Damai vs Ambisi


Ketika memasuki usia 25 tahun keatas, kita biasanya mudah sekali tergoda untuk meraih suatu pencapaian. Seperti prestasi akademik, jabatan, atau perolehan materi. Salah seorang teman pernah bertanya, “Bagaimana caranya menjaga diri agar tidak tergoda oleh egoisme-egoisme tersebut?

Lalu beberapa teman lain mencoba untuk menanggapinya. “Tetaplah terhubung dengan orang-orang yang masih punya idealisme yang lurus. Terutama kepada mereka yang rela berkorban banyak.

Pembicaraan tersebut menarik perhatian saya. Karena saya merasakan hal yang nyaris sama. Di umur saya yang sudah 27 tahun ini, saya merasa mulai banyak timbul tuntutan-tuntutan dalam diri. Begitu juga dengan akhir-akhir ini. Saya menargetkan banyak hal terhadap diri sendiri. Saya juga mencanangkan deadline yang agak ketat. Saya menjadi orang yang perhitungan dengan waktu.

Ketika teman saya mengajak main, mengobrol atau segala hal yang saya anggap tidak begitu penting, saya menolaknya. Waktu demi waktu saya habiskan sesuai planning saya. Hingga kemudian teman saya bilang, bahwa saya telah berubah. Dia melihat saya seperti sosok yang lain. Saya mulai bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya nyaman dengan semua ini? Apakah saya merasakan kedamaian dengan semua targetan yang hampir tercapai?

Ternyata jawabannya cukup menyedihkan, “Tidak!

Saya tidak menikmati setiap hal yang saya kerjakan. Saya merasa seperti manusia robot yang telah diprogram untuk mengerjakan sesuatu program yang saya buat sendiri.

Di kemudian hari saya baru tahu, jika Al-Qur’an telah menjelaskan hal ini. Hal tersebut ada pada Surat Al An’am ayat 81-82.

…Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan jika kamu mengetahui? Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Saat itu saya mendengar penjelasan tafsir dari Ustadz Nouman Ali Khan. Ustadz Nouman Ali menjelaskan makna kata dzalim pada ayat ini. Ketika kita tidak berlaku adil pada setiap hal, ketika kita tidak menunaikan hak-hak orang-orang yang seharusnya kita tunaikan, maka hal itu akan merusak kedamaian yang ada dalam diri kita sendiri.

Ketika kita menzolimi diri sendiri, maka kedamaian yang kita rasakan akan terganggu. Begitu juga ketika kita menzolimi orang lain, itu juga akan mengganggu kedamaian dalam hati kita.

Hal inilah yang membuat merenung. Mungkin nanti akan tiba masanya, ketika kita hanya disodorkan suatu pilihan, menuruti ambisi atau menunaikan suatu hak yang harus kita penuhi. Dan pada pagi ini sengaja saya menulis ini, untuk menjadi pengingat bagi diri saya sendiri. Maka penuhilah suatu hak yang harus kamu penuhi, walau itu adalah suatu hal yang remeh dan terdengar tidak keren. Jangan mengorbankan hak-hak orang-orang di sekeliling kita, demi ambisi yang kita anggap hebat. Atau jangan sampai kita mengorbankan hak-hak orang-orang di sekeliling kita, hanya karena kita ingin dianggap hebat oleh orang lain.

Apalah arti dianggap hebat, jika kita tidak merasakan kedamaian. Betapa banyak public figure yang fansnya banyak, yang tampak begitu bertalenta dan hebat. Namun mereka tidak merasakan ketenangan hidup. Kemudian demi mencari ketenangan hidup, mereka mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Lalu maut menjemputnya dengan cara yang bengis. Mereka mati karena over dosis.

Perenungan tersebut membuat saya kembali pada ritme awal saya. Saya mulai lagi memberi waktu kepada diri sendiri. Seperti membaca buku dan lari-lari pagi. Saya mulai lagi mendengar curhatan teman-teman dan bermain dengan anak-anak kecil.

Hal-hal yang menurut saya dahulu tidak penting, ternyata cukup signifikan dalam mempengaruhi ketenangan hidup saya. Namun konsekuensinya, terkadang saya harus mengorbankan deadline-deadline saya. Dan belakangan ini saya baru bisa menyadari, mengorbankan deadline tidaklah seburuk sebagaimana yang saya pikirkan. Bahkan terkadang dengan itu, saya bisa merasakan kehidupan yang lebih baik. Ternyata tercapainya suatu target tidakklah menjamin kedamaian hidup kita.

Ditulis oleh Arkandini Leo

Posted by Arkandini Leo on Saturday, September 30, 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s