[Transkrip Indonesia] Cintai Pekerjaanmu – Nouman Ali Khan

Al-hamdu lillaah. Al-hamdu lillaahilladzii nahmahduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruh, wa nu’minu bihii wa natawakkalu alaihi, wa nauudzu billaahi min syuruuri anfusinaa, wa min sayyiaati a’maalinaa, mayyahdillaahu falaa mudhillalah, wa man yudhlil falaa haadiyalah, wa nasasyhadu an laa ilaaha illallooh, wahdahuu laa syariikalah, wa nasyhadu anna muhammadan abduhulloohi wa rasuuluh, arsalahulloohu ta’alaa bil hudaa wa diinil haq, liyuzh-hirohu ‘alad diini kullih, wa kafa billaahi syahidaa, fashollalloohu ‘alaihi wa sallama tasliman katsiiron katsiiroo.

Tsumma ‘amma ba’d. Fa inna ashdaqol hadiitsi kitabullaah, wa khoirol hadyi hadyu muhammadin sholalloohu ‘alaihi wa sallam, wa inna syarrol umuri muhdatsatuhaa, wa inna kulla muhdatsatin bid’ah, wa kulla bid’atin dholaalah, wa kulla dholaalatin finnaar.

Yaquululloohu ‘azza wa jalla fii kitaabihil kariim, ba’da an aquula a’uudzu billaahi minasy-syaitoonir rojiim.

Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa yaskhor qoumun min qoum, ‘asaaa ay yakuunuu khoiron min-hum (ilaa aakhiril aayah/sampai akhir ayat). (QS. Al-Hujurat ayat 11)

Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul uqdatan min lisaanii, yafqohuu qoulii. Walloohumma tsabbitnaa ‘indalmauti bilaa ilaaha illallooh. Walloohummaj’alna minalladziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihat, wa tawashou bil-haq, wa tawashou bish-shobr, aamiin ya robbal-‘aalamiin.

Khutbah hari ini adalah salah satu yang sulit, namun saya rasa ini sungguh sebuah peringatan yang penting untuk saya dan Anda semua. Ini tentang sesuatu yang begitu mudah disepelekan. Saya mulai dengan apa yang dikatakan Allah ‘azza wa jalla di dalam Surat Al-Hujurat. Ketika Dia mengatakan kepada ummah instruksi pertama setelah memberitahukan bahwa sesama kita adalah bersaudara.

Innamal-mu’minuuna ikhwah.” (QS. Al-Hujurat ayat 10)

Mereka yang beriman tak lain adalah bersaudara satu sama lain, dan kita harus membuat perdamaian dan rekonsiliasi di antara kita. Perintah pertama setelahnya adalah,

Yaa ayyuhalladziina aamanuu laa yaskhor qoumun min qoum.” (QS. Al-Hujurat ayat 11)

Kalian yang beriman jangan biarkan satu kelompok mengolok-olok kelompok lain. Satu bangsa mengolok-olok bangsa lain. Satu golongan mengolok-olok golongan lainnya.

Qoum” di masa Arab dahulu sering digunakan dalam hubungannya dengan suku. Jadi satu suku merasa paling hebat dan mengolok-olok suku lainnya. Anda yang berasal dari Pakistan, India, Bangladesh dan sekitarnya, orang Pakistan akan mengolok-olok orang Bangladesh, atau orang Punjabi akan mengolok-olok orang yang berbahasa Urdu, atau orang Maroko mengolok-olok orang Aljazair, dan sebagainya. Ini salah satu makna ayat ini.

Makna Kata Sukhriyah

Tapi ini bukan topik yang akan saya bicarakan kepada Anda hari ini. Ada banyak dimensi dari ‘mengolok-olok kelompok lain’. Maka hal pertama yang ingin saya lakukan adalah menjelaskan makna kata “sukhriyah” atau “sa-kho-ro / su-khi-ro”, yang merupakan kata kerja yang digunakan di sini, “Laa yaskhor qoumun min qoum.” (QS. Al-Hujurat ayat 11)

Ada banyak kata dalam istilah Arab yang digunakan untuk bercanda atau mengolok-olok. Tapi kata yang satu ini memiliki dua dimensi. Salah satunya adalah membuat lelucon tentang seseorang, menertawakan seseorang. Tentu Anda bisa menertawakan seseorang jika ada sesuatu yang lucu. Sesuatu terlihat lucu, seseorang bertindak lucu, sesuatu terpeleset dan jatuh, Anda bisa menertawakannya.

