[Transkrip Indonesia] Jujur Dan Adil – Nouman Ali Khan


Alhamdulillahi kholiqil wujudi minal adam, wa jailinnuri minazzulam, wa mukhriji shabri minal alam, wa mulki taubati ala nadam, fa nasykuruhu alal mashoibi kama nasykuruhu ala ni’am, wa nusholli ala rosulihil akrom, lisyarofil asyam, wa nuril atam, wal kitabil muhkam, wa kamalinabiyyina wal khotam, sayyidi waladi adam.

Alladzi basysyara bihi isabnu maryam, wa da’a libi’satihi ibrohimu alaihisalam, hina kana yarfa’u qawa’ida batillahil muharram. Fasallallahu alaihi wasallam wa ‘ala atba’ihi khoiril umam, alladzi barakallahu bihim kafatan nasi al’aroba minhum wal’ajam.

Falhamdulillah, alladzi lam yattakhidz waladan, wa lam yakun lahu syarikun fil mulk, wa lam yakun lahu waliyyun mina zulli, wa takbirhu takbira. Wal hamdulillah, alladzi anzala ala abdihil kitaba wa lam yaj’al lahu iwajan, walhamdulillah, alladzi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh, wa nu’minu bihi wa natawakkalu ‘alaih, wa na’udzu bihi min syururi anfusina wa min sayyiati a’malina, manyahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah, wa nasyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa nasyhadu anna muhammadan abdullahi wa rasuluh, arsalahullahu ta’ala bil huda wa dinil haq, liyuzhirohu ala dini kullih, wa kafa billahi syahida. fa sallallahu alaihi wa sallama tasliman kasiron kasiro.

Tsumma amma ba’ad fainna asdaqol hadisi kitabullah, wa khoirol hadyi hadyu muhammadin shollallahu alaihi wa sallam, wa inna syarral umuri muhdasatuha, wa inna kulla muhdasatin bid’ah, wa kulla bid’atin dholalah, wa kulla dholalatin fi naar.

Yaqulu subhanahu wa ta’ala fi kitabihil karim, ba’da an aqula a’udzubillahi minasyaithoni rojim, yamurukum an tuaddul amanata ila ahliha, wa idza hakamtum baina naasi antahkumu bil adl, innallaha ni’imma ya’izukum bih, innallaha kana sami’an bashiro.

Allahummaj’alna min ashabil adl ya arhamarrahimin, rabbisyroh li shodri, wa yassir li amri, wahlul uqdatan min lisani, yafqohu qouli, wallahumma tsabbitna indal mauti bila ilaha illallah, amin ya robbal alamin.

Perbedaan Surat Makiah Dengan Surat Madaniah

Hari ini, Insya Allah, saya ingin berbagi dengan Anda sedikit pelajaran dan pemikiran dari satu ayat di Surat An-Nisa. Ayat yang sangat komprehensif dan bermakna di dalam kehidupan seorang Muslim. Ada beberapa tempat di dalam Al-Qur’an di mana Allah hanya mengatakan satu hal, tapi bisa memengaruhi seluruh hidup Anda. Dan Anda tidak dapat berhenti memikirkannya, nyaris dalam setiap aktivitas, hal, permasalahan, yang terjadi di dalam kehidupan saya dan kehidupan Anda.

Ini adalah surat Madaniah, artinya sebagian besar pendengarnya adalah orang-orang Muslim. Kebalikan dari surat Makiah yang kebanyakan dan pendengar utamanya adalah orang-orang non-Muslim. Jadi, pesannya adalah dakwah untuk mereka yang tidak percaya. Mayoritas orang yang mendengarkan Al-Qur’an adalah orang-orang non-Muslim.

Tapi pada Surat Madaniah, mayoritas orang yang mendengarkan Al-Qur’an adalah orang-orang Muslim. Kecuali saat Allah mengawali pernyataannya dengan “Ya ahlil Kitaab” atau para ahli kitab. Atau dalam kasus lain, “Ya ayyuhal ladzina kafaru.”

Tapi secara khusus, Allah azza wa jalla berbicara kepada orang-orang Muslim. Ini penting untuk diketahui karena ketika ditujukan kepada Muslim, mereka adalah orang-orang yang sudah memahami Islam. Dan mereka adalah para pelajar Al-Qur’an, beberapa dari mereka sudah mengenal (Islam) lebih dari satu dekade. Bahkan kepada mereka yang belum cukup banyak mengenal pesan-pesan Islam.

