Resume Essential of Islam – Nouman Ali Khan

Kajian: Essential of Islam
Pemateri: Achmad Shafiq Bafadhal

Bismillahirrahmaanirrahiim… kita mulai sharing materi Essential of Islam…

Pada kajian kali ini, ada beberapa poin menarik yang akan saya bagikan, tentang apa sih sebenarnya esensi atau inti dari ajaran Islam itu. Sebelum saya masuk ke materi, saya ingin share kenapa saya sangat suka materi ini. Banyak di antara kita, bahkan mungkin dalam keluarga kita, atau teman-teman kita yang masih sangat “kaku” tentang Islam.

Definisi kaku di sini maksud saya adalah, ada beberapa hal yang pada dasarnya sifatnya sunnah, atau bahkan hanya mubah, tapi kemudian dipaksakan seolah-olah itu wajib, dan kalau tidak menjalankan itu akan muncul semacam judgement bahwa kamu belum berislam secara benar.

Mungkin ini akan terlihat sepele, tapi dampak psikologisnya luar biasa. Efeknya orang jadi banyak menjauhi islam, orang jadi membenci islam, atau kalaupun tidak, mereka hanya akan merasa, bahwa Islam itu agama yang sulit. Kita sering dengar, dan sering dimanjakan dengan kata-kata “Islam itu mudah”, tapi akan ada sebagian di antara kita atau orang-orang di sekitar kita, tidak merasa demikian. Maka, materi ini akan mengupas, bener gak sih Islam itu mudah? Dan apa sih inti ajaran yang diinginkan oleh Allah swt. terhadap kita? Yuk, kita lihat satu per satu 😊

Untuk memudahkan memahami, materi ini akan saya bagi dalam 5 materi inti, mengacu kepada 5 lingkaran yang digunakan oleh Ustadz Nouman Ali Khan, untuk memudahkan kita memahami materi. Apa saja 5 hal tersebut?

1. Prinsip-prinsip dasar agama Islam

2. Perintah dan Larangan Utama dalam Islam

3. Enhancement / Penguat

4. Ijma’ Para Sahabat

5. Ijma’ Para Ulama

Inilah 5 hal yang akan saya coba bagikan malam ini, mudah-mudahan Allah mudahkan saya untuk menyampaikannya, dan Allah mudahkan antum semua untuk menerima ya.

Nilai Pertama: Prinsip – Prinsip Dasar Agama Islam

1. Intro

Agama Islam, diturunkan oleh Allah swt pada dasarnya adalah untuk mengembalikan manusia kepada tujuan mula manusia itu diciptakan. Bahasa gampangnya, untuk kembali ke fitrahnya. Allah telah menitipkan ruh ke dalam setiap diri manusia, dan ruh itu sudah bersaksi di hadapan Allah bahwa kita adalah hamba Allah, dan Allah adalah Rabb kita. Dan Allah telah mengamanahkan kepada Bapak kita, Nabi Adam a.s. untuk menjadi khalifah di bumi, dan amanah itu masih berlanjut dan dipegang oleh setiap kita untuk menjadi khalifah di muka bumi. Namun seiring jalan, banyak yang kemudian lupa, lalai, bahkan tidak peduli lagi dengan tugas ini. Maka islam datang untuk mengingatkan manusia akan tugasnya, dan mengembalikan manusia yang telah tersesat jauh dari fitrahnya.

2. Pembahasan

Dalam Islam, pada dasarnya tidak ada hal baru yang di bawa. Seluruh inti ajaran yang terkandung dalam agama Islam pada dasarnya sudah diketahui oleh setiap manusia. Sebagai contoh, pada dasarnya, kita tidak perlu menjadi seorang muslim untuk tahu bahwa berbohong, mencuri, memukul, dan perbuatan jahat lainnya itu merupakan sesuatu yang buruk. Kita hanya perlu menjadi manusia, yang memang secara defaultnya sudah Allah tanamkan sifat dan rasa untuk mengenal mana yang baik, dan mana yang buruk.

Dalam islam, ada banyak sekali konsep/prinsip yang pada dasarnya sudah ada dalam setiap diri manusia. Allah menyebutkannya dalam Al Quran dengan 3 cara:

a. Dengan kata “la’allakum….”

b. Dengan kata “innallaaha yuhibbbu…”

c. Dengan kata sebagai contoh, Allah berfirman dalam Al Quran: la’allakum tuflihuun (agar kamu jadi orang-orang yang beruntung/berhasil) la’allaum tattaquun (agar kamu jadi orang yang bertaqwa) innallaha yuhibbut tawwaabiina wa yuhibbul mutathohhiriin (sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan dirinya) dst. Maka, dari contoh tersebut, perbuatan-perbuatan yang disandingkan pada kata tersebut menjadi suatu prinsip dalam islam. Misalnya Allah suka orang-orang bertaqwa, maka bertaqwa menjadi suatu prinsip dalam Islam. Taqwa akan menjadi hal penting yang menjadi tujuan setiap muslim dalam setiap aktifitasnya.

