[MFA2018] Mensyukuri Cobaan Hidup – Irena Widelia


Mensyukuri Cobaan Hidup

Tepat seminggu yang lalu, saya diberi kesempatan oleh Allah untuk terlibat menemani proses melahirkan. Kalian tahu bagaimana rasanya? Entahlah.. terlalu banyak bentuk perasaan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan baik. Menemani proses melahirkan seharusnya diperankan oleh seorang suami, bukanlah seorang perempuan seperti saya.

MFA2018-Irena Widelia

Namun melihat wanita lainnya berjuang mempertahankan hidup seseorang yang akan lahir ke dunia, saya jadi teringat Mama yang saat ini hidup berjauhan dengan saya. Saya saat ini merantau untuk membantu meringankan beban finansial Mama usai perceraian.

Sebagai seorang perempuan, saya mengerti keputusan Mama saya, namun sebagai seorang anak perempuan yang selalu dijaga oleh seorang laki–laki dewasa membuat saya lebih dekat dengan Papa dibandingkan Mama. Dan kedekatan saya itu membuat saya menyimpan rasa yang tidak baik terhadap keputusan Mama, mengingat keadaan Papa yang saat ini sedang menderita stroke.

Saya pun berhenti memberi kabar hampir sebulan. Karakter saya yang tidak bisa berlepas tangan, membuat saya tanpa sadar berjuang untuk memperbaiki keadaan keluarga, sebagai anak tertua meski saya perempuan sekalipun. Bagi saya hal itu tidak akan terasa sulit, mengingat didikan keras Papa pada anak–anak perempuannya.

Saya adalah seorang anak perempuan yang keras kepala saat itu. Tak pernah mencoba untuk mendengarkan dan mengerti keadaan Mama. Dan Mama-lah yang pertama kali membuka pembicaraan dari hati ke hati tersebut. Beliau mengerti perasaan saya yang merasa sakit saat itu karena Mama meninggalkan Papa.

Namun nyatanya rasa sakit saya bukan hanya karena perasaan kasihan pada Papa. Saya terlalu takut dengan bagaimana keadaan saya kedepannya. Terlalu banyak kekhawatiran yang saya pikirkan.

Bagaimana jika nanti saya menikah, siapa yang akan menjadi wali saya? Bagaimana saya menjelaskan keadaan orang tua saya yang sudah bercerai pada keluarga calon mertua saya? Sementara saya sangat malu dengan keadaan tersebut…. Bagaimana jika saya nanti ingin bertemu dengan Papa untuk bercerita banyak hal dengannya? Kekhawatiran-kekhawatiran itu membuat saya merasa sangat putus asa.

Namun ternyata, seiring berjalannya waktu, permasalahan keluarga tersebut membuat saya semakin dekat dengan Allah. Saya pun memulai hijrah sendirian. Saya pun mencoba menerima keputusan Mama, tapi kekhawatiran tersebut tidak pernah hilang dari pikiran saya. Kekhawatiran tersebut semakin bertambah dengan seiringnya waktu hingga membuat saya ketakutan.

Suatu ketika saya tidak sengaja melihat judul ceramah Ustad Nouman Ali Khan pada bagian suggestion di YouTube berjudul “Mensyukuri Menghadapi Cobaan Hidup”. Saya yang merasa tak pernah sekalipun bisa bernapas lega dari cobaan yang Allah berikan secara beruntun, langsung men-download tanpa melihat terlebih dahulu, kemudian langsung menontonnya.

Ustad Nouman Ali Khan mengatakan, “Kita adalah orang – orang yang memulai agama kita dengan kata ‘Alhamdulillah’, yang artinya tidak ada kata pesimis dalam kamus kita. Kita bukan orang – orang pesimis karena kita adalah orang yang mengucapkan kata Alhamdulillah. Kita selalu melihat sisi baik dari suatu kejadian. Dan jika kamu tidak melihat sisi baik ini, maka kamu tidak benar – benar mengerti arti ungkapan dari kata ‘Alhamdulillah’.

Surat Ibrahim Ayat 1 merupakan kalimat penyemangat bagi kaum muslim yang mengalami keadaan sulit saat memeluk agama Islam. Begitu juga yang dirasakan oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassalam yang mengalami cobaan demi cobaan saat masa hijrah.

Allah Subhanallahu Wa Ta’ala menceritakan pada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassalam bahwa cobaan hidup Nabi Musa ‘Alaihi wassalam lebih berat dari cobaan Rasulullah. Kenapa? Agar saat Rasulullah maupun kita mempelajari kisah Nabi Musa, kita tidak hanya belajar kisahnya saja, tetapi kita juga belajar untuk mengimplementasikannya pada kehidupan kita sendiri. Kisah yang dapat menjadi panutan bagi mereka untuk menghadapi kesulitannya. Bahwa masalah yang dihadapi Nabi Musa ‘Alaihi wassalam pada masa Fira’un merupakan lebih berat.

