[Transkrip Kartun Islami] Hikmah Dari Surat Al Fil – Nouman Ali Khan


[Kartun Islami] Hikmah Dari Surat Al Fil – Nouman Ali Khan

[Terjemah Indonesia: Kementerian Agama RI, 2012 | Q.S. Al Fil 1-5)

Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

1. “Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan, bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?

2. “Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka sia-sia?

3. “Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,

4. “…yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar,

5. “…sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan ulat.

Pendapat Dr. Shalih as-Saamira’i

Jadi, kita akan mulai, insya Allahu Ta’ala, dengan sebuah komentar yang menarik karya dari Dr. Shalih as-Saamira’i.

Hiya suurotul fiiha ‘ibrotun, li kullii thooghiyatin mutakabbirin mutajabbir, fii kullil ‘usuur wal azmaan.

Dia berkata, “Surat ini punya peringatan dan pelajaran, untuk semua orang yang suka memberontak, orang sombong, dan tiran (penguasa lalim), yang hidup pada zaman, waktu, dan di negeri apapun.

Jadi, beliau berkata surat ini bukan hanya bercerita tentang penyerangan tentara Abrahah terhadap Ka’bah. Ini adalah pesan kepada semua orang yang suka mengacau terhadap penduduk sipil dan menjajah suatu bangsa, atau penguasa yang mencoba menjajah bangsa lain dengan kekuatan militer mereka, dan kesadaran, “Apalah yang akan mereka lakukan untuk melawan kita. Mereka tidak punya kemampuan militer, untuk bertahan dari serangan kita.”

Dengan anggapan itu, dengan asumsi yang arogan itu, mereka menyerang dan tidak peduli dengan akibatnya.

Kamu tahu, saat kelompok masyarakat itu tidak berkuasa, mereka berbicara tentang aturan hukum dan mereka mengajak orang untuk mematuhi hukum. Tapi ketika masyarakat itu berkuasa, mereka akan berkata, “Hukum itu hanya untuk orang lain. Dan kami berada di atas hukum, kami di luar jangkauan hukum. Hukum akan berlaku, dan memang baik, untuk menegakkan hukum, tetapi kami punya situasi khusus.

Siapa yang akan menghentikan mereka? Meskipun mereka menginjak-nginjak hukum dan peraturan? Mereka masyarakat yang paling kuat. Siapa yang akan menanyai mereka? Siapa yang akan menentang penindasan mereka?

Dan hal ini telah terjadi berkali-kali di dalam sejarah, dan tidak sulit untuk melihat contoh demikian, bahkan di zaman kita. Akan tetapi, hal ini adalah sesuatu yang sedang disinggung dalam surat ini.

Ayat Pertama Al Fil

Sekarang, Beliau memberikan alasan mengapa Beliau berpikir inilah isi dari surat ini. Mengapa kita seharusnya tidak membatasi pembahasan hanya pada lingkup sejarah, -yang tentu saja hal tersebut juga penting-.

Li dzaa ja-a fi’il taro.

Ini sebabnya kata ‘taro’ muncul.

Alam taro…

Sekarang ada beberapa cara mengatakannya. Bagian pertama ayat ini kira-kira sering diartikan, “Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan.

Itu bagian pertama, “Tidakkah engkau perhatikan.

Terjemahan umum akan menuliskan, “Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhanmu, telah bertindak terhadap pasukan bergajah?

Mungkin inilah terjemah paling umum yang pernah Kamu dengar. Namun, Beliau hanya berkomentar pada awal kalimat, “alam taro“, dan khususnya pada kata kerja, “melihat“, berbentuk present tense (kalimat bentuk waktu sekarang).

Bi siighotil mudhoori’, lidda-laallati ‘alal istimroor watajaddur.

Dan penggunaan khusus darinya.

Nah, dalam terjemahan bahasa Inggris ia muncul dalam bentuk past tense (lampau), ‘kan.

Alam taro” diterjemahkan, “Didn’t you see?

Jika Kamu paham bahasa Inggris, ia adalah bentuk lampau (did, bukan do, red.). Dalam bahasa Arab, ada retorika di sini (pertanyaan sindiran). Seharusnya ia mengatakan, “Amaa ro-aita.

