[Transkrip Indonesia] Anda Sedang Diuji – Nouman Ali Khan

Al-hamdu lillaah. Al-hamdu lillaah khooliqil wujuudi minal aadam, wa jaa’ilinnuuri minadz-dzulam, wa mukhrijish-shobri minal alam, wa mulqit-taubati ‘alannadam.

Fa nasykuruhu ‘alal mashoo-ibi kamaa nasykuruhu ‘alan-ni’am, wa nushollii ‘alaa rosuulihilakrom, lisy-syarofil asyam, wa nuuril atam, wa kitaabil muhkam, wa kamaa lin-nabiyyiina wal khootam, sayyidi waladi aadam, alladzii basyaro bihii ‘isabnu maryam, wa da’aa libitsa’tihi ibroohiimu ‘alaihimussalaam, hiina kaana yarfa’u qowaa’ida baitillaahil muharram.

Fa sholalloohu ‘alaihi wa sallam wa ‘alaa atbaa’ihi khoiril umam. Alladziina baarokallaahu bihim kaafatan-nasil ‘aroba minhum wal ‘ajam. Fal-hamdu lillaah, alladzii lam yattakhidz waladan wa lam yakullaahu syariikun fil mulk, wa lam yaqullahu waliyyun minadz-dzulli, wa kabbirhu takbiiroo.

Wal-hamdu lillaah, alladzii anzala ‘alaa ‘abdihil-kitaaba wa lam yaj’al lahuu ‘iwajaa. Wal-hamdu lillaah, alladzi nahmahduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruh, wa nu’minu bihii wa natawakkalu alaihi, wa nauudzu billaahi min syuruuri anfusinaa, wa min sayyiaati a’maalinaa, mayyahdillaahu falaa mudhillalah, wa man yudhlil falaa haadiyalah, wa nasasyhadu an laa ilaaha illallooh, wahdahuu laa syariikalah, wa nasyhadu anna muhammadan abduhulloohi wa rasuuluh, arsalahulloohu ta’alaa bil hudaa wa diinil haq, liyuzh-hirohu ‘alad diini kullih, wa kafa billaahi syahidaa, fa shollalloohu ‘alaihi wa sallama tasliman katsiiron katsiiroo.

Tsumma ‘amma ba’d. Fa inna ashdaqol hadiitsi kitabullaah, wa khoirol hadyi hadyu muhammadin sholalloohu ‘alaihi wa sallam, wa inna syarrol umuri muhdatsatuhaa, wa inna kulla muhdatsatin bid’ah, wa kulla bid’atin dholaalah, wa kulla dholaalatin finnaar.

Yaquululloohu ‘azza wa jalla fii kitaabihil kariim, ba’da an aquula a’uudzu billaahi minasy-syaitoonir rojiim.

Wa jaahiduu fillaahi haqqo jihaadih, huwajtabaakum wa maa ja’ala ‘alaikum fid-diini min haroj, millata abiikum ibroohiim, huwa sammaakumul-muslimiina min qoblu wa fii haadzaa, liyakuunar-rosuulu syahiidan ‘alaikum wa takuunuu syuhaadaaa’a ‘alan-naas, fa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaah, wa’tashimuu billaahi huwa maulaakum, fa ni’mal-maulaa wa ni’man-nashiir. (QS Al Hajj ayat 78)

Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul uqdatan min lisaanii, yafqohuu qoulii. Walloohumma tsabbitnaa ‘indalmauti bi laa ilaaha illallooh. Wallahummaj’alna minalladziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihat, wa tawashou bil-haq, wa tawashou bish-shobr, aamiin ya robbal-‘aalamiin.

Analogi Pencari Kerja Yang Tidak Memenuhi Kualifikasi

Khutbah hari ini diamanatkan untuk ayat terakhir surat Al-Hajj. Bagi Anda yang ingin membacanya sendiri, ini adalah surat ke-22 dari Al-Qur’an dan ini ayat ke-78, ayat yang terakhir.

Dalam ayat ini Alla ‘azza wa jalla berpesan kepada ummah dan memberi mereka mandat untuk berjuang. Dia melakukan hal ini dalam banyak kesempatan yang berbeda, namun agar Anda paham sebagian dari kedalaman dan kekuatan apa yang dikatakan Allah di sini saat mengatakan, “Wa jaahiduu fillaahi haqqo jihaadihii.” (QS Al Hajj ayat 78)

Maka saya ingin memulai khutbah ini dengan sebuah analogi. Banyak di antara Anda yang memiliki pekerjaan akan ingat bagaimana dulu Anda datang ke sebuah wawancara pekerjaan. Seringkali Anda melamar sebuah pekerjaan berharap akan diterima meski resume Anda tidak terlalu mengesankan.