Beratnya masalah yang dihadapi Nabi Musa secara nalar akan meminta kita untuk berbuat sabar, namun Allah Subhanallahu Wata’ala justru menurunkan Surat Ibrahim ayat 7, yaitu bersyukur. Allah meminta kita untuk bersyukur walaupun sedikit dengan cobaan yang datang. Allah mengubah sudut pandang pengikut Nabi Musa bahwa mereka tidak bisa bersabar jika mereka tidak bersyukur walaupun sedikit. Tidak peduli apapun yang telah hilang dari kehidupan kita.

Dari ceramah ini saya tiba–tiba merasa mind blowing. Melihat proses melahirkan yang menyakitkan membuat saya teringat Mama. Teringat menderitanya Mama saat melahirkan saya. Teringat Mama yang selalu mengingatkan saya untuk tidak meninggalkan sholat tahajjud.

Mama yang mendukung keinginan saya untuk merantau dan mengejar cita–cita saya saat Papa benar–benar menentangnya. Namun di saat Mama mengambil keputusan untuk kebaikan dirinya, saya tidak sedikitpun mendukungnya. Saya merasa bersalah saat itu. Menyalahkan diri saya yang begitu keras hati. Menyadari betapa durhakanya saya sebagai anak.

Saya mengerti bahwa tidak ada satu pun keputusan yang kita ambil tanpa persetujuan Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Allah menghendaki keputusan Mama untuk bercerai dan saya tak seharusnya menentang hal tersebut. Saya kemudian teringat Mama menyembunyikan keputusan perceraiannya hanya karena tidak ingin menganggu saya yang saat itu sedang menjalani sidang Tugas Akhir.

Mama tak ingin membebani pikiran saya dengan beban keluarga dan meminta saya untuk segera lulus. Namun siapa sangka, dibalik pengorbanan tersebut, Mama pasti merasa kesulitan untuk menanggungnya. Bahkan saat beliau mencoba untuk membicarakannya kepada saya setelah proses perceraiannya selesai, hanya untuk membuat saya bisa mengerti keadaan beliau.

Dan saat ini, saya benar–benar merasa bersyukur. Jika saya tidak dihadapi dengan keadaan orang tua yang sudah bercerai, saya mungkin tidak akan mendekat kepada Allah. Saya mungkin tidak bisa meringankan beban Mama. Saya mungkin tidak akan bisa memberikan senyum bangga di wajahnya saat ini.

Dengan cobaan dan kesempatan yang Allah berikan pada saya, termasuk kesempatan untuk melihat proses melahirkan, saya mungkin tidak akan benar–benar bisa merasa bersyukur, sabar dan ikhlas dalam waktu yang bersamaan. Begitupun dengan kekhawatiran – kekhawatiran yang dulu mengganggu, Alhamdulillah saat ini tak mengganggu saya lagi. Saya menyerahkannya pada Allah, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ)

Seperti pesan yang tersurat dalam surah Ibrahim ayat 7, “Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’

Dalam konteks bahasa Arab, Allah tidak meminta kita untuk terus bersyukur tapi Allah hanya minta satu contoh dari bentuk sedikit rasa syukur. Dan jika kita melakukannya maka Allah akan menambahkan nikmat (berkah).

Ada penegasan pada kata la-aziidannakum, yang arti kasarnya “Aku bersumpah, tanpa keraguan, Aku akan jamin, Aku janji, Aku janji, Aku janji, Aku akan tambahkan padamu. Aku akan berikan lebih, Aku akan membuatmu lebih, akan Aku tambahkan. Aku janji dan Aku bersumpah akan melakukannya“. Dan hal yang ditambahkan oleh Allah tidak terbatas, bisa berupa iman, pengetahuan, kesabaran, rasa syukur, kearifan, petunjuk, ataupun rezeki.

Kita sering mengucapkan ‘Alhamdulillah’ tapi tidak pernah bersungguh-sungguh mengucapkannya. Ucapkanlah Alhamdulillah dengan sungguh-sungguh, karena setiap kehilangan yang kita dapat dari cobaan yang datang berarti Allah sedang menjaga kita dari banyak cobaan yang lain.

Teruslah mencari hal–hal untuk kita syukuri dalam setiap keadaan dan cobaan. Sehingga ketika kita bersyukur, kita akan bersikap positif dengan rencana Allah. Tidak ada yang lebih baik daripada rencana yang Allah rancang untuk kita.

Advertisements

One thought on “[MFA2018] Mensyukuri Cobaan Hidup – Irena Widelia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s