Tapi ada sesuatu yang begitu penting dan mudah dilupakan sehingga Allah azza wa jalla menggaris-bawahi dan menekankan ayat-ayat tersebut seakan-akan mereka mendengar untuk pertama kalinya.

Jadi, ayat dimulai dengan, “Innalaha ya’ murukum,” tidak diragukan, Allah yang memerintahkan kamu. Dan sekali lagi saya katakan ini adalah Surat An-Nisa. Dari awal surat An Nisa berisi perintah, “Ya ayyuhan-naasuttaqu robbakum.”

Kemudian, ada ayat-ayat tentang hukum waris, dan ahkam, berbagai hukum dan peraturan.

“Lakukan ini dan jangan itu, berikan bagian ini kepada orang ini dan bagian itu kepada orang itu.”

Setiap Perintah Yang Datang Harus Dilaksanakan

Semua diatur dalam perintah. Tapi, surat ini tidak diawali dengan kalimat, “Innallaha ya’ murukum anittaqu robbakum.”

Allah memerintahkan kamu supaya kamu bertakwa. Perintah itu sendiri sudah merupakan perintah, tidak perlu lagi ditambahkan bahwa Allah memerintahkan kamu. Namun, di dalam ayat yang satu ini, Allah menegaskan dari awal dan Dia mengatakan, “Tidak ada keraguan tentang ini, sebaiknya kamu benar-benar memahami tentang hal ini.”

“Bahwa setiap perintah yang akan datang, harus dilaksanakan.”

Ingat, yang ada di hadapanmu bukanlah manusia, Allah yang sedang berhadapan denganmu.

“Innallaha ya’ murukum.”

“Allah yang sedang memberimu perintah.”

Intinya adalah, perintah khusus ini, instruksi yang akan Allah berikan di dalam ayat ini. Mengharuskan kita untuk langsung mengingat Allah, setiap saat perintah itu akan dilaksanakan. Ini bukan salah satu perintah yang bisa Anda laksanakan begitu saja. Anda harus sepenuhnya menyadari keberadaan Allah dan kewenangan Allah terhadap diri Anda dan diri saya.

Ini adalah “Innallaha ya’ murukum”. Bisa dikatakan bahwa bahkan sebelum Allah memerintahkan kita. Sekali lagi Allah mengawali dengan mengatakan, “Jangan pernah melupakan kedudukan Allah,” terutama dalam perintah ini.

“An tu’addul-amaanaati ilaa ahlihaa.”

Bahwa Anda memberikan seluruh kepercayaan, dan kita akan berbicara sedikit tentang amanat. Bahwa Anda memberikan kepercayaan kepada mereka yang pantas mendapatkannya. Semua kewajiban kita terhadap orang lain harus sepenuhnya kita berikan kepada mereka yang memang berhak.

Amanah

Jadi, mari kita bicara sedikit tentang amanah. Terjemahan mudah dari amanah adalah “kepercayaan”, berasal dari bahasa Arab, aman, yang berarti “keamanan”. Berasal dari kata “keamanan”. Misalnya ketika Anda memberikan pinjaman, atau misalnya Anda akan pergi ke luar kota dan menitipkan kunci rumah kepada teman.

Anda berkata, “Hei, mampirlah sekali-sekali, dan periksa kotak surat saya.”

“Pastikan bahwa semua baik-baik saja, aku menitipkan kunci mobil dan kunci rumahku kepadamu.”

Anda tidak akan melakukan hal itu pada sembarang orang. Anda harus memiliki hubungan saling percaya, sehingga Anda bisa memberikan kunci-kunci Anda kepada seseorang seperti itu. Anda memberi mereka amanah karena Anda merasa aman dengan mereka. Anda merasa aman bahwa mereka tidak akan merusak kepercayaan Anda. Anda merasa aman, barang-barang Anda terasa aman di tangan mereka.

Itulah saat dimana Anda memberi amanah. Amanah bukan hanya ketika seseorang memercayai Anda, tapi juga ketika Anda dan saya diberi kepercayaan atas sesuatu. Allah mempercayakan sesuatu kepada kita, keluarga Anda, orang tua Anda mempercayakan sesuatu kepada Anda.

Jadi, sebelum kita membahas lebih jauh, kita harus memahami bagaimana menerapkannya. Bukan sekadar contoh abstrak ketika seseorang meninggalkan rumah mereka. Tapi misalnya, anak-anak muda di sini yang diberikan sebuah mobil oleh orang tua mereka, mereka diberikan amanah.