Lalu Anda pergi wawancara dan mereka menggambarkan pada Anda kecakapan apa yang dibutuhkan dalam pekerjaan itu. Anda harus punya ilmu tentang akuntansi, manajemen, atau… mungkin karena itu adalah pekerjaan teknis maka Anda harus paham bahasa pemrograman ini itu, protokol ini itu, dan sebagainya. Dan mereka mulai merinci semua persyaratan yang dibutuhkan, dan Anda duduk di sana sementara wawancara berlangsung…

Mungkin mereka mengambil resume yang keliru karena kecakapan yang saya tuliskan hanya ‘Google’. Sekarang mereka bilang saya harus paham bahasa program ini, itu, dan itu punya pengalaman ‘coding’ sekian lama dan pengalaman manajerial.

Sementara pewawancara menerangkan deskripsi pekerjaan kepada Anda, Anda merasa malu duduk di sana, merasa seperti, “Sebaiknya dia biarkan saya pergi sekarang daripada mempermalukan saya lebih jauh lagi.

Setelah selesai menjelaskan semuanya dan Anda jelas-jelas tidak memenuhi persyaratan, dia berpaling pada Anda dan berkata, “Selamat, Anda mulai bekerja besok.

Dan reaksi pertama Anda adalah syok, “Bagaimana mungkin saya diterima, saya bahkan tak memenuhi kualifikasi apapun.

Dan yang kedua, “Meski saya terpilih, meski saya yang terseleksi untuk pekerjaan ini, ini bukan ucapan selamat sama sekali, besok begitu saya masuk kerja saya tidak tahu apa yang akan dilakukan. Mereka akan tahu bahwa saya sama sekali tidak sesuai untuk pekerjaan ini, dan itu akan sangat memalukan. Tidak mungkin saya bisa mempelajari semua ini.

Jadi Allah ‘azza wa jalla dalam awal ayat ini tidak hanya berkata, “Wa jaahiduu fillaahi.” (QS Al Hajj ayat 78)

Berjuanglah dengan tanpa tujuan (lain) di hadapanmu, tanpa tujuan lain kecuali Allah saja. Berusahalah kepada Islam, namun itu tidak cukup, Dia berkata, “Haqqo jihaadihii,” karena Dia pantas untuk itu.

Mari kita pahami frasa -karena Dia pantas untuk perjuangan itu- ini, atau perjuangan yang dilakukan untukNya.

Pikirkan ini, saat Anda dan saya salat, saat kita salat, apakah kita sudah salat dengan cara yang sepantasnya bagi Allah? Atau saat kita bersyukur kepada Allah, sudahkah kita bersyukur sebanyak yang sepatutnya diterima Allah? Atau saat kita mengingat Allah, apakah kita sudah mengingat Allah dengan cara selayaknya Dia diingat?

Kenyataannya tak peduli berapa banyak kita berusaha, kita takkan mampu memenuhi hakNya secara adil. Kita akan selalu gagal. Sesungguhnya salat saya tidak akan pernah layak untuk Allah. Pada akhirnya salat saya akan banyak salahnya, banyak kekurangannya, pikiran saya mengembara.

Dan hanya Allah ‘azza wa jalla yang tahu apakah salat kita cukup layak, sehingga pada akhir salat kita harus meminta kepadaNya, “Rabbanaa taqobbal minnaa, Tuhan kami terimalah dari kami.

Apa pun ‘ketidakpantasan’ yang mampu kita padukan (dalam salat) semoga itu cukup baik. Namun tidak akan bisa Anda dan saya melakukan sesuatu yang layak untuk Allah dan tidak akan mungkin.

Jadi bagaimana bisa Allah memberi kita tugas yang tidak mungkin dilaksanakan?

Wa jaahiduu fillaahi haqqo jihaadihii.” (QS Al Hajj ayat 78)

Berusahalah tanpa tujuan lain kecuali Allah saja, seakan usaha itu pantas bagiNya. Bisakah dilakukan pembenaran kelayakan usaha itu? Tak ada cara untuk membenarkan usaha itu. Sama sekali tidak mungkin.

Setelah saya gambarkan kemustahilannya, ada satu frasa lagi yang butuh perhatian khusus. Allah berkata, “Fillaah,” yaitu -tanpa pembicaraan bertele-tele- intinya berarti jika Anda berusaha untuk Islam, ketika Anda berusaha untuk meninggalkan sesuatu ketidakta’atan kepada Allah, meninggalkan yang haram tak peduli betapa menggodanya, tak peduli betapa kuatnya daya tariknya…

Mungkin saja Anda menghasilkan banyak uang, tapi itu adalah uang dari sumber yang tidak halal. Dan sangat sulit untuk berhenti karena Anda punya angsuran rumah, biaya pendidikan anak, ada banyak hal yang terkait dengannya sehingga Anda sangat tergoda untuk meneruskannya.

