[MFA2019] Di Balik Urgensi dan Makna Doa – Rayi Noormega


Sebagai manusia normal, kita pasti pernah merasa tidak sabar. Inginnya lekas selesai dari satu urusan ke urusan yang lain. Sudah menjadi kebiasaan kita untuk mendapatkan semuanya dengan cara yang instan dan cepat. Kita terlalu mudah mengambil keputusan tanpa memahami seutuhnya apakah hal tersebut adalah pilihan yang tepat. Maka, tidak jarang kita beranggapan bahwa Allah ‘azza wajall tidak mendengar doa kita karena semua seakan datang terlambat. Katanya, Allah itu dekat, tapi mengapa yang kita minta datangnya selalu terlambat atau di waktu yang menurut kita tidak tepat? Tidakkah Allah melihat bahwa kita sedang mengalami hal yang berat?

Hal di atas adalah apa yang kemudian dibahas lebih dalam oleh Nouman Ali pada Bab 2 dalam bukunya yang berjudul Revive Your Heart: Putting Life in Perspective. Bab ini berjudul Du’a and Disappointment, di mana Nouman Ali membahas bahwa begitu banyak orang yang datang kepada beliau dan mengeluhkan bagaimana mekanisme doa yang benar. Karena bagi mereka, Allah ‘azza wajall tidak memberi apa yang mereka doakan setiap waktu. Maka Nouman Ali membahas mengenai makna doa sebenarnya, bagaimana doa bekerja, dan hubungannya dengan Allah, melalui beberapa ayat di dalam Al-Quran. Namun, ayat favorit saya yang dibahas di dalam bab ini adalah:

(مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ)

He gives and He gives and He gives and He decides when to give- wallah yaqbid wa-yabsut (al-Baqarah 2:245)- Allah takes and Allah gives; Allah pulls back a little, He constraints your budget a little, He takes away the health a little, He’ll give you some difficulty sometimes and sometimes He will let the difficulty go. That’s up to Allah ‘azza wajall.” – Nouman Ali

Lalu, apa maknanya doa jika memang pada akhirnya Allah akan memberi apa yang kita butuhkan? Ternyata makna doa bukanlah mengenai apa yang akan Dia berikan. Doa bukan tentang apa yang kita inginkan, kapan kita ingin diberi, dan mengapa Dia tidak memberi juga apa yang kita rasa butuhkan. Makna dan urgensi doa letaknya bukan pada kebutuhan kita yang belum terpenuhi, tapi pada pengakuan kita bahwa ada Allah yang selalu mendengar. Ada Allah yang selalu menjaga. Ada Allah yang selalu lebih tahu mengenai apa yang kita butuhkan. Makna doa letaknya ada pada kepercayaan kita sepenuhnya bahwa Allah ada dan selalu mendengar.

The point of du’a is actually to acknowledge before Allah, it’s an admission to Allah that He provides and we are in need.

Manifestasi dari ‘admission’ kita terhadap Allah adalah melalui perilaku bersyukur. Daripada terus fokus ke hal-hal yang tidak atau belum kita punya, Allah ‘azza wajall lebih mendorong kita untuk memindahkan fokus ke hal-hal yang sudah kita dapatkan, yang pastinya tidak bisa terhitung semua.

Sederhananya, doa adalah suatu pengingat kita untuk bersyukur. This is kinda counterintuitive and paradoxically has a deeper meaning. Apa yang kita pahami selama ini adalah doa dilakukan untuk meminta hal yang belum kita miliki, padahal justru sebaliknya. Doa adalah cara untuk kita lebih dekat dengan Allah melalui kesadaran penuh bahwa Allah sudah memberikan banyak sekali nikmat yang bahkan tidak terhitung jumlahnya.

Keseluruhan bab 2 di dalam buku tersebut merupakan pengingat untuk saya bahwa yang penting bukanlah apa yang saya dapatkan atau terjadi setelah saya berdoa berkali-kali. Saya mulai memahami bahwa keberhasilan doa letaknya bukan pada terkabulnya permintaan, tapi pada hadir atau tidaknya ketenangan hati setelah mengingat begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada saya selama ini.

