Kisah Perjalanan Salman Al Farisi: Menembus Api – Omar Suleiman


Seminggu yang lalu saya berkesempatan menghadiri kajian Al-Maghrib Institute yang disampaikan oleh Syekh Omar Suleiman di Kuala Lumpur, alhamdulillah. Di sini saya akan berbagi catatan dari kuliah tersebut seperti aslinya, tanpa ditambah atau dikurangi. Beberapa pelajaran kehidupan yang tak lekang oleh waktu yang bisa dipetik dari kuliah tersebut saya garis bawahi. Mohon maaf jika ada kekeliruan di dalamnya – saya sudah berusaha mengikuti dan menuliskannya sebaik mungkin.- Humairah Jamil –

Ini adalah kisah Salman Al-Farisi atau Salman Si Persia, serta tantangan monumental yang dihadapinya dalam perjalanan menuju Allah subhanahu wa ta’ala. (Bila Anda ingin membaca sejarah singkat tentang apa yang terjadi sebelum Salman Al-Farisi mulai berperan, silahkan ‘scroll’ ke bagian akhir.)

Kisah Menakjubkan Salman Al-Farisi

Ceritakan kisahmu – bagaimana kamu menerima Islam – dari seorang bangsawan penganut Zoroastrianisme (salah satu agama kuno di dunia, yakni di Persia) menjadi sahabat terkasih Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Salman Al-Farisi dilahirkan dengan nama Rouzbeh putra dari Marzban. Pada dasarnya Salman memang seorang hamba Allah yang sangat taat, yang dengan mudah berserah diri kepada Tuhannya. Dia dilahirkan sekitar tahun 568-571, artinya kurang lebih sebaya dengan Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Salman bertugas menjaga agar nyala api di tempat ibadah mereka tetap berpijar. Dia tumbuh sembari melakukan tugas tersebut bersama ayahnya. Mereka merupakan keluarga yang terpandang, penganut Zoroastrianisme (Majusi) yang kaya, yang merupakan pemimpin dan bangsawan di antara masyarakat di kala itu.

Salman didoktrinasi dan memiliki pemahaman yang cukup dalam kepercayaannya. Dia terlahir ke dalam agama dan kebudayaan tersebut. Pada usia yang sangat muda, 16 tahun, dia mencapai posisi sebagai pendeta tertinggi. Dia dilindungi dengan sangat baik dan tidak pernah dibiarkan keluar dari rumahnya.

Suatu kali dia tersesat dalam perjalanan menuju kebun ayahnya (ayahnya memintanya untuk mengambil sesuatu di kebun itu), ketika menyadari bahwa dirinya sedang melewati sebuah gereja Persia dan terkesan dengan cara beribadahnya. Diperhatikannya bagaimana mereka sujud dan membungkuk (catat bahwa sikap ini masih dijumpai dalam ajaran Kristen Ortodoks) tanpa menyadari waktu berlalu. Mendadak terpikir olehnya bahwa agama mereka lebih baik dari agamanya.

Lalu dia masuk dan bertanya kepada pendeta yang sedang berada di dalam gereja saat itu, “Dari mana asal agama ini?

Dia sangat terkesan, penasaran, dan benar-benar ingin tahu.

Pendeta itu menjawab, “Dari Syam (Suriah).

Ketika Salman kembali ke rumah, ayahnya begitu khawatir karena dia tidak bisa menemukan puteranya selama beberapa jam ini. Salman menjelaskan kemana dia pergi dan apa yang telah terjadi. Ayahnya langsung menukas, “Tidak ada bagusnya agama itu.

Sang ayah begitu gusar sehingga dibelenggunya kaki Salman pada sebongkah besi. Salman menjadi tahanan di rumahnya sendiri. Ada pelajaran yang bisa kita petik dari hal ini. Bisa kita lihat munculnya rasa ketidakamanan ayahnya dari caranya menanggapi kejadian ini tanpa penjelasan yang rasional.

Pelajaran #1: Dengarkan penjelasan seseorang sebelum mempertahankan pendapat Anda sendiri dan merendahkan pendapat yang dibeberkan kepada Anda. Gunakan waktu untuk merenungkannya dan lihat apakah ada hal yang logis pada pendapat tersebut. Tidaklah bijak untuk bersikap defensif – agresif dengan langsung menumbangkan pihak lain. Ini memperlihatkan rasa tidak aman dan kelemahan berpikir. Sama halnya jika seorang anak bertanya kepada Anda, maka jangan perlihatkan rasa tidak aman Anda dengan tanggapan emosional – penting sekali agar Anda mengambil waktu untuk berpikir sebelum menjawab, belajar bersama, dan berdialog. Tekanan hanya akan memancing rasa ingin tahu dan hasrat untuk menyingkap kebenaran.

