Neraka Yang Hilang (Tadabbur Tiga Ayat Terakhir Al-Mulk)


Di ayat ke-28 ada kata ahlakaniya. Berasal dari kata halak. Artinya, violent death. Kematian karena kekerasan. Beda dengan maata yang berarti just death alias meninggal aja. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bilang, jika Allah memberiku kematian karena kekerasan, dan juga kepada orang-orang yang bersamaku, atau jika Allah memberi rahmat kepada kami.

Kata-kata Allah ini luar biasa! Allah tidak bilang, “Jika Allah memberiku kematian karena kekerasan atau jika Allah membiarkanku hidup.” Sebuah perbandingan silang (a cross comparison). Allah tidak bilang, “Bunuh aku atau selamatkan aku (kill me or spare me).” Tapi Allah bilang, “Bunuh aku atau beri aku kasih sayang (kill me or show me mercy).” Jadi hidup itu sendiri adalah rahmah. Dan kita tidak berharap untuk mati (wish for death). Kita berharap untuk mendapatkan rahmah dari Allah (we wish for Allah’s rahmah). Mengharapkan supaya kita segera dimatikan adalah bukan cara berpikir seorang muslim.

Di ayat ke-28 ini juga ada kata lain yang menarik: yujiiru. Kata jiiran artinya tetangga (neighbor). Saat nyawa seseorang terancam, tetangganya datang dan bilang, “Ayo kamu ke rumahku aja. Kamu bisa sembunyi di basement rumahku.” Ini mengingatkan kita pada tragedi Christchurch di New Zealand di mana ada yang selamat karena bantuan dari tetangga masjid di sana. Bentuk perlindungan semacam itu ijaaroh. Allah menjadi ‘tetangga’ kita, ketika Dia melindungimu. Allaahumma ajirnaa minannaar kita baca untuk meminta perlindungan-Nya dari api neraka. Allah menjadi ‘tetangga’ kita di sana.

Kematian karena kekerasan (halak) itu bukan terserah orang kafir, tapi terserah Allah. Jika Allah menghendaki, akan terjadi. Jika Allah tidak menghendaki, tidak akan terjadi. Oleh karena itu di ayat ke-28 ini disebutkan in ahlakaniyallaah. Jika Allah menghendaki aku mati dengan kekerasan.

Jika Allah menghendaki Rasulullah tetap hidup, maka itu adalah rahmah (mercy) dari Allah. Memiliki kehidupan yang panjang (having a prolonged life) adalah rahmah dari Allah. Bagi orang yang beriman, memiliki kehidupan yang panjang berarti kesempatan yang lebih besar untuk menanam amal untuk kehidupan akhirat yang lebih baik. Panjang umurnya berarti Anda memiliki lebih banyak waktu untuk berbuat lebih baik (having a longer life means you have more time to do more good). Semoga kita diberi panjang umur dan tetap berada di jalan yang benar (stay in the right path).

Harapan kita bukanlah supaya kita mati secepatnya. Harapan kita bukanlah ‘kapan’ kita mati, tapi ‘bagaimana’ kita mati. Tawaffanaa ma’al abroor. Matikanlah kami bersama orang-orang yang berbakti (QS Ali Imran 3:193).

Poin ayat ini adalah, apakah orang-orang kafir itu membunuh Rasulullah dengan kekerasan atau tidak, masalah mereka tidak akan hilang. Mereka bisa saja membunuh Rasulullah dan orang-orang yang bersama beliau, tapi mereka tidak akan bisa mengubah realitanya.

Seperti halnya orang-orang yang berada di Amerika yang sedang melihat berita di TV tentang akan adanya hujan badai (thunderstorm) yang akan menyerang wilayah mereka. Mereka matikan TV dan merasa lega. “Akhirnya kita aman.” Dungu. Mereka tidak bisa mengendalikan datangnya hujan badai hanya dengan mematikan TV. Mereka harusnya berterimakasih karena ada yang kasih tahu lebih awal. Setidaknya mereka bisa berjaga-jaga.

Di ayat ke-29 Allah menyebutkan tentang Ar-Rahmaan. Apa hubungannya dengan realita bahwa orang-orang kafir akan ditimpa adzab di api neraka (hellfire)?

Konsep tentang neraka tidak kita temukan di Kitab Perjanjian Lama (The Old Testament). Benar-benar hilang sama sekali (completely gone). Tidak ada satu ayat pun yang bercerita tentang api neraka. Tidak satu pun.

Apakah ayat tentang api neraka memang tidak pernah ada di Kitab Perjanjian Lama? Jawabannya ada di Quran: bal tu’tsiruunal hayaataddunya wal aakhiratu khayrun wa abqaa. Kamu lebih menyukai kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan selamanya. Inna haadzaa lafish-shuhufil uulaa, shuhufi ibraahiima wa muusaa. Naskah suci Ibrahim dan Musa memuat hal ini: bahwa hari akhir itu lebih baik. Dan tentunya ada penjelasan kenapa hari akhir itu lebih baik. Jadi seharusnya kondisi akhirat itu ada di Kitab Perjanjian Lama. Tapi ternyata sudah tidak bisa ditemukan lagi.

