Pertarungan Gulat Epik – Abdul Nasir Jangda


Suatu kali Nabi Muhammad (SAW) sedang berjalan melewati pasar. Dan beliau bertemu, berpapasan dengan seorang pria bernama Rukanah.

Rukanah adalah juara gulat di Mekkah. Dia adalah seorang Quraisy terkuat Makkah. Nabi (ﷺ) melihat Rukanah sepertinya memperhatikan Nabi (ﷺ), tapi dia mengabaikannya, berpaling darinya.

Lalu Nabi (ﷺ) mendekati Rukanah dan beliau berkata, “Hei Rukanah! Ada apa?”

Beliau lanjut berkata, “Bagaimana kalau aku memberitahumu sesuatu?”

“Aku berbagi sesuatu denganmu?”

“Dan dengarkanlah apa yang akan aku katakan dan terimalah pesannya jika itu masuk akal bagimu.”

Lalu Rukanah berkata kepada Nabi (ﷺ), “Jika kau bergulat denganku dan bisa mengalahkanku dalam pertandingan gulat, Aku akan duduk dan mendengarkan apa pun yang ingin kau katakan padaku.”

Kemudian Nabi (ﷺ) berkata, “Baiklah, ayo kita bergulat! Ayo kita mulai!”

Mereka berkumpul. Mereka mempersiapkan arena, Anda tahu, beberapa orang berkumpul. Dan Nabi (ﷺ) menggulung lengan bajunya, bersiap untuk bertarung. Mereka bersiap memasang kuda-kuda di posisi masing-masing, dan mulai! Mulai bergulat.

Nabi (ﷺ) masuk, meraih Rukanah, dan membantingnya. Anda tahu bagaimana tubuh dibanting? Sekali lagi, jika Anda pernah menonton WWF Wrestling, semoga Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) memaafkan Anda.

Tapi… tahukah Anda ketika Anda membanting seseorang di punggungnya, Anda melemparkan mereka ke tanah di punggung mereka, ini bukan bohongan, ini nyata. Rukanah Nabi (ﷺ) mengangkat Rukanah dan membantingnya. Dan Anda tahu ketika Anda mendapatkan bantingan seperti itu, itu akan menghempaskan udara dari tubuh Anda.

Jadi udara keluar dari tubuhnya dan dia terkejut. Dan dia perlu beberapa menit untuk memulihkan diri, dan kemudian dia melihat Nabi (ﷺ) dan berkata, “Kau tahu, tidak ada yang… lupakan bisa memukulku, tidak ada yang pernah menjatuhkanku ke tanah. Aku tidak mengerti. Bagaimana kau melakukannya? Ayo mulai lagi!”

Mereka bangkit dan kembali ke posisi mereka, dan mulai! Bertarung! Nabi (ﷺ) meraihnya lagi, dan membantingnya lagi. Dan kemudian Rukanah benar-benar sangat terkejut.

Dia seperti, “Ya Tuhan! Apa yang baru saja terjadi?”

Dan dia bangkit lagi dan dia berkata, “Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi.”

Dan dia berkata, “Sekali lagi!”

Lanjut atau tidak sama sekali! Dan sekali lagi mereka memasang kuda-kuda, mereka bersiap-siap untuk mulai bergulat. Nabi (ﷺ) masuk, meraih Rukanah, dan membantingnya, untuk ketiga kalinya. Dan pada titik ini Rukanah bahkan tidak bisa bangun, dia K.O selama beberapa menit, seperti tubuhnya… seperti angin terlempar dari tubuhnya, takjub, dia benar-benar terkejut.

Dan dia akhirnya bangkit dan dia berkata kepada Nabi (ﷺ), “Tidak ada orang yang pernah mengalahkanku sebelumnya! Dan kau membanting tubuhku tiga kali! Aku tidak mengerti apa yang terjadi.”

Dan ini adalah kisah yang sangat luar biasa, tapi inilah tujuannya. Nabi (ﷺ) berkata padanya, “Kau ingin tahu sesuatu yang lebih menakjubkan dari itu?”

Kemudian Nabi (ﷺ) memberitahunya, “Beriman pada Allah, dan tidak ada yang layak disembah selain Allah. Dan aku, Muhammad Rasulullah. Itulah kebenaran.”

Rukanah akhirnya menerima Islam. Menjadi Muslim saat itu juga. Dan pergi dari sana sebagai seorang Muslim setelah beriman pada Islam. Apa moral ceritanya?

Moral cerita yang pertama adalah bahwa Nabi dapat menjatuhkannya.

(Tertawa)

Moral kedua dari cerita adalah bahwa kita tahu Nabi (ﷺ) adalah seorang dai, ya kan? Seseorang yang mengajak orang kepada Allah, beliau adalah dai tertinggi. Kita semua, Anda tahu, itu tanggung jawab yang kita semua miliki, dan kita ingin membagikan pesan Islam dengan orang-orang, dengan dunia.

Tapi ada caranya untuk melakukan itu. Ada metodologi, ada caranya, ada formula yang harus diikuti untuk melakukannya. Dan sebagian caranya adalah ketika Anda berdakwah kepada orang-orang, ketika Anda berbicara tentang Islam kepada orang-orang, sesuaikan dengan kebutuhan mereka, sesuai realita.

Jadilah seorang yang ‘real’ dengan orang lain, bersikap normal dengan orang lain, bekerja dengan orang lain, berbicara dengan orang lain. Dan tidak selalu hanya berkhutbah kepada orang lain. Hanya memberikan ajakan dengan gaya khutbah saja.

Seperti setiap kali Anda ingin membagikan pesan Islam, Anda membukanya seperti dalam buku.

(الحمد لله نَحْمَدُهُ و نَسْتَعينُهُ و نَسْتَغْفِرُهُ)

Jangan selalu berdakwah dengan gaya khutbah. Tapi bergaul dengan orang-orang, berbicaralah dengan orang lain, sesuaikan dengan orang-orang. Dan ini membawa kita ke ayat dalam Alquran, dimana Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) memberitahu kita,

(ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ) – (QS. An-Nahl: 125)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”

Ini adalah kebijaksanaan dan pengingat yang indah dari Nabi Muhammad (SAW). Mari kita coba menjadi lebih seperti beliau. Dan pastikan dakwah kita sesuai dengan dakwah Nabi (ﷺ).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s