Pemuda Pilihan Al Kahfi – Nouman Ali Khan


Saat-saat jadi pengangguran sebenarnya bisa disulap menjadi waktu yang membahagiakan apabila kita mampu mengisinya dengan hal-hal yang menarik, he he. Nah, sebagai pengangguran tulen yang saat ini kegiatannya hanya les bahasa seminggu tiga kali, saya mencoba untuk mengikuti kajian yang cukup intensif tentang surat Al-Kahfi dengan Ustadz Nouman Ali Khan via dunia maya.
pemuda pilihan

Sudah lama saya mengikuti kajian-kajian beliau karena beliau memiliki cara penyampaian yang khas: tidak menggunakan kata yang berbelit-belit dan menjelaskan dengan konteks kekinian. Begitupun dengan kajian surat Al-Kahfi ini, beliau mengetengahkan hikmah yang bisa diambil dan menyelaraskan penjelasannya dengan problem yang kita hadapi sehari-hari. Beberapa hikmah yang dijelaskan saya rasa sangat menarik dan ingin saya bagikan di sini agar kita sama-sama bisa belajar dari kisah pemuda-pemuda pilihan ini.

Terjemahan yang saya pakai diambil dari Al-Quran terjemah karya Yayasan Penyelenggara/Penerjemah Al-Quran dengan Revisi Terjemah oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, Kementerian Agama Republik Indonesia tahun 2010.

Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata, ‘Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.’” –Q.S. Al-Kahfi (18): 13-14

Seperti yang sudah sering kita dengar sebelumnya, Ashabul Kahfi adalah sekelompok pemuda dengan seekor anjing yang bersembunyi di dalam gua karena memegang ajaran tauhid saat agama pagan menjadi agama resmi kerajaan dan yang tidak memeluk agama tersebut akan diadili. Dalam fragmen yang saya nukilkan di atas, Allah sedang berbicara oleh Rasulullah tentang pemuda-pemuda tersebut. Dikisahkan bahwa mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Allah dan Allah menambahkan petunjuk kepada mereka saat harus menjalani persidangan.

Ashabul Kahfi diperkirakan hidup di zaman antara kenabian Isa ‘alaihissalam dan Muhammad salallahu ‘alaihi wassalam. Artinya, mereka adalah pengikut ajaran yang dibawa oleh Isa ‘alaihissalam tanpa pernah bertemu Isa ‘alaihissalam. Sebagai manusia biasa yang akan diadili tanpa bisa menghadirkan nabinya sebagai pembela, mereka ternyata juga merasa takut, gamang, dan cemas saat mengetahui akan diadili. Namun, di titik inilah poin yang menarik terjadi, Allah menguatkan hati mereka ketika mereka berdiri (di persidangan) dan mereka menyatakan keimanan dengan lantang.

Bisa dibilang, Ashabul Kahfi ini memiliki kesamaan kondisi dengan umat Islam sekarang. Umat yang berjarak sangat jauh dari nabinya dan memiliki tantangan yang luar biasa dalam mempertahankan agamanya. Allah menempatkan cerita ini di dalam Quran sebagai pengingat bahwa petunjuk Allah bisa datang kepada umat ini dengan syarat beriman kepada Allah. Jika kita percaya kebenaran Quran namun petunjuk tidak jua datang, mungkin kita (lebih tepatnya saya pribadi, hiks) yang seharusnya introspeksi, sudahkah kita mengimani Allah dengan niat dan cara yang Allah ridhai? :’)

Dan demikian (pula) Kami perlihatkan (manusia) dengan mereka, agar mereka tahu, bahwa janji Allah benar dan bahwa (kedatangan) hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika mereka berselisih tentang urusan mereka maka mereka berkata, ‘Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.’ Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, ‘Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya.’” –Q.S. Al-Kahfi (18): 21

Singkat cerita, setelah mereka terbangun dari tidur panjang selama tiga abad, salah satu dari mereka diutus ke kota untuk membeli makanan. Dari sanalah penduduk kota yang sekarang sudah memeluk ajaran tauhid mulai curiga karena ada pembeli yang berbelanja dengan mata uang dari abad lampau dan akhirnya menemukan gua persembunyian mereka serta jenazah Ashabul Kahfi yang telah diwafatkan oleh Allah. Ayat di atas mengisahkan apa yang terjadi saat mereka berada di depan gua.

Ashabul Kahfi dibangkitkan tidurnya oleh Allah tepat saat kerajaan sedang mengalami polemik tentang hari kiamat. Mereka berdebat tentang apakah di hari akhir nanti tubuh akan dibangkitkan bersamaan dengan ruh. Kubu yang meyakini bahwa tubuh tidak akan dibangkitkan beralasan bahwa ketika jenazah sudah terkubur sekian waktu, tubuhnya akan hancur dan menyatu dengan tanah sehingga tidak mungkin dibangkitkan kembali.