Orang tua mereka mempercayakan mobil itu kepada anak-anak mereka. Mereka percaya anak-anak mereka tidak akan ngebut di jalan tol, tidak akan menerobos lampu merah. Mereka percaya, anak-anak mereka tidak akan pergi ke pesta. Mereka percaya, anak-anak mereka tidak akan mengajak teman yang “tidak baik” ke dalam mobil mereka. Ada kepercayaan di antara orang tua dan anak.

“Kami percaya kepadamu, ini mobilnya.”

Mereka tidak akan memantau Anda. Tidak akan ada alat pelacak di dalam mobil Anda. Mereka sudah memberikan kepercayaan kepada Anda.

Contoh yang sama berlaku pada seorang atasan, seorang bos yang mempekerjakan seseorang untuk bekerja. Bos tidak akan selalu berdiri di belakang Anda, memeriksa apakah Anda melakukan tugas atau tidak, dia memercayai Anda. Dia memberi Anda tugas, Anda harus menyelesaikannya, dan Anda dibiarkan untuk melakukannya sendiri. Bos Anda sedang menghadiri pertemuan di suatu tempat, apakah Anda bekerja atau bersantai, atau menonton YouTube. Atau istirahat selama dua jam, semua terserah Anda.

Sebagian dari Anda yang ada di sini jelas terlihat datang dari kantor, jadi bos Anda, atasan Anda, siapa pun mereka.

Anda berkata, “Saya perlu waktu tambahan di hari Jum’at, saya harus salat.”

Tapi mungkin, untuk istirahat ini, waktu yang Anda butuhkan hanya satu atau satu setengah jam. Tapi Anda mengambil tiga jam dan berkata, “Ini untuk urusan ibadah.”

Jadi selesai dari sini, Anda pergi ke restoran favorit, duduk dan ngobrol, menghabiskan makanan, lalu ngobrol lagi.

“Aku punya waktu karena sudah izin kepada bos, hari Jum’at aku perlu waktu istirahat lebih untuk urusan keagamaan. Jadi dia tidak akan berkomentar apa-apa.”

Anda tahu, ini adalah sebuah pelanggaran kepercayaan. Inilah yang Allah maksudkan, Anda harus memenuhi kepercayaan orang yang sudah memberikannya kepada Anda. Anda tidak boleh berbohong akan sesuatu yang Anda katakan. Dan Anda tidak boleh memanfaatkan dengan tidak benar hal yang dipercayai kepada Anda.

Anak-anak melanggar kepercayaan orang tua, dan kadang orang tua juga melanggar kepercayaan anak-anak.

Inilah “amaanaati ilaa ahlihaa”.

Ini adalah masalah pertama yang disinggung di dalam ayat ini. Dan ayat ini lebih sering diterapkan bukan di dalam Masjid. Bukan ketika Anda sedang salat, bukan ketika Anda sedang mendengarkan ceramah. Ayat ini akan Anda terapkan, akan saya terapkan, ketika kita sedang berkendara. Ketika kita sedang berhadapan dengan keluarga, atau berurusan dengan rekan kerja atau teman-teman. Pada saat itulah ayat ini diterapkan, dan saat itulah Allah berkata, “Ingat, Allah yang sedang memberikan perintah kepadamu.”

“Cepat selesaikan istirahatmu dan kembali bekerja.”

Ingat, Allah sedang memberikan perintah kepadamu, “Pelankan laju kendaraanmu.”

Ingatlah, ketika para orang tua, misalnya, memberi anak-anak mereka uang saku mingguan. Bagaimana anak menghabiskan uang itu adalah masalah kepercayaan. Apakah Anda akan menggunakan KTP palsu untuk membeli bir, atau Anda menggunakan uang untuk mendapatkan sesuatu untuk diri sendiri, itu adalah masalah kepercayaan.

Itulah saatnya kita mengetahui, siapa yang belajar islam hanya sebagiannya saja atau doa yang kita ulang-ulang, tapi Islam seharusnya mengalir di dalam pembuluh darah kita. Ini adalah sesuatu yang mendasari hidup kita. Itulah saatnya kita diuji.

Ini adalah “Antu’addul-amaanaati ilaa ahlihaa”, tapi ayat ini belum selesai.

Memutuskan Sesuatu Di Antara Manusia

Dan sebenarnya, saya ingin menggunakan sebagian besar waktu saya dalam khutbah hari ini untuk membahas bagian kedua.

Dan bagian kedua berbunyi, “Wa idzaa hakamtum bainan-naasi an tahkumu bil-‘adl.”

“Ketika kamu membuat keputusan di antara manusia.”