3. Simpulan

Jadi, dalam islam, ada tujuan, atau ada goal besar yang ingin dicapai dalam setiap perilaku, dalam setiap perintah, dan dalam setiap larangan yang Allah perintahkan. Dan tujuan itu menjadi esensi utama/prinsip utama dalam agama Islam yang dicirikan dengan 3 hal yang sudah disebutkan sebelumnya.

Nilai Kedua: Perintah dan Larangan Utama dalam Islam

1. Intro

Melanjutkan nilai yang pertama, bahwa setiap aktifitas seorang muslim, haruslah berorientasi/bertujuan utama sebagaimana prinsip-prinsip dasar yang telah disebutkan sebelumnya. Namun untuk mewujudkan prinsip dan konsep itu, dibutuhkan sesuatu yang nyata bisa dilakukan oleh setiap muslim. Sesuatu yang bisa dilakukan oleh setiap muslim untuk mencapai goal tersebut.

2. Pembahasan

Untuk mewujudkan prinsip-prinsip yang telah disebutkan sebelumnya, maka Allah wujudkan dalam bentuk perintah dan larangan yang sifatnya wajib. Sebagai contoh, Allah suka orang yang bertaqwa kan? Tapi bagaimana caranya agar kita bertaqwa? Maka Allah wajibkan puasa. Tujuannya apa? Agar kita bertaqwa.

Contoh lain, Allah suka orang yang mengingatnya. Bagaimana cara mengingat Allah? Maka Allah wajibkan sholat. Allah jadikan sholat sebagai cara bagi setiap muslim untuk mengingatnya. Begitu seterusnya. Setiap kali ada suatu perintah yang sifatnya wajib, maka bisa dipastikan ada goal besar yang Allah inginkan dari kita. Ini penting.

Kenapa? Karena banyak sekali di antara kita yang kurang memahami ini, hingga akhirnya perintah-perintah yang sifatnya wajib kita jalankan tapi hanya sekedar sebagai penggugur kewajiban. Saya bukan mau menjudge, tapi saya berkaca pada diri saya sendiri. Saya sholat, puasa, dsb. tapi masih sulit untuk menahan diri dari maksiat.

Padahal sholat itu harusnya menjaga kita dari perbuatan keji dan munkar. Maka apakah kemudian sholatnya salah? Bisa jadi, sholat saya baru sekedar menggugurkan kewajiban. Sholat saya belum menghadirkan Allah. Sholat saya belum menembus ke Qalbu. Sholat saya masih tercampur dengan pikiran-pikiran tentang dunia. Padahal, sholat itu harusnya mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar, sholat itu jalan untuk mengingat Allah, sholat itu adalah penolong, dsb. Ini jadi reminder penting bagi saya pribadi, bahwa sebenarnya, ada hal yang besar yang Allah harapkan tumbuh dari diri kita dari setiap ibadah yang diwajibkan kepada kita.

3. Simpulan Allah ingin sesuatu yang baik untuk kita Dan Allah wujudkan itu dalam bentuk ibadah utama yang tercermin dalam rukun Islam, yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji.

Seyogyanya, kita selaku muslim, harus mulai mengenal, apa sih yang Allah inginkan dari sholat kita? Apa sih yang Allah inginkan dari puasa kita? Zakat kita? Haji kita? Mudah-mudahanan ini bisa jadi pengingat penting bagi kita semua, untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kualitas iman kita.

Nilai Ketiga: Enhancement/Penguat

1. Intro

Di samping perintah yang wajib, dalam islam juga ada perintah yang dianjurkan. Bahasa gampangnya sunnah. Seperti apa posisi sunnah itu?

2. Pembahasan

Sunnah adalah sesuatu yang baik jika dilakukan, tapi tidak berdosa kalau tidak dikerjakan. Itu versi simpelnya. Artinya, dalam Islam ada sesuatu yang harus mesti kudu wajib dikerjakan. Dan ada pula yang bagus kalo dikerjakan. Ini penting sekali.

Sebagai contoh, berdoa setelah sholat, itu bagus. Walaupun kalau gak berdoa setelah sholat, ya gak berarti sholatnya batal. Namun, akan jadi lebih indah, lebih baik, dan lebih patut jika sholat kita kemudian diiringi dengan doa dan dzikir.