Mungkin saja salah satu di antara pemuda atau pemudi ini memiliki hubungan dan mereka tergoda. Mereka ditarik ke dalam hubungan tersebut dan tidak bisa keluar darinya. Mereka berupaya untuk keluar darinya dan kembali kepada keta’atan kepada Allah adalah luar biasa sulit bagi mereka. Karena syaitan senantiasa menarik mereka kembali menjauh. Dan meski pun mereka bisa menghindar sementara waktu, perlawanan itu kembali muncul.

Penting untuk mencermati kapan perlawanan itu kembali muncul. Tekanan yang dilakukan keluarga Anda, atau seseorang datang mengingatkan Anda untuk tidak melakukannya, atau orang lain berkata, “Aku temanmu, aku bermaksud baik, Kamu sebaiknya jangan melakukan hal ini.

Jika kita memaksa seseorang untuk melakukan perbuatan yang baik, tidak satu pemaksaan pun akan cukup berhasil. Ketika seorang manusia jatuh ke dalam bisikan syaitan, saat seorang manusia berhenti berusaha untuk Allah, maka satu-satunya yang akan bisa menyelamatkannya adalah hubungannya dengan Allah, itulah satu-satunya.

Anda tidak bisa menjadi muslim yang lebih baik demi orang tua Anda. Anda tidak bisa menjadi orang yang lebih baik karena komunitas Anda, tidak bisa.

Mereka bisa menolong, tapi hingga Anda memutuskan untuk melakukan hal ini hanya -semata-mata- untuk Allah saja, perlawanan itu takkan berhenti, itu mustahil. Ini harus dilakukan dengan tulus, satu-satunya cara mengetahuinya adalah di dalam diri Anda sendiri, di dalam diri saya sendiri.

Kepada orang lain bisa kita perlihatkan (sesuai keinginan kita) siapa kita, tapi kenyataan yang ada di dalamnya hanya Allah yang tahu.

Wa jaahiduu fillaahi haqqo jihaadihii.” (QS Al Hajj ayat 78)

Allah Memilih Kita Sebagai Muslim Dengan Tepat

Begitu Dia menggambarkan bahwa kita tidak layak tentunya, karena uraian tugas yang mustahil ini, Dia lalu memberi penjelasan mengapa kita yang dipilih, Dia berkata, “Huwajtabaakum.

Terjemahan sederhana dari “Huwajtabaakum” adalah kenyataannya Dialah satu-satunya, Dia telah menyeleksimu, memilihmu. Istilah Arab untuk kata ‘memilih’ di sini atau “Ijtibaa‘” kata yang dipilih Allah di sini sangat istimewa.

Jika Anda sebut kata “Ikhtiar” yang juga merupakan kata yang digunakan untuk -pilihan-. Kata ini berasal dari kata “Khoir”, artinya Anda lebih menyukai sesuatu, atau memilih pilihan yang lebih baik.

Itulah “Ikhtiar”. Anda bisa mengatakan “Istafa‘” atau “Istifa’” dalam bahasa Arab, yang berasal dari “Safwa” atau kemurnian. Saat Anda membuat pilihan, Anda tidak perlu menjelaskan pada siapapun tentang alasan Anda.

Contohnya saat pergi berbelanja, Anda membeli kemeja biru. Anda tidak berhutang penjelasan ilmiah pada seseorang mengapa kemeja biru dan bukan putih. Itu “Istifa’”, murni pilihan Anda, tidak diperlukan rasionalisasi.

Namun saat Anda mengatakan “Ijtibaa’”, kata yang dipilih Allah di sini saat Dia menjelaskan mengapa Dia memilih Anda dan saya menjadi muslim. Kata itu sebenarnya berasal dari kata “Jabu”.

Jabu” dalam istilah Arab kuno sebenarnya berarti, kata kerjanya sering digunakan untuk -pengumpulan pajak-. Dahulu, orang-orang yang menghasilkan cukup uang harus membayar pajak. Bahkan sampai saat ini mereka yang menghasilkan pendapatan di atas jumlah minimum tertentu sebelum layak diberlakukan pajak atas Anda.

Ijtibaa’” sebenarnya berarti membuat pilihan berdasarkan kualifikasi tertentu. Dengan kata lain, jika Anda diterima bekerja atau Anda memperbaiki mobil Anda atau Anda mengencangkan sebuah sekrup menggunakan alat yang tepat, maka Anda baru saja melakukan “Ijtibaa’”, karena jika Anda salah memilih alat, pekerjaan tidak selesai. Saat Anda memilih orang yang tepat untuk pekerjaan yang tepat, itu disebut “Ijtibaa’”.

