[Transkrip Indonesia] Hikmah Pengasuhan Nabi Yakub Di Surat Yusuf – Nouman Ali Khan


Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Al-hamdu lillaahi robbil-‘aalamiin, wash-sholatu was-salamu ‘alaa asyrofil anbiyaa-i wal mursaliin, wa ‘alaa aalihi wa shohbihi, famanistanna bi sunnatihi ilaa yaumiddin.

Allahummaj’alna minhum wa minalladziina aamanu wa ‘amilush-shoolihat, watawa saubil haq watawa saubis sabr, aamiin ya robbal-‘aalamiin.

Tsumma ‘amma ba’d. Fa a’uudzu billaahi minasy-syaitoonir rojiim.

Idz qoola yuusufu li’ abiihi yaaa abati innii ro’aitu ahada ‘asyaro kaukaban, wasy-syamsa wal-qomaro ro’aituhum lii saajidiin.” (QS Yusuf ayat 4)

“Qoola yaa bunayya laa taqshush ru’yaaka ‘alaaa ikhwatik, fa yakiiduu laka kaidaan, innasy-syaithoona lil-insaani ‘aduwwum mubiin.” (QS Yusuf ayat 5)

Wa kadzaalika yajtabiika robbuka wa yu’allimuka min ta’wiilil-ahaadiits, wa yutimmu ni’matahuu ‘alaika wa’alaaa aali ya’quub, kamaaa atammahaa ‘alaaa abawaika min qoblu ibroohiima wa ishaaq, inna robbaka ‘aliimun hakiim.” (QS Yusuf ayat 6)

Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul uqdatan min lisaanii, yafqohuu qoulii. Alloohumma tsabbitnaa ‘indalmauti bi laa ilaaha illallooh. Wallahummaj’alna minalladziina aamanuu, wa ‘amilush-shoolihat, wa tawashou bil-haq, wa tawashou bish-shobr. Aamiin ya robbal-‘aalamiin.

Ketika Quran Bicara Tentang “Ke-Ayah-an”

Khutbah hari ini didedikasikan untuk beberapa ayat yang termasuk Surah Yusuf, terutama yang menyangkut nasihat bijak dari Nabi Yakub alaihissalam.

Nabi Yakub alaihissalam memiliki kedudukan tersendiri dalam Quran, Allah azza wa jalla menceritakannya di beberapa tempat dan salah satu perannya yang sering diceritakan adalah peran Nabi Yakub alaihissalam sebagai Ayah. Ketika Quran bicara tentang ‘ke-Ayah-an’ di banyak ayat, bagaimanapun ceritanya, Yakub alaihissalam disebutkan. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan perilaku beliau yang Allah abadikan.

Tentu saja, salah satu ayat terindah, di mana Allah secara khusus merangkum kebijaksanaan beliau adalah kisah Yusuf alaihissalam. Aku rasa ini penting, karena di masa kita sekarang pendidikan sama sekali berbeda, tidak seperti dahulu lagi.

Orang-orang mendapat pendidikan bidang sains. Orang belajar mendalami bidang medis. Orang belajar mendalami teknologi dan lainnya. Namun, mereka tetap saja jarang belajar mengenai menjadi Ayah, atau menjadi anak, menjadi tetangga, atau menjadi teman baik.

Kita sudah tidak belajar lagi hal mendasar seperti ini, sehingga yang kalian temui adalah ironi. Ada orang yang bergelar Ph.D atau Dr, sangat terpelajar, tetapi tidak tahu apa artinya menjadi anak yang baik, atau mereka tidak tahu apa artinya menjadi orang tua yang baik, dll.

Kisah Yusuf alaihissalam Di Quran Tidaklah Sepanjang Di Injil

Jadi, ada dua macam pendidikan. Pendidikan yang digunakan untuk mencari pekerjaan yang bagus atau karir yang tinggi tidaklah sama dengan pendidikan yang menjadikan Anda orang yang lebih baik. Tidaklah sama. Dan inilah sebagian isi dari pendidikan dalam Quran yaitu apa yang bisa membuat Anda menjadi lebih baik, dan saya lebih baik.

Yang ingin saya bahas saat ini adalah bagaimana cara Allah memulai satu episode luar biasa dari kisah hidup Yusuf alaihissalam. Tentu saja, Surah Yusuf sepenuhnya dipersembahkan untuk kisah hidup Nabi Yusuf alaihissalam.

Hal pertama yang saya ingin kalian catat, adalah kisah Yusuf alaihissalam di Quran tidaklah sepertiga atau seperempatnya yang dalam Injil. Injil empat kali lebih panjang menjelaskan kisah Joseph. Sementara Al-Quran sangat luar biasa singkat ketika menjelaskan kisah serupa. Mengapa demikian?

Allah azza wa jalla jelas bukan ingin mengisahkan seluruh kisah hidup Yusuf alaihissalam. Tidak seperti kisah Musa alaihissalam, yang kisah sejarahnya dimulai sejak masih bayi, ketika Musa belum bisa bicara, lalu kisahnya terus berlanjut. Namun, kisah Yusuf alaihissalam dimulai ketika dia sudah kanak-kanak.