“Ketika kamu memutuskan sesuatu di antara manusia.”

Dan Allah tidak mengatakan, “Jika kau membuat keputusan di antara manusia.”

Dia tidak mengatakan, “In hakamtum bainan-naas.”

Dia mengatakan, “Idzaa hakamtum bainan-naas.”

Yang berarti itu adalah sesuatu yang tidak terelakkan.

Anda pasti akan berada pada satu posisi, dimana Anda harus menengahi perselisihan di antara dua manusia. Anda akan berada dalam posisi, dimana Anda harus menimbang, siapa mendapat apa. Anda akan berada di posisi dimana Anda harus mengatakan mana yang benar atau yang salah, ini bukan hanya untuk seorang hakim. Kalian tahu, yang duduk di kursi hakim di pengadilan.

Ini untuk kita semua, bahkan anak kecil yang ada di sini. Ketika temanmu berselisih, yang ini mengatakan ini dan yang itu mengatakan itu, lalu mereka bertanya, “Bagaimana pendapatmu?”

Bahkan di tempat bermain, “Idzaa hakamtum bainan-naas.”

Di rumah Anda, beberapa dari Anda misalnya, punya beberapa anak. Keluarga muslim biasanya memiliki banyak anak. Anda punya banyak anak, dan beberapa di antaranya sedikit hiperaktif, jadi mereka sering terkena masalah. Dan mereka terlibat masalah, empat atau lima kali belakangan ini, lalu apa yang Anda lakukan ketika kemudian ada kaca yang pecah. Ketika Anda melihat sebuah noda di dinding. Anda tidak perlu mencari-tahu siapa yang melakukannya, Anda otomatis berkata, “Hei kamu, sini! Apa lagi yang kamu lakukan!?”

“Aku tidak melakukannya, aku tadi tidur.”

“Tidak, kau tidak tidur. Ayo, jangan bohong!”

Dan Anda marah. Anda tahu, ini bukan sebuah keadilan. Anda sudah berasumsi bahwa mereka bersalah. Dan Anda bisa berkilah, saya bisa berkilah, “Aku kenal anak-anakku, aku tahu siapa yang melakukan itu. Aku tahu.”

Tapi, tahukah Anda?

Mereka juga harus merasa, bahwa bukan saja yang membuat keputusan bersikap adil. Tapi orang yang diadili pun harus merasa yakin bahwa keadilan sudah ditegakkan.

Inilah mengapa, “Idzaa hakamtum bainan-naas.”

“Ketika kau membuat keputusan di antara manusia.”

“An tahkumu bil-‘adl.”

Kata-kata ini sangat penting.

“An tahkumu bil-‘adl.”

Agar kau membuat keputusan dengan adil.

Membuat Keputusan Adil

Sekarang ‘adl dalam bahasa Arab bisa diterjemahkan dengan mudah sebagai “keadilan”. Tapi kata ‘adl memiliki makna yang sangat dalam. Pertama-tama, ini adalah kebalikan dari kata ketidakadilan, Al-Jaur. Tetapi, salah satu arti yang menarik dari ’adl dalam bahasa Arab adalah “Maqna wa ridhon fi shahada”.

Ketika seseorang mengatakan sesuatu dan sangat meyakinkan, dan semua orang yang mendengarnya senang dengan putusan tersebut. Dengan kata lain, bahkan orang yang bersalah pun akan berkata, “Kamu tahu, saya tidak bisa mengeluh, itu keputusan yang adil.”

Jadi, ketika Anda dan saya sebagai orang tua, atau atasan, atau guru, kita menghukum dan membuat keputusan, tetapi, orang-orang yang kita adili mengatakan, “Itu tidak adil. Itu tidak adil. Kamu tidak benar. Ini tidak benar.”

Jika mereka merasa seperti itu, maka kita belum bertindak ‘adl. Kita belum bertindak ‘adl. ‘Adl pada dasarnya adalah sebuah kebutuhan, ditinjau dari sudut pandang bahasa: transparansi.

Anda tahu, beberapa dari Anda suka menonton film-film seperti Peradilan di Televisi. Dan ketika putusan selesai dibacakan, dan mereka ke luar, masing-masing pihak bertanya, “Bagaimana pendapatmu? Aku benar-benar puas, aku mendapatkan kembali uang 100 dolarku.”

Dan pihak lain berkata, “Itu betul-betul tidak adil.”

Tapi ‘adl, seorang hakim yang ‘adl, ketika keluar persidangan, orang yang memenangkan kasus akan berkata, “Itu adil,” dan yang kalah akan berkata, “Yah, Itu adil.”

