[MFA] #27 – Aku Ikhlas Menjadi Hamba-Mu, Ya Allah


Surat Al Fatihah adalah surat Al Qur’an yang sangat familiar bagi kaum muslimin. Mungkin surat ini adalah surat yang pertama kali diajarkan oleh para orang tua kepada anak mereka, sehingga kebanyakan anak TK pun sudah hafal di luar kepala, tentunya dengan makhroj ala anak balita, masih salah tapi membuat gemas ketika mendengarnya.

Begitu juga denganku, sejak dini orang tuaku sudah membiasakanku untuk membaca surat Al Fatihah, hingga aku sudah menghafalnya sejak di bangku TK. Tapi seiring berjalan waktu, aku merasakan bahwa ketika membaca surat ini baik saat tilawah ataupun dalam sholat, aku belum bisa menghayati surat ini. Mungkin karena saking hafalnya, aku begitu saja melewatkan setiap ayat-ayatnya, membiarkannya keluar dari mulut ini tanpa ada perasaan yang masuk ke hati. Aku merasakan bahwa surat Al Fatihah ini tak istimewa, bukan suatu yang luar biasa.

Sampai suatu saat, aku mulai penasaran degan apa yang aku rasakan ini. Tak mungkin Allah tak mengistimewakan surat ini, yang setiap hari minimal 17 kali kita baca pada setiap rakaat shalat. Surat yang ketika terlewatkan dalam satu rakaat saja, menjadi satu asbab batalnya sholat kita. Oleh karena itu, aku mulai merenungkan lagi terjemahan surat Al Fatihah, mulai membaca tafsirnya sampai streaming kajian yang membahas surat Al Fatihah yang ada di Youtube.

Saat asyik searching di youtube, aku langsung tertarik dengan salah satu kajian atau seminar lebih tepatnya, tentang surat Al Fatihah yang dibawakan oleh Ustadz Nouman Ali Khan (NAK). Hal yang paling membuatku penasaran adalah durasi seminar itu. Seminar ini berlangsung hampir tiga jam lamanya. Sempat terlintas dalam benakku, “Bahas satu surat pendek aja butuh waktu tiga jam? Apa aja emang yang dibahas?”

Untuk menjawab rasa penasaranku itu, tanpa pikir panjang aku langsung mengunduh video seminar itu dan menontonnya.

Aku sangat menikmati penjelasan Ustadz NAK mulai dari ayat pertama hingga ayat terakhir. Beliau menjelaskan setiap kata yang ada di masing-masing ayat dengan runtut dan detail. Beliau juga membawa suasana seminar menjadi santai dengan sesekali melempar joke kepada peserta seminar melalui ilustrasi atau analogi dari kandungan surat Al Fatihah yang mudah dipahami. Salah satu momen yang paling berkesan bagiku adalah ketika Ustadz Nouman Ali Khan menyampaikan tadabbur ayat kelima yang berbunyi:

Iyyakana’budu waiyyaka nasta’in

Ayat ini menjelaskan tentang hubungan antara manusia sebagai hamba (slave) dengan Allah, yang menciptakannya. Beliau menganalogikan hal tersebut layaknya hubungan seorang budak dengan majikannya (master).

Seorang budak tentunya harus patuh terhadap perintah majikannya, apapun itu. Suatu saat, majikan tersebut berkata kepada budaknya, “Wahai budakku, kamu boleh melakukan apa saja yang kamu mau, asalkan kamu tidak keluar dari pagar rumah yang telah aku buat. Kalau kamu melanggarnya maka akan ada hukuman untukmu.”

Sang budak pun setuju dan berjanji akan menepatinya. Tapi suatu saat ia bosan berada didalam pekarangan rumah dan mulai penasaran dengan kehidupan diluar pagar rumah itu. Awalnya ia hanya melangkahkan satu kakinya diluar pagar dan ia melihat majikannya yang sedang di teras rumah membiarkannya. “Ah, aman.” Kata sang budak dalam hatinya.

Ia lalu coba keluar pagar beberapa menit, lalu kembali ke pagar. Ia tengok lagi majikannya, ternyata sang majikan juga mengacuhkannya. Sampai suatu saat, sang budak pun memberanikan diri berjalan diluar pagar rumah, bahkan sambil menyapa sang majikan, mengira bahwa majikannya telah melupakan peraturan awal yang telah ia buat. Tapi alangkah sialnya dia, ketika sang majikan memanggilnya, ia baru sadar.

Ternyata selama ini sang majikan tidak begitu saja membiarkannya keluar pagar, sang majikan bahkan mencatat setiap detik setiap ia keluar pagar dalam suatu catatan. Hingga akhirnya sang majikan menunjukan catatan itu padanya, lengkap dengan konsekuensi hukuman yang harus ia terima.

Selain itu, Ustadz NAK juga mengatakan bahwa Al Qur’an bisa diringkas menjadi dua kalimat, yaitu: Pertama, Terima Allah sebagai Tuhanmu dan engkau sebagai hamba-Nya. Kedua, Al Qur’an adalah petunjuk yang hanya bermanfaat bagi mereka yang sudah bisa menerima ia sebagai hamba. That’s the point.

Sungguh beruntungnya manusia jika ia sudah ikhlas dan ridho menjadi hamba-Nya, yang mana memang ia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah semata.

Tentunya masih banyak lagi ilmu baru yang aku dapatkan malam itu. Ustad NAK dengan gamblangnya membuka rahasia arti dari setiap kata dan menjelaskan betapa sempurnanya susunan kata yang membentuk tiap ayatnya. “Luar biasa, ini baru satu surat dalam Al Qur’an, bagaimana dengan surat yang lainnya?”

Aku hanya bisa terdiam sembari mengucap tasbih kepada-Nya, kagum dengan kesempurnaan kalam-Nya. Aku juga beristighfar, menyadari bahwa umur yang telah dikaruniakan Allah kepadaku, hingga detik ini belum aku gunakan untuk lebih dekat dengan Nya. Setelah ini, aku akan bertekad akan untuk menjadi hamba yang patuh terhadap perintah ‘majikannya’ dan tentunya mencoba tak keluar ‘pagar’ yang ‘majikannya’ telah tetapkan. Insyaa Allah.

Penulis: Aldilla Mursyid Rosuli

Link Video:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s