Jadi, ada kisah hidupnya yang tidak diceritakan dalam Quran. Begitu juga tentang detil lainnya. Allah tidak menyebutkan nama saudara-saudaranya. Quran tidak menyebutnya. Quran juga tidak menyebutkan, bahkan tidak secara langsung menyebutkan nama Ibunya. Quran tidak menyebutkan nama pejabat yang membawa beliau masuk ke rumahnya atau nama istri pejabat itu yang jadi tokoh utama dalam cerita ini. Tak satupun nama yang disebutkan. Tak ada lokasi persis disebutkan karena bukan itu intinya, selain Mesir yang disebutkan di surat lain.

Alasannya adalah Allah azza wa jalla bukan mementingkan informasinya, Bukan hal itu yang penting untuk Anda dan saya. Yang penting untuk kita adalah pelajarannya untuk membimbing hidup kita.

Jadi Allah akan memberi informasi, hanya yang relevan, cukup untuk memberi kita petunjuk. Ini bukanlah buku sejarah, bukan buku peristiwa. Ini adalah buku berisi bimbingan, buku nasihat, buku “Huda”, buku pemecahan masalah dan petunjuk.

Allah azza wa jalla telah mengubah dan dengan selektif memilih episode singkat dari kisah hidup Yusuf alaihissalam yang menakjubkan. Setiap detil kecil yang akan Dia ceritakan di surat ini sangat penting karena Allah melewatkan banyak hal lain, dan hanya menceritakan ini. Jadi apapun yang Dia pilih sangat bernilai. Tidak bisa diremehkan.

Kisah Terbaik

Saat kita memulai kisah ini, hal pertama yang menarik perhatian kita adalah Allah azza wa jalla berfirman, “Wa in kunta min qoblihii laminal-ghoofiliin.” (QS Yusuf ayat 3)

Allah berfirman pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Akan Kami ceritakan padamu kisah terbaik…

Kalian pasti pernah mendengarnya.

Akan Kami ceritakan padamu kisah terbaik, tetapi kamu sebelumnya tidak menyadari hal ini.

Bukan hanya tidak tahu ceritanya, tetapi pelajaran di dalamnya, hal bijak yang datang dari kisah ini, adalah sesuatu yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam saja belum diajari sebelumnya. Kisahnya pasti berbeda. Jadi jangan sepelekan. Ya memang…

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam belum tahu kisah Yusuf alaihissalam, bahwa itu saja tadi kata ayatnya. Sebetulnya, ada lebih banyak yang disampaikan. Ada hal-hal lain dalam kisah ini yang tanpa kisah ini. Kita tidak akan tahu betapa Allah menjadikan ini penting untuk kehidupan kita.

Rasa Sayang Nabi Yusuf Pada Ayahnya

Kita mulai. Allah azza wa jalla memberikan deskripsi tentang anak muda ini, Yusuf alaihissalam.

Idz qoola yuusufu li’ abiihi.” (QS Yusuf ayat 4)

Ketika Yusuf berkata kepada Ayahnya, saat dia masih kanak-kanak. Kita tidak tahu usia tepatnya, tapi bisa kita bayangkan sekitar 8 sampai 12 tahun. Dia datang kepada Ayahnya. Mungkin di usia lebih muda lagi. Apa yang dia katakan?

Yaaa abati innii ro’aitu ahada ‘asyaro kaukaban.” (QS Yusuf ayat 4)

Pertama, “Yaa abati“. Kata dalam bahasa Arab untuk ‘Ayah’ adalah “Abii”.

Yaa abii, wahai Ayahku.

Yaa abati“. Huruf “ta” menunjukkan ‘cinta’ dan ‘penghormatan’. Jadi artinya, “Wahai Ayahku yang terhormat dan Ayahku tercinta.

Namun, itu bukan bahasa kita. Anak kita tidak akan bilang, “Ayahku tercinta, boleh aku minta cokelat?

Kita tidak bicara seperti itu lagi. Namun, ungkapan yang setara mungkin, “Ayah, aku sayang padamu!

Ayah, peluk aku! Aku ingin cerita sesuatu.

Yaa abati” adalah ungkapan dengan cinta untuk memanggil Ayah.

Tidak sekedar ,”Ayah! Papa!” atau “Baba!

Tetapi, “Ayah ..” diiringi dengan ungkapan kasih sayang. Inilah hal pertama yang kita pelajari tentang anak ini, yaitu dia sampaikan rasa cintanya untuk Ayahnya.

Nabi Yusuf Mencoba Meyakinkan Ayahnya

Hal kedua yang kita pelajari di sini, yaitu dia datang ke ayahnya bilang, “Innii.

Innii” berarti, “Sesungguhnya, aku…

Huruf “Inna” dalam bahasa Arab “Izalatisy-syakki” (untuk menghilangkan keraguan). Itu ketika kalian ingin mengatakan hal yang tidak mudah dipercayai pendengar. Sulit dipercaya, mereka tidak yakin. Anda disangka tidak serius. Untuk bahasa Arab, diucapkan “Inna” untuk menghilangkannya.

Tidak, yang aku katakan ini serius.

Seolah, anak ini tahu bahwa yang akan dikatakannya, akan sulit dipercaya. Hal menakjubkan, hal gila, yang dia mimpikan ini, ingin dia ceritakan kepada Ayahnya, tetapi dia rasa Ayahnya mungkin tidak percaya.

Jadi dia berkata, “Tidak, Ayah! Aku sungguh melihatnya!

Innii ro’aitu ahada ‘asyaro kaukaban.” (QS Yusuf ayat 4)

Aku sungguh benar melihat nyata, sebelas bintang dengan matahari dan bulan.