Ia bisa menggunakan bentuk lampau, tetapi tidak digunakan. Ketika bentuk lampau digunakan, ia akan bermakna sesuatu yang terjadi terus-menerus. Dalam retorika bahasa Arab (balagho) dan ilmu bahasanya, ia mengacu pada sesuatu yang tidak hanya sekali terjadi. Ia terjadi berkali-kali.

Surat ini, dari sudut pandang bahasa, kita akan mempelajari hal yang luar biasa tentangnya. Bagaimana perubahan “bentuk waktu” membawa pelajaran besar di dalamnya.

Jadi, penggunaan “mudhori‘” saja (present future tense, red.) dengan kata “lam“, walaupun ada kata “lam” di sini, ini menandakan sesuatu yang tidak hanya direnungkan pada masa itu tapi juga untuk sepanjang waktu.

Sekarang, kita akan melihat komentar dari Asy-Syaukani rahimahullah.

Wahuwa ta’jibullahu sholallaahu ‘alaihi wasallam, bimaa fa’alahullooh.

Ini untuk memberi Rasulullah, kesan kekaguman dan takjub, atas apa yang telah Allah lakukan kepada pasukan gajah.

Seolah-olah Allah sedang berfirman,”Qod ‘alimta ya Muhammad.

“‘Kau telah mengetahuinya, ‘Hai Muhammad sholallaahu ‘alaihi wasallam.’”

Au ‘alimannaasil maujudun fii ‘asrik.

Atau orang-orang yang hidup di zamanmu, mereka juga mengetahuinya dengan sangat baik.

Wa min ba’dihim.

Dan bahkan orang yang datang setelah mereka.

Bimaa balagho hum minal akhbaaril mutawaatiroh.

Min qissoti ashaabil fiil.

Karena apa yang menimpa mereka.

Dari kisah dan pengkisahan turun-temurun, orang-orang bercerita lagi dan lagi tentang Pasukan Gajah.

Wamaa fa’alalloohu bihim famaalakum laa tu’minuun.

Inilah bagian terakhir dari komentar Asy-Syaukani. Beliau berkata, “Hanya dari kata ‘alam taro kaifa’, Allah ‘Azza wa Jalla seakan berfirman, Tidakkah kau sadari apa yang Allah lakukan kepada musuh-Nya? Jadi, apa yang salah denganmu? Mengapa tidak percaya pada-Nya? Kamu menggunakan kisah itu untuk berbangga hati, bagaimana Allah melindungi rumah-Nya. Mengapa kau tak mengambil langkah berikutnya menuju keimanan?

Ayat Kedua Al Fil

Sekarang, “Alam yaj’al kaidahum fii tadhliil.

Kata “Alam” yang kedua.

Alam” pertama, “Alam taro kaifa fa’ala robbuka bi ashaabil fiil.

Alam” kedua, “Alam yaj’al kaidahum fii tadhliil.

Terjemahan umumnya, “Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka sia-sia?

Terjemahan ini sangat harfiah. Atau ada juga, “Tidakkah Dia jadikan rencana mereka itu gagal, atau tidak berarti apa-apa?

Pertama-tama, mari kita perhatikan kata “alam“. Kata ini disebutkan lagi. Jadi, pertanyaan pertama adalah “alam”, dan pertanyaan kedua adalah “alam” dan di sini, tujuannya adalah – Ngomong-ngomong, hanya ada dua “alam” di surah ini, tidak ada yang ketiga, hanya ada dua. – Dan kata ini satu-satunya yang memakai present tense.

Taro” (ayat 1) dan “yaj’al” (ayat 2).

Sekarang, akan ada “arsala” setelah ini. Baiklah. Dan “ja’ala” setelah ini. Jadi, bahasanya berubah sedikit.

Sekarang. Saya telah jelaskan bahwa saat present tense dipakai, berarti ada keberlangsungan. Ada keberlangsungan. Dan jika Kamu lihat bahasanya, Allah mengambil rencana mereka dan menjadikannya sia-sia.

Ini tidak yang Allah lakukan hanya untuk mereka, tetapi siapapun yang mempunyai makar terhadap agama Allah, Allah akan melakukan ini lagi dan lagi, sehingga menjadi bukti penggunaan present tense, “yaj’al“.

