (Tadabbur Surat ‘Abasa Ayat 21)


Di mushaf “ayat pojok” atau dikenal juga sebagai Quran Bahriyah (mushaf Quran yang tiap halamannya terdiri dari 15 baris), surah ini panjangnya persis satu halaman. Ada di halaman 585. Tepatnya malah 14 baris, bukan 15, karena baris pertama adalah basmalah. Continue reading “Masuk Ke Bumi – Nouman Ali Khan (Tadabbur Surat ‘Abasa Ayat 21)”

Tantangan Pasca Ramadan – Nouman Ali Khan


Tantangan Pasca Ramadan Part 1 of 3 (in sya Allah)

*****

Innal hamda lillaah. Alladzii nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruh. Wa nu’minu bihi wa natawakkalu ‘alayh. Wa na’uudzubillahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi-aati a’maalina. Man yahdihillaahu fa laa mudhillalah wa man yudhlil fa laa haadiyalah. Wa nasyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah. Wa nasyhadu anna muhammadan ‘abdullaahi wa rasuuluh. Arsalahullaahu ta’aalaa bil hudaa wa diinil-haqq. Liyuzh-hirohu ‘aladdiini kullihi wa kafaa billaahi syahiidaa.

Fa shallallaahu ‘alayhi wasallama tasliiman katsiiran katsiiraa. Ammaa ba’d. Fa inna ash-daqal hadiitsi kitaabullaah. Wa khayral haadii haadii muhammadin shallallaahu ‘alayhi wasallam. Wa inna syarral umuuri muhdatsaatuhaa. Wa inna kulla muhdatsatin bid’ah. Wa kulla bid’atin dhalaalah. Wa kulla dhalaalatin finnaar.

Qaalallaahu ta’aala fil kitaabihil kariim. Ba’da annaquula a’uudzubillaahi minasy- syaithaanirrajiim. Syahru ramadhaanalladzii unzila fiihil qur’aan. Hudan linnaasi wa bayyinaatin minal hudaa wal furqaan. Fa man syahida min kumusy-syahra falyashumh. Wa man kaana mariidhan aw ‘alaa safar. Fa’iddatun min ayyaamin ukhar. Yuriidullaahu bikumul yusr. Wa laa yuriidu bikumul ‘usr. Wa litukmilul ‘iddah. Wa litukabbirullaaha ‘alaa maa hadaakum wa la’allakum tasykuruun.

Rabbisy-rahlii shadrii wa yassirlii amrii wahlul ‘uqdatan min lisaani yafqahuu qawlii. Wallaahumma tsabbitnaa ‘indal mawti bi laa ilaaha illallaah. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

*****
Continue reading “Tantangan Pasca Ramadan – Nouman Ali Khan”

Ayat Yang Dijemput di Singgasana-Nya – Nouman Ali Khan (Resume 2 Jam 13 Bagian)


Ayat Yang Dijemput di Singgasana-Nya Part 01

*****

Qatar, Kuwait, Dubai, dan Bahrain pernah dikunjungi Ustad Nouman dalam lawatan beliau ke negara-negara Arab di Teluk Persia tiga tahun yang lalu. Video yang dibahas dalam tulisan ini berisi ceramah (lecture) Ustad di Bahrain, sebagai bagian dari rangkaian program The Gulf Tour 2015.

Meski saya seratus persen yakin Ustad sudah hafal QS Al-Baqarah, 2: 285 di luar kepala, Ustad memulai kajian malam itu dengan membaca ayat tersebut dari mushaf Al-Quran:

(آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ
كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ)

Selanjutnya Ustad membaca doa Nabi Musa (QS Thaha, 20: 25-28):

(رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي)
(وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي)
(وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي)
(يَفْقَهُوا قَوْلِي)
أمين يا رب العلمين

*****

Ustad happy bisa kembali mengunjungi Bahrain. Alhamdulillah, rangkaian tur yang padat mungkin berpengaruh sehingga malam itu suara Ustad terdengar agak parau. Tapi seperti biasa, Ustad masih sempat bercanda dengan menyebutnya singing voice, dan minta didoakan kepada para hadirin supaya Ustad bisa mempertahankan suara itu keluar sampai akhir kajian.

Dari tautan video yang tersedia di bagian akhir tulisan ini, kita bisa mengetahui bahwa total durasi video adalah 2 jam, 7 menit, dan 31 detik. Masya Allah. Luar biasa sekali spirit Ustad untuk berdakwah, dengan kondisi suara seperti itu saja beliau tetap semangat dan bisa bertahan dua jam lebih!

*****

Sudah dua tahun lebih Ustad memikirkan kajian khusus tentang dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah. Termasuk yang juga dipikirkan adalah, kapan saat yang tepat untuk melakukannya. Dan malam itu adalah momen yang dipilih Ustad untuk mengkaji dua ayat pungkasan Al-Baqarah untuk pertama kalinya.

Kedua ayat ini menempati salah satu posisi yang paling indah di Qur’an. Posisinya benar-benar spesial.

Kita semua tahu bahwa Quran diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Cara Allah menyampaikan Quran ke Rasulullah adalah melalui Malaikat Jibril (Gabriel) ‘alayhis salam, Archangel, penghulu para malaikat.

Tapi khusus dua ayat ini, Rasulullah harus melakukan perjalanan hingga ke langit ke tujuh, “‘inda sidratil muntaha”, sebagaimana diceritakan di Surat An-Najm, 53: 14:

(عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ)

Di ketinggian itulah Rasulullah menerima dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah.

Dengan kata lain, keseluruhan Qur’an itu diturunkan ke bumi. Dua ayat yang dikaji malam itu di Bahrain, Rasulullah menembus langit untuk mendapatkannya. Dua ayat itu tidak diberikan di bumi. Dua ayat itu harus diterima oleh Rasulullah, oleh beliau sendiri, shallallahu ‘alayhi wasallam, di ketinggian singgasana Allah (the throne of Allah) ‘azza wa jalla.

Jadi dua ayat ini punya tempat yang sangat-sangat spesial, di Quran.

Tapi bukan itu saja. Kedua ayat ini juga punya tempat yang spesial di Surat Al-Baqarah. Ustad menjelaskan bahwa beliau tidak akan menjadikan kajian ini terlalu bersifat akademis. Ustad berjanji untuk mengusahakan yang terbaik yang bisa beliau usahakan untuk membuat kajian ini sederhana, mudah dipahami, in sya Allahu ta’ala. Sehingga kalau ada di antara audience yang tidak paham bahasa Arab sama sekali, tetap bisa menikmati dan memahami.

Mengapa Ustad ingin membuat pembahasannya sederhana dan mudah dimengerti, karena Ustad punya pengalaman pribadi saat mengikuti kajian dan ceramah agama, di masa lalu beliau, dan beliau menikmati tidur yang sangat nyenyak sepanjang khutbah.

Begitu khatib atau ulama atau syeikh mulai bicara dengan bahasa akademis tingkat tinggi, seakan-akan mereka melepas keluar gas obat tidur dari mulut mereka sehingga, “innaa lillaahi wa innaa ilayhi rooji’uun”. Hal pertama yang didengar adalah “innal hamda lillaah” (kata-kata yang biasa diucapkan di awal khutbah), dan hal berikutnya yang terdengar adalah “aqimish-shalat” (kata-kata yang diucapkan di akhir khutbah, untuk segera beranjak berdiri menunaikan shalat).

Sambil tersenyum dan tertawa ringan, Ustad berjanji dan sekaligus berdoa semoga fenomena tertidur saat khutbah itu tidak dialami oleh peserta kajian malam itu di Bahrain, insya Allah.

Salah satu hal yang keren, dan juga menarik, dalam studi Qur’an, adalah bagaimana surah/surat di Qur’an itu disusun (organized). Fatihah menjadi surat pertama, Baqarah kedua, Ali Imran ketiga, dan seterusnya. Kenapa nyusunnya seperti itu.

Dari sudut pandang akademis orang barat, (Ustad tidak langsung melanjutkan kalimat ini, tiba-tiba ada yang terlintas di pikiran beliau), by the way, pertama kali Ustad serius belajar Qur’an, itu bukan dari orang Islam. Pertama kali beliau serius belajar Qur’an adalah dari non muslim.

Dan saat mereka, non muslim itu, belajar Qur’an, mereka tidak memulai dengan “alhamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah”. Mereka memulainya seperti mereka belajar literatur apapun, mereka memulai dengan kritik (criticism).

Kalau kita, sebagai muslim, belajar Qur’an kita mulai dengan pujian (praise). Kita mulai dengan iman, bahwa ini adalah yang terbaik:

(وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا)

(QS Ali Imran, 3: 7)

Orang-orang yang ilmunya mendalam, berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.”

Itu pula yang kita katakan. Tapi itu bukan yang mereka (non muslim, saat memulai mengkaji Qur’an) katakan. Mereka memulai dengan kritikan. Dengan meragukan kebenaran (skepticism). Jadi saat awal Ustad mau serius belajar Qur’an, beliau terekspos dengan sikap skeptis ini.

Kritik yang pertama terhadap Qur’an adalah bahwa Qur’an itu tidak tersusun rapi (unorganized). Surat-suratnya tidak tersusun dengan baik, topiknya meloncat-loncat (membahas ini belum rampung, sudah bahas yang lain), bahkan mereka menganggap surat itu sama dengan bab (chapter). Saya ikut senyum sendiri saat Ustad menirukan cara mereka menyebutkan “Chapter of the Koran.”

Mereka tidak menyebutnya Surah, mereka menyebutnya chapter (bab). Menurut Ustad, Surah dan chapter itu beda sama sekali. Keduanya tidak sama. Ustad secara pribadi tidak setuju kalau Surah diterjemahkan sebagai chapter.

Karena, ada standar-standar tertentu, dalam literatur, tentang apa yang disebut sebagai chapter. Chapter punya poin-poin yang logis yang disusun secara kronologis. Kalau sebuah Bab (Chapter), misalnya Bab 5, ingin mengulas kembali apa yang pernah dibahas di Bab 3, maka di Bab 5 itu cukup dikatakan, “lihat kembali Bab 3” (“refer back to Chapter 3”). Begitulah sifat chapter, bab demi bab itu dibangun secara kronologis.

Hal lainnya tentang chapter adalah, kita ga bisa mulai sebuah buku literatur ilmiah dengan Bab 12. Kita tidak bisa lakukan itu. Dari mana kita harus mulai? Bab 1 dulu. Setelah Bab 1 kelar, penulis buku itu melanjutkan dengan Bab 2. Lalu Bab 3, Bab 4 dan seterusnya. Itu untuk penulis buku.

Untuk murid yang mempelajari buku itu, tata caranya juga sama. Mereka harus mempelajari Bab 1 dulu, sebelum bergerak ke bab-bab selanjutnya.

Tapi ketika Qur’an diturunkan, surat pertama yang turun, “Iqra’ bismi rabbikalladzii khalaq” (QS Al-Alaq, 96:1), di mana surat itu di Qur’an? (di bagian akhir Qur’an, di juz 30)

Apakah ayat yang pertama kali turun itu ada di bagian permulaan Qur’an? Itu justru di bagian akhir. Jadi kalo kita belajar Qur’an saat ini dari permulaan, kita akan baca wahyu yang pertama di bagian akhir pelajarannya (ini kalo kita berasumsi bahwa Quran terdiri dari bab-bab, bukan surah).

Jadi, pendekatannya beda. Urutan surah di Qur’an juga tidak berdasarkan urutan kapan surah itu diturunkan. Tidak bersifat kronologis.

Hal yang menarik lainnya adalah, Qur’an tidak disusun berdasarkan tema atau pokok bahasan. Contohnya, di Surat Al-Baqarah, surah terbesar di Qur’an. Ada 286 ayat yang diturunkan tidak sekaligus, berangsur-angsur selama beberapa tahun, sebagiannya adalah Makki, diturunkan di Mekah. Dua ayat terakhir adalah Makki. Diterima Nabi shallallahu ’alayhi wasallam saat Mi’raj. Ayat-ayat lainnya, diturunkan setelah Rasulullah bermigrasi, hijrah ke Madinah. Jadi Surat Al-Baqarah ini butuh waktu hampir satu dekade secara keseluruhannya.

Kalau kita kaji isinya, bagian awal Al-Baqarah bicara tentang orang yang beriman, orang yang kafir, lalu tentang orang munafik sebagai topik ketiga. Lalu ada cerita tentang Adam ‘alayhis salam, dilanjutkan bagian yang cukup panjang yang bercerita tentang Bani Israil. Bahkan di bagian kisah Bani Israil yang cukup panjang ini, kisahnya tidak disusun secara kronologis. Kejadian yang terjadi belakangan, diceritakan lebih dulu. Dan yang terjadinya sebelumnya, disebutkan belakangan.

Ceritanya lalu melompat ke kisah Ibrahim ‘alayhis salam. Disusul dengan perubahan Ka’bah, yang tadinya Jerussalem berubah ke Ka’bah yang sekarang. Berlanjut kemudian dengan umat ini, “ummatan wasathan”.

(08:44)

(to be continued)

*****

Ayat yang Dijemput di Singgasana-Nya Part 02

*****

Umat ini akan diuji (QS Al-Baqarah, 2: 155). Salah satu ujian besar itu adalah perubahan arah kiblat. Ayat-ayat selanjutnya bercerita tentang hukum (laws). Tampaknya seperti tidak terkoneksi sama sekali dengan ayat sebelumnya.

Hukum tentang puasa. Hukum tentang haji. Hukum tentang perceraian. Membelanjakan harta di jalan Allah. Riba. Hukum-hukum itu tersebar dimana-mana. Lalu Al-Baqarah ditutup dengan dua ayat doa ini. Dua ayat inilah yang akan kita pelajari.

Orang-orang yang sok akademik akan bilang, isi Quran itu benar-benar tidak saling terhubung. Ayat-ayatnya acak. Mereka bilang Quran itu berantakan (disorganized).

Ustad Nouman selanjutnya ingin menjelaskan bagaimana Surat Al-Baqarah disusun. Sepuluh menit saja, atau kurang dari itu. Kenapa untuk bahas dua ayat yang terakhir itu saja, Ustad harus menjelaskan dulu ringkasan dari keseluruhan Surat Al-Baqarah?

Karena, tidak mungkin satu ayat di Quran dijelaskan tanpa membahas ayat-ayat di sekelilingnya. Untuk memahami betul sebuah rumah, kita harus pahami dulu lingkungannya, tetangganya.

Poin pertama, bagi orang yang mengkritisinya, Quran tampak tak teratur (unorganized). Tapi benarkah itu? Yuk kita mulai dari awal lagi.

Percakapan pertama di Suratul Baqarah adalah tentang orang beriman, dikontraskan dengan orang tak beriman, dan di tengah-tengahnya ada orang munafik. Believers, disbelievers, and hypocrites.

Topik terakhir dari Suratul Baqarah adalah dua ayat ini. Dan di dua ayat ini, kita memohon sama Allah supaya iman kita terjaga selamanya, tidak tergelincir menjadi orang yang lalai, tidak terjatuh ke jurang kesalahan. Karena, mereka yang lupa dan melakukan kesalahan terus-menerus, akan terperosok masuk ke dalam lembah kemunafikan. Jika terseret arus lupa dan salah yang cukup lama, ujungnya jadi nifaq.

Surat ini berakhir dengan “Fanshurnaa ‘alal qawmil kaafiriin”. Jadi kembali lagi ke orang yang tak beriman (disbelievers). Terlihat di sini bahwa topik terakhir dari Al-Baqarah adalah sangat-sangat mirip dengan yang dibahas di bagian awal Baqarah.

Percakapan kedua dari Al-Baqarah adalah tentang Nabi Adam ‘alayhis salam (QS Al-Baqarah, 2: 30).

(وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ )

Ini adalah ayat tentang Nabi Adam.

Ustad bertanya kepada audience, “Boleh ya jawab, boleh teriak yang keras, kenapa Adam ‘alayhis salam dan ibu kita Siti Hawa terusir dari surga? Apa alasannya?”

Terdengar suara yang cukup keras. Akhwat, bukan ikhwan. Ustad bercanda, “Akhwat suaranya lebih keras dari ikhwan? Apakah ini memang ciri khas di Bahrain?”

Karena belum terdengar jawaban juga, Ustad mencoba mengingatkan audience bahwa ini bukanlah khutbah. Kalau khutbah memang semuanya diharapkan tenang. Kalau yang sekarang ini, siapa saja boleh teriak.

Terdengar suara dari audiens: ketidakpatuhan (disobedience). Tapi Ustad ingin jawaban yang lebih rinci, lebih jelas lagi: ketidakpatuhan yang mana.

Ada lagi yang jawab: hasrat (desire). Ini juga masih terlalu luas.

Mencoba membantu supaya jawaban audiens lebih terarah, Ustad gunakan isyarat, tangan kanan Ustad diarahkan ke mulut, body language orang yang mau makan. Seolah-olah Ustad akan mengunyah sesuatu.

Berikutnya ada yang coba jawab: apel. Ustad langsung menimpali, “Itu bukan apel. Bible yang bilang gitu. Kita boleh makan apel, dan masih bisa masuk surga. He he he, rileks.” Maksudnya, makan apel bukanlah sebuah dosa.

Jawabannya ternyata memang tidak mudah. Audiens di Bahrain belum bisa menemukan satu kata sebagai jawaban yang tepat.

Satu kata itu adalah: keserakahan (greed). Ya, keserakahan. Adam ‘alayhis salam sudah punya jannah. Semuanya. Berapa banyak pohon yang ada di surga? Tak terhingga. Berapa banyak pohon yang dilarang? Satu. Cuma satu.

Apakah surga lebih besar dari bumi? Ya. Apakah bumi semuanya tertutup oleh pohon? Tidak. Tapi jika kita berada di hutan, di bumi, lalu kita dibilang ‘jauhi satu pohon’. Kemungkinannya, kita tidak akan ketemu dengan pohon itu sepanjang hidup kita. Karena hutan itu pun begitu besar, begitu luas.

Tapi entah bagaimana setan, “Fadallahumaa bighuruur.” (QS Al-A’raf, 7: 22) Dia, setan, membujuk mereka dengan tipu daya. Setan berhasil meyakinkan mereka, bahwa dari semua buah-buahan, dan semua pepohonan, dan semua sungai, dan semua danau di surga, “Yang satu ini beda, Bro. Yang satu ini beda, Sis. Asli, serius, musti nyobain deh.”

Keserakahan. Percakapan kedua, kisah Nabi Adam ‘alayhis salam, adalah tentang keserakahan.

Jika kita simak akhir Al-Baqarah, percakapan kedua terakhir adalah tentang membelanjakan harta di jalan Allah (spending in the path of Allah).

(مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ)

Ayat ini (QS Al-Baqarah, 2: 261) tentang apa? Tentang membelanjakan harta di jalan Allah. Ada beberapa ayat berikutnya yang membahas ini, lagi dan lagi. Setelah itu ada ayat tentang bisnis. Tapi sebelumnya, ada ayat tentang orang yang makan harta riba, “Alladziina ya’kuluuna arribaa” (QS Al-Baqarah, 2: 275).

Allah menjelaskan, cara terbaik membelanjakan harta adalah, yang pertama: di jalan Allah. Lalu cara terburuk membelanjakan harta adalah: riba. Lalu ada ayat-ayat yang membahas keduanya. Semua ayat itu tadi pada intinya bicara tentang: bagaimana mengendalikan diri dari keserakahan (how to control ourselves from greed).

Kenapa orang makan harta riba? Keserakahan. Kenapa orang berbuat curang dalam bisnis? Keserakahan. Kenapa orang tidak membelanjakan hartanya di jalan Allah? Keserakahan.

Ustad mencoba memastikan pemahaman audiens, “Kisah Nabi Adam ‘alayhis salam adalah tentang apa?”

Keserakahan. Itu adalah percakapan kedua, di Surat Al-Baqarah. Kedua dari depan. Percakapan kedua dari belakang, adalah juga tentang keserakahan.

Percakapan ketiga di Suratul Baqarah, adalah tentang Bani Israil, dan bagaimana mereka telah diberi banyak aturan (regulations). Tapi mereka terus-menerus melanggar aturan. Allah kasih aturan, mereka melanggarnya. Kisah Bani Israil menempati bagian yang cukup panjang. Ada banyak sejarah dituturkan di situ.

Jika kita mundur ke bagian akhir dari Suratul Baqarah, percakapan ketiga dari belakang, adalah aturan-aturan, hukum (laws) yang diberikan kepada umat Islam. Hukum-hukum untuk Bani Israil di urutan ketiga dari depan, dan hukum-hukum untuk umat Islam di urutan ketiga dari belakang.

Apakah kita melihat adanya simetri di sini? Orang beriman, orang kafir, munafik, di paling awal dan di paling akhir. Kisah Adam, keserakahan, kedua dari awal dan dari akhir. Hukum-hukum untuk bangsa Yahudi (Jews, Israelite), hukum-hukum untuk umat Islam, ketiga dari awal dan dari akhir.

Berikutnya adalah ujian Nabi Ibrahim ‘alayhis salam (QS Al-Baqarah, 2: 124):

(وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ)

Dan di sisi yang lainnya: ujian buat umat beriman (QS Al-Baqarah, 2: 155):

(وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ)

Allah telah menguji Ibrahim ‘alayhis salam, dan karena kita adalah generasi penerusnya, Allah pun menguji kita.

Ini sangat menarik. Ibrahim ‘alayhis salam, bapak kita itu berdoa untuk kita, doanya ada beberapa. “Rabbij’al haadzaa baladan aaminan warzuq ahlahu min ats-tsamaraat.” (QS 2: 126) Dia berdoa semoga kita bisa selamat, dan dia juga berdoa semoga kita diberi kelimpahan makanan.

Jika kita lihat lagi ujian di ayat ke-155, “Walanabluwannakum bi syay-in min al-khawf.” Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit “al-khawf” (ketakutan). Sedangkan di ayat ke-126 Ibrahim ‘alayhis salam berdoa supaya kita selamat, supaya aman. Kapan kita merasa takut? Ketika kita merasa tidak aman.

Lalu Ibrahim bilang, “Berikan semua jenis makanan.” Lalu Allah kasih ujian kelaparan. Buah-buahan di satu sisi, kelaparan di sisi yang lain. Subhanallah.