Lewat kejadian Ashabul Kahfi, Allah menjawab keraguan mereka bahwa Dia bisa membangkitkan segala sesuatu. Allah bisa membangunkan kembali pemuda-pemuda yang tertidur ratusan tahun seolah-olah mereka merasa hanya tidur seharian atau kurang dari satu hari (ayat 19). Begitupula Allah pun bisa membangkitkan sesuatu yang hancur menjadi utuh kembali di hari pembalasan.

Lucunya, saat penduduk menemukan gua mereka, alih-alih mendiskusikan tentang hikmah yang bisa diambil seperti penjelasan sebelumnya, mereka malah meributkan apakah di atas gua tempat Ashabul Kahfi bersemayam perlu dibuat monumen untuk mengenang kejadian yang luar biasa ini.

Dengan menceritakan kembali kejadian ini, Allah ingin mengingatkan kita bahwa ketika Allah mengajarkan satu hal lewat ayat-Nya, janganlah mengalihkan fokus kita ke hal yang tidak terlalu penting. Fokuslah kepada pesan yang dibawa dan jangan terlena dengan hal lainnya yang bersifat superfisial agar pesan tersebut dapat diterima dengan baik.

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan, ‘(Jumlah mereka) tiga (orang), yang keempat adalah anjingnya,’ dan (yang lain) mengatakan, ‘(Jumlah mereka) lima (orang), yang keenam adalah anjingnya,’ sebagai terkaan terhadap yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, ‘(Jumlah mereka) tujuh (orang), yang kedelapan adalah anjingnya.’ Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.’ Karena itu janganlah engkau (Muhammad) berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan lahir saja dan jangan engkau menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda) itu kepada siapapun.” –Q.S. Al-Kahfi (18): 22

Karena kejadian tentang Ashabul Kahfi terjadi sebelum kenabian Rasulullah, cerita tersebut telah diketahui banyak orang, terutama para pemeluk Nasrani, dengan berbagai versi cerita. Yang membedakan satu versi dengan versi yang lain salah satunya adalah jumlah personil Ashabul Kahfi itu sendiri yang dijelaskan pada ayat di atas. Ada yang bilang tiga orang dan yang keempat anjingnya, ada lagi yang berpendapat lima orang dan yang keenam anjingnya, yang lain berkata tujuh orang dan yang kedelapan anjingnya.

Quran sendiri tidak menyatakan secara pasti jumlahnya disebabkan dua alasan.

1. Agar Rasulullah dan umatnya tidak berbantah-bantahan terhadap poin yang tidak esensial dengan umat lain. Jumlah personil Ashabul Kahfi itu tidak penting, yang penting adalah pelajaran di balik itu; bahwa manusia biasa, selama dia beriman kepada Allah, akan diberikan petunjuk dan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, meskipun hal tersebut di luar nalar kita.

2. Jika jumlah Ashabul Kahfi dinyatakan secara pasti, dikhawatirkan akan ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan hal tersebut karena menyelisihi keyakinan mereka selama ini. Kemungkinan terburuknya, segolongan orang tersebut akan menolak seluruh ajaran Islam, karena berselisih paham tentang jumlah Ashabul Kahfi padahal jumlah mereka bukanlah pokok ajaran agama yang utama, seperti yang telah dijelaskan pada poin 1. Dengan demikian, Allah dengan kebijaksanaan-Nya tidak memberitahu jumlah Ashabul Kahfi secara pasti di Quran agar Islam dapat masuk ke semua kalangan, baik yang berpendapat mereka itu ada tiga, lima, atau tujuh orang.

Peringatan yang bisa diambil dari ayat tersebut adalah janganlah kita gemar berbantah-bantahan tentang hal-hal yang bukan merupakan pokok ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Tidak bersatunya umat Islam dewasa ini saya rasa salah satunya akibat kita memperdebatkan hal-hal yang cabang tidak pada tempatnya dan lalai pada hal-hal pokok yang telah ditekankan Allah dalam Quran.

Semoga kita semua bisa menjadi hamba-Nya yang diberikan kemampuan untuk menilai mana hal yang penting dan mana hal yang kurang penting dalam urusan agama.
Wallahu’alam bisshawab

Sumber: https://www.facebook.com/notes/hamida-amalia/para-pemuda-pilihan/10154018839728534/

Posted by Hamida Amalia on Monday, February 8, 2016

Ditulis oleh Hamida Amalia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s