Salman berhasil menemukan jalan untuk kabur dari rumahnya, dan itulah terakhir kalinya dia melihat ayahnya. Salman fokus untuk mencari ilmu dan berangkat menuju wilayah Romawi yang rusuh, yakni Damaskus. Dia pergi ke sebuah gereja dan meminta pendeta, “Bawalah saya kepada orang yang paling berilmu yang Anda kenal dalam agama Kristiani.

Pelajaran #2: Sebagaimana Salman, kita selalu bisa merubah arah kehidupan jika kita berniat sungguh-sungguh. Jika kita ingin mempelajari bidang tertentu, maka pergilah kepada ahlinya. Seperti Salman yang mencari orang yang paling paham untuk mengajarkannya agama Kristiani, demikian pula hendaknya kita mencari ulama yang paling berilmu, bereputasi, yang sangat berpengalaman dalam bidang Islam tertertu. Salman juga mengajari kita bahwa untuk memperoleh ilmu kita harus mencarinya.

Informasi dan ilmu adalah dua hal yang berbeda. Untuk memperoleh ilmu, kita harus melakukan usaha untuk mempelajarinya dari orang yang berilmu. Ilmu itu suci. Bimbingan bukanlah sesuatu yang bisa kita peroleh melalui internet. Salman juga tidak membatasi pembelajarannya hanya kepada satu guru. Dia berkeliling ke wilayah yang berbeda guna mencari kebenaran dari banyak cendekia yang terpercaya.

Salman lalu diarahkan kepada pendeta tertinggi. Setelah menimba ilmu darinya beberapa tahun, Salman mengetahui bahwa gurunya ini kotor. Pendeta tersebut seorang munafik yang tidak mengamalkan apa yang dikhotbahkannya. Ketika gurunya meninggal, pada pemakamannya Salman menyatakan kepada masyarakat hal negatif dan jahat yang telah dilakukan gurunya (intinya pendeta ini menggunakan semua uang dan harta berharga yang disedekahkan oleh pengikutnya untuk kepentingan pribadinya, dan Salman membuktikan kejahatannya kepada para pengikut tersebut dengan memperlihatkan uang yang mereka kira telah disedekahkan, semuanya ada dalam ruang penyimpanan si pendeta). Mereka kemudian menyalib mayatnya dan menghujaninya dengan batu.

Pelajaran #3: Salman tidak bisa membiarkan ketidakadilan berlangsung di depan matanya, dia bahkan mengambil resiko kehilangan nyawanya untuk menyatakan kebenaran. Dia membela kebenaran melawan pendeta itu. Kita harus bersiaga dan membela korban ketidakadilan,memerangi kejahatan yang terjadi di depan mata kita, meski itu membuat kita tidak populer dan meski orang-orang tidak setuju dengan kita. Kita di sini bukan untuk menyenangkan orang-orang, tapi untuk menyenangkan Tuhan orang-orang tersebut.

Pelajaran #4: Kita juga mempelajari dari insiden ini bahwa seorang cendekia (ulama) yang jahat, atau seseorang dengan kondisi seperti ini akan selalu berakhir buruk. Karenanya kita harus selalu mengarahkan kehidupan kita untuk menyenangkan Allah dan berdoa untuk akhir yang baik (husnul khatimah), karena kebenaran yang disembunyikan oleh mereka yang jahat pada akhirnya akan selalu muncul ke permukaan.

Pelajaran #5: Jangan pernah lekatkan keyakinan kita kepada manusia. Salman tidak menilai seluruh aspek Kristiani berdasarkan guru pertamanya. Dia tidak semata-mata bertumpu kepada satu guru saja, dan tidak pula menempatkan gurunya pada pada tempat terendah. Harus ada perbedaan antara keduanya. Salman paham akan perbedaan itu. Tak satu pun yang bisa merubah keyakinan kita terhadap agama dan tak ada yang bisa menghentikan kita untuk mempelajarinya. Kita ini semata-mata hanyalah kapal pembawanya. Jika kita rusak, kesalahannya ada pada kita, bukan pada agama.