(17mm40ss)

(to be continued)

*****
Ayat yang Dijemput di Ketinggian Singgasana-Nya Part 03

*****

Orang-orang yang tidak suka Al-Qur’an itu masih saja bilang Al-Qur’an susunannya kacau.

Sementara di tengah-tengah Surat Al-Baqarah, persis di pertengahan surah, Allah ‘azza wa jalla bercerita tentang perubahan Ka’bah, yang berlokasi di tengah-tengah tanah Arab. Umat ini berpusat di seputar Ka’bah.

Dan Ka’bah didirikan oleh siapa? Ibrahim ‘alayhis salam, yang ada di tengah bangsa-bangsa ini. Nabi Ibrahim ‘alayhis salam posisinya juga di tengah-tengah Israil dan Ismail.

Kita belajar dari sejarah bahwa Nabi Ibrahim ‘alayhis salam diminta oleh Sarah, istrinya, untuk menikahi Siti Hajar karena tak kunjung dikaruniai anak. Meski berat bagi Ibrahim ‘alayhis salam, tapi karena istrinya yang memintanya, maka Beliau ‘alayhis salam pun menikahi Siti Hajar, yang tak lama kemudian melahirkan anak pertama yang diberi nama Ismail.

Sarah ikut senang dengan kelahiran itu, bahkan sangat sayang kepada Ismail ‘alayhis salam, meski bukan putra kandungnya. Sarah pun akhirnya hamil, dan melahirkan putra kandungnya sendiri yang diberi nama Ishaq. Kelak Ishaq ‘alayhis salam memiliki anak yang diberi nama Ya’qub atau Israil.

Jadi, Ibrahim ‘alayhis salam ada di tengah-tengah Bani Ismail dan Bani Israil karena Beliau ‘alayhis salam adalah Bapak dari dua kaum tersebut. Dan Ka’bah yang dibangun oleh Ibrahim ‘alayhis salam ini disebutkan di tengah-tengah Al-Baqarah: “Wa kadzaalika ja’alnaakum ummatan wasathan”. Islam kini punya ibu kota (capital) yang baru.

Ketika sebuah bangsa punya ibu kota yang baru, maka sudah selayaknyalah diresmikan sebagai bangsa yang baru. Umat menjadi sebuah bangsa berdaulat yang baru (a new sovereign nation), ummatan wasathan, dan ayat itu adalah ayat ke-143 dari Surat Al-Baqarah. Kita disebut sebagai umat pertengahan (the middle nation) di ayat ke berapa? Di ayat 143. Ada berapa ayat di Surat Al-Baqarah? Ada 286 ayat. Kita disebut umat pertengahan di pertengahan surat.

“Al-Quran susunannya kacau? Huhhh!!!”

Ini adalah ekspresi khas Ustad Nouman, saking tidak habis pikirnya beliau dengan mereka yang mencari-cari kelemahan Al-Qur’an, mengkritik Al-Qur’an sebagai buku yang tidak tersusun rapi, tak pernah berhenti mencoba menjatuhkan Al-Qur’an, kitab yang sama-sama kita cintai dan kita junjung tinggi.

Kembali ke laptop. Yang ingin Ustad sampaikan malam itu adalah ayat-ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah. Dua ayat yang diberikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam di langit yang tinggi (up in the heaven). Ayat-ayat ini tidak turun ke bumi, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam yang naik menjemputnya.

Dan ayat ini diberikan di suatu tempat yang super keren abis. Kenapa bisa begitu?

Kita tahu Jibril ‘alayhis salam punya kedudukan yang tinggi (high station). Disebutkan di Al-Qur’an, “‘Inda dzil ‘arsyi makiin.” (QS. At-Takwir, 81:20) Suatu tempat yang sangat tinggi.

Jibril ‘alayhis salam mengantar Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ke atas menembus lapisan-lapisan langit sampai ke ketinggian di mana ada semacam protokol keamanan (security clearance) yang tidak dimiliki Jibril ‘alayhis salam. Jibril ‘alayhis salam harus berhenti di sana. Hanya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam yang bisa lewat. Jika Jibril ‘alayhis salam mencoba masuk, sayap-sayapnya akan terbakar.

Jadi, dari ‘halte’ itu, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam berangkat sendiri.

Ini adalah ayat yang spesial, bukan saja karena tidak diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam melalui Jibril ‘alayhis salam, tapi Jibril ‘alayhis salam pun bahkan tidak dapat menerimanya. Ayat-ayat itu harus Allah ‘azza wa jalla sendiri yang memberikannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam di ketinggian singgasana-Nya.

Subhanallah.

Ustad Nouman membahas secara ringkas Surat Al-Baqarah supaya kita bisa lebih mengapresiasi dua ayat terakhir ini. Apakah Surat Al-Baqarah diturunkan sekaligus? Tidak. Butuh waktu yang lama.

Dengan demikian, apakah ada surat-surat lain yang diturunkan juga selama periode itu? Ya, ada.

Ini situasinya seperti beberapa proyek yang dijalankan sekaligus dalam kurun waktu yang sama (multiple open projects). Ada proyek Surat Al-Baqarah yang panjang dan proyek surat-surat lain yang lebih pendek, yang berjalan paralel.

Dan ketika beberapa ayat turun, Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam tahu persis, ayat ini masuk ke surat apa, “Haadzihil aayaat li tilkassuuroh”. Beliau tahu penempatan ayat yang mana masuk ke surat yang mana tanpa harus di-save ke hardisk karena semuanya terkumpul dan tersusun rapi di dalam hati.

“Nazala bihirruuhul amiinu ‘alaa qalbika.” (QS. Asy-Syu’ara 26: 193-194)

Tidak ada dokumentasi. Tidak ada kertas. Tidak ada Microsoft Word di mana kita bisa melakukan copy paste di sana dan di situ. Semuanya ada di dalam hati.

Ayat pertama (QS. Al-Baqarah, 2:285).

(آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya, yaitu Al-Quran, dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang mukmin.

Ustad Nouman menginginkan supaya kita membayangkan situasi ini. Allah ‘azza wa jalla sedang menceritakan sebuah ayat kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam secara langsung, “Bilaa hijaab”.

Jika saya bicara dengan Anda, misalnya Anda adalah seorang profesor, maka saya katakan, “Kamu duduk di sini.”

Saya tidak mengatakan, “Profesor duduk di sini.”

Karena, secara bahasa, kata ‘kamu’ adalah orang kedua tunggal. Sedangkan Profesor adalah orang ketiga tunggal. Saya mengatakan ‘kamu’ karena saya sedang bicara dengan Anda. Saya katakan Profesor kalau Anda sedang tidak bersama saya, sedang entah di mana, sedang saya bicarakan, tapi bukan Anda yang sedang saya ajak bicara.

Tapi, saat itu Allah ‘azza wa jalla sedang bicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Apa yang Allah ‘azza wa jalla katakan? “Aamanarrasuulu,” Rasulullah beriman. Kenapa bukan “Aamanta,” kamu beriman? Bukannya Allah ‘azza wa jalla sedang bicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam secara langsung? Allah ‘azza wa jalla tidak mengatakan, “Kamu beriman.” Allah mengatakan, “Rasulullah beriman.” Kenapa?

Karena, meskipun Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sedang bersama-Nya, Allah ‘azza wa jalla ingin menghormati Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dengan menggunakan kata ganti orang ketiga tunggal (third person singular). Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bukan sembarang utusan Allah ‘azza wa jalla.

Dan Allah ‘azza wa jalla hendak memberi tahu bahwa saat Jibril ‘alayhis salam pertama kali datang, maksudnya Jibril ‘alayhis salam mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam untuk pertama kalinya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pun harus menerima Islam. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pun masuk Islam terlebih dahulu.

Ketika seseorang masuk Islam, ketika seseorang mengucapkan syahadat untuk pertama kalinya, itu sama dengan saat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersama Jibril ‘alayhis salam, menerima dan memeluk Islam. Momen itu adalah momen yang besar.

Karena, ketika malaikat datang, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ketika tubuh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam diguncang dan diminta untuk membaca, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tidak tahu apa yang sedang terjadi. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tidak bisa membaca.

Jika kita bisa menarik diri kita sendiri naik ke angkasa dan melihat pemandangan itu dari kejauhan, pemandangan Jibril ‘alayhis salam sedang mengguncang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dari atas, kita sedang melihat pemandangan yang luar biasa (incredible scene).

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam naik menembus lapisan-lapisan langit untuk bertemu Allah ‘azza wa jalla, Allah ‘azza wa jalla mengingatkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tentang pemandangan yang luar biasa saat tubuh beliau diguncang oleh Jibril ‘alayhis salam. “Aamanarrasuulu bimaa unzila ilayhi.” Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya, ‘alayhish-shalatu wassalam.

Apa yang luar biasa tentang hal ini? Di awal surat Al-Baqarah, ada “alif laam miim, dzaalikal kitaab”. Apa arti “alif laam miim”? Allah ‘azza wa jalla tahu, kita tidak. Kenapa itu penting? Salah satunya adalah, sebelum kamu belajar Al-Qur’an, hal pertama yang kamu harus tahu adalah bahwa kamu tidak tahu apa-apa.

Jadi, ayat pertama Al-Baqarah ini memberitahu kita tentang nilai kita. Tentang seberapa berharganya kita. Sekaligus mengoreksi cara kita memandang diri sendiri. “Laa ‘ilmalanaa illaa maa ‘allamtanaa.” (QS. Al-Baqarah, 2: 32)

Kita menyampaikan kepada Allah ‘azza wa jalla, “Tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.”

Dan jika kita tidak punya sikap (attitude) itu, kita tidak akan bisa mempelajari semua sisa ayat Al-Qur’an berikutnya setelah alif lam mim itu. Kita tidak akan bisa mempelajari seluruh Al-Qur’an, kecuali kita punya sikap seperti yang dituntunkan di ayat 2:32 tadi.

Selanjutnya, kata Ustad, pahamilah juga ini. Apakah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, apakah Beliau tahu bagaimana cara membaca? Nabi yang ummi, buta huruf. Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam tidak tahu cara membaca. Ketika seseorang tidak tahu cara membaca, kata ‘alif’ jadi tidak masuk akal. Kata ‘lam’ jadi tidak masuk akal. Kata ‘mim’ jadi tidak masuk akal.

Karena alif, lam dan mim adalah huruf-huruf alfabet. Hanya orang yang belajar alfabet saja yang tahu. Jadi, pelajaran pertama yang bisa kita petik dari awal Surat Al-Baqarah ini mengingatkan kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tidak tahu caranya membaca, tapi dari mulut beliau keluar huruf alif, lam dan mim, yang tidak mungkin bagi seseorang yang tidak bisa membaca.

Itu sama saja dengan orang yang tidak tahu Bahasa Inggris sama sekali, mereka tidak tahu alfabet, mereka tidak tahu kata, mereka tidak tahu bacaan apapun, tapi dari mulut mereka keluar double you (maksudnya, huruf W dalam bahasa Inggris), pi (huruf P), ar (huruf R). Huruf-huruf ini tidak punya arti ketika berdiri sendiri. Huruf-huruf itu akan punya makna ketika orang-orang itu masuk sekolah dan belajar tentang huruf dan kata-kata.

Mengapa hal ini penting? Karena, ketika pesan atau wahyu dari Allah ‘azza wa jalla mulai turun dan dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, “Bacalah,” bukankah hal itu sama tidak mungkinnya dengan saat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam mengucapkan alif, lam dan mim? Bukankah kedua-duanya sama?

Surat Al-Baqarah pada kenyataannya diawali dengan sebuah pengingat (reminder) akan kenyataan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tidak bisa membaca dan beliau dibuat bisa membaca (he was made to read), shallallahu ‘alayhi wasallam.

*****

Lalu setelah “alif lam mim”, kenapa Allah ‘azza wa jalla bilang “dzaalikal kitaab” dan bukan “dzaalikal qur’aan”? Apa arti “kitaab”? Sesuatu yang tertulis. Dan sesuatu yang tertulis hanya bisa bermanfaat untuk seseorang yang bagaimana? Yang bisa membaca.

Kata “dzaalika” biasa diterjemahkan sebagai “itu”. Padahal sebenarnya “itu” hanya “dzaa”. Jadi “dzaa” artinya “itu”. Berarti yang “lam” atau “li” artinya apa dong? “Lam” atau “li” adalah untuk menunjukkan sesuatu yang jaraknya jauh. Kalo “ka”? Itu karena sedang bicara dengan “kamu, seorang laki-laki”.

Kalau bicara dengan “kamu, seorang perempuan”, maka jadinya “dzaaliki”.

Kalau bicara dengan “kamu semuanya (yang memadati ruangan ini)”, maka jadi “dzaalikum”. Kembali ke kata “dzaalika”. Berarti itu ditujukan untuk seorang laki-laki. Siapakah laki-laki itu? Pertama dan terutama, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Poin yang ingin disampaikan oleh Ustad Nouman adalah bahwa “alif lam mim” adalah tentang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sendiri. Dan selanjutnya, “dzaalika” juga adalah tentang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sendiri. Bukan yang lain. Tidak ada yang lain. Hanya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, he himself. Rasulullah beriman, “aamanarrasuulu”. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sendiri yang beriman, tidak ada (atau, belum ada) yang lain.

Berikutnya, “laa rayba fiihi hudan lil muttaqiin”. Tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Loh, kenapa tidak “hudan laka”, petunjuk bagimu (bagi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam)? Ada transisi di sini, kitab itu diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, tapi manfaatnya untuk semua yang bertakwa termasuk kita semuanya in sya Allah. Ini di awal Surat Al-Baqarah.

Sekarang kita lihat di akhir Surat Al-Baqarah. Kata-kata “aamanarrasuulu bimaa unzila ilayhi min rabbihi”, Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, kata-kata ini bicara tentang siapa? Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Setelah itu, “wal mu’minuun”, demikian pula orang-orang yang beriman. Ada transisi di sini. Sama seperti di awal surat.

Ya, sama. Di awal Surat Al-Baqarah, mulai dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dulu, lalu transisi ke para pengikutnya yang beriman. Di akhir surat, mulai dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dulu, lalu transisi ke para pengikutnya yang beriman.

Subhanallah.

Bagaimana hal ini bisa terjadi dengan kalaam, kata-kata, yang terpisah jarak bertahun-tahun? Bahkan begitu teliti sampai ke kalimatnya.

Subhanallah.

*****

Sekarang Ustad ingin kita memikirkan hal ini. Sudah pernah dibicarakan sebelumnya, tapi penting untuk disegarkan kembali (refreshed). Ustad adalah mahasiswa psikologi. Dalam psikologi, dikenal istilah perilaku aneh atau gila atau abnormal (abnormal behavior). Bagaimana kita mendefinisikan perilaku aneh?

Di jalan yang satu jalur, semua mobil bergerak ke barat, ada satu mobil yang bergerak ke timur. Pengemudi di mobil yang bergerak ke timur itu gila. Dia memiliki perilaku aneh.

Semua orang bicara dengan menggunakan bahasa Inggris, Anda satu-satunya yang bicara dengan bahasa Mandarin. Anda memiliki perilaku aneh.

Semuanya berpakaian pantas dan rapi, Anda satu-satunya yang tidak memakai baju. Anda memiliki perilaku aneh.

Jadi, bagaimana kita mendefinisikan perilaku aneh? Ketika seseorang melakukan sesuatu yang semua orang yang lain tidak melakukannya. Itu definisinya.

Dan ketika ada seseorang berperilaku aneh, maka orang-orang menganggap dia gila, majnun.

*****

Berapa lama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam hidup di Mekah sebelum menjadi Rasul? Empat puluh tahun. Jadi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam lahir dan 40 tahun kemudian malaikat datang. “Aamanarrasuulu”, Rasulullah beriman. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam beriman sendirian.

Sekarang bayangkan Anda hidup di Mekah saat itu. Bayangkan Anda sudah mengenal orang yang bernama Muhammad selama 40 tahun dan dia adalah tetangga Anda. Keluarga Anda juga sudah mengenal Muhammad selama 40 tahun. Orangnya baik. Orangnya jujur, ramah, bisa diandalkan dan terpercaya.

Dan suatu hari, setelah 40 tahun, dia datang ke rumah Anda. Mengetuk pintu rumah Anda. “Hei Muhammad, apa kabar?”

Lalu sang tamu bilang, “Alhamdulillah baik. Oh ya, ada yang ingin aku sampaikan. Tadi malam, ada malaikat yang mendatangiku. Waktu aku sedang di luar, sedang ada di dalam gua. Aku habiskan waktu yang panjang di gua dan malaikat itu datang. Dia merengkuhku. Dia menggoncang-goncang tubuhku. Dan dia suruh aku untuk membaca. Dan aku katakan padanya aku tidak tahu caranya membaca. Tapi, kemudian dia membuatku membaca juga pada akhirnya. Jadi, aku adalah Rasul utusan Allah. Aku tahu kamu sudah mengenalku 40 tahun lamanya sebagai tetangga kamu, tapi hari ini, aku tidak lagi sekedar tetanggamu, aku tidak lagi sekedar temanmu, aku adalah utusan Allah.”

Kira-kira Anda, sebagai tetangga Muhammad, Anda akan bilang apa?

(32mm32ss)

_(to be continued)_

*****

Ayat yang Dijemput di Ketinggian Singgasana-Nya Part 04

*****

Mungkin Anda akan bilang, “Muhammad, kamu makan apa tadi malam?” Atau, “Muhammad, kamu baik-baik saja, kan?”

Ini kita masih membayangkan hidup di masa itu, kita sedang menjadi tetangga yang sudah 40 tahun mengenal seseorang yang bernama Muhammad.

Mudah tidak, kita sebagai tetangganya untuk percaya begitu saja, ataukah, apa yang diutarakan Muhammad itu sulit untuk dipercaya?

Jika kita benar-benar memposisikan diri hidup di masa itu, jawaban jujur kita pasti: itu sulit untuk dipercaya. Itu sangat sulit dipercaya. Tidak mudah bagi kita untuk mempercayai kata-kata Muhammad itu.

Muhammad bukan musuh Anda. Muhammad adalah tetangga Anda. Anda menyukainya. Anda merasa kasihan padanya. Benar, kan?

Jika seseorang datang ke rumah Anda sekarang-sekarang ini dan bilang bahwa malaikat telah menemuinya dan bicara dengannya, kita akan bilang kepadanya, “Kasihan kamu. Sono tuh, rumah sakitnya ada di sono.” Itu yang akan kita lakukan.

Tapi, tahukah kita 1.400 tahun yang lalu, situasinya tidak berbeda. Jika Anda hidup di zaman itu dan ada seseorang yang mengatakan, “Malaikat bicara padaku”, Anda akan merespon dengan cara yang sama. Reaksi pertama Anda pasti adalah, orang ini sudah kehilangan akalnya, kasihan sekali orang ini sudah menjadi gila.

Bahkan ketika Anda tidak berniat mengolok-oloknya, Anda tetap merasa kasihan padanya. Sayang ya, dia kan orangnya baik, dia kesambet apa sih sebenarnya?

Sekarang mari kita coba merasakan apa yang bisa dirasakan oleh seseorang bernama Muhammad.

“Siapa yang menjadi khawatir dengan Anda? Keluarga Anda. Keluarga Anda jadi mengkhawatirkan Anda. Tetangga-tetangga Anda mengkhawatirkan Anda. Mereka kasihan kepada Anda.”

“Semua orang berpikir Anda gila. Satu-satunya yang berpikir bahwa Anda tidak gila adalah Anda sendiri.”

Ustad Nouman mencoba membawa situasi masa itu ke Bahrain, “Sekarang coba katakan kepada saya, jika Anda tinggal di Bahrain, ada satu orang yang semua orang di Bahrain bilang dia itu gila. Tapi dia, yang semua orang Bahrain bilang dia gila, dia sendiri mengatakan dia tidak gila. Alih-alih, dia mengatakan bahwa semua orang di Bahrain lah yang gila karena tidak percaya dengannya.” Siapa yang benar kira-kira? Populasi kah yang benar? Atau satu orang tersebut?

Anda dan saya menjadi muslim hari ini, itu sangat mudah. Menjadi muslim hari ini bukanlah sebuah kegilaan. Kenapa tidak? Karena kita adalah seperlima dari populasi dunia. Sangat mudah untuk jadi muslim. Karena kamu sudah punya orang-orang yang lain yang jadi muslim juga. Dan kamu juga dapat validasi, pengesahan dari semua penghuni dunia.

Tapi jika Anda adalah satu-satunya? Itu berat. Dan saya bisa mengatakan kepada Anda itu paling berat untuk Rasulullah sendiri, shallallahu ‘alayhi wasallam. Itu yang paling susah. Beliau tahu. Beliau orangnya cerdas. Beliau tahu, bahwa ketika beliau turun dan bicara kepada orang-orang, apa yang akan mereka bilang? Mereka akan bilang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tidak waras. Apakah mereka bilang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam itu “majnun”? Yup.

Jadi, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sendiri harus mengambil lompatan iman (leap of faith). Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sendiri harus beriman lebih dulu.

Oh ya, kalau setiap orang bilang Anda gila, apakah ada kemungkinan bahwa Anda mulai berpikir bahwa mereka mungkin benar? Mungkin saja. Mungkin saja Anda berpikir bahwa memang Anda sendiri lah yang gila. Mungkin saja Anda berpikir bahwa Anda perlu melakukan meditasi.

Bayangkan “perang batin” yang terjadi di diri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Berapa orang yang mengatakan Beliau gila?

Mungkin ada orang yang bilang, “Oke, Muhammad, kamu tidak gila. Tapi, di mana malaikatnya sekarang? Bisakah kami melihatnya?” Tidak. Tidak bisa melihatnya.

Apakah kamu tahu hadits tentang Jibril ‘alayhis salam? Ketika seseorang berjalan masuk ke ruangan. Dan duduk. Dan bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tentang Islam. Dan apa yang terjadi? Lalu dia pergi. Dan Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapa itu tadi?” Para sahabat bilang, tidak, “Siapa dia ya Rasulullah?” Dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Itu tadi, Jibril.”