Ustadz Nouman terkesan dengan bagaimana mereka bisa membersihkan Kitab Perjanjian Lama dengan cerita tentang kondisi akhirat.

Yawaddu ahaduhum law yu’ammaru alfa sanatin wa maa huwa bimuzahzihihi minal ‘adzaabi an yu’ammar. Mereka tidak bisa lolos dari hukuman, lalu mereka menghapuskan hukuman itu dari kitab suci mereka. Ini mirip dengan kisah orang yang mematikan TV tadi. Mereka berpikir bahwa jika mereka tidak mendengarkan beritanya, maka peristiwanya tidak akan terjadi. Penghapusan yang luar biasa (what an amazing erasing)! Dan itu dilakukan di seluruh naskah suci mereka.

Kita tidak suka mendengarkan Tuhan yang punya neraka!” seru mereka. “Tuhan kok punya neraka! Betapa pengasih Tuhan itu ya!” sindir mereka.

Islam punya cara pandang yang berbeda tentang Ar-Rahman. Allah adalah Rabb, yang punya otoritas penuh. Fa’alullimaa yuriid. Mahakuasa berbuat apa yang Dia kehendaki (QS Al-Buruj 85:16).

Saya adalah seorang hamba. Bukan saya yang memutuskan apa warna langit. Bukan saya yang memutuskan tekstur bumi harus seperti apa. Allah-lah yang memutuskan sesuai kehendak-Nya. Bukan saya yang memutuskan bahwa saya harus punya lima jari di setiap tangan saya.

Allah punya rencana atas segala hal yang Dia perbuat. Inna rabbaka huwal khallaaqul ‘aliim. Allah Maha Mencipta dan Maha Mengetahui. (QS Al-Hijr 15:86). Allah pula yang menciptakan surga dan neraka (heaven and hell).

Allah juga menciptakan sistem yang mengatur siapa-siapa yang berakhir di surga dan siapa-siapa yang berakhir di neraka.

Bayangkan Anda dan saya berada di dalam sebuah ruangan. Ruangan itu menggambarkan kehidupan kita. Ada dua pintu di dalam ruangan. Pintu yang satu adalah pintu neraka. Pintu yang satunya lagi adalah pintu surga. Saat ini kedua pintu dalam keadaan tertutup.

Di ruangan itu tidak ada jendela. Jadi kita tidak tahu apa yang ada di luar ruangan. Yang saya tahu hanya yang ada di dalam ruangan.

Apa yang dilakukan Allah sebagai Pencipta kita? Allah menjelaskan situasinya. Allah menjelaskan apa yang ada di balik pintu yang satu. Allah menjelaskan apa yang ada di balik pintu yang satunya lagi. Allah menjelaskannya begitu baik sehingga kita bisa melihatnya. Tanpa harus membuka satu pintu pun.

Terserah kita. Apakah kita mau menerima kenyataan atau tidak, itu lah kenyataannya. Ada neraka di balik pintu yang satu. Ada surga di balik pintu yang satunya lagi. Adalah kasih sayang Allah yang telah melukiskan gambaran surga dan neraka dengan cara-Nya. Di satu sisi gambarannya begitu mengganggu. Di sisi yang lain gambarannya begitu memikat.

Terserah kita. Apakah kita mau serius atau tidak, neraka dan surga itu tetap ada. Allah sudah menciptakan surga dan neraka. Sudah menjadi bagian dari rencana Allah. Saya memilih untuk lebih baik mengetahui bahwa ada surga dan neraka. Kita seharusnya berterimakasih kepada Allah yang telah melukiskan gambaran surga dan neraka. Memungkinkan kita untuk menyadari apa yang ada di luar ruangan dengan dua pintu tadi.

Apa yang terjadi dengan penganut agama yang kitab sucinya tidak menceritakan tentang neraka? Neraka menjadi lelucon. Bahan tertawaan. Menjadi heavy metal. Menjadi Highway to Hell. Menjadi kartun. Menjadi film Hellboy.

Muslim tidak bercanda soal neraka. Sama sekali tidak (no way)! Kita tidak menggunakan kata jahannam saat bercanda. Kita tidak menggunakan ekspresi what the hell are you talking about. Kita tidak bermain-main dengan sesuatu yang kita tidak ingin berada di dalamnya.

Surga dan neraka itu begitu nyata untuk kita. Mereka sebenarnya juga percaya bahwa surga dan neraka itu ada. Mereka cuma tidak suka bahwa agama kita bicara soal surga dan neraka.

Kita lebih suka mengetahui tentang surga dan neraka sekarang. Menangis sekarang. Merinding sekarang. Memohon dan memelas minta dijauhkan dari neraka sekarang. Daripada nantinya melihat neraka beneran walau sedikit.

Idzaa ulquu fiihaa sami’uu lahaa syahiiqan wa hiya tafuur. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, neraka yang mendidih membara (Al-Mulk 67:7).

