Kisah Hijrah Ustadz Nouman Ali Khan


Salah satu kelebihan Ustadz Nouman dalam berdakwah adalah beliau tampak mengerti dengan kegelisahan orang-orang Islam yang kehidupannya jauh dari Islam. Ini tidak mengherankan karena masa mudanya, Ustadz Nouman juga sempat jauh dari Islam. Semenjak SMA, ia besar di lingkungan sekuler yang membuat ia turut menjadi sekuler.

Ustadz Nouman dalam sebuah video menceritakan bagaimana awal ia hijrah, kembali menjalankan agama. Ustadz Nouman juga berbagi pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisahnya tersebut.

Berawal dari MSA

Kisah hijrahnya terjadi ketika Ustadz Nouman masih mahasiswa. Ketika itu ia mendapat selebaran dari dua mahasiswa untuk menghadiri pertemuan MSA (Muslim Students Asociation). MSA ini di Indonesia semacam rohis (kerohanian Islam) atau LDK (lembaga dakwah kampus).

Nouman muda berangkat ke pertemuan MSA tersebut dengan bayangan bahwa acaranya akan ramai. Namun ketika sampai di sana, ternyata hanya ada dua orang orang rohis yang membagikan selebaran tadi, satu kotak pizza dan ruangan yang kosong. Itu saja yang ada di sana.

Melihat seperti itu, Nouman muda mengurungkan niatnya dan hendak pergi. Namun ketika hendak pulang, orang-orang tadi mencegahnya. Mereka mengajak Nouman muda duduk dan berkata, “Setidaknya makan pizza dulu sebelum kamu pergi.

Nouman muda akhirnya duduk, mengobrol, dan mulai menjadi akrab. Salah satu dari mereka, memberi Nouman muda tumpangan pulang dengan mobilnya. Ketika mereka terjebak macet, mahasiswa rohis itu menepikan mobilnya ke sebuah masjid.

Dia berkata, “Jika kamu tidak keberatan, saya akan salat dulu.” Rohis itu tidak mengajak Nouman muda salat. Mungkin karena sepanjang perjalanan ia mendengar Nouman muda mengumpat, menggunakan bahasa kotor, mengkritik Islam, dan menyatakan Quran tidak masuk akal.

Yang menarik, mendengar celotehan Nouman muda tadi, temannya yang Rohis itu hanya bergumam, “Oh, hoo, oh ya, ya…” Tidak ada respons dan debat!

Dengan semua argumentasi tentang agnostik dan tidak percaya agama, sesuatu dalam diri Nouman muda berbisik, “Saya juga harus ikut salat.” Ia akhirnya turut masuk ke dalam masjid. Pada waktu itu salat Maghrib dan ia baru bergabung pada rakaat yang ketiga.

Ketika semua orang salam, Nouman muda malah ikut salam tanpa menambah jumlah rakaat yang kurang. Nouman muda sudah lama tidak salat. Nouman muda lupa bagaimana cara salat, tapi salatnya yang satu rakaat itu terasa sangat nikmat.

Selama sisa perjalanan pulang, Nouman muda tidak mengatakan apapun lagi. Setelah kembali ke rumah, ia mulai mencari tahu bagaimana cara salat. Nouman muda pun mulai mencoba membiasakan kembali salat. Namun karena ia tidak tahu bagaimana cara salat, Nouman muda selalu meminta teman rohisnya untuk memimpin salat.

Teman rohisnya ini mengenalkan Nouman muda dengan masjid-masjid di sekitar daerah Queen. Temannya itu juga orang yang mengenalkan Nouman muda pada orang yang akan menjadi guru bahasa Arab dan al-Qur’annya.

Jangan Tinggalkan Mereka yang Ragu

Menurut Ustadz Nouman, jika bukan karena perantara MSA, mungkin sekarang ia bukan seorang pengajar al-Qur’an. Ustadz Nouman sampai akhirnya pernah memimpin salat pada acara konvensi nasional MSA, dulunya tidak tahu cara salat.

Ustadz Nouman berpesan bahwa bisa jadi Nouman Ali Khan berikutnya, Yasir Qadhi berikutnya, Sheikh Omar Suleiman berikutnya, Hamza Yusuf berikutnya ada di suatu kampus sedang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Mereka beragama Islam dan lahir di keluarga muslim, tapi pertanyaan mereka belum terjawab.

Mereka tidak memiliki koneksi dengan masjid atau ulama. Yang mereka tahu tentang Islam, bisa jadi tidak jauh berbeda dengan pengetahuan non-muslim tentang Islam. Satu-satunya hubungan Islam yang mungkin mereka miliki adalah teman-temannya yang muslim di kampus.

Perjuangan di Amerika dan juga di berbagai tempat tidak terjadi di medan perang. Perjuangan umat Islam saat ini, menurut Ustadz Nouman, adalah meraih kembali anak-anak muda di kampus-kampus yang kehilangan Islam. Anak-anak muda ini membutuhkan dukungan kita. Dari merekalah, Islam bisa bangkit kembali.

Pemikir terbesar yang akan lahir dari umat ini bisa jadi adalah orang yang awalnya berada dalam keraguan. Mereka hampir kehilangan iman. Jika mereka menemukan imannya lagi, maka tidak ada orang yang memiliki kekuatan iman melebihi mereka. Karena itu, pesan Ustadz Nouman, kita harus mau berinvestasi untuk membangun kembali keimanan generasi muda. [IHM]

Ilustrasi kisah ini dapat ditonton di https://youtu.be/JDONAzwgxuc

#NAKvisitJakarta
#ustadzNouman
#kenalandenganNAK
#hijrahbersamaNAK
#May
prapendaftaran di ustadnouman.com

Sumber: https://www.facebook.com/irfanhabibie/posts/10211127068388985

Advertisements

3 thoughts on “Kisah Hijrah Ustadz Nouman Ali Khan

  1. Nouman Ali Khan adalah sosok guru yang sangat dibutuhkan oleh anak muda because he is always gives hope not fear. MasyaAllah tabarakallah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s