[MFA] #9 – Mengubah Hitam Menjadi Putih


mfa9

Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahirobbil ‘alamiin. Puji dan syukur kembali kita persembahkan kepada Allah SWT, Zat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Semoga dengan ampunan dan ridho-Nya, kita bisa terbebas dari belenggu api neraka. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah SAW beserta keluarganya. Mari terus berharap dan berdoa semoga Rasulullah SAW akan memberi syafa’at kepada kita di Yaumil Akhir nanti. Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin.

Saya selalu mengagumi ayat-ayat taubat yang bertebaran di berbagai tempat di dalam Al-Quran. Karena taubat adalah satu-satunya cara untuk menghapus dosa-dosa kita di dunia. Taubat adalah upaya yang paling maksimal yang bisa dilakukan seorang muslim dalam rangka untuk memohon kasih, sayang, dan ridho dari-Nya. Taubat bagaikan air yang membasuh luka yang menganga. Taubat bagaikan obat untuk ‘penyakit hati’ yang kita derita. Oleh karena itu, pada tulisan kali ini, izinkan saya berbicara tentang taubat yang dipaparkan oleh Ustadz Nouman melalui Surah Al-Furqon ayat 70.

Illa man taaba waamana wa’amilash shoolihan fa ulaaika yubaddilullohu sayyi aatihim hasanah. Wakaanallohu ghofuurur rohiim

Artinya: “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Itu merupakan isi ayat ke-70 dari Surah Al-Furqon. Dalam dua ayat sebelumnya, Allah SWT memaparkan bahwa orang-orang yang melakukan syirik kepada Allah SWT, membunuh jiwa yang diharamkan Allah SWT, dan berzina akan mendapatkan pembalasan atas dosa tersebut berupa azab pada hari kiamat nanti dan akan kekal di dalamnya. Menyambung kedua ayat tersebut, Allah SWT mengecualikan azab itu kepada orang-orang yang bertaubat kemudian beriman dan beramal sholeh.

Allah SWT dengan sifatnya yang Maha Pengampun telah menjamin kepada siapapun muslim yang mau bertobat atas segala dosa-dosanya. Bahkan apabila dosa seorang hamba bertumpuk setinggi gunungpun, Allah SWT masih tetap akan mengampuni dan menghapusnya. Tak hanya menghapus dosanya, Allah SWT juga akan mengubah dosa-dosa seorang hamba menjadi kebaikan-kebaikan yang bernilai pahala.

Mari kita berkaca pada Rasulullah SAW. Beliau adalah manusia yang paling mulia dan mendapat jaminan langsung dari Allah untuk masuk ke dalam surga. Namun, beliau di dalam kesehariannya tetap beristighfar dan bertaubat kepada Allah SWT. Apa yang beliau ajarkan kepada kita, para hamba Allah yang penuh dosa ini? Beliau mengajarkan bahwa kita sebagai manusia tidak boleh sombong dan takabbur. Kita tidak boleh menganggap diri kita hebat, mulia, dan penuh kebaikan sehingga tidak mau memohon ampun kepada Allah SWT. Sementara kita tidak pernah tahu jika setiap detik hidup kita pasti ada perbuatan yang dosa yang kita lakukan.

Taubat adalah salah satu amalan yang paling dicintai Allah SWT. Mengapa Allah SWT sangat mencintai muslim yang bertaubat? Dengan melakukan taubat, itu merupakan pertanda bahwa seorang muslim mengakui bahwa dirinya tidak pernah luput dari dosa. Taubat tidak menjadikan seorang muslim menjadi sombong dan takabbur. Taubat adalah bukti kerendah-hatian seorang hamba kepada Tuhannya.

