[MFA2018] Mau Jadi Kelompok Manusia Pertama yang Dicintai Allah? – Autumn Maven


Mau jadi kelompok manusia pertama yang dicintai Allah? Tes dirimu dulu. Rendah hati atau sombong?

Seringkah kita menemukan kenyataan yang saat ini belum atau tak sejalan dengan harapan? Kadang bukan karena kita sudah di garis finish, tapi bisa jadi karena belum maksimal ikhtiar, terutama yang berkaitan dengan sesuatu yang memang bisa diubah, seperti keadaan diri.

Sebagaimana yang kita tahu, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (Q.S Ar-Ra’d: 11)

Cita-cita ingin menjadi kelompok manusia pertama yang dicintai Allah, tapi sering “berjalan” di muka bumi dengan sombongnya. Meremehkan, mencibir, merendahkan, mencaci bahkan menghardik orang lain baik lewat lisan maupun hanya sebatas gerutuan, atau mungkin hanya pikiran sepintas.

Cita-citanya ingin menjadi kelompok manusia pertama yang dicintai Allah, namun termasuk kaum bersumbu pendek. Boro-boro menebar kebaikan dan kedamaian malah seringnya memperburuk keadaan.

Mengingat hal itu saya jadi teringat pembahasan Q.S Al-Furqan: 63 oleh Ustad Nouman yang ternyata pas banget dengan yang saya perlukan.

Ayat ini berhasil membuat saya merenung dan beristighfar. Serasa ditampar sekaligus memicu diri untuk tidak menyerah dalam memperbaiki diri. Secara saya ini orang yang ekspresif dan cenderung reaktif. Alhamdulillah disodorkan penjelasan yang nendang banget. Terlebih Ustad Nouman menjelaskannya dengan apik dan menarik.

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan ketika orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

(Q.S Al-Furqan: 63)

Rendah Hati

Ustad Nouman menyebutkan bahwa kelompok manusia pertama yang dicintai Allah adalah hamba spesialnya Allah Yang Maha Penyayang, yaitu orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.

يَمْشُونَ (yamsyuuna) bukan hanya bermakna “berjalan” biasa tapi termasuk semua kegiatan yang dilakukan di muka bumi ini.

Rendah hati berarti merasa rendah di hadapan Allah. Saat berkendaraan, bekerja, belajar, bermasyarakat, cara berbicara, cara melihat orang lain, pembawaan diri, cara memperlakukan orang lain dan lain sebagainya seharusnya memiliki unsur kerendahan hati – (haunan) هَوْنًا .

Tidak ada alasan untuk menyombongkan diri terhadap sesama manusia. Allah memuliakan semua keturunan Nabi Adam alaihissalam. Sebagaimana dalam Q.S Al-Israa’: 70: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam…

So, who are you to look down on human being?” #jleb

Nah pertanyaannya: “Apakah saya rendah hati? Atau saya sombong? Bagaimana cara saya mengetahuinya?

Nah! Menariknya, ternyata jawabannya ada! Ustad Nouman menjelaskan bahwa Allah memberikan caranya sebagaimana lanjutan dalam Q.S Al-Furqan: 63 tadi. Sehingga antara rendah hati dan mengendalikan emosi itu sangat erat berkaitan.

Mengendalikan Emosi

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

…ketika orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

Well, ketika kita dihina memang menyakitkan, jika ada yang ngegosipin buruk tentang kita memang menyakitkan. Allah menyebut mereka dengan “Jahilun” الْجَاهِلُونَ

Jahil” dalam bahasa Arab merupakan lawan kata dari “akil“. Jahil adalah orang yang tidak memiliki kendali atas emosi mereka, jika ada kata-kata kotor dalam pikirannya, maka langsung diucapkan. Mereka tidak memikirkannya terlebih dahulu.

Orang-orang yang rendah hati ketika menghadapi situasi berurusan dengan orang jahil adalah, قَالُوا سَلَامًا “mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”

Coba cek dirimu, apakah selama ini kamu sudah mampu قَالُوا سَلَامًا “mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” ketika berhadapan dengan orang-orang jahil seperti berikut:

– Ketika berbicara dengan orang yang tidak mengontrol emosinya
– Ketika berbicara dengan orang yang menjengkelkan
– Ketika berbicara dengan orang yang sombong
– Ketika berbicara dengan orang yang bebal
– Ketika berbicara dengan orang yang pemarah
– Ketika berbicara dengan orang yang suka menghina

Pernah gak sih, kamu dongkol banget dan berujung ngedumel, marah-marah, mungkin sampe dendam kesumat pas berurusan dengan orang-orang “jahil” seperti di atas?

