[Transkrip Indonesia] Terhubung Kembali Dengan Quran 1 – Nouman Ali Khan Di Masjid Istiqal


Terhubung Kembali Dengan Quran – Nouman Ali Khan

MC: Ibu-ibu, Bapak-bapak, yang dirahmati oleh Allah, marilah pertama-tama kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak lupa kita berikan shalawat dan salam kita, kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad ﷺ‬. Alhamdulillah, hari ini kita masih diberikan nikmat Islam, untuk bisa berkumpul di dalam acara menyambut Ramadan: “Reconnect with Al-Qur’an”, dengan Ustad Nouman Ali Khan.

Ibu-ibu, Bapak-bapak, saudara-saudaraku, bulan Ramadan sebentar lagi akan kita masuki. Dan belum tentu di antara kita berkesempatan untuk mendapatkan Ramadan setiap tahunnya. Seperti kita ketahui bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah, bulan penuh rahmat. Kita berharap, tahun ini kita bisa menemui Ramadan, dan menjalankan ibadah dengan sesungguh-sungguhnya, sehingga kita benar-benar bisa mendapatkan kemenangan. Dan pada kesempatan kali ini, sebelum kita mulai sesuatu yang baik, dalam acara ini saya mengajak Ibu-ibu, Bapak-bapak, semuanya yang hadir, untuk terlebih dahulu kita bacakan basmalah. Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Ibu-ibu, Bapak-bapak, Saudara-saudaraku, sesama umat Muslim, saya akan bacakan susunan acara kita pada kesempatan kali ini. Acara akan dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, yang akan dibacakan oleh Ustad Agus Al-Husna. Lalu kita akan mendengarkan ceramah, bersama Ustad Nouman Ali Khan, dengan topik atau tema: “Reconnect with Al-Qur’an”

Untuk ceramah kali ini akan terbagi menjadi dua sesi: Sesi pertama, sekarang sampai menjelang salat Asar. Nanti setelah salat Asar, kita akan lanjutkan lagi masuk ke sesi kedua. Jadi saya minta tolong dengan sangat, karena adanya perpindahan waktu, adanya jeda waktu pada saat pelaksanaan salat Asar, untuk bisa hadir kembali, untuk mengikuti sesi keduanya. Dan setelah itu, kita masuk ke acara penutupan.

Baik, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudaraku umat Muslim, kita masuk ke acara kita yang pertama yaitu pembacaan ayat suci Al-Qur’an, yang dibacakan oleh Ustad Agus Al-Husna, Sahabat Al-Qur’an. Kepada Ustad Agus Al-Husna, kami persilakan.

//Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
//(Pembacaan QS. Al-Baqarah ayat 185-186)
//(Pembacaan saritilawah QS. Al-Baqarah 185-186)

//Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
//Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.
//Terima kasih, Ustad Agus Al-Husna.

MC: Tadi kita sama-sama telah mendengarkan pembacaan ayat suci Surah Al-Baqarah 185-186. Di mana, dengan ayat ini diingatkan bahwa salah satu keistimewaan bulan Ramadan, dan kenapa kita puasa di bulan Ramadan, adalah karena turunnya Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai “Al-Huda”, dan juga sebagai pembeda. Jadi, di sini juga dijelaskan, tentang kita, seandainya kita memiliki kesulitan, kita berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena sesungguhnya Allah itu dekat dengan kita.

Baik, Ibu-ibu dan Bapak-bapak, yang dirahmati oleh Allah, setelah tadi kita mendengarkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kita akan melangkah, akan masuk ke acara utama kita, yaitu, ceramah oleh Ustad Nouman Ali Khan, dengan tema: “Reconnect with Qur’an”. Ibu-ibu dan Bapak-bapak, kita sambut, Ustad Nouman Ali Khan. Takbir! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

MC: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh Ustad.

Ustadz Nouman: Wa ‘alaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

MC: Ustad, dengan tema kita hari ini, Reconnect with Qur’an, sebelum Anda mulai ceramah, saya ingin mengajukan pertanyaan, Boleh?

Ustadz Nouman: Ya.

MC: Oke, pertama, mengapa sangat penting untuk memperbaharui hubungan dengan Quran? Mengingat, mungkin beberapa dari kita di sini, para penonton, mereka sudah membaca Qur’an setiap hari.

Ustadz Nouman: Ya.

MC: Apa makna sesungguhnya? Apakah ada… lebih, lebih lagi… arti yang lebih luas lagi? Atau ada makna lain di balik itu?

Ustadz Nouman: Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah, wasalatu wassalamu ‘alla Rassulillah wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in. Ini pertanyaan yang sangat sulit, untuk semua Muslim. Karena kita semua memiliki rasa cinta pada Al-Qur’an. Setiap Muslim yang mengatakan, “Laa ilaaha illallah”, setiap Muslim yang mengatakan, “Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, percaya pada Al-Qur’an, menghormati Al-Qur’an, mencintai Al-Qur’an, bahkan membaca Al-Quran. Banyak dari Anda… Masya Allah, para penghafal Al-Qur’an. Atau Anda mendengarkan murattal Al-Qur’an setiap hari. Beberapa dari Anda bahkan mempelajari Al-Qur’an, yang mempelajari tafsir Al-Qur’an, makna Al-Qur’an. Beberapa dari Anda punya terjemahan Qur’an di rumah Anda, dan Anda membacanya setiap hari. Semua yang kita lakukan ini adalah untuk mencoba agar tetap terhubung dengan Al-Qur’an. Tapi apa yang saya ingin sampaikan dalam ceramah hari ini adalah untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu untuk, mungkin, menghayati kembali apa makna dari… terhubung dengan kalam Allah (Qur’an).

//Dan, apa Anda ingin saya mulai sekarang?
//Ya, silakan Anda bisa mulai sekarang.
//OK.

Biidznillah, Jadi pertama-tama, saya ingin mengatakan bahwa saya merasa sangat terhormat, saya bisa berada di sini, di Jakarta untuk pertama kalinya. Dan hanya dengan berada di tanah Muslim saja sudah membuat saya sangat bahagia. Allah telah memberkahi negeri ini dengan laa ilaha illallah, dan saya datang ke sini, ini perjalanan yang sangat singkat, Saya akan segera pergi, tapi, Saya akan banyak berdoa untuk Anda, agar Allah عَزَّ وَجَلَّ menjadikan negara ini sebagai teladan, untuk seluruh Umat Islam, dan teladan untuk seluruh dunia tentang bagaimana Islam, keindahan Islam yang sebenarnya.