Mari kita berbicara sedikit lebih jauh lagi tentang surga dan kaitannya dengan taubat. Sebagian besar dari kita berpikir bahwa semakin banyak amal kebaikan yang kita lakukan, maka semakin besar pula peluang kita untuk masuk ke dalam surga. Oleh karena itu, kita hanya fokus untuk mengejar dan melakukan amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Cara berpikir seperti ini memang benar, tapi kurang lengkap. Sebab, yang menentukan kita masuk ke dalam surga bukan hanya amal kebaikan saja, melainkan juga amal keburukan.

Mengapa itu bisa terjadi? Karena dosa yang kita lakukan selama hidup di dunia juga menjadi pertimbangan Allah SWT untuk menghisab kita di akhirat nanti. Dosa yang tidak dimurnikan dengan bertaubat akan terus terbawa sampai ke alam barzakh dan alam akhirat. Apabila ketika ajal menjemput kita lalu kita masih membawa dosa-dosa yang belum dimohonkan ampunannya, walaupun kita telah mengerjakan banyak sekali amal kebaikan, kita tetap akan ‘dimurnikan’ di neraka terlebih dahulu baru kemudian kita diangkat ke surga.

Dahsyatnya taubat dilukiskan dalam kisah seorang shahabiyah (sahabat Nabi dari kalangan wanita). Terkisah ada seorang shahabiyah dari Bani Ghamidiyah yang sudah menikah namun melakukan maksiat dengan berzina dengan seseorang lelaki. Ia pun menyesalinya dan bertaubat nasuha kepada Allah SWT. Ia menangis saat menghadap kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, aku sudah melakukan perbuatan yang dilarang Allah SWT (berzina) dan aku telah bertaubat kepada Allah. Saat ini, aku dalam keadaan hamil. Maka, aku mohon rajamlah aku.”

Rasulullah SAW menolak untuk merajamnya dengan alasan bahwa dia hamil sementara anak dalam kandungannya tidak berdosa. Rasulullah menyuruh si fulanah untuk kembali 9 bulan lagi. Sembilan bulan kemudian, setelah dia melahirkan anaknya, si fulanah ini datang kembali untuk meminta hukuman baginya dilaksanakan. Rasulullah SAW kembali menolaknya dengan alasan si fulanah harus menyusui anaknya setidaknya 2 tahun. Si fulanah kembali 2 tahun kemudian beserta seorang wanita yang mau memelihara anaknya. Dia kembali meminta kepada Rasulullah SAW untuk dirajam. Rasulullah SAW lalu mengabulkan permintaannya. Dikumpulkan para sahabat untuk mempersiapkan hukuman bagi si fulanah. Akhirnya, rajam pun dilaksanakan dan fulanah meninggal dunia.

Beberapa saat setelah rajam dilaksanakan, Rasulullah SAW berkata bahwa fulanah telah bertaubat dan Malaikat Jibril berbisik kepadanya bahwa fulanah sedang dalam perjalanan ke surga. Para sahabat kebingungan mengapa seorang pendosa justru diantar ke surga. Rasulullah SAW meredakan kebingungan para sahabat dengan menjelaskan bahwa ampunan Allah SWT kepada fulanah lebih besar daripada dosa yang dia lakukan. Bahkan saking besarnya ampunan itu, sisa ampunan dari taubat yang dipanjatkan wanita shahabiyah kepada Allah SWT tadi masih mampu memasukkan 70 orang madinah ke dalam surga.

Berdasarkan kisah dahsyatnya taubat di atas, maka sudah sepatutnya kita menyadari bahwa taubat yang kita lakukan adalah sebuah perbuatan mulia di sisi Allah karena dampaknya tidak hanya menghapus semua dosa yang kita lakukan, tapi juga justru mengkonversi dosa-dosa tersebut menjadi kebaikan-kebaikan bahkan pahala yang berlipat ganda. Taubat mampu mengubah yang keruh menjadi jernih, mengubah hitam menjadi putih. So, mari bertaubat.

Assalamualaykum Warahmatullohi Wabarakatuh.

Rama Ramdhani

Sumber video:

Judul Asli : Reward For Repentance

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s