Kasus ini, meskipun kadang terjemahannya ada dalam past tense, kata penghubungnya memakai present tense, bentuk mudhori’. Itu yang pertama.

Dan pemakaian “ja’ala“, yang harusnya “fa’ala“, saat ayat pertama berkata, “fa’ala“; “kaifa fa’ala“.

Fa’ala” di sini merujuk ke Allah, “alam yaj’al“, bukan “alam yaf’al“. Kata yang berbeda keduanya dipakai. Apa manfaatnya di sini?

Ja’ala” ialah mengambil sesuatu yang sudah ada dan mengubahnya. Apa yang kata itu maksud adalah Allah membiarkan mereka menjalankan rencana, membiarkan mereka selesaikan seluruh perencanaannya, merancangnya berbulan-bulan, mengumpulkan dana, mengumpulkan pasukan, melakukan latihan, dan membuat rutenya.

Biarkan mereka jalankan semua itu, dan menghancurkannya pada waktu-waktu akhir. Dia mengubahnya, Dia ubah rencananya pada waktu-waktu terakhir.

Dengan kata lain, Allah tidak menggagalkan rencananya sejak awal. Dia bisa saja tidak membiarkan mereka memiliki pasukan, atau saat memberangkatkan pasukan, atau mendapatkan dana, atau tidak bisa sampai ke medan perang. -Kamu tahu-, mereka bisa tidak bertemu Abu Righal.

Ingatlah penunjuk arah yang mengantar mereka hingga Mekkah. Mereka tidak akan bertemu dengannya, jika Allah mau. Namun, Allah biarkan mereka mengira rencana mereka berjalan mulus. Dia mengambil alih rencana dan membuatnya berbeda pada waktu-waktu akhir.

Itulah yang “ja’ala” kira-kira maksudkan. Inilah “alam yaj’al“, yang mana Allah ‘Azza Wa Jalla membiarkan mereka menjalankan rencananya. Pada dasarnya, mempermainkan mereka. Pada akhirnya, Allah ‘Azza wa Jalla menarik “benang“-Nya.

Pendapat Guru Ustadz Nouman Ali Khan – DR. Abdus Samie

Ngomong-ngomong, saya tidak tahu jika saya telah memberikan hal ini sebelumnya, tetapi ini perbandingan yang menarik. Guru saya, Dr. Samie’ memberikan kepada saya.

Saat seseorang suka memberontak… hal lain yang Allah lakukan ialah Dia biarkan mereka, bebas. Dan mereka merasa bahwa mereka tidak punya masalah, mereka bisa menghindar dari apapun.

Dan dia dibandingkan dengan seekor anjing yang liar. Dia menggonggong kepadamu, menggigitmu. Jadi Kamu ikat dia, ‘kan. Dan Kamu ikat dengan tali sepanjang satu kaki, sehingga dia tidak bisa banyak bergerak.

Namun, jika Kamu benar-benar ingin menghukum anjing ini, Kamu bawa dia ke lapangan dan mengikatnya sepanjang 400 kaki. Karena jika Kamu ikat dengan tali 400 kaki, Kamu tahu apa yang akan terjadi? Mereka akan berpikir bahwa mereka bebas dan ia berlari dengan kecepatan penuh.

Saat talinya hanya 1 kaki, dia hanya bisa menariknya sejumlah itu. Namun, saat ia berlari dengan kecepatan penuh dan mencapai 400 kaki, apa yang terjadi? Kamu melihat dia akan tersentak, bukan? Dia akan tercekik. Dan rasanya jauh lebih sakit daripada hanya tali 1 kaki. Anjing itu berpikir bahwa dia bebas, tetapi sebenarnya jauh lebih buruk untuknya.

Wa yamudduuhum fii tughyaanihim ya’mahuun.” (QS Al-Baqarah ayat 15)

Allah perlama pemberontakan mereka. Biarkan mereka menjadi buta karenanya. Jadi, Allah memberikan mereka semua keperluannya hingga Ka’bah. Dia bisa menghancurkan mereka jauh sebelum itu.