Namun kata ini juga memberi implikasi “taskhiir”. Yakni kata yang digunakan Allah atas tindakan kita menundukkan hewan. Atau bagaimana Dia menaklukkan atau menundukkan awan.

Yang saya maksudkan adalah saat Anda mengolok-olok seseorang dengan asumsi bahwa mereka lebih rendah dari Anda, bahwa mereka di bawah Anda, bahwa entah bagaimana mereka dalam posisi ‘bawahan’ Anda. Dan dengan mental seperti itu Anda berpikir tentang seseorang atau membuatnya merasa lebih rendah. Itu sebenarnya juga termasuk, “Laa yaskhor qoumun min qoum.” (QS. Al-Hujurat ayat 11)

Dengan kata lain salah satu implikasi dari ayat ini di dalam Al-Qur’an adalah orang beriman dari kelompok manapun tidak boleh membuat kelompok lain merasa lebih rendah, merasa harga diri mereka lebih rendah dari yang sebenarnya, merasa inferior (lebih rendah) terhadap diri mereka sendiri.

Semua Pekerjaan Halal Adalah Mulia

Perasaan itu bisa muncul dari suku, ras, dan ada tempat lain yang bisa memunculkannya. Saya ingin menekankan salah satu tempat dari mana dia berasal yang harus kita perhatikan secara khusus. Dan saya ingin memulainya dengan sebuah hadis dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam.

Maa akala ahadun tho’aaman qothu khoiron min an ya’kula min ‘amali yadihi. Wa inna nabiyy daawud ‘alaihissalaam kaana ya’kulu min ‘amali yadihi.” (HR. Bukhari)

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tak seorang pun pernah memakan sepotong makanan yang lebih baik dari sepotong makanan yang mereka makan setelah memperoleh uang pembelinya dari tangan (hasil keringat) mereka sendiri.

Jika Anda memperoleh uang dari tangan (hasil keringat) Anda sendiri, dan Anda memakan makanan apapun, bahkan hanya segigit saja, maka itu adalah makanan terbaik yang pernah Anda makan.

Meskipun makanan itu berupa pizza yang sudah tiga hari lamanya, atau sepotong kentang goreng basi jika memang itu yang bisa Anda beli, tidak masalah. Bahwa Anda memperolehnya dari keringat Anda sendiri agar makanan itu bisa masuk ke mulut Anda, tak ada makanan lain yang lebih baik yang mungkin pernah Anda makan.

Tambahan lagi Nabi shalallahu alaihi wa sallam membuat pernyataan tentang sebuah contoh. Dan contoh yang diberikannya adalah, “Wa inna nabiyy daawud ‘alaihissalaam,” Nabi Daud ‘alaihissalam, “Kaana ya’kulu min ‘amali yadihi,” dia biasanya makan dari hasil pekerjaan kedua tangannya sendiri.

Jika Anda kenal Nabi Daud ‘alaihissalaam, dia adalah salah satu pemimpin yang terbesar dalam sejarah umat manusia.

Allah ‘azza wa jalla sendiri berkata, “Inna ja’alnaaka kholiifatan fil-ardh.

Yaa dawuud, inna ja’alnaaka kholiifatan fil-ardh.” (QS. Sad ayat 26)

Daud, Kami jadikan kamu khalifah di bumi.

Dari catatan sejarah Yahudi, imperiumnya begitu besarnya sehingga tidak ada satu pun belahan bumi yang dikenal saat itu yang tidak termasuk kekuasaannya. Anda bisa menganggapnya salah satu pemimpin terbesar yang pernah dialami manusia adalah Daud ‘alaihissalaam.

Bahkan jika semua anak Adam ‘alaihissalam dihadapkan kepadanya, ketika dulu semua manusia dihadapkan kepada Adam ‘alaihissalam, Daud ‘alahissalam berkesan baginya, sehingga dia bertanya tentang Daud ‘alaihissalam. Nabi Allah yang istimewa.

