[MFA2018] The Miracle of Tahajjud – Fadhila Ajeng Damaris


The Miracle of Tahajjud
Fadhila Ajeng Damaris

Menurut sebagian orang, saya cukup aneh dalam permasalahan hati. Saya cukup sensitif terhadap perkataan yang dilontarkan orang-orang. Perkataan yang menurut orang-orang sama sekali tidak ofensif maupun kasar dapat menyakiti hati saya. Bahkan, saya pernah sampai di titik saya marah terhadap diri sendiri yang mudah sekali tersinggung.
MFA 2018 The Miracle of Tahajud

Dampaknya apa? Teman-teman saya perlahan mengurangi frekuensi bicara dengan saya, saya tidak terlalu dilibatkan dalam kegiatan yang mereka lakukan, dan banyak hal yang membuat saya terdiskriminasi.

Stereotip orang-orang mungkin mengatakan bahwa saya berasal dari suku Jawa, yang terkenal dengan ciri lemah lembutnya. Namun tidak, saya justru dibesarkan di suatu daerah di Sumatera. Jujur saja, daerah saya pun memiliki bahasa dan intonasi yang cukup kasar. Terbayang, kan, betapa sulitnya saya berkomunikasi? Saya bisa tersinggung beberapa kali sehari.

Tersinggung itu membuat hati kotor. Awalnya sedikit menodai hati saya, namun lama kelamaan nodanya berkembang sehingga hati saya pun menghitam. Saya melihat orang-orang pada pandangan yang berbeda dari sebelumnya. Saya merasa tidak aman terhadap apa yang mereka katakan, apa yang mereka lakukan.

Ternyata, beribu-ribu tahun lamanya, Allah sudah memberikan solusi bagi hati yang mudah tersinggung. Ya, Tahajjud. Solusi ini Allah berikan tanpa mencela si pemilik hati. Seolah-olah Allah ingin mengatakan bahwa hati yang mudah tersinggung pun karunia dari-Nya. Allah memastikan bahwa segala duri yang menancap di hati pun mampu Ia bersihkan melalui Tahajjud.

Dan benar! Empat rakaat di sepertiga malam sudah cukup mencabut seluruh duri di hati saya. Curhat kepada-Nya saja sudah cukup, tanpa perlu tambahan curhat ke makhluk-Nya. Hanya curhat kepada-Nya di sepertiga malam, namun rasanya sudah didengar seluruh alam. Hanya dengan berkomunikasi dengan-Nya di sepertiga malam.

Kita tidak tahu perkataan seperti apa yang dapat menghancurkan hati seseorang. Bisa saja, kalimat yang remeh menurut sebagian orang, berdampak hebat pada hati kita. Tidak ada parameter yang jelas dalam mengukur keganasan kata-kata yang dilontarkan. Pun, tak ada standar yang jelas dalam menilai hati seseorang. Tetapi, kita selalu dapat mengukur diri dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam..

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merupakan insan paling santun dalam sejarah. Kesantunan beliau melingkupi apa yang beliau perbuat, apa yang beliau katakan, bahkan apa yang beliau terima. Rasulullah merupakan manusia yang tak bisa melihat dan membiarkan adanya keburukan, sekecil apapun itu.

Hati Rasulullah didesain sangat sensitif, lebih sensitif dari wanita manapun di dunia ini. Beliau jauh lebih tak bisa melihat adanya perkataan-perkataan buruk dan tak kuasa melihat keburukan di sekitarnya. Tapi, bukan berarti Rasulullah memiliki hati yang lemah. Justru, dengan kesensitifan ini, Allah menambahkan kebaikan-kebaikan yang ada pada diri seseorang.

Dapatkah kita bayangkan, Rasulullah harus melihat keburukan demi keburukan yang diperbuat oleh kaum kafir?

(وَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيْلًا)

Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 10)

Allah Maha Baik, Ia turunkan surah Muzzammil sebagai pengobat hati Rasulullah yang porak poranda. Allah perintahkan Rasulullah untuk mendirikan solat malam sebagai pembersih duri-duri di dalam hati Rasulullah. Setiap malam, Allah pastikan hati Rasulullah menjadi semakin lapang seiring dengan khusyu’-nya sujud, agar keesokan harinya, beliau semakin tegar menghadapi cacian demi cacian. Agar keesokan harinya, Rasulullah mampu menjalankan dakwah tanpa memendam kebencian terhadap kaum kafir.

Hati kita, pasti tak sesensitif Rasulullah. Namun, keluhan kita jauh lebih menggema daripada Rasulullah. Terluka sedikit, curhatannya menggema ke seantero kota. Belajarlah dari Rasulullah, terluka sedikit maupun banyak, hanya beliau adukan pada Rabbnya. Sebab beliau tahu, bukan nasihat dari makhluk yang mampu membersihkan hatinya. Hanya rukuk dan sujud di sepertiga malamlah yang mampu membersihkan hatinya.

Sumber video: https://youtu.be/wSkNBzpTl9s

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s