Wasy-syamsa wal-qomaro.” (QS Yusuf ayat 4)

Dan yang luar biasa adalah kalimatnya diulangi lagi (dalam ayatnya). Hal ini mengungkap karakter “segan” pada anak. Saya sendiri punya banyak anak. Alhamdulillah, saya punya 7 anak.

Ada hal yang menarik tentang anak, ketika mereka ingin cerita hal yang membuat semangat, atau sebuah kejadian, mereka bicara berulang-ulang. Meskipun kalimat mereka belum selesai. Ketika terjadi sesuatu di taman, seperti anakku yang kecil, dia datang padaku, dia berkata, “Aba! Aba! Ada sesuatu… di perosotan… di perosotan… uhm… di perosotan…

Ada apa di perosotan?

Aku lupa.

Anak akan gugup dan bicara berulang-ulang.

Yusuf alaihissalam yang masih kanak-kanak datang menuju Ayahnya, dan berkata, “Tahukah Ayah apa yang terjadi? Aku mimpi sebelas bintang, matahari, bahkan bulan, tapi, apa yang…

Ada lagi yang ingin dia sampaikan, tapi dia gugup dan dia berhenti, dan dia mulai lagi bercerita dari awal. Kata-katanya dia ulangi lagi.

Ro’aituhum lii saajidiin.” (QS Yusuf ayat 4)

Aku melihat mereka bersujud padaku.

Kata-kata “Aku melihat” diulang, dua kali. Bukan hanya sekali. Benar benar seperti anak yang berkata, “Aku melihatnya, aku benar-benar melihatnya.

Betapa indah (dalam ayat ini) dan tidak dibuat-buat, caranya bicara pada Ayahnya.

Anak Bercerita Pada Ayahnya

Hal pertama yang ingin saya tekankan di sini, adalah seorang anak melihat sebuah mimpi, kepada siapa dia segera bercerita? Ayahnya.

Anak laki-laki kita merasakan sesuatu, bermimpi sesuatu. Tidak usah mimpi, bahkan sesuatu yang terjadi di dunia nyata saja. Ke siapa mereka cerita?

Dan ketika mereka mau bercerita kepada kalian, para Ayah, kalian sedang menonton berita atau sedang sibuk dengan HP.

Aba, tadi di sekolah, bla bla bla. Lalu, lalu saat bermain…

Jawabanmu, “Oh ya? Ceritakan ke Ibu sana.

Dan ketahuilah, kalau Anda sering begitu… Perhatikan, anak laki-lakimu tidak lagi datang bicara padamu. Dia langsung bicara ke siapa? Dia langsung bicara ke Ibunya. Kecenderungan alami anak, mereka lebih dekat pada Ibunya. Memang begitu.

Namun, kita belajar sesuatu tentang Ya’kub alaihissalam yang bahkan tidak disebutkan di ayatnya. Dia adalah sosok Ayah yang telah menciptakan lingkungan pengasuhan untuk anak ini, sehingga bukan hanya apa yang dialami anak ketika bangun, tapi juga yang ketika yang dia alami adalah mimpi. Membuatnya langsung pergi memeluk Ayahnya dan menceritakannya karena dia tahu Ayahnya pasti akan mendengarkan.

Ayah akan memperhatikan. Ayah tidak akan mengabaikan kata-kataku. Dan jika ada hal yang penting bagi anak, maka itu berbeda dengan hal yang dianggap penting bagi orang dewasa. Sewaktu anakku main dengan lego-nya dan satu bagian lego-nya hilang, dunia seolah kiamat.

Aba, kepalanya hilang!

Ini jadi urusan penting baginya. Tidak penting bagiku, tetapi ini harus jadi urusan penting bagiku karena baginya ini penting. Sebuah mimpi mungkin tidak penting bagi kita, tetapi penting bagi anak ini. Itu bernilai menurutnya.

Anak ini mendekati Ayahnya, bercerita mimpinya tetapi Ayahnya tidak berkata, “Semalam kamu makan apa, Nak?

Cuma mimpi, tidak apa-apa. Jangan khawatir. Ayah juga sering mimpi.

Dia (Ya’kub) tidak begitu. Dia justru dengan seksama mendengarkan anaknya. Kita belajar satu cara menjadi Ayah yang belum kita tahu. Quran tidak menekankan hal ini di tempat lain, (di sini) justru menekankan harus seberapa cinta seorang Ayah kepada anaknya, kepada anak yang masih kecil, mengasuhnya, dan terlibat sepenuhnya dengannya. Menjadi pendengar yang baik, duduk dan hanya mendengarkan anakmu. Bahkan jika mereka berceloteh hal-hal yang tidak masuk akal bagimu, kalian mendengarkan dengan seksama, seolah kalian sedang belajar.

Anak-anak itu, Anda tahu… anak perempuan saya, banyak bicara, karena mereka anak perempuan. Kalian tahu, bicara ini dan itu, cerita tentang anak ini, anak perempuan yang di sekolah, yang baru kenal, yang tidak berteman lagi, yang ini, yang itu, sangat banyak nama, hampir seperti “Ilmu an-nisaa“. “Ilmu ar-rijaal” dalam hadis, nama-nama yang harus diketahui dan diperiksa. Aku harus hafal.

Aku tidak bisa menyetir saja, lalu, “Aha? Uhum.

Yeah.

Ya, bagus.