Dengan kata lain yang ingin saya sampaikan pada Anda sekaligus mengingatkan diri saya, bahwa saat Allah memuliakan kita dengan menjadikan kita seorang muslim, kenyataan bahwa Anda dan saya mengucapkan, “Laa ilaaha illallaah.

Bahwa Anda dan saya diberi hadiah bisa mengucapkan, “Muhammadun rasuulullaah shalallahu alaihi wa sallam.

Sebenarnya Anda dan saya adalah pilihan yang paling tepat dari Allah. Ada banyak manusia yang tersedia di hadapan Allah di planet ini dan Allah memilih -dengan tepat- Anda dan saya menjadi muslim untuk tugas yang ada padaNya. Karena “Ijtibaa’” dilakukan untuk tujuan tertentu, untuk tugas tertentu.

Jadi sekarang, kita tak hanya sekedar dipilih menjadi muslim, kita dipilih menjadi muslim karena kita punya misi di hadapan kita. Misi itu sudah digambarkanNya bahwa Anda harus berusaha untuk Allah karena Dia pantas untuk perjuangan yang Anda lakukan untukNya, “Huwajtabaakum”.

Allah Memudahkan Kita Dalam Menjalankan Tugas

Lalu ditambahkanNya, sekarang saya sadar bahwa saya sudah dipilih. Meskipun saya terpilih, saya masih berpikir tugas ini terlalu berat. Bagaimana caranya saya bisa melaksanakannya?

Baiklah, Allah melihat sesuatu dalam diri saya yang saya sendiri tidak melihatnya. Saya tidak bisa melihat apa yang istimewa dari saya, mengapa saya terpilih? Banyak sekali orang lain yang lebih baik di luar sana. Dan tugas ini juga sangat berat, Islam itu sungguh sangat berat….

Yang diminta Allah dari saya terlalu banyak, saya tidak bisa melakukannya. Kalimat berikutnya dari Allah adalah, “Wa maa ja’ala ‘alaikum fid-diini min haroj.” (QS Al Hajj ayat 78)

Dia tidak menempatkan bagimu dalam agama kesulitan, kesempitan, atau ketidaknyamanan apapun.

Dengan kata lain ini adalah Allah yang mengatakan kepadamu, “Tenanglah, Aku akan membuatnya mudah. Jangan khawatir tentang hal itu. Kamulah pria/wanita yang paling tepat untuk pekerjaan itu. Kamulah yang dipilih untuk masa, hari, dan jaman ini.

Saat Anda melihat sekeliling Anda saat ini, Anda lihat muslim, kita menjadi target tekanan media, kegilaan politik. Saya melakukan perjalanan ke Inggris setiap saat, namun terakhir kalinya saya berkunjung, saya ditanyai dengan sangat detil, “Apa yang Anda lakukan di sini?

Saya ditanyai mengapa saya ke Inggris dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi memang berbagai hal menjadi semakin sulit bagi para muslim. Dalam berbagai cara, tapi tidak mengapa.

Anda tahu? Allah memilih Anda dan saya untuk lahir pada generasi, hari, dan zaman ini, mengetahui dengan pasti beginilah ujian yang akan kita hadapi. Dan orang terbaik dan pantas untuk menghadapi cobaan itu adalah muslim yang hidup saat ini. Itu adalah pilihan Allah.

Itulah alasannya Anda dan saya bernafas saat ini. Jika kita tidak memiliki tujuan, karena Dia hanya menciptakan dengan tujuan tertentu, “Kholaqas-samaawaati wal-ardho bil-haqqi wa showwarokum.” (QS. At-Taghabun ayat 3)

Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang tepat dan membentukmu.

Jadi Dia membentuk Anda dan saya dan menempatkan kita pada posisi ini karena kita punya tujuan untuk dijalani. Meskipun itu adalah tujuan yang sulit, namun Allah sendiri yang memberikan orientasi dan berkata, “Aku takkan membuatnya menjadi lebih sulit bagimu.”

Tujuan itu takkan menjadi sulit sama sekali.

Muslim Belajar Dari Ujian Nabi Ibrahim

Saya kembali kepada analogi yang saya berikan di awal. Dalam wawancara untuk sebuah pekerjaan, pewawancara menjelaskan deskripsi pekerjaan yang tidak mungkin Anda lakukan, Anda duduk di sana berpikir saya tak mungkin diterima, lalu dia menerima Anda.

Pikiran pertama Anda adalah; saya tidak layak. Dia berkata, “Tenanglah, saya tahu apa yang saya lakukan, saya sudah berpengalaman menyeleksi banyak pegawai, saya melihat sesuatu dalam diri Anda, meski Anda berpikir Anda tidak mampu, Anda akan belajar dengan cepat. Sekali lihat saja saya sudah tahu apakah seseorang berbakat atau tidak.

Jadi dia menyemangati Anda, mengakui bakat Anda dengan cara yang tidak bisa Anda lihat sendiri.

