[MFA] #5 – Yang Perlu Engkau Lakukan Adalah Berdoa

mfa5

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى ﴿:٢٥﴾ وَيَسِّرْ لِىٓ أَمْرِى ﴿:٢٦﴾ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِى ﴿:٢٧﴾ يَفْقَهُوا قَوْلِى ﴿:٢٨﴾

Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuanku dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS Thaha: 25-28)

Ini adalah doa sapu jagad saat akan maju ujian lisan, sidang, berbicara di depan, ketemu calon mertua #ehh. Biasanya begitu kan?

Sahabat, izinkan saya sharing makna dibalik doa ini yang dibahas ustadz Nouman Ali Khan di satu kajiannya yang pernah saya tonton, ya.. Karena siapa sangka, kalau kita mengerti sebab turunnya suatu ayat Al-Qur’an, seperti kita melihat sendiri suatu tempat kejadian perkara, ada banyak pelajaran yang bisa diambil, a deeper understanding… yang tentunya kita harap supaya jangan pernah lupa. 

Ayat-ayat di atas adalah jawaban Nabi Musa (as) ketika pertama kali mendengar Allah memerintahkannya menemui Fir’aun. Kalau jadi beliau, saya yakin saya akan super galau dan mengeluhkan berbagai hal. Bukan semata karena yang harus ditemui adalah seorang penguasa dzalim dan lalim, tapi Musa (as) juga punya track record yang membuatnya berat untuk kembali ke kerajaan asalnya itu. Musa pernah membela temannya ketika berkelahi dengan seorang Bani Israil dengan sekali tinju yang ternyata mematikan, Musa pun dikejar oleh keamanan kerajaan, apalagi Musa keturunan pribumi (Mesir), Musa muda akhirnya terpaksa kabur ke negeri Madyan. Musa juga dikisahkan punya hambatan fisik karena suka gagap dan latah saat berbicara. Dan jangan lupa, Musa tetaplah anak angkat sang raja yang tentu akan menganggapnya anak tidak tahu diuntung jika berani menentangnya.

Tapi….fiyuh *hembuskan napas*.. Iman dalam hatinya, yang telah tumbuh kokoh di bawah didikan Nabi Syuaib, mengajarkannya untuk berdoa.

Ya, dari Musa pertama kita belajar, terhadap perintah Rabb kita, kita harus terima, dan tugas pertama hanyalah berdoa.

“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku..” betapa mungkin sesak dadanya oleh ragu, rasa takut, dan berkecil hati.

“dan mudahkanlah urusanku..” tapi tetap percaya di tangan Allah semua kuasa.

“dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku..” terus saja berdoa, lawan tiap ketakutan dalam dirinya.

Allah tak pernah memilih pundak yang salah. Nabi Musa punya kapasitas sebagai pemimpin yang luar biasa. Bahwa beliau tahu batas-batas dirinya, itu satu. Sekalipun beliau dipilih secara sedemikian agung oleh Allah, beliau sadar bahwa beliau tetap butuh bantuan orang lain sehingga dapat saling melengkapi dalam menjalankan misi. Yang kedua, beliau tahu potensi dan keahlian orang-orang di sekitarnya, seperti beliau tahu seseorang yang lebih pandai public speaking dan diplomasi dibanding dirinya.

Maka beliau berdoa, “dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, yaitu Harun saudaraku, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku..” (ayat 28-32)

Pada doa ini kita pun belajar, adanya orang-orang di sekeliling (bahkan bilapun kedudukannya lebih rendah) yang membuat kita sadar akan kelemahan dan batas diri adalah cara Allah mengingatkan hambaNya agar kita selalu sadar kita sungguh tak ada apa-apanya, dan Dialah Pemilik segala kesempurnaan. Bukankah ini bentuk tasbih–mensucikan Allah yang sebenarnya?

“agar kami banyak bertasbih kepadaMu, dan banyak mengingatMu.. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat keadaan kami.” (ayat 33-35)

Dan masyaa Allah, dengan segenap keyakinan pada doa-doa itu, Nabi Musa dan Nabi Harun berangkat dan mengalahkan Fir’aun beserta bala tentaranya.

Di beberapa ayat setelahnya, setelah berkisah mengingatkan betapa Allah selalu menjaganya sejak lahir dahulu, kembali Allah katakan,

“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, sungguh, kami khawatir dia akan segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas.” Allah berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (45-46)

Begitu seterusnya di ayat-ayat Surat Thaha yang sebagian besar mengisahkan perjuangan beliau berdua; ketika engkau mengadu dan berdoa kepada Allah, begitu saja lalu berangkat, Allah selalu membersamaimu, menjagamu, menguatkanmu, menolongmu. Tak perlu takutkan apapun; ular berbisa, ancaman pembunuhan, ataupun samudra yang siap menggulung.

 Allahu akbar. Begitulah dahsyatnya kekuatan doa dan jika kita terus mengingati-Nya. Inilah agungnya hikmah ayat-ayat suci-Nya yang melampaui zaman sampai ke hadapan kita, maka alangkah baiknya jika kita selalu membaca, menghafalkan, mentadabburi dan mengamalkannya. Seperti ketika sekali lagi Allah menegaskan, “pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda kekuasaan-Ku, dan janganlah kamu lalai mengingat-Ku.” Hai Musa, jangan malas berdzikir! OMG, ini seorang nabi saja masih diperingatkan, maka apakah kita patut merasa sudah cukup berdzikirnya?

 Zahrin, jangan malas berdzikir! Kamu, kamu juga jangan malas berdzikir ya!

Zahrin Afina

Sumber Video:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s