Doa Abdul Malik bin Marwan (rahimahullaah) – Prayers of the Pious 4 – Omar Suleiman


Prayers of the Pious 4 by Sh. Omar Suleiman
(Doa-Doa Orang Saleh 4 oleh Syeikh Omar Suleiman)

(السلام عليكم ورحمة الله وبركاته)

Figur yang kita bicarakan kali ini tidak seperti kebanyakan figur orang shalih yang lain. Karakternya rumit tapi menarik. Dia adalah Abdul Malik bin Marwan rahimahullaah, seorang khalifah yang telah mencapai begitu banyak hal hebat dalam hidupnya.

Doa Abdul Malik bin Marwan (rahimahullaah) – Prayers of the Pious 4 – Omar Suleiman

Pada saat yang sama, kita tidak bisa menutup mata akan kekurangan dan kelemahan dalam karakter yang dimilikinya. Tapi dia sadar betul dengan titik-titik lemahnya itu.

Ada sebuah doa, sebuah permohonan yang indah, yang dia miliki di akhir hidupnya:

(يَا رَبِّ)
Yaa Tuhanku

(إِنَّ ذُنُوبِي عَظِيْمَةٌ)
Dosa-dosaku begitu menggunung

(وَ إِنَّ قَلِيْلَ عَفْوِكَ أَعْظَمُ مِنْهَا)
Tapi, sedikit saja dari ampunan-Mu, masih lebih besar dari semua dosa itu

(اللّٰهُمَّ فَامْحِ بِقَلِيْلِ عَفْوِكَ عَظِيْمَ ذُنُوبِي)
Yaa Allah, hapuslah, dengan sedikit ampunan-Mu,
dosa-dosaku yang tak terhitung itu

Sungguh menarik bahwa dalam doanya, tidak ada perasaan membanggakan diri, terlepas dari prestasi-prestasi besar yang sudah pernah dicapai dalam hidupnya, di bidang reformasi dan ekspansi, belum lagi di bidang seni dan arsitektur, termasuk juga perbaikan Ka’bah. Yang ada hanyalah pengakuan. Pengakuan akan betapa baiknya Allah, dan pengakuan tentang betapa banyaknya dosa yang telah diperbuat.

Pengakuan seperti ini mengingatkan kita pada doa yang pernah diajarkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dalam konteks istighfar, memohon ampunan-Nya. Doa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sayyidul istighfar, mengandung pengakuan yang sama:

(أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ)
Aku mengakui betapa besar nikmat-Mu yang tercurah kepadaku

(وَ أَبُوْءُ بِذَنْبِيْ)
Aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan

Doa Abdul Malik mengandung pernyataan yang sangat penting yaitu bahwa kita tidak akan masuk surga karena hebatnya amalan kita, atau karena sangat sedikitnya dosa kita. Kita akan masuk surga karena usaha kita, plus karena rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Dan sebagaimana yang Rasulullah pernah kabarkan, dunia ini keseluruhannya hanya berisi satu persen saja dari totalitas rahmat-Nya. Sembilan puluh sembilan persen lainnya baru tersedia di hari kemudian.

Bayangkan betapa Maha Pemurah dan Maha Penyayangnya Allah ta’ala, dengan segala kenikmatan yang sudah kita rasakan di dunia ini, ternyata masih tersimpan kenikmatan yang jauh lebih besar lagi di akhirat nanti.

Hal itu seharusnya membuat kita, di akhir hayat kita, memiliki pengharapan kepada-Nya.

Pengharapan, yang tidak sekedar bermimpi di siang hari sambil berdiam diri, tapi yang membuat kita senantiasa terus memenuhi kewajiban-kewajiban kita kepada-Nya, tanpa henti.

Pengharapan, bahwa setitik kasih sayangnya saja, sudah mencukupi untuk menghapus keseluruhan dosa-dosa kita.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa-dosa kita. Dosa yang besar, maupun dosa yang kecil. Dosa yang diketahui umum, maupun dosa yang hanya kita yang tahu. Dosa yang kita sadar bahwa itu adalah dosa, maupun dosa yang tidak kita sadari.

(اللهم امين)
(جزاكم الله خيرا)
(و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته)

Sumber: https://www.facebook.com/imamomarsuleiman/posts/1884447031575329

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s