Hal lain yang terjadi di sini adalah bahwa setiap muslim seharusnya bisa melihat nilai yang ada dalam diri mereka. Tak seorang beriman pun boleh berpikir bahwa mereka tak berguna di hadapan Allah.

Bahwa mereka tak bertujuan, bahwa mereka tak berarti, tak berharga di hadapan Allah. Mereka berharga di hadapan Allah. Mereka berharga karena Allah memilih mereka secara khusus. Sebuah pilihan khusus, yakni mereka. Dan (tugas itu) takkan menjadi berat sama sekali, jadi sekarang saya bisa bernafas lega.

Ok, fiuh, ini takkan menjadi sulit.

Dia berkata, “Tenanglah, dan kamu tahu bahwa kamu bukan yang pertama mengemban tugas ini? Banyak orang yang sebelum kamu juga diberi tugas ini.

Jadi Dia memberi referensi terhadap fakta bahwa agama ini bukan agama baru. Agama ini adalah warisan. Warisan siapa yang dimaksudkanNya? Dalam lanjutan ayat yang sama; “Wa maa ja’ala ‘alaikum fid-diini min haroj, millata abiikum ibroohiima.” (QS Al Hajj ayat 78)

Kamu adalah pewaris dari warisan bapakmu, Ibrahim.

Dia mengingatkan kita kepada Nabi yang mana? Ibrahim ‘alaihissalam. Jika Anda berpikir tentang Ibrahim ‘alaihissalam, hal terakhir yang mungkin Anda ingat tentang beliau adalah kemudahan.

Dia harus pergi meninggalkan keluarganya di tengah-tengah gurun pasir, itu tidak mudah. Sebagai pemuda dia harus menentang ayahnya serta masyarakat, itu tidak mudah. Dia harus dilemparkan ke dalam – “Harriiquuhu wanshuruuu aaalihatakum.” (QS. Al-Anbiya ayat 68)-, dia dilempar hidup-hidup ke dalam api karena percaya kepada Islam.

Itu kedengarannya tidak mudah. Ketika pada akhirnya dia menjadi lebih berumur, dan putranya sudah cukup besar sehingga bisa berlarian kesana-kemari, “Ballagho ma’ahus-sa’ya.” (QS. As-Saffat ayat 102)

Dia cukup tua untuk berlari bersama putranya, dia bermimpi bahwa dia menyembelih putranya. Berkali-kali dia menerima cobaan dan tantangan yang tidak pernah dihadapi manusia lainnya.

Allah belum pernah meminta seorang manusia untuk meninggalkan keluarganya. Allah tidak pernah meminta seorang manusia untuk melompat ke dalam api. Allah belum pernah meminta seorang manusia untuk menyembelih anaknya sendiri. Ibrahim diminta melakukan hal-hal yang belum pernah diminta kepada orang lain. Ujian terberat yang bisa kita bayangkan, ini diceritakan di dalam Al-Qur’an.

Wa idzibtalaaa ibroohiima robbuhuu.” (QS. Al-Baqarah ayat 124)

Ketika (khususnya) Ibrahim diuji tidak seperti ujian kepada seorang pun oleh Tuhannya, ada “Ikhtisas” (kekhususan, hanya Ibrahim) di sana, bahwa Ibrahim ‘alaihissalam diberi cobaan yang paling, paling, paling berat.

Dalam ayat ini Allah mengatakan kepada Anda dan saya, “Tenanglah. Ini akan mudah, Islam tidak akan menjadi masalah. Ngomong-ngomong kamu berada dalam jalur yang sama dengan bapakmu Ibrahim.

Ini tidak terlalu menenangkan (he he he), karena lelaki itu tidak menghadapi ujian yang mudah. Jadi bagaimana saya bisa tenang sekarang, sedetik yang lalu Dia mengatakan segalanya akan menjadi mudah, sekarang Dia seakan mengatakan semua akan menjadi sulit kembali.

Namun sebenarnya Dia tidak mengatakan demikian. Dia memberikan contoh Ibrahim ‘alaihissalam karena sebuah alasan yang sangat indah.

Dia memberi contoh itu untuk mengatakan, jika Allah bisa membuat melompat ke dalam api itu mudah, jika Allah bisa membuat meninggalkan keluargamu di tengah gurun itu mudah, jika Allah bisa membuat keteguhan satu-satunya pemuda yang menghadapi ayah dan seluruh komunitasnya mudah, jika Allah bisa membuat perjuanganmu menghadapi Namrud dan menantangnya secara langsung itu mudah, jika Allah bisa membuatmu mengambil pisau dan meletakkannya di leher anakmu karena perintahNya, jika Allah bisa membuat itu mudah baginya, maka apalah arti yang Dia perintahkan kepadamu?

