Tak Perlu Menyakiti Muslim Difabel Hanya Karena Memiliki Kekurangan


Hari ini saya ingin menulis lagi tentang muslim difabel, ada dua kejadian hari ini. Satu diskusi di grup WhatsApps Ikhwan Myqers dan satunya lagi saat membaca berita melalui Google Now Android, meluncurlah saya ke web Kompas yang berjudul “Grab Bekukan Akun Pengemudi yang Tolak Penumpang Tuli“. Kepo, lalu mulailah googling tentang kejadian ini untuk mencari tahu lebih jauh.

Tak Perlu Menyakiti Muslim Difabel Hanya Karena Memiliki Kekurangan

Kalau lihat aku, tolong samperin, karena banyak banget abang Grab. Aku tuli mas,” kata Anissa Rahmania.

Mati aja lu orang susah,” jawaban driver Grab.

—–

Saya sangat menyayangkan kejadian ini. Serius, diminta mati aja?

Pagi ini saya berdiskusi dengan teman-teman Ikhwan Myqers di WhatsApp topiknya cukup panas, di mana saya yang difabel merasa dianggap remeh… topik ini sudah selesai karena saya tidak ingin memperpanjangnya dan memilih mengalah saja.

Dalam perjalanan diskusi saya punya pemikiran, yakni betapa saya sangat mengagumi Abdullah bin Ummi-Maktum radhiyallahu anhu. Bagi saya beliau adalah pahlawan muslim difabel. Versi singkatnya adalah saya kagum bagaimana cara Allah menolong dan membimbing Abdullah bin Ummi-Maktum radhiyallahu anhu.

Allah kirim langsung orang terbaiknya, yakni Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk membimbing Abdullah bin Ummi-Maktum radhiyallahu anhu. Kita tahu kemudian bagaimana Abdullah bin Ummi-Maktum radhiyallahu anhu didayagunakan oleh kaum muslimin, dengan dijadikan muadzin Masjid Nabawi, menjadi pemimpin sementara saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pergi.

Akhir hidup dari Abdullah bin Ummi-Maktum radhiyallahu anhu sangat menginspirasi, beliau meninggal syahid di medan perang. Padahal dengan uzurnya Abdullah bin Ummi-Maktum radhiyallahu anhu tidak wajib ikut perang, namun beliau bersikeras ikut dan pasukan muslimin tidak dapat melarangnya untuk ikut berkontribusi membela Islam.

Perhatikan bagaimana Allah, Rasulullah, kaum Muhajirin dan Anshor serta kaum muslimin secara umum saat itu. Mereka menghormati muslim difabel, pada dasarnya antara kaum difabel dengan kaum manusia secara umum hanya ketakwaan saja. Dan siapa yang paling bertakwa hanya Allah yang tahu.

Jadi tidak perlu menghina kaum difabel pada umumnya dan muslim difabel pada khususnya.

Sekian tulisan ini, sekedar refreshing dari tulisan-tulisan transkrip NAK Indonesia.

Ok bye.

—-
Ada beberapa sumber tentang supir Grab menolak melayani penumpang tuli satu diantaranya: http://www.grid.id/celebrity-news/2018/03/27/tega-banget-dewi-yull-marah-pada-driver-ojek-online-yang-hina-orang-tuli?page=all

Bonus: Saya kalau lagi baper maksimal terkait kekurangan yang saya miliki (hampir tuli) dan dianggap remeh, saya suka menonton surat Abasa – Abu Usamah dari Tadabur Daily.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s