Ayah Serius Mendengar Anaknya Bercerita

Begitulah kita, kita tidak serius mendengar. Ayah Yusuf justru serius mendengarkan. Dan bagaimana Anda akan tahu, bagaimana saya akan tahu tentang apakah kita berusaha menghidupkan sunnah Ya’kub alaihissalam sebagaimana diabadikan dalam Quran, yaitu ketika anak kita tanpa dipaksa, bicara terbuka kepada kita.

Karena sekarang ini, kita coba bicara ke mereka…

Bagaimana sekolahmu?

Mereka jawab, “Ya, begitulah.

Apa kegiatanmu?

Biasalah.

Siapa temanmu?

Beberapa orang.

Mereka tidak mau bicara pada kita. Tapi itu bukan karena mereka anak nakal, justru karena kita yang tidak membuka kesempatan untuk mereka.

Bertemanlah Dengan Anakmu

Kita tidak memulai berteman dengan mereka. Anak-anak harus didekati dan harus merasa diterima. Kalian tahu, di banyak kalangan, terutama kalangan muslim. Seorang Ayah harus tampak berwibawa, ketika..

Papa masuk rumah, semua orang jadi… seolah waktunya Hari Pembalasan. Semua orang diam tak bergerak. Siapa pun yang tadinya ceria, ketika mendengar suara mobil, “Ha?! Ayah datang!!

Semua siaga, seperti sikap siap ala militer dan kebahagiaan sudah lenyap.

Hati-hati! Papa mudah marah.

Jangan buat Papa kesal. Dia capek kerja seharian.

Jangan bicara apapun, dia akan marah.

Inikah teladan Nabi Ya’kub alaihissalam? Jika beliau adalah Ayah seperti itu… Akankah Yusuf alaihissalam mendekatinya, bahkan bercerita?

Kisah ini bahkan tidak akan pernah terjadi. Semua ini tidak akan terjadi kalau dia bukan Ayah yang penyayang. Itulah prasyarat pada ayat pertama ini.

Barulah si anak bercerita tentang mimpi yang sangat menarik ini. Isi dari mimpi ini begitu luar biasa. Cara penyampaian Quran sangat luar biasa. Di sisi lain, si anak ragu-ragu. Dia tahu dia tidak akan dipercaya, sehingga menggunakan “Innii“.

Innii ro’aitu ahada ‘asyaro kaukaban, wasy-syamsa wal-qomaro.” (QS Yusuf ayat 4)

Dan pada akhirnya, di penghujung surah ini, kita tahu bahwa sebelas bintang ini sebenarnya adalah saudara-saudaranya. Matahari dan bulan mewakili orang tuanya.

Kita juga tahu akhir dari mimpi ini, melalui akhir kalimatnya, yang dia katakan pada ayahnya, mereka akan melakukan sujud, karena dia. Mereka akan bersujud kepadanya. Itu adalah satu posisi merendah, jika seseorang melakukannya.

Jika Anda bayangkan, jika seseorang sujud kepada orang lain. Kalian bayangkan orang yang “Masjuudun lahuu“. Orang yang disujudi atau yang menjadi alasan untuk sujud. Pastilah orang yang sangat penting.

Nabi Yusuf Anak Yang Jenius

Jadi, anak ini bermimpi bahwa dia akan menjadi orang yang sangat penting. Namun, sebetulnya yang lebih luar biasa lagi, tampak pada bahasa dalam ayatnya, bahwa anak muda ini adalah seorang jenius.

Allah azza wa jalla telah mengilhaminya dengan cara yang sangat spesial, sehingga dia sudah paham apa makna dari mimpi itu. Dia bukan datang pada Ayahnya untuk bertanya maksud mimpi itu, tampaknya dia sudah tahu apa maksudnya.

Inilah mengapa, dia menyebutkan sebelas bintang, matahari dan bulan, Ayah dan Ibunya sampai di situ, ia tidak bisa melanjutkan lagi, “Aku tidak bisa membayangkan Ayah dan Ibu merendahkan diri di hadapanku.

Bagaimana bisa aku membayangkannya?

Lebih dari itu, bagi kalian yang mengerti bahasa Arab, ada “Ghoir Dzawiil ‘Aquul“. Jika kalian menyebut ‘bintang’, ‘matahari’, dan ‘bulan’ yang merupakan benda tidak hidup.

Kata ganti dalam bahasa Arab untuk benda tidak hidup adalah kata ganti wanita, “Haa” atau bisa untuk “Tafkhim“, hal penting, dengan “Hunna“.

Dalam bahasa Arab ayatnya seharusnya, “Ro’aituhunna lii saajidaat” atau “Ro’aituhaa lii saajidah“.

Begitu bahasa Arab yang diharapkan. Tetapi Quran menyebut “Ro’aituhum lii saajidiin.” (QS Yusuf ayat 4)

Yang (kata “Hum“) hanya digunakan untuk orang. Dia justru mengatakan, “Aku memimpikan mereka bersujud kepadaku.”

Kata “mereka” sebetulnya hanya digunakan untuk orang hidup, untuk manusia. Yusuf menggunakan kata yang menunjukkan dia tahu itu adalah ‘orang’ bukan bintang, matahari, maupun bulan. Di situlah kejeniusan anak ini.

Hal kecil seperti ini, Ayahnya sangat memperhatikan dan paham. Anak ini istimewa. Bukan hanya istimewa karena mimpinya, tetapi dia sangat istimewa karena dia tahu maksudnya.

Temukan Bakat Anakmu Melalui Bercakap Dengan Mereka

Anak ini tahu mimpi itu akan terjadi. Dia mampu memahami semua ini hanya dari satu kalimat. Anak kita diberi banyak karunia. Karunia itu akan Anda temukan dengan cara terlibat dalam percakapan dengan mereka.