Dan apa yang dikatakan Rasulullah tentang Raja dan Nabi yang hebat ini? Dia berkata, “Dia (Daud) biasa memakan setiap makanan yang dihasilkan dari pekerjaan yang dilakukannya dengan tangannya sendiri.

Bagaimana Al-Qur’an menggambarkan Daud ‘alaihissalaam? Alih-alih menggambarkan perkembangan pemerintahannya, bagaimana dia mengatur tentaranya, berapa banyak perang yang dia lakukan. Gambaran apa yang kita temukan tentang Daud ‘alaihissalam? Saya berikan satu saja pada Anda.

Dia berkata, “Wa laqod aaatainaa daawuuda minnaa fadhlaa.” (QS. Saba’ ayat 10)

Kami beri Daud ‘alaihissalam sebuah berkah istimewa yang datang khusus dari Kami.

Allah berkata sebuah berkah khusus diberikan kepada Daud ‘alaihissalam. Dan beberapa dari hal itu adalah mukjizat unik yang hanya dimiliki Daud ‘alaihissalam, sebagai contoh.

Yaa jibaalu awwibii ma’ahuu.” (QS. Saba’ ayat 10)

Gunung-gunung bernyanyi bersamanya.

Ketika dia bertasbih kepada Allah, gunung-gunung ikut bernyanyi bersamanya.

Wath-thoiir.” (QS. Saba’ ayat 10)

Begitu juga burung-burung.

Namun kemudian Dia berkata, “Wa alannaa lahul-hadiid.” (QS. Saba’ ayat 10)

Ani’mal saabighootin wa qoddir fis-sard.” (QS. Saba’ ayat 11)

Lalu Kami buat besi atau logam, Kami mejadikannya lembut baginya. Dengan kata lain dia belajar untuk melelehkan dan menempa logam. Lalu Allah memerintahkannya secara langsung, “Tempalah baju baja, dan buatlah sambungan rantai, pastikanlah itu dikalkulasikan dengan tepat.

Dengan kata lain Allah menunjukkan teknik untuk pekerjaan menempa logam yang akan dilakukannya.

Semua gambaran tentang Daud ‘alaihissalam ini semuanya berkaitan. Mendaki gunung untuk mencari bahan yang akan digunakannya, di sana dilihatnya burung-burung yang menyanyikan pujian bagi Allah bersamanya, dibawanya bahan logam itu kembali, lalu dibakar, digabungkan, dan ditempanya, seperti pandai besi. Ini adalah jenis orang yang mungkin Anda anggap ‘ndeso’ dan pekerjaannya hina.

Mereka menempa logam, membakarnya, baunya busuk. Orang-orang tidak mau berada di dekatnya, mereka diliputi jelaga dan debu hitam yang timbul dari pekerjaannya.

Itulah pekerjaan mereka seharian, tidak hanya sekedar 4, 5, hingga 10 menit lalu selesai. Anda menghabiskan hari Anda untuk menempa dan menempa, menguras fisik Anda. Ini pekerjaan fisik, pekerjaan buruh, pekerjaan kasar, pekerjaan pabrikan, yang biasa dilakukan Daud ‘alaihissalam.

Ini contoh yang diberikan Nabi ‘alaihi salatu wa sallam dan dengan contoh inilah Allah memulai, bahwa Allah memberi orang ini berkah khusus bahwa Dia membuatnya bekerja seperti ini.

Yang ingin saya sampaikan, bahwa dengan memberi contoh ini, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah memuliakan semua pekerjaan, melalui Allah sendiri.

Jika Anda seorang pengemudi taksi, Anda seorang kasir, mengantar pizza, petugas kebersihan yang membersihkan kamar mandi bandara, petugas keamanan. Mungkin akan ada orang yang bertanya tentang pekerjaan Anda, dan Anda malu mengakui itu pekerjaan Anda.

Anda merasa seperti, “Ya kamu punya gelar, akuntan, punya kantor, programmer, dokter, insinyur…. Saya hanya sopir taksi, saya cuma bekerja di toko kelontong, saya cuma sopir truk.

Anda merasa kurang berharga karena hanya bekerja seperti ini saja.