Dia tidak memintanya (apa yang diperintahkanNya kepada Ibrahim) dari kamu. Dia meminta lebih sedikit darimu. Yang dimintaNya darimu hanyalah menghindar dari hal-hal yang kotor.

Dia membuat hal-hal yang baik dan suci halal bagimu, dan memerintahkan beberapa hal yang baik untuk kamu lakukan, lakukan saja beberapa hal baik ini dan tinggalkan beberapa hal buruk ini, hanya itu saja, hanya itu yang dimintaNya.

Jadi kita diceritakan dari warisan Ibrahim ‘alaihissalam tak peduli betapapun kesulitan yang kamu hadapi, kamu takkan bisa membandingkannya dengan kesulitan yang harus dihadapi Ibrahim ‘alaihissalam, dan bahkan kesulitan seperti itu bisa dibuat mudah oleh Allah.

Jadi kamu tak punya alasan untuk bertanya apakah Allah akan memberi kemudahan bagimu.

Millata abiikum ibroohiim.” (QS Al Hajj ayat 78)

Kita Dinamakan Muslim, Apa Maknanya?

Dan Dialah satu-satunya, “Huwa sammaakumul-muslimiin.” (QS Al Hajj ayat 78)

Lalu Dia memberi kita ramuan rahasia bukan? Dialah yang menamakanmu muslim. Para mufassiruun melihat ayat ini dengan dua cara; mungkin Ibrahim ‘alaihissalam yang menamakan kita muslim, seperti yang diindikasikan di dalam Al-Qur’an, atau Allah sendiri yang menamakan kita muslim. Keduanya masuk akal, karena Ibrahim adalah utusan Allah, jika dia yang menamakan maka itu adalah atas nama Allah ‘azza wa jalla sendiri.

Apapun itu apa artinya kata muslim? Seseorang yang berserah diri. Seseorang yang hanya menerima. Berasal dari kata “Salima”, berada dalam kedamaian, berada dalam kemudahan dan ketenangan.

Dan saat Anda berkata, “Aslama”, menjadi tunduk, sebenarnya menjadi tunduk dengan tenang. Anda tidak bermasalah dengan hal itu. Ketika Allah menyuruh Anda untuk melakukan sesuatu, Anda tidak merasa terganggu. Anda tidak bersikap, “Baik! Saya lakukan!

Tidak seperti itu. Anda merasakan ketenangan dalam diri Anda dan sukarela menundukkan diri Anda.

Jika Allah yang mengatakannya, pasti baik untuk saya. Tidak peduli apa yang dikatakan pikiran saya atau keluarga saya, tidak peduli apa kata teman saya, apa kata masyarakat, jika Allah mengatakan ini baik untuk saya maka saya tenang.

Jika Anda bisa melakukan itu, sampai ke titik itu, maka Anda sudah menjadi pewaris Ibrahim ‘alaiissalam. Menyebut diri Anda dan diri saya sebagai muslim adalah mudah, tapi menjadi muslim adalah hal yang berbeda.

Ini bukan tentang perilaku, tapi sesuatu yang sangat jauh di dalam diri kita. Saya sepenuhnya puas dengan apa yang diperintahkan Allah dan rasulNya. Saya nyaman dengan hal itu. Saya tenang dengan hal itu, dan saya damai dengan kenyataan bahwa saya mematuhi Allah.

Saya tidak berpikir bahwa jika saya mematuhi Allah saya akan kehilangan sesuatu. Karena Dia memerintahkan saya untuk menjauhi kesenangan ini, atau kesempatan ini, karena semuanya haram, dan jika saya menjauhinya sayalah yang rugi.

Tidak, saya tenang karena tidak mungkin seseorang yang mematuhi Allah akan merugi. Tidak sekalipun pikiran tersebut melintas di benak saya. Karena itulah Dia menamakan kalian muslim.

Seseorang yang sepenuhnya menundukkan dirinya kepada Allah, seseorang yang dalam ketenangan. Seseorang yang datang kepada Allah dengan kenyamanan. Itulah kenyamanan yang Anda dan saya cari di hadapan Allah.

Dan saya setulusnya berdoa agar generasi muda kita menemukan kenyamanan kepada Allah, bahwa mereka tidak terganggu dengan perintah agama kita. Bahwa pemudi kita tidak merasa terganggu dengan memakai hijab. Mereka tidak berkata, “Mengapa saya harus memakainya?

Atau para pemuda kita tidak terganggu karena harus salat di waktu Subuh. “Mengapa saya harus bangun jam segini?! Bisakah saya salat nanti saja?! Ini sangat menjengkelkan!

Perilaku seperti ini sebenarnya adalah anti thesis (bertentangan) dari Islam itu sendiri, Anda tidak bisa memiliki perilaku itu dan Islam bersamaan. Islam artinya Anda menyerahkan diri, maka Anda menyerahkan diri, Anda menerimanya secara utuh.

