[MFA] #14 – Ayat Ini Mengubah Hidupku

mfa14

Mulai bulan depan Anda sudah tidak bekerja lagi di perusahaan ini ya,” ucap direktur utama padaku.

Kata-kata yang diucapkan dengan bahasa halus tersebut terasa kasar dan tajam menusuk ke sanubariku. Bagai petir di siang bolong. Ya, begitulah menurut istilah yang sering kita dengar  jika kita mengalami hal yang di luar dugaan kita.

30 November 201X menjadi tanggal yang tidak terlupakan bagiku karena hari itu adalah hari dimana perusahaan tempat aku bekerja untuk menafkahi anak dan istriku sebagai sumber penghasilan utama tiba-tiba memutuskan untuk menghentikan usahanya. Dengan kata lain, perusahaan itu gulung tikar alias bangkrut. Dengan keputusan tersebut berarti seluruh karyawan perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan tersebut akan ‘dirumahkan’ dalam waktu dekat. Hanya beberapa karyawan saja yang sesuai dengan bidangnya yang masih dibutuhkan untuk proses penutupan bisnis.

Tanpa berpikir panjang lagi, malam harinya, aku langsung membuat berbagai surat lamaran ke perusahaan manapun asalkan mau menerima aku bekerja, melupakan prinsip idealis anak muda yang harus bekerja sesuai dengan bidang latar belakang pendidikannya. Yang saat itu terpikir hanyalah bulan depan aku harus tetap berpenghasilan. Meskipun banyak istilah yang sekarang sangat tenar bahwa ‘Lebih baik tidak memiliki penghasilan tetap, tapi tetap berpenghasilan’. Wow, itu istilah pembelaan atau istilah agar dianggap keren ya ?

Tibalah tanggal 1 Desember 201X, aku secara resmi menyandang status sebagai ‘pengangguran terpelajar’. Sambil menenangkan diri dan mencari solusi aku pun memilih tetap pergi keluar rumah setiap hari selayaknya orang bekerja pada umunya yang berangkat di pagi hari dan pulang sore hari, sembari mencari referensi dan informasi. Barangkali ada ide menarik mengenai apa yang sebaiknya aku lakukan. Memang aku sengaja tidak memberitahukan berita pengangguranku ini pada orang di rumah, hanya istriku saja yang tahu. Ada hal yang kulupakan saat itu. Aku lupa untuk kembali kepada Allah, mengadukan setiap permasalahanku pada Allah, itu yang aku lupa. Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu, namun belum juga ada panggilan pekerjaan. Belum ada perusahaan yang membutuhkan jasaku.

Ting.. ting… sebuah pesan masuk ke aplikasi percakapan online milikku. Ternyata tertulis ‘istriku sayang’. Ya, itu pesan dari istriku.

Kamu lagi di mana? Kamu sudah mengadu sama Allah belum kalau kamu abis di PHK? Coba baca pesan Allah deh yang ada di Al Quran surat Al Qhashash ayat 24, itu do’anya Nabi Musa ketika dihimpit berbagai masalah. Ini ada juga link kajian Nouman Ali Khan tentang do’a itu https://youtu.be/I7B6XFD0p_M (doa di saat sulit).” Begitu isi pesan istriku.

Aku lagi di jalan, mau masukin lamaran ke Bank Indonesia. Astaghfirullah, iya aku kok lupa ya mengadu sama Allah? Nanti aku buka Al Quran, aku baca isi ayatnya. Trims ya sayang sudah diingatkan,” balasku.

Setelah aku memasukkan lamaran pekerjaan di Bank Indonesia siang itu, aku langsung menuju Masjid Baitul Ihsan yang terletak di bagian belakang komplek gedung Bank Indonesia untuk menunaikan sholat Dzuhur. Setelah sholat, aku langsung laksanakan nasihat istriku untuk membaca Al-Quran dan  khususnya membuka surat Al Qashash ayat 24 yang berisi do’a Nabi Musa ketika sedang terhimpit “Robbi inni lima anzalta illayya min khoirin faqir (Ya Tuhanku sesungguhnya aku memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadak )”.

Lalu aku keluar masjid untuk melihat isi link YouTube kajian Nouman Ali Khan itu. Ternyata banyak pelajaran yang dapat kuambil.

Diawali kejadian yang dialami Nabi Musa di tengah keterpurukanya yang sedang dikejar-kejar tentara kerajaan Mesir dan tidak memiliki sesuatu apapun yang ia bawa. Dengan bahasa Nabi Musa yang sangat indah dalam do’a yang ia gunakan, Nabi Musa tidak menyalahkan Allah. Ia justru meminta kebaikan apapun yang Allah berikan saat itu. Kata ‘Khoir’ dalam do’a itu bermakna ‘baik’ dalam setiap keadaan.

Kondisi pada umumnya di zaman sekarang adalah ketika ada bantuan datang, kita merasa tidak membutuhkannya, kita merasa canggung dan malu untuk menerima bantuan itu, padahal itu adalah yang diturunkan Alllah melalui orang itu. Atau mungkin saja kita merasa bantuan yang diberikan orang lain bukanlah bantuan yang seharusnya Allah berikan kepada kita. Hey, dari mana kita tahu ini adalah pemberian dari Allah dan yang itu bukan? Yang seharusnya  dilakukan adalah percaya dan optimis bahwa memang segala sesuatu yang menimpa kita ada campur tangan Allah di dalamnya.

Setelah Nabi Musa berdoa datanglah berentetan kejadian, yaitu dia membantu dua wanita untuk mengambil air untuk ternaknya. Bermula dari kejadian itulah kemudian banyak kebaikan yang didapatnya, mulai dari memperoleh pekerjaan dari ayah kedua wanita tersebut hingga akhirnya menikah dengan salah satu di antara kedua wanita itu.

Aku pun mempraktekkan doa Nabi Musa itu. Tiga hari berlalu datanglah ajakan teman untuk membantunya sebagai staf ahli yang bertugas membantu tugas anggota DPRD. Alhamdulillah saat ini dengan nilai penghasilan sekian kali lipat dari pekerjaan sebelumnya dan memiliki banyak koneksi ke pejabat pemerintahan, aku rasa ini adalah kebaikan-kebaikan yang Allah berikan.

Untukmu yang sedang terpuruk, terhimpit berbagai masalah, sebagai salah satu solusinya bisa gunakan doa Nabi Musa ini. Keep The Faith.

Ditulis oleh : Basri Abu Ikhbat

Advertisements

One thought on “[MFA] #14 – Ayat Ini Mengubah Hidupku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s