Apa yang ingin saya bagi kepada Anda hari ini yaitu tentang hubungan dengan Al-Qur’an, akan dimulai dengan…topik yang mungkin Anda pikir berbeda. Tapi, di akhir nanti Insya Allahu Ta’ala, saya harap Anda akan melihat semua ini saling berhubungan.

Kisah Ibrahim ‘alaihisalam

Saya ingin memulai dengan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam. Kita akan mulai hari ini dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam. Saya tahu saya punya dua sesi hari ini, sesi pertama sekitar 40 menit, lalu kita istirahat untuk salat, lalu kita kembali lagi, dan sesi kedua saya akan mencoba untuk menyelesaikan apa yang saya mulai di sesi ini, jadi… Ini, sesi pertama akan dibahas setengah cerita, dan kemudian di sesi berikutnya akan menjadi cerita yang lengkap, Insya Allahu Ta’ala.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, seperti yang Anda semua tahu,hidup di tengah masyarakat, di mana Nabi Ibrahim adalah satu-satunya manusia yang menerima hidayah. Tidak ada orang lain yang menerima hidayah. Ayahnya tidak beriman, beberapa ulama mengatakan yang dimaksud adalah pamannya, yang tidak beriman, bahkan dialah yang membangun berhala. Semua orang di sekelilingnya menyembah berhala.

//Anda ingin saya memegang ini? Iya?
//OK, Saya pegang.

Semua orang di sekelilingnya menyembah berhala. Jadi, dia merupakan satu-satunya yang beriman kepada Allah. Dan ketika dia beriman, dan tetap dalam keimanannya, dia mendapat banyak masalah dari keluarganya sendiri. Bahkan Nabi Ibrahim sampai menyatakan, (QS. 60: 4) إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ bersama orang-orang yang percaya padanya berkata, Dalam Al-Qur’an, mereka berkata, “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu.” (QS. 60: 4). Intinya dalam bahasa saat ini: Anda melepaskan kewarganegaraan Anda. Saya bukan lagi warga dari tempat ini. Saya pergi dari sini.

Ketika dia melakukan ini, saat dia pergi, dia berbicara kepada Allah. Dia berkata kepada Allah. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam Al-Qur’an… sangat berbeda dari para Nabi lainnya. Karena Anda menemukan lebih banyak doa darinya dibanding dari Nabi-Nabi yang lain. Anda menemukan banyak doa datang dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Hal ini penting karena Islam… memiliki banyak nama. Dan salah satunya adalah millati Ibrahim, (artinya) agama Ibrahim, warisan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Dan inti dari agama ini adalah memanjatkan banyak doa.

Jadi dia berdoa dengan doa ini, dia membuat pernyataan kepada Allah: Dia berkata,

(QS. 26: 78) – الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ
“Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang membimbingku.”

Dia yang membimbingku aku. Ada dua bagian. Dia telah menciptakan aku. Dan Dia membimbingku.

Allah menciptakan kita semua, tapi untuk kebanyakan orang,

(QS. 23: 115) – أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, Kami menciptakan kamu tanpa tujuan… dan kamu dapat melakukan apa saja yang kamu mau? Dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengerti, Allah tidak hanya membuatku. Dia tidak hanya membuat tangan, mata, kaki, dan tubuhku. Dia tidak hanya memberiku kemampuan untuk berbicara. Dia juga memberi petunjuk. Dia memberitahuku cara hidup. Dia memberi aku panduan. Bayangkan hanya dia satu-satunya yang mengatakan ini, tidak ada orang di sekitarnya yang beriman. Karena itu dia berkata, “Allah tidak hanya menciptakan aku, tapi Dia juga terus membimbingku.”فَهُوَ يَهْدِينِ

lalu dia berkata,

(QS. 26: 79) – وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ
“(Tuhanku) Dia memberi makan kepadaku dan Dia memberi minum kepadaku.”

Subhanallah! Yang pertama kali dia sebut adalah petunjuk, baru setelah itu dia menyebut makanan, kemudian minuman. Allah memberi kita semua makanan dan minuman. Nabi Ibrahim mengerti setelah dia diciptakan, kebutuhan dasar nomor satu adalah petunjuk. Dan kebutuhan itu lebih penting daripada makanan… dan lebih penting daripada minuman.

Anda tahu kan, makanan dan minuman, kita tidak membutuhkannya sepanjang waktu.
Ketika Anda butuh makanan, Anda makan. Anda akan baik-baik saja selama beberapa jam, lalu Anda perlu makan lagi, dan kenyang untuk beberapa saat. Beberapa di antara Anda memiliki masalah, perlu makan setiap lima menit. Tapi bagi kebanyakan dari Anda, mengambil jeda sebelum makan lagi. Sama halnya dengan minuman. Semakin panas cuaca, semakin banyak Anda harus minum. Semakin panas, semakin banyak Anda harus minum.

Dia meletakkan petunjuk sebelum hal lainnya, hampir dapat dikatakan, “Anda perlu bimbingan rutin yang lebih, lebih rutin dibandingkan kebutuhan untuk makan, dan lebih rutin dibandingkan kebutuhan untuk minum.” Dan Allah memberi saya kebutuhan paling dasar terlebih dahulu, kemudian Dia memenuhi kebutuhan saya untuk makan dan minum.

Saya ingin Anda memikirkan hal ini juga, kita makan setiap hari, kita sudah makan hari ini. Terkadang kita hanya mengatakan… Anda lihat apel di depan Anda, jeruk di depan Anda, segelas air, sesuatu yang Anda makan, lalu Anda berkata, “Bismillahirrahmanirrahim”, dan memakannya. Tapi apa kita pernah sejenak berpikir, pisang ini, atau apel ini, dari mana mereka berasal? Awalnya ini benih. Pada awalnya ini hanya sebuah benih, bukan apa-apa. Dan dari bukan apa-apa, Allah kirimkan air dari langit. Allah biarkan benih itu mulai tumbuh menjadi tanaman, yang akhirnya berubah menjadi pohon. Butuh waktu bertahun-tahun. Dan setelah bertahun-tahun pohon itu berbuah. Kemudian buahnya dipetik oleh petani, dimasukkan ke dalam keranjang, dan kemudian dijual di pasar. Dari pasar, buah itu sampai ke toko tempat Anda belanja, lalu Anda mengambilnya. Dan buah itu menempuh perjalanan jauh ke rumah Anda, sekarang Anda bisa memakannya. Pengiriman itu… dari awal buah itu berasal sampai ada di depan Anda.