Nyebelin banget deh, pengen ngajak berantem, dan rasanya emosi naik sampe ubun-ubun? Ya salaam, rasanya tuh sampai ingin lempar jumroh deh kalo bisa, hehe. Entah di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di jalanan, di rumah, di komunitas, di medsos, atau di grup WhatsApp-mu.

Terus biasanya ya ujungnya, kita jadi menyalahkan si orang jahil itu karena sudah bikin kita marah, kesal, bad mood, hari kita jadi berantakan, dll.

Ya, memang paling mudah dan enak untuk blaming others, ya kan? Biar kita lepas dari tanggung jawab gitu. Padahal yang memilih respon siapa coba? Kalau sudah kayak gini, sebenarnya kita sama-sama jahil jadinya, ya kan? Atau jangan-jangan malah lebih sering kita sebagai orang jahilnya? #nahloh Astagfirullahaladziim.

Kalau yang begini aja udah serasa Hard level. Gimana dengan situasi yang dialami Rosulullah ya? Ya Allah, malu.

Sementara Rosulullah dan orang-orang yang rendah hati ketika menghadapi situasi semacam itu ya قَالُوا سَلَامًا “mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”

Misal nih contoh dari Ustad Nouman, ketika menghadapi orang yang nyalip kita seenaknya di jalan, tapi pas ditegur malah dia yang nyolot dan marah-marah ke kita, maka sikap kita adalah mengendalikan emosi, tidak meladeninya dan “qolu salaaman“.

Contoh:

Assalamu’alaikum. Baiklah kamu benar dan saya yang salah. Silahkan pergi lanjutkan perjalanan Anda.

Ada juga beberapa contoh kejadian yang dialami Ustad Nouman sendiri; diremehkan saat mau mengajar Bahasa Arab, atau ditendang orang saat ‘itikaf di Masjid, Maa Syaa Allah Tabarakallah beliau berhasil meresponnya dengan tenang. Qolu Salaaman.

Gimana? Kamu bisa gak kayak gitu? Kalau gak bisa maka.. kita belum memenuhi syarat untuk menjadi kelompok manusia pertama yang dicintai Allah.

Eits, gak cuma itu, masih ada tantangan berikutnya.

Allah ternyata tidak mengatakan “jika” melainkan mengatakan “ketika”. Ustad Nouman menjelaskan perbedaan di antara keduanya: “Ketika” itu pasti terjadi, sedangkan “jika” itu mungkin terjadi.

Maka berhadapan dengan orang-orang jahil itu niscaya, pasti dialami oleh setiap orang bahkan bisa setiap saat.

Kita tidak pernah tahu mengapa orang-orang jahil itu berbicara dengan cara yang tidak mengenakan hati kita. Mungkin ada banyak hal yang pernah terjadi dalam hidupnya. Kemudian ketika dia menemui kita, dia menumpahkan semua amarah yang dipendamnya ke kita.

Seperti landak yang terluka kemudian menyemprotkan duri-durinya ke segala arah, dan qadarullah saat itu kita sedang di depan si landak ini, tentu saja kita kena tusukan durinya, sedikit maupun banyak. Sakit? Ya, pasti sakit. Namun respon kita saat tertusuk duri itu adalah pilihan kita dan kita bertanggung jawab atas pilihan tersebut.

Kita harus tetap berbaik hati dan sopan, tetap rendah hati dan mengendalikan emosi dalam situasi tersebut. Sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dalam menghadapi orang-orang jahiliah terdahulu bahkan hingga mereka merencanakan pembunuhan terhadap beliau namun beliau tetap berakhlak mulia pada mereka.

Ini bagian dari sunnah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam, ketika ada orang yang membuat kita marah, tenanglah. Secara tata bahasa kata “salaman” berarti berbicara dengan tenang, damai, berbicara agar tidak menyakiti dan membuat marah.

Kita tidak hanya menerapkan ini ketika berhadapan dengan orang lain, melainkan di dalam rumah kita. Kepada keluarga kita sendiri.

