Ketika Rasulullah Mengerutkan Keningnya – Nouman Ali Khan


Terkait terjemahan versi bahasa Indonesia, menarik menyimak bagaimana Ustadz NAK mengupas ‘abasa sebagai frowned sementara hati saya belum bisa menerima terjemahan “bermuka masam” …

Kisah ini ada di Qur’an. Tentang Rasulullah yang berurusan dengan orang-orang penting di Mekah. Orang-orang yang berpengaruh. Orang-orang yang bagaikan magnet. Jika mereka masuk Islam, akan mudah buat populasi untuk tertarik mengikuti mereka. Berbondong-bondong masuk Islam. Jelas terbayang jika seorang kepala suku masuk Islam, maka satu suku itu semuanya akan ngikut masuk Islam.

Sama halnya di zaman now, kita merasakan kegembiraan mendengar ada selebriti yang masuk Islam. Atau hijrah. Bahkan perasaan gembira itu tetap ada walau beritanya masih menduga-duga.

Seperti video konspirasi tentang Obama yang muslim, dan Michael Jackson yang masuk Islam. Daftarnya mungkin masih terus berlanjut. Dan kita jadi hepi karena ‘kita dapat yang besar’. Karena, dengan Islamnya mereka, kita berharap akan banyak followers mereka yang ikut masuk Islam.

Berita yang benar, yang bukan menduga-duga, sudah pernah ada. Dan kerasa banget pengaruhnya. Cassius Marcellus Clay, Jr. menerima Islam sebagai agamanya, mengubah namanya menjadi Muhammad Ali, dan memberikan oksigen untuk dunia Islam kala itu.

Kembali ke kisah Rasul. Yang sedang Beliau hadapi saat itu adalah para pemimpin Quraisy, milyuner, trilyuner, politisi, yang tidak punya banyak waktu. Jika mereka punya waktu, mereka paling kasih dua menit, karena terlalu banyaknya agenda yang menyibukkan mereka.

Mana mungkin mereka dengerin kuliah keislaman berdurasi 40 menitan, kultum aja sudah terlalu panjang. Jadi Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam waktunya sangat terbatas. Kesempatan untuk bisa bicara sama mereka adalah sesuatu yang langka.

Di saat-saat seperti itu, Rasulullah didatangi salah satu sepupunya. Abdullah bin Ummi Maktum, yang buta, yang menyimpan pertanyaan untuk Rasulullah. Sebuah situasi yang tidak mudah.

Abdullah buta, tapi tidak tuli. Dia tahu ada percakapan yang tengah berlangsung. Dan dia tetap saja masuk, menginterupsi Rasulullah. Apakah Rasulullah mencegah Abdullah dan bilang, “Jangan sekarang,” atau “Tunggu sebentar,” atau “Biar aku selesai dulu bicara dengan …”?

Rasulullah begitu murah hati, tak sepatah kata pun terucap untuk Abdullah. Hanya saja, jika Rasulullah melayani Abdullah, kesempatan langka yang mungkin hanya 30 detik bersama pembesar Quraisy itu akan hilang. Ada semacam tekanan atau dilema yang dirasakan, dan satu-satunya respon Rasulullah atas kehadiran Abdullah adalah: mengerutkan keningnya.

Dan Allah pun menurunkan ‘abasa watawalla’ (QS ‘Abasa, 80: 1). Quran versi bahasa Indonesia menerjemahkannya: ‘Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling’. Saya berterimakasih kepada para ulama yang jasanya sudah terlalu banyak sehingga keseluruhan Quran sudah diterjemahkan ke dalam bahasa ibu pertiwi, tapi saya tidak bisa membayangkan Baginda Rasul bisa bermuka masam, mengingat segala kisah tentang keindahan akhlak Beliau.

Terjemahan bahasa Inggris versi Yusuf Ali maupun versi Dr. Mustafa Khattab sama-sama menyebutnya ‘frowned’. Di video ini, Ustadz Nouman juga menyebutnya ‘frowned’ sambil kedua tangan Ustadz menyengaja membentuk lipatan-lipatan di dahi, mengerutkannya. Seperti halnya para pecatur, mereka pun mengerutkan kening ketika sedang bermain catur, tapi tidak bermuka masam.

Allah membahas kejadian ini setidaknya sampai ayat ke-11, padahal Rasulullah cuma mengerutkan keningnya. Ustadz Nouman bikin analogi tentang QS Al-Isra’, 17: 23, tentang nasihat untuk tidak mengatakan ‘uffin’ apalagi membentak kedua orang tua dalam pemeliharaan. Menghadapi Abdullah, tidak ada suara atau keluhan apapun yang keluar dari mulut Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Yang dilakukan Rasulullah hanyalah mengerutkan kening, yang nyata-nyata, tidak mungkin akan terlihat oleh seorang yang buta. Dan ketika Rasulullah sedikit melakukan perubahan dalam mengarahkan wajah pun, seorang yang buta tidak akan melihatnya. Jadi Abdullah tidak mungkin tersinggung dong, kan dia ga lihat. Tapi Allah bilang kepada hamba dan kekasih-Nya, cara merespon Rasulullah yang cuma seperti itu, tetap dibilang ga bagus.