(QS. 80: 24) فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.”

Ketika Anda punya sepiring makanan di depan Anda, ada tomat… nasi, bawang, dan beragam bahan makan lainnya, tiap bahan makanan tersebut datang dari berbagai belahan dunia. Dan bahan-bahan itu sampai ke piring Anda, sampai akhirnya di tangan Anda, supaya Anda bisa makan. Kita tidak sering memikirkan hal ini, Kita hanya berpikir, “Ah, hanya pisang? Tak ada jeruk?” “Iftaar macam apa ini?”

(QS. 26: 79) – وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ

Nabi Ibrahim memikirkan terus hal ini, “Allah yang memberiku makan, Allah memberiku minum.” “Tanpa Dia memberiku makanan dan minuman, aku akan kelaparan.” Ini adalah ungkapan rasa syukur dalam diri Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam.

Anda akan berpikir, saya ingin Anda memahami apa yang terjadi. Dia diusir dari rumahnya. Tidak punya tempat tinggal. Dia diusir dari negerinya. Tidak punya kampung tinggal. Dia tidak punya negara, tidak punya pengikut. Dia tidak punya keluarga. Pada saat itu Anda akan berpikir, “Di mana aku akan dapat makanan?” “Di mana aku akan dapat minuman?” “Apa yang harus kulakukan? Ke mana aku akan pergi?” “Bagaimana aku akan hidup?”

Nabi Ibrahim berkata, فَهُوَ يَهْدِينِ (QS. 26: 79) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ

“Dia yang akan membimbing aku ke mana harus pergi.” “Aku dalam bimbingan-Nya. Ini cukup, aku baik-baik saja.” “Dan Dia yang akan memberiku makanan.” Nabi Ibrahim tidak punya rumah, di mana dia akan dapat makanan? Dia tidak punya minum, di mana dia akan dapat minuman? Inilah saat di mana Anda mulai khawatir akan banyak hal. Inilah saat di mana Anda berpikir, “Bagaimana saya akan bertahan hidup?”

Dan ini adalah saatnya dia membuktikan, inilah saatnya dia kembali kepada Allah dan berkata, “Aku baik-baik saja karena aku punya Allah.” Inilah yang ia katakan. Ini bukan sekadar kata-kata saja. Anda biasa membaca terjemah kata-kata, (tapi) Anda lupa apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim ketika dia mengucapkan kata-kata ini. Kata-kata ini sangat kuat.

Ketika saya dan Anda mengalami masalah, Anda kehilangan pekerjaan, Anda sakit, kalian tahu, adakalanya dalam keluarga, orang yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal. “Bagaimana kita akan bayar sewa rumah?” “Dari mana kita bisa mendapatkan uang?” Ini adalah pikiran yang ada di kepala kita. Pada saat pikiran itu muncul, saya dan Anda dapat mengatakan,

(QS. 26: 78) الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ
“(Allah) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang membimbingku.”

(QS. 26: 79) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ
“(Tuhanku) Dia memberi makan kepadaku dan Dia memberi minum kepadaku.”

Itulah agama Ibrahim ‘alaihissalaam. Saat itulah Anda tahu bahwa Anda mengikuti agama Ibrahim ‘alaihissalaam. Pada momen itu, Anda dapat mengingat warisan yang ditinggalkannya. (QS. 3: 95) – فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

Saya teruskan, “Dia menciptakan aku. Dia membimbingku.” “Dia membimbingku, Dia memberiku makan, Dia memberiku minum.” Lalu Nabi Ibrahim berkata,

(QS. 26: 81) – وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ
“Dia yang akan mematikan aku, kemudian Dia akan menghidupkan aku (kembali).”

Hal ini sangat penting. Mungkin Anda tidak menemukan cukup makanan, sehingga akhirnya mati. Bisa saja. Tapi kematian itu juga atas perintah siapa? Itu juga adalah perintah Allah. Jika saya masih hidup, itu karena Allah menginginkan saya hidup. Jika saya mati, itu karena Allah menginginkan saya mati. Bahkan ketika saya mati, kematian itu bukanlah akhir. Saya tidak takut mati, karena hidup saya tidak berakhir.

ثُمَّ يُحْيِينِ
“Dia akan menghidupkan aku (kembali).”

Seperti Anda pergi tidur kemudian bangun kembali. Dia sangat jelas bahwa bahkan ketika Saya mati, Saya belum berakhir. Ini baru satu perhentian. Dan pemberhentian selanjutnya, kita dihidupkan kembali. Nabi Ibrahim sangat yakin mengenai hal itu. Dia mengingatkan dirinya dan semua orang di sekelilingnya ketika dia pergi,

(QS. 26: 81) – وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ
“Dia yang akan mematikan aku, kemudian Dia akan menghidupkan aku (kembali).”

Tapi ketika Allah menghidupkan kembali lagi, maka Dia tidak hanya memberi Anda rezeki seperti saat ini. Jika Anda lahir dan dibesarkan, mungkin Anda dibesarkan menjadi seorang ateis, atau seorang Muslim, atau Musyrik, atau Buddha, Hindu, apa saja, kita semua mendapatkan oksigen. Kita semua dapat makanan, kita dapat minuman dan kita semua punya kesempatan untuk mendapat petunjuk. Setiap manusia, Allah beri kesempatan untuk mendapat petunjuk. Tapi yang kedua kalinya, dia menghidupkan kita, kehidupan kedua, tidak ada lagi petunjuk. Anda tidak punya kesempatan lagi. Tidak semua orang mendapatkan rezeki untuk yang kedua kalinya.

Di kehidupan kedua, apa kebutuhan terpenting Anda? Di kehidupan pertama, kebutuhan Anda yang paling penting adalah petunjuk, Anda ingat? Di kehidupan yang kedua, Nabi Ibrahim berkata,

(QS. 26: 82) – وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
“Dan Yang amat kuinginkan (yaitu Allah) akan mengampuni kesalahanku, pada Hari Kiamat.”

Hal terpenting dalam pikirannya adalah: “Ya Allah, ampunilah kesalahanku.”

Sekarang, pikirkan ini sejenak. Saya telah menyampaikan kapan dia mengatakan ini, (yaitu) ketika dia akan pergi, ketika dia akan pergi. Ketika dia akan pergi, dia diusir dari rumahnya, orang-orang membencinya, orang berbuat salah padanya, orang-orang zalim padanya.

