Resume Lesson and Reflection: QS An-Naba 2 – Nouman Ali Khan


[Edisi SSS – Sharing Santai tapi Serius]

Judul: Lesson and Reflection: QS An-Naba (05 Juni 2017)
Sumber video: Kajian Ust. Nouman Ali Khan – Ramadhan Series 2017
Link:

http://stream.bayyinah.tv/share/watch/ramadan-2017/5449770106001/01-al-naba—part-1—ramadan-2017

Bismillahirrahmanirrahim… Sebagai lanjutan dari tulisan part-1:

https://nakindonesia.wordpress.com/2017/07/04/resume-lesson-and-reflection-qs-an-naba-1-nouman-ali-khan/

Kali ini kita beralih ke Part-2 dari QS An-Naba, tentang LIFE IN PAIRS.

Allah menggambarkan kehidupan ini diciptakan berpasang-pasangan (life in pairs), diawali dengan hamparan bumi yang dipasangkan dengan gunung, lalu manusia yang berpasangan antara pria dan wanita, Allah menyebutkan siang dan malam, serta langit dan matahari (ibarat atap plafon dan lampu).

Setiap pembuatan sebuah produk, biasanya ada signature -nya. Dan Allah sebagai pencipta, memiliki signature menciptakan “segala hal secara berpasang-pasangan”.

IBARAT PENGEMBARA SATU HARI

Original audience ketika pewahyuan Quran adalah bangsa Arab yang sering bepergian. Ayat 6–13 seolah menggambarkan “perjalanan satu hari” seorang pengembara padang pasir; di mana dalam satu hari, orang tersebut mengembara di hamparan padang pasir yang luas, lalu mendirikan tenda, kemudian saat malam datang beristirahat di dalam tenda tersebut, setelah pagi menjelang bergegas untuk mengembara kembali, dan membongkar kembali tendanya.

Kehidupan kita di dunia ibarat perjalanan.

Susunan ayat tersebut seolah menggambarkan hidup di dunia itu ibarat “perjalanan sehari”, dan kita adalah “pengembara”.

BERPASANGAN: RUH — TUBUH

(وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا)

Wakhalaqnakum azwaja

“Dan kami jadikan kamu berpasang-pasangan.” (QS An-Naba ayat 8)

Kata “azwaj” bukan hanya berarti pasangan antara perempuan dan laki-laki, makna “zawj” juga bisa diartikan berpasangannya antara tubuh (physical body) dengan ruh. Dua entitas yang berbeda, dipersatukan oleh Allah.

Ruh adalah sesuatu yang tidak tampak mata (unseen). Dengan demikian, separuh eksistensi kita adalah dari hal yang tidak tampak mata. Fisik tubuh ibarat mesin, dan operatornya adalah ruh. Suatu saat mesin ini juga akan kadaluarsa, adapun pengendaranya akan tetap ada.

BERPASANGAN: WANITA — PRIA (1/2)

(أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا)

Alam naj’alil-arda mihada

“Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan.” (QS An-Naba ayat 6)

Kata lain yang terkait dengan “mihaad” adalah “mahd” yang berarti buaian, atau bahkan rahim ibu. Allah berfirman, “Bukankah Kami menjadikan bumi sebagai tempat di mana Anda akan merasa nyaman?”

Dalam bahasa Arab klasik, “mihaad” digunakan untuk tidur. Ini adalah tempat di mana Anda menemukan kedamaian dan ketenangan.

Dalam bahasa arab, Bumi adalah feminine, sedangkan gunung adalah maskulin. Al-Quran menyebutkan bahwa bumi dan gunung berpasangan, pada ayat berikutnya menyebutkan tentang wanita dan pria yang berpasangan. Di dalam keluarga, pria merupakan penjaga kestabilan. Indah bukan?

BERPASANGAN: WANITA — PRIA (2/2)

(وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا)

Waja’alna al layla libasa

“Dan kami jadikan malam sebagai pakaian.” (QS An-Naba ayat 10)

(وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا)

Waja’alna an-nahara ma’aasha

“Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS An-naba ayat 11)

Siang adalah sarana untuk bekerja, sarana untuk mencari nafkah penghidupan. Adapun malam sebagai “libas” saat untuk beristirahat, memberikan ketenangan.

