Kulwap SSS: Apakah Kamu Suami Yang Allah Gambarkan? – Nouman Ali Khan

[Edisi SSS – Sharing Santai tapi Serius]

Judul: Are You The Husband That Allah Describe
Sumber video: Lecture Nouman Ali Khan

Pengisi Kulwap: Bang Syafiq
Tanggal: 22 Maret 2017

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Innal hamda lillah, wassholaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillah, ‘amma ba’du.

Alhamdulillah, di sore yang penuh kejutan ini, kita kembali berkumpul untuk sama-sama menggali ilmu, belajar, dan memantapkan ilmu yang sudah ada, sebagai bekal kita menjalani kehidupan.

Sebelum kita mulai materi, mari sama-sama mengucap lafaz basmalah. Bismillahirrohmaanirrohiim.

Judul materi kali ini adalah “Are you the husband that Allah describe?

Lebih kurang artinya, “Lo udah jadi suami sesuai pesenan Allah apa belom?

Ustadz memulai khutbah ini dengan membacakan sepenggal ayat dari surah An Nisa ayat 34 yaitu: “Ar-Rijaalu qowwaamuuna ‘alannissa.

Kata qowwam di situ, memiliki banyak makna dan implikasi terhadap posisi, tugas, dan tanggung jawab sebagai laki-laki.

Qawwam, mempunyai akar kata yang sama dengan qiyam yang berarti berdiri. Yang artinya, laki-laki itu harus bisa melindungi ketika wanitanya disakiti atau dihina. Tapi qawwam ini memiliki makna yang sangat luas…

Qawwam juga memiliki akar kata yang sama dengan salah satu asma Allah dalam ayat kursi, “Al Qayyuum”, yang menandakan bahwa kata ini bukan kata sembarangan. Kata ini menjadi kata yang suci dan agung karena berhubungan dengan salah satu asma Allah.

Makna Qawwam

Menurut Ustadz Nouman Ali Khan, ada 4 makna atau implikasi dari kata qawwaam

1. Aktif

Qiyam secara bahasa artinya berdiri, tapi bukan hanya sekedar berdiri. Karena berdiri di sini maksudnya ada implikasi juga berupa “aktif melakukan sesuatu”. Jadi bukan hanya berdiri tegak mematung, tapi berdiri yang diiringi aktifitas. Apa maksudnya?

Kita harus secara aktif membangun keluarga. Maksudnya adalah bahwa dalam rumah tangga, seorang suami itu harus aktif. Menjalani rumah tangga tidak bisa auto pilot (otomatis serba ada dan sempurna). Kita harus berusaha secara aktif terlibat dalam membangun rumah tangga.

Sebagaimana cinta yang tidak selamanya akan terus ada. Akan ada masa dimana rasanya kesal dengan pasangan, masa di mana malas melihat pasangan, dan masa dimana rasanya dunia cuma milik berdua. Kita harus secara aktif membangun keluarga.

Lihat istri kita, perhatikan anak kita, penuhi kebutuhannya, penuhi hak batinnya, berikan perhatian, ajak mengobrol, sesekali ajak bermesraan, sesekali digombal-gombalinin, sikap tersebut bagian dari menstabilkan perasaan dan menumbuhkan cinta terhadap pasangan.

Jadi tidak bisa dalam membangun rumah tangga kita hanya kerja, pulang, makan, tidur, bangun, kerja, pulang, makan, tidur. Itu berarti kita sudah menzalimi istri, dan melalaikan kewajiban kita terhadap keluarga.

2. Menunjukan komitmen

Makna kedua atau implikasi kedua dari kata qawwaam adalah untuk menunjukkan komitmen.

Lihat bagaimana Allah menggunakan kata ini di surah Al Kahfi ketika para pemuda itu diceritakan,
idz qoomuu fa qooluu robbunaa robbussamaawaati wal ardh…” (18:14)

Mereka tetap berazzam, berkomitmen untuk mengakui bahwa Allah itu satu, ketika semua orang di sekitarnya mengakui ada beberapa Tuhan. Mereka tahu ada konsekuensi buruk atas pilihan mreka, tetapi tetap berkomitmen.

3. Konsisten

Ada lagi satu makna lain dari kata qawwaam, yaitu konsistensi. Sebagaimana tiang yang tidak boleh bergerak, dinding boleh disekat, kursi boleh bergeser, tapi tiang akan tetap di situ. Dialah yang jadi penopang, harus kokoh, harus kuat, dan konsisten menopang rumah.