Itulah yang disebut ‘adl.

Dan Allah berkata, itulah yang harus kamu lakukan. Ini terutama sangat sulit, misalnya, untuk para guru. Anda tentu mengerti, para guru menangani banyak murid setiap harinya, anak-anak yang sama setiap hari. Dan ada murid-murid yang selalu menyelesaikan PR tepat waktu. Mereka selalu memperoleh nilai bagus saat ulangan. Mereka selalu mengangkat tangan jika guru bertanya. Mereka selalu datang pagi ke sekolah, tidak pernah terlibat masalah. Jadi, si guru mulai melunak terhadap murid-murid seperti itu.

Kemudian, ada seorang murid yang selalu datang terlambat, PR-nya selalu berantakan. Dia bahkan tidak tahu, dia mengerjakan PR-nya dalam bahasa Inggris atau bahasa Cina. Kemeja si anak selalu keluar dari celananya. Kerjaannya ngobrol terus, dan sebagai macamnya.

Seiring berjalannya waktu, bukan di hari pertama ataupun ke-dua, beberapa minggu berlalu, si guru mulai kesal dengan murid ini. Jadi, ketika dia masuk begitu saja ke dalam kelas, sang guru uring-uringan, hanya dengan melihat wajahnya saja terlihat jelas. Barangkali Anda adalah salah satu dari murid seperti itu saat Anda duduk di bangku sekolah. Tapi, seorang guru yang ‘adl tidak akan menggunakan pengalaman masa lalunya untuk menilai apa yang akan terjadi hari ini. Setiap hari adalah sebuah halaman baru. Setiap orang akan diperlakukan setara, dan itulah arti lain dari ‘adl.

Arti lain dari ‘adl adalah taslia, membuat sesuatu menjadi setara.

Yaitu “Adalabaina syai’ain sawwa baina huma.” Ini dalam bahasa Arabnya.

Ketika Anda bersikap ‘adl atas dua hal, itu berarti Anda menganggap mereka setara. Anda tidak menimbang salah satu lebih baik dari yang lain. Sebagai orang tua, Anda tidak membeda-bedakan anak-anak Anda. Sebagai atasan, Anda tidak memperlakukan satu pegawai lebih baik dari yang lain karena gender mereka. Atau karena warna kulit, atau aksen, atau bahasa ibu mereka.

Lebih jauh lagi, jika kita membicarakan pekerjaan. Beberapa dari Anda, misalnya, adalah manajer HRD. Anda tahu tugas Anda adalah mempekerjakan orang. Jadi Anda berpikir, “Aku akan memanggil keponakanku. Aku hanya akan mempekerjakan Muslim. Harus Muslim yang diterima.”

Anda bekerja di Horizon, atau di IBM, atau Anda bekerja di suatu perusahaan.

“Aku hanya akan mempekerjakan Muslim.” Ini bukanlah ‘adl.

Anda diberi tanggung-jawab bukan supaya Anda mempekerjakan orang Muslim. Anda diberi tanggung jawab ini supaya Anda mempekerjakan orang-orang yang punya kualifikasi untuk melakukan pekerjaan ini. Jangan berpikir bahwa Anda sedang berbuat baik demi agama.

Sama sekali tidak!

Agama kita tidak membenarkan ketidakadilan dalam bentuk apa pun. Siapapun yang memenuhi kualifikasi, harus Anda pertimbangkan, tidak peduli apakah Anda menyukainya atau tidak. Atau apakah Anda pribadi menyukai mereka atau tidak, bukan itu masalahnya, Anda diberikan kepercayaan. Anda diberi tanggung jawab untuk mempekerjakan orang berdasarkan kriteria tertentu, dan atasan Anda memercayai Anda.

Lalu Anda berkata pada diri Anda sendiri, “Tapi semua orang memanfaatkan koneksi, jadi, kenapa saya tidak?”

Manfaatkan koneksi Anda jika itu adil. Jika orang yang akan Anda pekerjakan benar-benar memiliki kemampuan, memiliki kualifikasi. Dan benar-benar tidak ada orang lain yang memiliki kualifikasi yang lebih baik, maka tidak apa-apa. Jika tidak, Anda dan saya akan berdiri di hadapan Allah, dan kita harus mempertanggung-jawabkan perbuatan kita.

Saya dulu bekerja sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi, dulu sekali. Saya mengajar bahasa Arab di sebuah perguruan tinggi di New York. Dan kebanyakan mahasiswa saya adalah non-Muslim. Suatu kali ada dua mahasiswa Muslim di kelas saya. Satu-satunya mahasiswa yang tidak lulus di kelas saya adalah Muslim tersebut. Dan dia benar-benar kecewa.