Setiap anak dikaruniai hal-hal unik. Ada yang sangat artistik, ada yang sangat matematis, ada yang pandai menganalisis, ada yang ingatannya bagus. Mereka tidak ada yang sama.

Saat berbicara dengan mereka, kalian akan temukan hal tersembunyi pada diri mereka. Anda tidak akan tahu karunia dan bakat tersembunyi itu, yang Allah berikan kepada mereka, sampai Anda juga saya bersedia jadi pendengar yang baik.

Sang Ayah mendengarkan dengan baik dan menyimpulkan anaknya itu bukan anak biasa. Dia istimewa. Bukan hanya istimewa karena mimpinya, tapi juga karena tahu maksud mimpinya. Dia tahu sekarang, saat itu juga, bahwa tadi itu adalah ‘orang’. Sebelas bintang itu adalah sebelas saudaranya, matahari-bintang itu Ayah-Ibunya.

Sekarang dia bahkan menceritakan tafsir mimpinya pada Ayahnya dengan satu kalimat, mimpi sekaligus tafsirnya. Dan hal pertama yang Ayahnya lakukan, respon pertamanya sangat menakjubkan.

Inilah nasihat pertama yang ingin aku sampaikan. Keterbukaan antara Ayah dan anak.

Ayah Sayang Anaknya

Hal kedua yang ingin saya sampaikan, “Yaa bunayya laa taqshush ru’yaaka ‘alaaa ikhwatik.” (QS Yusuf ayat 5)

Anak kecilku yang manis, Anak kecilku sayang.

Begitulah dia memanggilnya.

Ibnii” artinya, anakku. “Yaa bunayya” “Isim tashghir“, anak kecilku. Ini juga ungkapan kasih sayang.

Jadi, anak bicara dengan penuh kasih sayang dan sang Ayah juga menjawab dengan penuh kasih sayang. Kita harus membalas kasih sayang. Kita harus menjawab ungkapan kasih sayang kepada anak kita. Kita harus buat mereka tahu betapa kita mencintai mereka.

Kita tidak boleh berkata, “Ayahku dulu tidak pernah peluk aku. Jadi kita tidak melakukannya di keluarga kita.

Jangan begitu pada anak-anak. Itu bukan sunnah Nabi kita ‘alaihimush-sholatu was-salam. Sungguh sayang bahwa sebagian orang berpikir harus jadi Ayah yang otoriter.

Mereka tidak ragu, “Aku mau anakku menghormatiku. Mereka tahu aku sayang mereka.

Tidak. Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu Anda mencintai mereka. Tanya anak-anakmu.

Sepertinya Ayah membenciku.

Mereka akan jujur.

Tapi jangan bilang Ayah, yah!

Anda perlu mengungkapkan kalau Anda sayang mereka. Anda perlu menunjukkan bahwa Anda sayang mereka.

Kemudian dia berkata, “Jangan ceritakan mimpi ini pada saudaramu.

Anda perhatikan, “Jangan ceritakan.

Pertama, Ayahnya mengatakan, “Jangan cerita ke saudaramu.

Saudaranya lebih tua atau lebih muda darinya? Kebanyakan dari mereka lebih tua darinya. Dan dia menghormati saudaranya. Sama seperti antusiasnya dia ketika cerita ke Ayahnya, dia mungkin ingin cerita juga pada saudaranya. Kita tahu lanjutan ceritanya, bahwa saudaranya itu tidak baik dan punya rencana jahat atas dirinya.

Para Nabi Juga Memiliki Masalah Keluarga

Hal pertama yang Anda sampaikan pada anakmu adalah bahwa kadang situasi keluarga itu rumit. Ketahuilah, bukan keluarga Anda saja yang punya masalah. Keluarga para nabi juga punya masalah. Dia punya anak yang sulit diatur, padahal dia Ayah yang hebat. Kita sudah tahu itu. Baru kita pelajari bahwa dia Ayah yang baik. Jika dia bisa baik pada Yusuf, maka aku bisa jamin dia juga berbuat baik pada anak lain. Bukankah begitu?

Tidak mungkin anak-anak yang lain dibesarkan dengan cara keras dan tiba-tiba dia jadi baik dengan Yusuf alaihissalam. Tidak begitu. Para Anbiya` adalah contoh untuk keadilan dan kejujuran. Dia sudah berusaha jadi Ayah baik, tapi anak-anak itu tidak menjadi seperti Yusuf. Mereka tumbuh sangat berbeda.

Banyak dari kita yang berkorban untuk anak. Bapak-bapak ada yang sudah putih jenggotnya, karena anaknya bukan lagi anak-anak. Mereka sudah dewasa. Kalian berusaha keras memberikan mereka kasih sayang, pengasuhan, dan pendidikan agama, juga mengajari mereka perilaku yang benar.

Ternyata tidak seperti itu jalan hidup mereka. Mereka tidak lagi seperti yang kalian harapkan. Mereka jauh dari agama Allah. Mereka membangkang dan tidak sopan.

Kalian berpikir, “Di mana salahku?

Aku mengerahkan segalanya, tapi mereka jadi begini?

Bagaimana mengajak mereka kembali?

