[MFA2019] Abdan Min ‘Ibaadinaa – Andri Yulianto


Surat Al Kahfi, surat yang kita dianjurkan untuk membacanya setiap hari jumat, di dalamnya bercerita tentang 4 kisah. Bagian kisah ketiganya bercerita tentang kisah Nabi Musa AS. Namun pada Surat Al Kahfi ini kisah tersebut disebutkan dengan sangat berbeda dari kisah-kisah dan perjalanan Nabi Musa. Berulangkali ketika berbicara tentang Nabi Musa AS banyak kita temukan dalam Surat-Surat Al Quran, misalnya kisah saat berbicara langsung dengan Allah – saat ketika Nabi Musa memimpin kaum pengikutnya menantang Firaun atau pun kisah teladannya sebagai seorang pemimpin besar maupun tentang kepemimpinannya.

Namun pada bagian kisah Surat Al Kahfi ini, kisah tersebut sangat berbeda dari semua hal yang kita pelajari atau ketahui tentang Nabi Musa AS. Adalah sebuah keadaan dari kejadian yang penuh misteri dimana kita tidak pernah dan tahu persis dimana tempat kisah itu terjadi dimasa perjalanan hidupnya. Kita seakan tahu kisah tersebut terjadi setelah Nabi Musa AS mengarungi lautan. Tetapi kemana dia pergi sebenarnya, kita tidak pernah tahu. Dan Allah memilih untuk tidak memberitahukannya kepada kita.

Namun sesuatu yang ingin saya ceritakan dalam tulisan ini bukan saya ingin membahas seluruh kisah Nabi Musa AS, akan tetapi menyoroti sesuatu yang sudah Allah tetapkan, menggali alasan yang amat dalam tentang kisah tersebut terjadi seperti yang sudah Allah sebutkan dalam Al Quran. Nabi Musa AS adalah nabi yang namanya paling banyak dibicarakan di dalam seluruh isi Al Quran. Tidak ada seseorang yang disebutkan namanya melebihi nama Nabi Musa AS. Nabi Musa AS telah diberikan Kitab, yang mana kitab tersebut juga menjadi kitab yang banyak dibicarakan oleh Nabi Muhammad SAW dibandingkan kitab Nabi-Nabi yang lain. Dalam artian Allah SWT telah memberikan Taurat kepada Nabi Musa AS, setiap generasi setelah Nabi Musa AS meskipun mereka memiliki Nabi-Nabi nya sendiri, mereka membicarakan tentang Kitab Taurat. Begitu kejadiannya secara berulang-ulang.

Banyak Nabi mengambil nilai pelajaran dari apa yang sudah Allah SWT berikan kepada Nabi Musa AS dibandingkan nabi lainnya. Pantas bila Allah SWT mendeskripsikan orang-orang yang mengikuti Nabi Musa AS dalam komunitas yang besar sebagai orang orang yang penuh kebesaran (People of Akhbar) , penuh ilmu (people of ink) dan pengetahuan (people of knowledge). Dan orang-orang berilmu dari Bani Israel, keturunan Nabi Yusuf AS adalah orang – orang yang telah mempelajari ilmu, pengetahuan dan mereka menyadarinya. Sehingga berarti orang –orang ini sudah mendalami ilmu dan pengetahuan. Ilmu dan pengetahuan ini adalah sesuatu yang mereka miliki dari Allah. Allah yang memberikan kepada mereka. Meskipun mereka telah mengganti isi kitab mereka, akan tetapi mereka masih memiliki beberapa ilmu dan pengetahuan dari yang mereka miliki sebelumnya. Sehingga Allah menyoroti status ketinggian ilmu dan pengetahuan yang dimiliki Nabi Musa AS berulang-ulang. Akan tetapi pada bagian akhir kisahnya di surat Al-Kahfi, beliau bukan menjadi seorang guru namun dia menjadi seorang murid. Nabi Musa AS yang dalam setiap skenario kejadian atau kisah sebagian besar sebagai sosok guru, namun dalam perjalanan kisah kali ini beliau menjadi seorang murid. Dan ini tidak terjadi pada kisah-kisah Nabi Musa AS yang ada di bagian-bagian awal dalam Al Quran.

Kita tahu bahwa saat berpikir tentang pencapaian tingkat pendidikan seseorang, semakin dini seseorang mulai belajar, maka dalam rentan kurun beberapa waktu kemudian akan memiliki kualifikasi-kualifikasi keahlian tertentu yang mana akan menjadikan dirinya menjadi guru bagi yang lainnya. Itu adalah proses perkembangan pembelajaran yang wajar. Akan tetapi dari kejadian-kejadian nyata yang pernah terjadi pada hidup Nabi Musa AS, setelah Nabi Musa AS menjadi guru seperti kejadian ia menjadi guru dari kenyataan perjalanan hidupnya, setelah ia mendapatkan Kitab Taurat, setelah ia dididik langsung oleh Allah, hingga beliau menjadi orang paling berilmu diatas muka bumi melebihi yang lainnya. Tidak ada yang tahu siapa yang lebih berilmu dibandingkan Nabi Musa AS.

