Kulwap SSS: When Muslims Work Together 3 – Nouman Ali Khan


[Edisi SSS – Sharing Santai tapi Serius]

Judul: “When Muslims Work Together part 3”
Sumber video: Kajian Ust. Nouman Ali Khan
Pengisi Kulwap: Sukma Delia Zurita (7 Juni 2017)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Di video ini ust. Nouman membandingkan surah An-Nur:62 dan At-Taubah: 43-46.

Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur: 62)

Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?”(43) “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.”(44) “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.”(45) “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Alllah melemahkan keinginan mereka dan dikatakan kepada mereka: ’Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.’”(46) (At-Taubah: 43-46)

Pada An-Nur: 62 dan At-Taubah: 45 terlihat ada hal yang berlawanan.

– “Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya.” (An-Nur: 62)

– “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (At-Taubah: 45)

Pada surah An-Nur: 62, Allah menyebutkan bahwa yang benar-benar beriman adalah orang yang meminta izin kepada Rasulullah. Sedangkan pada surah At-Taubah: 45 kebalikannya. Yang meminta izin kepada Rasulullah adalah orang yang tidak beriman. Selanjutnya kita akan membahas kenapa dua ayat ini berbeda.

Pertama, kita bahas dulu surah An-Nur: 62.

Wa idzaa kaa nuu ma’ahuu ‘alaa amrin jaami’in.

Dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan.” (An-Nur: 62)

Amrin jaami’in” adalah segala urusan yang dilakukan bersama. Misal, Rasulullah memerintahkan beberapa orang untuk berdakwah di suatu daerah. Ini merupakan “Amrin jaami’in”. Segala pekerjaan yang dilakukan dalam tim. Tidak bisa dikerjakan sendirian.

Lam yadzhabuu hatta yasta’dzinuuh.

Mereka tidak meninggalkan (tugas itu) (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya.” (An-Nur: 62).

Para sahabat tidak meninggalkan Rasulullah sebelum mereka meminta izin. Coba kita tempatkan konteks ayat ini di zaman sekarang. Kita sering membentuk berbagai kepanitiaan atau tim. Panitia acara dakwah, panitia penggalangan dana dan lainnya.

Misalkan dalam satu kepanitiaan, anggotanya ada 3 orang. Mereka diberi tugas yang harus diselesaikan dalam 1 minggu. Si A berpikir bahwa B yang akan mengerjakan. Si B berpikir bahwa C yang akan mengerjakan. Si C berpikir A dan B yang akan mengerjakan. Akhirnya saat tugasnya harus dikumpulkan, tugasnya belum selesai.

Dalam psikologi ini disebut diffusion of responsibility, keadaan dimana seseorang berkurang kemauannya untuk mengambil tanggung jawab ketika ada orang lain. Akhirnya tidak ada yang mengambil tanggung jawab tersebut.

Diffusion of responsibility adalah salah satu penyebab rusaknya voluntary work. Tidak ada tugas yang terselesaikan karena setiap orang berpikir “ada si A yang akan mengerjakan, ada si B” sehingga voluntary work menjadi stagnan. Dalam voluntary work, sebagai volunteer kita harus terbuka terhadap hal yang bisa dan tidak bisa kita lakukan. Jelaskan apa yang kita tidak bisa dan apa yang kita tidak bisa. Dalam Islamic work, karena bersifat voluntary/sukarela, terkadang kita mulai meremahkan atau menganggap sepele tugas-tugas kita.

“Saya gak digaji kok.”

Petunjuk dari Al-Qur’an, ketika sedang mengerjakan tugas/pekerjaan bersama, tidak boleh ada diffusion of responsibility. Saat kita tidak bisa mengerjakan tugas yang diberikan, kita harus jelas mengatakan kepada pemimpin kita bahwa kita tidak bisa. Kita tidak boleh meremehkan tugas kita. Jika kita tidak bisa, katakan tidak bisa. Jika kita bisa, berkomitmen dengan tugas kita.

