[Transkrip Kartun Islami] Kenapa Muslim Berpuasa Di Bulan Ramadhan – Nouman Ali Khan

Bismillahi washsholatu wassalaam ‘alaa rosuulillaahi wa ‘alaa ‘aalihi wa shohbihi ajma’iin.

Assalaamu‘alaikum, Qur’an Weekly. Ini saudara Anda, Nouman Ali Khan. Semoga menjadi pengingat diri saya dan Anda semua pada Ramadhan yang akan datang, insya Allah Ta’ala. Saya ingin berbagi dengan Anda beberapa pemahaman dari Al Quran yang menurut saya sangat kuat.

Seperti Anda sekalian tahu, mungkin sebagian besar tahu bahwa di dalam Al Quran, seluruh pembahasan tentang Ramadhan dan puasa, sebenarnya dikemas di satu bagian kecil di surah Al-Baqarah.

Ada satu bagian yang membahas permasalahan ini secara keseluruhan dengan aspek hukum dan spiritualitas di dalamnya. Semuanya terdapat di bagian singkat ini dan tidak disebutkan di tempat lain di dalam Al Quran yang berarti sangat kuat. Saat mencari panduan dan saran sehubungan dengan bulan Ramadhan, jelas tempat yang logis untuk memulai adalah kitab Allah dan melihat ke bagian ini.

Pada bagian ini, ada beberapa ayat yang membahas beberapa poin teknis. Seperti hari apa Anda seharusnya puasa dan berapa lama? Kapan puasa dimulai dan berakhir? Jika Anda sakit dan sebagainya, hukum yang terkait dengannya.

Tapi di sisi lain, Allah Azza wa Jalla juga menyebutkan istilah “La’alla“. Saya ingin bicarakan tentang kata “La’alla” ini terlebih dahulu, lalu saya akan berbagi dengan Anda, Insya Allah, beberapa hal indah yang menurut saya menakjubkan.

Kata “La’alla” dalam bahasa Arab memiliki beberapa arti. Kata itu berarti “agar”. Allah akan berfiman tentang sesuatu dan diakhiri dengan “La’allakum“. Agar kalian semua begini dan begitu. Apa pun firman Allah, tujuannya adalah setelah kata “La’alla“.

Apa pun tuntunan Allah, seperti Allah memberi kita bulan Ramadhan, di bagian akhir memberi Ramadhan, Allah berfirman, “La’allakum.

Agar kalian semua…” lalu diselesaikan ayat tersebut. Jadi, seakan tujuan Ramadhan diberitakan.

La’alla” juga berarti “semoga”. Dengan kata lain, “Aku memberi kalian ini, semoga kalian melakukan itu.

Apa pun tuntunan Allah yang diberikan kepada kita, dalam hal ini, bulan Ramadhan. Hukum dalam berpuasa, “Aku telah memberi kalian ini, semoga kalian mendapat keuntungan dengan cara ini.

Dengan kata lain, “Aku telah memberi kalian ini untuk suatu tujuan.

Kedua, “Semoga kalian mencapai tujuan itu.

Apa pelajarannya untuk kita? Ini mengajarkan kita bahwa hanya karena Anda dan saya berpuasa, tidak berarti kita akan mencapai hasil yang ingin kita capai. Ada harapan kita akan mencapainya, tapi bukan jaminan. Kata “La’alla” mengandung arti itu. Semoga tujuan itu akan tercapai.

La’alla” juga berarti “mungkin”. Artinya, ada kemungkinan Anda akan mencapainya, tapi tidak dijamin. Tapi, karena artinya mengandung harapan, “Roja’.” Hal itu membuat kita optimis.

Di satu sisi, tak ada jaminan pada bulan Ramadhan, saat Allah ingin kita mencapai, akan kita capai. Pada saat bersamaan, ada harapan yang tertanam dalam diri kita semua.