Namun, Dia biarkan mereka menjalankan rencananya. Biarkan mereka bermain. Biarkan mereka menggali lubangnya lebih dalam. Itu hanya membuat hukuman mereka lebih pedih. Bukan hanya mereka itu musyrik, tetapi mereka melakukan kejahatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Ayat Ketiga Al Fil

Baiklah, “Wa arsala ‘alaihim thoiron abaabiil.

Dan Dia mengirimkan kepada mereka, burung,” -saya sedang mengartikan secara harfiah saat ini-, Dia kirimkan mereka burung-burung Ababil.

…yang berkelompok-kelompok.

Sekarang, sedikit pendapat historis menjelaskan burung ini.

Saat Abdul Muthallib berbalik…

Fal tafata…

Dia menjauh.

…wa huwa yad’uu,

Dan dia berdo’a kepada Allah,

…faidzaa huwa bi thoirin,

…dan tiba-tiba ia melihat burung-burung,

…min nahwil yaman,

…datang dari arah Yaman.

Dan ini menarik karena pasukan itu juga datang dari Yaman. Benar?

“’Demi Allah,’ ucapnya.

…faqol,

Dia berkata,

Aku bersumpah demi Allah,

…innahaa lathoirun ghoriibah,

…itu jenis burung yang sangat aneh, sungguh,

…maa hiya binajdiyya walaa tahaamiyya,

…mereka bukan dari Najd dan bukan pula dari Tahamah,

…kaala ma’a kulli thoo-ir hijr fii mil qoorihi,

…wahijrol fii rijlaihi,

…dan tiap-tiap burung membawa kerikil,

…di paruhnya dan dua kerikil di tiap cakarnya, di kakinya.‘”

Jadi, demikian deskripsi Beliau tentangnya (burung Ababil).

Qoola abu Ubaidah, ‘Abaabiil’,

Abu Ubaidah menjelaskan kata ‘abaabil’,

…berkata, ‘…jama’aat fii tafarruqo,’,

…berbagai kawanan dari jenis yang berbeda,

Dengan kata lain, bukan hanya satu spesies burung, ada banyak spesies burung yang berbeda.

Qoola Nuhaas,” Nuhas, seorang ahli tata bahasa dalam sejarah kita terkait bahasa Arab Al-Quran.

Wa haqqiqotuhuu annaha jama’aat idzoom.

Dan kenyataannya adalah ini kelompok yang sangat besar, kelompok besar burung yang luar biasa, bukan satu (jenis) tetapi banyak kawanan yang berbeda.

Saya belum melihat begitu banyak burung di Texas, tapi Kamu tahu, jika Kamu bepergian antara New York dan Maryland, terkadang burung-burung bermigrasi. Terutama di daerah Delaware, ada banyak sekali burung.

Saat kau lihat, dalam setengah jam, ada kawanan dari puluhan, ratusan, ribuan burung, berurutan terus-menerus. Dan menurut catatan sejarah lain, mereka datang dari tiap arah dan kau tak bisa melihat, langit menjadi gelap, Subhanallah. Itu pemandangan yang luar biasa bahkan untuk dibayangkan.

Ayat Keempat Al Fil

Baik. Ayat, “Tarmiihim bi hijaarotim min sijjiil.

Hal pertama yang harus dicatat di sini adalah Allah ‘Azza wa Jalla mengirimkan mereka -sebagaimana kita pelajari pada ayat sebelumnya-, Dia mengirimkan burung kepada mereka. Dalam surat lainnya, dalam surat Al-Ahzab, untuk melindungi orang beriman dalam perang Ahzab, Allah mengirimkan angin terhadap orang kafir.

Jadi, Allah berfirman, “Fa arsalna ‘alaihim riihan, wa junuudan lam tarauhaa.

Kami kirimkan kepada mereka, angin dan pasukan yang bahkan tidak dapat kau lihat.

Jadi, ada pasukan malaikat, burung -dalam kisah ini-, angin. Jadi, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wa maa ya’lamu, junuuda robbika illaa huwa.

Tidak seorang pun tahu pasukan Tuhanmu kecuali Dia. Tidak seorang pun tahu pasukan Allah kecuali Dia sendiri.

Jadi, Allah ‘Azza wa Jalla menggunakan apapun yang Ia kehendaki, apapun yang Ia pilih untuk menjadi pasukan-Nya. Bisa jadi angin, bisa jadi malaikat, bisa jadi burung dalam kisah ini. Subhaanallaah.