Jika Anda duduk di majelis itu, mungkin Anda akan mengernyitkan kening mendengar jawaban Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Mungkin Anda akan memicingkan mata. Mungkin Anda akan berpikir, “Mana mungkin?” Anda membayangkan makhluk yang bersayap, sementara yang barusan Anda lihat tidak nampak ada tanda-tanda punya sayap sama sekali. “Apakah itu tadi Jibril? Beneran?” Di sini iman itu bekerja, “alladziina yu’minuuna bil ghayb” bukan hal yang sepele. Itu hal yang besar. Dan itu jauh lebih besar lagi untuk mereka.

Oh ya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam adalah satu-satunya yang beriman saat itu. Dan siapapun yang ikut beriman seperti Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam akan dicap sebagai apa? Gila! “Apa yang salah sama kamu?” “Kenapa kamu ikut-ikutan kultus ini?” “Aneh, orang-orang ini bisa-bisanya percaya sama malaikat!” “Dia ini bilang kata-katanya berasal dari Tuhan? Huhhh!” Inilah celotehan yang akan kamu dengar.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sudah mendengar berbagai komentar nyinyir seperti itu untuk waktu yang teramat lama. Lalu sekarang Beliau naik ke atas untuk bertemu dengan Allah ‘azza wa jalla. Dan Allah azza wa jalla mengatakan kepada Beliau, “Aku hargai keimananmu. Aamanarrasuulu bimaa unzila ilayhi min rabbihi.” Begitu indahnya.

Lihatlah kata-katanya. “Aamanarrasuulu bimaa anzalallah?” Bukan. “Bimaa anzalnaa ilayk?” Bukan. Tapi, “Bimaa unzila ilayhi.” Ini kalimat pasif (passive form).

Apa itu artinya?

Anda mengatakan, “Itu diturunkan (it was sent down)”. Anda tidak mengatakan, “Aku menurunkannya (I sent it down).” Tapi, Anda mengatakan, “Itu diturunkan (it was sent down)”. Ketika Anda mengatakan, “Itu diturunkan (it was sent down),” sampai di sini Ustad Nouman tidak meneruskannya, sepertinya Ustad mengambil contoh yang lain yang lebih mudah dipahami.

Misalnya kalo saya bilang, “Dikatakan (it was said).” Pertanyaan apa yang ada di benak Anda saat saya bilang “Dikatakan (it was said)”? Contoh lainnya, kalau saya bilang “Hal-hal yang baik dikatakan (good things were said).” Yang akan segera kita tanyakan pasti adalah, “Oleh siapa (by who)?”

“Orang itu dibunuh (that man was killed).” Respon kita, “Oleh siapa (by who)?”

“Kueku ada yang makan (my cake was eaten).” Responnya, “Oleh siapa (by who)?” disertai amarah dengan nada sedikit meninggi dan mata sedikit melotot seakan-akan Ustad Nouman ingin memberi contoh tentang betapa cintanya seseorang dalam contoh ini terhadap kue kesukaannya.

Ketika Anda mengatakan sesuatu dalam bentuk pasif, ada sebuah pertanyaan. Pertanyaannya adalah, siapa (who). Ketika Allah ‘azza wa jalla mengatakan, “Itu diturunkan (it was sent down)”, apa pertanyaannya? Oleh siapa (by who). Atau, siapa yang menurunkannya (who sent it down). Allah ‘azza wa jalla membuat tata bahasanya misterius karena ada tujuannya.

Persis seperti yang Allah ‘azza wa jalla buat di awal Surat Al-Baqarah, “Walladziina yu’minuuna bimaa unzila ilayka wa maa unzila min qablika.” Dan kembali lagi diulang di akhir surat Al-Baqarah, “Aamanarrasuulu bimaa unzila ilayhi”.

Pertama kali Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam mendengarnya, Beliau tidak tahu apa yang sedang terjadi. “Aku tidak tahu ini datang dari siapa.” Lalu Allah ‘azza wa jalla menambahkan, min rabbihi. Misteri terselesaikan. Dari Tuannya (from his Master).

Ada cara yang lebih mudah untuk mengatakan ini. Subhanallah. Pertama, Allah ‘azza wa jalla tidak menyebutkan siapa yang melakukannya, kemudian Allah ‘azza wa jalla menyebutkan siapa yang melakukannya.

Kue itu dimakan oleh saya (the cake was eaten by me). Mau mengatakan ini lebih mudahnya bagimana? Saya makan kuenya (I ate the cake). Kenapa cara bicaranya harus seperti Star Wars? Katakan saja, “Saya makan kuenya,” ‘kan mudah.

Buku itu diterbitkan oleh (that book was published by). Ngapain. Mereka terbitkan bukunya (they published the book). Selesai. Mudah. Dia, Allah ‘azza wa jalla, Dia membuat kalimat itu mengandung misteri karena dari sana kita bisa melihat perjalanannya.

Ketika Anda pertama kali mendengar kalam, Anda tidak tahu apa yang mengena ke Anda. “Apa ini?” “Aku tidak tahu apa ini.” “Ini bukan dari sini, ini dari suatu tempat yang lain.” Dan akhirnya, berangsur-angsur Anda menemukan bahwa itu datang dari Rabb Anda.

Tepatnya seperti itu. Perjalanannya terekam di ayat “Unzila ilayhi min rabbihi”.

Lihatlah perjalanan Umar radhiyallahu ‘anhu. Dia mendengar kalam saat bersembunyi di balik Ka’bah. Dia mendengar kalimat-kalimat Allah ‘azza wa jalla. Dan respon pertama Umar radhiyallahu ‘anhu, “Wow, ini puisi yang indah.”

Tapi kemudian direspon kembali, “Wa maa huwa biqowli sya’ir (ini bukanlah kata-kata seorang penyair)”. “Jadi kalau begitu ini datangnya dari mana?” Akhirnya dia paham, “tanziilun min rabbil ‘aalamiin”. Ini diturunkan dari Tuhan (Rabb) semesta alam.

(40mm45ss)

_(to be continued)_

*****

Ayat yang Dijemput di Ketinggian Singgasana-Nya Part 05

*****

Balik lagi ke ayat ke-285 Al-Baqarah. Di mana setting-nya? Rasulullah ada di mana saat itu? Di ketinggian singgasana-Nya. Tidak ada satu manusia pun yang pernah ke sana. Ini satu-satunya. Satu-satunya manusia yang pernah berada paling dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala di ketinggian sana.

Dari sudut pandang kedekatan, bukan dari urutan kronologi waktu kejadian, hal yang terdekat berikutnya dalam sejarah manusia, adalah Musa ‘alayhis salam, ketika naik ke atas gunung. Nabi Musa berada di puncak gunung dan bicara sama Allah.

Allah berfirman, “ji’ta ‘alaa qadarin yaa muusaa.” (QS Thaha, 20: 40) Kamu datang tepat waktu, hai Musa. Dan Rasulullah pun juga bertemu dengan Allah, tapi di tempat yang jauh lebih tinggi. Subhanallah.

Rasulullah berada jauh di atas sana. Allah bicara sama Rasulullah, “Aamanarrasuulu bimaa unzila ilayhi min rabbihii wal-mu’minuun.” Ya ampun! “Dan mu’minun juga.” Kita disebut sama Allah. Kita. Ya, kita. Disebut sama Allah, di ketinggian sana.

Saya paham kalo Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam yang disebut sama Allah, saya paham itu. Tapi siapapun yang percaya sama Rasulullah, dan tetap konsisten beriman kepadanya, telah juga disebut saat Rasulullah bertamu di singgasana-Nya.

Kamu dan saya, iman kita, tidak ada yang lebih mulia, dibandingkan dengan cara Allah menyebutmu di ayat ini. Kamu tidak akan menemukan martabat, kemuliaan, kehormatan, di mana pun juga, yang lebih tinggi.

Masih ingatkah kamu saat kepala sekolah memanggil namamu saat upacara kelulusan? Atau saat namamu dipanggil karena kamu mendapatkan penghargaan (award)?

Kamu merasa spesial jika Presiden dari suatu negara memanggilmu, jika dia ada pertemuan khusus denganmu. Atau Presiden sedang tidak bersamamu, sedang ada acara dinas di tempat lain, tapi dia menyebut namamu. Maka kamu pun bereaksi, “Oh ya? Dia menyebut namaku?” Perasaan “wow” itu pasti ada dalam dirimu.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam berada di singgasana terhebat yang pernah ada. Dan kamu disebut-sebut di ketinggian sana. “Wal mu’minuun”. Ayat ini ayat yang spesial. Ayat ini telah meninggikan orang-orang mu’min tidak seperti ayat-ayat yang lain. Kita disebut-sebut di ketinggian sana. Subhanallah.

Setiap kali kamu baca ayat ini, kamu dan aku seharusnya ingat ketinggian tempat di mana Allah telah berikan ayat ini, dan kita disebut-sebut di sana. Tidak ada satu pun dari kita yang remeh (insignificant) di sisi Allah.

Aku tidak tahu nama-nama kamu. Allah tahu namamu, satu per satu. Dan setiap kamu yang punya iman yang sejati di hatimu, telah disebut di atas ‘Arsy, di ayat itu, wal mu’minuun. Mencakup siapa saja al-mu’minuun itu? Mulai dari para sahabat di jaman Rasulullah, hingga semua mu’minuun di jaman now. Itu adalah penghargaan pertama.

Lalu ada penghargaan kedua, yang juga menarik untuk disoroti. Allah di Qur’annya, melukiskan keistimewaan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Dan kita tahu, iman kita sama Allah tidak akan pernah lebih dekat dari iman Rasulullah sama Allah. “Wa’lamuu anna fiikum rosuulallaah.” (QS Al-Hujurat, 49: 7)

Tapi di ayat ini, kita tidak saja dibawa dekat sama Allah, tapi kita juga dibawa dekat sama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, “kullun aamana”. Siapa saja yang masuk di kata “kull” ini? Termasuk di situ, Rasulullah, dan juga kamu.

Di ayat sebelumnya, disebutkan Rasulullah beriman, dan mu’minuun beriman. Terpisah di dua kata. Di ayat berikutnya, “kullun”, keduanya bergabung bersama. Rasulullah dan kita tidak dipisahkan (inseparable), “kullun aamana billaahi”, semua jadi satu. Kita dan Rasulullah ditaruh di satu kata yang sama. Subhanallah. Kedekatan yang Allah inginkan kita ke Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, ada di satu kata ini. “Kullun aamana billaahi wa malaa-ikatihii wa kutubihii wa rusulihii”. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, dan Rasul-Nya.

Kenapa Allah menyebutkan ini semua? Kita, muslim, adalah umat terakhir yang akan berjalan di muka bumi ini. Semua kitab sebelumnya, sudah tercatat di Qur’an.

Apakah ada di Qur’an wahyu yang pernah diberikan kepada Daud ‘alayhis salam? Ya.

Apakah ada di Qur’an apa yang pernah diberikan kepada Ibrahim ‘alayhis salam? Ya.

Apakah ada di Qur’an apa yang pernah diberikan kepada Musa ‘alayhis salam? Ya.

Apakah Taurat punya apa yang Qur’an punya? Tidak, hanya sedikit.

Apakah Injil punya apa yang Qur’an punya? Tidak, hanya sedikit.

Kita punya yang terbaik dari semua wahyu yang pernah turun sebelumnya.

Percaya pada kitab ini, Al-Qur’an, berarti benar-benar percaya sama kitab-kitab sebelumnya. Ini sangat penting untuk dimengerti.

Kita berpikir bahwa umat Kristiani dan Yahudi, mereka juga percaya sama nabi-nabi. Mereka juga punya Ibrahim (Abraham), mereka juga punya Nuh (Noah), mereka juga punya Musa (Moses).

Aku ingin bilang sama kamu, mereka memang percaya sama nabi-nabi itu, tapi mereka tidak percaya sama nabi-nabi itu. Mereka percaya dan tidak percaya.

Jika kamu belajar tentang Musa (Moses) di Alkitab (Bible), dan kamu belajar tentang Musa di Al-Qur’an, ‘alayhis salam, itu seperti kamu sedang mempelajari dua orang yang sama sekali berbeda.

Jika kamu belajar tentang Ibrahim ‘alayhis salam di Qur’an, dan kamu belajar tentang Ibrahim (Abraham) di Alkitab (Bible) dan mereka berpikir bahwa yang mereka pelajari adalah benar-benar Ibrahim, kamu tidak akan percaya bahwa yang mereka maksud adalah Ibrahim ‘alayhis salam yang kamu bayangkan. Kamu tidak akan mempercayainya.

Saya sudah pernah mengalaminya. Saya terlibat percakapan dengan pendeta (rabbi, minister), tentang Ibrahim (Abraham), tentang Nuh (Noah), tentang Musa (Moses). Saya telah belajar banyak hal dari mereka. Dan hal yang paling penting yang saya telah pelajari adalah, mereka tidak tahu rasul itu artinya apa.

Ibrahim ‘alayhis salam adalah “abul anbiya’”. Suatu kali saya bertanya sama pendeta (rabbi), “Apa pelajaran terbesar yang kamu dapat dari Ibrahim (Abraham)?” Dan kita tahu apa yang muslim pelajari tentang Ibrahim. “Idz qaala lahuu rabbuhuu aslim, qaala aslamtu lirabbil ‘aalamiin.” (QS Al-Baqarah, 2: 131). Itu yang kita pelajari dari Ibrahim ‘alayhis salam; bagaimana kita tunduk (submit) sama Allah.

Jadi saya bertanya ke pendeta (rabbi), “Apa yang kamu pelajari dari Ibrahim?” Dan pendeta itu bilang ke saya, dia adalah teman diskusi saya, “Yang kami pelajari adalah, bahwa kita punya hak untuk berargumentasi sama Tuhan.”

Ustad Nouman menggeleng-gelengkan kepala. Atau lebih tepatnya mengibas-ngibaskan sebenarnya. Ga percaya mode on.

“Boleh diulangi?”

“Ya, kami belajar untuk berargumentasi sama Tuhan.”

“Dari siapa? Dari Ibrahim?”

Seperti terbangun dari mimpi.

“Sebentar sebentar, tunggu dulu,” kata Ustad Nouman, “Apa yang kami pelajari dari Ibrahim adalah bahwa tidak ada itu yang namanya argumentasi, kita hanya tunduk.”

Satu-satunya orang yang menjadi contoh terhebat yang tidak pernah berargumentasi sama Allah yang hanya tunduk sama Allah, adalah siapa? Ibrahim ‘alayhis salam. Dan pendeta itu bilang ke saya bahwa Ibrahim menginspirasi kita untuk berargumentasi sama Tuhan. Itu namanya rekayasa terbalik (reverse engineering), bro!

“Bagaimana bisa begitu?” Ustad penasaran.

“Kamu tahu, Ibrahim, ketika malaikat datang untuk menghancurkan kaum Luth, Ibrahim bernegosiasi. Itu berarti bahwa kita seharusnya bernegosiasi dengan Tuhan dalam hal apapun.”

Itu mirip hubungan antara ayah dan anak. Ketika anak masih kecil, ayahnya bilang, duduk di sini, pergi ke sana, dan anak itu nurut, melakukannya. Tapi ketika sudah beranjak dewasa, ayahnya menyuruhnya masuk Akunting, anaknya menjawab bahwa dirinya lebih cocok masuk Engineering. Jadi anak yang sudah dewasa itu boleh berargumen.

Masuk akal. Begitu sang anak makin dewasa, dia punya pendapat dan pendirian sendiri, bisa berargumen dengan ayahnya, dan ayahnya bangga sama anaknya, karena anaknya telah menjadi seorang “laki-laki” (a man) dia bisa berargumen sekarang.

Komentar Ustad Nouman, “Apa hubungannya sama Allah? Kita kan bukan anaknya Allah? Apa yang sedang Anda bicarakan?”

Jawab pendeta itu, “Idenya adalah, makin kamu bertambah usia, makin kamu dewasa, makin kamu punya hak untuk berargumen sama Allah. Ketika kamu masih anak-anak, kamu percaya aja sama orang tua, ketika kamu dewasa, kamu bisa berargumen.”

“Oke,” kata Ustad Nouman, “Aku punya satu pertanyaan, (mereka percaya yang akan disembelih oleh Ibrahim adalah Ishaq, bukan Ismail) ketika Ibrahim mencoba menyembelih Ishaq (Isaac), apakah Ibrahim masih muda atau sudah dewasa? Ibrahim sudah dewasa. Ketika kamu makin dewasa, harusnya kan kamu punya hak untuk makin berargumen sama Allah, benar? Menurut kamu. Ketika malaikat ingin menghabisi bangsa yang lain, Ibrahim mencoba nego, tapi menurut kamu, ketika dia mau menyembelih anaknya sendiri dia tidak mencoba nego?

Apakah setidaknya Ibrahim bisa bilang, ‘Ya Allah, ini anakku Ya Allah, bisa ga kasih diskon dikit? Jangan sembelih deh, tampar aja boleh ga?’ Tapi kok ga ada negosiasi ya? (Falammaa aslamaa wa tallahuu lil jabiin, QS Ash-Shaffat, 37: 103). Ibrahim makin dewasa, tapi ketundukannya justru meningkat. Bukan negosiasinya yang meningkat.”

Dan sang pendeta pun berkata, “Poin yang kamu sampaikan menarik,” yang memberikan impresi bahwa pendeta itu tidak ingin membahas soal itu lagi.

“Oke lah, cukuplah kalo begitu,” Ustad Nouman menimpali.

(50mm59ss)

(to be continued)

*****

Ayat yang Dijemput di Ketinggian Singgasana-Nya Part 06

*****
Yuk kita lanjutkan. “Aamanarrasuulu bimaa unzila ilayhi min rabbihii wal mu’minuun.” “Mu’minuun” ada di awal atau di akhir? Di akhir. Artinya, iman kita dengan iman Rasulullah shallallahu‘alayhi wasallam tidak bisa dibandingkan.

Meskipun “aamana” adalah satu kata, tetapi iman Rasulullah dengan iman kita berbeda. Dan bahasa yang sama juga digunakan Alquran ketika Nabi Ibrahim ‘alayhis salam membangun Ka’bah, Allah berfirman, “Wa idz yarfa’u ibraahiimu al-qawaa’ida minal bayti wa ismaa’iil; fa-akhkhoro dzikr ismaa’iil ‘alayhis salaam.”

Allah letakkan Ismail di belakang. Kenapa? Karena Ibrahim ‘alayhis salam adalah arsitek kepalanya (the chief architect). Ibrahim adalah arsitek utamanya (the main architect). Dan siapa asistennya? Ismail ‘alayhis salam.

Ismail ‘alayhis salam membantu ayahnya. Statusnya tidak sama dengan Ibrahim ‘alayhis salam. Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam punya iman. Iman kita statusnya tidak sama. Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam imannya ada di level yang berbeda.

*****

“Mu’minuun;” mereka semuanya percaya pada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya. Kita sebagai muslim, salah satu tugas kita adalah untuk mengembalikan integritas dan keindahan dari semua rasul dan semua kitab yang terdahulu. Dan kamu hanya bisa lakukan itu bila kamu berbagi Alquran dengan seluruh dunia.

Yahudi (the Jews) tidak tahu siapa itu Musa (Moses); saya sampaikan kepada kamu. Mereka tidak tahu siapa itu Ibrahim (Abaraham). Orang Kristen (the Christian) tidak benar-benar tahu siapa itu Isa (Jesus). Kita tahu siapa dia, dan kita harus sampaikan ke mereka.

Ketika memberikan dakwah Islam kepada mereka yang belum menerima Islam, orang berpikir untuk memberitahu siapa Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam, tapi mereka ternyata tidak bisa menghargainya. Ustadz Nouman berpendapat, mereka tidak akan menghargai siapa Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam karena mereka pun belum menghargai Nabi mereka sendiri.

Alquran telah datang untuk mengembalikan martabat Nabi mereka. Saya datang ke gereja dan saya bicara tentang Nabi Isa (Jesus). Saya datang ke gereja dan saya biara tentang Nabi Musa (Moses). Saya bicara tentang Nabi Ibrahim (Abraham), dari sudut pandang Alquran.

Suatu saat saya sedang bicara tentang Nabi Ibrahim ‘alayhis salam dalam salah satu kajian di gereja dan salah satu pendeta yang hadir, dia menangis sepanjang waktu. Dia tak berhenti menangis. Dan setiap apapun yang saya katakan berlawanan dengan apa yang dia baca. Sama sekali bertolak belakang. Tapi dia tetap saja menangis. Karena mereka tahu. “Ya’rifuunahu kamaa ya’rifuuna abnaa-ahum.” (QS Al-Baqarah, 2:146) Mereka tahu.

Ini tugas kita, hadirin. Kita harus pahami Kitab Alquran dan berbagi keindahan dari buku ini.

Saya tidak ingin kalian lupa, maka saya tetap mengingatkan kalian. Jadi, di mana kita? Di mana tempat kejadiannya? Di mana Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam menerima ayat terakhir Al-Baqarah ini? Di ketinggian singgasana Allah.

Dengarkan ayat berikutnya dengan cermat. “Laa nufarriqu bayna ahadin min rusulihi.” “Kami tidak membeda-bedakan rasul-rasul-Nya.” Siapa yang mengatakan ini? Yang mengatakan adalah kita. Saya dan kalian.

Yang mengatakan itu orang pertama, orang kedua, atau orang ketiga? Kalo orang ketiga, “Mereka tidak membeda-bedakan rasul-rasul-Nya.” Kalo orang kedua, kalimatnya akan menjadi, “Kalian tidak membeda-bedakan rasul-rasul-Nya.” Kalo orang pertama, kalimatnya jadi bagaimana? “Kami tidak membeda-bedakan rasul-rasul-Nya.”

Ketika kamu bilang, “Kami”, itu adalah kata ganti orang pertama. Dan dari sudut pandang retorika, orang ketiga adalah yang terjauh: “dia” itu jauh. “Kamu” itu lebih dekat. Dan tidak ada yang lebih dekat dari kamu kecuali diri kamu sendiri.

Allah subhanahu wa ta’ala, dalam ayat ini, menempatkan kita dan menempatkan apa yang kita ucapkan dari mulut kita secara langsung, di ketinggian singgasana-Nya di atas sana. Allah subhanahu wa ta’ala mengutip kata-kata kita. Kata-kata saya dan kalian.

