[Transkrip Kartun Islami] Bagaimana Nouman Ali Khan Menjalani Ramadan – Nouman Ali Khan


Bagi saya pribadi, pemikiran saya mengenai Ramadan terinspirasi oleh satu-satunya bagian di dalam Al-Qur’an mengenai hal ini. Selepas bagian pertengahan surat Al-Baqarah, Allah bicara tentang tujuan Ramadan yang paling menginspirasi saya pada bagian tersebut.

Utamanya adalah bahwa Allah tidak menggambarkan bulan ini sebagai bulan untuk berpuasa, tidak juga sebagai bulan untuk salat. Dia menggambarkan bulan ini terutama sebagai bulan di mana Al-Quran diturunkan. Dia menggambarkan Al-Qur’an sedemikian rupa seakan Dia baru saja memperkenalkan Al-Qur’an, seakan-akan Al-Qur’an belum pernah diperkenalkan sebelumnya.

Dan ini adalah surat madani, artinya kaum Muslimin sudah menerima wahyu Al-Qur’an melalui Nabi shallallahu alaihi wa sallam selama lebih dari satu dekade. Namun Allah mengatakan, “Hudal lin-naas, wa bayyinatin minal-hudaa wal-furqoon.” (QS Al Baqarah ayat 185)

Seakan Allah menjelaskan apa Al-Qur’an itu kepada kita untuk pertama kalinya. Setidaknya hal itu mengajarkan kepada saya, harapan saya demikian juga dengan Muslim lainnya, bahwa Anda harus memperbaharui hubungan Anda dengan buku ini, seakan Anda belum pernah mengenalnya sebelumnya, dan Anda harus mempelajari buku ini dengan semangat baru.

Jadi ini adalah bulan untuk memperbaharui hubungan Anda dengan Al-Quran, sebagaimana generasi para sahabat diajarkan untuk memperbaharuinya. Ini hal pertama dan terpenting, bahwa bulan ini harus menjadi bulan perayaan wahyu itu sendiri. Begitulah seharusnya.

Saya mempelajari Al-Quran sepanjang tahun, yang saya tingkatkan beberapa level, dalam bulan Ramadan hafalan saya tingkatkan. Saya belum selesai menghafal Al-Qur’an, saya berusaha melakukannya, paruh waktu, pelan tapi pasti, namun khusus di bulan Ramadan kecepatannya saya tingkatkan.

Saya berusaha melakukan i’tikaf setiap tahun, di dalam i’tikaf saya banyak meninjau kembali apa yang pernah saya pelajari di dalam Al-Qur’an. Sebenarnya kegiatan menghafal Al-Qur’an tidak hanya sekedar mengingat namun ketika Anda membaca ayat Al-Qur’an berulang kali, akan memberi Anda kesempatan untuk merenungkan wahyu Allah, dan memikirkan hal yang sama berulang kali, akan memberi kesempatan untuk memahami maknanya, hal yang begitu saya nikmati.

Hal lain yang sangat saya nikmati di bulan Ramadan adalah salat Tarawih. Tapi jujur saja, saya tidak… seringkali saya tidak mengikuti keseluruhan salat tarawih atau saya memilih pergi ke masjid yang melakukannya dengan lebih santai.

Karena sayangnya di beberapa masjid tujuan utama mereka adalah untuk menuntaskan keseluruhan Al-Quran, sehingga terburu-buru dalam salat. Alhamdulillah ada beberapa masjid lain di lingkungan kami yang agak santai; mereka tidak terlalu banyak membaca Al-Qur’an, namun mereka menghayati apa yang mereka baca.

Bulan Ramadan seharusnya bukan tentang kuantitas, namun kualitas. Tidak ada panduannya bahwa Anda harus menuntaskan keseluruhan Al-Quran, tidak ada hal seperti itu. Memang ada paksaan, kita memaksa diri kita sendiri. Ada orang yang setelah salat delapan rakaat, lalu ribut di luar masjid.

Leganya sudah selesai salatnya, sekarang saya bisa pergi dari sini…

Namun seharusnya salat bisa menjadi perenungan yang dalam, sebuah pengalaman spiritual di mana Anda menikmati firman Allah di setiap rakaatnya, ini adalah sesuatu yang saya harapkan bisa saya pulihkan di setiap Ramadan, dan saya harap begitu juga dengan orang lain.