Namun Allah kemudian mengatakan kepadanya. Ada seseorang yang lebih berilmu dibandingkan dia, Nabi Musa. Dan Nabi Musa AS harus pergi untuk belajar kepadanya. Ini sungguh kisah yang menarik. Sekarang, seseorang yang dikatakan dalam Al Quran telah mempunyai kelebihan ilmu dari siapapun yang lain. Namun Allah menyuruh dia, Musa AS. Bahwa kamu perlu pergi untuk belajar kepada seseorang yang lain.

Dan sesuatu yang lebih. Seorang yang telah terpelajar. Kualifikasi lebih yang mereka miliki. Mandat yang mereka miliki statusnya menjadi paling tinggi dalam masyarakat. Saya tidak berbicara tentang orang yang berpengetahuan atau ilmu agama. Hanya orang-orang yang mendapat gelar PhD dan kita hormati. Dan orang-orang bergelar Professor di Universitas yang itu semacam prestige. Dan kita tahu hal itu. Bahkan ketika merayakan kelulusan baik kelulusan dari SMA, kuliah, gelar master, doktoral, atau belajar islam, kita mendapatkan ijazah. Atau kita menyelesaikan hafalan Al Quran. Bahkan ketika seseorang mencapai sesuatu dalam pendidikan, statusnya akan naik menjadi lebih diakui di masyarakat. Orang – orang lebih mendengarkan perkataan mereka dan mendapatkan kepercayaan yang lebih dari masyarakat.

Namun orang yang Allah gambarkan dalam kisah Al Kahfi ini, hanya lebih berilmu dan berpengetahuan secara jelas dibanding Nabi Musa AS. Nabi Musa AS sampai harus kelelahan melakukan perjalanan melewati gunung untuk belajar kepadanya. Tidak ada seseorang yang mengenalnya. Sesuai faktanya. Hal yang paling menarik disini bahkan tidak ada orang yang tahu siapa namanya.

Di Al Quran, Allah juga tidak menyebutkan namanya. Ya , dalam tafsirnya kita tahu namanya adalah Khidir atau Khadir. Ada variasi dalam penyebutan namanya. Namun Allah dalam kalimatnya yang sempurna (Quran) memutuskan tidak mengatakan siapa guru nabi Musa AS. Allah tidak menyebutkan namanya.

Namun bagaimana Allah mendeskripsikan orang ini (guru nabi Musa), ini adalah pelajaran yang sungguh ingin saya sampaikan. Allah berfirman :

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

” Fawajadan min ngibadina aatainaahu rokhmatan min ngindinaa wangallamnaahu milladunnaa ngilman.

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. ( Al Kahf:65).

Yang berarti Nabi Musa AS dan asisten mudanya, mereka berjalan bersama, dan akhirnya menemukan guru yang dicari. Mari kita perhatikan hal ini dengan baik-baik.

Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami. “Is a slave from among Our slaves.”

Ungkapan yang lebih tepat adalah salah satu dari hamba-hamba Kami. Mereka (Nabi Musa dan asisstantnya) hanya menemukan salah seorang hamba Allah dari hamba-hamba Allah SWT yang lainnya.

Satu hamba berarti mendeskripsikan kondisi yang sama dari hamba-hamba Allh Swt yang lain.

Itu adalah deskripsi yang spesial. Kita belajar sesuatu yang amat dalam disini. Bagi Allah, kedudukan lebih tinggi dan ilmu lebih yang dimiliki seseorang, mereka hanya lebih akan diidentifikasi sebagai salah satu dari hamba hamba yang lain.

Hal itu tidak membuat mereka merasa lebih special dari siapapun yang lainnya. Semua itu membuat mereka menyadari sebenarnya bahwa mereka hanya salah seseorang diantara siapapun yang lainnya. < Innani minal muslimin > .

Saya bukan orang yang lebih tinggi (superior) dari siapapun lainnya. ┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅┅

Hari ini , di era dunia yang bergerak begitu cepat dan penuh kekhawatiran seringkali jiwa ini ingin selalu tampil. Dengan setetes ilmu yang dimiliki merasa bahwa harus diakui oleh banyak orang dan menyebutkan kebanggaan diri. Sungguh, menghentikan jiwa yang haus akan sanjungan orang begitu berat. Barangkali sampai lupa, semua yang dilakukan telah menjadi debu yang berterbangan.

Semoga dimomen ini, mampu menginsyafi diri. Bahwa setiap jiwa ini hanya setitik kecil dari puncak alam semesta. Dan setiap ilmu yang dimiliki. Akhirnya menjadi pemberat untuk kembali ke asalnya. Bukan untuk berbangga diri.

 

Source: Khutbah Jumat Nouman Ali Khan with title “His Plan “

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s