Ada salah satu kosa kata menarik dalam ayat ini. Kata pertama “tarmiihim“, ialah bentuk present (bentuk untuk waktu sekarang) dari kata “romaa“.

Sekarang, ini adalah kejadian past tense (kalimat lampau}, ini adalah sesuatu yang terjadi di masa lalu. Namun, “tarmii” yang digunakan, present tense (bentuk waktu sekarang) yang digunakan. Saat bentuk sekarang, bentuk mudhoori digunakan untuk mengacu pada sesuatu di masa lalu.

Tujuan dari itu ialah untuk menyebutkan bahwa sesuatu terjadi berulang-ulang. Dengan kata lain, mereka tidak hanya melemparnya sekali. Mereka terus saja melempar. Kerikil-kerikil terus berjatuhan dan terus berjatuhan.

Jadi, jika digunakan kata “romaat“, “Romat-hum bi hijaarotim min sijjiil.” Itu berarti hanya sekali dan selesai, mereka jatuh.

Namun, ini terlihat seperti terus berdatangan seperti hujan. Dan ini tercakup dalam kata “tarmiihim” dalam bentuk present (bentuk sekarang). Lalu, kata “romaa-yarmii” yang merupakan kata dasarnya bukan hanya berarti melempar atau menghujani. Makna pertamanya adalah melempar sesuatu dari jarak tertentu.

Jadi, dengan menggunakan kata itu, kita belajar apa? Yaitu bahwa burung itu berada pada ketinggian yang amat sangat, di mana mereka menjatuhkannya dari (posisi) itu. Kalian kini tahu, semakin tinggi sesuatu dijatuhkan, semakin keras jatuhnya. Percepatan gravitasi (daya tarik bumi).

Jadi, kerikil-kerikil kecil ini menimpa seperti peluru pada saat jatuh ke tanah. Hal lainnya ialah “romaa” mencakup atau “romii” ini dalam Bahasa Arab mencakup sesuatu yang dilempar, tetapi bukan hanya dilempar, tetapi dilempar dengan target khusus yang Kamu bidik.

Dan dengan menggunakan kata ini, Allah ‘Azza wa Jalla mengajarkan kita setiap kerikil seakan Allah membidik setiap kriminal yang seharusnya terkena dan di mana seharusnya mengenai mereka.

Jadi, inilah peluru kendali yang Allah ‘Azza wa Jalla kirimkan dengan kata “tarmiihim“, bahwa Dia mengirimkan kepada mereka. Lalu, dalam hal bagaimana kerikil ini mengenai (mereka), “Innal hajar kaana yadkhuluuna min ro’si ahaadihim, wayakhruju min asfaalihi.

Bahwa kerikil-kerikil itu, mereka akan menembus tengkorak.

Dan ini penting karena tengkorak adalah bagian tulang yang paling keras. Itu adalah tulang yang paling susah untuk dihancurkan dan satu-satunya cara agar Kamu bisa menghancurkan tengkorak seseorang adalah dengan peluru atau semacamnya, yang sangat keras saat menghantamnya (tengkorak).

Dan kerikil-kerikil itu akan menembus tengkorak, “… dan keluar dari belakang kepala, ia keluar dari dalamnya.

Dan demikianlah laporan saksi mata dalam penjelasannya.

Ayat Kelima Al Fil

Sekarang kita masuk ke ayat terakhir, tetapi ngomong-ngomong, Kamu telah menyadari bahwa bahasanya sangat-sangat gamblang. Penuh dengan gambaran yang kuat, jelas, dan tidak mengenakkan. Allah tidak hanya berfirman Dia menghancurkan mereka, Dia memberi kita penjelasan detail bagaimana Dia menghancurkan mereka.

Kamu tahu mengapa itu penting? Karena kata “kaifa” di awal surat ini. Allah tidak hanya berfirman apa yang Dia lakukan dengan mereka, tetapi juga bagaimana Dia melakukannya. Ketika Kamu bertanya bagaimana, jawabannya akan detail.

Ketika Kamu berkata, “Apa yang Kamu lakukan?

Kamu bisa hanya berkata, “Aku makan siang.

Saat Kamu berkata, “Bagaimana Kamu melakukannya?

