[MFA] #20 – Alhamdulillah

Agama Islam dimulai dengan sikap positif. Bagaimana melihatnya, cukup ditampakkan melalui kata Alhamdulillah pada permulaan surat Al Fatihah. Optimisme adalah bagian dari keimanan kita. Sebaliknya ada orang yang pesimis dan suka berpikiran negatif yang selalu mempersoalkan hal yang salah.

Seperti ungkapan “Kenapa grup kita seperti ini, masjid kok seperti ini ya, bahkan pemerintah kita kok kayak gini sih?” Sampai pada teman terdekatnya kenapa jadi gak enak ya. Juga merembet pada keluarganya, sikap mereka ke aku kok seperti ini. Lalu, mengendap pada pertanyaan pribadi: Apa sih yang salah dari diriku, pekerjaanku hingga hidupku, kok kenapa harus seperti ini?

Tanpa disadari, dirinya tidak sadar saat mengucapkan itu, untuk berkata dan lantas merenungi makna sebuah kata yaitu, “ALHAMDULILLAH”. Perkataan, “Alhamdulillah” yang dalam terjemahannya disebutkan “Segala puji bagi Allah” atau pujian hanya bagi Allah, ada juga yang menyebut terima kasih Allah. Bagaimana kita memahaminya, sehingga bisa diajarkan pada anak, istri/pasangan serta mereka yang kita cintai?

Kata “Alhamdulillah” secara makna ada dua hal yaitu pujian sekaligus ditambah ucapan terima kasih kepada Allah Ta’ala. Jika terima kasih saja, seperti di Al Quran saat Nabi Musa Alaihis Salam bertemu kembali dengan Firaun yang telah pernah membesarkannya, dia hanya mengucapkan terima kasih atas perlakukannya saat kecil dan tidak memujinya. Lalu jika pujian saja, bisa terlihat saat kita ditampakkan sebuah mobil yang sesuai keinginan kita lalu merasa terpesona hingga memuji mobil itu, dan kita tidak berterima kasih pada mobil itu meskipun kita senang. Sementara Alhamdulillah itu PUJIAN ditambah TERIMA KASIH yang berasal dari kata HAMD.

Secara lengkap HAMD adalah pujian tulus dan ikhlas atas nikmat yang telah diterima DITAMBAH rasa terima kasih. Itulah makna dari kata HAMD sebagai penggalan “Alhamdulillah”. Inilah yang penting dipahami sebagai bagian dari arti Alhamdulillah. Sebagai contoh seorang polisi menyetopku, aku pun tahu dan merasa bersalah hingga ketika berpapasan dengannya dibilang bahwa Bapak Polisi yang baik… dst. Aku memuji dia, tapi aku tidak memujinya karena dia punya seragam yang keren, tapi aku memujinya karena tidak ingin membuat masalah dengannya. Jadi aku saat itu, memujinya, tapi tidak memuji dengan pujian yang tulus dan ikhlas, tapi ada terselip maksud lain.

Contoh lain, misalkan seorang suami akan pulang jam 6 petang. Tapi ternyata datangnya jam 8.30 malam. Saat akan menjumpai istrinya, tampak seperti ada asap mengepul di atas kepala istrinya. Lalu suami spontan bilang bahwa kamu cantik sekali sayang. Aku memuji istriku tapi, hmm.. meskipun itu sulit dipercaya aku mengatakan hal itu, tapi memang ada maksud tersembunyi yang tidak tulus dari pengucapan itu, begitulah sejujurnya.

Jadi jelas ada sebuah kebutuhan bahwa pengucapan pujian itu harus tulus dan ikhlas sehingga diterima atas pujian yang diucapkannya itu. Disinilah, pentingnya ada ungkapan TERIMA KASIH, tidak sekedar pujian karena kata terima kasih yang melanjutkan pujian itulah tandanya keaslian pujian yang diucapkan. Disadari atau tidak jika ungkapan terima kasih itu adalah hasil sebuah REAKSI. Contoh, seperti “jika aku menolongmu, maka seorang akan bilang ‘terima kasih’”. Kita disebut bersyukur atas kebaikan lalu terucaplah kata terima kasih. Sebuah pekerjaan harus dilakukan terlebih dulu, lalu akan terjadi reaksi dengan ucapan terima kasih. Terima kasih itu sebagai tanda syukur diucapkan seseorang, bereaksi atas KEBAIKAN yang diperoleh.

Tetapi, jika dirasa tidak ada kebaikan yang diterima akibat reaksi orang terhadap kita, bisa jadi kita tidak akan serta merta mengatakan terima kasih. Karena kita tidak mengharapkannya, tidak mengetahui kebaikan yang telah dilakukannya untuk kita. Disinilah, pentingnya pemahaman ungkapan HAMD, dalam Alhamdulillah digunakan, bukan kata syukr karena kata HAMD tersebut melingkupi semua kepantasan kita menerima dengan SADAR itu semua dari Allah atas apa yang telah dilakukannya untuk kita ataupun kita TIDAK SADAR apa yang telah diberikannya untuk kebaikan kita.

Itulah bedanya HAMD dan syukr yang sama berarti pujian, di mana kata HAMD melingkupi terima kasih yang tidak terbatas pada reaksi kita saja apakah kita menyadari kebaikan atau tidak sadar adanya perolehan kebaikan yang telah kita terima. Kita tidak harus tahu saat mengucapkan Alhamdulillah, bagaimana kita harus berpikir terima kasih seperti apa yang pantas kita ucapkan pada Allah saat kita menyebutkannya. Di saat kita ucapkan, “Alhamdulillah” itu, bahkan kita mungkin tidak tahu alasan apa yang membuat kita harus mengatakan itu, tetap kita ucapkan, “Alhamdulillah” karena didasari ketulusan untuk memujinya dengan berterima kasih kepadanya.

Sanny
Bandung
12 April 2017 / 15 Rajab 1438H

Sumber : Ta’lim NAK terkait Al Fatihah di Bayyinah Institute

Tulisan ini juga diposting di sosial media yang bersangkutan https://www.facebook.com/sannysahabat/posts/1455035134538980:0

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s