Terdapat alur yang menakjubkan. Allah membuat malam sebagai pakaian, dan siang sebagai sumber mencari penghidupan (ayat 10–11). Lalu, Allah di satu sisi menyebutkan tentang pasangan pria dan wanita (ayat 6).

Penggunaan kata “libas” dalam Al-Quran juga terdapat dalam QS Al-Baqarah ayat 187. Dalam ayat tersebut Allah menyebut bahwa suami adalah libas bagi istrinya dan istri juga adalah libas bagi suaminya. Kata “libas” mempunyai arti penutup tubuh (pakaian), pergaulan, ketenangan, ketentraman, kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan.

Kamu bisa mempelajari hubungan antara pria dan wanita melalui Quran yang menerangkan hubungan siang dan malam.

Lalu siapa yang menjadi siang? Dan siapa yang menjadikan malam? Allah tidak mengatakan demikian, melainkan kita harus melihat secara keseluruhan.

“Libas” berarti antara mereka harus saling menjaga, saling mendukung. Antara pria dan wanita (suami-istri) harus saling bekerjasama. Itulah mengapa dalam Islam pernikahan bukan hanya soal cinta, tapi soal tanggung jawab.
Pria dengan wanita. Mereka dibuat untuk menciptakan keseimbangan dan mereka harus bekerja sama untuk mencapai keadaan ini.

BERPASANGAN: KEHIDUPAN TERBENTUK

(وَأَنزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا)

Wa anzalna minalmu’sirati maa’an thajjaja

“Dan kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.” (QS An-naba ayat 14)

Kata “mu’sirat” artinya squeeze (meremas). Adapun kata “thajjaja” artinya hujan deras. Artinya awan yang penuh dan meneteskan begitu banyak air hujan. Jika Allah tidak mengirimkan air hujan, akan menyebabkan kekeringan.

Hujan turun ke bumi. Langit dan bumi bekerja bersama menghasilkan kehidupan. Allah memberi tahu saat semua berpasangan, new life happens, menghasilkan kehidupan baru yang indah. Sekali lagi Allah menggambarkan kuasa-Nya.

TUMBUHNYA TUMBUHAN

(لِّنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا)

Linukhrija bihi habban wanabata

“Supaya kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan.” (QS An-Naba ayat 15)

Makna “habban” dan “nabbat” digunakan untuk benih (seed) yang terkait dengan tanaman pangan, kebutuhan pokok (necessity). Dari tanaman pangan tersebut, terdapat hasil panen untuk dimakan. Termasuk makanan untuk hewan ternak yang kita pelihara.

KEBUN YANG RINDANG

(وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا)

Wajannaatin alfafa

“Dan kebun-kebun yang lebat.” (QS An-Naba ayat 16)

Pada ayat 15, yang dibahas adalah tanaman pangan, yang terkait kebutuhan pokok (necessity). Adapun ayat 16 lebih menekankan pada penggambaran kebun yang indah.

“Jannaatin” di sini adalah kebun yang ada di dunia. Ini untuk “preview/teaser”.

“Kebayang ga.. kebun di dunia saja sudah sebagus ini, apalagi nanti kebun di jannah?”

Apa motivasi Jannah? Ada pohon, sungai, burung-burung, hanging out each other . Ketika Allah bilang air terjun, kita harus mengetahui dan merasakan dulu kan? Jika kamu tidak pernah merasakan, kamu tidak tahu bagaimana rasanya, bagaimana excited.

Ini untuk mengingatkan tujuan kita, untuk mendapatkan kebun yang jauh lebih indah dan bagus, yakni di Jannah nanti.

Penutup:

Salah satu tanda dari ciptaan Allah adalah Dia menciptakan berpasang-pasangan, untuk saling melengkapi.. Seperti siang — malam, perempuan- laki laki, bentangan lanskap — langit.

Lalu apa pasangan kehidupan di dunia?

Akan dirasakan setelah kematian.. yakni kehidupan di akhirat…

Wallahualam bisawab.

Advertisements

2 thoughts on “Resume Lesson and Reflection: QS An-Naba 2 – Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s