Allah ‘azza wa jalla memuliakan semua pekerjaan halal, dan Dia berkata, tak ada makanan yang lebih baik untuk kamu makan daripada yang kamu peroleh dari pekerjaan yang dikerjakan tanganmu sendiri. Begitulah cara Allah memuliakannya, dan bahkan Dia memberi contoh seorang Nabi, Daud ‘alaihissalam, yang biasa melakukan pekerjaan fisik.

Memenuhi Kebutuhan Orang Tua Yang Sudah Lanjut Usia Adalah Fii Sabiilillaah

Satu lagi hadis yang indah dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam, saya sangat terinspirasi darinya.

Immaa innahu kaana in kaana yas’a ‘alaa waa lidaihi aw ahadihimaa fa huwa fii sabiilillaah.

Jika ada seseorang yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan orang tuanya. Orang tua Anda sudah lanjut usia, tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Anda harus bekerja lembur karena pekerjaan rutin Anda cuma bisa menghidupi diri Anda sendiri.

Sekarang Anda harus menyangga orang tua Anda juga, mereka sakit atau lanjut usia, jadi sekarang Anda juga harus menyangga mereka. Sekarang semua waktu luang Anda digunakan untuk bekerja lebih banyak.

Jika seseorang yang melakukan usaha tambahan untuk menyokong kedua atau bahkan hanya salah satu orang tuanya, maka… apa yang dikatakan Nabi tentang hal ini?

Fa huwa fii sabiilillaah.

Maka dia berada di jalan Allah.

Orang itu berjuang di jalan Allah. Hal ini mulia di hadapan Allah. Mungkin orang ini merasa tidak enak, saya tidak bisa ke masjid sesering yang saya inginkan, saya tidak bisa membaca Al-Qur’an sebanyak yang saya inginkan.

Dulu saya biasa banyak belajar, sekarang tidak bisa lagi karena selalu bekerja, karena saya menyokong keluarga saya. Saya merasa menghabiskan seluruh waktu saya untuk dunia, padahal biasanya saya memberi banyak waktu untuk agama Allah. Rasulullah datang kepada Anda dan berkata, “Tidak, itu juga di jalan Allah.

Lalu dia berkata, ada orang-orang yang sangat putus asa, yang bekerja sangat keras. Apapun pekerjaan yang bisa diperoleh mereka lakukan. Namun yang mereka hasilkan hampir tidak mencukupi diri mereka sendiri. Mereka hampir tidak bisa bertahan, hanya bisa mencukupi kebutuhan yang sangat mendesak (hand to mouth). Apa yang dikatakannya tentang mereka?

Wa in kaana yas’a ‘alaa nafsihi, fa huwa fii sabiliillaah.

Dia sudah berusaha, meski hasilnya hampir tidak mencukupi dirinya sendiri, Itu juga di jalan Allah, itu juga mulia.

Cara Memperoleh Penghasilan Menurut Al-Qur‘an

Ini keindahan agama kita. Allah memuliakan manusia, namun kita memandang rendah mereka. Kita membuat seseorang merasa rendah. Tadi saya mulai dengan, “Laa yaskhor qoumun min qoumin.” (QS. Al-Hujurat ayat 11)

Jangan buat seseorang merasa hina. Satu kelompok dibandingkan dengan kelompok lain. Anda dan teman seangkatan, semuanya lulus kuliah kecuali satu. Salah satu teman Anda menghadapi masalah keuangan, orang tuanya bangkrut atau masalah lainnya, dia putus sekolah dan akhirnya bekerja di pom bensin.

Yang lainnya lulus, lalu reunian dan membicarakan pekerjaan masing-masing. Dan Anda terus mengingatkannya bahwa dulu dia putus sekolah.

Ini, “Laa yaskhor qoumun min qoumin.” (QS. Al-Hujurat ayat 11)

Meski dia berdiri di pom bensin dan memompa bahan bakar sebenarnya adalah sesuatu yang mulia dan terhormat bagi Allah. Itu adalah cara Allah memuliakannya.

Ini adalah peringatan yang diberikan Allah kepada kita, saat Dia membahas cara kita memperoleh penghasilan. Anda tahu bagaimana Allah menggambarkan cara mencari penghasilan di dalam Al-Qur’an?