Dia pun menemui saya, “Bro Nouman, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

“Saya menerima hasil ujian hari ini.”

“Betul.”

“Anda tidak meluluskan saya.”

Saya menjawab, “Ya, benar. Dan saya sangat sedih. Saya tidak meluluskan Anda.”

“Tapi saya seorang Muslim. Anda meluluskan semua ‘kuffar’ itu dan tidak meluluskan saya? Saya salat di samping Anda di Masjid. Saya mengucapkan salam setiap kali Anda masuk ke dalam kelas.”

Kuliah kami memang berlangsung malam hari, dan saya biasa salat Maghrib bersamanya.

“Sebelum salat, kemudian kita ke kelas bersama dan Anda tidak meluluskan saya? Kok tega sih?”

Dan saya menjawab, “Anda tidak pernah menyelesaikan tugas. Anda tidak pernah ikut saat ujian. Anda hampir tidak pernah hadir di kelas. Anda biasa salat bersama saya dan sesudahnya Anda bolos kuliah. Bagaimana mungkin saya meluluskan Anda?”

Dan alasannya bukan karena siapa dirinya. Saya tidak ingin menjadikannya sebagai contoh. Intinya adalah kita tidak boleh memperlakukan orang yang kita kenal secara berbeda karena memiliki kepercayaan yang sama. Atau pergi ke Masjid yang sama, atau berasal dari kota yang sama. Atau karena memiliki ras yang sama, atau berasal dari keluarga yang sama. Semua itu tidak cukup di hadapan Allah.

Itulah mengapa di dalam ayat tidak tertulis, “Wa idzaa hakamtum bainalladzina amaanu an tahkumuu bil-‘adl.”

Tidak, tidak, tidak. “Idzaa hakamtum bainan-naasi an tahkumuu bil-‘adl.”

Ketika kau membuat keputusan di antara manusia, kau harus adil. Kepada semua orang. Allah tidak mengatakan supaya hanya orang Muslim bersikap adil, sedangkan kepada yang lainnya tidak.

Tidak begitu. “Kenapa peduli orang lain?” Tidak begitu.

Kita harus mengembangkan mentalitas dalam berhubungan dengan sesama secara adil.

“Idzaa hakamtum bainan-naasi an tahkumuu bil-‘adl”

Di dalam kehidupan pribadi kita, terutama dalam kehidupan pribadi di antara keluarga kita sendiri. Bagaimana Anda memperlakukan istri Anda, mertua dan ipar-ipar Anda. Bagaimana istri Anda memperlakukan orang tua Anda. Semua berkaitan dengan keadilan. Ini bukan sekadar masalah pribadi. Allah akan bertanya kepada kita tentang setiap hubungan tersebut, apakah kita berlaku adil atau tidak.

Dan saya bisa mengatakan satu hal yang pasti. Kita kerap mengeluhkan tentang ketidakadilan politik. Kita mengeluh tentang para penguasa yang tidak adil. Pemerintah yang tidak adil. Birokrasi yang tidak adil. Polisi yang tidak adil. Di belahan dunia ini, banyak polisi yang menerima suap dan para hakim disuap. Dan pemerintah yang bekerja untuk orang kaya dan si miskin yang ditindas. Dan itu yang kerap saya dengar, sepanjang waktu, berulang kali.

Kita yang hidup di barat ini lebih baik, tapi juga tidak sebegitu lebih baik. Korupsi juga terjadi di sini. Tapi Anda tahu dari mana itu dimulai? Ketika Anda tidak peduli pada ketidakadilan di dalam rumah Anda, di lingkungan teman-teman Anda. Maka itu akan menjalar ke komunitas. Dan dari sana, dia menjalar ke kota, lalu meluas ke negara. Ini adalah penyakit yang dimulai dari sebuah benih yang kecil.

Ini virus yang kecil. Dimulai pada sejumlah individu dan kemudian menyebar. Dan menyebar ke beberapa negara Muslim. Subhanallah! Situasinya begitu buruk. Bahkan sekarang orang-orang Muslim, orang-orang Muslim yang baik, yang salat 5 waktu. Orang yang memelihara jenggot, orang yang berencana untuk pergi haji.

Bahkan mereka pun mengatakan, “Apa yang bisa saya lakukan? Semua orang melakukannya.”