Banyak orang yang tahu bahwa saya adalah sosok yang dikenal umum, maka bulan Ramadan adalah saat yang paling pribadi bagi saya. Banyak aktivitas yang saya lakukan untuk masyarakat dan kegiatan berbicara di depan umum, saya hentikan semuanya.

Saya tidak melakukan perjalanan, tidak mengisi acara, berusaha tidak melakukan apa-apa selama Ramadan. Saya sediakan waktu untuk diri saya saja. Khususnya di malam hari, waktunya hanya untuk saya sendiri.

Jika akan melakukan sesuatu, saya lakukan siang hari, mengajar di kelas atau semacamnya, hanya agar merasa masih melakukan sesuatu. Pesertanya dibatasi, alih-alih melaksanakan suatu acara untuk 1000 atau 500 orang, maka ini hanya dihadiri 20 hingga 30 orang, yang dilakukan dengan kapasitas terbatas, hanya untuk memaksa diri saya melakukan sesuatu di luar diri saya sendiri.

Namun saya pikir Muslim memang seharusnya seimbang neracanya, sebaiknya lebih berat ke arah apa yang akan Anda lakukan untuk memperbaiki diri, dan menanamkan kebiasaan baru dalam bulan ini.

Dan jika Anda punya waktu untuk melakukan kegiatan yang produktif untuk komunitas Anda, terlibat dalam suatu kegiatan dan sebagainya. Itu bagus, namun… sungguh, ini adalah bulan untuk memperbaiki diri, beginilah kita harus memandang Ramadan.

Pertama bulan ini akan mudah dilaksanakan, ini adalah bulan perayaan Al-Quran, lalu, “Ujiibu da’watad-daa’i idzaa da’aan, falyastajiibuu lii.” (QS Al Baqarah ayat 186)

Apa yang harus Anda lakukan adalah semakin mendekat kepada Allah. Jadi saya bertanya kepada diri sendiri… Sejujurnya, bagaimana saya menghabiskan hari-hari di luar Ramadan. Apa yang bisa saya perbaiki? Kesempatan apa yang telah luput dari saya? Apakah saya bangun terlalu lambat? Apakah saya salat terburu-buru? Apakah saya sarapan tepat waktu? Apakah saya punya cukup waktu untuk berolahraga, dan sebagainya?

Hari yang seimbang, jika Anda bisa menyeimbangkan kegiatan dalam satu hari, maka Anda akan bisa mengulanginya selama hidup Anda, dan itu adalah kehidupan yang baik.

Jadi bagi saya, hari yang baik berarti hidup yang baik. Dan hari yang tidak produktif berarti hidup yang tidak produktif. Karena pada akhirnya kita mendaur ulang hari-hari kita. Hari-hari kita berlalu, seminggu berlalu bagaikan hanya sehari saja, karena semuanya sama dan berulang.

Jadi jika kita memasukkan kebiasaan baru setiap hari, dan inilah (Ramadan) saatnya untuk melakukan hal itu, shaytan dirantai, bisikannya hilang, semua orang termotivasi untuk kebaikan. Allah memberikan kemudahan khusus bagi Anda, memberdayakan Anda lebih dari sebelumnya.

Jadi ini saatnya untuk mengembangkan kebiasaan spiritual, kebiasaan pribadi, dan kebiasaan makan yang baik. Makanlah makanan yang sehat. Jangan makan makanan berminyak saat buka puasa. Jangan makan makanan berlemak saat sahur, kurangi hal itu.

Perbaiki bentuk tubuh Anda. Sayangnya statistik di negara Muslim menyebutkan sejumlah Muslim mengalami penambahan berat badan maksimal di bulan Ramadan, ini tidak masuk akal bagi saya, tidak bisa saya pahami.

Jadi bagi saya beginilah sebenarnya makna Ramadan.

Subtitle: NAK Indonesia
Donasi: https://www.kitabisa.com/nakindonesia

English Transcript: https://islamsubtitle.wordpress.com/2018/05/17/how-nouman-ali-khan-spends-his-ramadan/

Advertisements

One thought on “[Transkrip Kartun Islami] Bagaimana Nouman Ali Khan Menjalani Ramadan – Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s