Dalam pengantar singkat ini, izinkan saya berbagi beberapa hal. Pertama, Allah Azza wa Jalla berfirman,

Yaaa ayyuhalladziinna aamanuu kutiba ‘alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qoblikum la’allakum tattaquun.” (QS Al-Baqarah ayat ke-183)

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah ayat ke-183)

Anda menjadi lebih sadar. Anda menjadi lebih berhati-hati dan sadar. “Taqwa” dalam bahasa Arab berarti dorongan untuk melindungi diri Anda dan menjauhi masalah. Juga kata “Wiqaya” yang secara harfiah berarti perlindungan.

Seperti saat kita berkata, “Waqina adzaaban-naar.

Selain itu, doa itu sebenarnya berarti “lindungilah kami dari api neraka”.

Jadi Allah berfirman, “Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.

Semoga kalian akan memperkuat dorongan untuk melindungi diri.

Saya akan terjemahkan seperti itu dulu.

Juga, “Aku berikan puasa kepadamu agar bisa memperkuat dorongan untuk melindungi dirimu.

Maka, kemungkinannya adalah Anda akan memperkuat dorongan untuk melindungi diri. Tapi, pertanyaan yang jelas tentunya melindungi diri dari apa?

Melindungi diri dari jatuh ke dalam masalah. Melindungi diri dari mengalami kerugian, dan mengecewakan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari mengecewakan diri sendiri, Anda akan melindungi diri dari semua hal negatif ini. Untuk itulah puasa diwajibkan bagi Anda.

Dalam video pertama ini, saya ingin bicara secara singkat tentang hubungan puasa dan taqwa. Mungkin dari sudut pandang psikologis, lalu kita simpulkan. Mungkin di video lain, insya Allah saya akan berbagi beberapa pemahaman tentang puasa di bulan Ramadhan.

Jadi… Ketika Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kita untuk puasa, Itu adalah hal fisik yang Anda rasakan, seperti… Bahkan jika Anda bukan orang yang spiritual dan Anda berpuasa, Anda akan merasa haus dan lapar, itu hal fisik Anda rasakan, bukan?

Dan… Perut Anda berteriak sambil berkata, “Beri aku makan.

Kerongkongan Anda berteriak, “Beri aku makan.

Beri aku makanan dan air.

Jadi, ada pertempuran yang terjadi di dalam dirimu. Pertempuran fisik di dalam dirimu. Lalu, satu-satunya bagian lain di dalam diri Anda adalah hatimu.

Seakan hatimu adalah penguasa yang berteriak kepada perut dan kerongkonganmu, dan berkata “Kalian tahan, tidak sebelum Maghrib. Kita tak akan melanggar perintah Allah sebelum Maghrib.

Kita akan melindungi diri dari makan dan minum sampai waktu yang telah ditentukan itu.

Jadi, ada perang di dalam tubuh Anda dan hati Anda yang memegang kendali.

Hatimu takut kepada Allah dan berkata, “Tidak, kita tak akan makan-minum ini dan itu.

Saya tahu bahwa puasa lebih dari sekedar makan dan minum. Tapi saya memfokuskan kepada aspek fisik yang setidaknya dirasakan semua orang. Semua orang merasa haus dan lapar saat berpuasa.

Sekarang, saat Anda berpikir di luar itu. Saat Anda berjalan dan Anda memiliki dorongan. Pemuda berjalan dan melihat seorang wanita berlalu, mata Anda memandanginya. Anda gagal menundukkan pandangan.

Ada dorongan, seperti kerongkongan dan perut Anda. Mata Anda memiliki dorongan, ingin memandang. Ketika perut dan tenggorokanmu memiliki dorongan, hatimu berkata, “Hentikan!

Tidak! Kalian tak akan memuaskan dahaga kalian, tunggu sampai waktu yang tepat.

Saat mata Anda mengarah hal yang salah, apakah hati Anda berkuasa?

Hati Anda berkata, “Jangan tinggikan pandanganmu, lihat ke arah lain, Katakan Astaghfirullah.