Begitu banyak Ayah dan ibu yang putus asa, terutama ibu, datang padaku, lalu mengeluh, “Kulakukan segalanya untuk anakku, Kuberi mereka pendidikan yang baik, lingkungan yang baik. Kujaga mereka dari berbagai fitnah. Namun, sekarang anakku tidak mau salat, dan tidak mau mendengarkanku. Jika aku nasihati, dia justru marah. Dia juga pergi dari rumah. Apa yang harus aku lakukan?

Itu bukan hanya masalahmu. Itu juga masalah Nabi Ya’kub alaihissalam, nabi Allah, Ayah yang menjadi teladan, bahkan anaknya bermasalah. Mengapa ini penting untuk diperhatikan?

Sesudah Dewasa Anak Akan Membuat Pilihannya Sendiri

Karena kita hanyalah manusia. Kita tidak memiliki ‘hidayah Allah’. Kita bahkan tidak memiliki anak kita. Mereka adalah amanah. Mereka adalah titipan dari Allah pada kita. Kita lakukan semaksimal mungkin untuk mereka, tetapi sesudah mereka dewasa, mereka akan membuat pilihan mereka sendiri.

Di situ kita tidak berkuasa apa-apa. Kita tidak berkuasa menentukan bagaimana jadinya mereka. Kita hanya bisa memenuhi amanah sampai titik tertentu saja. Setelah itu, mereka memilih sendiri jalannya.

Inilah mengapa, Utusan Allah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada anaknya sendiri, “Yaa Fatimah bintu Muhammad, ittaqillooh, fa innii laa amliku laki minallaahi syai-an.

Hai Fatimah puteri Muhammad, bertakwalah kamu pada Allah! Aku tak berkuasa apapun di hadapan Allah atas dirimu. Aku tidak bisa membantumu di Hari Kiamat. Kamu sendirian.

Ini adalah kenyataan yang mendasar yang setiap orang tua harus mengerti. Anak perempuan saya sudah remaja. Nanti yang laki-laki pun akan jadi remaja, dan aku lebih khawatir tentang itu. Akhirnya mereka akan dewasa.

Yang terjadi adalah, ketika mereka masih kecil, semua hal masih bisa kita kendalikan. Apa yang mereka makan, apa yang mereka pakai, mereka sekolah di mana, jam berapa tidur, jam berapa bangun, semuanya dalam kendali kita. Namun, seiring mereka bertambah dewasa, Anda sadar Anda semakin kehilangan kendali. Sampai pada satu titik, mereka ingin mandiri.

Sekarang, mereka sudah memilih ingin menikah dengan siapa. Mereka ingin ke luar kota untuk bekerja. Orang tua tidak bisa mengendalikan mereka, lalu berkata, “Tidak. Kamu tidak boleh begitu!

Kamu tidak boleh menikah semaumu.

Kamu tidak boleh ke kota ini.

Kamu tidak boleh kerja itu.

Tidak boleh!

Kamu harus lakukan apa yang saya suruh, karena Ibu yang ganti popokmu, Ibu yang menyuapimu waktu kecil.

Tidak, sebenarnya tidak begitu. Ada batas usia tertentu di mana kita harus… orang tua harus melepaskan mereka. Orang tua tidak lagi bisa mengatur. Memang kenyataan yang pahit, kenyataan pahit yang banyak orang tua tidak bisa terima karena memang sulit untuk menerima. Namun, begitulah kenyataannya.

Dan kadang anak-anak kita memang tidak seperti yang kita harapkan, seperti saudara Yusuf alaihissalam. Ayahnya berkata padanya, “Keluarga kita ini rumit, Ayah minta tolong satu saja.

Dia tidak mencemooh saudara Yusuf, Dia hanya berkata, “Dengar … jangan ceritakan pada mereka tentang mimpimu ini.

Dia tidak bilang karena saudaranya iri atau apapun. Dia hanya berkata, “Fa yakiiduu laka kaidaan.” (QS Yusuf ayat 5)

Ayah minta kamu mengerti meskipun kamu masih kecil, berhati-hatilah berbicara di dekat saudaramu karena mereka mungkin membuat rencana buruk terhadap kamu. Mereka mungkin membuat rencana rahasia melawanmu.

Hati-Hati Dengan Keluarga Sendiri

Kenapa Anda memberi tahu anak hal ini? Kadang, anak harus diberi tahu pembicaraan orang dewasa. Situasi keluarga kita tidak selalu mulus. Kita terkadang harus melindungi. Dengarlah ini baik-baik. Terkadang kita harus melindungi anak kita dari anggota keluarga yang lain. Terkadang ada anggota keluarga kalian yang tidak baik dan tidak bisa kita sembunyikan itu dari anak kita.

Anda harus tahu setiap orang dalam keluargamu sendiri. Tak ada orang lain yang paham, selain Terkadang ada paman, sepupu, kakak, atau yang lain dalam keluarga Anda, yang hanya bawa pengaruh buruk. Mereka tidak baik.

Anda bukan ingin menimbulkan kebencian, tetapi ingin menjaga anak-anak dari mereka. Ketika hari raya, kumpul-kumpul, semua orang ada di sana. Anak-anak berlari-larian. Anda pasti tahu siapa biang masalah di tengah kumpul-kumpul itu. Sebaiknya Anda tempatkan anak-anak di tempat yang bisa diawasi. Jangan dibiarkan saja, hingga Anda tidak tahu di mana mereka. Karena dalam acara kumpul-kumpul ini bisa saja terjadi hal buruk pada anak kita.