Ustadz Nouman mengajak kita untuk menarik hikmah yang lebih luas: kita harus menghormati, bukan hanya orang yang buta, tapi juga semua orang yang Allah anugerahkan disabilitas buat mereka.

Lagian, ini yang bikin saya tambah suka dengan tadabbur ala Ustadz Nouman, kalo para sahabat lihat dari kejauhan, Rasulullah sedang bersama para pembesar Quraisy, lalu datang seseorang yang tiba-tiba mencoba memasuki arus pembicaraan, dan ternyata dia adalah sepupu Rasulullah, ngapain Rasulullah harus bela-belain sepupunya, kan bisa ketemu kapan saja. Tapi Allah ternyata tidak mengizinkan Rasulullah untuk sekedar memberi kesan bahwa yang ini lebih penting, dan yang itu kurang penting.

Kalo dilihat dari kejauhan, sekedar mengerutkan kening begitu, apakah itu bisa dibilang meremehkan? Ga juga. Tapi Allah tetap bilang, that’s not good enough! Allah tahu apa yang terbaik yang seharusnya dilakukan Rasulullah, dan langsung memberikan koreksi-Nya, on the spot.

Tadabbur belum selesai. Masih di ayat ini. Ustadz Nouman mengajak kita memikirkan hikmah yang lain lagi: Allah kan tahu namanya, tapi yang Allah sebutkan adalah ‘an jaa-ahul a’ma’, karena seorang yang buta telah datang kepadanya (QS ‘Abasa, 80: 2). Allah sengaja menyebutkan the blind one. Ini adalah simbol di mana Allah menginginkan kita semua untuk menghormati semua orang dengan disabilitas.

Allah minta Rasulullah untuk melupakan semua pembesar Quraisy itu karena Abdullah lah yang lebih penting. Ada satu kata yang sama-sama digunakan: ‘yazzakkaa’, menyucikan diri. Di satu sisi, Abdullah ingin menyucikan diri (ayat ke-3); sementara itu tidak ada cela buat Rasulullah kalo pemimpin Quraisy tidak menyucikan dirinya (ayat ke-7). Buat Rasulullah saat itu, yang VIP adalah pembesar Quraisy. Buat Allah, yang VIP justru Abdullah bin Ummi Maktum.

Luar biasa bagaimana Allah mengajarkan kepada Rasulullah tentang pentingnya memprioritaskan Abdullah dengan memikirkan betapa sulitnya seorang yang buta bergegas ingin ketemu Rasulullah untuk mendapatkan pengajaran.

Kita sering lihat orang buta yang sedang berjalan dengan tongkatnya. Untuk satu dua langkah ke muka saja dia harus pukulkan tongkatnya berkali-kali buat mastiin tidak ada halangan di depannya. Ini, situasinya, Abdullah bergegas mendatangi Rasulullah. Kecepatan pukulan tongkatnya mungkin lebih tinggi dari biasanya.

Di masjid yang saya biasa shalat di sana, ada beberapa jamaah yang usianya sudah 70 atau lebih, dan ada satu yang bawa kursi lipat. Beliau shalat jamaah di masjid dengan duduk. Betapa sulitnya beliau memperjuangkan konsistensi untuk shalat berjamaah, yang saya tidak bisa rasakan.

Bahkan Ustadz Nouman juga mengingatkan, ada orang yang duduk di masjid, yang setiap detik duduknya itu dia merasakan kesakitan. Hanya dia yang tahu. Kita yang normal, menganggap dia sama normalnya dengan kita. Kita tidak tahu kesakitan apa yang dirasakan oleh orang yang mengalaminya.

Tapi Allah tahu itu. Rasulullah hanya tahu ada seseorang yang datang. Allah tahu orang ini datang dari tempat yang jauh. Bukan hanya jauhnya perjalanan yang ditempuhnya, tapi juga kesulitan dalam menempuhnya karena kebutaan yang dialaminya. Dan orang ini punya rasa takut di hatinya (ayat ke-9).

Perhatian Rasulullah terbagi, tapi itu tidak seharusnya terjadi, karena Allah ingin prioritas Rasulullah diberikan kepada yang punya rasa takut di hati. Menurut Ustadz Nouman, yang paling menakutkan dari kejadian ini adalah, Rasulullah hanya merasa distracted, merasa perhatiannya terbagi, sehingga tidak memperhatikan Abdullah. Dan itu sudah cukup bagi Allah untuk menurunkan peringatan-Nya.

Kalo kita lihat orang berada di atas kursi roda, maupun disabilitas lainnya, sudah seharusnya kita menghormatinya. Lebih dalam lagi, Ustadz Nouman juga memberikan perhatian dan klarifikasi tentang cara memberikan penghormatan itu.