Salman lalu berjumpa dengan guru yang telah meninggalkan kesenangan dunia ini dan hanya hanya berjuang untuk akhirat. Salman sangat mencintainya lebih dari yang lainnya. Akan tetapi, tak lama kemudian dia wafat. Sebelum wafatnya, Salman bertanya kepada siapa dia harus berguru sekarang. Sebagaimana nasihatnya, Salman berjalan menuju Mosul, Irak, untuk mencari guru berikutnya. Guru yang ini ternyata sepintar dan sehebat yang sebelumnya. Benarlah bahwa jiwa yang benar tahu kemana akan menyerahkan kita untuk mencari ilmu. Setelah belajar darinya beberapa tahun, dia pun wafat. Salman kembali mengajukan pertanyaan yang sama seperti kepada gurunya yang kedua.

Tujuannya berikutnya adalah Nusaybin, Turki (Nusaybin adalah pusat Kristen Nestoria). Kemudian sesuatu terjadi, gurunya juga wafat. Selanjutnya dia melangkah menuju Ammoria, Turki. Dia belajar dengan baik di sini, namun kembali gurunya wafat.

Sampai saat ini, Salman telah belajar banyak hal. Salman lalu kembali berjalan ke arah Damaskus, menuju guru berikutnya. Tak lama berselang guru ini pun wafat. Sebelum meninggal dia mengatakan kepada Salman tentang kedatangan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam di Makkah. Diceritakannya tiga kriteria yang akan memastikan kenabiannya, yakni:

1. Jika kamu memberinya derma dia takkan mencuri (ikut memakan) – nya.
2. Jika kamu memberinya hadiah, akan dimakannya.
3. Ada stempel kenabian yang terlihat diantara tulang belikatnya.

Salman meneruskan kehidupannya dan menjadi pengembala kambing. Suatu ketika dia menemukan Banu Kalb dari Makkah. Ketika mendengar bahwa mereka berasal dari Makkah, dia mengambil kesempatan untuk mengikuti mereka. Dalam perjalanan menuju Wadi al-Qura dia tertangkap oleh mereka dan dijual sebagai budak. Bayangkan betapa terpukul dan putus asanya dia. Salman dijual sebagai budak hingga 13 kali dalam kurun waktu 10 tahun. Bayangkan jika kita yang mengalami hal ini – akankah kita marah kepada Allah?

Pelajaran #6: Salman tidak pernah kehilangan harapan kepada Allah meski dibombardir dengan kesulitan demi kesulitan. Jadi jangan pernah menganggap kesulitan sebagai tanda bahwa Allah telah berpaling darimu. Kesulitan yang tiada putus-putusnya bukan berarti Allah tidak senang dengan Salman yang tengah terpojok – Namun ini sebenarnya adalah ujian terhadap keyakinannya.

Salman akhirnya sampai di kota Yathrib, yang sekarang dikenal dengan Madinah. Salman mendengar tuannya berbicara tentang seorang Nabi di kota itu. Harapan Salman kembali menyala. Kesempatan untuk bertemu dengan Nabi sepertinya semakin terbuka. Salman pergi menjumpai Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan membawakan beliau sejumlah kurma. Nabi shallallahu alaihi wa sallam berterima kasih kepadanya dan menyuruh sahabatnya memakan kurma itu tanpa dia sendiri menyentuhnya.

Kriteria #1 tercentang dari daftar (Ketika diberi derma, dia takkan ikut menggunakannya)

Salman kembali keesokan harinya dan memberi Nabi shallallahu alaihi wa sallam sejumlah kurma lagi, kali ini sebagai hadiah. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam duduk dan makan kurma bersama sahabatnya.

Kriteria #2 tercentang dari daftar (Ketika diberi hadiah, dia akan memakannya)

Sekarang Salman berpikir bagaimana cara membuktikan kriteria ke #3 dan menjadi yakin sepenuhnya bahwa ini adalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang diceritakan oleh gurunya yang terakhir.

Salman memilih untuk mencari cara melihat stempel kenabian pada punggung Nabi pada hari pemakaman jenazah pertama di al-Baqi. Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyadari bahwa Salman sedang berusaha sebaik mungkin untuk melihat punggungnya maka beliau menurunkan bagian belakang pakaian atasnya untuk memudahkan Salman melihatnya. Begitu dia melihat tanda kenabian yang jelas di punggung Nabi shallallahu alaihi wa sallam, didekatinya Nabi sambil menangis sejadi-jadinya. Dia menangis dan terus menangis.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan tenang mengarahkan pandangannya kepada Salman dan bertanya, “Bagaimana kisahmu?