Sebaliknya, dalam suatu tim pasti ada leader/pemimpin. Misal leader memberi tugas, kemudian anggotanya ada yang tidak bisa, leader ini mulai membacakan ayat-ayat Al-Qur’an tentang perjuangan, jihad dan lainnya yang akhirnya membuat anggotanya merasa bersalah terhadap Islam.

Seorang leader tidak boleh membuat anggotanya merasa bersalah. Rasulullah tidak pernah melakukan hal itu. Saat seorang anggota meminta izin kepada pemimpinnya, itu menunjukkan dia menganggap serius pekerjaannya. Alasan yang dikemukakan pun harus masuk akal, memang masalah yang serius.

Selanjutnya kita membahas Surah At-Taubah.

Surat Taubah, dari awal hingga akhir adalah situasi darurat. Mekkah baru ditaklukkan. Ada masalah besar antara muslim dan Roma. Tabuk, merupakan perang pertama dimana Rasulullah memerintahkan semua yang bisa ikut harus ikut.

Perang-perang sebelumnya bersifat sukarela. Perang Tabuk, semua orang harus ikut. Jika tidak ikut, harus ada alasannya. Orang-orang munafik tidak mau ikut berperang. Mereka mendatangi Rasulullah dan memberi alasan yang lemah, kadang tidak masuk akal. Rasulullah kemudian mengizinkan mereka.

Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?” (At-Taubah: 43).

Allah mengatakan, dalam situasi darurat jangan beri izin, karena jika tidak diizinkan pun mereka tetap akan tinggal sehingga membuktikan ketidakpatuhan mereka dan kemunafikan mereka. Dalam keadaan darurat, tidak ada perizinan.

Pembelajaran:

– Yang kita pelajari di surat Nur adalah aturan standar dari disiplin. Jika kita ada masalah, minta izin.

Pimpinan harus bisa memberi izin. Lihatkan kebaikan leader ke anggotanya, jangan membuat mereka merasa tidak enak, merasa bersalah. Hormati mereka.

– Orang yang datang meminta izin adalah tanda bahwa mereka beriman. Orang munafik tidak meminta izin saat kegiatan itu bersifat sukarela.

– Dalam situasi darurat, orang yang meminta izin, tanda bahwa mereka tidak beriman. Inilah perbedaan mendasar surah An-Nur: 62 dan Surah At-Taubah: 45

SESI DISKUSI

Penanggap ke-1:

Saya ijin menambahkan sedikit:

Kajian-nya bagus untuk seorang leader. Di situ dijelaskan ahlak Rasulullah terhadap ‘anggota tim’ yang melanggar aturan.

Menjelaskan surat Ali Imran ayat ke 159, dimana Rasulullah harus ‘memberi wejangan’ kepada para pemanah di perang Uhud yang justru turun meninggalkan pos-nya untuk memperebutkan ghanimah. Gara-gara ketidakpatuhan para pemanah ini, 70 sahabat mati syahid termasuk paman nabi Hamzah.

Kalau kita yang ada di posisi nabi saat itu, pasti sudah mencak mencak blingsatan.

Tapi apa yang Allah perintahkan pada Rasulullah saat itu adalah untuk tetap lemah lembut pada ‘anggota tim’ yang melanggar aturan.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS 3: 159)

So beautiful.

Penanggap ke-2:

Jika dalam berorganisasi ketua memberikan tugas ke anggotanya, dan ada anggota yang tidak bisa menjalankan tugas itu dengan alasan yang nyata, maka ketua tidak boleh langsung memberi hadist/ayat-ayat yang isinya tentang itu, sehingga anggota akan merasa bersalah jika tidak menjalankan tugas itu.

Dan jika kita sudah menerima tugas, maka harus dilaksanakan. Jika dirasa tidak sanggup, maka bilang langsung, jangan membiarkan tugas itu terbengkalai. Jika bilang bahwa tidak bisa mengerjakan tugas itu, berarti dia menghargai tugas itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s