[Transkrip Indonesia] Terikat Oleh Doa – Amazed by the Quran – NAK


Terikat dengan Doa – Amazed by the Quran w/ Nouman Ali Khan

Bismillahi washalatu wasalam wa ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Selamat datang di “Amazed by the Quran“. Sebuah serial di mana saya senang berbagi kepada Anda mengenai hal-hal menakjubkan tentang Al Quran, yang saya temukan. Hari ini saya ingin berbagi kepada Anda sesuatu yang (lagi-lagi) sebenarnya sangat sentimental. Frase kecil dalam Quran yang memberitahu kita sesuatu yang sangat luar biasa.

Terikat Oleh Doa

Musa ‘alaihis salam, dia kembali setelah bertemu dengan Allah. Saat kembali, dia melihat kaumnya menyembah patung anak sapi dari emas. Dan dia menjadi marah kepada saudaranya (Harun).

Saya memberikan tanggung jawab kepadamu, apa yang kamu lakukan?

Dan mereka (kaumnya) telah menguasainya (Harun). Dia (Harun) tidak memiliki kepribadian kuat seperti yang dimiliki Musa ‘alaihis salam. Kemudian Musa ‘alaihis salam menarik janggut dan kepalanya (Harun), lalu dia (Musa) menyeretnya, dan dia (Musa) menjadi benar-benar-benar kesal.

Dan dia (Musa) harus memanggil secara harfiah, saat dia (Harun) sedang ditarik dan diseret.

Yabna-um, anak lelaki ibuku, ayolah!

Seperti memanggil ibu, karena ibu adalah sisi lembut. Panggilan itu semacam cara untuk sedikit mendinginkannya, menenangkannya (Harun).

Namun tentu, saudaranya tahu, Harun ‘alaihis salam tahu bahwa Musa sedang benar-benar kesal. Dan tepat pada momen saat dia (Musa) sedang sangat-sangat marah kepada-nya (Harun). Inilah kalimat selanjutnya.

Qala rabbighfirli wa li akhi.” (QS. Al-A’raf ayat 151)

Ya Tuhanku, Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku.

Dan saat dia (Musa) mengucapkan kalimat tersebut (ampunilah aku dan saudaraku), siapa yang dapat mendengarnya (Musa)? Harun dapat mendengarnya (Musa). Harun baru saja ditarik, dibentak, dan mendapat banyak masalah.

Saudaraku membenciku saat ini, ia bahkan tidak mau melihat wajahku.

Perasaan itulah yang akan Anda rasakan. Namun, seketika itu, dia (Musa) membuatnya (Harun) lega dengan mengetahui bahwa saat berdoa untuk memohon ampunan kepada Allah, dia (Musa) menyertakan saudaranya (Harun).

Rabbighfirli wa li akhi.

Ampunilah aku dan saudaraku.

Namun, tetap saja, terdapat cara lain dalam mengungkapkan doa tersebut. Anda bisa saja mengatakan, ampunilah kami. Namun, dia (Musa) memisahkannya, “Aku dan saudaraku.”

Sehingga dari segi bahasa, masih terdapat jarak (gap). Anda masih tidak menempatkan mereka (Musa dan Harun) dalam satu kata. Karena jika dia (Musa) menempatkan mereka dalam satu kata, hal tersebut seperti sebuah bentuk kesatuan. Sedangkan jika Anda menempatkan mereka dalam dua kata, seolah-olah masih ada bentuk pemisahan di sana.

Seperti, “Ampunilah aku, dan juga ampunilah saudaraku, dia sangat kacau.

Seperti memisahkan; saya butuh ampunan, namun dia sangat butuh ampunan. Hal itu seperti dua tingkatan ampunan yang berbeda. Karena mereka dipisahkan. Kemudian, apakah yang dia (Musa) ucapkan persis di kalimat setelahnya?

Dia (Musa) masih marah, sehingga Anda bisa mengatakan bahwa dia (Musa) memisahkan mereka (Musa dan Harun), meskipun terdapat sedikit kelegaan dalam kalimat tersebut.

Kalimat selanjutnya adalah, “Wa adkhilna fi rahmatik.” (QS. Al-A’raf ayat 151)

Masukkanlah kami berdua ke dalam Rahmat dan Kasih SayangMu.

Saat dia (Musa) berkata, “Masukkanlah kami.

Dia (Musa) tidak mengatakan, “Masukkanlah aku dan saudaraku.

Dia (Musa) hanya berkata, “Masukkanlah kami.

Jadi, Anda dapat melihat kemarahan Musa ‘alaihis salam mereda. Dan kasih sayangnya (Musa) kepada saudaranya (Harun) kembali. Dan saudaranya (Harun) bisa mendengar itu dalam doanya (Musa).

Dia (Harun) dapat mendengar bahwa dia (Musa) saat ini telah memaafkannya (Harun), baik-baik saja dengannya (Harun). Karena dia (Musa) telah siap untuk meminta kepada Allah seperti dia (Musa) meminta untuk dirinya sendiri. Dia (Musa) akan menggabungkannya (Harun) kepada dirinya (Musa), dengan cinta, bahkan di dalam suatu kata ganti.

Kenyataan bahwa dia (Musa) mengawali dengan berdoa untuknya (Harun), baru saja menjadi awal dari rasa kasih dan sayang.

Mengapa hal ini penting untuk disebutkan?

Karena saat Anda berdoa untuk orang yang telah membuatmu kesal, terkadang, tidak mengapa berdoa untuk orang yang membuatmu kesal di depan mereka.

Anak-anakmu, berdoalah untuk mereka di depan mereka. Berdoalah untuk saudaramu di depannya. Berdoalah untuk saudari-saudarimu, pasanganmu, di depan mereka.

Saat mereka mendengar Anda berdoa untuk mereka, hal itu dapat menghilangkan sebagian rasa sakit yang disebabkan oleh kemarahan yang telah terjadi.

Iya, ada suatu hal yang pantas untuk membuat Anda kesal, memang ada. Namun, Anda tidak seharusnya membuat luka permanen dalam suatu hubungan. Hal itu terlalu berharga. Kasih sayang yang Anda miliki untuk kekasih Anda, dan kebaikan dalam suatu hubungan jauh sangat berharga dibandingkan kemarahan yang Anda bawa.

Dan apakah cara yang lebih indah untuk menghilangkan kemarahan tersebut selain dengan membiarkan mereka mendengar Anda berdoa dengan tulus kepada Allah untuk mereka, seperti Anda berdoa untuk diri Anda sendiri.

Itulah yang terjadi pada doa yang sangat-sangat luar biasa ini.

Barakallahuli wa lakum, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

English Transcript: https://islamsubtitle.wordpress.com/2017/12/08/bound-by-a-prayer

Advertisements

2 thoughts on “[Transkrip Indonesia] Terikat Oleh Doa – Amazed by the Quran – NAK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s