Dan bisa terjadi hal paling buruk, karena keluarga sendiri. Aku tahu ini bukan melalui teori, karena ribuan orang meng-email-ku tentang kejadian dalam keluarganya. Karena kita tidak menjaga mereka. Kita anggap mereka aman jika dengan keluarga. Anda jangan anggap remeh. Itu sendiri adalah ajaran dari Quran.

Terkadang ada situasi yang rumit di tengah keluarga. Dan yang pertama kita jaga terlebih dulu adalah anak-anak.

Fa yakiiduu laka kaidaan.” (QS Yusuf ayat 5)

Kemudian dia berkata, alasannya bukan karena mereka itu jahat, tetapi karena “Innasy-syaithoona lil-insaani ‘aduwwum mubiin.” (QS Yusuf ayat 5)

Setan selamanya adalah musuh manusia.

Dengan kata lain, mereka adalah korban dari bisikan setan. Kita memohon kepada Allah agar melindungi kita dari bisikannya. Jadi, perkataannya itu berarti, “Hati-hati dari biang masalah dalam keluarga“. Sekaligus juga berarti, “Mereka itu bukan setan. Setan itu tetap setan“.

Setan-lah yang jahat. Karena Ya’kub masih berharap ada perubahan. Dia tidak berkata, “Saudaramu itu sangat jahat. Jaga jarak dari mereka dan jangan bicara dengan mereka sampai kapanpun.

Itu yang kita lakukan. Karena jika seseorang pernah berbuat buruk atau bersikap buruk, kita menjauhkan orang itu selamanya. Pada akhir kisah ini, kalian tahu saudara Yusuf bertaubat, bukan? Mereka berubah, bukan? Jadi, meski ada orang yang bersikap buruk dalam keluargamu, bukan berarti mereka itu setan yang terkutuk masuk neraka selamanya.

Mereka tidak sama dengan setan. Mereka bisa berubah. Setan-lah yang akan selalu menjadi musuh. Jadi sang Ayah mengklarifikasi hal ini kepada si anak, “Jangan samakan mereka dengan setan. Keduanya berbeda.

Ayah Memuji Anak Untuk Dorong Rasa Percaya Dirinya

Sekarang, aku sampai di bagian terakhir yang ingin aku sampaikan. Sebagai Ayah, apa yang akan dia berikan pada anaknya? Ini bagian kesukaanku, sebenarnya. Validasi. Penerimaan.

Anak ini bermimpi. Dengan satu kalimat sekaligus menceritakan dia tahu arti mimpinya. Sang Ayah pertama memberitahu agar hati-hati dengan masalah dalam keluarganya. Lalu dia memberitahu, “Wa kadzaalika yajtabiika robbuka.” (QS Yusuf ayat 6)

Demikianlah Tuhanmu, yaitu Allah, telah memilihmu karena sifat istimewa yang kamu miliki.

Ijtibaa`” digunakan ketika sebuah pilihan diambil berdasarkan sebuah sifat istimewa. Sang Ayah pada dasarnya berkata, “Nak, kamu punya sifat istimewa. Dan sifat ini begitu istimewa, sehingga Allah langsung yang memilihmu. Ini baru permulaannya, Nak.

Wa yu’allimuka min ta’wiilil-ahaadiits.” (QS Yusuf ayat 6)

Dan Allah akan mengajarimu tafsir berbagai macam ucapan.

Tidak hanya mimpi. Kamu akan menjadi pemuda yang cerdas. Kamu nanti bisa mengetahui maksud semua hal. Ada masa depan cerah di hadapanmu.

Dan, itu belum cukup.

Wa yutimmu ni’matahuu ‘alaika.” (QS Yusuf ayat 6)

Dan Allah akan, (aku yakin), menyempurnakan nikmatnya padamu.

Aku bahkan melihat, aku berdoa, semoga Allah mengangkatmu menjadi nabi, sebagaimana Dia melakukannya.

Kamaaa atammahaa ‘alaaa aali ya’quub.

Maaf, “Kamaaa atammahaa ‘alaaa abawaika min qoblu ibroohiima wa ishaaq.” (QS Yusuf ayat 6)

Sebagaimana Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepada kakekmu dan kakek buyutmu, Ibrahim dan Ishaq.

Aku berharap semoga kamu selanjutnya.

Dari satu mimpi, sang Ayah menyampaikan semua percakapan ini tentang ‘Betapa mengagumkannya dirimu’ kepada anak ini.

Allah telah memilihmu. Kamu sangat istimewa. Kamu akan melakukan hal besar di masa depan. Kamu akan mengetahui banyak hal. Allah akan membuatmu mengikuti jejak warisan Ishaq dan Ibrahim alaihissalam. Allah akan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu.

Semua ini, pujian, demi pujian, demi pujian lagi. Kenapa? Ini adalah sunnah dari sang nabi, memperhatikan hal kecil yang dilakukan anak-anak. Kita ubah jadi hal besar dan memberi mereka kepercayaan diri, selagi mereka masih kecil.

Kita memvalidasi diri mereka. Bukan kebalikannya, anak Anda baru saja ujian. Dapat nilai 95 di ujiannya. Kalian bilang, “Lain kali harus dapat 100!

Ayah saja selalu dapat 100 tanpa ikut ujian!

Anakmu tidak pernah cukup baik di matamu. Tidak cukup baik. Kalian tidak pernah mengakui kehebatan mereka. Ini merupakan hal buruk kalau dilakukan. Penolakan terhadap warisan para nabi, yaitu mengakui kehebatan anak-anak kalian.