Kita sudah biasa mengutip kata-kata Allah. Setiap kali kita tadarrus, setiap kali kita tadabbur, setiap kali kita baca Alquran, kita mengutip kata-kata Allah. Di ayat ini, Allah mengutip kata-kata kita. “Laa nufarriqu bayna ahadin min rusulihi.” Itu kata-kata kita. Itu yang dikutip Allah di sana. Subhanallah.

Luar biasa Allah bicara soal penghormatan kepada kita di ayat ini. Ayat ini memang benar-benar spesial, dan ada alasannya kenapa begitu.

“Wa qaaluu sami’naa wa atha’naa ghufroonaka robbanaa wa ilaykal mashiir.”

Ngomong-ngomong, ketika kita mengatakan, “Kami tidak membeda-bedakan rasul-rasul-Nya,” saya ingin melakukan klarifikasi terhadap kebingungan umat Islam, karena ini penting. Saya sudah lihat kebingungan ini berkali-kali -terlalu sering-. Kebingungan ini harus kita lepas pergi. Kebingungan itu harus diakhiri.

Dalam Alquran, apakah Allah bicara soal Yusuf ‘alayhis salam? Apakah bicara soal Musa ‘alayhis salam? Ya. Jadi kita mengambil pelajaran dari kehidupan Nabi Yusuf dan kehidupan Nabi Musa ‘alayhis salam.

Ada orang yang bilang, kita tidak mengambil pelajaran terlalu banyak dari mereka, karena syariat mereka adalah mansukh. Hukum, wahyu yang diberikan kepada mereka tidak berlaku lagi. Kita beriman hanya kepada syariat yang diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Dari body language yang ditunjukkan, Ustadz Nouman sepertinya gemas dengan pernyataan atau pendapat itu. “Yaa ayyuhal insaan,” wahai manusia (diucapkan Ustadz Nouman sambil menahan kegemasannya), pelajaran dari Nabi Yusuf dan Nabi Musa itu disebut di Alquran. Dan pelajaran dari Nabi Yusuf dan Nabi Musa itu disebut di Alquran karena warisan mereka itu tidak lekang oleh waktu (timeless). Bila itu tidak berlaku lagi, Allah tidak akan menyebutkannya dalam Alquran. Allah menyebutkannya di dalam Alquran karena itu akan selalu berlaku. Bahkan jika itu berasal dari Yusuf ‘alayhis salam. Bahkan jika itu berasal dari Nabi Adam ‘alayhis salam. Bahkan jika itu dari Musa ‘alayhis salam.

Adalah sebuah kebodohan dengan mengatakan, “Tidak, tidak. Ini bukanlah syariat Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam.” “Tunggu, ini ada di Alquran. Berarti, itu pun syariat Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam.” Apakah kita dengar dan baca Alquran hanya ketika membicarakan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam? Ayat ini, “Laa nufarriqu bayna ahadin min rusulihi,” adalah jawabannya. Setiap rasul yang pernah diutus itu, berharga bagi kita. Setiap rasul itu berharga. Rasul-rasul terdahulu itu begitu bernilai, bahkan mereka itu berharga untuk Rasulullah shallallahu ‘alayhi wassallam.

Bagaimana bisa ada seorang muslim yang berkata rasul-rasul itu sudah tidak berharga lagi untuk kita? Hanya melulu belajar dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wassallam saja?

Ini masih ada hubungannya dengan yang kita bicarakan; tidak out of topic. Siapa di ruangan ini yang menjadi kesal gara-gara Charlie Hebdo? Siapa yang kesal karena insiden kartun ini? Saya kesal. Saya sangat kesal.

Siapa di ruangan ini yang kesal gara-gara The Simpsons, Family Guy, karena Nabi Isa diolok-olok? Nabi Musa diolok-olok? Kenapa tidak ada protes dari dunia Islam ketika Nabi Isa diolok-olok? Kenapa tidak ada protes dari dunia Islam ketika Nabi Musa diolok-olok? Kenapa tidak ada protes dari dunia Islam ketika Nabi Adam ‘alayhis salam diolok-olok? Mereka membuat gambar bugil Nabi Adam dan Siti Hawa, dunia Islam tidak tersinggung?

“Tidak perlu tersinggung lah, itu kan yang diolok-olok Yesus. Biar orang Kristen aja. Itu urusan mereka!”

“Apa?! Nabi Isa adalah nabi kita juga! Nabi Adam adalah Nabi kita juga! Nabi Musa adalah nabi kita juga! Mereka itu bukan ‘nabi mereka’! “Laa nufarriqu bayna ahadin min rusulihi.” Kita seharusnya berdiri tegak membela semua utusan-Nya. Semuanya sama. Untuk apa kita percaya Alquran bila kita tidak melakukan itu?”

“Tidak, tidak. Itu urusannya orang Kristen. Mereka bisa lakukan sendiri. Itu nabi mereka. Itu urusan mereka.”

Alquran datang dan berkata, “Mereka semua adalah nabimu.”

Poinnya, Ustadz Nouman mengajak kita untuk peduli. Untuk merasa kesal bukan hanya karena Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam yang dilecehkan, tapi juga bila Nabi-Nabi Allah yang sebelumnya dihina, diejek, di-bully di media. Karena kita tidak membeda-bedakan rasul-rasul-Nya, sesuai pesan ayat ini, “Laa nufarriqu bayna ahadin min rusulihi.”

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam adalah pribadi yang menggabungkan kualitas-kualitas terbaik dari semua rasul menjadi satu. Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sedang mengalami masa-masa sulit, Allah memberinya ayat tentang Nabi yang lain.

Dengarkan ini baik-baik. Ketika Rasulullah tertekan, apa yang Allah ceritakan? Nabi-Nabi yang lain. Jadi di saat-saatnya yang paling sulit, Allah berikan kepada Rasulullah cerita tentang Nabi Yusuf, cerita tentang Nabi Musa, dan yang lainnya. “Maa anzalnaa ‘alaykal qur’aana litasyqaa.” Allah tidak menurunkan Alquran kepada Rasulullah agar beliau menjadi susah (QS Thaha, 20:2). “Hal attaka hadiitsu muusaa,” dan apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? (QS Thaha, 20:9)

Allah berkata, “Kamu punya masalah, Muhammad? Coba pikirkan tentang Musa.”

Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menemukan kenyamanan dengan nabi-nabi sebelumnya, sementara kita tidak merasa nyaman dengan nabi-nabi itu? Menemukan kenyamanan, kedamaian, pelajaran, dan pedoman dari nabi-nabi sebelumnya adalah sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Itulah yang harus kita lakukan.

Kita tidak membeda-bedakan rasul-rasul-Nya. Selanjutnya, “Wa qooluu sami’na wa atha’naa.” Kami mendengar dan kami taat. Allah begitu bangga dengan orang-orang yang beriman. Dan Allah bilang, ini dia artinya beriman. Mereka mendengar dan mereka taat.

Ada berapa instruksi di situ? Dua. Pertama, mendengar. Kedua, taat. Masalahnya, kita ini tidak mendengar dan tidak taat. Jika kamu mau mendengar, kamu harus memperhatikan apa yang dikatakan Allah. Kamu harus meluangkan waktu untuk Quran (you have to make time for the Quran). Kamu harus meluangkan waktu untuk “maa unzila ilayhi min rabbihi”. Kamu harus duduk mengikuti kajian Alquran.

Kalian sekarang duduk di sini, apa yang kalian lakukan? “Sami’naa”. Bila kajian ini sudah selesai, apa yang akan kalian lakukan? “Atha’naa”.

(01hh00mm00ss)

(to be continued)

*****

Ayat yang Dijemput di Ketinggian Singgasana-Nya Part 07

*****

Jadi kalian sudah paham kan ya, bahwa apa yang sedang kita lakukan saat ini adalah pemenuhan dari apa yang Allah katakan di ‘Arsy. Bisakah kalian bayangkan?

Kalian berpikir bahwa yang kalian lakukan saat ini adalah: kalian sedang ikut sebuah program, sebuah kajian, dan kalian duduk manis bersama-sama dengan yang lain di sebuah auditorium? Sekedar itu saja? Tidaklah yaw. Sebenarnya, apa yang sedang kita lakukan adalah: kita sedang memenuhi panggilan ayat-Nya (sami’naa). Dan berita baiknya: malaikat sedang mencatat amal kita ini. Dan Allah bangga sama kita.

Jangan meremehkan nilai dari amalan ini. Orang berpikir kita sekedar cari kesibukan, mengurusi event, mondar-mandir kesana kemari, memastikan semua yang ada di checklist sudah dilakukan, check and recheck, menyiapkan logistik, bekerja sama dengan organisasi-organisasi yang lain, ada organisasi ini, ada organisasi itu, ada yang namanya Bayyinah, ada yang namanya Falaq, organisasi-organisasi inilah yang seakan-akan melakukan itu. Bukan seperti itu. Tidak seperti itu. Yang terjadi sebenarnya adalah, orang-orang yang beriman memenuhi panggilan Allah, dan Allah menghargainya. Label-label organisasi itu tidak berarti apa-apa. Yang sungguh-sungguh berarti adalah yang kenyataannya sedang terjadi. Yaitu, ketika kata-kata Allah sedang disebarluaskan keindahannya.

Saya dibesarkan di keluarga Pakistan. Menurut saya, kita ini yang dibesarkan di rata-rata keluarga muslim, sampai usia kita remaja, biasanya kita hanya tahu sedikit tentang Islam. Sangat-sangat minim pengetahuan kita tentang Qur’an.

Kalian menghafal beberapa surah, kalian mendengar khutbah di sana dan di sini, tapi kalian tidak pernah punya waktu untuk belajar, meluangkan waktu untuk menelaah, untuk merenungi, dan melakukan refleksi terhadap Qur’an. Benar atau salah? Ya, benar.

Artinya, kita telah menjadi “ummah yang maa sami’naa”. Kita tidak “mendengar”. Nah sekarang kalo kalian tidak mendengar, jelas saja bahwa kalian tidak akan apa? Tidak akan taat. Jadi kalo kalian ingin memperbaiki masalah umat, dibilang bahwa orang-orang itu harus taat, harus patuh, harus nurut, harus tunduk. Bukan begitu “yaa rajuul”. Muslim harus apa dulu? Mendengarkan. Muslim harus mendengarkan lebih dulu. Biarkan mereka itu mendengar dulu.

Ketika mereka mendengar, lalu ketika ada kebaikan di hati mereka, maka mereka akan taat. Kita bahkan tidak pernah kasih kesempatan buat mereka untuk mendengar. Itulah yang harus kita lakukan saat ini. Itulah yang harus terjadi. “Wa qooluu sami’naa wa atha’naa.”

Ada satu alasan lagi.

Apakah kita bisa langsung lompat ke “atha’naa” tanpa “sami’naa”? Bisakah ayatnya diganti aja jadi “wa qooluu atha’naa”, yaa Allah? Kenapa harus “sami’naa wa atha’naa”?

Ada satu alasan: tanpa “sama’” tidak mungkin ada “tha’ah”.

Kita harus memberikan kesempatan kepada seluruh umat untuk memahami indahnya kata-kata Allah, untuk mendengar kalam Allah, dengan cara yang penuh kasih sayang, Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam mengajarkannya dengan penuh kasih sayang, Allah mengajarkannya dengan penuh kasih sayang. “Arrahmaanu ‘allamal qur’aan.” (QS Ar-Rahman, 55 :1-2). Bukan “Al-jabbaaru ‘allamal qur’aan”. Qur’an harus diajarkan dengan kasih sayang. Ketika kalian mengajarkan Qur’an dengan rahmah, orang-orang akan mendengarkan. Dan ketika mereka mendengarkan, secara alami, apa yang akan terjadi? Ketaatan (obedience).

Masalahnya adalah, kita terus-menerus mengeluh soal ketaatan, tapi kita tidak pernah kasih kesempatan mereka untuk mendengarkan. Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam, apakah orang-orang berbondong-bondong mendatangi Rasulullah mau mendengarkan, atau Rasul yang datang ke mereka dengan kasih sayang? Rasul-lah yang datang menemui orang-orang.

Apa yang kita lakukan? Kita berharap orang-orang datang menemui kita. “Kenapa orang-orang itu tidak datang ke masjid?” “Mengapa mereka tidak mengikuti halaqah?” “Apa yang salah dengan orang-orang itu?”

Yang masalah itu kita, man! Kita harus mengikuti pedoman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Kitalah yang harus pergi menjangkau mereka. Yang itu berarti, kita harus mempelajari, untuk mencari tahu, bagaimana caranya supaya kita bisa menjangkau mereka.

Kita harus menjangkau mereka melalui televisi, melalui internet, melalui teman-teman. Kita harus menjangkau mereka di restoran. Kita harus menjangkau mereka di universitas-universitas. Kita harus menjangkau mereka di arena-arena olahraga. Untuk berbagi sesuatu dengan mereka. Segala sesuatunya tidak harus diformalkan. Tidak harus dibikin resmi-resmian.

Kenyataannya, saya telah menjangkau kalian, sebelum kalian menjangkau saya (sebelum panitia mengontak Ustad Nouman atau timnya). Saya sudah menjangkau kalian. Gimana caranya? YouTube. Podcast. Saya (maksudnya, rekaman kajian Ustad) ada entah di mana untuk menjangkaumu. Entah bagaimana saya sudah “mengacaukan” kamu (maksudnya, kajian Ustad Nouman sudah menyita perhatian kita, sedikit atau banyak). Lalu saya datang kemari, datang dari tempat yang dekat, kalian datang dari tempat yang sangat jauh (ini seratus persen bercanda karena kita tahu penerbangan Ustad Nouman dari Amerika ke Bahrain butuh 17 jam lebih).

Kenapa kalian ada di sini? Ini malam yang indah loh. Kalian bisa melakukan begitu banyak hal lainnya, pasti ada tempat-tempat yang indah di sini, kalian tahu itu. Kenapa kalian ada di sini?

Tahukah kalian, fakta bahwa kalian datang kemari, sebenarnya adalah semacam ketaatan. Kalian telah mengambil tindakan. Kalian masuk ke mobil. Kalian meninggalkan rumah. Kalian tidak nonton film. Kalian tidak dengerin musik atau yang lainnya. Kalian datang ke sini. Ini adalah tindakan yang menunjukkan ketaatan. Tapi ini terjadi karena kalian melakukan apa dulu sebelumnya? Mendengarkan lebih dulu.

Formula ini bekerja, hadirin! Kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk menciptakan, untuk menemukan formula yang baru. Kita hanya perlu untuk menggunakannya. Secara efektif.

Lalu kita bilang “Ghufroonaka robbanaa”.

Oh ya, ngomong-ngomong, Bani Israil juga dulu pernah, mereka diminta untuk mendengarkan. Tapi apa yang terjadi? “Qooluu sami’na wa ‘ashoynaa.” (QS Al-Baqarah, 2: 93) “Kami mendengar tapi kami tidak menaati.”

Mereka diminta, “Wasma’uu”, dengarkan. Tapi mereka bilang bahwa mereka mendengar tapi tidak menaati (we listen and we disobey).

Tapi Qur’an itu beda dengan Taurat. Beda. Qur’an ini “mu’jiz”. Sebuah keajaiban. Qur’an ini bahkan bikin orang kafir jatuh tersungkur bersujud. Bahkan kuffar tersungkur “sajdah”. Artinya, jika Qur’an ini disajikan dengan benar, akan sangat sulit orang yang mendengarkannya untuk berpaling.

Dan jika orang tidak mendengarkan kata-kata Allah, itu artinya, tidak ada yang salah dengan kata-kata Allah itu. Lalu apa itu artinya? Artinya, kita tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Itu berarti, kita belum berhasil dalam menjalankan tugas kita untuk menunjukkan keindahan Al-Qur’an.

Tidak ada yang salah dengan Kitabnya Allah, dan ada yang salah dengan diri kita. Kalo kita melakukan tugas kita dengan benar, orang-orang akan terkena pengaruhnya. Pengaruh keindahan Al-Qur’an.

Selanjutnya, “Ghufroonaka robbanaa”. “Kami mengemis ampunan-Mu, ya Allah.” Kita sedang dibandingkan dengan Bani Israil. “Wa qoouluu hith-thotun naghfirlakum khothooyaakum.” (Al-Baqarah, 2: 58) Dikatakan kepada mereka, “Hith-thah!” Allah akan mengampuni dosa-dosamu. Dan apa yang mereka lakukan? Mereka mengganti perintah Allah dengan yang lain, yang tidak diperintahkan. “Fa baddalalladziina zhalamuu qowlan ghoyrolladzii qiila lahum.” (Al-Baqarah, 2: 59) Mereka mengubah kata-katanya.

Tapi ummah ini, orang-orang yang beriman ini, mereka menghadap Allah, “Ya Allah, kami siap menaati-Mu. Maafkan kami. Maafkan kami.”

Ada yang terdengar aneh ga sih, “Sami’na wa atha’na ghufroonaka,” itu aneh. “Kami mendengar, kami taat, kami mengemis ampunan-Mu.”

Kenapa aneh? Kamu seharusnya minta pengampunan bukan ketika kamu taat, kamu seharusnya minta pengampunan ketika kamu apa? Tidak taat. Benar kan? Logis kan?

Ketika kamu tidak mendengarkan, kamu seharusnya minta pengampunan. Ketika kamu tidak taat, kamu seharusnya minta pengampunan. Sekarang Allah bilang, “Kami dengar, kami taat, mohon ampuni kami.” Kenapa begitu?

Karena, “Ya Allah, sudah berlangsung begitu lama, kami tidak mendengarkan.” “Dan untuk waktu yang begitu lama pula, kami tidak taat. Mohon ampuni kami. Kami sudah siap sekarang. Aku di sini sekarang, ya Allah. Ampuni aku.”

Tahukah kamu apa yang ayat ini berikan kepadamu? Ayat ini memberimu kesempatan terakhir (the ultimate chance). Jika kamu selama ini belum mendengarkan, jika kamu selama ini belum menaati, pintunya tidak tertutup. Allah membuka pintu itu di ‘Arsy sana. “Ghufroonaka robbanaa”. Begitu indahnya.

Allah membuka pintu itu untukmu. Tidak ada kata terlambat. Jangan biarkan siapapun bilang sama kamu bahwa kamu tempatnya adalah Jahannam. Jangan biarkan siapapun bilang bahwa kamu itu munafik. Bahwa kamu tak berguna. Bahwa kamu jahat. Bahwa kamu ga punya iman.

Sesama muslim telah begitu kejam (cruel) satu sama lain.

Demi Allah! Saya tidak marah sama situasi politik dunia. Saya marah sama penyiksaan psikologis (psychological torture) di mana muslim saling menyiksa satu sama lain. Saya sungguh-sungguh marah tentang hal itu.

Saya ketemu seorang wanita, baru saja, belum lama ini, saat saya berada di Qatar. Saya ketemu seorang wanita yang kehilangan anak bayinya. Bayinya berumur tiga bulan dan meninggal.

Wanita ini ingin bercerita sama saya, tapi dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, dia menangis. Dia bilang, “Aku ingin ketemu dia (bayinya yang meninggal itu) di mimpiku. Apakah itu diperbolehkan?”

“Keluargaku bilang sama aku bahwa aku ga sabar, aku ga punya “shabr”. Keluargaku bilang sama aku bahwa keinginanku itu bukanlah adab yang baik sama Allah, keinginanku untuk melihat bayiku di mimpiku.”

Ustad Nouman sangat prihatin dengan situasi ini, sehingga beliau bahkan beliau ‘menyapa’ orang yang melakukan penyiksaan psikologis itu tidak dengan “Yaa ayyuhal insaan,” tapi dengan “Yaa ayyuhal himar”. Kenapa begitu? Karena ini adalah seorang ibu, dia kehilangan bayinya, dia ingin melihat bayinya di mimpinya, dan dia dibilang tidak punya “shabr”!

Ada apa ini? Apa yang salah dengan orang yang mengatakan bahwa ibu itu tidak punya “Shabr”? Ya’qub ‘alayhis salam apakah dia ingin melihat Yusuf ‘alayhis salam? Apakah Ya’qub menyimpan kesedihan bertahun-tahun lamanya? Dan apakah Ya’qub punya “Shabr”? Siapa yang bilang, “Fashabrun jamiil?” (QS Yusuf, 12: 18)

Kita bilang bahwa Ya’qub ‘alayhis salam itu punya “Shabr”. Tapi beliau masih menangis. Beliau masih bersedih. Air matanya menetes. Bagaimana bisa dibilang bahwa wanitu itu tidak punya “Shabr”? Berani-beraninya orang yang menghakimi wanita itu!

Yang seperti ini, masih saja terjadi dan sering kita jumpai. Kita masih saja melakukan hal seperti ini kepada orang lain.

Ada seorang laki-laki datang kepada saya dan bilang, kalo dia baca Qur’an, dia gagap. Bacaan qur’annya tidak mengalir lancar. Bacaannya terbata-bata. Bacaannya terpenggal-penggal. Dia bilang, seorang syeikh menasihati dia, bahwa jika hatinya bersih, bacaan murattalnya bakalan sempurna.

Ini mengundang keprihatinan lagi sehingga Ustad Nouman mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilayhi rooji’uun.” Orang ini datang ke Ustad Nouman, menangis, dan bertanya, apakah Ustad Nouman bisa kasih tahu dia tentang dosa-dosanya, kesalahan apa yang dia lakukan sehingga bacaan qur’annya masih payah. Dia berpikir, gara-gara dosa dan kesalahannya itu lah makanya Allah tidak izinkan dia baca Qur’an dengan lancar. “Dosa-dosaku pasti banyak kan, Ustad?”

Ustad Nouman bilang, “Tidak. Tahukah kamu Musa ‘alayhis salam itu cadel alias gagap. Artinya, beliau tidak punya tajwid yang sempurna, tapi dia membacakan Taurat. Kamu tahu itu kan?”

“Wa jaa-ahum rasuulun kariim.” (QS Ad-Dukhan, 44: 17) Musa ‘alayhis salam itu rasul yang mulia. Tapi dia juga punya gagap (stutter).” Nabi Musa tidak punya tajwid yang sempurna, tapi beliau adalah rasul Allah yang mulia. Bagaimana bisa kita bilang, hanya gara-gara bacaan qur’an seseorang gagap, maka orang ini pasti bukan orang yang baik?