Melihat orang buta yang akan menyeberang jalan, bergegas mendatanginya sambil mengatakan ‘ayo Pak, saya bantu menyeberang jalan’ belum tentu menghormatinya. Apalagi kalo dia sudah terbiasa, sudah tahu cara mengatasinya. Kita tidak perlu ‘mengingatkan’ disabilitas dia.

Demikian juga dengan orang yang duduk di atas kursi roda. Meminta tangannya untuk diam karena kita mau dorong kursi rodanya, bisa jadi malah membuat dia merasa tidak dihargai. Itu malah bisa dianggap menghina, karena kemandirian adalah kebanggaan dia.

Ustadz Nouman mengingatkan, kalo kita ingin menawarkan bantuan, kita harus punya rasa sensitivitas, kita harus hati-hati. Ustadz mencontohkan, jika ada seorang tua yang bawaannya banyak, hati-hati untuk menawarkan bantuan. “Bapak, boleh saya bantu, saya tahu Bapak sudah berumur,” ini adalah contoh yang kurang baik. Alternatif yang lebih baik, “Pagi Pak, wah saya juga pernah bawa bawaan yang banyak, kalo Bapak berkenan, saya bisa bantu bawakan Pak, kalo boleh.

Ayat ini belum habis dikupas oleh Ustadz Nouman. Topiknya masih soal disabilitas yang tampak dari luar (outwardly disabilities). Sementara yang satunya, disabilitas yang tak tampak dari luar (inwardly disabilities) belum dibahas.

Ada orang-orang yang menderita kecemasan, depresi, MS (multiple sclerosis, penyakit jangka panjang yang bisa mempengaruhi otak), kanker, yang kita tak bisa melihatnya. Mereka kesakitan, tapi kita tak bisa melihatnya.

Mereka tampak normal. Ketika jalan bareng, mereka jalannya pelan banget. Lalu kita ‘merasa terganggu’, kenapa sih mereka ga bisa diajak cepat? Mereka terlihat sehat, mereka terlihat muda, tapi kenapa mereka lambat?

Kita ga perlu dapat laporan medis sebagai justifikasi sakitnya mereka. Kalo kita lihat orang jalannya pelan, sebaiknya kita tidak mengucapkan, “Apa yang salah denganmu?

Ustadz menyarankan supaya kita juga berjalan pelan seperti mereka dan mengatakan bahwa kita suka jalan dengan mereka, ngobrol tentang indahnya hari itu. Dibutuhkan keterampilan untuk menghormati orang lain, dan memiliki perasaan yang halus. Begitu halusnya, sehingga kita bahkan tidak mengerutkan kening.

Jadi kita harus belajar tentang berperasaan halus, tentang kata-kata yang dipilih untuk digunakan, bahasanya gimana merangkainya, apa yang bisa melukai perasaan mereka. Hindari untuk melakukan ‘muroja’ah’, mengulang dan mengingatkan apa yang mereka derita, karena mereka tidak butuh itu.

Mereka tidak ingin orang mengingatkan tentang kursi roda yang mereka gunakan. Mereka ingin orang lain melihat mereka sebagai manusia yang sama.

Mungkin ada orang di sekitar kita, di rumah, di kantor, yang mudah lelah, mudah ngantuk, mudah cemberut, moody. Mungkin mereka menderita depresi. Kita harus sensitif karena rasa sakitnya bisa lebih parah dari sakit yang bersifat fisik.

Ada orang yang mengalami gangguan bipolar sehingga tidak bisa mengendalikan perilaku maupun kata-katanya. Kita harus sensitif, karena sakit itu bukan pilihan mereka. Telebih lagi kepada orang tua yang anaknya sakit, kita harus lebih sensitif lagi.

Jangan sampai niat baik kita berubah menjadi sebuah penghinaan jika kita tidak tahu cara mendekati hati mereka.

Ustadz Nouman belum kehabisan contoh. Seperti sumur zam-zam saja. Belum kering. Masih ngalir terus. Contoh kali ini situasinya adalah menjelang walimahan. Biasanya ada serangkaian proses yang mendahuluinya, termasuk, acara pertemuan antara dua keluarga. Keluarga yang dikunjungi menyembunyikan anak yang punya disabilitas. Karena, memalukan. “What are you doing?!

Ketika kita tidak memperhatikan dhu’afa, Allah akan menarik rizqi-Nya. Rasulullah bilang begitu. Menyembunyikan anak dengan disabilitas di kamar tidur, sehingga tidak memalukan dilihat tamu? Ustadz mengingatkan lagi pentingnya kita punya sensitivitas di sini. Dan mengingatkan juga bahwa Rasulullah diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin. Seharusnya kita meneladaninya, menyayangi semua anak kita. Semua, tanpa kecuali.

Bagaimana kita bisa tunjukkan pada dunia, bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, kalo di keluarga kita sendiri saja, kita tidak bisa menunjukkannya.

Semoga Allah menghaluskan hati kita, menjadikan kita umat yang menghormati sesama, menghormati dengan cara yang Allah dan Rasulullah harapkan.

Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.

*****

Resume ditulis oleh Heru Wibowo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s