Dan Salman menceritakan semuanya. Dia kemudian beralih memeluk Islam.

Bayangkan jika Anda adalah Salman al-Farisi radhiyallahu anhu. Bayangkan, beginilah suasananya ketika Anda pada akhirnya bertemu dengan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Beliau juga akan tersenyum, akan peduli, dan bertanya, “Apa kisahmu?

Apa yang lebih baik dari itu? Bahwa Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam, manusia terbaik yang pernah berjalan di atas bumi ini, ingin mengetahui kisah kita. Itulah sebabnya beliau teramat mencintai kita – Anda telah memberikan begitu banyak pengorbanan, Anda ikuti sunnah beliau sebaik mungkin meski belum pernah melihat beliau.

Akan tetapi, perjuangan Salman belumlah usai – dia masih seorang budak. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya padanya, “Berapa harga kebebasanmu?

Ketika Salman bertanya kepada tuannya, disebutkannya sebuah harga yang tidak masuk akal – “Harganya 300 pohon kurma dan 1316 gram emas.

Awalnya Salman berpikir tak ada gunanya memberi tahu Nabi shallallahu alaihi wa sallam apa yang dikatakan tuannya padanya karena hasil negosiasi yang tak masuk akal itu, namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam langsung menerimanya dan segera bekerja. Dilihatnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam menanam seluruh pohon sendiri. Semua, 300 batang. Saat ini tempat itu dikenal dengan Kebun Salman di Madinah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga memberi tuannya emas persis sejumlah yang dimintanya. Maka Salman akhirnya dimerdekakan.

Selanjutnya Nabi menempatkan Salman sebagai murid di rumah mentornya Abu Darda, seorang mufti dan sahabat dekat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Menerima Salman di rumahnya merupakan pengalaman menarik, karena Salman akhirnya “menguliahi” Abu Darda (yang biasanya secara total meninggalkan dunia untuk fokus kepada akhirat) dalam menyeimbangkan dunia dan akhirat ketika melihat betapa lusuhnya isteri Abu Darda (pakaian dan penampilannya tidak terawat). Salman tidak menyukai ekstrimisme – dalam arti menjadi ekstrim dalam beragama. Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan kepada Abu Darda bahwa Salman benar, dan bahwa Abu Darda harus mengurus keduanya, dunia dan akhiratnya.

Pelajaran #7: Salman memperlihatkan kepada kita bahwa agama tidak mengajarkan kita untuk menjadi ekstrim. Untuk sepenuhnya meninggalkan dunia dan fokus pada akhirat, atau sebaliknya sepenuhnya meninggalkan akhirat dan fokus pada dunia. Keduanya adalah ekstrim yang tidak seharusnya kita ikuti. Kuncinya adalah menjadi seimbang.

Banyak sisi yang menonjol dari Salman radiyallahu anhu di antara para sahabat. Dia dikenal sebagai ulama, putra Islam, seorang jenderal, seorang pertapa, dan bapak dari dua buku (dia hafal injil dan Al-Quran karena telah begitu banyak melayari samudera ilmu dari berbagai guru).

Salman amat berilmu dan sangat introvert. Dia memiliki sifat pendiam – hanya mengatakan apa yang perlu dikatakan, dan menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan sesuatu. Satu hal yang harus kita sadari tentang Salman radiyallahu anhu adalah bahwa dia melakukan seluruh perjalanan hidupnya SENDIRI.

Pelajaran #8: Jika kita ingin memperbaiki diri secara spiritual, belajarlah untuk melakukannya sendirian. Tanpa adanya gangguan apa pun. Saat ini kita hidup dalam masa hiperstimulasi (begitu banyak pemicu yang mengalihkan fokus); kita terlalu tergantung kepada teknologi dan hiburan. Salah satu obat untuk melawan ketergantungan ini adalah dengan berpuasa dari teknologi, meski hanya sehari. Merenunglah. Merenunglah selama satu hari, ‘de-tech’, menjauhlah dari gadget dan berefleksilah seorang diri, dengan Allah.

Salman radiyallahu anhu suatu ketika pernah diminta oleh seseorang, “Beri saya nasihat.” Dijawabnya, “Kamu terlalu banyak bicara.

