[MFA] #16 – Maka Merugi


mfa16

Sekian lama kita hidup, jika kita berpikir baik-baik maka akan menemukan suatu titik dimana kebenaran sejati harus merasuk ke dalam diri. Jika kita sudah menemukan satu titik dimana kebenaran sejati sudah merasuk ke dalam diri, maka akan ada suatu titik dimana kita berpikir untuk tidak memendamnya sendirian—menganggap cukup saat hanya mengetahui dan memiliki.

Tahun-tahun pertama ingin ‘mencoba’ menjadi lebih baik adalah masa-masa yang menyenangkan dan menegangkan. Selain banyak ujian baru, ada juga hal yang menyenangkan yaitu bahagia saat melihat diri bisa menjadi lebih baik, bahagia saat bisa melihat diri lebih banyak mencari ilmu-ilmu Allah, mencari tahu berita tentang perkembangan dunia Islam dan membaca sejarah-sejarah Islam yang gemilang.

Aku melihat begitu banyak kisah yang sangat mengagumkan tentang kejayaan Islam di masa lampau, bagaimana Islam bisa membawa suatu zaman dari kegelapan menuju cahaya. Begitu bukan?  Allah terangkan dalam salah satu ayat-Nya yaitu surat al-Baqarah ayat 256. Dzulumaati ilannuur. Outsanding! Membuatku membuka mata, bagaimana caranya Islam bisa membawa kegemilangan ?

Selama berbulan-bulan, aku nyaman dengan posisi ini. Banyak datang kajian, banyak browsing ilmu Islam dan mengikuti kelompok-kelompok keilmuan kecil serta mengumpulkan buku-buku islami — yang kelak akan menjadi bekalku untuk menempuh jalan kebaikan yang baru aku tempuh ini. Sekian lama waktu berjalan, aku tahu bahwa bukan atas landasan nyamanlah seharusnya aku mempelajari Islam. Nyaman di satu titik bukanlah sifat yang sama saat bagaimana Muhammad shallahu’alayhi wa sallam menempuh perjalanannya sebagai seorang utusan Allah. Dan Allah pun tidak menghendaki itu—Allah tidak ingin atas landasan rasa-lah (waha nafsu—kenyamanan) kita menempuh jalan ber-Islam ini.

Kemudian, di masa-masa itu Allah ingin menguji kembali hamba-hamba-Nya yang senantiasa ingin kembali kepada-Nya. Aku berkumpul dengan teman-temanku, membahas tentang kerusakan zaman, baik dari segi moral, kepemimpinan hingga sistem kehidupan. Segala aspek kami dapati bahwa zaman sudah mulai melebur dengan kerusakan dan kebathilan.

Salah satu temanku kemudian menunjukkan video Nouman Ali Khan tentang surat al-‘Asr. Menarik! Penjelasan tentang ayat al-Qur’an dengan sebuah ilustrasi sederhana. Aku menonton video itu sekitar tahun 2014—ah tiga tahun yang lalu ya? Ilustrasinya juga masih sederhana, tidak se-colourful akhir-akhir ini. Tapi, kontennya benar-benar menghujam jiwa!

Kami menonton bersama, sampai mengulangnya sebanyak 3 kali agar benar-benar terpahami bagaimana penjelasan NAK tentang surat al-‘Asr ini—yang mungkin sudah tidak asing di telinga kita, iya kan?

Wal-‘ashr. Innal-insaana lafii khusr. Illallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati wa tawaashou bil-haqqi wa tawaaashou bish-shobr

Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran

Simpel? For sure! Tapi, NAK menjelaskannya dengan cara yang sangat berbeda. Sebagaimana Allah sering membuat perumpaan di dalam al-Qur’an agar manusia mudah mengerti — begitulah NAK menjelaskannya.

Sebuah perumpamaan sederhana: tenggelam, tidak sadarkan diri dan waktu menipis — yang digunakan oleh NAK untuk menjelaskan urgensi dari waktu dalam surat al-‘Asr. Kita diajak membayangkan bagaimana jadinya jika kita dalam keadaan tenggelam, tidak sadarkan diri kemudian melihat waktu semakin menipis.

Apa yang harus kita lakukan pertama kali untuk menyelamatkan diri? Ya, betul. Kita harus bangun, wake up! Lihatlah, kita tenggelam. Anggaplah tenggelam sebagai perumpamaan sederhana dari lalainya kita karena urusan dunia, atau pada titik diriku adalah nyaman dengan keadaan terus-terusan mencari ilmu. Sadar-sadar, dunia dan seisinya sedang rusak. Di segala sisi sedang dirusak. Kamu harus menjadi seseorang yang beriman kepada Allah, malaikat, kitab-Nya, Rasul-Nya, hari akhir serta Qodo dan Qodar-Nya.

Kemudian setelah bangun kita harus berenang, naik ke permukaan menyelamatkan diri. Saat aku sudah menyadari bahwa bumi sedang dirusak, yang harus aku lakukan adalah bangkit dengan mengerjakan amal sholeh. Beramal dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Dengannya akan menjaga ritme keimananku.

Dan setelah naik ke permukaan, apa yang terjadi? Ternyata diri kita masih terikat oleh rantai-rantai yang mengait pada saudara, teman-teman kita dan orang-orang di sekitar kita—yang tanpa kita sadari ternyata masih tenggelam. Kita melakukannya. Apa yang terjadi? Kita akan tertarik kembali—bersama mereka tenggelam. Lantas bagaimana ketersambungan dengan ayat berikutnya? saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.

Mengerjakan kebaikan untuk diri sendiri tidak akan berdampak secara signifikan pada perubahan lingkungan. Memendam ilmu untuk sendiri tidak akan berdampak besar pada kesiapan manusia menaati Allah secara utuh. Wajib dan harus untuk menyampaikannnya. Wajib dan harus untuk bersabar dalam melaksanakannya. Karena dalam menasehati tentang kebenaran akan ada ujian yang jika kita tidak sabar atasnya akan membuat diri kita tenggelam kembali.

Maka Merugi

Surat al-‘Asr adalah surat dimana ayatnya saling berkaitan satu sama lain. Al-Qur’an pada dasarnya berisi perintah dan aturan kehidupan seluruh manusia di muka bumi. Maka, pada surat al-‘Asr pun terdapat sebuah cerita dan perintah untuk manusia.

Padanya dijelaskan bahwa manusia sesungguhnya dalam keadaan RUGI, RUGI setiap waktunya. Rugi. Bayangkan bagaimana konsep rugi? Mengejar sebanyak-banyaknya harta, tahta dan martabat. Kemudian, di akhirat semuanya tiada bernilai. Rugi. Kemudian Allah sebutkan, bahwa syarat agar kita tidak merugi adalah 4:

  1. Beriman
  2. Mengerjakan amal sholeh
  3. Menasehati dalam kebenaran
  4. Dan menasehati dalam kesabaran

Jika salah satu dari keempat step tersebut tidak terlaksana, maka merugi, merugi dan tetap merugi.

Begitulah Allah. Sederhana bukan? Default setting kita adalah diciptakan oleh Allah, maka sudah seharusnya Allah yang kita sembah dan kita taati. Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah petunjuk hidup yang haq — benar bagi seluruh manusia di muka bumi.

Maka, masih mau merugi ? Simple. Lakukan 4 step dalam surat al-‘Asr jika tidak ingin merugi.

Wasalamu’alaikum.

Oleh: Fathiya A. Alkatab

Link video:

Advertisements

One thought on “[MFA] #16 – Maka Merugi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s