Hubungan Antara Salat Dengan Zakat

Allah berkata, “Fa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaata, wa’tashimuu billaahi.” (QS Al Hajj ayat 78)

Semua ini adalah satu ayat, dari saya mulai tadi hanya satu ayat, ayat terakhir surat Al-Hajj. Dia berkata, “Dirikan salat dan berikan zakat.

Dirikan salat dan berikan zakat sebenarnya adalah ekspresi yang indah dalam Al-Qur’an karena banyak hal, tidak hanya karena mendirikan salat seperti yang kita lakukan -dan semoga Allah menerima salat kita- tapi karena terkait satu sama lain dalam banyak hal, saya jelaskan satu saja.

Saat Anda mendirikan salat artinya Anda salat berjamaah, itu artinya. Jika Anda salat bersama-sama maka Anda mengenal satu sama lain. Jika Anda kenal satu sama lain Anda akan tahu siapa yang kekurangan, Anda tahu siapa yang butuh, siapa yang tidak terlalu baik keadaannya, siapa yang sakit, siapa yang tidak sehat, siapa yang menghadapi kesulitan dalam hidupnya.

Lalu Anda ketahui kepada siapa Anda harus memberikan zakat. Ini terkait satu sama lain; dirikan salat dan berikan zakat. Karena mendirikan salat berarti membangun kedekatan hati satu sama lain di hadapan Allah. Lalu Anda sucikan harta Anda dengan memelihara mereka yang butuh di antara Anda.

Makna Berpegang Kepada Allah

Fa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaata, wa’tashimuu billaahi.” (QS Al Hajj ayat 78)

Dan berpeganglah kepada Allah.

Frasa yang menakjubkan di akhir ayat itu adalah hal terakhir yang akan saya jelaskan sebelum saya sudahi. Saat Allah berkata, “Berpeganglah kepada Allah.

I’tisham” sebenarnya berarti berpegang kepada sesuatu yang jika Anda lepaskan maka Anda akan mati. Berpegang erat kepada “Isma‘”.

Isma‘” berarti perlindungan. “I’tisham” itu berpegang erat sebagai perlindungan. Bayangkan Anda akan jatuh dari sebuah perahu, kapal, atau sesuatu dan satu-satunya yang Anda pegang adalah tali atau jangkar. Jika Anda lepaskan Anda mati.

Allah berkata, “Berpegang erat kepada Allah untuk hidupmu.

Anda tahu artinya bukan? Artinya jika orang-orang di sekeliling saya meninggalkan saya, jika teman-teman Anda yang religius yang memicu Anda menjalankan agama tidak bersama Anda lagi.

Jika dulu lingkungan Anda mendukung, sekarang Anda di kampus dan menjadi satu-satunya muslim.

Teman-teman saya sudah tidak ada, sekarang saya tidak merasa cenderung kepada Islam lagi, saya merasa tidak bersemangat lagi untuk salat, saya merasa sudah tidak punya hubungan itu lagi.

Tidak, tidak, tidak. Apakah orang-orang itu tetap berada di samping Anda atau tidak, apakah sistem pendukung itu ada atau tidak. Inilah mengapa warisan Ibrahim ‘alaihissalam… pemuda itu (Ibrahim ‘alaihissalam) memegang erat agama ini, dan saat itu dialah satu-satunya yang memegang agama ini, tidak ada pendukung di sekitarnya.

Keluarganya tidak mendukung, masyarakatnya tidak mendukung, dia ibaratnya satu negara sendiri, karenanya Allah menyebutnya satu ummah sendiri, satu negara sendiri dan kita adalah pengikutnya, Anda tahu apa maknanya?

Bahwa kita tidak boleh beralasan bahwa lingkungan di sekitar kita buruk, karenanya kita tidak menundukkan diri kepada Allah. Bahwa teman-teman kita rusak, sehingga kita ikut-ikutan rusak.

Kalian tidak tahu sih bagaimana kelompok saya…

Siapa peduli seperti apa kelompokmu? Kamu adalah pewaris Ibrahim ‘alaihissalam, kamulah satu-satunya cahaya di tengah kegelapan. Kamu tidak bisa mencari-cari alasan, kamu ada di sana untuk menghilangkan kegelapan itu, bukan menjadi bagiannya. Itulah fungsimu. Maka kamu harus berpegang teguh kepada Allah, karena yang lain akan datang dan pergi. Semua yang lainnya akan datang dan pergi.

Wa’tashimuu billaahi, huwa maulaakum.” (QS Al Hajj ayat 78)

Dialah teman pelindungmu. Dialah pelindungmu. Dia sajalah yang akan menjagamu.

