Ulama Bukan Psikiater Atau Terapis – Yasir Qadhi


Suatu ketika, sekitar musim panas tahun 1999 atau 2000, saya baru saja memberi kuliah. Pada sesi tanya jawab seseorang memberi saya pertanyaan tentang masalah depresi.

Saya tidak ingat persisnya yang saya katakan (alhamdulillah kuliah tersebut tidak direkam), namun kira-kira terkait dengan ‘Jika seseorang memiliki iman yang teguh, dia takkan depresi,’ yang lalu saya lanjutkan dengan membahas bagaimana cara meningkatkan keimanan.

Ulama Bukan Psikiater Atau Terapis - Yasir Qadhi

Ternyata saya keliru. Sangat keliru.

Depresi adalah sesuatu yang nyata. Memang keyakinan, keluarga, teman, dan banyak factor lainnya bisa menolong, namun kesemuanya ini bukanlah garansi bahwa depresi itu tidak ada.

Mereka yang mengkhususkan diri di dalam studi Islam pada dasarnya selalu di rujuk oleh umat untuk menyelesaikan setiap masalah. Namun yang bertanya dan yang ditanya, keduanya harus memahami bidang keahlian mereka.

Saya telah berguru selama 10 tahun pada salah satu sekolah agama yang tergolong paling keras di dunia. Telah saya pelajari berbagai ilmu dan telah saya baca ratusan buku. Tidak sekalipun topik konseling dibahas (saya tidak menyarankan setiap sekolah agama untuk membahasnya, meskipun akan sangat bagus jika bisa demikian).

Keadaan standarnya adalah, seorang ulama ditanyai dengan pertanyaan yang menyangkut aspek hukum atau agama. Tanyakan kepadanya ayat, hadis, atau aturan fikih yang tidak Anda pahami.

Namun, dan saya katakan ini dengan lantang dan jelas, rerata Syekh tidak memenuhi syarat untuk menjadi konselor keluarga, penasehat perkawinan, atau psikiater yang dapat membantu Anda menangani gangguan obsesif kompulsif (Obsessive Compulsive Disorder), depresi, trauma mental, pelecehan seksual, ketergantungan obat, atau pengidap masalah lain yang belum terbiasa mereka tangani. (Jelas saja beberapa dari mereka telah mengambil pelatihan lain paska sekolah agamanya – tapi saya tidak bicara tentang kelompok ini).

Jika Anda butuh pertolongan, silahkan datang kepada mereka yang ahli. Tentu insya Allah keluarga, teman, Syekh di lingkungan Anda, dan sebagainya bisa menjadi mekanisme pendukung sekunder dalam beberapa hal (kembali, ini ditinjau kasus per kasus), namun sadarilah orang pertama yang harus Anda temui jika Anda menghadapi depresi adalah serang terapis ahli, bukan seseorang dengan bacaan Qur’an yang indah atau seseorang yang bisa memberi kuliah akademik yang menarik tentang Islam.

Qur’an mengatakan kepada kita:

Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Bersama kesulitan, ada kemudahan.” [Surat Al-Insyirah, ayat 5-6]

Dan jangan bunuh dirimu sendiri, karena sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” [Surat An-Nisa, ayat 29].

Semoga Allah menolong kita untuk mengatasi masalah kita, dan mengampuni semua kesalahan dan dosa kita.

Sumber: https://www.facebook.com/yasir.qadhi/posts/10155996835973300

Resume oleh Key

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s