Berbuat Adil Terhadap Ayat Kecurangan – Heru Wibowo


Ayat ini mendadak viral. Menyoal kecurangan dalam pemilu 2019.

(وَیۡلࣱ لِّلۡمُطَفِّفِینَ)

Waylullilmuthaffifiin. Celakalah orang-orang yang curang (QS Al-Muthaffifin, 83:1).
.
Ayat ini membela keadilan. Ayat ini membela kejujuran. Ini yang saya suka dari ayat ini.

Siapapun atau pihak manapun yang curang, kasihan mereka. Kalo Allah bilang celaka, maka mereka akan celaka beneran. Tentu kita tidak ingin mereka celaka. Jadi kita doakan semoga mereka bertaubat sebelum celaka.

Sejauh pengamatan saya, ayat ini telah viral tanpa pemahaman yang proporsional. Tidak ada penjelasan tentang konteksnya. Ayat ini telah dijadikan semacam senjata. Padahal Al-Qur’an sebagai nasihat seharusnya dua arahnya. Nasihat untuk yang dinasihati dan sekaligus juga untuk yang menasihati. Kita telah berbuat tidak adil terhadap ayat ini.

Tulisan ini mengajak kita untuk fokus memperbaiki diri. Kita manfaatkan ayat ini untuk muhasabah. Untuk melakukan audit diri. Jauh sebelum audit paripurna dari Allah ‘azza wa jalla. Jauh sebelum semuanya terlambat. Mumpung masih ada waktu.

Ini bukan perkara yang kecil. Vonis celaka dari Allah adalah urusan besar. Dan berlaku untuk kecurangan sekecil ujung kuku sekalipun.

*****

Ada pendapat bahwa ini adalah ayat pertama yang turun di Madinah. Ada juga pendapat bahwa ini adalah ayat terakhir yang diturunkan di Mekah. Ustadz Nouman condong ke pendapat yang terakhir, karena Mekah adalah pusat perdagangan (center of trade) saat itu. Sedangkan masyarakat Madinah bergerak di bidang pertanian (farming society).

Ada satu hal lagi yang membuat kita makin yakin bahwa pendapat yang kedua lebih kuat. Kita tahu bahwa Al-Qur’an itu basyiiran wa nadziiran. Kabar gembira datang lebih dulu, setelah itu baru umat diberi peringatan. Surat Al-Muthaffifin, ayat pertamanya langsung berisi peringatan. Jadi kecil kemungkinannya ayat ini turun pertama di Madinah.

Lebih tepatnya, ayat ini turun terakhir di Mekah, setelah sebelumnya diturunkan ayat-ayat yang memberikan kabar gembira.

Yang bisa dipastikan, ada perbedaan pendapat terkait konteks tema ayat ini. Yaitu bahwa ayat ini menyoroti praktek bisnis yang buruk (bad business practices).

*****

Tentang muthaffifiin, Ustadz Nouman memberikan ilustrasi yang menarik. Ambillah sebuah botol minuman yang kosong. Posisikan botol kosong itu tegak di atas meja. Isi dengan air secara perlahan, dan makin pelan saat pengisian sudah hampir mencapai mulut botol di bagian atas. Ketika ada air yang luber keluar dari botol, meski setetes dua tetes, itu lah thifaf.

Atau seseorang yang mengisi kantong beras. Diisi, diisi, diisi lagi, sampai ada yang tumpah (spill over). Itu lah thifaf.

Atau saat anak dari Ustadz Nouman berada di restoran pizza. Ada taburan bawang putih (garlic) di atas pizza dan juga butiran-butiran gandum (grain) di atasnya. Itu juga thifaf.

Jadi thaffafa berarti mendapatkan sedikit tambahan di atasnya atau menghilangkan sedikit tambahan di atasnya. Hanya sedikit.

*****

Seorang penjual beras di jaman old, menimbang dengan akurat disaksikan oleh pelanggan. Tapi saat akan mengikat karung berasnya, dia melakukan gerakan super kilat mengurangi sedikit beras. Sehingga karung itu hanya berisi 99% dari yang seharusnya. Ini contoh muthaffifin yang dilakukan oleh pihak penjual.

Pihak pembeli juga bisa melakukannya. Ada orang yang menukar label harga supaya dia bisa membeli barang itu dengan harga yang lebih murah. Ini terjadi di supermarket jaman old sebelum penggunaan barcode.

Di jaman now, muthaffifin menjelma dengan bentuk yang berbeda.

Saya pernah belanja di sebuah ritel dan menginput harga dari setiap belanjaan yang saya masukkan ke shopping cart di kalkulator hp saya. Begitu dihitung di kasir, jatuhnya lebih mahal. Ritel ini telah menagih tidak sesuai label yang dipasang.

Trik yang lain adalah bilang ke pembeli bahwa kembaliannya tidak ada. Supaya beli barang yang lain yang mungkin tidak dibutuhkan. Atau malah mengikhlaskan kembalian. Ini bisa dihindari dengan card payment.

Istri saya selalu meneliti semua belanjaan yang dibeli, dicocokan dengan struk tagihan. Suatu kali, dia menemukan bahwa ikan yang dibeli dan sudah dibawa pulang tidak tercantum di struk tagihan. Sepertinya kasir terlewat menginputnya. Dia harus kembali ke supermarket itu. Jika tidak, dia ambil resiko masuk golongan muthaffifin.

Untuk transaksi tradisional, potensi muthaffifin ini mungkin terjadi. Saya sendiri pernah mengalaminya. Dapat kelebihan kembalian. Penjualnya salah hitung. Saya kembalikan saat itu juga.

Di sebuah pabrik, salah satu agenda monthly meeting setiap awal bulan adalah presentasi tentang 20 nama yang paling telat masuk dan 20 nama yang paling cepat pulang selama satu bulan sebelumnya. Jadi ketahuan siapa-siapa yang paling curang soal jam kerja.

Di lapangan tenis, tidak ada bedanya. Niat awalnya cari keringat supaya sehat. Tapi karena hasrat tidak ingin kalah, ada yang rela menjerumuskan dirinya sendiri ke lembah muthaffifin. Bola smash dari lawan yang mengenai garis putih dibilang out. Padahal harusnya masuk.

Bagi Allah, muthaffifin bukan perkara yang kecil. Tidak tergantung dari besar kecil nilainya. Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah menggambarkan nilai yang kecil dengan sebuah slilit dalam bukunya Slilit Sang Kiai.

Semoga diri kita terhindar dari segala bentuk kecurangan, sekecil apapun. Setan pasti suka sekali meniupkan gagasan ke dalam diri kita “curang saya kan ga ada apa-apanya dibandingkan dia”. Tapi kita tolak mentah-mentah ide itu. Karena kita tidak mau ikut-ikutan terkena vonis celaka dari Allah ta’ala.

*****

Source:

Bayyinah TV > Quran > A Deeper Look > Surahs 81-99 > Al-Mutaffifin > 01. Al-Mutaffifin (Ayat 1-17) – A Concise Commentary

Advertisements

One thought on “Berbuat Adil Terhadap Ayat Kecurangan – Heru Wibowo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s