Fa ni’mal-maulaa wa ni’man-nashiir.” (QS Al Hajj ayat 78)

Betapa Dia adalah penjaga yang sangat luar biasa. Dan betapa Dia adalah penolong yang luar biasa.

Sekarang kata-kata yang terakhir dari ayat ini, saya janji… Yakni, “Ni’man-nashiir.

Ini adalah akhir surat dan akhir ayat.

Kata “An-nashiir”, Allah menggambarkan betapa diriNya adalah penolong yang luar biasa. Kata “Nashiir” berasal dari istilah Arab “Nusro”. Beberapa di antara Anda familiar dengan “Idzaa jaaa’a nashrulloohi wal-fat-h.” (QS. An-Nasr ayat 1)

Kata “Nashr” dalam bahasa Arab tidak hanya berarti pertolongan, tapi merupakan bantuan yang sangat besar. Jika saya menolong Anda di luar sana karena ban Anda kempes, saya tidak berkata, “Nashartuka” tapi “Saa’dtuka”, saya tolong Anda.

Nushro” itu seperti satu paket pertolongan, milyaran dollar bantuan diberikan kepada sebuah negara, itulah “Nushro”. Sejumlah besar tentara didatangkan untuk menolong sebuah negara yang tengah diserang, itu adalah “Nushro”.

Nushro” bukanlah sebuah pertolongan kecil, tapi pertolongan besar-besaran. Bagaikan saat Allah mengirimkan sepasukan malaikat, itulah yang disebut “Nushro”.

Itulah “Nushro”, pertolongan Allah, pertolongan Allah yang luar biasa besar. Allah berkata -”Nashiir”, bentuk fa’il-nya sebenarnya berarti- betapa menakjubkannya Allah, bahwa Dia selalu siap sedia untuk menolongmu dengan cara yang besar-besaran.

Allah siap menolongmu dengan cara yang paling masif. Jika kamu berpegang kepada Allah, maka kamu telah berpegang kepada pendukung yang paling kuat dan konstan yang mungkin kamu peroleh.

Fa ni’mal-maulaa wa ni’man-nashiir.” (QS Al Hajj ayat 78)

Anda tidak punya apapun yang harus dikhawatirkan lagi. Ini adalah mental seseorang yang menerima warisan dari bapaknya Ibrahim ‘alaihissalam. Dan setelah Anda menerimanya barulah berjuang bagi Allah itu menjadi mudah.

Allah Membuka Jalan Bagi Yang Berjuang di Jalan-Nya

Kemudian Dia membuka pintu-pintu itu.

Wa jaahiduu fillaahi.” (QS Al Hajj ayat 78)

Allah ‘azza wa jalla berkata, “Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa.” (QS. Al-’Ankabut ayat 69)

Bagi mereka yang berjuang di jalan Kami, Kami bukakan jalan Kami bagi mereka, Kami tunjuki mereka kepada bermacam-macam jalan Kami tentu saja. Allah akan membukakan jalan keluar bagi Anda. Perjuangan yang selalu saya sebutkan ini berbeda antara satu sama lain di antara Anda.

Sebagian dari Anda harus berjuang di dalam keluarganya, sebagian yang lain di pekerjaannya atau berhubungan dengan uang, yang lain dengan kesehatannya, dan sebagian lain dengan agamanya itu sendiri. Hampir tidak berpegang dengan agama itu sendiri, hampir tidak berpegang kepada Allah sendiri.

Beberapa di antara Anda berjuang menjauhi hal-hal haram, hanya Allah yang tahu rahasia Anda. Saya tidak berada di sini untuk mencari tahu rahasia Anda, tapi ketahuilah satu hal. Ketika Anda memutuskan untuk berjuang menjauhi jalan syaitan, dan menuju Allah maka pertolongan Allah selalu ada di sana, Dia takkan meninggalkan Anda.

Kita berpikir Dia meninggalkan kita, syaitan datang dan berkata, “Kamu sangat kacau, Allah tidak menyukaimu, Dia akan membakarmu di neraka.

Dia ingin kamu kehilangan hubungan dengan Allah, dan Allah datang dan berkata, “Tidak, Allah ada di sana ketika kamu kembali kepadaNya.

Dia akan ada di sana, selalu ada di sana untuk memberi Anda dukungan.

Semoga Allah ‘azza wa jalla tidak pernah membiarkan kita kehilangan harapan terhadap Tuhan dan Rabb kita. Semoga Allah ‘azza wa jalla memudahkan perjuangan masing-masing kita. Dan menjadikan kita bagian dari mereka yang baginya Allah adalah “Ni’mal-maulaa wa ni’man-nashiir.” (QS Al Hajj ayat 78)

Barokalloohu lii wa lakum wa fil qur’aanil hakiim, wa nafa’nii wa iyyakum bil ayaati wa dzikril hakiim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s