Keterbatasan Ilmu & Sempitnya Pandangan


Hari ini (20/9/17), ada tulisan yang menggerakkanku menulis. Sebuah tulisan dari salah satu blog favorit yang aku follow.
Keterbatasan Ilmu & Sempitnya Pandangan

***

And today I thank Him deeply for not answering my prayers… Exactly the way I’d asked 14 years ago. It was out of my hand for a reason… A reason I’ve just realized 14 years later.

Ketika impian tak selalu bersanding indah dengan kenyataan… Sadarilah, dengan segala keterbatasan ilmu dan sempitnya pandanganmu… Allah sungguh Maha Tahu, apa yang terbaik untukmu. All we have to do is put our trust to Him. For He knows best, while we know nothing.

Andai engkau tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hatimu akan meleleh karena cinta kepada-Nya.” (Ibnul Qayyim al Jauziyyah)

Thank you, Allah

– Meutia Halida, dalam tulisan berjudul “A Blessing in Disguise“.

***

Kutipan blogwalking kali ini membuatku teringat tentang keterbatasan ilmu manusia dan sempitnya pandangan manusia. Sebuah situasi terjadi, kejadian muncul, konflik naik, dll.

Saat itu, mungkin karena keterbatasan ilmu dan sempitnya pandangan, kita kemudian berkutat pada perasaan tidak nyaman, serta sangat sulit untuk kita menerima, apakah kejadian yang terlihat buruk di mata kita, benar-benar bisa memberikan dampak baik di kehidupan kita?

Saat itu.. karena keterbatasan ilmu, dan kesempitan pandangan kita, kita mulai mengambil keputusan-keputusan, sekedar mempertimbangkan hitungan logika. Lupa.. bahwa Allah menyediakan tempat untuk bertanya, tempat untuk bersandar, agar ditunjukkanNya mana solusi/pilihan yang seharusnya kita laksanakan. Lupa.. bahwa Allah menyediakan sebuah kitab, untuk memberikan ketenangan pada hati kita yang kalut.

Tulisan di atas juga, yang mengingatkan saya, akan sebuah video yang belum lama ini saya tonton tapi enggan menuliskan resume atau intisari, atau hikmah kecil darinya. Seolah Allah mengingatkanku, untuk menulis saja. Bismillah.

Ini videonya: https://youtu.be/XpivI-1i9OM

Ustadz Nouman menjelaskan kesalahan yang sering kita lakukan saat membaca Sirah Nabawiyah. Yaitu, ketika ada kejadian di sirah, kemudian turun ayat Quran, kita memilih men-skip ayat Quran tersebut. Merasa cukup sekedar tahu, “Oh, di sini turun ayat”, selesai, lanjut baca Sirah.

Padahal seharusnya, membaca Sirah Nabawiyah membuat kita lebih memahami Al Quran, kan jadi tahu asbabun nuzulnya. Selain itu, setiap ayat Quran yang turun, biasanya untuk menjelaskan suatu kejadian di kehidupan Rasulullah, atau sebagai penguat untuk muslim. Banyak sekali fase kehidupan dari Rasulullah, dimana beliau shalallahu ‘alaihi wasalam, menunggu turunnya Al Quran, agar jelas yang mana yang benar, bagaimana pandangan Allah akan kejadian ini, apa yang seharusnya Rasulullah lakukan, dan hal-hal lain.

Contoh beberapa kejadian yang dibahas ustadz Nouman Ali Khan, dan pentingnya mengetahui ayat/surat yang turun setelah kejadian tersebut antara lain saat perjanjian Hudaibiyah dan saat Ibunda kita Aisyah di fitnah. Aku mungkin ga bisa menjelaskan detailnya di sini. Tapi sedikit saja, tentang perjanjian Hudaibiyah.

Dijelaskan situasi Rasulullah, dan para sahabat yang dalam kondisi kecewa karena niat untuk berangkat Haji tidak dapat diwujudkan, diganti dengan perjanjian yang secara ‘logika saat itu’ tidak menguntungkan muslimin.

Bagaimana ketika Rasulullah menyuruh sahabat-sahabatnya untuk menyembelih dan mencukur rambut diabaikan. Kemudian turun surat Al Fath, bagaimana Rasul mulai merasa lega, karena Allah sudah memberikan sudut pandang yang lebih luas, pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui melalui turunnya ayat-ayat tersebut. Bahwa perjanjian Hudaibiyah, apa yang terjadi kepada Rasul dan muslimin saat itu adalah sebuah kemenangan.

Ustadz Nouman lalu menjelaskan kebaikan-kebaikan apa saja yang muncul sebagai hikmah dari perjanjian Hudaibiyah. (silahkan tonton videonya, belum ada subtitle tapi.. kalau sudah ada, nanti saya ganti link videonya).

***

Jujur.. mengingat isi video tersebut, juga tulisan blogwalking kali ini membuatku sedikit terharu. Betapa aku.. kita, saat ini begitu minim pengetahuannya, serta sempit pandangannya, sehingga saat ada kejadian yang tidak sesuai rencana, kita seringkali sibuk pada perasaan tidak nyamannya.

Lupa.. bahwa ilmu kita terbatas dan pandangan kita sempit. Lupa.. bahwa saat-saat seperti ini.. seharusnya kita banyak mendekat kepada Allah dan Al Quran. Allah.. yang ilmu-Nya sangat luas, tidak ada yang tidak Allah ketahui, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Serta Al Quran, yang seharusnya, membacanya, mempelajarinya bisa mengingatkan kita untuk meluaskan pandangan kita.

***

Semoga kita termasuk hambaNya yang diilhamkan untuk selalu bertanya kepadaNya, mempelajari kalamNya, serta dengan rendah hati mengakui bahwa diri ini ilmunya terbatas serta pandangannya sempit.

Allahua’lam.

Ditulis oleh IK

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s