Pelajaran #9: Gunakan lidah Anda dengan bijaksana, dan gunakan hanya untuk kebaikan. Jika tidak ada hal baik yang perlu dikatakan maka diamlah.

Salman tidak akan diam hanya pada satu kondisi, ketika dia menyaksikan ketidakadilan, tidak peduli siapa yang dihadapinya. Suatu ketika dia berdiri dan bicara dari kerumunan untuk menyampaikan keluhan kepada Umar radiyallahu anhu ketika Umar mengambil dua helai bahan pakaian, bukan satu saja. Setelah dijelaskan oleh Umar, barulah Salman puas. Dia memang seorang yang sangat jujur, berani, dan saleh.

Penting juga untuk mencatat bahwa Salman bukan seorang Arab, tapi dia menjadi seorang Muslim yang sangat dihormati dan diangkat sebagai pemimpin orang-orang Arab.

Pelajaran #10: Islam tidak bersifat nasionalis atau tribalistik (kesukuan). Islam itu universal. Beberapa orang terbaik dalam Islam seperti Bilal ibn Rabah, Sibawayh, dan sebagainya bukanlah orang Arab. Islam itu untuk seluruh manusia.

Mulai saat itu, Islam menyebar dengan cepat dan menjadi sebuah agama universal, yang sekitar abad ke-7 dan 8 belum pernah didengar.

Suatu hari Salman menerima sepucuk surat dari Abu Darda (yang tinggal di al-Quds, Yerussalem) yang berbunyi, “Tinggallah bersamaku di Yerussalem dan hingga masa tuamu.

Namun Salman menjawabnya dengan, “Tanah yang suci tidak menjadikan seseorang suci. Yang menentukan kesucian seseorang adalah amalnya.

Pelajaran #11: Kita bisa menjalankan Islam dan menjadi Muslim yang taat di manapun kita berada – tinggal atau pergi ke suatu tempat tertentu tidak membuat Anda lebih suci. Ini adalah tentang perubahan internal, bukan eksternal.

Pada akhirnya, saat berbaring dalam ajalnya, Salman radiyallahu anhu dikunjungi oleh Saad ibn Waqqas, salah satu sahabat Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Salman menangis ketika dikunjunginya. Saad ibn Waqqas bertanya mengapa dia menangis. Salman menjawab, “Aku menangis karena Nabi telah bersumpah – Aku takkan mengambil dari dunia ini kecuali apa yang seharusnya dibawa oleh seorang musafir sebagai bekal perjalanannya. Aku takut aku telah mengambil terlalu banyak.

Salman radiyallahu anhu akhirnya berpulang kepada Allah subhanahu wa ta’ala di Mada’in.

Pengembaraan Salman al-Farisi yang tanpa henti, selama hidupnya untuk mencari kebenaran, dahaganya akan ilmu, kekuatan diamnya, keteguhan dan keinginan besarnya untuk tidak membiarkan satu hal pun menjadi batu sandungan dalam perjalanannya, serta keyakinannya kepada Allah yang tak kunjung padam, tidak terpengaruh, dan tak tergoyahkan – sungguh telah menjadi teladan yang indah bagi kita semua.

Pelajaran #12: Anda pikir Allah subhanahu wa ta’ala tidak mendengar rintihan Salman pada saat-saat terkelamnya? Mulai dari terpenjara di rumahnya sendiri, hingga pengembaraannya mencari guru-guru yang soleh, menuju hari-harinya dalam perbudakan… Anda kira Allah telah meninggalkannya sendiri melalui semua bencana? Allah selalu ada bersamanya. Tak sekali pun Salman mempertanyakan kepada Allah mengapa dia harus melalui semua kesulitan itu.

Cermati bagaimana Allah telah merencanakan kehidupan Salman radiyallahu anhu – melindunginya dan merencanakan sesuatu yang lebih baik baginya, pada akhirnya membawanya kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan kebenaran yang hakiki yakni Islam. Jadi, jangan pernah mempertanyakan kepada Allah mengapa Anda mengalami berbagai kesulitan – Allah sedang merencanakan sesuatu yang lebih baik untuk Anda, jadi jangan pernah sekali pun berputus asa terhadap rahmat Allah..