Pekerjaan apapun yang Anda lakukan; bisnis, kantoran, rumah sakit, apakah Anda buruh, tidak masalah pekerjaan apa yang Anda lakukan. Semua pekerjaan yang berada dalam kategori halal memiliki satu nama. Dan khususnya pada hari Jum’at apa yang dikatakanNya?

Fa idza qudhiyatish-sholaah fantasyiruu fil-ardh, wabtaghuu min fadhlillaah.” (QS. Al-Jumu’ah ayat 10)

Dia berkata, “Jika salat telah selesai, pergilah menyebar di muka bumi, pergilah kemanapun kamu harus pergi, dan kejarlah karunia Allah.

Demikian itu, menghasilkan dari pekerjaan apapun yang Anda lakukan, Allah gambarkan sebagai karuniaNya bagi Anda. Itu karunia Allah bagi Anda. Dan ketika Allah memberi karunia bagi seseorang, Dia telah memuliakannya. Tidak ada kehinaan jika seseorang telah dimuliakan Allah.

Kedua hal itu tidak mungkin berdampingan. Mari kita bawa konsep ini lebih jauh lagi. Anggapan ini, karena beberapa sebab, karena Anda memiliki pekerjaan yang lebih baik dari orang lain. Ngomong-ngomong kita tidak hanya bersikap begini kepada orang lain, bahkan di antara keluarga sendiri.

Ada seorang pemuda mengatakan, “Saya tak ingin jadi dokter, saya ingin jadi apoteker saja.

Dan keluarganya berkata, “Kamu ini pecundang. Kamu bisa menjadi ‘sesuatu’, tapi kamu hanya ingin jadi apoteker?

Iya, saya akan punya lebih banyak waktu untuk hal lain, saya tak yakin ingin menghabiskan 5-6 tahun untuk kuliah lagi dan seterusnya. Jadi saya putuskan bahwa saya ingin jadi apoteker.

Lebih buruk lagi, ini sama dengan bunuh diri bagi sebagian kalangan orang tua. Anak lelaki atau perempuannya memutuskan ingin jadi perawat…. “Innaa lillaahi wa innaaa ilaihi rooji’uun.

Apa untuk ini kamu belajar biologi, untuk jadi perawat?

Bahkan lebih parah, beberapa anak muda yang memutuskan ingin belajar sejarah, orang tuanya mengomeli, “Pekerjaan apa yang akan kamu peroleh dari belajar sejarah?

Saya suka sejarah, dan saya pikir penting untuk mempelajarinya. Saya akan mengajar setelah itu.

Kamu mau jadi guru? Cari pekerjaan yang baik! Jadi guru?! Mengajar itu pekerjaan orang yang tidak bisa berbuat. Setidaknya masuklah sekolah hukum dan jadi pengacara, kenapa kamu tidak mencari kerja yang betul?

Bahkan di antara keluarga kita, kita membuat batasan pekerjaan, batasan kontribusi, kita membuat mereka merasa hina. Lebih buruk lagi, pria atau wanita yang memutuskan mempelajari psikologi atau konseling, karena mereka merasa komunitas muslim butuh banyak penyuluh. Kaum wanita, orang tua, remaja, anak-anak kita butuh penyuluhan.

Dan kita tak punya orang-orang yang memberikan penyuluhan, kita akhirnya mencari perawatan penyuluh non-muslim, karena kita tidak punya cukup banyak para profesional di bidang ini.

Jadi seseorang memutuskan masuk ke bidang konseling, dan semua orang mengoloknya karena mengambil jurusan konseling.

Apa yang akan kamu lakukan setelahnya? Bagaimana karirmu nanti?

Kita membuat orang merasa rendah dengan bakat yang diberikan Allah kepadanya. Pekerjaan yang diinspirasikan Allah untuk mereka lakukan. Saya tidak menghalangi Anda menginginkan karir yang semakin baik. Tapi jangan buat orang merasa rendah dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Ada beberapa pemuda di antara hadirin hari ini yang tidak berbakat untuk kuliah.

Bagaimana pun Anda berusaha membuat mereka belajar mereka tidak akan bisa, namun mereka sangat cekatan dalam memperbaiki mobil. Mereka adalah montir berbakat alami. Mereka bisa menjadi montir terbaik di negara ini.