Anda pasti berpikir ketika Hari Kiamat tiba, “Allah akan memberiku keadilan atas dirimu.” “Kamu lihat apa yang kamu lakukan padaku?” “Allah akan membalas Anda pada Hari Kiamat!” Fokus kita selalu pada siapa yang berbuat salah pada kita, dan kita berharap pada Hari Kiamat nanti kita mendapatkan keadilan.

Ibrahim ‘alaihissalaam, mereka berbuat salah padanya, dan dia pergi, dan fokusnya masih pada siapa? Dirinya sendiri. “Aku berharap Allah mengampuni kesalahanku.” “Aku berharap Allah memaafkanku.” Karena dia mengerti sesuatu. Pada Hari Kiamat nanti Anda tidak akan tertarik untuk mengadili orang lain. Anda tidak akan peduli tentang orang lain. Bahkan mereka yang dizalimi Fir’aun tidak akan peduli tentang Fir’aun. Mereka hanya akan mengkhawatirkan diri mereka sendiri.

Semua Nabi Allah, ‘alaihimussalatu wassalaam. Begitu banyak ketidakadilan yang diterima para Nabi. Tidak seorang pun dari mereka yang akan berkata, “Ya Allah ini orang Quraish, hukumlah mereka!” “Ya Allah ini si kafir pada zaman Nuh ‘alaihissalam, hukumlah mereka.” Mereka tidak perlu berkata apa pun. Mereka semua berkata, “Nafsiy, nafsiy, nafsiy.” “Diriku, diriku, diriku.”

Yang ada di pikiran kita mengenai Hari Kiamat. Bahkan saya dan Anda hari ini saja, ketika kita berpikir tentang Hari Kiamat, kita tidak memikirkan nasib diri kita sendiri. Kami berpikir tentang si ‘zalim’ ini akan diadili, orang ini, penjahat ini akan diadili. “Aku berharap kamu diadili. Aku berharap sepupuku diadili. Aku berharap ibu mertuaku juga diadili.” Kita tidak berpikir tentang semua kesalahan kita, justru lebih fokus pada orang lain.

Ibrahim ‘alaihissalam memahami, bahwa pada hari itu tidak akan ada yang lebih penting dibanding kesalahan diri. “Aku harap Allah mengampuni mereka.” Memangnya kesalahan apa yang Ibrahim ‘alaihissalam perbuat? Anda bahkan tidak bisa memikirkan kesalahan apa pun yang pernah dilakukan. Kenapa dia? Apa yang dia lakukan?

يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي

Karena sebagai manusia, kita bahkan tidak tahu kapan kita melakukan kesalahan. Dan kita tidak ingat saat kita melakukan kesalahan. Bahkan ketika Anda berbuat salah, lalu seseorang menegur, “Hei, kamu tadi salah ya?” “Aku tidak ingat.” “Aku? Salah?” “Pasti kamu yang keliru!”

Itu adalah bagian pertama dari apa yang ia sampaikan. Sekarang dengarkan! Ketika Nabi Ibrahim pergi, dia berdoa pada Allah,

(QS. 26: 83) – رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku kekuatan dalam mengambil keputusan.”
“Beri aku kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat pada saat yang sulit.”

‘Hukm’ di sini maksudnya berikan aku kekuatan untuk membuat keputusan. Nabi Ibrahim sudah menyampaikan Allah membimbingnya, benar? Petunjuk itu baru bagian pertama. Hanya dengan Anda memiliki petunjuk, artinya Anda baru tahu apa yang harus dilakukan. Tapi meski Anda tahu apa yang harus dilakukan, tetapi Anda tidak punya kemauan, dan Anda tidak punya kekuatan, “Aku tahu inilah yang benar, tapi aku tidak bisa.” “Aku tidak cukup kuat untuk melakukannya.”

Ketika dia berkata, رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا. Dia meminta kepada Allah kekuatan untuk membuat keputusan yang tepat. Ketika Allah عَزَّ وَجَلَّ memerintahkan kepadanya, “Sembelih anakmu sendiri!” Anda harus punya kekuatan besar untuk menaruh pisau itu di lehernya. Ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, Anda harus punya kekuatan yang besar, untuk terjun dan melompat ke dalam api. Ketika dia diberitahu, “Tinggalkan keluargamu di tengah-tengah gurun.” Anda harus punya kekuatan yang besar. Anda tidak bisa, “Ya, saya tahu Allah yang perintahkan itu, tapi umm, ini serius?” “Bayinya menangis, tidak ada air.” “Maksudnya, betul di sana?” “Pergi begitu saja?” “Ya, pergi!”

Hal ini membutuhkan ‘hukm’. Ini adalah hal yang saya dan Anda butuhkan. Betul atau tidak? Kita terkadang tahu apa yang Allah ingin kita lakukan. Kita tahu bahwa Anda harusnya mengatakan yang sebenarnya. Anda tahu bahwa Anda harus berhenti dari pekerjaan ini, karena ini haram. Anda tahu bahwa Anda harus berhenti mengirim pesan pada perempuan itu. Anda tahu itu! “Tapi aku tidak bisa.” “Aku tidak bisa berhenti.”

رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا
“Rabb berikan aku kekuatan pengambilan keputusan yang kokoh.”

Kemudian dia berkata,

(QS. 26: 83) – وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
“Dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh,”

Terjemahan sederhananya: Kumpulkan aku bersama orang-orang yang baik. Dia pergi. Dia sendirian. Dan sekarang dia membutuhkan orang-orang yang baru. Bahkan Ibrahim ‘alaihissalaam tahu, manusia membutuhkan manusia lain untuk mendapatkan dukungan. Anda tidak bisa menggenggam iman Anda sendirian. Anda butuh orang lain untuk mendapat dukungan. Dan dia berdoa kepada Allah, “Ya Allah berikan aku teman orang-orang yang baik.”

Anda harus bertanya pada diri sendiri. Saya dan Anda berpegang pada agama Ibrahim ‘alaihissalaam. Bulan Ramadan akan datang. Siapa yang bersama kita? Siapa teman Anda? Hal apa yang sering dibicarakan teman-teman Anda? Ke mana mereka mengajak Anda pergi? Apa yang mereka ingin Anda lakukan? Apa yang mereka suka? Apa yang mereka benci? Apakah mereka membuat Anda menjadi orang yang lebih baik? Apakah mereka membawa Anda lebih dekat kepada Allah? Apakah mereka yang ketika ditemui mengingatkan Anda pada petunjuk Allah? Atau ketika Anda menemui mereka, Anda lupa pada petunjuk Allah? Dan bahkan ketika Anda ingatkan mereka, mereka malah kesal, “Bisa kita mengobrol hal lain?”

أَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
“Berikan aku kumpulan orang-orang yang baik.”

Ini adalah doa dari Ibrahim ‘alaihissalaam. Artinya jika Nabi Ibrahim membutuhkan ini, sudah pasti kita juga membutuhkannya. Jika dia membutuhkannya, maka kita jauh lebih membutuhkan, أَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Jadi dia berkata, “Berikan aku keputusan yang kuat.” Anda perlu kekuatan mengambil keputusan untuk meninggalkan teman-teman yang buruk. Betul atau tidak? Ketika Anda memiliki teman yang buruk, sulit untuk meninggalkannya. Anda akan merindukan mereka. Anda butuh kekuatan itu, kemudian Anda akan mendapat kekuatan lagi, ketika Anda punya orang-orang baik yang mendukung Anda. Semoga Allah عَزَّ وَجَلَّ memberi kita semua teman-teman yang saleh, dan menjadikan kita orang-orang yang saleh.

Rasulullah Dan Quran Jawaban Doa Nabi Ibrahim

Lalu dia mengatakan hal yang aneh… Do’a ini terus berlanjut. Dia mengatakan doa yang aneh, katanya,

(QS. 26: 84) – وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

Do’a ini sangat indah. Salah satu hal yang paling menakjubkan yang pernah saya baca tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah ayat ini. Sulit untuk diterjemahkan. Dia berkata, “Sediakan bagiku, beri aku, seseorang yang akan mengatakan yang sebenarnya tentang aku, bagi generasi yang datang.”

Dia sendiri. Dia sendirian di gurun. Tidak ada yang mengenalnya. Dia bukan seorang Raja. Dia bukan seorang sejarawan. Dia tidak akan menulis buku, “Ini adalah sejarah Ibrahim anak Azar.” Dia tidak akan lakukan itu. Tidak ada alat perekam. Tidak ada yang tertarik dengan apa yang terjadi padanya. Ketika orang menulis sejarah, mereka menulis sejarah Raja-raja, dan para Jenderal, atau Penguasa, atau Cendekiawan, atau orang yang membangun gedung-gedung besar dan monumen-monumen. Itu sejarah.

Dan dia berkata kepada Allah, “Ya Allah, Engkau memberiku banyak ujian.” Pada dasarnya, dia mengatakan Engkau memberiku banyak ujian. Dan orang-orang harus belajar dari ujian itu. Karena ujian itu akan membuat iman mereka kuat. Tapi ketika aku mati, sendirian, dan tidak akan ada yang ingat, tidak ada yang tahu namaku, tidak ada yang akan mengingat ujian yang Engkau berikan padaku, maka mereka tidak akan bisa mendapatkan petunjuk ini.

Dia minta kepada Allah, “Ya Allah, jadikan aku sebagai contoh di mana seseorang pada masa yang akan datang, akan menceritakan kisah yang sebenarnya tentangku.”

لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

Subhanallah! Ribuan tahun kemudian, Anda mendapatkan Rasul Allah, Rasulullah ﷺ‬. Dan Allah memberinya Al-Qur’an. Kemudian dalam Al Qur’an, kita belajar kisah yang benar tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam.

Dan sekarang, untuk selamanya kita tahu kebenaran itu. Kita tidak akan pernah lupa. Tidak ada sejarawan yang memilikinya, bahkan tidak ada di Alkitab, tidak ada yang memilikinya. Allah memberikannya kepada Rasulullah ﷺ‬ setelah ribuan tahun. Dapat Anda bayangkan ketika Ibrahim ‘alaihissalam membuat doa itu?

(QS. 26: 84) – وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

Ketika dia berdoa, tidak ada orang di sekelilingnya. Dia sendirian di gurun. Tidak ada yang mendengarnya. Hal yang saya katakan ini saja akan hilang. Nabi Ibrahim telah wafat. Dan seratus tahun berlalu, dua ratus tahun berlalu, empat ratus tahun berlalu, selama empat ribu tahun berlalu, dan Allah masih memiliki rekaman dari doa itu, dan Allah mengulang doa Nabi Ibrahim dan menjadikannya bagian dari Al-Qur’an. Do’a ini ada dalam Al-Qur’an, doa dari ribuan tahun yang lalu, bisa Anda bayangkan? Ini sebenarnya adalah Qur’an itu sendiri. Dan ketika Al-Qur’an menceritakan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam, Al-Qur’an ini sebenarnya jawaban doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

(QS. 26: 84) – وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

(QS. 26: 85) – وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi Jannah.”
Anda tahu apa itu warisan?

Warisan ada ketika seseorang apa? Seseorang meninggal. Seorang anak akan mewarisi dari siapa? Dari ayahnya. Tapi Nabi Ibrahim baru saja meninggalkan ayahnya. Dia tidak menginginkan warisan ayahnya. Warisan ayahnya adalah syirik. Dia tidak mau menghina, lalu dia berkata kepada Allah, “Ya Allah berikan aku warisan (yaitu) Jannah.” “Aku tidak ingin mewarisi warisan keluargaku.” “Aku ingin mewarisi Jannah.” Lalu dia berkata,

(QS. 26: 85) – وَاجْعَلْنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ
(QS. 26: 86) – وَاغْفِرْ لِأَبِي

Terakhir. Sekarang masuk akal. “Ampunilah ayahku.” “Aku tidak ingin mewarisi warisannya, karena warisannya adalah dosa kepada-Mu.” “Ampunilah ayahku.”

(QS. 26: 86) – إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ
“Karena sesungguhnya ia adalah termasuk orang-orang yang tersesat.”

Sekarang, ini adalah bagian terakhir. Saya tahu seharusnya Anda belajar tentang terhubung dengan Al Qur’an, semua ini akan saling terhubung, percayalah. Percayalah pada saya. Dengarkan saja.

(QS. 26: 87) – وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ
“Ya Tuhanku, janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.”
“Jangan Engkau mempermalukan aku pada Hari di mana mereka semua akan dibangkitkan.”