“Apa yang bisa saya lakukan, saudaraku? Saya juga harus menerima suap. Saya harus memberi makan anak-anak saya.”

“Apa yang bisa saya lakukan? Saya harus melakukannya. Ya, saya juga harus memalsukan laporan itu.”

Baru-baru ini, di beberapa negara bagian di Amerika Serikat. Ada laporan tentang kepala sekolah di sekolah negeri memerintahkan para guru untuk meluluskan murid-murid mereka secara tidak adil. Karena murid yang lulus jumlahnya tidak cukup banyak.

“Jumlah murid yang lulus tidak cukup banyak, jadi beri mereka 50 angka ekstra, beri mereka 60 angka ekstra. Luluskan saja mereka dan biarkan mereka keluar dari sini. Luluskan mereka. Karena hal ini membuat kita tampak buruk.”

Jika sekolah tidak meluluskan cukup banyak anak-anak, maka sekolah tersebut memiliki peringkat yang rendah. Dan jika sekolah tersebut memiliki peringkat yang rendah, industri perumahan di wilayah itu menurun. Dan ketika industri perumahan menurun, semakin kecil pajak yang dihasilkan. Kecuali jika bisnis mereka bangkit, ini mempengaruhi seluruh industri. Jadi Anda memahami, bahwa itu semua bergantung pada berapa banyak murid yang berhasil lulus. Jadi mereka harus melakukan korupsi, untuk mempertahankan citranya.

“Oh, kami memiliki sekolah dengan peringkat tertinggi di negara bagian ini.”

Dan para guru melakukannya. Guru yang menolak melakukannya akan dipecat. Dan kemudian, mereka menyampaikan keluhan mereka di YouTube atau media lain. Tapi Anda tahu, korupsi juga terjadi bahkan di sini. Korupsi ini ada di mana-mana di sekitar kita.

Barangkali korupsi terjadi di perusahaan Anda. Mereka meminta kepada Anda. Anda seorang konsultan. Mereka meminta Anda untuk menandatangani dokumen. Proyek ini akan membutuhkan 500 dolar. Anda tahu, bahwa proyeknya hanya butuh 100 dolar. Anda membuat tagihan palsu kepada klien Anda. Tidak seharusnya Anda melakukan itu!

Tapi Anda berkilah, “Jika saya tidak melakukan itu, mereka akan memecat saya.”

Rejeki Anda tidak datang dari bos Anda. Rejeki datang dari Allah.

Jika kita tidak belajar untuk menentang ketidakadilan, kita tidak berhak untuk mengeluhkan kondisi umat. Sama sekali tidak berhak! Jika kita sendiri, dalam kehidupan pribadi kita, tidak berusaha menegakkan keadilan, maka itu tidak benar. Yang kita lakukan adalah tidak benar.

Saya kerap membaca tentang hal ini, dan kita terus berbicara tentang muslim di seberang Atlantik. Bagaimana dengan kita di sini? Saya kerap bertemu dengan para pemilik bisnis. Dan orang-orang yang bekerja untuk orang Muslim. Dan mereka dibayar secara berbeda.

Si pekerja berasal dari Pakistan. Dan sang pemilik orang Pakistan. Para pekerja Pakistan mendapat gaji lebih banyak. Para pekerja Afrika-Amerika mendapat gaji lebih sedikit. Para pekerja Spanyol mendapat gaji lebih sedikit. Dan mereka mengerjakan pekerjaan yang sama. Apakah itu adil?

Anda bisa mempertanggung-jawabkannya kepada Allah? Subhanallah!

Kita terbiasa berpikir bahwa agama kita sekedar ayat-ayat di dalam Al-Qur’an untuk mendapatkan barakah. Kita membacanya, kemudian sudah. Dan kita menjalani hidup kita seperti sebelumnya, kita bisa melakukan apa pun yang kita inginkan. Kita tidak akan bisa menghindar.

“Innallaha ya’ murukum an tu’addul-amaanaati ilaa ahlihaa wa idzaa hakamtum bainan-naasi an tahkumul bil-‘adl. Innallaha ni’immaa ya’izhukum bih.” (QS. An-Nisa: 58)

Lagi, dari awal sampai akhir, dan Dia mengatakannya lagi. Betapa menakjubkan pesan Allah kepada kita.

Apakah kalian mendengarkan?

Apakah kalian mencermati apa yang Allah katakan?

Betapa menakjubkan pesan yang baru saja Allah sampaikan kepadamu!

Dan lagi, ayat ini bahkan belum selesai. Subhanallahuwata’ala!

Dia menutup dengan, “Innallaha kaana samii’am bashiiraa.”

Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.

Allah Maha Mendengar – Maha Melihat

Apa maksud dari Maha Mendengar dan Maha Melihat?

Ketika seseorang pergi ke pengadilan, mereka bersaksi, dan sang hakim mendengarkan. Namun ketika mereka meminta bukti, mereka harus membawa seorang saksi, bukan mendengar, tapi menyaksikan. Jadi, dalam kasus-kasus peradilan, pertama-tama Anda mendengarkan testimoni. Namun untuk mengetahui apakah itu benar atau tidak, Anda harus membawa seorang saksi. Nah, siapakah saksi itu? Seseorang yang berasal dari luar (tidak terlibat) adalah seorang saksi.

Dan dalam kasus-kasus peradilan lain, Anda bisa membawa seorang saksi palsu.

“Ya, ya, saya melihatnya. Dia tidak merampok bank, dia sedang tidur di gedung apartemen saya. Saya melihatnya malam itu.”

Orang itu selamat. Anda bisa membawa seorang saksi palsu. Namun, di dalam peradilan Allah, siapa yang mendengarkan? Allah yang mendengarkan. Dan siapa saksinya? Allah saksinya. Siapa yang akan Anda hadirkan sebagai saksi? Bagaimana Anda bisa memalsukan seorang saksi? Subhanallah.

“Innallaha kaana sami’am bashiiraa.”

Sebuah penutup yang sempurna untuk ayat tentang keadilan. Sebaiknya kamu bersikap adil. Karena ketika kamu berdiri di depan peradilan Allah, tidak ada cara untuk lari. Tidak ada cara untuk menghindar. Ini terjadi dalam kehidupan keluarga kita. Dalam kehidupan bisnis kita. Dan bahkan seperti yang saya simpulkan, itu terjadi dalam kehidupan kita sebagai warga negara.

“Antu’addul-amaanaati ilaa ahlihaa.”

Jika saya tidak peduli siapa yang duduk sebagai wakil daerah, siapa kepala sekolah. Siapa yang menjadi anggota dewan Masjid, atau imam.

“Saya tidak peduli, semua itu adalah jabatan publik.”

Setiap jabatan publik di dalam Masjid, di luar Masjid, semua itu merupakan tanggung jawab masyarakat.

Para anggota kelompok relawan datang dan memohon kepada Anda, “Tolong, besok akan ada rapat (syuro). Dan akan ada pemilihan, dan ada orang-orang yang akan membeli posisi ini dan itu. Kami berharap bisa memilih orang-orang yang terbaik. Kami mohon partisipasi Anda.”

Hanya delapan orang yang muncul.

Ini bukan “An tu’addul-amaanaati ilaa ahlihaa”.

Kita harus berpartisipasi. Karena inilah amanah. Posisi ini adalah amanah. Dan Masjid ini adalah tanggung jawab Anda, begitupun setiap Masjid di negara ini dan di tempat-tempat lain.

Hal yang sama berlaku untuk mereka yang duduk sebagai pejabat di sektor publik mana pun. Kita harus terlibat dalam pemilihan mereka, karena kita harus bisa mengatakan bahwa setidaknya kita ikut berperan dalam menyerahkan posisi ini kepada mereka yang memang berhak. Mereka yang lebih berhak dibandingkan yang lain.

“An tu’addul-amaanaati ilaa ahlihaa.”

Ini sangat penting! Tanggung jawab pribadi di dalam sebuah komunitas di mana Anda tinggal. Anda tidak bisa sekadar berkata, “Ya, masya Allah, kami punya cukup makanan, kami punya rumah, kami punya mobil.”

“Hidupku menyenangkan, siapa peduli apa yang terjadi di luar sana? Selama hidupku baik, aku tidak peduli dengan hal yang lain.”

Ayat ini merupakan penolakan atas hal itu. Anda harus peduli pada hal-hal yang terjadi di luar. Yang terjadi di dalam komunitas Anda, yang terjadi di luar diri Anda. Subhanallah!

Semoga Allah membuat kita menjadi umat yang bertanggungjawab, mampu mengambil pelajaran dari Al-Qur’an. Dan membawa cahaya Al-Qur’an ke dalam kehidupan mereka.

Barakallahu fil quranil hakim, wa nafa’ani wa iyyakum bil ayat, wa dzikril hakim.

Subtitle: NAK Indonesia
Donasi: https://www.kitabisa.com/nakindonesia

English Transcript: https://islamsubtitle.wordpress.com/2018/07/26/honesty-justice-in-the-society/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s