[MFA] #28 – Dekatnya Allah dan Berdo’a Kepada Allah


“Dan apabila Hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala Perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Aku itu Dekat

Pada kalimat “Dan apabila Hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku…”  Allah menggunakan kata ‘annii’ atau Aku, tidak menggunakan kata Allah. Hal ini memperlihatkan bentuk kedekatan yang tidak biasa, Allah sangat senang ketika ada hamba-Nya yang bertanya tentang-Nya sehingga Allah sendiri yang mendekatkan diri kepada hamba-Nya. Allah ingin lebih dekat dengan hamba-Nya.

Makna kalimat pertama ini bukan “Jika hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad Saw) tentang Aku maka katakanlah kepada mereka bahwa Aku itu dekat” tapi seolah Allah tidak ingin menyampaikan kata-kata-Nya kepada Rasul dulu, Allah ingin langsung mengatakan kepada hamba-Nya yang bertanya tentangNya “Aku itu Dekat”. Allah sendiri yang berbicara langsung pada hamba-Nya. Allah menunjukkan kehendak-Nya untuk berhubungan dengan kita secara langsung. Seolah Allah ingin menjelaskan “kamu tak perlu menunggu jawaban dari Rasulmu, Aku itu dekat.” Masyaa Allah.

Menjiwai Do’a

Kemudian Allah melanjutkan ayat-Nya, hubungan langsung dengan-Nya, yaitu dengan berdo’a. Saat berdo’a, kita harus bicara langsung dengan Allah, bukan sekedar membaca tapi kita harus menjiwai do’a itu seakan kita sedang berbincang dengan Allah, dalam bahasa apapun yang penting kita paham dan bisa menjiwai do’a-do’a kita.

 ‘Ujiibu’ Aku langsung mengabulkan do’a, Aku akan kabulkan. Do’a siapakah yang Allah kabulkan? para Imam, Qor’i, orang alim saja? Bagaimana dengan mereka orang yang sangat kacau dan diliputi banyak dosa? Maka Allah menjelaskan ‘Da’wataddaa’i’, yaitu orang yang berdo’a. Bukan hanya orang yang beriman saja, bukan muslim atau alim saja, tapi Allah hanya mengatakan “permohonan orang yang berdo’a”. Siapapun yang berdo’a, maka merekalah orang yang berdo’a, merekalah orang yang dimaksud Allah dalam ayat ini. Dengan ungkapan ini jelaslah Allah membuka kesempatan kepada siapapun (universal) untuk merasa dekat dan berdo’a kepadaNya. Allah tidak memberi persyaratan apapun, yang penting berdo’a saja, maka berdo’alah.

Analoginya: Semakin tinggi jabatan seseorang semakin penting dan biasanya semakin sibuk, kemudian seseorang itu biasanya tidak mengenali orang-orang di sekitarnya. Jika ada orang lain yang meminta bantuan darinya ia akan menimbang tingkat prioritasnya, jika tinggi maka ia dengarkan jika jauh dan rendah maka ia tinggalkan. Jadi reaksi dan sifatnya adalah pertama ia tidak kenal, kedua permohonan yang sampai kepadanya belum tentu diterima.

Tapi Allah tidak seperti itu, adakah yang lebih tinggi, yang lebih penting dan berkuasa daripada Allah? Allah mengenali kita satu persatu, tahu masalah kita, Allah menghargai siapa kita. Allah tidak bilang ‘Aku mengabulkan permohonan siapapun yang berdo’a” bukan, tapi  sekali lagi “orang yang berdo’a”. Memang apa bedanya? Kata siapapun itu menunjukan kalau Allah tidak mengenal, ada ketidaktahuan dari kata tanya tersebut, ya, dari kata tanya siapa. Tapi dengan kata orang Allah mengenal dengan jelas, lebih pasti tentang orang yang berdo’a kepadaNya. Allah mengenal kita, mengetahui apa yang kita hadapi dan apa yang kita minta. Seolah Allah ingin memberitahu kalau kamu seperti orang yang spesial untuk Allah. Begitu spesial sehingga Allah bisa membedakanmu dari miliaran orang yang berdo’a kepadaNya.

