[MFA2019] Pinjaman Kepada Allah – Venessa Allia


img-20190518-wa00031286750822.jpg

“مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ”

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.”

  • (Q.S. Al-Hadid:11)

“Loan to Allah” adalah judul video kajian Ustad Nouman Ali Khan (NAK) yang tersedia pada kanal Bayyinah Institute di Youtube. Materi ini disampaikan Ustad NAK saat berada di Masjid Al-Quds, Cape Town, Afrika Selatan. Saya tertarik dengan judulnya, pinjaman kepada Allah (loan to Allah), terdengar sangat transaksional. Penasaran, saya klik video tersebut dan dengarkan penjelasan Ustad selama ± 27 menit. Alhamdulillah, Allah bukakan ilmu dan pemahaman baru yang sangat bermanfaat bagi saya. Manfaat itulah yang menggerakan saya untuk menulis. Saya merasa wajib untuk membagikan manisnya ilmu ini.

Pinjaman kepada Allah (loan to Allah) adalah bagian dari Q.S. Al Hadid ayat 11 dan 18 serta Al Baqarah ayat 245. Pada ayat tersebut terdapat kata “qardan”, yang diterjemahkan sebagai loan atau pinjaman. Kata dasarnya adalah “quradha” artinya bagian kecil. Jadi misal kamu punya baju yang digigit tikus, tikus tersebut hanya menggigit sebagian kecil bajumu untuk dia makan. Bagimu sebagai pemilik baju, gigitan tikus di baju itu hanyalah lubang kecil. Tapi bagi si tikus potongan kecil itu adalah segalanya. Dengan kata lain, pinjaman yang dimaksud dalam ayat ini sebenarnya bukanlah sebuah pengorbanan yang mengerikan bagi si pemberi atau dalam hal ini bagi manusia.   

Kata “qardan hasanah” atau pinjaman yang baik dalam ayat ini juga sangat unik. Kita sama-sama tahu bahwa Allah punya segalanya sementara manusia tidak punya apa-apa. Semua yang manusia miliki adalah atas izin Allah. Lihatlah darah yang ada dalam tubuh kita, darah itu ada dan mengalir atas izin Allah. Jadi manusialah yang sejatinya meminjam dari Allah. Tapi Allah tahu sekali sifat manusia. Manusia ketika sementara waktu memiliki sesuatu, maka mereka lupa. Lupa bahwa segala yang ada hanya pemberian. Dan ketika Allah berkata “berikan pada-Ku”, manusia akan merasa memilikinya. Manusia akan berkata “Ini milikku, punyaku, it is mine.” Sifat tamak akan muncul di hati. Padahal “qard” atau pinjaman kepada Allah tersebut tidak akan menyakiti manusia. Manusia memikirkannya karena setan berusaha membuat manusia berpikir seperti itu. Kita tiba-tiba saja menjadi seorang akuntan saat beramal, tapi menghabiskan uang tanpa berpikir ketika memilih makanan di restoran. Kesuksesan besar bagi manusia adalah ketika dapat menaklukan ketamakan dalam hati. Dan Al-Quran, hadir sebagai pengingat bagi hati manusia.

مَّن ذَا ٱلَّذِى يُقْرِضُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًۭا فَيُضَـٰعِفَهُۥ لَهُۥ وَلَهُۥٓ أَجْرٌۭ كَرِيمٌۭ

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. [Surat Al-Hadid (57) ayat 11]

Kata “qardan hasanah” pada Q.S Al-Hadid ayat 11 juga bermakna bahwa terserah Allah, kapan Dia akan ‘mengembalikan’ pinjaman kita. Allah katakan bahwa Dia akan mengembalikan kepada kita berlipat ganda dari yang kita berikan. Dan Allah tidak membatasi kapan waktunya. Dia tidak memberi tahu kita kapan dan bagaimana pinjaman itu akan dikembalikan, tapi justru disitulah tantangannya! Kita diminta percaya sepenuhnya bahwa Allah akan memberikan dengan berlipat ganda.

Mungkin kamu mengira bahwa “qardan hasanah” adalah tentang materi, tapi sebenarnya pinjaman yang baik itu bukan hanya soal uang atau materi, melainkan jauh lebih luas dari itu. Allah ingin kita memberi dengan apapun yang Allah izinkan kita miliki. Hal ini berarti semua hal, mencakup intelektual, bakat, penglihatan, dan sebagainya. Demikian juga apa yang kita dapat dari Allah, bentuknya bisa jadi sesuatu yang jauh lebih berharga dari materi. Allah dapat memberimu takwa serta hati yang kuat, dan semua itu jauh lebih berharga dari materi. Karena akan tiba waktu, dimana materi, uang dan harta menjadi tidak ada harganya sama sekali.

Penjelasan surat Al Hadid ayat 11 begitu mengena untuk saya. Saya mengerti sekarang bahwa semua yang Allah berikan kepada manusia adalah sesuatu yang harus kita kembalikan kepada Allah, di jalan Allah. Jiwa, raga, ilmu, bakat, waktu, segalanya yang Allah telah berikan, harus dihabiskan untuk sesuatu yang Allah sukai. Karena itu semua semata-mata milik Allah, bukan milik manusia. Jadi kita tidak punya hak untuk menggunakan semua pemberian ini seenaknya. Semakin saya pikirkan, semakin saya merasa penjelasan ini sangat logis.

Terakhir, lesson learn yang saya terima adalah soal beramal dengan materi. Walaupun memang “qardan hasanah” bukan hanya soal materi, tapi gambaran Ustad NAK soal ketamakan sangat menampar saya. Ya ampun, rasanya mudah sekali mengeluarkan Rp 200.000 untuk online shopping, rasanya itu bukan jumlah yang besar. Tapi mengeluarkan uang senilai yang sama untuk masjid atau kegiatan amal rasanya begitu berbeda. Yeah, tiba-tiba saja rasanya nilai uang tersebut menjadi begitu besar. Padahal saat kita menghabiskan uang untuk dunia, nilainya akan habis di dunia. Sementara membelanjakan uang untuk beramal karena Allah, nilainya akan terjaga abadi hingga akhirat nanti.

Semoga kita selalu ingat bahwa apa yang kita miliki adalah pemberian Allah. Semoga kita selalu ingat tentang “qardan hasanah”. Semoga Allah mengampuni kita dan memberikan kita balasan kebaikan yang berlipat ganda.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s