Memeriksa Kembali Cara Kita Berbuka – Heru Wibowo


Kemarin bibi di rumah bikin kolak enak banget. Isinya tidak cuma pisang, kolang-kaling, dan ubi. Aku tidak tahu ingredients apa lagi yang yang ditambahkan, tapi yang jelas racikannya oke punya. Mangkuk pertamaku habis dalam sekejap setelah adzan Maghrib. Sebelum tidur, aku ingat-ingat lagi, tidak kurang ada tiga mangkuk yang aku habiskan sendiri.

Paginya aku baca sebuah postingan di grup WhatsApp keluarga. Sebuah artikel tentang Imam Malik yang meneteskan air mata saat berbuka. Karena teringat kisah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Beliau berbuka dengan tiga butir kurma dan sedikit air saja. Namun Baginda sangat menikmatinya. Penuh rasa syukur. Bahkan tidak jarang Baginda berbuka dengan sebutir kurma yang dibagi bersama Aisyah. Tapi Beliau sangat-sangat menikmatinya.

Rasulullah menyedikitkan sahur dan berbuka, tapi memperbanyak ibadah dan bersyukur.

Sebaliknya, meja makan kita penuh hidangan saat sahur dan berbuka, tapi kita sangat jauh dari ibadah dan rasa syukur!

Meski saya bukan Malik Abdul Aziz alias Mike Tyson, saya seperti terkena jab, hook, dan uppercut sekaligus. Ya, tiga-tiganya. Masing-masing untuk satu mangkuk racikan bibi.

Ustad Nouman pernah mengutip hasil survei yang mencengangkan: berat badan umat Islam di negara-negara Arab justru naik di bulan Ramadan! Bahkan di negara-negara Teluk, ada perjamuan yang sering berlanjut hingga larut malam sehingga banyak Muslim yang justru bertambah berat badannya di bulan Ramadan. Bulan, yang seharusnya membuat kita meningkat kesehatannya, dan mengingatkan kita untuk berempati dengan kaum miskin. (The banquet often continues late into the night in Gulf Arab countries, and many Muslims end up gaining weight during a month that is meant to improve health and remind the devout of the plight of the poor).

Selama ba’da salat Subuh hingga Maghrib, perutku terus meronta. Tenggorokanku mengalami kekeringan Ethiopia. Tapi keduanya berhasil ditaklukkan. Ruh tetap pegang kendali.

Saat azan Maghrib menggema di masjid dan stasiun televisi, keadaan berubah. Aku izinkan ruh mengendorkan tali kekangnya. Hasrat perut dan tenggorokan menaiki singgasana. Entah apakah dengan cara buka puasa seperti itu aku masih bisa mengejar taqwa.

Bani Israil dulu juga puasa. Tapi mereka gagal mencapai taqwa. Sekarang giliran kita, umat Muhammad. Akankah kita mengikuti jejak Bani Israil?

Mungkin memang perlu ada yang diperbaiki dari cara kita berbuka.

https://t.co/wo5nMm6p4U

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s