Jangan berpikir, “Kapan ya Allah mendengar do’a saya, mengabulkan do’a saya? Allah kan mengatur alam semesta, yang jauh lebih besar dariku.” Semakin penting seseorang maka semakin sulit untuk dijumpai dan dihubungi. Maka bagaimana dengan Allah? Kira-kira kapan Allah bisa dihubungi? Kata Allah ‘idzaa da’aan’ yang artinya kapanpun dia meminta, siang malam, Allah selalu ada, akan selalu ada, akan selalu siap untukmu.

Taatilah Allah, Bersabarlah, Jaga Keimananmu Ketika Kau Berdo’a KepadaNya

Kata Allah ‘Falyastajiibuulii’ Dan penuhi permintaanKu, perintahKu. Allah seperti mengatakan “Silahkan kamu berdo’a kapapun, Aku pasti kabulkan kapanpun Aku mau tapi kamu juga setidaknya berusaha memenuhi perintahKu juga. Allah mengatakan ‘falyastajibuulii’ bukan ‘falyujibuli’ yang artinya HARUS menjalani dan memenuhi perintahKu, tapi BERUSAHA, disinilah kelembutan Allah pada hamba-hambaNya. Seolah Allah juga memohon dengan lembut agar kita mau berusaha, memohon dengan penuh cinta. Maka tunjukanlah usaha kita, Allah ingin melihat usaha kita, dan berusaha untuk melaksanakan dan memenuhi perintahNya, Allah tidak meminta banyak dari kita.

‘Falyu’minu bii’ yang artinya hendaklah mereka percaya kepadaKu, yakin. Mengapa? bukankah orang yang berdo’a kepada Allah itu percaya dan yakin kepadaNya? apa maksud kata ini? karena Allah tahu ketika seseorang berdo’a pada Allah, kemudian belum Allah kabulkan, hal itu bisa menggoyahkan imanmu. maka Allah katakan ‘Falyu’minubii’ ‘jaga keimananmu, yakinlah, bersabarlah’

‘Aku mendengar do’amu, Aku tahu cara terbaik mengabulkannya.’

‘Aku akan mengabulkannya dengan cara yang lebih baik daripada yang kamu bayangkan, cara terbaik, cara terindah, tunggulah.’

‘Kamu meminta sesuatu yang tidak baik untukmu.’

‘Aku akan berikan yang lebih baik dari yang kamu minta’

“Kamu meminta tapi jika diberikan itu akan menyakitimu, maka Aku tahan dan Aku berikan di saat terbaik, tunggulah, percayalah, yakinlah, serahkan padaKu.’

Do’a Adalah Kunci Kebenaran Kunci Istiqomah

 ‘La’allahum yarsudun’ agar mereka selalu berada dalam kebenaran, di jalan yang benar, di jalanKu. Disini kita belajar bahwa orang yang benar-benar berdo’a, selalu berusaha berbincang dengan Allah, berhubungan dengan Allah, mereka merasa cukup bila mendapatkan kehidupan yang berada dalam kebenaran, hidup dalam bimbingan Allah. Dalam  kesadarannya ia selalu yakin dan percaya Allah selalu mendengar, selalu siap mendengarkan, selalu melihat, sehingga mereka benar-benar merasakan kehadiran Allah, hal inilah yang membuat mereka tidak akan menyimpang dalam hidupnya dan tersesat. Do’alah kunci orang agar tetap berada dalam kebenaran, agar kita tidak tersesat dalam hidup. Do’a menyelamatkanmu dari kesesatan. Rasulullah saw berkata do’a adalah inti ibadah (termasuk sholat), jantung ibadah, Al-Fatihah adalah jantung Al-Qur’an, Esensi Al-Qur’an terdapat do’a.

Berhubunganlah dengan Allah, berbicaralah padaNya dengan berdo’a kepadaNya, menyampaikan harapanMu, masalahMu, semua permohonanmu kepada Allah. Kemudian berusahalah untuk memenuhi perintahNya, dengan perbanyak membaca Al-Qur’an, menghafalnya, mempelajarinya, mengerjakannya, mengajarkannya, itulah diantara perintah-perintahNya kepadamu. Penuhilah kewajibanmu terhadap Allah, penuhilah hak Allah atasmu, yang ada padamu, maka Allah akan memenuhi janjiNya, kewajibanNya, memberikan hakmu dan menyempurnakan nikmatNya atasmu. Wallahu’alam.

Penulis:

Muhammad Ega Pratama

Link Video:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s