Saya tidak membuatnya merasa menjijikkan karena tidak menyelesaikan kuliahnya, karena dia tidak mampu meski sudah berusaha. Dia tidak mampu untuk itu, tapi ketika dia melakukan pekerjaan yang ini dia sangat cekatan. Dan sekarang dia akan menjalankan 3 hingga 4 garasi miliknya sendiri. Lalu dia akan mempekerjakan salah satu akuntan lulusan sekolah di mana dia tidak lulus dulu. Itu akan terjadi, dan ada orang-orang semacam itu.

Tidak semua orang harus melewati jalan yang sama. Kita merasa jalan yang sudah ditetapkan oleh masyarakat bagi kita adalah satu-satunya cara untuk memperoleh penghargaan dari masyarakat.

Jika Anda memperoleh titel dari kampus maka Anda akan dihargai. Jika Anda punya pekerjaan di sebuah kantor baru Anda akan dihargai. Jika Anda melakukan hal ini, ini, dan ini, baru Anda akan dihormati.

Tapi jika Anda seorang petani, maka Anda tidak akan dihargai. Jika Anda seorang sopir taksi, Anda takkan dihargai. Jika Anda seorang mekanik, Anda tidak dihargai. Jika Anda kerja di toko, Anda tidak dihargai.

Siapa yang menentukan semua ini? Apakah Allah dan RasulNya memberi kita standar seperti ini? Ada alasannya kita berdiri dalam satu barisan (dalam salat), tanpa memeriksa terlebih dahulu apa pekerjaan Anda. Kita tidak mengecek berapa banyak gaji Anda sebelum Anda berdiri dalam barisan salat.

Inna akromakum ‘indalloohi atqookum.” (QS. Al-Hujurat ayat 13)

Yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling dekat dengan Allah, mereka yang paling berhati-hati kepada Allah.

Maka di dalam ayat yang sangat luar biasa itu, yang akan menjadi kesimpulan saya nanti. Namun sebelum saya kembali kepada ayat tentang Daud ‘alaihissalam itu, karena akhirnya sangat luar biasa. Sebelumnya ada satu ayat yang ingin saya sampaikan kepada Anda dari Surat Al-Qasas. Allah berkata,

Tilkad-daarul-aakhiroh, naj’aluhaa lillaadziina laa yuriiduuna ‘uluwwan fil-ardhi wa laa fasaadaa.” (QS Al-Qasas ayat 83)

Rumah penghabisan tersebut, artinya jannah, sudah Kami pesankan, kata Allah, sudah Kami pesankan untuk orang-orang yang tidak ingin memperoleh superioritas di dunia ini. Mereka tidak ingin merasa superior dari yang lain dalam hidup ini. Mereka tidak ingin membuat yang lain merasa lebih rendah dalam hidup ini. Hidup bukanlah tentang itu (superioritas).

Laa yuriiduuna ‘uluwwan fil-ardhi.” (QS Al-Qasas ayat 83)

Terjadinya Fasad

Dan ngomong-ngomong, jika Anda menciptakan sebuah budaya dan masyarakat di mana sekelompok orang merasa lebih rendah, kelompok lain dibuat merasa lebih tinggi, lalu budaya ini berkembang, Anda tahu apa yang akan terjadi?

Maka semua orang yang berada di dasar akan selalu berusaha menjadi seperti orang-orang yang berada di puncak. Ada orang-orang yang tidak menghasilkan cukup uang. Mereka miskin dan tinggal di RSS atau sejenisnya namun mereka bermimpi tinggal di sebuah gedung, memiliki mobil atau kendaraan mewah dan sejenisnya.

Ini adalah “fasad”; kelompok masyarakat yang diciptakan di mana satu kelompok selalu berlomba memperoleh kehormatan seperti yang dimiliki kelompok lain.

Inilah “fasad”, seperti inilah yang terjadi pada kasus seperti Qaruun. Ini sebabnya ayat ini turun pada akhir cerita tentang Qaruun. Ketika Qaruun memiliki semua hartanya sementara semua komunitas Israel lainnya miskin, mereka berkata,

Yaa laita lanaa mitsla maa uutiya Qooruun.” (QS. Al-Qasas ayat 79)

Seandainya kami memiliki yang dimiliki oleh Qaruun. Kita akan senang, seandainya saya memiliki yang dimilikinya, sungguh sangat nyaman. Saya berharap bisa memiliki apa yang dimilikinya.