Lalu, Kamu menjelaskan detailnya, Kamu memberi detailnya. Kamu mengerti? Jadi, bahasa yang jelas di surat ini diletakkan dengan sempurna karena kata “kaifa“, bukannya kata “maa dzaa”.

Apa yang Tuhanmu lakukan?

Bukan itu.

Bagaimana Tuhanmu memperlakukan mereka?

Bagaimana Dia menghancurkan mereka.

Jadi, jawaban dari-Nya ada di dalam surah ini. Lalu, kita menemukan dua kata ini, “ashfin“.

Faja’alahum.

Kemudian Dia jadikan mereka.

Dia ubah mereka.

Ja’ala” dalam bahasa Arab digunakan ketika Kamu punya sesuatu lalu Kamu mengubahnya menjadi sesuatu yang lain. Seperti Kamu memiliki kayu dan Kamu ubah menjadi meja.

Itulah “ja’ala“. Bukan “kholaqa“. “Kholaqa” berarti Kamu menciptakannya begitu saja. Namun, “ja’ala” berarti Kamu memiliki sesuatu dan Kamu membuatnya menjadi hal lain.

Baiklah. Jadi, misalnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wa kadzaalika ja’alnaakum ummatan wasatho.

Dia menjadikanmu, Dia membuatmu menjadi sebuah umat, umat yang pertengahan.

Kamu awalnya sudah ada, tetapi Dia mengubahmu. Jadi, Allah berfirman, bahwa orang-orang ini, Allah ubah mereka.

Ngomong-ngomong, saat “ja’ala” digunakan untuk seseorang yang sebelumnya seperti ini dan menjadi lain lagi setelahnya. Jadi, mereka adalah pasukan yang kuat, sebelumnya. Dan sekarang, saat Allah mengubah mereka dan mereka menjadi apa? Sekarang, kita akan lihat.

Faja’alahum.

Dia tidak mengatakan, “Faja’alahum ‘ashfum ma’kuul.

Allah berfirman, “…ka’ashfin ma`-kuul.

Ka” digunakan untuk tasybih, digunakan untuk penyerupaan.

Dia menjadikan mereka seperti…

Dia menjadikan mereka seperti…

Allah ingin kita membandingkan seperti apa mereka terlihatnya dengan sesuatu yang bisa kita lihat.

Ini juga sangat penting. Kita tidak berada di sana. Kita tidak berada di depan pasukan ini. Kita tidak melihat apa yang terjadi. Itu tidak ada dalam video. Jadi, Allah menunjukkan “video“-Nya kepada kita lewat firman-Nya. Dia menunjukkan kita gambarannya melalui firman-Nya.

Kamu ingin tahu mereka terlihat seperti apa?

Karena Aku memintamu untuk ingin tahu, bagaimana Aku mengatasi mereka.

Kamu ingin tahu seperti apa jadinya mereka?

Biar Aku beritahu. Mereka terlihat seperti…” (dengan huruf “ka“) dan kemudian, “‘ashfim ma’kuul“.

Jadi, mari kita lihat kedua kata ini satu per satu. “Ashf” dalam bahasa Arab dan “‘aashif“, khususnya, digunakan untuk angin. Angin yang bertiup hingga menjatuhkan daun.

Kamu tahu, tumpukan dedaunan, terutama di musim gugur, banyak yang berjatuhan di tanah dan saat angin bertiup Kamu melihatnya beterbangan. Angin inilah yang disebut “‘aashifa“.

Auriihin ‘aashif.

“‘Aashif” secara bahasa adalah angin yang menerbangkan dedaunan dan kerikil-kerikil ke atas udara. “‘Aashfa” adalah dedaunan yang sudah terputus dari dahannya, sudah layu, dan hancur. Itulah kondisinya.

Kata “‘ashf” juga digunakan untuk jerami, karena ketika angin bertiup, benda apa yang ikut terangkat? Ada jerami-jerami kecil yang rapuh, mereka ikut tercabut dan beterbangan di udara. Jadi, seperti itu definisi kata “‘ashf”.

Akan tetapi, Dia (Allah) berkata, Dia jadikan mereka seperti “‘ashf” tetapi Dia tambahkan pula “ma’kuul”, yang dikunyah, dimakan. “Ma’kuul” artinya adalah sesuatu yang dimakan.