Allah knows, way better than I know. I make du’a based on what I think is best; that’s what I can do as a human being. I will only ask Allah based on the limited knowledge that I have, but thankfully Allah knows better than you and me and everybody else, so He will answer based on perfect knowledge. And maybe the best thing for you is that He does not answer right away, that He does not give you what you’re asking for right away.” – Nouman Ali, Revive Your Heart: Chapter 2, page 38

By Rayi Noormega (IG: @raranoormega)

http://www.rayinoormega.com

rayinoormega@gmail.com | +6285692417571

 

 

Advertisements

[MFA2019] Grateful is Wonderful – Muhamad Elang Pamungkas


 

“Bersyukur adalah sebuah gaya hidup dan cara berfikir” -Nouman Ali Khan

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Benar adanya bahwa bersyukur bukan sebatas kata yang terucap tetapi lebih kepada bagaimana cara kita menyikapi kehidupan dan berpikir terhadap berbagai kejadian indah yang Allah berikan.

Continue reading “[MFA2019] Grateful is Wonderful – Muhamad Elang Pamungkas”

[MFA2019] Ramadhan dan Avengers: Endgame – Heru Wibowo


 

Memori sepuluh tahun lalu itu terbuka kembali.

Jadi, apa yang bikin kita semua ada di sini? Padahal saat ini juga, banyak yang mungkin sedang asyik di depan TV. Mungkin sedang menonton sinetron atau tayangan favorit mereka. Tapi Anda semua memilih untuk berada di masjid ini. Sejak sebelum shalat Isya’ tadi dimulai. Apa yang membuat Anda tinggalkan semua urusan dunia dan berada di masjid ini?

Continue reading “[MFA2019] Ramadhan dan Avengers: Endgame – Heru Wibowo”

Ayat (MFA 2019 Is Back!) – Heru Wibowo


Kita biasa menulisnya begitu. Ayat. Atau, kalo mau sedikit mengikuti kaidah ilmu tajwid, kita bisa menulisnya: aayaat. Karena, baik alif maupun ya, panjangnya dua harakat. Sebagaimana yang terdapat di akhir surah Al-Baqarah 164.

Ustadz Nouman secara khusus mengupas kata aayaat ini, di Bayyinah TV. Saat mengkaji Al-Baqarah 164.

Continue reading “Ayat (MFA 2019 Is Back!) – Heru Wibowo”

[MFA2018] Mau Salat Kok Minta Ditemenin – Heru Wibowo


Mau Salat Kok Minta Ditemenin

Mengejar deadline sebuah proyek membuat kami sering harus pulang malam. salat Maghrib memang, di mushalla kantor. Salat Isya beda-beda. Ada yang salat Isya di mushalla kantor juga, ada yang di masjid sedapatnya di perjalanan pulang ke rumah, ada juga yang berikrar, “Nanti di rumah saja salatnya karena waktu Isya yang panjang.Continue reading “[MFA2018] Mau Salat Kok Minta Ditemenin – Heru Wibowo”

[MFA2018] Menganggap Ringan Perintah Allah – Wulanita Kuswotanti


Bismillah. Episode Quran Weekly Juz 1 QS Al Baqarah ayah 67 – Menganggap Ringan Perintah Allah.

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا۟ بَقَرَةًۭ ۖ قَالُوٓا۟ أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًۭا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِٱللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ ٱلْجَـٰهِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”. Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.Continue reading “[MFA2018] Menganggap Ringan Perintah Allah – Wulanita Kuswotanti”

[MFA2018] Tidakkah Kamu Berpikir? – Andriani D. A.


Tidakkah Kamu Berpikir?

Merasa ‘stuck’ dengan perkuliahan. Kadang bertanya apakah sekolah lebih penting dari beribadah. Ternyata tidak kalah pentingnya. Alhamdulillah kita sudah dikaruniai keimanan. Tidak semua orang seberuntung saya yang lahir dari keluarga Muslim. Continue reading “[MFA2018] Tidakkah Kamu Berpikir? – Andriani D. A.”