Ini adalah kerusakan pada intinya. Ini adalah kerusakan di dalam hati. Dan ini memicu orang-orang untuk memperoleh uang dengan cara apapun.

Mereka tak lagi peduli apa yang halal dan apa yang haram. Mereka berkata selama itu pekerjaan yang bagus, akan saya lakukan. Selama pekerjaan itu menghasilkan banyak uang, akan saya lakukan. Perbedaan antara penghasilan yang halal, penghasilan yang sah dari hasil tangan Anda sendiri sirna.

Perintah Untuk Menyempurnakan Pekerjaan

Sekarang seraya saya simpulkan, akan saya sampaikan bagian terakhir dari ayat itu. Di mana Allah bicara kepada Daud ‘alaihissalam dan menyuruhnya bekerja menempa besi, dan untuk memastikan kesempurnaan hasil pekerjaannya.

Pertama, dalam ayat itu Allah ‘azza wa jalla menegaskan secara khusus bahwa tidak harus… Allah bisa saja hanya menyuruh Daud untuk bekerja dengan logam, menjadi pandai besi, tapi Dia bahkan menyuruh lebih jauh; “Qoddir fis-sard”.

Pastikan setiap sambungan rantai yang kamu buat diperhitungkan dengan cermat.

Jika kamu mengerjakan suatu pekerjaan, kerjakan dengan sempurna. Itulah yang dikatakan Allah kepadanya. Dalam menyuruhnya berbuat demikian, dan ngomong-ngomong ini bukan hanya tentang Daud ‘alaihissalaam. Ayat ini berakhir dengan,

Wa’maluu shoolihan innii bimaa ta’maluuna bashiir.” (QS. Saba ayat 11)

Kamu semua lakukanlah yang baik, Aku melihatmu dalam setiap hal yang kamu lakukan.

Setengah jalan dalam cerita Daud ‘alaihissalaam Allah berpindah, “intifaadh,” bertransisi.

Dan Dia bicara kepada Anda dan saya, berkata, ngomong-ngomong, Aku tidak hanya bercerita padamu tentang Daud, kamu sebaiknya juga bekerja dengan baik, dan kamu juga sebaiknya melakukan pekerjaan dengan benar. Tidak peduli apakah kamu seorang eksekutif yang berpengaruh, tidak peduli apakah kamu seorang petugas kebersihan, tidak peduli apakah kamu seorang juru tulis di suatu tempat, tak peduli apa pekerjaanmu, kamu harus melakukan yang terbaik dalam pekerjaan itu.

Dan pastikan kamu berhak atas setiap sen yang diberikan kepadamu. Jangan sampai kamu menjadi seseorang yang tidur dalam jam kerjamu, pekerjaanmu seharusnya bisa digambarkan sebagai “ihsaan”.

Ada orang-orang yang memiliki pekerjaan yang membenci pekerjaannya. Satu-satunya alasannya bekerja adalah mengharapkan upah, itu saja. Saya menyaksikan banyak orang seperti itu di… bukan bermaksud mencontohkan petugas kantor pos, namun seringkali….

Ada petugas yang duduk di dalam mobil pos keliling, dan dia tidak ingin menolong Anda. Mereka tidak tertarik bekerja, hanya menunggu waktu makan siang. Begitu mereka melihat semakin banyak orang datang, mereka menarik nafas, “Nomor 56“, mereka begitu tertekan melihat Anda.

Pekerjaan apapun yang Anda miliki, apapun pekerjaan Anda, Anda sekarang harus merasa bahwa Anda harus memberi “ihsaan” ke dalamnya. Anda harus memberikan yang terbaik kepadanya, yang terbaik dari Anda kepadanya. Karena ini adalah karunia dari Allah bagi Anda.

Jika pekerjaan ini tidak ada, Anda akan meminta-minta kepada orang lain, meminjam uang dari orang lain, menerima kebaikan dari mereka untuk membayar tagihan listrik. membayar kebutuhan sehari-hari, makanan anak Anda. Kita tidak pernah ingin berada dalam posisi di mana kita harus meminta kepada orang lain.