Mengapa?

Karena akan selalu ada anggota keluarga yang membuat kita kesal dan marah, membuat kita tidak enak hati atau membuat kita gemas karena tidak sesuai harapan kita. Entah karena luka di masa lalunya atau memang tabiatnya, lalu kita bersikap keras, sombong, dan marah pada mereka.

Seringnya kita menganggap keluarga sebagai orang yang paling bisa memaklumi kita, sehingga kita cuek saja menganggap mereka memiliki toleransi tinggi atas sikap buruk kita. Berpikir bahwa mereka akan selalu memaafkan kita dan tidak menyimpan dendam karena ikatan keluarga.

Tentu saja itu bukan cara berkomunikasi yang baik pun bukan hubungan yang sehat. Hal ini akan sangat mempengaruhi kualitas hubungan keluarga yang ujungnya akan berpengaruh besar pada kualitas sebuah generasi dan bangsa.

Lebay? Enggak kok. Saya rasa saat ini banyak yang mulai aware terkait hal ini. Banyak di luar saya yang sudah mulai belajar tentang pola asuh dan pola komunikasi yang baik, benar dan menyenangkan dalam keluarga atau apapun istilahnya.

Sebagai contoh kasus, masih ingat kisah Imam Abu Hanifah dan ibunya yang menolak fatwa beliau?

Saya rasa banyak yang mengalami kisah mirip Imam Abu Hanifah, tidak terkecuali saya sendiri. Terkadang bahkan umumnya memang selalu saja ada anggota keluarga yang tidak suka bahkan menolak mendengar dari kita meskipun kita di posisi sebagai orang yang lebih memahami dalam bidang tertentu. Soal agama, misalnya. Dan itu bisa membuat kita kesal atau marah.

Maka jika itu terjadi, jangan marah, قَالُوا سَلَامًا bicaralah dengan tenang, karena kemarahan kita akan membuatnya makin jauh dari agama. Lengkap Ustad Nouman.

Kita harus lembut pada mereka, karena kita pun dulu pernah ada di posisi mereka. Dan Allah melembutkan hati kita, memberi kita hidayah, maka tunggulah hingga Allah melembutkan hati mereka dan kita pun harus lembut pada mereka.

Allah saja memerintahkan kepada nabi Musa alaihissalam untuk berkata lembut pada Firaun yang menganggap dirinya tuhan dan melakukan segudang kedzaliman, yang kalau dirinci akan banyak sekali alasan untuk membeci Firaun. Tapi Allah berfirman:

Berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.” (Q.S 20: 44)

Jika kepada Firaun saja harus berkata lembut, bagaimana kepada istrimu, suamimu, anakmu, sepupumu, pamanmu, bibimu, adikmu, kakakmu?

Inilah orang-orang yang membuat kita marah, itu lumrah, semua orang mengalaminya, tapi merekalah yang paling layak mendapatkan kelembutan dari kita. Kita harus ubah perilaku kita pada mereka. Inilah “Qolu Salaaman“. Maka jelaslah قَالُوا سَلَامًا ini sangat penting.

Ada sebuah motivasi dari Ustad Nouman agar dirimu lebih bertekad kuat saat menghadapi situasi tidak menyenangkan, saat berhadapan dengan orang “jahil” :

Saat kamu “dipaksa” untuk rendah hati; menenangkan situasi dan tidak membalas maka katakan pada dirimu, “Aku melakukan ini agar aku termasuk pada ibaadurrahmaan.”

– Nouman Ali Khan –

Ini adalah kelompok manusia pertama yang dicintai Allah. Yaitu orang yang dapat mengendalikan emosi dan harga dirinya, yang dapat menghilangkan egonya dan mengendalikan situasi. Meskipun dia benar.

It’s okay. It’s not worth to fight.

Wallahu’alam. Semoga kita semua diberikan kesabaran dan kekuatan untuk menjadi orang yang rendah hati dan mengendalikan emosi sehingga menjadi Ibaadurrahmaan, kelompok manusia pertama yang dicintai Allah. Sungguh tidak ada teladan terbaik selain Rosulullah Shalallahu alaihi wassalam.

Ramadan Mubarak.

Referensi video: https://www.youtube.com/watch?v=ml9VxietDKA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s