Dengan kata lain, dia berkata, bahwa di keluargaku ada orang yang melakukan kemusyrikan. Pertama, “Ya Allah ampunilah mereka.” Kemudian dia minta kepada Allah agar mungkin mereka bisa mendapat petunjuk. Tapi jika dia meninggal, dan mereka tidak mendapat petunjuk. Bahwa pada Hari Kiamat, Anda tidak ingin berdiri, Anda tahu, ketika di dunia, ketika anak Anda melakukan pembunuhan, atau suami Anda di penjara, Memalukan, bukan? “Oh kamu… istrinya orang itu?” “Dia ada di penjara, kan?” Anda tidak mau keluar rumah, Anda sembunyikan wajah Anda. Jika anak Anda dikenal sebagai penjahat, memalukan bagi Anda.

Pada Hari Kiamat, di depan semua umat manusia, “Itu ayahmu?” “Oh, yang membuat berhala itu ayahmu?” Bukankah itu memalukan? Dia berkata, “Ya Allah, jangan permalukan aku pada hari itu.”

(QS. 26: 87) – وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ

(QS. 26: 88) – يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
Dia berkata, “Hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna.”

Dengarkan ini baik-baik. Dia berkata, “Hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna.” Ayahnya punya harta. Dia menghasilkan uang. Tidak berguna. Siapa anaknya? Ibrahim. Ibrahim anak yang baik, akan berguna. Tapi itu tidak cukup. Anda sendiri yang harus menjadi baik, anak-anak Anda tidak akan membawa Anda ke Jannah. Anda sendiri yang harus memiliki hati yang bersih.

Anda tahu apa yang saat ini terjadi? “Aku akan menjadikan anakku seorang hafiz Qur’an, sehingga aku bisa lakukan apa saja yang aku inginkan, karena aku sudah punya tiket ke Jannah. Anakku yang akan mengurusnya.”

Anak dari Azar adalah Ibrahim ‘alaihissalam, dan itu belum cukup. Belum cukup. Dan dia juga mengerti bahwa… bahkan suatu hari dia akan memiliki anak, dia masih pemuda saat itu, tapi nantinya dia akan punya anak. Dan dia mengatakan saat ini, “Akan datang hari di mana tidak akan ada gunanya, Harta tidak akan berguna. Anak-anak tidak akan berguna.” Al-Qur’an kemudian menggambarkan hal itu,

(QS. 80: 34) – يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (QS. 80: 35) – وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (QS. 80: 36) – وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ
“Pada Hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibunya, dari bapaknya, dari istrinya, dari saudaranya.”

Mereka lari dari semua orang. Tidak ada yang berguna. Anda tidak peduli dengan orang lain.

(QS. 22: 2) – يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ
“Setiap ibu yang menyusui bayi akan membiarkan bayinya.”

Dia tidak peduli pada Hari Kiamat nanti. Kepedulian itu hilang. Ini di luar imajinasi kita. Nabi Ibrahim mengerti itu dan dia berkata,

(QS. 26: 88) – يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

Tapi kemudian dia mengatakan, yang merupakan alasan saya membahas ini semua.
Dia berkata,

(QS. 26: 89) – إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih atau selamat.”

Hanya ada satu hal, inilah yang ternilai pada Hari Kiamat. Dan inilah yang Qur’an sebut ‘qalbun salim’, hati yang selamat, baik, dan sehat. Itu dia. Itu saja yang penting. Hal lainnya tidak berarti apa-apa. Satu-satunya hal yang ternilai adalah ‘qalb salim’. Hanya ini yang Nabi Ibrahim alaihissalam khawatirkan, itulah mengapa pada bagian lain,

(QS. 37: 84) – إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Allah menggambarkan Nabi Ibrahim: “Dia datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” Allah sendiri (yang berfirman) bahwa dia (Ibrahim) datang kepada Allah dengan hati yang baik.

Kita harus terhubung dengan Allah di bulan Ramadan, Anda tahu apa artinya? Kita harus memiliki hati yang baik. Jika Anda punya hati yang baik, segalanya akan baik. Jika Anda tidak punya hati yang baik, yang lain tidak berarti apa pun, tidak ada yang penting, tidak ada yang berharga.

Sekarang dengarkan baik-baik. Ini menuju ke kesimpulan saya dari sesi ini, supaya kita bisa berdiskusi tentang bagaimana cara terhubung dengan Al-Qur’an, dengan baik di sesi berikutnya. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bertahun-tahun kemudian mempunyai seorang anak. Dan kemudian mempunyai anak yang lain. Tapi anak pertamanya, Ismail ‘alaihissalam, Allah menyuruhnya membangun Ka’bah. Ketika mereka membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdoa, dan doanya adalah:

(QS. 2: 129) – رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ

Pertama dia berdoa untuk anak-anaknya. Dia berkata,

(QS. 2: 128) – وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ
“Dan dari anak cucu kami berikan kami anak-anak muslim (Umat Muslim).”

Sekarang, bukankah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sendiri mengatakan bahwa anak-anak tidak ada manfaatnya? Dia mengatakan itu,

(QS. 26: 88) – يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

Dia berkata, “Anak-anak tidak akan berguna.” Tapi sekarang dia berdoa untuk anak-anaknya. Anda lihat perbedaannya? Kenapa dia mendoakan anak-anaknya? Dia membutuhkan ‘tipe’ anak-anak yang dapat memberi manfaat.

Siapa saja anak-anak yang dapat memberi manfaat? Jika Anda memiliki hati yang bersih dan mereka juga memiliki hati yang bersih, maka mereka akan berguna bagi Anda. Jadi dia menginginkan Umat yang Muslim. Tapi bagaimana caranya mereka bisa memiliki hati yang baik? Bagaimana agar mereka memiliki hati yang baik? Bagaimana Anda memastikannya? Jadi dia berkata kepada Allah, dia meminta kepada Allah:

(QS. 2: 129) – رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ

“Ya Rabb…” Dia berdiri bersama Ismail ‘alaihissalaam, ribuan tahun yang lalu, Dia berkata, “Berikan mereka seorang Rasul, angkat seorang Rasul di antara mereka.”

يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ
“Dia akan membacakan ayat-ayat-Mu, dia akan mengajari mereka Kitab, dia akan mengajari mereka hikmah kebijaksanaan, dan dia akan menyucikan mereka.”

Baik, izinkan saya memberi Anda pelajaran sejarah sebelum saya menyimpulkan. Anda harus memahami bagian ini agar kita dapat memahami bagian selanjutnya. Ibrahim ‘alaihissalam dua anaknya yang terkenal adalah Ismail dan siapa? Ismail dan siapa? Ishaq. Ishaq, anaknya adalah Ya’qub. Ya’qub, anaknya termasuk Yusuf, dan anak-anaknya yang lain adalah 12 anak Israil (nama lain Ya’qub). Dan dari 12 anak Israil Anda mendapati banyak sekali Nabi.

كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ
“Setiap seorang Nabi wafat, dia diganti oleh Nabi yang lain.” (HR. Bukhari 3455)

Terus menerus, Nabi, Nabi, Nabi, Nabi, dan Nabi.

(QS. 57: 27) – قَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِم بِرُسُلِنَا
Allah berfirman, “Kami iringi di belakang mereka, memperkuat mereka. Satu Nabi, lalu Nabi lainnya, lalu Nabi lainnya, lalu Nabi yang lain.”

Anda mengerti? Dalam doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ini, berapa Nabi yang dia minta?

(QS. 2: 129) – رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا

Seorang Rasul. Satu Rasul saja. Sebagian orang mengatakan doa ini seharusnya untuk Ishaq. Ibrahim tidak… seharusnya anak yang dipilih adalah Ishaq, maka Nabi terakhir akan datang dari Ishaq. Jika Nabi terakhir akan berasal dari keturunan Ishaq ‘alaihissalaam, mengapa Nabi Ibrahim berdoa hanya untuk satu Nabi?

Dari keturunan Isma’il ‘alaihissalam, ribuan tahun, keturunannya tidak ada Nabi, tidak ada Nabi, tidak ada Nabi, tidak ada Nabi. Pada saat yang sama, dalam ribuan tahun itu, Satu Nabi kemudian Nabi lainnya kemudian Nabi lainnya, di garis keturunan Ishaq, terus menerus sampai Nabi Isa ‘alaihissalam.

Di garis keturunan Ismail hanya ada satu Nabi. Nabi yang mana? Muhammad Rasulullah ﷺ‬.

Sekarang, pahami ini. Ribuan tahun yang lalu orang tersebut berdoa. “Kirimkan mereka seorang Rasul yang akan membacakan ayat-ayat-Mu.” Tapi dia sudah memberi tahu kita, satu-satunya hal yang bernilai adalah apa? Apa yang baik? Hati yang baik. Apa tujuan dari ayat itu? Untuk memberimu hati yang baik. “Qalbun Salim”. Itulah sebabnya mengapa ayat itu ada dalam Qur’an. Allah menggambarkan Al Qur’an, Dia berkata,

(QS. 50: 37) – إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ
“Ini adalah pengingat untuk orang-orang yang masih mempunyai hati.”

Ini dimaksudkan untuk hati kita.

Sekarang, ribuan tahun yang lalu Nabi Ibrahim berdoa, dan ribuan tahun kemudian, Allah mengirim Jibril ‘alaihissalam kepada Rasulullah ﷺ‬, dan itu adalah jawaban untuk doa Nabi Ibrahim. Itu adalah jawaban untuk doa Nabi Ibrahim.

Bulan Ramadan, 30 hari, kita merayakan pengabulan Allah atas doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Itu sebenarnya yang kita rayakan. Anda tidak dapat mengerti apa artinya terhubung dengan Al-Qur’an, jika Anda tidak mengerti apa artinya terhubung dengan ayah Anda, yaitu Nabi Ibrahim. Kedua hal itu saling terhubung. Anda mengerti hubungan antara dua hal itu? Kita tidak akan punya Al-Qur’an, jika siapa yang tidak berdoa? Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Qalbun Salim

Dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memberi tahu kita tujuan Al Qur’an. Tujuan Al-Qur’an adalah agar hati kita selamat.

(QS. 26: 89) – إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Di sesi berikutnya, Saya hanya punya beberapa menit lagi, pada sesi berikutnya, saya akan membahas ini lebih detail, tapi saya akan beri Anda satu hal lagi:

Kita membaca Al-Qur’an, betul atau tidak? Kita membaca Al-Qur’an. Kita membaca terjemahan Al-Qur’an. Kita menghafal Al-Qur’an. Kita mendengarkan murattal Al-Qur’an. Kita punya begitu banyak, kita punya karya seni dari Al-Qur’an. Karya seni dari Al-Qur’an ada di sana. Indah sekali! Tapi semua itu bisa ada di lidah Anda, mungkin ada di pikiran Anda, bisa di telinga Anda. Tapi Al-Qur’an ditujukan pertama kali untuk apa? Untuk hati.

Apakah mungkin seseorang tahu banyak tentang Al-Qur’an di atas sini (otak)? Tapi tidak ada koneksi di sini (hati). Sangat mungkin. (Mengunakan otak) itu mudah. Anda bisa belajar tafsir, sehingga mendapat banyak pengetahuan tentang Al-Qur’an. Anda bisa belajar tajwid, sehingga bisa membaca Qur’an dengan sempurna. Anda bisa menghafal Al-Qur’an. Al-Qur’an di lidah Anda, Al-Qur’an di otak Anda, Al-Qur’an di telinga Anda, itu mudah, mudah, mudah. Qur’an dalam hati Anda, sangat sulit. Itu sangat sulit.

Apa yang dimaksud terhubung dengan Al-Qur’an, adalah membuka hati Anda untuk terhubung dengan Al-Qur’an. Ini bukan hal yang mudah. Bukan hal yang murah. Anda tidak bisa mendapatkannya gratis. Ada harga yang harus dibayar.

Ibrahim ‘alaihissalam mengalami begitu banyak kesulitan sehingga akhirnya dapat memanjatkan doa ini. Nabi Ibrahim berdoa ketika dia sedang membangun Ka’bah. Sudah saya katakan itu. Ketika dia membangun Ka’bah, semua ujiannya telah selesai. Dari seorang pemuda yang harus menantang ayahnya sendiri, sampai dia harus meninggalkan keluarganya, sampai pada perintah menyembelih anaknya, semua ujian itu, satu demi satu, ujian demi ujian.

Setelah semua ujian itu selesai, akhirnya Anda lulus. Ketika Anda lulus, Anda mendapatkan hadiah spesial. Apa hadiahnya? Minta apa saja yang Anda inginkan. Setelah semua ujian itu. Dan permintaan, doa, hadiah dari Allah, inilah yang aku inginkan, adalah doa ini. Do’a agar suatu hari nanti, saya dan Anda akan memiliki Al-Qur’an. Saya dan Anda akan memiliki Al-Qur’an. Do’a ini tidak murah. Anda tidak sekadar duduk di sana kemudian berdoa. Anda harus melalui banyak ujian untuk memenuhi syarat meminta Al-Qur’an. Jika itu ujiannya, maka Anda dan saya tidak akan memiliki hubungan yang mudah dengan Al-Qur’an,
tanpa usaha apa pun.

