[MFA] #7 – Yuk, Belajar dari Lebah!


mfa7

Saya ingin mengajak teman-teman yang membaca tulisan saya, untuk bersama-sama “melihat lebih dekat” lebah madu.

Bismillahirrahmanirrahiim…

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti ajakan #NAKIndonesia tentang membuat tulisan pendek (sharing ilmu/pengalaman dan tadabbur tentang ayat favoritmu) #myfavoriteayat

Dan saya pun langsung teringat salah satu khutbah beliau yang berjudul “Be Like The Bee”.

Dalam khutbah itu, Ust. Nouman membahas tentang ayat ini:

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.” (QS An-Nahl [16]: 68)

Kenapa lebah?

Bukankah lebah termasuk hewan yang tidak terlalu penting, kalaupun lewat seringkali ditakuti dan diusir “husssh..hussh..pait..pait” (itu yang seringkali dikatakan orang-orang). Tapi ternyata ada pesan yang ingin Allah sampaikan kepada kita melalui lebah. Dari ayat tadi terlihat bahwa Allah langsung bicara kepada lebah (“mewahyukan kepada lebah”).

Ayat ini ternyata tentang hal yang (sering) diabaikan. Bukankah kita sering mengabaikan lebah? Allah ingin kita memikirkan tentang ayat tersebut. Allah ingin kita belajar dari lebah. Allah ingin menyampaikan bahwa lebah diperintahkan secara langsung untuk membuat sarang di pegunungan, pohon, dan boleh membuat rumah yang dibuat oleh manusia.

Masya Allah karena perintah Allah membolehkan lebah membuat rumah di tempat yang dibuat manusia, maka kitapun bisa dengan mudah memperoleh madu dari peternakan-peternakan lebah. Kita bisa menikmati dan memanfaatkan madu karena Allah mengizinkannya. Alhamdullillaah…

Sejak saat itu, saya benar-benar merasa tersentuh sekaligus tertampar karena selama ini belum mempelajari Al-Qur’an dengan lebih akrab.

Bukankah ada perbedaan antara membaca Al-Qur’an hanya sepintas lalu, hanya di permukaan, dan terus membacanya, dengan yang berhenti sejenak, kemudian memikirkan tentang ayat yang dibaca, meresapi maknanya, dan merenungi tentang apa yang ingin Allah sampaikan?

Sungguh seringkali kita tidak menyempatkan diri untuk berpikir, untuk merenung, kita terlalu sibuk bahkan untuk berpikir tentang diri sendiri tidak sempat, apalagi untuk berpikir tentang apa yang dikehendaki Allah kepada kita.

Sejak mendengar khutbah ini, saya jadi selalu “memaksakan” diri untuk lebih banyak berpikir dan merenung serta menggali hikmah atas setiap peristiwa yang terjadi.

Aaah jadi teringat beberapa kejadian “kecil” bersama anak-anak di sekolah tempat saya mengajar. Merekalah yang mengajak saya untuk mengamati hal-hal “kecil” dengan lebih seksama yang seringkali terabaikan… Mereka berlari menghampiri/mengajak saya dengan mata yang berbinar-binar menunjukkan penemuan-penemuan kecil mereka.

Bu Miranti… lihat ini Bu, ada jangkrik di sini!

Bu Miranti… lihat ini Bu, aku nangkep belalang!

Bu Miranti… lihat ini Bu, kucingnya nempel terus ama aku!

Bu Miranti… lihat ini Bu, aku nemu anak burung tadi di bawah pohon itu.

Bu Miranti… lihat ini Bu, aku nemu binatang ini di kolam renang!” (Sejenis larva kumbang air)

Bu Miranti… lihat ini Bu, ada binatang segitiga warna putih, hijau, dan pink!” (Yang belakangan saya baru tahu bahwa itu adalah kutu daun dan anak-anak memberinya nama: “cici” dan “caca”)

Bu Miranti… lihat ini Bu, aku nemu kodok mati di sana, disimpen aja di lab sains ya Bu.” (Dan selanjutnya berbagai jasad binatang mati lain pun mengantri untuk dimuseumkan di lab sains)

Serta ada banyak lagi celotehan dari penemuan-penemuan kecil mereka, yang lalu dilanjutkan dengan berbagai pertanyaan untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka, berlanjut dengan obrolan seru tentang penemuan tersebut ditambah cerita imajinasi mereka, dan berakhir dengan PR yang secara tidak langsung mereka berikan pada saya.

PR itu adalah “Pesan apa yang ingin Allah sampaikan pada saya (kita) melalui makhluk-makhluk kecil tadi.

Yup, makhluk-makhluk kecil yang Allah ciptakan tentu ada banyak selain lebah. Tidak semua Allah sebutkan dalam Al-Qur’an. Tapi tentu kita meyakini bahwa setiap ciptaan-Nya, sekecil apapun, pasti tidak akan sia-sia.

Sungguh pengamatan dari setiap penemuan dan obrolan bersama anak-anak selalu menghangatkan hati dan mendorong diri ini untuk terus belajar.

Sungguh saya merasa Allah begitu sayaaang banget sama diri ini dengan ditunjukkannya hal-hal kecil sederhana tadi, seolah-olah teguran halus dari-Nya untuk lebih intens membaca ayat-ayat Nya (tidak hanya ayat-ayat Al-Qur’an tapi juga ayat-ayat semesta ciptaan-Nya di sekitar kita)

Sungguh cara seorang muslim berpikir itu berbeda dengan non-muslim. Kita bisa saja melihat hal yang sama, tapi ketika seorang muslim melihat sesuatu, maka kita memiliki kesempatan untuk berpikir dan merenung serta menghubungkan apa yang kita lihat dengan firman-Nya.

May Allah make us the people of thought, and people of reflection and people that can truly reflect on the aayat of the Quran and the profound words of His messenger SAW.” -NAK-

Miranti Banyuning Bumi

Sumber video:

—–
Tulisan ini juga diposting di sosial media yang bersangkutan:

https://www.instagram.com/p/BUlztsKl7gf/
http://bit.ly/YukBelajarDariLebah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s