(01hh10mm32ss)

(to be continued)

*****

Ayat yang Dijemput di Ketinggian Singgasana-Nya Part 08

*****

Berani-beraninya orang melakukan penyiksaan psikologis atas nama Islam! Allah hanya ingin melihat usaha, melihat perjuangan, melihat kerja keras, dari diri kamu. Orang yang sedang bekerja keras berjuang dan berusaha membaca Qur’an itu seperti anak kecil yang sedang belajar berjalan. Keseimbangan tubuh belum sempurna, terjatuh, tapi bangun lagi. Berjalan lagi. Dapat satu dua ayat, jatuh lagi. Bangun lagi, melangkah lagi. Tertatih-tatih. Allah meridhai-Nya, tapi kita menyiksanya secara psikologis dengan mengatakan bahwa kegagalannya membaca Qur’an dengan lancar adalah karena hatinya masih kotor.

Apa poinnya dari hadis, “Walladziina yaqra-ul qur-aana wa yatata’ta’u fiihi wa huwa ‘alayhi syaaqun lahu ajroon?”

Apa poinnya? Dia baca Qur’an, dia tersandung-sandung membacanya, dia kesulitan tapi dia tetep baca juga, dia berjuang untuk membacanya, dia masih dapat pahalanya, dua kali. Dia dapatnya dobel. Karena, dia mengalami masa-masa sulit membacanya tapi dia terus saja bergulat menembus melewati kesulitan itu. Dia masih saja memperjuangkannya.

Kita membuat orang merasa bersalah, atas nama Islam, dan demi Allah, kita telah berbuat tidak jujur terhadap Islam ketika kita melakukan itu. Membuat orang merasa bersalah ketika dia sedang berjuang di jalan-Nya adalah sebuah kejahatan besar di hadapan Allah. Allah ingin mengampuni, bahkan Allah ingin memberikan pahala, namun kita malah ingin menghukum. Allah ingin memberikan kesempatan kedua, namun kita malah ingin menutup pintu. Inilah apa yang umat saat ini harus hentikan.

Ketika kamu belajar Qur’an, pintu-Nya terbuka. Ketika kamu tidak mendengarkan Kitabnya Allah, kamulah yang menutup pintu.

Kamu telah mengharamkan lebih banyak hal daripada yang Allah haramkan. Dalam pikiranmu, semuanya haram sampai terbukti halal. Ada apa ini? Apa yang salah denganmu, bung?

“Wa ja’alnaa lakum fiihaa ma’aayisy.” (QS Al-Hijr, 15: 20) Allah sudah menyediakan banyak hal di dunia ini supaya kamu bisa hidup dengan baik. Allah tidak membuat sesuatu di dunia, supaya kamu kehidupannya menyedihkan.

Kita meminta ampunan kepada Allah, “Ghufroonaka robbanaa.” Kita manusia. Kita membuat kesalahan. Bahkan ketika kamu taat, kamu tidak akan taat secara sempurna. Bahkan ketika kamu mendengar, kamu tidak akan mendengar secara sempurna. Seperti akhwat yang duduk di sana yang saat ini sedang melihat Facebook, saya bercanda, saya bercanda.

Ampuni kami, “Ghufroonaka robbanaa. Wa ilaykal mashiir.”_Hanya kepada-Mu-lah ya Allah, kami akan kembali.

Saya ingin sedikit cerita sama kalian tentang kata “Mashiir”.

(Di titik ini, Ustad Nouman dengan suara paraunya saat itu, sudah bicara satu jam lebih. Ustad paham psikologi massa. Dengan suara seperti itu, dan kajian sudah berjalan satu jam lebih, mungkin ada audiens yang berpikir bahwa kajian akan selesai tidak lama lagi. Dengan gayanya yang khas, bersahabat dan penuh kasih sayang, Ustad merasa perlu untuk bersikap jujur tentang apa yang masih akan terjadi. Dari durasi videonya kita tahu bahwa kajian baru selesai kira-kira satu jam lagi).

Ini akan jadi kajian yang panjang. Kajian ini belum hampir selesai. Belum. Masih lama. Aku tidak akan berbohong kepada kalian. Lima menit lagi selesai? Tidak. Saya akan terus berbicara sampai suara saya yang parau ini hilang. Jika kamu mau tidur, tidurlah. Jika kamu mau mengobrol dengan teman-temanmu, mengobrol saja. Aku punya enam anak, aku juga ingin bicara, bercengkerama, bercanda dengan anak-anakku. Tapi itu tidak masalah buatku.

(Karena misi Ustad Nouman adalah menyebarkan keindahan Qur’an kepada umat, supaya bisa mendengar dan taat, khususnya terkait dengan ayat yang sedang dikaji ini)

Aku ingin cerita kepada kamu tentang kata “Mashiir”. Ada dua makna dari kata ini. Kata ini adalah gabungan dari dua makna. Kata ini berarti akhir dari sesuatu (the end of something). Oleh karena itu di beberapa terjemahan, “Wa ilaykal mashiir” artinya “hanya kepada-Mu-lah kami akhirnya dikembalikan.”

Tapi ada makna yang lain yaitu menjadi, berubah, atau bertransformasi (transform). Kombinasi dua arti: akhir dari sesuatu dan bertransformasi. Hanya kepada-Mu-lah ya Allah, kami akhirnya akan kembali dan di perjalanan menuju kepada-Mu ya Allah, kami akan mengalami transformasi.

Apa yang Allah ceritakan kepada kita adalah, ketika kita menghadap Allah di hari pembalasan, kita akan menjadi makhluk yang benar-benar berbeda (a completely different creature). Kita tidak akan sama. “Nasy-atal ukhroo,” penciptaan yang lain. (QS An-Najm, 53 :47)

Dalam perjalanan kita menuju Allah, setiap harinya kita mengalami transformasi. Setiap hari, ada sesuatu yang berubah di dalam diri kita. Itu yang akan terjadi.

Tujuan kamu, dengarkan aku baik-baik, tujuan kamu bukan untuk menghafal Al-Qur’an. Tujuan kamu bukan untuk belajar bahasa Arab. Tujuan kamu bukan untuk memahami atau menguasai ilmu tajwid. Tujuan kamu bukan untuk melakukan ibadah ritual ini, ibadah ritual itu, sebanyak sekian kali. Tujuan kamu bukan untuk mendapatkan ijazah di semua ilmu atau cabang ilmu. Ini semua bukan tujuan kamu. Tujuan kamu adalah melangkah maju (progress). Tujuan kamu, apa? Melangkah maju.

Apakah setiap orang membuat kemajuan yang sama? Beberapa orang membuat kemajuan yang lambat, beberapa lainnya membuat kemajuan yang cepat. Allah tidak peduli (tidak penting seberapa cepat kamu membuat kemajuan, asalkan kamu sudah mengerahkan usaha terbaikmu). Yang Allah peduli adalah, kamu membuat kemajuan (sejauh usaha maksimalmu).

Ada orang yang membaca Qur’an dengan suara indah. Indah sekali. Kamu mendengarnya, dan kamu seperti mendengar suara malaikat. Begitu luar biasa. Tapi orang itu, yang suara dan bacaannya indah itu, dia tidak berharga di sisi Allah jika dia hanya membaca Qur’an untuk membuat orang terkesan. Tidak ada gunanya. Tidak ada nilainya.

Dan kamu, duduk di ruang tamu, sendirian, membutuhkan waktu 30 menit hanya untuk menyelesaikan Fatihah, dan kamu tidak bisa membaca huruf “Ha” dengan betul, kamu membaca “Ghayril magh-dhuubi” sangat susah dan kamu harus mengulang-ulang seperti yang pernah diajarkan oleh syaikh atau guru tahsin kamu, begitu juga saat kamu baca “dhaalliin”, dan tidak ada satu orang pun yang terkesan oleh bacaan Qur’an kamu, tapi Allah begitu mencintai kamu, dan usaha kamu. Bacaan Qur’an kamu bisa jadi menurut orang lain jelek, tetapi Allah bangga sama kamu, karena kamu sedang mencoba. Kamu sedang berusaha. Itu saja.

Terkadang muncul pikiran dan kekhawatiran, kalau sampai saya tidak tahu semua kata yang ada di Qur’an, maka itu berarti aku tidak tahu apa-apa. Kalau sampai aku tidak bisa menghafal surat ini, berarti aku tidak tahu apa-apa. Aku harus menyelesaikan semua serial tafsir Ibnu Katsir, kalau tidak, berarti aku tidak tahu apa-apa.

Rileks. Tenang. Kalian tidak harus seperti itu. Yang kalian harus sadari adalah, membuat kemajuan. Yang kalian harus kejar adalah, melangkah maju. Seberapa pun itu. Agama ini, Qur’an ini, begitu indahnya. Memang membuat tergoda untuk buru-buru merasakan semua kelezatannya. Tapi ingat, kamu harus menyeimbangkan hidupmu.

Kamu tetap harus belajar agama, ya itu benar, tapi sedikit-sedikit (only a little bit). Dan kamu harus menjalani hidupmu (live your life). Karena Qur’an meminta kamu untuk perlahan membaca Quran. karena selain ayat qawliyah juga ada ayat kauniyah. Kamu tahu itu kan?

Qur’an itu tidak ingin kamu baca Qur’an sepanjang hari. “Qul siiruu fii al-ardhi.” (ada di beberapa surat seperti di QS Al-An’am 11, QS An-Naml 69, QS Al-Ankabut 20, dan QS Ar-Rum 42).

Jangan di dalam rumah terus-terusan baca Qur’an. Pergilah keluar. Lihatlah burung-burung. Ini adalah latihan berbasis Qur’an. Lihatlah burung-burung (ada di QS An-Nur 41 dan QS Al-Mulk 19). “Awalam yaraw ilath-thayri fawqahum shaaffaatin wa yaqbidh-na.” (QS Al-Mulk, 67: 19). Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka?

“Afalam yasiiruu fil ardh,” maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi (QS Al-Hajj, 22: 46) “Qul siiruu fil ardhi fanzhuruu kayfa bada-al khalq,” berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan makhluk-Nya (QS Al-Ankabut, 29: 20). Pergilah melihat semua jenis ciptaan-Nya di bumi.

Apakah tafsir dari ayat “Wal ardha wa dha’ahaa lil anaam.” (QS Ar-Rahman, 55: 10)? Bumi ini, Allah bentangkan untuk semua jenis ciptaan-Nya. Kamu tahu itu artinya apa? “Idzhab ilal ardh,” pergilah berjalan di muka bumi. Pergilah, dan lihatlah berbagai kreasi yang berbeda-beda yang Allah ciptakan di muka bumi.

Kamu tahu tafsir ayat itu? Pergilah kamu, berjalanlah kamu di muka bumi Allah. Kamu perlu melihat berbagai spesies makhluk-Nya. Kamu perlu melihat berbagai macam binatang. Itulah tafsir dari ayat itu.

Demi angin yang menerbangkan debu, “Wadz-dzaariyaati dzarwaa.” (QS Adz-Dzariyat, 51: 1) Kamu bisa baca tafsir ayat itu. Tapi kapan kamu akan merasakan pengalaman ayat itu? Ketika angin berhembus. Allah ingin kamu untuk mengalami, merasakan kehidupan. Allah tidak ingin kamu untuk merasakan perpustakaan, bro, sis. Jika kamu hanya belajar agama sepanjang hidupmu, tanpa memperhatikan dan berjalan di sekeliling, itu bukanlah yang Allah inginkan.

Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan oleh seorang pendeta (rabbi)? Dia belajar 17 jam sehari. Dia belajar banyak hal. Yang mereka lakukan, cuma belajar. Kamu tahu kan, orang-orang yang belajarnya terlalu banyak? Mereka adalah orang-orang aneh.

Kenapa mereka aneh? Karena mereka tidak berhubungan dengan manusia. Mereka berhubungan dengan apa? Buku-buku. Kalau kamu berhubungan hanya dengan satu buku, kamu tidak tahu caranya berhubungan dengan orang. Kamu akan selalu jadi canggung (awkward). Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam selalu berhubungan dengan orang, setiap hari. Kamu harus menyeimbangkan hidupmu.

Kamu tahu kan Surat Al-Hujurat? “Innalladziina yunaaduunaka min waraa-in al-hujuraat aktsaruhum laa ya’qiluun.” (QS Al-Hujurat, 49: 4) Orang-orang datang ingin menemui Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, mengetuk pintu, dan Rasulullah ada di mana? Apakah Rasulullah ada di masjid? Apakah Rasulullah sedang memberikan dakwah di suatu tempat? Di mana beliau? Di rumah. Beliau ada di rumah. Orang-orang ini datang mau bertanya kepada Rasulullah dan Allah bilang, jangan ganggu dia, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Kita baca ayat ini, tapi kita tidak mengamalkannya. Kita harus temukan keseimbangan hidup di dunia ini.

Jadi, sekarang, transformasi ini, “Wa ilaykal mashiir,” dilanjutkan dengan “Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa.” Masih di ‘Arsy yang agung. Allah tidak membebani, sama sekali, kepada siapapun, kecuali bahwa mereka punya kapasitas untuk itu, “Illaa wus’ahaa.”

(to be continued)

*****

Ayat yang Dijemput di Ketinggian Singgasana-Nya Part 09

*****

Ada dua makna di sini, ada makna pertama dan makna kedua. Makna yang kedua, itu lumayan rumit. Saya berdoa kepada Allah semoga saya bisa menjelaskannya secara sederhana buat kalian pahami, karena makna yang kedua itu sangat luar biasa.

Coba bandingkan dengan ini, “Laa yukallifullaahu nafsan illaa biwus’ihaa,” itu beda. “Illa biwus’ihaa” berarti “kecuali dalam kapasitasnya”. Tapi Allah bilang “Illaa wus’ahaa”. Itu beda.

Makna yang pertama adalah, “Allah tidak akan menyuruh kita untuk melakukan sesuatu yang kita tidak bisa lakukan.” Itu mudah. Itu makna yang mudah.

Ada orang yang bilang, “Ma sya Allah, kamu salat itu benar-benar lima waktu? Wow! Menakjubkan! Semuanya? Lima-limanya? Setiap hari? Tepat waktu? Ma sya Allah! Doakan supaya Allah kasih aku taufiq.”

Kamu tidak pernah dengar yang begini, “Kamu berhenti setiap kali traffic light menyala merah? Setiap kali merah? Setiap hari? Wow! Menakjubkan! Doakan supaya Allah kasih aku taufiq.” 🙂

Kamu menghargai peraturan lalu lintas, itu tidak jadi masalah. Itu tidak terlalu sulit.

Allah tidak pernah kasih kamu peraturan yang terlalu sulit. Tidak pernah. “Wa maa ja’ala ‘alaykum fiddiini min haroj.” (QS Al-Hajj, 22:78) Allah tidak bikin kesulitan sama sekali dalam agama ini. Itu janji Allah, kok.

Sekarang, makna kedua. Hmmm, ini hebat sekali. “Wus’” adalah sejauh mana kamu dapat melakukan sesuatu. Berarti “Wus’” adalah potensi penuhnya kamu (your full potential).

Apakah potensi penuh yang aku punya, sama dengan potensi penuh yang kamu punya? Tidak sama.

Dan potensi penuhnya kamu tidak sama dengan potensi penuhnya aku.

Allah tidak akan kasih kamu tanggung jawab di hidupmu, untuk setiap orang, kecuali bahwa orang itu punya, dalam dirinya, kemampuan untuk menangani masalahnya. Kemampuan untuk menyesaikan tantangannya. Allah ingin bikin kamu sadar tentang potensi penuhnya kamu. “Qul kullun ya’malu ‘alaa syaakilatihi.” (QS Al-Isra’, 17: 84)

Itulah mengapa Allah tidak bilang di sini, “Laa yukallifullaahunnaasa”. Tidak. “Laa yukallifullaahu annafsa”. Tidak juga. Tapi, Allah bilang “Nafsan”. Kenapa begitu? Karena setiap orang itu beda. Setiap orang punya jenis potensi yang beda. Kamu harus identifikasi potensi kamu. Lalu Allah akan tanya sama kamu, kenapa kamu tidak kasih Aku yang terbaik dari potensi kamu. Aku sudah kasih kamu kecerdasan yang tinggi, kenapa akalmu tidak kamu pakai? Aku sudah kasih kamu keterampilan sosial (social skills) yang tinggi, kenapa kamu temannya tidak bertambah banyak, lalu kamu bawa mereka itu ke jalan Islam?

Aku sudah kasih kamu kreativitas yang tinggi, kenapa kamu tidak jadi produser film dan mengajarkan Islam melalui film? Kenapa kamu tidak lakukan itu? Kamu itu sudah dikasih potensi begitu banyak. Aku yang kasih kamu potensi-potensi itu. “Wa anfiquu mimmaa ja’alakum mustakhlafiina fiihi.” (QS Al-Hadid, 57: 7) Berikan untuk Allah, apa yang telah diberikan-Nya kepadamu (Give, spend to Allah what He has given you).

Allah bilang, “Aku tidak akan membebanimu (I will not put a burden on you).”

Aku (maksudnya, Ustad Nouman) bilang, aku bisa saja melakukan apapun dalam hidupku.

Kamu bilang, “Ma sya Allah, kajiannya bagus. Selama kajian, aku tertidur hanya satu jam saja.” 🙂

Jika kamu sedang mendengarkan kajian ini, kamu mungkin terkesan dengan apa yang aku lakukan. Tapi aku tidak bisa terkesan dengan apa yang aku lakukan. Karena aku tahu aku punya lebih, apa? Potensi (potential). Maksudnya, Ustad Nouman sendiri yang tahu potensi beliau, dan apa saja hal lain yang bisa dilakukan lebih, dari apa yang sudah Ustad lakukan saat ini.

Masih ada banyak hal lain lagi yang belum saya lakukan yang saya punya kapasitas untuk melakukannya. Dan Allah tidak membebaniku. Itu lah potensi penuhnya aku. Itulah makna kedua. Tanggung jawabku adalah potensiku.

Bukan sekedar “ahkaam” dari Allah. “Yuriidullaahu an yukhoffifa ‘ankum.” (QS An-Nisa’, 4: 28) Allah ingin meringankan bebanmu. Agama Islam itu mudah. Tapi potensimu, yang akan bikin kamu menjadi tinggi (di sisi Allah), itu sesuatu yang lain lagi.

Ketika seorang atlet ingin mengukir prestasi yang tinggi, apakah dia harus berlatih keras? Ya. Dia harus mengalami ‘penyiksaan’ (torture) setiap hari. Jumlah latihannya, jadwalnya yang ketat, makanan yang ‘tidak enak’ (nasty food) yang harus dia makan. Dan dia tidak bisa makan kue, tidak bisa minum soda, dia pola makannya ketat, dan dia lakukan itu supaya bisa memaksimalkan potensinya. Kalian harus berkorban untuk mencapai potensi penuhnya kalian!

(01hh25mm00ss)

(to be continued)

Ayat yang Dijemput di Ketinggian Singgasana-Nya Part 10

*****

Dan Allah bilang “Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa” itu di ‘Arsy sana. Jadi, tidak ada alasan, hadirin. Tidak ada alasan untuk kita tidak berkorban untuk mencapai potensi penuhnya kita.

“Lahaa maa kasabat wa ‘alayhaa maktasabat”. Kamu akan dapat pahala dari kebaikan yang kamu lakukan. Dengan mudah. Dapat pahala dari Allah itu mudah. Setiap kali kamu berusaha di jalan-Nya, Allah ringankan untuk kamu dapat pahala-Nya.

“Wa’alayhaa maktasabat”. Dan kamu mendapatkan balasan dari kejahatan yang kamu lakukan. “Fithrotallaahillatii fathoronnaasa ‘alayhaa.” (QS Ar-Ruum, 30: 30) Allah telah menciptakan manusia sesuai fitrahnya. Fitrah manusia itu, mudah untuk taat sama Allah. Mudah. “Yasroh shodrohuu lil-islaam.” (QS Al-An’am, 6: 125). Dadanya menjadi terbuka (untuk menerima hidayah-Nya). Nafasnya nafas kalamullah, begitu mudahnya ketika dia taat sama Allah. Ketika dia tidak taat sama Allah, dadanya jadi sempit.

Dosa adalah apa saja yang kita lakukan yang justru sesungguhnya akan menyakiti kita sendiri. Ada orang yang berpikir bahwa bikin dosa itu mudah, sementara untuk taat itu sulitnya minta ampun. Ketika “mu’minun” percaya, definisi seperti ini berubah total. Kalau kamu sungguh-sungguh punya iman, definisi seperti itu berubah dengan sendirinya.

Untuk mereka, dosa itu mudah, ketaatan itu susah. Tapi Allah gunakan kata yang mudah untuk perbuatan yang baik, dan Dia gunakan kata yang sulit untuk dosa. “Lahaa maa kasabat, as-hal” alias lebih mudah. “Wa ‘alayhaa maktasabat, ash’ab” alias lebih susah. Untukmu, ketaatan itu mudah. Dan ketidaktaatan itu susah. Jika kamu punya iman.

Katakanlah kita tidak mengerti bahasa Arab sama sekali. Coba bandingkan kita mengucapkan “Lahaa maa kasabat” dan mengucapkan “Wa ‘alayhaa maktasabat’”. Kalau lidah bisa jawab, mudah mana mengucapkannya, jawabannya apa kira-kira? “Lahaa maa kasabat” terasa lebih mudah kan? Jadi fitrahnya, ketaatan itu lebih mudah dibandingkan ketidaktaatan.

Dan ini akan menjadi hadiah dari Allah untukmu. Untuk mereka yang lain, ketidaktaatan itu mudah. Untukmu, Allah akan buat ketidaktaatan itu sulit. Hadiah yang luar biasa.

Untuk mereka yang lain, ketaatan itu sulit. Dan untukmu, ketaatan sama Allah itu mudah. Ini lah “Lahaa maa kasabat wa ‘alayhaa maktasabat”. Hadiah yang sungguh luar biasa dari Allah. Dia membalikkan realita untuk kebanyakan orang. Yang sulit jadi mudah buat kita. Jika kita punya iman. “Allaahummaj’alnaa minhum”.

Sekarang kita berdoa sama Allah. “Robbanaa laa tu-aakhidznaa,” ya Allah tolong jangan hukum kami. “In nasiinaa aw akh-tha’naa,” jika kami lupa atau jika kami terus melakukan kesalahan.