(QS. 54: 22) – فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Adakah orang yang mau berusaha mengingat Al-Qur’an dengan cara yang pantas untuk diingat?”

Inilah kunci yang perlu kita gali sekarang. Inilah yang harus kita cari tahu. Apa yang akan kita lakukan di bulan Ramadan? Dan bahkan sebelum itu, kita akan terhubung dengan Al-Qur’an seperti yang seharusnya.

Dengarkan saya dengan baik. Beberapa dari Anda tidak tahu cara membaca Qur’an. Tak apa. Beberapa dari Anda belum menghafal Qur’an, hanya tahu Al-Fatihah dan, Al-Falaq dan An-Naas, dan itu untuk setiap salat. Tidak apa-apa. Tak masalah. Beberapa dari Anda baru bersyahadat mungkin satu bulan yang lalu, Anda tidak tahu bahasa Arab. Tidak tahu apa-apa. Tak apa. Beberapa dari Anda adalah hafiz Qur’an. Sangat bagus. Beberapa dari Anda adalah ‘Ulama. Beberapa dari Anda lebih berpengetahuan dibandingkan saya. Tapi saya beritahu Anda, Kita semua punya masalah yang sama. Kita semua. Orang yang berpengetahuan banyak, dan orang yang tidak tahu apa-apa punya masalah yang sama. Ada jarak antara hati kita dan Al-Qur’an. Ada jarak.

Untuk kita semua. Bahkan para Ulama di antara kita. Termasuk saya. Termasuk Anda. Semua orang. Kita perlu berupaya untuk menghubungkan diri kita dengan Al-Qur’an. Tidak peduli Anda membacanya setiap hari. Tidak peduli Anda mempelajari semua isi Al-Qur’an. Tidak peduli Anda membaca seluruh terjemahan Qur’an. Itu tidak berarti Anda terhubung dengannya. Tidak berarti Anda terhubung dengannya.

Jadi sebelum saya selesai di sesi pertama, Saya akan beri Anda satu contoh. Adakalanya, seseorang memberitahu Anda hal yang sudah Anda ketahui. Tapi hal itu sangat berdampak pada Anda. Kadang, misalnya, Anda bertengkar dengan Ibu. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Anda berdebat dengan Ibu Anda. Kemudian kamu meninggalkan rumah. Marah. Lalu teman Anda duduk di sebelah Anda, dan Anda bercerita apa yang terjadi. Teman Anda meraih bahu Anda, lalu dia bilang, “Dia itu ibumu!” Itu yang dia katakan. Sekarang, apa itu informasi baru? Dia tidak berkata, “Oh… benarkah?” “Dia siapa?” Anda sudah tahu Ibu Anda. Tapi pada saat itu, ketika dia berkata, “Dia itu Ibumu!” Apa reaksi Anda? “Oh… kamu benar.” “Aku akan meminta maaf.” Anda mulai menangis, Anda duduk di sana dan menangis.

Apa Anda mendapat informasi yang baru? Tidak. Tapi terkadang, ketika Anda mendengar sesuatu, kata-kata tidak ke sini (otak), ke mana mereka pergi? Mereka ke sini (hati). Dan Anda butuh kata-kata itu. Meskipun Anda sudah mengetahuinya, Anda membutuhkannya lagi. Dan membutuhkannya lagi. Itu adalah Al-Qur’an. Itulah Al-Qur’an. Kata-kata itu, tidak berdampak di sini (otak), mereka berdampak di sini (hati). Mereka berdampak di sini, mereka membuat Anda menangis. Anda perlu mendengarnya.

Inilah latihan yang akan kita lakukan… Saya akan beri cara yang bisa Anda lakukan untuk menghubungkan hati dengan Al-Qur’an, saya juga akan coba lakukan hal ini untuk menghubungkan hati saya dengan Al-Qur’an. Jadi itulah kesimpulan saya untuk sesi pertama. Barakallahu li wa lakum. Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi ta’ala Wabarakatuh.

MC: Terima kasih untuk ceramahnya untuk sesi pertama. Dan tadi kita sama-sama sudah dengar, bahwa yang penting adalah bagaimana kita bisa menghubungkan diri kita dengan Al-Qur’an, dengan hati kita.

Tadi sudah disampaikan bahwa pentingnya kita untuk bisa memaknai ketakwaan kepada Allah, seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim. Teguh. Jadi pada saat kita mendengarkan perintah Allah dalam Al-Qur’an, ya kita taat, tidak memilih dan tidak memilah.

Nanti di sesi kedua kita akan tanyakan kepada beliau, bagaimana caranya. Kalau tadi sudah dijelaskan, bahwa sebenarnya kita ini sering baca Qur’an, kita membaca Al-Qur’an setiap hari, kita mendengarkan Al-Qur’an setiap hari, kita dengar, kita lihat, tetapi Qur’an tidak terhubung dengan kita. Kita tidak terhubung dengan Al-Qur’an. Bagaimana caranya? Nanti kita akan lanjutkan di sesi kedua, dengan Ustad Nouman Ali Khan.

//Dan sekarang saya akan minta kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu, kita akan jeda sebentar untuk salat Asar. Jadi kami minta, kesediaannya untuk merapihkan barisan, Kami minta tolong pada rekan-rekan panitia, untuk bisa menyusun shaf. Pada Ibu-ibu juga, kita akan kembali setelah salat ashar, dengan tema lanjutannya. Insya Allah, jam 5, setengah 6 kita akan selesai dari sini. Jadi kami minta sekali lagi, ba’da Asar kita langsung kumpul lagi di sini, melanjutkan bagaimana kita bisa terhubung kembali dengan Al-Qur’an. Bagaimana… apa yang harus kita lakukan untuk terhubung kembali dengan Qur’an, tentu dengan Ustad Nouman Ali Khan. Terima kasih banyak Ustad Nouman Ali Khan. Dan saya harap Anda bisa berada di sini setelah salat Ashar. Terima kasih. Kita akan kembali lagi. Wabillahi taufik walhidayah. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

//Subtitle: NAK Indonesia

English Transcript: https://islamsubtitle.wordpress.com/2018/09/18/reconnect-with-quran/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s