Needs, Wants, Dan Taqwa


Ada dua hal yang dikejar manusia. Kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Needs adalah sesuatu yang harus kita miliki untuk tetap hidup. Wants adalah sesuatu yang kita berharap bisa memilikinya, untuk menambah kenyamanan dan kenikmatan.

Apapun yang mengandung protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral, adalah needs. Nasi kebuli, gudeg, sop buntut, nasi padang, adalah wants.

Sementara itu, ada hal yang gila (crazy thing) dalam diri kita. Namanya nafs. Nafs ini penuh keinginan. Ingin ini dan ingin itu. Kalau keinginan sudah tak tertahankan, kita tidak bisa lagi membedakan antara needs dan wants.

Saat kita sedang dalam situasi darurat (emergency) untuk bertahan hidup (survival), prioritasnya apa: needs atau wants? Needs.

Anda masih selamat dari musibah kecelakan di laut. Tapi Anda masih terkatung-katung di tengah laut. Sendirian. Satu-satunya teman Anda adalah pelampung. Yang Anda pikirkan adalah bagaimana secepatnya Anda bisa nyampe ke daratan. Sop buntut dan nasi padang tidak Anda pikirkan.

Selama kita berpuasa, Allah mencabut (deprive) sebagian sarana penting (essential means) kita: makan dan minum. Bagi yang sudah menikah, hubungan suami-istri (intimacy) juga dicabut, selama berpuasa. Kita mengalami pencabutan (deprivation) ini selama tiga puluh hari lamanya.

Ada perang yang terjadi di dalam diri kita. Siang hari di bulan Ramadan yang panas, kerongkongan kita meronta. Minta sesuatu untuk diminum. Perut kita juga minta diisi. Tapi ada satu hal di dalam diri kita juga, yang memerintahkan kerongkongan dan perut untuk diam (shut up). “Aku tahu kamu sedang menderita. Tapi bukan sekarang saatnya,” ruh dalam diri Anda berseru memberi komando.

Penderitaan kerongkongan dan perut Anda itu kecil. Yang besar adalah ketakwaan Anda.

Selama tiga puluh hari kita menghidupkan ketakwaan itu. Untuk menghindari hal-hal yang bisa membahayakan kita. Dan untuk melakukan hanya hal-hal yang mendatangkan manfaat buat kita. Kita sedang melindungi (protect) diri kita. Itulah taqwa.

Entah Anda sedang berbaring, tidur, jalan, duduk, atau apapun, Anda sedang menghidupkan taqwa itu.

Ada orang-orang yang tidak bisa lepas dari coklat. Ada orang-orang yang tidak bisa lepas dari ngopi di pagi hari. Ada orang-orang yang bahkan tidak bisa lepas dari rokok. Tidak boleh ada satu jam yang berlalu tanpa rokok. Apakah mereka bisa bertahan (survive) di bulan Ramadan?

Ternyata bisa!

Ternyata mereka bisa. Dan mereka itu mungkin adalah kita.

Ternyata kita semua bisa bertahan dan lulus di bulan Ramadan. Itu membuktikan bahwa kita seharusnya bisa lulus untuk menjalani kehidupan yang Allah kehendaki. Yaitu kehidupan yang mengarah ke arah yang halal (towards halal direction).

Ternyata kita semua bisa salat malam. Ternyata kita semua bisa berpuasa. Ternyata kita semua bisa membaca Alquran. Ternyata kita semua bisa mentadabburi Alquran. Entah secara pasif mendengarkan saat kultum tarawih. Atau kita sendiri yang secara aktif mencarinya.

Masing-masing kita lebih tahu tentang pencapaian spiritual (spiritual achievement) apa yang kita bisa lakukan di bulan ini, lebih dari bulan-bulan sebelumnya.

Itu poin latihannya di bulan Ramadan. La’allakum tattaquun. Kita berlatih mengembangkan ketakwaan di dalam diri kita.

I’m watching 065. Al-Baqarah (Ayah 179-183) – A Deeper Look

Resume oleh Heru Wibowo

Advertisements

Independence Month – Heru Wibowo


Islam adalah pemulihan kembali (restoration) dari warisan (legacy) Ibrahim ‘alayhis salam. Kita bukan kaum yang pertama yang diberi amanah untuk menjunjung tinggi (uphold) warisan ini. Sudah pernah ada kaum yang diberi amanah ini. Siapa mereka? Bani Israil. Dan Bani Israil gagal secara menyedihkan (miserably). Continue reading “Independence Month – Heru Wibowo”

[Transkrip Indonesia] Ramadhan Bulan Penuh Ampunan – Nouman Ali Khan


Ramadhan Bulan Penuh Ampunan – Nouman Ali Khan

Judul Asli: The Month of Forgiveness – Ustadh Nouman Ali Khan [HD]
Video Asli: https://youtu.be/a4hUli7A4d8

Pembukaan

Auudzu billaahi minasy-syaithaanir-rajiim(i).

Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush-shiiyaam(u).” (QS Al Baqarah ayat 183)
Kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum la’allakum tattaquun(a).” (QS Al Baqarah ayat 183)

Ayyaaman ma’duudaatin fa man kaana minkum maridhan.” (QS Al Baqarah ayat 184)
aw ‘alaa safarin fa ‘iddatun min ayyaamin ukhar(a).” (QS Al Baqarah ayat 184)
Wa ‘alalladziina yuthiiquunahuu fidyatun tha’aamu miskiin(i).” (QS Al Baqarah ayat 184)
Fa man tathawwa’a khairan fa huwa khairul lah(u).” (QS Al Baqarah ayat 184)
Wa an tashuumuu khairul lakum in kuntum ta’lamuun(a).” (QS Al Baqarah ayat 184)

Syahru ramadhaanalladzii unzila fiihil-quraan(u).” (QS Al Baqarah ayat 185)
Hudan lin-naasi wa bayyinaatin minal-hudaa wal furqaan(i).” (QS Al Baqarah ayat 185)
Fa man syahida minkumusy-syahra fal yashumh(u).” (QS Al Baqarah ayat 185)
Wa man kaana mariidhan aw ‘alaa safarin fa ‘iddatun min ayyaamin ukhar(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)
Yuriidullaahu bikumul-yusra wa laa yuriidu bikumul-‘usr(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)
Wa litukmilul-‘iddat(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)
Wa litukabbirullaaha ‘alaa maa hadaakum wa la’allakum tasykuruun(a).” (QS Al Baqarah ayat 185)

Rabbisyrah lii shadrii, Wa yassir lii amrii, Wahlul ‘uqdatan min lisaanii, Yafqahuu qawlii.” (QS Thaahaa ayat 25-28)

Al-hamdu lillaahi rabbil-‘aalamiin(a), Wash-shalaatu wassalaamu ‘alaa sayyidil anbiyaa-i wal mursaliin(a). Wa ‘alaa aalihi washahbihii ajma’iin, tsumma amma ba’du. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh.Continue reading “[Transkrip Indonesia] Ramadhan Bulan Penuh Ampunan – Nouman Ali Khan”