Cult vs Community – Nouman Ali Khan


Di penghujung lecture yang Ustad Nouman sampaikan (“Take Hold of Your Future”, https://www.youtube.com/watch?v=UPLjU4jhsUY), sebelum QA Session, Ustad membagi ilmu yang beliau dengar di salah satu ICNA Convention yang beliau ikuti, yang menurut Ustad, itu bagus banget. Pembicaranya adalah Profesor Ingrid Mattson.

Profesor bicara tentang bedanya cult dan community.

Community adalah tempat di mana semua orang disambut dengan senang hati. Keragaman dihargai. Fakta bahwa ada yang berbeda, adalah hal yang baik, karena kebhinekaan itu menambah tekstur, kedalaman, dan kekayaan dari komunitas itu sendiri.

Cult, however, menuntut setiap anggotanya harus sama. Mereka harus bicara yang sama, mereka harus berpakaian yang sama, mereka harus terlihat sama, mereka harus bertindak yang sama. Segalanya seperti harus seragam. Itulah Cult.

Di Community, jika seseorang bikin kesalahan (kita muslim, kita manusia, kita bikin kesalahan), jika seseorang berbuat dosa, jika seseorang keluar dari jalan yang benar, yang dilakukan oleh Community adalah peduli dengan orang itu, membimbingnya dengan kasih sayang, membantunya. Community bisa bikin orang ini balik lagi ke jalurnya. Community mendukung siapa saja untuk kembali.

Dengan kata lain, Community itu seperti kita sedang naik kendaraan bareng dan jika ada yang mau terjatuh, ada teman-temannya yang akan pegang dia erat-erat untuk kembali aman masuk ke kendaraan.

Di Cult, jika seseorang bikin kesalahan, dia ditendang keluar. Tidak ada toleransi. “Kamu, keluar jalur, kamu selesai (ga ada ampun)!

Di Community, untuk memahami satu sama lain dengan lebih baik, itu dilakukan dengan percakapan yang terbuka. Anda ingin bisa mengajukan pertanyaan tanpa takut dikritik. Tidak ada seorang pun yang bertanya, lalu ditanggapi dengan, “Kok bisa ya dia menanyakan itu,” atau, “Berani-beraninya dia bertanya seperti itu.

Siapapun tidak takut untuk bertanya, untuk mendapatkan klarifikasi, karena Community mendukung ide tentang komunikasi yang terbuka. Tidak ada yang tabu. Bebas untuk bertanya tentang apapun yang ingin kita tanya. Tanpa takut dihakimi.

Di Cult, kita ga boleh nanya. Jika kita nanya sesuatu, langsung ‘ditembak’. “Berani-beraninya kamu!” “Kamu harus malu sama diri kamu sendiri!” “Kenapa kamu tidak bisa menjadi seperti yang lain?!!!” (jadi robot … hehehe …) Jadi idenya adalah menjaga keseragaman.

Akhirnya, di Community, kita tidak sekedar punya dorongan untuk memahami diri kita sendiri, tapi juga memahami tetangga, lingkungan, masyarakat sekitar kita. Jadi Community itu juga pergi ke gereja, pergi ke pemadam kebakaran (dll), dan juga mengundang mereka untuk hadir di Communnity kita. Mengajak dialog terbuka untuk bercerita tentang keyakinan atau gagasan masing-masing. “Wata’aawanuu ‘alal birri wattaqwa.” (QS Al-Maaidah: 2). Tolong menolong dalam kebajikan dan takwa, kita bisa lakukan itu. Bahkan kita juga bisa sepakat tentang hal-hal tertentu dengan mereka.

Community itu ingin menjangkau khalayak yang lebih luas (reach out) dan ingin masyarakat mengetahui keberadaannya (be known). Community mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang bisa memberikan layanan kepada sesama.

Cult membenci komunikasi ke luar. Mereka ingin mengisolasi diri, memutuskan komunikasi dari orang lain. Dan apa yang dilakukan Cult kepada anggotanya adalah, “Jangan dengarkan orang lain karena mereka akan mengacaukanmu!” “Satu-satunya cara agar kamu tetap aman adalah, kamu harus tetap bersama kami dan hanya dengarkan kami!” “Kitalah yang paling benar Islamnya, yang lain-lain itu menyimpang semuanya!” “Mereka itu penuh waswasa dan akan mengacaukan akidahmu, dll, dll, jadi jangan datangi ustad itu, jangan datangi acara itu, jangan pergi ke masjid itu, jangan pergi ke sini, ke situ, karena kamu akan tersesat!” “Kami peduli untuk bikin kamu aman.

Akhirnya, (sebelumnya, Ustad sudah bilang “akhirnya” … hehehe …), ini sekarang yang benar-benar “akhirnya”, karena ini yang paling penting. Community, salah satu fungsi dasarnya, adalah membantu keluargamya menjadi lebih kuat. Di Community, kita dilatih untuk menjadi ayah yang lebih baik, menjadi suami yang lebih baik, menjadi istri yang lebih baik, menjadi anak yang lebih baik, menjadi tetangga yang lebih baik; Community membantu kita menumbuhkan hubungan antar-individu yang lebih baik. Itu yang dilakukan Community.

Yang dilakukan Cult? Memutuskan hubunganmu dengan keluargamu. Kamu jadi punya konflik di rumah, banyak perdebatan dan pertengkaran, rumah berubah jadi medan pertempuran. Kamu ingin mengubah keluargamu, tapi keluargamu tidak setuju dengan Cult-mu. Keluarga berubah jadi musuh. Lalu Cult bilang, keluargamu adalah fitnah, mereka (keluarga) itu adalah “dunia”, kami memanggilmu untuk mendekat ke agamamu. Kalo Cult ya begini ini.

Alasannya kenapa Ustad harus jelaskan ini adalah, kebanyakan masjid di negeri ini (US) adalah Cult. Dan yang kita butuhkan di negeri ini (US) adalah Communities. Kita teramat sangat membutuhkan Communities. Kita perlu memahami perbedaan ini, dan kita perlu bantu masjid-masjid untuk keluar dari kungkungan Cult sehingga akhirnya menjadi Community.

Kadang-kadang kita berada di antara keduanya (ga Cult banget, ga Community banget). Kita berharap semoga semua masjid kita, in sya Allahu ta’ala, menjadi Community yang sehat, dan bermanfaat. Dan mereka tidak berakhir dan menjadi Cult.

Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Resume oleh Heru Wibowo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s