Dia (Yusuf) bahkan belum menafsirkan berbagai ucapan. Itu masih terjadi nanti. Dia belum berhasil. Dia masih kecil. Namun, sang Ayah memberinya kepercayaan diri agar dia bisa mencapai banyak hal. Ketika kita menaruh rasa percaya diri kepada anak-anak kita. Mereka akan melakukan pada anaknya juga kelak, dan pastinya bisa melakukan hal luar biasa.

Satu hal ini, satu jenis rasa percaya diri ini, yang sudah ada pada si anak di usia awal, adalah kepercayaan diri yang sama dengan ketika Yusuf alaihissalam di penjara, lalu dia keluar penjara.

Dia datang di hadapan raja dan berkata, “Aku harus menjadi bendahara.

Itu butuh kepercayaan diri. Dia berdiri di tengah-tengah aparat pemerintah, orang-orang yang lama di politik, para ahli ekonomi. Sementara dia baru keluar dari penjara, lalu berkata, “Tidak ada seorang pun yang memenuhi syarat menjadi bendahara negara ini.”

Innii khofiidhun amiin.

Aku-lah yang pantas untuk tugas itu.

Zaman Ini Justru Kita Senang Mengkritik Anak

Rasa percaya diri yang diceritakan dalam Quran itu, datangnya dari mana? Dari masa kecilnya. Dia mengenali karunia Allah padanya. Dia tahu betul kemampuan dirinya. Kita ingin rasa percaya diri seperti itu untuk anak kita. Itu tidak datang begitu saja.

Zaman ini justru sebaliknya. Kini yang selalu kita lakukan pada anak-anak adalah mengkritik. Membuat lubang dalam jiwa mereka. Mengatakan betapa kurus mereka, betapa gemuk mereka, betapa bodoh mereka, betapa jelek mereka, atau betapa berbedanya mereka dari saudaranya, membandingkannya satu sama lain. Terus menerus.

Ketika anak-anak akhirnya dewasa, bahkan setelah dewasa, apa yang mereka lakukan untuk umat? Saat mereka bertemu seseorang, yang mereka lakukan hanya mengkritik. Semua orang yang kita temui dari umat ini sangat suka dengan mengkritik.

Mereka tidak melihat kebaikan pada seseorang. Mereka tidak bisa melihat hal baik dari negara mereka, lingkungan tempat tinggalnya.

Mereka berkata, “Ya, Imam di sini bagus. Alhamdulillah.

Tapi, bla bla bla…

Anda tahu dari mana asalnya? Kekeliruan Ayah. Dari sanalah asalnya. Ayah dulu biasa menudingmu dan menyebut kesalahanmu. Sekarang Anda tidak bisa melihat kebaikan orang lain, Anda hanya lihat kesalahannya.

Saat menikah, istrimu masak makanan, Anda suka makanannya, “Ya, enak, tetapi yang dulu lebih enak.

Anda tidak bisa menahan diri untuk tidak mengkritik setiap saat karena sudah tertanam sejak Anda masih anak-anak. Kita tidak ingin itu berlanjut. Kita mendambakan umat yang mengakui kebaikan, yang mampu melihat kebaikan pada orang lain. Sehingga menjadi bangsa yang senantiasa bersyukur. Dua hal ini berkaitan erat dan saling terhubung.

Jika kalian selalu mencari cacatnya, maka kalian takkan pernah bersyukur. Jika kalian tidak pernah bersyukur, masalah umat ini tidak akan selesai.

Karena, “La’iin syakartum la’azidannakum.

Kalian bersyukur, maka Allah akan tambahi.

Allah tidak akan menambah karena kita tidak bersyukur. Kita tidak bisa bersyukur kalau selalu menyalahkan. Jadi, masalah-masalah yang saya sampaikan ini, tentang ke-Ayah-an memiliki peran besar.

Kesimpulan

Bisa kalian bayangkan, percakapan kecil ini. Ini kesimpulan dariku. Percakapan kecil ini dengan si anak kecil ini, kenapa ini penting? Karena beberapa tahun setelahnya, jutaan orang bisa jadi kelaparan sampai mati.

Jika bukan berkat kepercayaan diri pemuda ini. Berkat pemuda ini, ribuan anak terselamatkan dari kelaparan. karena sang Ayah telah melakukan tugasnya. Bisakah kalian bayangkan beban di pundak kita?

Jangan remehkan peran seorang Ayah. Jangan remehkan kemampuan anak-anakmu. Jangan rendahkan mereka. Allah azza wa jalla telah memilih umat ini untuk hal-hal hebat. Kenyataan bahwa kita menjadi bagian umat ini adalah karunia yang besar.

Semoga Allah azza wa jalla menjadikan kita orang tua yang sukses dan sukses menanamkan pada anak kita rasa percaya diri tinggi dan menjadikan anak-anak kita meniru kebaikan Yusuf alaihissalam yang menyempurnakan nikmat yang diberikan pada keturunan Ibrahim alaihissalam.

Semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahan kita terutama dalam menjadi orang tua. Semoga Allah azza wa jalla memberi kita anak yang saleh dan menjadi amal jariyah bagi kita.

Barokalloohu lii wa lakum wa fil qur’aanil hakiim, wa nafa’nii wa iyyakum bil ayaati wa dzikril hakiim.

Subtitle: NAK Indonesia

Advertisements

One thought on “[Transkrip Indonesia] Hikmah Pengasuhan Nabi Yakub Di Surat Yusuf – Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s