Waktu Ustadz Nouman masih di MSA (Muslim Students’ Association, sebuah asosiasi komunitas Islam di kampus-kampus di Amerika Serikat dan Kanada), ada seseorang yang Ustadz lupa namanya, yang menyelenggarakan sebuah program MSA.

Salah satu programnya adalah halaqah dengan topik Remembering The Hellfire (Mengingat Api Neraka). Kita masuk ke ruangan MSA. Semua lampu dimatikan. Tidak ada jendela yang terbuka. Ada pemutar kaset (tape player). Ada boombox (kotak yang menghasilkan suara dentuman). Dengan baterai-baterai ukuran D. Kasetnya dimasukkan dan diputar. Ada suara-suara binatang yang begitu keras. Ada jeritan-jeritan. Ada ledakan-ledakan. Ada suara orang-orang yang menjerit kesakitan. Ada teriakan-teriakan, “Tolong hentikaaan (please stooop)!” Semuanya berlangsung selama 35 menit.

Lampu-lampu dimatikan, dan kita mendengar suara-suara yang mengganggu selama 35 menit.

Begitu player berhenti, lampu dinyalakan, dan salah seorang petugas MSA mengucapkan, “Jazakallahu khayran.” Sudah, gitu aja.

Alhamdulillah, itu bukan cara Allah mengajari kita 🙂

Memang itu adalah sebuah pengalaman yang luar biasa (a very epic experience). Tapi saat itu beberapa orang bercanda tentang program itu, “Lebih baik daripada mendengarkan kuliah (it’s better than a lecture).” 🙂

Allah tidak ingin melakukan itu karena Dia adalah Ar-Rahmaan. Dan karena kita berada di pihak-Nya. Bagaimana kita tahu bahwa kita berada di pihak-Nya? Aamannaa bihi. Karena kita beriman kepada-Nya. Wa ‘alayhi tawakkalnaa. Kita percaya penuh sama Allah. Apa yang akan terjadi selanjutnya, bukan urusan kita. Itu urusan Allah. ‘Alayhi tawakkalnaa bukan semata-mata pernyataan keyakinan kita. Tapi ‘alayhi tawakkalnaa adalah juga pernyataan yang menentang kafir Quraisy. “Ayo lakukan aja apa yang kalian ingin lakukan, wahai Quraisy. Kalian punya rencana jahat membunuh Nabi, silakan lanjutkan. Kita akan buktikan siapa yang sesat (misguided).”

Ada mubiin di sini setelah juga ada mubiin di ayat sebelumnya. Man huwa fii dholaalin mubiin di ayat ke-29. Wa innamaa ana nadziirun mubiin di ayat ke-26. Allah jelas-jelas memberi peringatan (ayat 26) dan kamu jelas-jelas sesat (ayat 29). Dua ayat yang kontras. Apa pesannya? Jangan bermain-main dengan peringatan yang nyata, supaya tidak terjerumus ke dalam kesesatan yang nyata.

Di ayat terakhir (ayat ke-30), Allah minta Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam untuk membuat mereka berpikir soal air. Kaum Quraisy itu dapat air dari mana? Zamzam. Ayat ini membuat Quraisy berpikir: bagaimana jika Zamzam itu dicabut Allah dari mereka.

Zamzam itu cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka yang hidup di padang pasir yang terik (blazing desert). Zamzam adalah satu-satunya air yang tersedia untuk mereka. Di seluruh Mekah. Tanpa Zamzam, tidak ada yang hidup di Mekah. Kata ma’iin di akhir ayat ke-30 mencakup hal ini: melimpah ruahnya air zamzam.

Pesan dari ayat 30 ini sangat dalam. Orang-orang kafir itu tidak harus menunggu azab yang pedih di neraka (‘adzaabin aliim). Jika Allah berkehendak, bisa saja Allah mencabut Zamzam dan tidak ada lagi sumber air buat mereka.

Beberapa hari yang lain pompa air di rumah saya mati. Sebenarnya bukan pompanya yang bermasalah, tapi ada kabel tanam yang sepertinya korslet saat beban tinggi. Buktinya setelah dibikin kabel bypass yang baru, tidak lagi menggunakan kabel tanam, masalah hilang. Tapi saat masalah itu terjadi, saya harus membeli dua galon air minum selepas shalat shubuh karena anak-anak harus mandi sebelum mobil jemputan sekolah mereka datang. Baru ga ada air sebentar, hidup sudah mulai susah. Bagaimana jika Allah benar-benar mencabut Zamzam buat kafir Quraisy saat itu? Baru dapat masalah ‘ketiadaan air’ saja sudah begitu. Tidak terbayangkan jika harus dimasukkan ke api neraka yang mendidih membara. Na’uudzubillahi min dzaalik.

Semoga neraka berhenti sebagai pengetahuan bagi kita di dunia. Tidak menjadi pengalaman buat kita di akhirat. Allaahumma ajirnaa minannaar.

I’m watching 05. Al-Mulk – A Deeper Look http://bit.ly/2oDqcoH

Resume oleh Heru Wibowo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s