Lupa itu masalah kecil atau masalah besar? Untuk orang-orang tertentu, lupa itu masalah kecil. “Oh ya, aku lupa, maaf ya,” bukan masalah besar (no big deal). Aku kasih tahu kamu ya, betapa besarnya “Nis-yaan” itu.

“Wa laqad ‘ahidnaa ilaa aadama min qablu fanasiya.” (QS Thaha, 20: 115) Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dulu, tapi dia lupa.

Kenapa Adam ‘alayhis salam ‘dilempar’ ke bumi. Salah satu alasan yang Allah jelaskan, karena Adam lupa. Kelalaian (forgetfulness) bisa membuat kamu terusir dari surga. Menurut Qur’an. Lupa itu bukan masalah kecil. Lupa itu masalah besar.

Aku kasih tahu lagi ya, beberapa hal tentang kelalaian.

Contoh terbaik yang bisa aku berikan ada di Surat Mujadilah. “Yawma yab’atsu humullaahu jamii’an. Fayunabbi-uhum bimaa ‘amiluu ah-shaahullaahu wa nasuuh.” (QS Al-Mujadilah, 58: 6). Pada hari itu mereka semuanya dibangkitkan Allah, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal perbuatan itu), meskipun mereka telah melupakannya.

Hari di mana Allah mengumpulkan manusia. Allah akan ceritakan apa yang mereka lakukan. Allah punya rekamannya. Apa saja yang mereka pernah lakukan. Tapi mereka sudah lupa.

Kamu melupakan sesuatu, ketika kamu pikir itu tidak penting. Tapi kalau itu penting, kamu tidak akan lupa.

“Ntar aku telpon kamu ya?”

“Hei, lagi di sini kamu? Katamu waktu itu kamu mau telpon aku? Kok ga pernah ada telpon masuk dari kamu?”

“Oh ya, sorry sorry, aku lupa.”

Karena buat kamu tidak penting, kamu lupa.

Tapi kalau istrimu yang telpon kamu, baiknya kamu segera telpon dia. Jika kamu cinta sama istrimu, jangan sampai lupa telpon balik. Jika kamu bilang sama dia kalau kamu lupa, “Innaa lillaahi wa innaa ilayhi rooji’uun.” 🙂

“Laa tu-aakhidznaa in nasiinaa aw akh-tha’naa.” Jangan hukum kami jika kami lupa.

Bagaimana orang bisa lupa? Kapan seorang anak muda bisa lupa salat? Kalo dia nonton film. Dia nonton, filmnya bagus, Maghrib datang, lalu Maghrib pergi. “Oh, aku belum salat Maghrib. Yaa, sudah Isya. Yaa, aku lupa.”

Kamu lupa ketika kamu sibuk sama hal-hal yang kurang penting, dan kamu malah tinggalkan sesuatu yang lebih penting.

Kamu harus berupaya di hidup kamu, untuk tidak membolehkan hal-hal penting di hidupmu menjadi terlupakan. Ini butuh perencanaan (planning), ini juga butuh upaya (effort). Tidak akan terjadi secara otomatis.

Kita minta sama Allah, “Robbanaa laa tu-aakhidznaa in nasiina aw akh-tha’naa.” Perhatikan kata-katanya. Jika menggunakan kata bentuk lampau (past tense), itu berarti, lupa dan melakukan kesalahan itu dilakukan cuma sekali, di waktu lampau, bukan terus-menerus lupa dan terus-menerus melakukan kesalahan.

Doa ini mengandung sumpah atau janji, “Ya Allah aku akan mengupayakan yang terbaik supaya aku tidak lupa, dan aku akan mengupayakan yang terbaik supaya aku tidak bikin kesalahan.” Tapi akankah terjadi, lupa dan bikin kesalahan? Ya, itu akan terjadi. Tapi itu tidak terjadi dengan direncanakan. Itu tidak terjadi dengan disengaja.

Bani Israil dihukum, Adam ‘alayhis salam dihukum, karena lupa. Lalu sekarang, kita berdoa, “Ya Allah, beri aku rahmat-Mu yang lebih dari Adam ‘alayhis salam.” Ketika Adam ‘alayhis salam dihukum, dia turun dari surga ke bumi. Jadi dia turun dari sebuah ketinggian, ke tempat yang lebih rendah. Jika kita dihukum, berarti kita akan turun dari tempat yang lebih rendah ini, ke tempat yang jauh lebih rendah lagi.

Adam pindah dari lantai atas (top floor) ke lantai dasar (bottom floor). Tapi masih ada lantai bawah tanah juga (basement), di mana itu? Jahannam.

Jannah di ‘lantai atas’, dunia di tengah, Jahannam di bawahnya lagi. Adam ‘alayhis salam, karena dia lupa, dia turun dari atas ke tengah. Jika kita dihukum, apa yang akan terjadi? Kita turun dari tengah ke bawah, ke Jahannam, kita tidak bisa membiarkan itu terjadi (we can’t afford that to happen).

“Laa tu-aakhidz-naa in nasiinaa aw akh-tha’naa”. Kita tidak sanggup untuk terjatuh, turun lebih ke bawah lagi. Adam dibilang sama Allah, “Ihbithuu minhaa jamii’an.” (QS Al-Baqarah, 2: 38). “Turunlah kamu semua dari surga!” Kita tidak bisa turun lebih ke bawah lagi. Ke Jahannam. Kita tidak sanggup untuk itu.

(01hh25mm00ss)

(to be continued)

*****

Ayat yang Dijemput di Ketinggian Singgasana-Nya Part 11

*****

Sekarang, “Robbanaa wa laa tahmil ‘alaynaa ishron.” Saya suka kata-kata ini. Ya Allah, jangan bebani kami dengan “ishr”. Mengapa “ishron”? Kata “ishron” artinya beban. Tapi banyak kata yang lain yang juga digunakan di Qur’an, yang artinya beban.

“Wa wadha’naa ‘anka wizrak.” (QS Asy-Syarh atau Alam Nasyrah, 94: 2) Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu.

Kenapa “ishr”? Kata “ishr” ini digunakan untuk sesuatu yang diikat (tied up). Ketika sesuatu diikat, ia menjadi terperangkap atau terjerat (trapped). Ayat ini punya banyak arti. Saya kasih ke kamu arti yang mudah dulu.

Ya Allah, jangan bebani kami, seperti Engkau bebani orang-orang sebelum kami, “Kamaa hamaltahuu ‘alalladziina min qablinaa.”

Tapi ada makna yang lain. Ketika seseorang tidak taat sama Allah, kadang-kadang Allah hukum dia di dunia ini. Kamu tahu itu, kan? Ketika bangsa yang tidak beriman tidak menaati Allah, seperti Bani Israil mereka adalah bangsa yang tidak beriman, ketika mereka tidak menaati Allah, Allah kasih mereka jenis-jenis hukuman yang berbeda.

Ada bangsa yang tidak beriman, mereka tidak menaati Allah, mereka dihancurkan, mereka dimusnahkan.

Bangsa yang beriman, ketika tidak menaati Allah, Allah kasih mereka berbagai jenis beban (different kinds of burdens). Allah tidak hukum mereka dengan api di langit, atau banjir, atau gempa bumi. Bagaimana caranya Allah menghukum mereka? Allah menghukum mereka dengan memecah mereka menjadi kelompok-kelompok yang saling membenci. Ini adalah hukuman dari Allah, untuk umat yang beriman yang tidak menaati Allah.

Jika kamu pelajari Bani Israil, kamu akan pelajari umat yang beriman yang tidak menaati Allah. Jadi kamu akan belajar dari umat itu, apa yang akan terjadi sama kita.

Aku kasih tahu ke kamu apa yang terjadi sama kita.

“Wa qooluu quluubunaa ghulf.” (QS Al-Baqarah 2: 88). Mereka beriman, mereka paham, mereka yakin tidak ada lagi yang mereka perlu pelajari. “Saya sudah tahu semuanya tentang Qur’an.” “Saya sudah khatam belajar tafsir.” “Yaa ayyuhal insaa,” ini bukunya Allah. Tidak ada seorang pun yang bisa memahaminya semuanya. Ini bukan buku ciptaan manusia.

Ini adalah buku kalam ilahi (Divine Book). Tapi kamu tahu apa yang terjadi? Orang bilang, “Aku sudah tahu apa yang dibilang Qur’an, sudah ngerti semuanya di luar kepala.” Mereka seperti sedang terikat. Mereka menjadi keras. Mereka menjadi kaku.

Buku ini, Qur’an ini, ada “rahmah” di dalamnya, tapi karena mereka meninggalkan buku ini, menganggapnya sudah selesai belajar buku ini, mereka menjadi makin keras, dan semakin keras. Mereka akhirnya menjadi “lebih religius dibandingkan para sahabat Nabi.”

Mereka menjadi lebih keras. Mereka menjadikan yang haram jadi lebih banyak. Mereka menjadikan yang sulit makin banyak. Mereka jadi kasar. Mereka membuat seperti itu, padahal agama Allah seharusnya tidak seperti itu.

Dan ini membuat umat berpaling dari agama.

Karena ketika satu kelompok menjadi kaku dan keras, mereka ingin membedakan kelompok mereka dengan kelompok yang lainnya. Dan kelompok yang lain menjadi makin kaku dan makin keras lagi, terjadi hukum aksi-reaksi. Lalu kita punya dua kelompok yang ekstrim. Mereka berdua saling benci satu sama lain. Dan kebanyakan kamu ada di tengah-tengahnya. Tidak ngikut kelompok yang di ujung sana, tidak juga ngikut kelompok di ujung yang satunya. Posisi kamu di tengah. Tapi kamu ingin belajar Islam. Trus gimana dong? Belajar Islamnya kemana nih? Cuma ada dua opsi. Ikut kelompok gila yang satu itu, atau kelompok gila yang satu ini? Akhirnya kamu bergumam, “Ya udah, aku ga usah belajar Islam.” “Aku ga akan kuat ada di kelompok yang ini atau yang itu.”

Kita membebani diri kita sendiri.

Saya akan kasih kamu contoh yang diberikan oleh guruku. Guruku, salah satu di antara mereka adalah Dr. Akram Nadwi. Semoga Allah melindungi beliau. Dia adalah ahli hadis. Dan dia juga, dia punya 600 ijazah. Lebih dari 400-nya khusus untuk ilmu hadis. Lebih dari 40-nya khusus untuk shahih Al-Bukhari. Dia adalah ulama Hanafi.

Beliau datang ke kampus kami (Bayyinah Institute) di Texas dan beliau memberikan kuliah tentang Dasar-Dasar Islam (Fundamentals of Islam). Dan inilah hal pertama yang beliau ajarkan: berapa banyak nabi yang ada?

Beliau tanya, nabi itu ada berapa banyak? Ayo, kalian juga jawab, ada berapa? Seratus dua puluh empat ribu, bagus. Dari jumlah itu, berapa banyak nabi yang kamu tahu? Lima belas ribu? Tiga puluh ribu? Oke, sepuluh ribu. Ga tahu? Oke, kalau lima ratus gimana? Ini seperti lelang terbalik (reverse auction). 🙂

Katakanlah kalian tahu 100 nabi. Ga tahu? Lima puluh? Empat puluh? Dua puluh lima. Oke. Itu yang biasa kita tahu. Dua puluh lima. Ada berapa jumlah nabi tadi, jumlah keseluruhannya? Seratus dua puluh empat ribu. Berapa yang kamu tahu? Dua puluh lima.

Oke, dua puluh lima. Apakah kamu tahu segala sesuatunya tentang keduapuluhlima Nabi itu, mereka semuanya? Apakah kamu tahu segala sesuatu tentang mereka? Apakah kamu tahu segala sesuatu yang dikatakan oleh mereka?

Kalian pasti tahu sesuatu atau beberapa hal yang mereka katakan, benar? Oke. Apakah Allah akan tanya sama kamu di Hari Pembalasan, nama-nama dari semua nabi itu? Tidak.

Apakah Nabi itu orang yang penting? Ya.

Akankah Allah tanya sama kita semua nama mereka?

Akankah Allah tanya sama kita segala sesuatu yang mereka katakan?

Tidak. Allah tidak akan. Allah jelas-jelas tidak akan tanya sama kamu siapa itu Abu Hanifah. Allah tidak akan tanya sama kamu siapa itu Imam Syafi’i rahimahullah. Jika Allah tanya tentang nama, yang akan ditanya pasti nama Nabi-Nya.

Jadi, kamu tidak harus mengingat-ingat apa saja yang pernah dikatakan oleh Imam Abu Hanifah. Kamu tidak harus mengingat-ingat semua yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’i. Yang kamu harus tahu adalah, apa yang Allah katakan. Itu yang kamu harus tahu.

Dan ini adalah ulama Hanafi. Salah satu pentolannya. Dan ini adalah hari pertama dari kuliahnya. Dan aku duduk di kelas itu hampir tak bisa percaya sambil bertanya-tanya, “Apakah itu oke? Apakah ada orang yang akan terkejut (shocked) mendengarnya?”

Karena, aku berasal dari Pakistan. Di Pakistan, kamu tidak menyebut dirimu muslim. Kamu sebut dirimu, apa? Hanafi. Kita panggil diri kita, Sunny. Kita panggil diri kita, Syafi’i. Kita suka panggil diri kita dengan stiker-stiker yang lain. Dan buat Allah, satu-satunya stiker yang Allah inginkan buat kamu adalah, apa? Muslim.

Dan Islam itu sederhana. Tapi kita suka membuat segala sesuatunya, apa? Rumit. Begitu cintanya kita sama kerumitan (complication). Kita cinta banget itu.

Kita cinta sebuah kitab. Lalu kita cinta penjelasan (syarh) dari sebuah kitab. Lalu kita cinta syarh dari syarh dari syarh dari kitab itu.

Agama ini sendiri, sederhana.

Berapa banyak buku yang sudah ditulis, tentang Islam? Ga bisa dihitung.

Bapak dari umat ini adalah Ibrahim ‘alayhis salam, betul? Dia juga bapak dari Bani Israil, betul? Ayo kita gabungkan keduanya. Berapa banyak buku yang sudah ditulis oleh Yahudi (Jews), dan berapa banyak buku yang sudah ditulis oleh orang Islam? Volume bukunya pasti buanyak buanget, seperti tak ada habis-habisnya (endless). Dan bapak dari semua bangsa-bangsa ini adalah, siapa? Ibrahim ‘alayhis salam.

Direktur dari semua perpustakaan, adalah Ibrahim ‘alayhis salam, benar?

Sekarang, pelajarilah Ibrahim ‘alayhis salam. Dia rumit apa tidak? Sederhana. “Falammaa ro-al-qomaro,” ketika dia melihat bulan terbit (QS Al-An’am, 6: 77). “Falammaa ro-asy-syamsa,” ketika dia melihat matahari terbit (QS Al-An’am,6: 78). “Haadzaa rabii haadzaa akbar,” inilah Tuhanku, ini lebih besar (QS Al-An’am ,6: 78). “Inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawaat wal ardh,” aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi (QS Al-An’am, 6: 79).

Yang dikatakan Ibrahim ‘alayhis salam itu rumit apa simpel?

Nabi-Nabi, di Qur’an, mengatakan hal-hal yang sederhana. Sementara itu, kita sukanya sama yang rumit-rumit. Ternyata kita tidak seperti para nabi. Kita seharusnya belajar dari mereka, para nabi.

Kita telah membuat agama ini jadi rumit. Kita harus mengembalikan lagi agama ini menjadi sederhana. Ya Allah, jangan bebani kami seperti orang-orang sebelum kami.

Apakah Yahudi membuat rumit agama mereka? Mereka buat rumit agama mereka, benar? Allah kasih mereka sesuatu yang indah, yang sederhana, mudah, polos, terang-benderang, tapi mereka yang bikin rumit.

Apakah Muslim membuat rumit agama mereka? “Robbanaa wa laa tahmil ‘alaynaa ishran, kamaa hamaltahuu ‘alalladziina min qablinaa.” Kalian paham apa yang saya katakan?

Inilah saatnya, hadirin, untuk melepaskan beban. “Wa yadho’u ‘anhum ishrohum wal-aghlaalallatii kaanat ‘alayhim.” (QS Al-A’raf, 7: 157). Allah memberikan Qur’an untuk menghilangkan beban-beban dari diri mereka. Tahukah kamu, ayat ini sangat-sangat luar biasa, kamu akan tahu “ishr” itu artinya apa dari ayat ini.

Yahudi punya buku-buku fiqh yang jumlahnya tak bisa dihitung. Dan untuk setiap masalah, untuk setiap issue, mereka punya seratus pendapat. Itu gila. Itu benar-benar gila. Lebih gila lagi, mereka berpendapat kalau orang sudah mempelajari fatwa-fatwa yang ada, barulah mereka dikatakan sudah memahami masalahnya. Itulah yang Allah inginkan, kata mereka. Fatwa dari seorang rabbi (pendeta Yahudi) sama derajatnya dengan kalamullah, itu menurut mereka. Muslim tidak pernah melakukan hal seperti itu, ya kan?

Akhirnya mereka punya agama yang begitu rumit. Lalu Allah turunkan Qur’an. Melalui Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Lalu mereka bilang, “Kita ga bisa nih sama orang ini. Kita ga bisa terima agama ini. Karena orang ini ummi. Karena orang ini tidak punya PhD. Kita sudah punya buku-buku yang penuh kerumitan ini. Qur’an kan cuma begitu saja. Terlalu sederhana. Terlalu polos. Ga bisa kayak gitu.”

Allah bilang, “Ini diturunkan supaya bisa menghilangkan bebanmu.” “Kamu itu sudah membebani diri kamu sendiri dengan terlalu banyak kerumitan (over-complication).” Dan agama Islam datang untuk membuat segala sesuatunya mudah.

Kita itu aneh ya, suka kok kerumitan. Nyatanya makin banyak yang kita pelajari dari agama ini, kita makin jadi orang yang rumit. Dan makin rumit kamu, makin rumit juga kehidupan orang-orang di sekeliling kamu. 🙂

Buku ini, Quran ini, sederhana. Ya Allah, jangan bebani kami dengan berbagai kerumitan itu. Semakin banyak kamu belajar agama, kamu harusnya makin happy, dan orang-orang di sekeliling kamu harusnya makin happy juga.

Jika orang-orang di sekitar kamu tidak happy, berarti kamu tidak sedang belajar Islam. Maaf ya. Kamu sedang belajar sesuatu yang lain. Kamu mungkin sedang belajar “ishr”.

Berapa banyak orang belajar Islam dan mulai terjadi pertengkaran di rumah? Konflik di rumah. Perdebatan di rumah. Karena belajar agama. Itu bukan caranya kamu belajar agama.

Agama ini harusnya membuat kita semakin cinta sesama. Bukan semakin benci. Subhanallah.

Aku kasih komen tambahan ya, soal ini, karena banyak pertengkaran dan baku hantam, kamu tidak perlu ngaku kalau kamu juga mengalaminya. 🙂

Berapa banyak yang tahu, ada orang yang bertengkar di keluarga, antar sesama teman, gara-gara agama? Ijma’ of the ummah, semuanya sepakat. Aku punya cerita soal itu.

Allah mengajarkan Qur’an kepada Quraisy, betul? Apakah orang Quraisy itu orang-orang yang baik? Kebanyakan mereka menolak, lalu menjadi musuh-musuh Islam. Berapa lama Allah terus-menerus mengajari mereka? Lebih dari satu dekade.

Apakah mereka menghina Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam? Ya. Apakah Nabi masih tetap mengajari mereka? Ya. Apakah mereka coba melukai Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam? Ya. Apakah Nabi pun tetap mengajari mereka? Ya. Apakah mereka membunuh orang-orang yang beriman? Ya. Apakah setelah itu Nabi tetap mengajari mereka? Ya. Ayat demi ayat datang. Lagi dan lagi. Setiap ayat adalah hadiah dari Allah. Tidak ada satu hadiah pun di muka bumi ini yang lebih berharga dibandingkan hadiah dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Dan Allah terus memberi orang-orang Quraisy ini hadiah. Kasih lagi hadiah. Datangkan lagi hadiah. Lagi dan lagi. Dan ini adalah Quraisy. “Arrahmaan, ‘allamal qur’aan.” Allah sangat luar biasa Penyayang. Melalui Nabi-Nya shallallahu ‘alayhi wasallam, Allah terus memberi hadiah ayat-ayat Qur’an.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam juga sangat luar biasa sayang sama umatnya. Kalau bukan beliau, tidak akan ada yang sanggup untuk tetap sabar melayani umatnya mengirim hadiah Qur’an dari Tuhannya.

Jika Allah begitu menyayangi, ketika mengajarkan Qur’an, kepada Quraisy, kenapa kamu tidak mengajarkan Quran kepada keluarga kamu sendiri dengan rasa cinta yang lebih banyak? Kenapa kamu tidak mengajarkan Qur’an kepada teman-teman kamu dengan rasa cinta yang lebih banyak?

(01hh44mm56ss)

(to be continued)

*****

Ayat yang Dijemput Di Ketinggian Singgasana-Nya Part 12

*****

Allah itu sabar sama orang Quraisy, man! Mereka bahkan mengolok-olok Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam. Dan Rasulullah masih terus kasih hadiah: ayat demi ayat masih terus mengalir.

Allah bisa saja mengajarkan dengan cara yang berbeda. Kamu tahu kan? Kamu pernah melihatnya di sekolah. Atau bahkan kamu pernah mengalaminya. Guru kamu bisa “memberi pelajaran” ke kamu dengan cara-cara yang berbeda.

Gurumu bisa mengajari kamu, dua tambah dua sama dengan empat. Lalu kamu mengangkat tangan, “Aku tidak paham.” Lalu gurumu menyuruhmu maju. Mendekat ke guru. “Ayo aku ajari kamu pake caraku sehingga kamu tidak akan pernah lupa.” Dan ketika sang murid sudah di samping guru, maka gurunya “memberi pelajaran”. Ustad Nouman menggunakan body language dengan mengayunkan tangan, seperti mengarah ke bagian tubuh sang murid, untuk menggambarkan bagaimana cara guru itu “memberi pelajaran” kepada muridnya.