Tunggu sampai Allah memberimu pilihan halal, tidak sebelum kamu menikah, tidak sebelum Jannah.

Tidak sampai nanti.

Apa yang Allah rencanakan lebih baik untuk Anda, bahkan jika Anda harus menunggunya. Meskipun dorongan untuk memuaskan dahaga sangat kuat. Bahkan jika memang begitu, Anda harus berhenti dan melindungi diri sendiri.

Itu tidak terjadi kepada sebagian dari kita. Kita tidak berhenti. Kita memandang dan merasa bersalah. Lalu, kita pergi shalat Jumat dan berkata, “Saya telah berdosa“, dan mengulanginya.

Ramadhan adalah kesempatan. Tiga puluh hari berturut-turut, hati Anda berkuasa dan tubuh Anda berserah diri. Kesadaran akan Allah hidup dan tubuh Anda berserah diri. Pada hari Jumat, saatnya spiritualitas meningkat. Tapi ada enam hari untuk melemahkannya lagi.

Tapi apa yang terjadi dengan Ramadhan? Tiga puluh hari dan Anda memenangkan pertempuran ini. Omong-omong, salah satu faktor utama yang membuat Anda kalah dalam pertempuran ini, Iblis dan tim pasukannya (syaitaan).

Saat mereka terus berbisik, “Ayo, sedikit saja!

Rasakan sedikit saja. Lihat sedikit saja. Lakukan sedikit saja.

Tidak terlalu buruk, setidaknya Anda tidak seburuk orang yang berdiri di sana.

Tapi semua ini lenyap untuk Anda di bulan Ramadhan. Jika Anda melewati tiga puluh hari proses keras seperti itu, suara hati Anda akan menjadi kuat. Dorongan di dalam diri Anda menjadi lemah. Sekarang Anda benar-benar siap melindungi diri Anda saat berada di dunia nyata.

Contoh terakhir yang saya berikan kepada Anda dan insya Allah sisanya pada sesi lain, Anda tahu polisi, pemadam kebakaran dan tentara, saat mereka melakukan pelatihan, mereka tidak memasuki gedung yang terbakar sungguhan.

Mereka awalnya pergi ke tempat pelatihan untuk program latihan. Lalu, mereka bersiap-siap untuk kejadian sungguhan. Lalu mereka pergi ke area tembak dan melakukan latihan. Sebelum menghadapi kejadian sesungguhnya. Sebelum musuh beraksi.

Sama seperti bulan Ramadhan, 30 hari Allah mengurung syaitaan. Allah memberi kita kesempatan untuk melatih diri kita untuk menjadi lebih kuat. Saat pelatihan Anda berakhir, Anda tidak akan terus berada dalam tempat pelatihan.

Polisi harus menghadapi bahaya nyata di luar. Pemadam kebakaran harus melawan api sungguhan. Begitu saja, kita harus melawan musuh nyata, syaitaan dan pengaruhnya terhadap nafsu kita. Kita harus menghadapi pertempuran itu saat latihan selesai. Itulah saat kita perlu belajar menjaga dan melindungi diri. Membuat hati kita menjadi benteng kuat agar syaitaan tidak bisa masuk.

Itulah semangat “La’allakum tattaquun.

Anda diberikan puasa agar Anda bisa melindungi diri.

Semoga Allah Azza wa Jalla membuat kita semua seseorang yang mampu melindungi diri di dalam dan luar Ramadhan. Semoga Allah Azza wa Jalla membuat pelatihan Ramadhan sesuatu yang tetap tinggal di dalam diri kita dan kita dapat mengambil semangat itu dan menjalankannya seumur hidup kita.

Barakalloohu lii wa lakum. Assalaamu ‘alaikum, Qur’an Weekly

Kami sangat berterima kasih kepada Qur’an Weekly karena mengizinkan kami menggunakan audio dari video mereka. Untuk video lainnya, silahkan kunjungi website kami.

Subtitle: NAK Indonesia
Donasi: https://kitabisa.com/nakindonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s