“‘Ashfiin ma’kuul” adalah kata yang digunakan oleh bangsa Arab ketika seekor unta atau hewan ternak lainnya yang berkeliling tanah lapang mereka mengunyah sesuatu. Hewan-hewan itu dapat memakan dalam jumlah banyak, mengunyahnya, dan sebagiannya jatuh. Sebagiannya ada yang terbang. Dan sisa yang ada di tanah itu disebut “‘ashfiin ma’kuul“.

Jadi, Allah berkata, “Kalian ingin tahu seperti apa mereka? Mereka terlihat seperti sisa remahan itu. Yang sudah dikunyah hewan ternak dan jatuh dari mulutnya.

Seperti itulah tampilan mereka. Kalau kau ingin tahu seburuk apa mereka dihancurkan. Konsepnya adalah hewan-hewan akan menggunakan kekuatan penuh rahangnya untuk mengunyah makanan dan benar-benar menghancurkannya. Lalu, sisanya keluar jatuh ke tanah. Seperti itulah Allah menghancurkan pasukan itu dan bagaimana Allah mengubah mereka.

Inilah salah satu pengertian kata tersebut. Kemudian, “ma’kuul” juga berarti sesuatu yang bukan hanya dimakan, tetapi juga yang seharusnya dimakan. Dengan kata lain, “ma’kuul” adalah sesuatu yang sudah ada di sana dan ia tidak bisa menolong dirinya sendiri, sedangkan Kamu pasti akan memakannya.

Padahal, seekor hewan yang akan dimakan, setidaknya bisa berlari. Tetapi jerami, atau rerumputan, atau apapun yang ada di depan hewan ternak, makanan itu tidak bisa “lari“. Takdir mereka adalah untuk dihancurkan (dimakan).

Allah membandingkan mereka dengan makanan yang “tak berdaya” yang tidak punya pilihan lain selain dimakan oleh musuhnya seolah-olah mereka tidak punya jalan lari. Oleh karenanya, “‘ashfiin ma’kuul” yang digunakan.

Pendapat Asy-Syaukani

Kemudian, sebuah komentar dari Asy-Syaukani rahimahullah, “Aisal ma talloohu ‘alaihim, ta’ala ‘alaihim thoiron,

Bahwa Allah mengirimkan mereka burung-burung ini,

…tarmiihim bi hijaarotin,

…yang akan melempari mereka,

…ke sasaran yang tepat dan pasti, dengan batu,

…min thiini mutahajjir,

…dari tanah liat yang sudah diubah menjadi batu,

…fa shooruu bi sababi dzaalik shor’aa haalikiin,

…dan karenanya mereka menjadi hancur seluruhnya,

…benar-benar dikalahkan.

Allah menggambarkan keadaan mereka, “…fii tamazzukihim wa tanaatsuk tsurihim, kahaali aurooqil asjaar.

Allah menggunakan kalimat ini untuk menjelaskan bagaimana mereka, untuk mengejek mereka. Orang-orang ini mengira mereka sangat kuat dan Allah membandingkan mereka dengan benda paling lemah. Bahkan bukan daun yang masih menempel di dahan, tetapi daun yang sudah terlepas dari pohonnya. Benar-benar lemah.

Itu simbol kelemahan terbesar. Yang bahkan tidak perlu tenaga untuk menggerakkannya, cukup angin saja. Jadi, Allah membandingkan pasukan terkuat ini dengan gambaran terlemah yang pernah ada.

Penutup

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kita pemahaman yang jelas dan mendalam dari Qur’an ini dan kemampuan untuk mengamalkannya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menanamkan kebaikan ke dalam hati kita dan apapun yang keliru Dia keluarkan dari ingatan dan hati kita.

Barokalloohu lii walakum fil Qur-aanil hakiim, wa nafa’nii wa iyyaakum bil aayaati wa dzikril hakiim. Wassalaamu’alaikum wa rohmatulloohi wa barokaatuh.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

1. “Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan, bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?

2. “Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka sia-sia?

3. “Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,

4. “…yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar,

5. “…sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan ulat.

Subtitle: NAK Indonesia
Donasi: https://kitabisa.com/nakindonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s