Satu, dua, tiga, empat. Empat kali ayunan tangan. “Sekarang kamu sudah paham?” tanya sang guru. “Ya, ya. Sekarang aku sudah paham”, jawab muridnya. Penuh keterpaksaan. Jika muridnya bilang belum paham, tangan gurunya akan terayun lagi. 🙂

Jika kamu tidak mau “belajar”, ada “cara lain untuk mengajarimu”. Bisakah Allah menggunakan “cara lain” untuk mengajari mereka? Apakah Allah punya daya dan kekuatan untuk menggunakan “cara lain” untuk mengajari orang Quraisy? Sudah pasti!

Tapi Allah memilih untuk mengajari mereka dengan rasa cinta. Dengan Qur’an. Penuh cinta.

Kamu dan aku, kalo ada orang yang tidak mau dengerin kita, maka kita jadi emosi, “Aku barusan bilang ke kamu ya, hadis-nya jelas, tapi kamu ga mau dengar??!!!” (dengan nada meninggi sambil mata melotot). Tenang (calm down)! Bukan begitu caranya menjalankan agama ini. Jika kamu seperti itu, anak-anak muda akan lari menjauh dari Islam. Karena mereka tidak menemukan cinta dan kasih sayang. Yang mereka lihat cuma aturan, aturan, aturan, dan aturan. Ini haram, itu haram, ini haram, itu haram.

Kita telah membuat anak muda kita jatuh ke jurang depresi. Kita telah membuat mereka yakin bahwa mereka adalah orang jahat (bad people). Bahwa mereka adalah pendosa (sinners).

Orang datang ke saya dan bilang, “Ustad Nouman, aku punya pertanyaan. Saya tahu saya orang jahat.” “Loh, dari mana kamu tahu kalo kamu itu orang jahat?” “Gimana ya, kan saya pakenya t-shirt, pake jeans, kadang-kadang saya ga salat.” “Kita manusia, kita bikin kesalahan, tapi orang tidak bisa menghakimimu begitu saja.”

Dan kamu bahkan tidak boleh menghakimi diri kamu sendiri. Biarkan Allah yang menghakimimu. Jangan menyerah karena penilaian orang lain. Jangan juga menyerahkan tentang dirimu kepada orang lain.

Jangan bilang sama dirimu bahwa kamu orang jahat. Cara kerjanya bukan seperti itu. Kita bikin kesalahan. Kita mengakuinya. Kita belajar dari situ. Tapi kita tidak menjadi depresi. Depresi bukan bagian dari agama ini.

Aku tidak tahu kenapa sekarang ini makin orang belajar agama, mereka makin canggung bersosialisasi dan mereka makin terlihat marah. Kenapa ya? Ada orang yang murah senyum, setelah dia punya jenggot dia jadi amat jarang menebar senyum. Itu kenapa ya? Kenapa jenggot kamu bikin kamu marah? Apakah karena jenggotmu berat? 🙂

Jenggotmu harusnya bikin kamu lebih murah senyum, bung! Bukannya bikin kamu marah. Agama ini harusnya jadi agama yang penuh kegembiraan (religion of joy). “Fabidzaalika fal yafrohuu.” (QS Yunus, 10: 58). Karunia Allah dan rahmat-Nya harusnya bikin kita bergembira.

Kamu pergi ke masjid tapi kamu lihat di sana penuh dengan orang-orang yang cemberut mukanya. Kita melihat orang-orang yang mengajarkan Qur’an. Mereka terlihat menakutkan. Jama’ah menghindari kontak mata (eye contact). 🙂

Padahal para sahabat bilang, Rasulullah selalu terlihat tersenyum. Kata-kata Allah, Al-Qur’an, seharusnya disebarkan dengan penuh kegembiraan.

“Robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi.” Ya Rabb, jangan bebani kami beban yang berat yang kami tak sanggup memikulnya.

Ada yang datang bertanya, “Ustad, saya kehilangan anak saya. Kenapa itu terjadi?” “Itu tapi kesalahan saya, Ustad. Ipar saya bilang itu terjadi karena saya jahat.” Jawab Ustad Nouman, “Bukan. Iparmu yang jahat. Kamu tidak jahat.” Ustad menambahkan, “Apa yang terjadi sama kamu, terjadi juga sama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Rasulullah juga kehilangan anaknya. Jadi kamu sekarang punya perasaan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Rasulullah. Sekarang kamu jadi punya kedekatan sama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, yang kebanyakan orang tidak akan memilikinya.”

“Jadi ayat yang diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam supaya Rasulullah merasa lebih baik, sekarang juga diberikan kepada kamu supaya kamu merasa lebih baik. ‘Innaa a’thaynaa ka al-kawtsar.’ Ayat itu adalah untuk Rasulullah, dan karena kamu juga kehilangan anakmu, ayat itu jadi spesial juga untukmu. Hadiah spesial dari Allah untukmu.”

“Dan Allah tidak akan biarkan kamu kehilangan anakmu, kalau Dia tahu, kamu tidak bisa mengatasinya. Banyak wanita yang tidak mampu menerimanya. Kamu cukup kuat untuk mengatasinya. Jadi Allah kasih kamu ujian yang lebih sulit, sehingga kamu bisa makin dekat sama Dia, dan mendapatkan anugerah kedekatan sama Allah, dan juga kedekatan dengan Rasul-Nya, shallallahu ‘alayhi wasallam. Kamu ingin makin dekat ke Allah, makin banyak pengorbanan yang kamu berikan, jadi Allah telah memilih kamu. Kamu itu spesial.”

“Kamu tidak kehilangan anakmu karena kamu dihukum. Dan di atas segalanya, ada orang yang hidup bersama dengan anak-anaknya sepanjang hidupnya. Alhamdulillah. Semoga Allah menjaga keselamatan anak-anak kita. Mereka hidup bersama anak-anak mereka sepanjang hidup mereka. Tapi anak-anak mereka tumbuh menjadi insan yang tidak taat sama Allah.”

“Anak-anak mereka akhirnya meninggalkan Islam. Anak-anak mereka akhirnya mengecewakan agama ini. Lalu dari anak-anak mereka lahir generasi-generasi yang non muslim. Dan di Hari Pembalasan, kamu tidak akan mencintai anak-anakmu. Kamu mencintai mereka di sini, di dunia ini, tapi kamu tidak akan mencintai anak-anakmu di akhirat sana.”

“Idz tabarra-alladziinattubiuu minalladziinattaba’uu wa ra awul’adzaaba wa taqath-tha’at bihimul asbaab.” (QS Al-Baqarah, 2: 166)

Semua hubungan (termasuk hubungan orang tua dengan anak) akan diputus.

“Yafirrul mar-u min akhiihi wa ummihii wa abiihi wa shaahibatihii wa baniihi.” (QS ‘Abasa, 80: 34-36).

Kamu akan lari dari anak-anakmu. Tapi anak yang mati tadi itu, ke mana dia pergi? Di ke surga. “Dan karena kesabaran yang kamu tunjukkan, kamu akan reunian sama anakmu. Reuni kamu sama anakmu itu dijamin, jika kamu punya iman. Orang lain, mereka harus mengemis supaya bisa dapat reuni seperti itu. Reunimu dijamin. Selamat (congratulations)! Anakmu itu hanya menunggumu. Anaknya tidak pergi. Anakmu sedang menunggumu.”

Apa yang kita lakukan dengan orang yang kemalangan? Yang terjadi adalah kekerasan (harshness) dan keburukan (ugliness) dari sesama muslim, yang jauh dari Qur’an. Ada anak yang meninggal, lalu dibilang, “Itu pasti hukuman Allah, dia sedang dikutuk.”
Astaghfirullahal’azhim. Jangan menghancurkan orang yang kemalangan seperti itu. Rasul kita tidak akan melakukannya, shallallahu ‘alayhi wasallam.

(01hh52mm09ss)

(to be continued)

*****
Ayat yang Dijemput di Ketinggian Singgasana-Nya Part 13 (Final)

***

“Robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bih. Wa’fu’annaa.” Maafkan kami. Dengan penuh kasih sayang-Mu, ampuni kami. “Waghfirlanaa.” Dan tutupilah kesalahan kami. Kesalahan kami begitu banyaknya, mohon tutupi itu semua. “Warhamnaa.” Dan tunjukkanlah kepada kami rasa cinta dan kasih sayang-Mu.

Apa manfaat dari urutan doa ini? “Wa’fu’annaa waghfirlanaa warhamnaa”.

Ketika istriku bikin kesalahan, aku akan, apa? Marah. Jika aku bikin kesalahan, istriku yang marah. Jika seseorang bikin kesalahan ke orang lain, maka orang lain akan marah.

Yang pertama adalah, “Aku ga mau kamu jadi marah.” Itu bagian pertama. Itu tercermin dari kata ‘“afu”. Memaafkan seseorang karena mencintainya, dan membiarkan amarah terlepas pergi. Ketika kamu melepas kepergian amarahmu, maka itu lah “‘afu”.

Jika kamu bilang “maghfirah”, kamu memaafkan seseorang tapi itu tidak berarti kemarahanmu sudah hilang. Kamu memang memaafkannya, tapi kamu masih menyimpan amarah itu.

Tapi jika kamu melakukan ‘afu kepada seseorang, maka kamu memaafkan dia, dan amarahmu sudah hilang tak berbekas.

Dan setelah Engkau dengan kasih sayang-Mu memaafkan kami, lalu menutupi kesalahan-kesalahan kami, “Waghfirlanaa,” dan mohon lindungi kami dan tunjukkanlah kepada kami rasa cinta dan kasih sayang-Mu, “Warhamnaa”.

“Warhamnaa” artinya ada dua. Pertama, jangan sampai kita jatuh ke dalam dosa sejak awal, jagalah kami dalam perlindungan-Mu. Kedua, jaga kami dalam rahmat-Mu. Artinya jaga kami di dalam surga-Mu.

Lalu “Wanshurnaa ‘alal qawmil kaafiriin”. Dan bantulah kami menghadapi orang-orang yang tidak beriman. Ini adalah dua poin terakhir yang akan saya sampaikan yang kemungkinan besar menjadi poin yang paling penting.

Ketika kamu bilang, “Ya Allah jangan hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan”, “Ya Allah ampuni kami”, “Ya Allah tunjukkan kasih sayang-Mu”, itu topiknya tentang kamu atau tentang orang lain? Itu tentang kamu.

Ketika kamu bilang, “Fanshurnaa ‘alal qawmil kaafiriin,” itu tentang kamu atau tentang orang lain? Itu tentang orang lain. Tolonglah kami menghadapi orang-orang yang tidak beriman.

Jadi tampaknya ada konflik di sini, betul? Sebagian doa adalah untuk kamu, dan sebagian doa yang lain adalah supaya kamu dapat bantuan menghadapi musuh.

Maka muncul pertanyaan, kenapa kamu punya musuh?

Muslims hari ini punya musuh apa tidak? Ya. Tentu. Mesin waktu kita putar ulang ke zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, saat itu Rasul punya musuh apa tidak? Ya. Tapi, musuh hari ini dan musuh saat itu, tidak sama.

Orang kafir Quraisy menjadi musuh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam meskipun Rasulullah adalah sosok atau pribadi yang paling ramah, paling halus budi bahasanya, dan mereka jadi musuh Rasulullah karena Rasulullah mengajarkan pesan-pesan Qur’an.

Rasulullah mengajarkan bahwa semua manusia itu sama di hadapan-Nya. Rasulullah mengajarkan bahwa anak-anak memiliki hak di dalam keluarga. Rasulullah mengajarkan bahwa wanita memiliki hak di dalam keluarga. Rasulullah mengajarkan bahwa orang tua harus dilayani dengan penuh rasa hormat. Rasulullah mengajarkan bahwa tidak ada suku yang lebih hebat dari suku yang lain. Rasulullah mengajarkan bahwa tidak ada ras yang lebih inferior alias lower in rank dibandingkan ras yang lain. Dan ini lah kenapa Rasulullah punya musuh.

Hari ini, muslim punya musuh apa tidak? Ya. Tapi musuhnya beda. Kita ga punya musuh karena kita bilang semua manusia itu sama. Kita ga punya musuh karena kita bilang bahwa setiap orang harus berbakti dan melayani orang tuanya. Kita ga punya musuh karena kita bilang setiap orang harus adil, tidak boleh curang dalam berbisnis.

Kenyataannya, muslim dan non-muslim, perilakunya tidak jauh berbeda. Jika non-muslim tidak peduli sama orang tuanya, bagaimana dengan muslim, sekarang-sekarang ini? Jika non-muslim adalah rasis dan berpikir ras mereka lebih baik dari yang lain, bagaimana dengan muslim? Kita punya masalah itu juga apa tidak?

Jika non-muslim berpikir bahwa orang yang punya kekayaan itu lebih baik dibandingkan orang yang miskin, lalu Islam datang dan bilang uang itu tidak ada artinya karena “Inna akromakum ‘indallaahi atqaakum.” (QS Al-Hujurat, 49: 13), taqwamu adalah satu-satunya yang penting, “Wa laa yanfa’u maalun wa laa banuun.” (QS Asy-Syu’aro, 26: 88),” illaa man atallaaha biqalbin saliim.” (QS Asy-Syu’aro, 26: 89), yang penting adalah apa yang ada di hatimu, tapi hari ini muslim hidupnya seperti itu atau tidak? Kagak (nope)!

Kamu perlu bukti? Aku ga ingin menyalahkan pemerintah, aku ga ingin menyalahkan bangsa dan negara manapun, aku bicara tentang kamu dan aku, secara pribadi.

Ketika anakmu mau menikah, kamu lihat ras? Atau uang? Kamu lihat hal-hal itu? Karena mereka harus cukup baik buat kita. Atau, kamu lihat karakternya?

Kebanyakan orang bilang, “Kalo mereka punya uang, dan mereka dari keluarga Punjabi, udah pasti bagus. Udah pasti otomatis punya karakter yang bagus.” Cara orang tua mencari anak laki-laki sebagai pasangan hidup anak perempuan mereka, ini aku ambil contoh wanita Pakistan aja ya, karena aku tidak punya hak untuk berolok-olok dengan wanita yang lain, aku berolok-olok dengan wanita dari negara asalku saja.

Kalian mencari anak laki-laki. Anakmu jelek. Dia ngaca, kacanya langsung retak. 🙂 Dan kamu mau menikahkannya. Lalu ketemulah sama calon pasangannya. Wanita yang hidungnya terlalu panjang. Dagunya terlalu pendek. Terlihat terlalu kerempeng. Kamu ga sadar anak laki-lakimu seperti apa? Tapi kamu harus periksa warna kulitnya juga.

Dengan kata lain, kita punya musuh. Tapi kita tidak punya musuh untuk alasan yang tepat. Kita punya musuh untuk alasan yang salah.

Ayat Qur’an ini, “Fanshurnaa ‘alal qawmil kaafiriin,” berlaku, kalo kamu punya musuh untuk alasan yang benar atau alasan yang salah? Untuk alasan yang benar. Dan alasan yang benar itu adalah ketika kamu berdiri tegak untuk memperjuangkan integritas, prinsip-prinsip, yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Jika kamu punya musuh untuk alasan yang tepat seperti itu, lalu oke, berdoalah, “Fanshurnaa ‘alal qawmil kaafiriin.” Kalo kamu tidak melakukan apapun yang dicontohkan Rasulullah, lalu kamu berdoa, “Fanshurnaa ‘alal qawmil kaafiriin,” kamu lucu-lucuan aja baca ayat itu. Kamu bukan baca doa, kamu baca lelucon.

Saya bahkan berpendapat ketika mereka mengolok-olok Rasulullah dengan kartun-kartun itu, beberapa orang ini memang jahat, dan mereka tetap akan mengolok-olok Rasulullah tidak peduli seberapa banyak mereka tahu tentang Islam.

Tapi banyak orang yang mengolok-olok Islam, bukan karena mereka ingin mengolok-olok Rasulullahnya, shallallahu ‘alayhi wasallam, mereka bahkan tidak tahu siapa Rasulullah itu, yang mereka tahu cuma Muslims. Dan mereka melihat muslim berbuat gila, sehingga mereka berasumsi Islam pasti gila. Dan dari situlah mereka mulai mengolok-olok Islam. Jadi bukan karena Rasulullah, tapi karena ulah muslim sendiri.

“Robbanaa laa taj’alnaa fitnatan lilladziina kafaruu.” (QS Al-Mumtahanah, 60: 5). Jangan Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi orang-orang yang tidak beriman. Subhanallah. Umat ini masih panjang perjalanannya, untuk menjadi umat yang dihormati dan disegani.

Ini adalah komen terakhir aku, yang kemungkinan besar, ini yang aku pikirkan ya, yang paling indah, guys. Saya harap kamu mengapresiasinya karena aku sendiri terpesona (blown away) dengan yang satu ini.

Perjalanan umat manusia bermula dari satu orang, Adam ‘alayhis salam. Perjalanan umat manusia berakhir dengan satu umat, umat Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam.

Perjalanan orang yang pertama tadi bermula dari jannah (surga). Perjalanan Muhammad berakhir di jannah (surga). Benar? Oke.

Dan kita minta sama Allah jannah untuk kita, untuk anak-anak kita, untuk anak-anak dari anak-anak kita, dan seterusnya. “Wal muslimuuna jamii’an.”

Oke. Ketika perjalanan itu dimulai, dia (Adam ‘alayhis salam) ada di mana? Jannah. Di mana itu jannah? Jika kamu baca Suratun Najm, “Wa laqod ro-aahu nazlatan ukhroo.” (QS An-Najm, 53 :13), “‘Inda sidratil muntahaa,” (ayat ke-14) “‘Indahaa jannatul ma’waa.” (ayat ke-15)

Aku bertanya-tanya sendiri, kenapa itu terjadi di jannah? Tepat di bawah Sidratul Muntaha (Lote Tree) adalah jannah. Jadi jannah itu tepat di bawah ‘Arsy-nya Allah. Tepat di sana, jannah ada di situ. Kamu paham?

Sekarang. Adam ‘alayhis salam ada di atas sana. Betul? Lalu Allah kirim dia ke mana? Ke bawah. Dan ketika Allah mengirimnya turun, apa yang Allah katakan kepada Adam? Allah bilang, “Fap immaa ya’tiyannakum minnii hudan fa man tabi’a hudaayaa fa laa khawfun ‘alayhim wa laa hum yahzanuun.” (QS Al-Baqarah, 2: 38)

Siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku, Allah bilang sama Adam tapi Allah ga bilang, “Ya’tiyannaka.” Allah bilang, “Ya’tiyannakum.” Apa itu artinya? Artinya, siapa saja, kamu wahai Adam, dan juga keturunanmu. Siapa saja, yang ketemu petunjuk dari Allah, siapa saja yang mengikuti petunjuk itu, tidak akan ada rasa takut dan mereka juga tidak akan bersedih hati.

Ketika Nabi Adam ‘alayhis salam turun ke bumi, dibilang ke dia, perhatikan baik-baik ya kalo ada ayat-ayat-Nya turun (look out for revelation). Jadi di titik turunnya Adam, di titik itu pula lah perjalanan wahyu dimulai.

Kapan perjalanan wahyu berakhir? Di masa Rasulullah. Di Nabi terakhir. Bukan di masa Ibrahim ‘alayhis salam, bukan di masa Nabi Ya’qub ‘alayhis salam, tapi di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam.

Perjalanan wahyu dimulai saat Nabi Adam turun dari ‘Arsy ke bumi. Perjalanan wahyu berakhir di masa Rasulullah, saat Rasulullah harus naik ke ‘Arsy untuk menjemput ayat-Nya.

Ayat untuk Nabi pertama turun di ‘Arsy, dan ayat untuk Nabi terakhir dijemput di ‘Arsy, tepat di tempat di mana perjalanan umat manusia dimulai. Di ketinggian singgasana-Nya. Subhanallah.

Jadi, Adam ‘alayhis salam, awal mulanya (the beginning), dan Rasulullah sebagai Nabi pungkasan. Dan ayat yang diterima Nabi Adam ada di awal Suratul Baqarah, sedangkan ayat yang dijemput Rasulullah ada di akhir Suratul Baqarah. Bagaimana Allah merancang itu semua?

Kadang-kadang aku baca Qur’an, kadang-kadang aku ketemu dengan suatu ayat yang punya nuansa seperti ini, aku tertegun sendiri. Aku berhenti baca. Aku takjub. Aku jadi lemah lunglai. Aku menggumamkan, ‘Allah’. Bagaimana Engkau merancang semua ini, Ya Allah. Sungguh mengagumkan. Aku ga kuat baca ayat-Mu selanjutnya. Mungkin aku perlu istirahat main video game dulu. 🙂

Karena, terlalu banyak untuk disangga. Seperti kejatuhan gunung. Atau mungkin lebih besar dari itu. 🙂

Umat ini adalah babak terakhir (the last chapter) dari sejarah peradaban manusia. Itu saja.

Qur’an telah datang. Tidak ada lagi wahyu (revelation) yang akan turun. Sekarang, semua manusia, harus melihat, kenapa Allah mengirimkan Nabi-Nabi. Sehingga manusia bisa mengikuti petunjuk dari Tuhannya, benar? “Fa immaa ya’tiyannakum minnii hudan.”

Dan hudan (petunjuk) yang terakhir, telah datang. Artinya, kita hidup di babak terakhir dari peradaban manusia, setiap orang, setiap kita, yang percaya sama Allah dan Rasul-Nya, setiap orang di sini, yang percaya sama wahyu terakhir, Qur’an, kita harus pastikan, kita bisa sampaikan pesan ini kepada semua orang di bumi ini, sebanyak mungkin.

Ini tanggung jawab kita. Kita diberi tanggung jawab yang sama seperti Rasulullah, beliau sendiri, shallallahu ‘alayhi wasallam. Dari mana kita tahu itu? Dari mana kita tahu bahwa tanggungjawab kita saat ini sama dengan tanggung jawab Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam?

“Aamanarrasuulu bimaa unzila ilayhi min rabbihii wal mu’minuun.” Lalu, “Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa.” Tanggung jawabnya ada di kita semua. Kita harus tunjukkan karakter Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Kita harus menghidupkan kembali integritas Islam.

Kamu tinggal di negara muslim, jadi kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan. Aku tinggal di Amerika, jadi aku bisa bilang sama kamu. Aku melakukan perjalanan ke Eropa, jadi aku bisa bilang sama kamu. Orang berpikir tentang muslim sebagai orang yang terbelakang (backwards). Orang berpikir tentang muslim sebagai orang yang ga jujur (dishonest). Orang berpikir tentang muslim sebagai penyuap (corrupt). Orang berpikir tentang muslim sebagai orang yang kasar (violent) dan tidak beradab (uncivil). Itu semua yang mereka pikirkan tentang kita.