Kemuliaanku adalah agamaku, hargaku setara debu.” – Salman al-Farisi

Sesungguhnya, Islam meninggikan dan memuliakan kita manusia. Saya bahkan tak mampu membayangkan semua hal yang telah dilalui Salman al-Farisi radiyallahu anhu dalam pengembaraannya mencari cahaya Islam. Bukankah ini menyebabkan kita yang terlahir sebagai Muslim menyedari betapa mudahnya kita memperolehnya, dan betapa seharusnya kita sangat bersyukur karena telah dimuliakan dengan Islam, bahkan tanpa memintanya?

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita orang yang selalu haus akan ilmu, yang menghargai dan dengan segala kmampuan melindungi Islam dan Iman kita, yang kepercayaan dan keyakinannya kepadaNya takkan goyah meski berhadapan dengan banyak kesulitan.

Catatan Sejarah Singkat

Perang apa yang terlama di dalam sejarah? Perang terlama dalam catatan sejarah adalah antara Kekaisaran Romawi dengan Kekaisaran Sassanid, yang berlangsung selama tidak kurang dari 720 tahun. Ini adalah konflik yang berlanjut generasi demi generasi. Kejadian global yang sezaman dengan kehidupan Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam penting untuk diingat.

Pada tahun 610, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menerima wahyu.

Tahun 613, Damaskus (yang berada dalam kekuasaan Romawi) jatuh ke tangan Persia. Inilah yang memungkinkan tentara salib memasuki Yerussalem; tempat-tempat suci dikotori dan sekitar 9000 penduduk sipil dibantai. Para penganut Zoroastrianisme seluruhnya meninggalkan Yerussalem. Saat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam datang ke Yerussalem, tak ada yang tersisa.

Pada tahun 615, Kristiani memiliki kekuasaan di beberapa kota ketika Muslim bermigrasi ke Abysinnia (Ethiopia), sebuah wilayah Kristiani. Inilah sebabnya mengapa Muslim memiliki pertalian alami dengan Kristiani, dengan Romawi. Romawi takluk dan terpukul keluar Palestina (Allah firmankan dalam Surat ar-Rum) oleh Iran. Bagi kaum Quraisy, mengalahkan Romawi adalah tidak masuk akal.

Tahun 619, Kristiani kalah di hampir semua wilayah. Pada saat yang sama Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mengalami tahun-tahun duka cita.

Tahun 623, Heraklius, kaisar Byzantium, membalas serangan dan kembali menguasai Armenia, dan terus menjadi penantang serius. Kaum Muslim juga bermigrasi ke Madinah.

Tahun 624, Heraklius menguasai Azerbaijan, wilayah Persia, dan menghancurkan semua tempat suci yang ada. Perang Badr berlangsung di tahun yang sama dimana Muslim menuai kemenangan besar.

Selama ratusan tahun ada berbagai versi Kristiani, ada pun pengikut aslinya terbatas di Yerusalem. ‘Rasul’ Paul bertanggung jawab dalam penyebaran Kristen yang kita kenal hari ini – berdasarkan pandangannya tentang Kristiani (Anda bisa mempelajari lebih jauh dengan mencari ‘Council of Nicea’ di mesin pencari).

Tahun 325, di bawah kaisar Konstantin, dia ingin mengadopsi kepercayaan Kristiani yang menganjurkan ritual pagan yang sebelumnya telah ada. Melalui Council (Dewan) Nicea, Trinitas menjadi konsep utama yang digunakan. Mereka menyatakan konsep monotheisme secara resmi dilarang. Dewan tersebut juga melarang dilakukannya sujud dan rukuk, serta membuat kalender Kristiani. Penganut Kristiani di Syria memaksa untuk membaca kitab suci yang paling mirip dengan Aramaic, bahasanya Jesus, dalam upaya mempertahankan keaslian.

Tahun 428 Dewan Nicea ditolak oleh Nestorius, uskup agung Konstantinopel. Pengikutnya lalu dipindahkan ke Persia. Jenis Kristiani yang ada di Persia-lah yang dikenal oleh Salman. Zoroastrianisme muncul di Iran 3500 tahun sebelum Isa. Mereka percaya bahwa api memiliki kekuatan agung positif dan negatif, dua kekuatan yang sebanding, dualisme kosmik, dan api harus senantiasa dinyalakan.

—–
Tulisan ini bersumber dari: https://thebookjacket.com/2017/08/01/the-journey-of-salman-the-persian-by-shaykh-omar-suleiman/

Diterjemahkan oleh SM
Editor: AA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s