Ini penting untuk dibedakan, karena di zaman sekarang, ada banyak pihak yang kemudian memaksakan semua yang sunnah itu jadinya wajib. Dan ini yang kemudian sering membuat orang jadi makin jauh dengan Islam. Memaksakan sesuatu yang pada dasarnya tidak harus dipaksa. Dan parahnya lagi banyak sekali yang kemudian mengharamkan, mengkafirkan, menjelek-jelekkan muslim lainnya hanya karena tidak melakukan suatu yang sifatnya sunnah.

Saya bukan ingin meremehkan sunnah. Pun bukan pula ingin mengabaikan sunnah. Namun kita harus bisa menempatkan sesuai posisi. Bayangkan seorang muallaf yang masih gak tahu apa-apa tentang Islam kemudian tiba-tiba harus dibebankan berbagai macam ibadah yang sifatnya sunnah tapi dibuat seolah olah wajib. Bukankah malah jadi bikin dia makin jauh dari Islam? Sunnah itu bagus, sunnah itu penting buat diikuti, sunnah itu mempercantik ibadah kita. Namun sekali lagi, ingat, itu sunnah 😊

Nilai Keempat: Ijma’ Para Sahabat

1. Intro

Sebagian kita tahu, ada banyak sekali sahabat di zaman Rasulullah saw. Salah satu riwayat menyebutkan ada lebih kurang 124.000 sahabat yang masih hidup ketika Rasulullah saw. wafat. Sahabat adalah generasi yang hidup atau sempat bertemu dengan Rasulullah saw. Dan sebagai orang yang bertemu langsung dengan Rasulullah saw. dan para sahabat lainnya, tentu informasi dan pemahaman mereka dapat kita jadikan landasan. Sebagaimana yang Rasulullah saw. sampaikan sendiri, “Sebaik baik generasi adalah generasiku, lalu generasi setelahnya, dan generasi setelahnya.” Maka dalam Islam, cukup banyak hukum, kebiasaan, ataupun hal-hal lain yang diambil karena mengikuti para sahabat. Seperti apa? Yuk simak pembahasannya.

2. Pembahasan

Sebagaimana yang telah disebutkan, bahwa ada banyak sekali sahabat sepeninggal Rasulullah saw yang perlu kita pahami adalah, tidak semua sahabat itu sekaliber Abu Bakar ash shiddiq, atau Umar ibn Khattab, atau Utsman bin Affan, atau Ali bin Abi Thalib, atau Sa’ad bin Abi Waqqash, atau Abdurrahman bin Auf, dan sahabat-sahabat utama lainnya.

Ada banyak sekali sahabat yang juga biasa-biasa saja. Tidak setenar mereka, ataupun tidak sedahsyat mereka dalam beramal. Namun bedanya mereka dengan kita, Allah ridha kepada mereka. Radhiyallahu ‘anhum wa radhuu ‘anhu. Ada 3 macam ijma’ sahabat yang dapat diikuti.

1. Ijma para sahabat tentang suatu kejadian. Misalnya tentang suatu perang, atau kejadian-kejadian penting seperti perang Badar, perang Uhud, dsb. Tidak semua sahabat ikut perang Badar, namun para veteran Badar, akan sepakat bahwa perang Badar itu pada saat begini dan begitu dan disepakati oleh yang lainnya karena mereka sama-sama mengalaminya. Maka umat muslim akan menjadikannya sebagai suatu kesepakatan/hukum karena memang mereka yang berada di sana saat itu yang menceritakannya.

2. Ijma dari Ahli Fiqh Para Sahabat Sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, bahwa tidak semua sahabat itu sekaliber sahabat utama seperti Abu Bakar ra atau Umar ra, maka tidak semua pendapat para sahabat pula yang kemudian bisa dijadikan rujukan hukum. Hal-hal yang bisa dijadikan rujukan adalah kesepakatan/ijma’ dari ahli ilmu dari kalangan para sahabat.

3. Ijma’ Pemimpin pada jaman sahabat sedikit berbeda dari poin 2, ijma ini dijadikan rujukam karena hukum tersebut pernah berlaku pada masa pemerintahaan para sahabat, terutama pada zaman khulafaur rasyidiin. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan rujukan bahkan hingga zaman ini, yang diambil dari kejadian serupa di masa tersebut. Dan itu menjadi rujukan pengambilan hukum hingga zaman ini. Yang menarik adalah, untuk nilai pertama sampai ketiga, pada dasarnya sifatnya mutlak. Artinya, kita udah gak perlu ragu ataupun memperdebatkan kenapa begini dan kenapa begitu.

Di poin 4, kita perlu tahu kenapa berlaku seperti itu. Artinya, pasti ada dasar lain yang dijadikan para sahabat sehingga kemudian diputuskan untuk melakukan hal tersebut. Dan itu yang membuat terkadang, sebagian orang menolak pendapat sebagian yang lain. Dan itu sebenarnya tidak perlu diperpanjang. Saya ambil contoh paling nyata.