Dan kita bilang ke mereka, “Tidak, tidak, tidak. Kami tidak kasar. Kami ini umat terbaik. Kami adalah umat pilihan. Orang-orang terbaik. Kami sangat disiplin. Lihat salat kami. Lihat saat kami berbaris rapi saat shalat. Kami begitu hebat”.

Lihat di pelataran parkir. 🙂

Ustad mulai mengajak hadirin untuk muhasabah diri.

Lihat bagaimana kami nyetir. Lihat bagaimana kami berperilaku satu sama lain di antara kami. Lihat yang itu dulu. Apakah kita adalah contoh terbaik untuk dunia, sehingga mereka selayaknya mengikuti kita?

Kita harus menjadi contoh terbaik untuk dunia, supaya mereka mengikuti kita dalam segalanya. Segalanya. Dalam bisnis, pendidikan, penelitian, terobosan ilmu pengetahuan, studi keagamaan, moralitas, gaya hidup yang seimbang (balanced life style). Setiap orang di dunia ini harusnya melihat muslim dan mereka bilang, “Saya ingin jadi seperti itu.” “Saya sangat terkesan. Siapa sebenarnya orang-orang ini?”

Mereka harus bisa melihat ash-shiddiq dan al-amin (sifat jujur dan dapat dipercaya) bahkan sebelum mereka tahu bahwa ternyata kita ini Muslims. Apakah itu penting?

Sebelum Rasulullah memanggil mereka untuk mengikuti jalan Islam, apa yang sudah lebih dulu mereka tahu? Muhammad itu orangnya jujur dan dapat dipercaya. Sekarang, apakah orang-orang melihat kita sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya?

Kita belum memenuhi tanggungjawab kita. “Laa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa hamaltahuu ‘alalladziina min qablinaa.” Allah telah menempatkan tanggung jawab yang besar sama umat ini. Tidak ada tanggung jawab yang lebih besar yang pernah dipikul sebelumnya.

Dan kita semua bertangung jawab untuk menunjukkan kepada dunia, seperti apa karakter Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam itu sebenarnya. Sehingga dunia bisa melihat, “Innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim,” (QS Al-Qalam, 68: 4) seseorang dengan budi pekerti yang luhur.

Tapi yang dunia lihat bukanlah Rasulullah, dunia melihat kita. Dunia melihat duta besar dari Rasulullah (ambassador of the prophet), shallallahu ‘alayhi wasallam. Kita harus tunjukkan sifat-sifat Rasulullah itu. Dan sebaiknya kita naikkan standar kita.

Saya berdoa semoga Allah ‘azza wa jall mengabulkan doa untuk kita semua dalam doa yang luar biasa yang kita pelajari hari ini. Dan penghargaan yang juga luar biasa yang telah Allah berikan kepada kita atas doa yang diberikan di tempat yang berada di ketinggian sana.

Saya berdoa semoga Allah memberikan kepada kamu dan kepadaku, keluarga kita, anak-anak kita, kemampuan untuk menghayati hadiah-Nya (Qur’an) ini, kehormatan sekaligus tanggungjawab ini.

Dan saya berdoa semoga Allah merahmati kita di sini, merahmati negeri ini, dan memberi mereka rasa cinta satu sama lain dan memberi mereka kemampuan untuk menjadi contoh untuk diikuti oleh umat yang lain.

Barakallaahu lii wa lakum.

Wassalaamu’alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

(02hh07mm31ss)

(Final. Alhamdulillah)

***

Resume oleh Heru Wibowo

YouTube Video Title: “We Ask Allah” Tafsir of Last Two Verses of Surah al-Baqarah – Nouman Ali Khan – Gulf Tour 2015

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=Njuq145ESzk

This lecture was given in Bahrain on February 8th, 2015 in cooperation with Falaq. Published on 29 March 2015 by Bayyinah Institute.

***

Kesimpulan Ustad Nouman Ali Khan Menyikapi Perbedaan


• Bahwa aliran utama Islam sebagaimana terlihat nyata saat ini bukanlah satu hal yang seragam. Berpura-pura bahwa aliran Islam hanya ada satu berarti menyangkal realita. Pemikiran muslim terhadap beberapa masalah utama memang berbeda, tapi ada juga sejumlah besar masalah yang disepakati oleh pihak-pihak yang berbeda itu. Continue reading “Kesimpulan Ustad Nouman Ali Khan Menyikapi Perbedaan”

Doa Kebaikan Dunia Akhirat – Nouman Ali Khan


Ramadan Nightly Reminder June 8

*****

Kebaikan Sejati Duniamu Adalah Pengantar Kebaikan Abadi Akhiratmu

*****

“A’uudzu billaahi minasy-syaithaanirrajiim. Faminannaasi man yaquulu robbanaa aatinaa fiddunyaa wa maa lahuu fil-aakhirati min khalaaq. Wa minhum man yaquulu robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaabannaari. Ulaa-ika lahum nashiibun mimmaa kasabuu wallaahu sarii’ul hisaab.” (QS Al-Baqarah, 2: 200-201)

*****

Robbisyrohlii shadrii wa yassirlii amrii wahlul ‘uqdatan min lissani yafqohuu qowlii. Falhamdulillaah. Wash-shalaatu wassalaamu ‘alaa rasuulillaah. Wa ‘alaa aalihii wa shahbihii ajma’iin.

Salam dari Ustad Nouman untuk kita semua.

*****

Di akhir ayat ke-190 dan di awal ayat ke-200 dari Suratul Baqarah, ada bagian yang dikhususkan untuk membahas tentang haji. Di bagian ini Allah menjelaskan bahwa haji adalah sebuah ritual yang sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim ‘alayhis salam.

Mereka yang datang setelah Nabi Ibrahim, setelah anak-anaknya, mereka mengalami kebingungan dan tersesat jalan, mempraktekkan paganisme alias menyembah berhala. Mereka tambahkan ritual yang aslinya tidak ada. Ritual yang tidak pernah diajarkan Allah.

Terjadilah ritual gado-gado. Ritual yang sesuai dengan yang diajarkan Nabi, dan ritual yang menyimpang. Misi Rasulullah adalah untuk menghilangkan (to decontaminate) ritual yang menyimpang itu. Mengembalikan ke ritual yang murni, yang asli.

Doa Nabi Ibrahim adalah “Wa arinaa manaasikanaa wa tub’alaynaa,” tunjukkan kepada kami cara-cara melakukan ibadah haji, ibadah haji yang seharusnya (actual ritual) dan terimalah taubat kami (QS Al-Baqarah, 2: 128).

Dan salah satu yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam adalah ritual ibadah haji yang asli. Ayat ini tidak saja ditujukan untuk memperbaiki ritual ibadah haji, tapi sebenarnya juga spirit di balik ibadah haji.

Haji memang penting dalam peran yang dijalankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam yang terlihat dari salah satu misi Beliau untuk mengembalikan Ka’bah ke tempat aslinya. Upacara untuk memperingati kembalinya Ka’bah ke tempat asalnya itulah sesungguhnya yang menjadi ritual ibadah haji.

Allah menceritakan bahwa ritual ibadah haji itu pernah rusak, menyimpang. Ada orang yang datang, ingin menyembah Allah, tapi yang mereka lakukan itu menyimpang. “Fa minhum man yaquuluna robbanaa aatinaa fid dunya,” di antara mereka ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami di dunia.”

Beri aku pekerjaan, beri aku pasangan hidup, jagalah anak-anakku, hilangkan penyakitku, jagalah kedua orang tuaku. Ini semua adalah contoh-contoh yang kita inginkan di dunia ini. Tampaknya tidak ada yang salah dengan berdoa untuk kehidupan dunia.

Tapi ayat ini begitu keras, Allah bilang, “Wa maa lahuu fil aakhirati min khalaaq.” Orang ini ga kebagian, sama sekali, kebaikan di akhirat. Dia ga dapat apa-apa. Semua yang dia inginkan, dia dapat di dunia, tapi dia ga dapat apa-apa di akhirat.

Itu merupakan pernyataan yang keras untuk seseorang yang sebenarnya sedang berdoa. Mereka berdoa kepada Allah, dan mereka meminta hal-hal yang baik. Tapi kenapa permintaan ini dapat respon keras seperti itu, bahwa mereka tidak akan dapat apa-apa di hari kemudian?

*****

Ini bukan semata-mata persoalan perubahan ritual, tapi juga perubahan pola pikir (a change in mindset). Untuk kebanyakan orang, mari kita lepaskan dulu bicara soal Islam sementara ini, kita coba berpikir untuk semua agama, untuk kebanyakan orang, agama itu bukan persoalan tentang melayani Allah. Sebenarnya agama adalah persoalan tentang bagaimana mendapatkan apa yang kalian inginkan.

Saya mau salat, karena saya butuh dapat promosi. Aku mau salat karena aku pengin masalahku terselesaikan. Aku berjalan mendekati Tuhanku, karena Tuhanku akan mengatur urusanku yang ini dan yang itu, di kehidupan ini.

Kenyataannya, perantara (intermediary) alias penyambung lidah antara Allah dan mereka, seperti yang biasa mereka jadikan idola atau sesembahan atau mereka anggap anak Tuhan, setiap kali mereka datang ke perantara ini, mereka punya tujuan supaya intermediary ini bisa kasih solusi buat masalah keduniaan mereka.

Sehingga keseluruhan tujuan dari agama menjadi, bagaimana agama itu bisa melayani kamu dengan cara tertentu. Dan kenyataan berikutnya adalah, hal ini menjalar ke generasi-generasi berikutnya sebagaimana kita amati dan saksikan hari ini.

Seseorang datang dan bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan dari Islam?

Oke, thanks kamu sudah menerangkan ke aku soal agama ini, ada salat, ada ibadah yang lain, dan seterusnya, tapi aku sudah punya pekerjaan yang bagus, lalu agama ini manfaatnya buat aku apa ya?

Dengan kata lain, jika agama tidak bisa melayani kita segera, maka agama menjadi tidak relevan. Dan inilah sebenarnya yang membuat agama itu menjadi menyimpang dari apa yang sudah pernah diajarkan oleh Allah, yaitu untuk menyatakan bahwa tujuan agama adalah untuk melayani Allah.

Memang benar, ngikutin ajaran Allah bikin hidupmu lebih mudah, ya, itu benar. Kamu dapat manfaatnya. Menaati Allah menghilangkan bebanmu, ya, itu juga benar. Memberimu perlindungan, penghasilanmu jadi barakah, kamu menjadi aman, kamu jadi sehat, itu semua benar. Semua manfaat itu mengalir deras di kehidupanmu kalo kamu mengikuti agama yang benar, itu betul. Ga ada salahnya. Tapi, itu bukanlah tujuannya. Itu semua tadi bisa kamu anggap sebagai perks buat kamu.

Bahasa slang Amerika ini, perks, maknanya selaras dengan benefits. Contohnya untuk karyawan yang bekerja di perusahaan adalah pinjaman tanpa bunga, beasiswa untuk anak karyawan yang berprestasi, cuti hamil 3 bulan yang juga diberikan untuk karyawan sebagai ayah yang istrinya melahirkan, bantuan berupa uang untuk orang tua yang meninggal dunia, pembelian buku untuk pengembangan diri dengan nilai tertentu dan lain-lain.

Maksud dari analogi ini adalah, karyawan yang bekerja bisa memperoleh perks ini, tapi tujuan karyawan bekerja bukan untuk mendapatkan perks ini, melainkan untuk memberikan added value buat perusahaan. Sebagaimana kita ber-Islam, bukan untuk kita dapat benefits dari Allah, alias dilayani Allah, melainkan sebaliknya, melayani Allah.

Nah, sekarang ini yang terjadi, benefits itu malah dijadikan tujuan ber-Islam kita. Ini’kan ga sopan sama Allah. Menjadikan agama ini untuk memenuhi ambisi-ambisi pribadi, itu sebenarnya ga sopan (offensive) sama Allah.

Ritual haji itu sebenarnya harus dimaknai bahwa hidupmu itu sebenarnya lebih dari apa yang kamu dapat di hajimu itu. Kamu, sebelum dikubur, akan pake pakaian seperti yang kamu gunakan saat berhaji. Kita, berada di tanah Arafah, mensimulasikan apa yang kita hadapi di Hari Kemudian (the day of judgment) di mana kita butuh kasih sayang dan ampunan Allah. Keseluruhan ritual haji seharusnya membuat kita memikirkan bagaimana persiapan kita menghadapi Hari Pembalasan.

Jutaan orang berkumpul bersama, berpakaian dengan cara yang sama, tanpa gelar, tanpa titel, tanpa jabatan, semua embel-embel keduniaan dibuang, yang milyuner dan yang rakyat jelata ga ada bedanya, mereka semua berdiri di hadapan Allah seperti di Hari Pembalasan, benar kan?

Tidak ada lagi pangkat, tidak ada lagi yang dianggap VIP, tidak ada lagi status, tidak ada lagi yang tersisa. Kamu dan pakaian ihrammu, itu saja yang tersisa. Buat kita, untuk pergi haji ke sana, dengan obsesi-obsesi dunia, itu bermasalah.

Oleh karena itu Allah merespon dengan “Wa minum man yaquulu robbanaa aatina fiddunya hasanah.” Allah menambahkan satu kata di sini, “Hasanah.” Sebelumnya, mereka hanya bilang, “Ya Allah, berilah aku di dunia ini.

Rasulullah memberi kita hal-hal yang bagus dan indah. Ini masuk akal. Kalo kita pengin mobil, pasti kita penginnya mobil yang bagus, bukan yang odong-odong. Rumah juga gitu, kita penginnya rumah yang bagus.

Tapi ada makna yang lebih mendalam dari “bagus” di dalam doa yang diajarkan Allah ini. Dan seseorang yang meminta itu tidak lain adalah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Kita sudah tahu bahwa Beliau senantiasa memikirkan umatnya. Jadi doa beliau pun bukan doa untuk diri Rasulullah sendiri. Ga pake kata “robbi” (Tuhanku), tapi “robbanaa” (Tuhan kami). Tuhan kita semua.

Ini adalah doa yang paling sering diulang oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Ini juga doa yang kita ulang-ulang di akhir kita thawaf. Umrah maupun haji. Berikan kami kebaikan dalam kehidupan ini. Beri kami keindahan dalam kehidupan ini.

Apa maksud kebaikan dan keindahan di situ? Ustad Nouman membawa kita kembali sebentar untuk memikirkan syaithan. “Wa idz zayyana lahumusysyaithaanu a’maalahum.” (QS Al-Anfal, 8: 48) Setan menjadikan indah amalan mereka walaupun itu sebuah dosa.

Salah satu tugas setan adalah untuk menjadikan keburukan itu jadi terlihat indah dalam pandangan manusia. Dan kebaikan dijadikan terlihat buruk. Perbuatan baik jadi berat dan susah. Terlihat sepertinya ga mungkin (impossible) dan ga boleh (not permissible). Yang terlarang jadi terlihat menarik. Itu yang setan inginkan.

Allah bilang, bukan. Dan doa kita sama Allah, “Berikan kepada kami yang sungguh-sungguh indah. Bukan yang terlihat indah, tapi yang benar-benar indah, Hasanaat dari dunia ini. Yang bagus dan yang indah dari dunia ini.

Lalu Allah mempertalikan itu dengan sesuatu yang lain, “Wa fil aakhirati hasanah.” Dan juga keindahan di Hari Akhir. Jadi ada permintaan untuk dua kehidupan: di dunia ini, dan di kehidupan selanjutnya. Dan keduanya saling terhubung satu sama lain.

Satu-satunya cara supaya kamu mendapatkan keindahan di kehidupan berikutnya, adalah dengan mendapatkan keindahan di kehidupan yang sekarang. Kebaikan apapun yang kita peroleh di dunia ini, harus kita pertanyakan lagi, apakah kebaikan ini hanya bagus di dunia ini, ataukah juga akan bagus di kehidupan akhirat nanti?

Inilah doa kita. Ya Allah, semoga kami tidak dibikin terlena dengan keindahan yang palsu, dan kebaikan apapun yang Engkau berikan di kehidupan dunia ini, yang memang aku juga butuh itu, semoga itu juga akan memberikanku kebaikan di kehidupan berikutnya nanti, “Robbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah.” Keduanya berjalan seiring.

Kata “Hasanah” di sini merujuk pada “Laqod kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanah.” (QS Al-Ahzab, 33: 21) Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. Keteladanan yang indah. Pemimpin yang baik.

Rasulullah tidak hanya memperhatikan kehidupan yang akan datang, di hari akhir. Kalo beliau shallallahu ‘alayhi wasallam seperti itu, maka yang beliau perhatikan melulu soal hal-hal yang akan terjadi di Hari Kemudian. Dan dunia ini menjadi tempat yang seratus persen menyedihkan (miserable).

Ga usah menikah, salat aja terus. Jangan memikirkan hasrat untuk menikah. Hasrat seperti itu dosa. Agama Islam datang bukan seperti itu. Allah sendiri bilang bahwa hasrat seperti itu memang ada dalam diri manusia.

Fakta bahwa kita suka mobil yang bagus, Allah memang kasih itu dalam diri manusia. Tapi Allah kasih hasrat seperti itu ada alasannya. Apa yang indah di dunia ini adalah pratinjau atau semacam displai produk (preview) dari apa yang akan kita peroleh di Hari Akhir. Allah tidak kasih kita pratinjau berupa pohon, kebun, atau gunung yang indah saja. Kalo cuma itu saja, lalu apa yang akan memotivasi kita?

Jadi dunia ini seharusnya membuat kita berpikir, kalo yang begini saja indah di dunia ini, bagaimana kalo di akhirat nanti ya? Jadi ini menjadi pratinjau untuk kehidupan yang berikutnya. Jangan jadikan yang di dunia ini sebagai tujuanmu. Jadikan dunia ini sebagai persiapan (prep) untuk kehidupanmu nanti.

Dapatkan yang terbaik di dunia ini, supaya kamu bisa dapatkan yang terbaik di akhirat nanti. Kehidupan di dunia ini tidak boleh kamu jadikan tujuan akhirnya. Itulah yang seharusnya kita ingat dari doa “Robbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah.

Pikirkan ini. Kita berhaji, seperti yang sudah saya bilang, kita pake pakaian seperti yang akan kita pake (atau, yang akan orang kenakan ke kita) sebelum kita dikubur. Kita kumpul saat berhaji seperti kita dikumpulkan di Hari Akhir. Itu seharusnya menjadi pengalaman spiritual di mana kita melupakan semua hal yang berbau duniawi.

Kamu tinggalkan semua hasrat, semua obsesi, semua yang bisa memalingkanmu dari akhirat. Allah bilang, saat kita pergi haji, kalo kita lihat lagi ke belakang, orang-orang ga pake pesawat untuk berangkat haji, mereka jalan kaki, mereka naik unta, mereka pake kapal, mereka pamitan sama semua anggota keluarga seakan-akan mereka akan mati dalam perjalanan itu, itu yang mereka lakukan.

Apa yang Allah bilang? “Laysa ‘alaykum junaahun an tabtaghuu fadhlan min rabbikum.” (QS Al-Baqarah, 2: 198) Bukanlah sebuah dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Artinya, jika kamu ada bisnis di sana juga, itu oke. Kamu mau jualan, boleh. Dapatkan relasi baru. Kamu ke sana untuk berhaji, itu jelas. Tapi kamu di sana juga punya kesempatan untuk menjemput karunia-Nya dengan bisnismu, itu tidak dilarang.

Luar biasa sekali bahwa Allah menjelaskan ini, bahwa di perjalanan yang boleh dibilang paling spiritual ini, Allah membolehkan kita untuk masih mengambil manfaat duniawi. Begitu juga Ramadan, bulan di mana seharusnya kita melupakan apapun tentang kehidupan duniawi satu bulan ini. Tapi ternyata Allah bilang di ayat yang masuk di cluster ayat-ayat Ramadan bahwa kita boleh ‘mendekati’ pasangan kita di malam-malam hari bulan Ramadan (QS Al-Baqarah, 2: 187)

Ini kenapa? Karena “Fid dunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah.” Kalo hubungan suami-isteri diperkuat (reinforced), akan bermanfaat untuk kehidupannya di dunia maupun di akhirat. Allah sudah pasti paham itu. Dan Allah juga membantu manusia untuk memahami itu.

Dan Allah akhirnya bilang, “Wa qinaa ‘adzaabannaar.” Lindungi kami dari azab neraka (QS Al-Baqarah, 2: 201) Agama ini bikin indah tidak saja di dunia, tapi juga di kehidupan berikutnya.

Kita biasanya minta yang bagus-bagus di dunia ini, dan berharap Allah kasih surga juga, tapi kita tidak peduli keduanya berhubungan apa tidak. Padahal keduanya berhubungan. Itulah satu-satunya cara supaya bagian terakhir doa ini, “Wa qinaa ‘adzaabannaar,” jadi masuk akal. Karena kalo kita jadi materialistis, yang penting selama itu bisa bikin kita hepi, maka kita tidak sedang melindungi diri kita dari api nerakanya Allah.

Semoga Allah memberikan kita yang terbaik dari kehidupan ini, sebagai cara untuk mendapatkan yang terbaik buat kehidupan berikutnya, dan melindungi kita dari hukuman api neraka, “Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar.

Barakallaahu lii walakum. Wassalaamu ‘alaykum wa rahmatullaahi ta’aalaa wa barakaatuh.

*****

Resume oleh Heru Wibowo

Wanita Bekerja Dalam Islam


Pertanyaan:

Assalaamu’alaykum. Anda menyebutkan tentang bagaimana seorang suami bertanggungjawab terhadap keuangan keluarga, untuk mengurus rumah tangga tentunya, bagaimana dengan wanita apabila dia bekerja dan mencari nafkah juga buat keluarganya. Bisakah Anda menjelaskan tentang status tersebut dan uang yang didapat oleh wanita itu yang dia gunakan untuk ikut membantu menafkahi keluarganya dan juga terkait tanggung jawab wanita dalam mengurus keluarga.
Continue reading “Wanita Bekerja Dalam Islam”