“’Izzurrojul istignauhu anin-naas.

Kehormatan seseorang adalah bahwa mereka tidak merasa butuh orang lain.

Bahwa saya mandiri, saya bisa menyetir mobil saya sendiri, saya bisa tinggal di rumah saya sendiri, membeli pakaian dan makanan saya sendiri adalah bagian dari kehormatan saya. Harus meminta kepada seseorang adalah merendahkan dan memalukan. Jadi apapun pekerjaan Anda…. Anda dan saya boleh mengeluh tentang pekerjaan kita, tidak mengapa.

Tapi jika kita lupa bahwa setiap pekerjaan yang Anda dan saya miliki sebenarnya adalah “fadhol” dari Allah, sebenarnya adalah karunia dari Allah, dengan cara diperkenankanNya kita untuk menyediakan rezeki bagi diri kita sendiri dan keluarga kita.

Dan karena itu adalah karunia Allah, maka kita harus memeliharanya. Kita harus melakukan pekerjaan dengan benar, tidak boleh tidur saat bekerja, tidak boleh hanya membuang waktu karena manajer tidak memantau kita setiap saat. Anda tidak boleh datang terlambat ke kantor atau tempat kerja, datang sesuka Anda karena tak ada yang memeriksa Anda. Allah masih tetap memeriksa Anda. Anda masih berhutang kepadaNya. Itu adalah bagian dari “ihsan” yang kita bawa bekerja.

Allah ‘azza wa jalla menyuruh kita, “Aufuu bil-‘uquud.” (QS. Al-Maidah ayat 1)

Penuhi semua kontrak, penuhi semua perjanjian.

Saat Anda membuat persetujuan dan sebuah harapan, penuhilah harapan tersebut semaksimal mungkin yang Anda mampu. Maka, “Wa’maluu shoolihan,” lakukan yang benar, dengan ini saya simpulkan. Kita tak hanya harus menghasilkan yang halal, tapi harus melakukan yang baik dengan pekerjaan kita.

Memilih Pekerjaan Yang Menghasilkan Kebaikan

Kita harus memastikan bahwa pekerjaan yang kita miliki adalah cara untuk menghasilkan kebaikan di dunia ini. Kita tidak boleh menjadi bagian industri yang rusak, kita tidak boleh menjadi bagian perusahaan permesinan yang menciptakan lebih banyak kerusakan di dunia.

Kita harus – Anda tidak bisa hanya memperoleh penghasilan Anda, uang Anda, tanpa peduli termasuk bagian yang manakah pekerjaan Anda ini. Inilah mengapa Anda tidak bisa begitu saja bekerja di tempat pembuatan bir, atau perusahaan perakitan senjata, atau sejenisnya. Orang-orang ini menghasilkan kejahatan di dunia.

Mereka menimbulkan kerusakan dan kematian di dunia. Kita harus sadar secara moral bahwa yang kita kerjakan akan membawa kebaikan di dunia. Akan melayani tujuan yang lebih baik di dunia. Maka kita harus lebih menyadarinya di tempat kerja; tentang hal yang kita kontribusikan. “I’maluu shoolihan.

Dan pada akhirnya Allah berkata, “Apapun yang kamu lakukan Aku memperhatikan dengan cermat.

Bosmu mungkin tidak memperhatikan, mungkin tak seorang pun memperhatikan, tapi Allah pasti memperhatikan.

Semoga Allah ‘azza wa jalla membuat kita menyadari pekerjaan kita, dan semoga Allah ‘azza wa jalla memberi kita kemampuan untuk memperoleh rezeki halal, dan membelanjakannya dengan cara terbaik. Semoga Allah ‘azza wa jalla terus mengarunikan kita fadhol-Nya, untuk diri kita sendiri dan keluarga kita, dan memberi kita rezki terbaik di dunia ini, dan di akhirat.

Barokalloohu lii wa lakum wa fil qur’aanil hakiim wa nafa’nii wa iyyakum bil ayaati wa dzikril hakiim.

Advertisements

One thought on “[Transkrip Indonesia] Cintai Pekerjaanmu – Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s