Sholat tarawih 20 rakaat. Itu memang tidak ada di zaman Rasulullah saw. Itu terjadi di zaman sahabat. Maka kemudian ada kelompok yang menolak ikut, dengan alasan tersebut. Lantas, perlukah diributkan? Tidak perlu.

Kenapa? Karena memang itu ijma’ para sahabat. Yang mau ikut 20, silahkan. Yang mau ikut 8 ala Rasulullah saw, silahkan. Mana yang benar? Dua-duanya in syaa Allah benar, dengan dasar masing-masing. Tuh kan, Islam itu mudah? 😊

3. Simpulan

Sahabat itu adalah orang-orang yang mengikuti Rasulullah saw. Mereka adalah generasi terbaik yang pernah ada. Namun, bukan berarti mereka sempurna tanpa salah. Bahkan para sahabat sendiri pernah berbeda pendapat ketika Rasulullah saw masih hidup. Maka apa yang perlu diributkan ketika seseorang mengikuti para sahabat dengan seseorang yang mengikuti Rasulullah saw? Selama tidak keluar dari nilai pertama dan kedua, maka wajar jika terjadi perbedaan, dan tidak ada masalah dari keduanya.

Nilai Kelima: Ijma’ Para Ulama

1. Intro

Seiring berkembangnya zaman, maka diperlukan kajian lebih mendalam tentang hukum sesuatu. Ada banyak hal disaat ini yang secara eksplisit tidak disebutkan dalam Quran. Maka butuh kajian lebih mendalam untuk menentukan apakah sesuatu itu halal, sunnah, mubah, makruh, ataupun haram.

2. Pembahasan Ulama adalah pewaris Nabi

Merekalah penerus perjuangan dan dakwah para Rasul. Merekalah yang Allah titipkan sebagian ilmunya untuk membimbing umat agar tetap dalam fitrahnya. Namun, sama seperti sahabat, ulama tetaplah manusia. Ketika seorang ulama memutuskan, maka perlu tahu proses pemikiran yang dilakukannya hingga sampai ke kesimpulan itu.

Jika di level para sahabat aja sangat mungkin terjadi perbedaan. Kira-kira, apakah di level ini sangat mungkin terjadi perbedaan? PASTI SANGAT MUNGKIN.

Maka sebenarnya sangat aneh dan disayangkan kalo umat Islam zaman sekarang mau meributkan keputusan-keputusan dari ulama yang berbeda untuk dijadikan sumber perpecahan. Dan sayangnya ini yang banyak terjadi. Beda pendapat kiai, musuhan. Beda pendapat mufti, gak teguran. Kan aneh…. padahal masih sama-sama sholat, masih sama-sama puasa, zakat, haji 😁

3. Simpulan

Sebelum membesarkan besarkan perbedaan pendapat para ulama, ada baiknya cari tau dahulu apa dasar yang digunakan untuk sampai ke kesimpulan tersebut. Kalopun tidak bisa melakukannya, maka sami’na wa atho’na. Ikutilah pendapat yang kita lebih yakin dan mantap. Dan tidak perlu merasa lebih benar dan lebih syar’i dari pendapat yang lain, karena pada akhirnya kita tidak tahu mana yang paling benar di mata Allah.

Penutup

Demikianlah ikhwan wa akhwat fillah… Ada hal-hal pokok yang perlu kita ketahui, perlu kita kuatkan, dan perlu kita jaga. Di samping itu, ada pula hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diributkan, tidak perlu menjadi perpecahan, malah harusnya menjadi rahmat dalam perbedaan.

Yuk kita tingkatkan lagi iman kita, ketaqwaan kita, dan kita luruskan kembali, temukan kembali tugas utama kita, dan bagaimana cara meraihnya. Allah tidak menciptakan kita untuk kesia-siaan. Maka yuk kita maksimalkan kehadiran kita di dunia ini sebaik mungkin.

Sekian 5 poin penting yang menjadi esensi dalam islam. Mudah-mudahan mampu membuka pikiran dan hati sahabat semua untuk semakin cinta Islam, cinta Allah dan Rasul-Nya, cinta Quran, cinta pada sahabat Rasulullah saw, cinta kepada para Ulama.

Mohon maaf atas segala salah dan kurang dalam penyampaian. Yang benar itu dari Allah swt, yang kurang itu dari saya. Wabillahi taufiq wal hidayah (Semoga diberikan keselamatan atasmu, dan rahmat Allah serta berkahNya juga kepadamu).

Advertisements

One thought on “Resume Essential of Islam – Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s