Seperti itu pula diharapkan seorang laki-laki. Dia harus kuat, kokoh, dan konsisten melindungi keluarganya. Dia tidak boleh plin-plan. Hari ini bilang A, besok bilang B. Hari ini A boleh, besok tidak boleh. Konsisten. Seorang suami harus konsisten.

4. Memberikan nilai

Makna keempat dari kata qawwaam yaitu giving value, atau memberikan nilai. Maksudnya, seorang lelaki, haruslah menjadi orang yang pertama membuat istrinya merasa spesial jika di dekatnya. Jangan malah sebaliknya, istri malah malas dekat suami. Mungkin karena merasa jelek, jadi minder, gugup, atau apapun. Kita harus menjadi orang pertama yang memujinya. Buat istri kita berharga.

Empat poin tersebut adalah konsekuensi/amanah dari ayat ini, bukan hanya terhadap pasangan, karena ayatnya menyebutkan ar rijaal dan an nisaa’a, walaupun di ayat-ayat selanjutnya spesifik tentang pasangan.

Artinya apa?

Artinya ini juga berlaku kepada adik, ibu, kakak, dan perempuan-perempuan lainnya di rumah kita atau yang berhubungan dengan kita. Nah, kenapa isu ini jadi penting?

Karena ada banyak kejadian, terutama dari pihak istri, yang merasa sangat dizalimi, ketika sudah menikah. Suaminya lebih memilih ibunya lah, suaminya tidak perhatian lah, suaminya terlalu sibuk lah, suaminya tidak kasih nafkahlah, suaminya apa lagi? Banyak kan isu pasangan itu. Yang udah nikah pasti paham…

Maka, kita perlu mengenal kembali, perlu mempelajari, dan perlu memperbaiki sikap kita terutama terhadap istri…

Padahal kita punya 4 tuntutan tadi terhadap istri kita. Quran mengajarkan, bahwa secara prinsip, ketika kau menikah, maka itu artinya kau mengambil semua kewajiban yang selama ini adalah tanggung jawab ayahnya, dan sekarang jadi tanggung jawabmu. Di sisi lain, kewajibanmu terhadap orang tua sebagai laki-laki, tetap tidak boleh lepas. Yang Quran ajarkan adalah, tetap adil kepada keduanya.

Ingat, istrimu bukan babumu, bukan pembantumu, dan dia tidak ada kewajiban sedikitpun, sekali lagi, dia tidak ada kewajiban sedikitpun untuk mengurusi ibu kita atau ayah kita.

Ada kondisi di mana orang lebih memperhatikan orang tua sampai melupakan istri. Di sisi lain, ada kondisi di mana orang lebih memperhatikan istri daripada orang tua. Hal tersebut tidak tepat. Tentunya harus menjaga keseimbangan akan hak tersebut. Dan itu bagian dari qawwaam kita terhadap istri, dan juga bagian qawwaam kita terhadap ibu.

Macam Kezaliman

Nah terkait dengan bentuk kezaliman, ada 3 macam bentuk kezaliman yang teramat sangat sangat fatal yang jangan sampai ini terjadi…

1. Kejahatan fisik

Baik itu berupa memukul, menampar, mencederai, membuat jadi cacat, melukai, apalagi sampai membunuh.

Kejahatan fisik sangat diluar batas toleransi. Bahkan Rasulullah sendiri mengancam, “Laa tadhribuu imaa Allah,” jangan sekali kali kamu memukul hamba perempuannya Allah.

Apa maksudnya? Sama seperti kalau kita merusak barang orang, tentu orang itu akan marah. Maka begitu pula Allah, berani berbuat kasar dengan dengan hamba perempuan Allah, jangan main-main, Allah yang akan membalas.

2. Kezaliman emosional

Ini yang tidak keliatan, tapi jauh lebih membekas di hati.

Kezaliman emosional ini bisa berupa kata-kata kasar, ataupun malah dari tatapan, cara menjawab, dari langkah, gesture tubuh, nafas, dan lainnya.

Salah satu bentuk lain dari kezaliman emosi adalah hilangnya trust. Hilangnya rasa saling percaya antar pasangan.

That’s the ultimate form of emotional abuse. Apalah arti rumah tangga tanpa percaya. Apalah arti keluarga jika sudah tak saling percaya. Hati-hati dengan sikap kita.

3. Kejahatan spiritual

Ini yang paling parah, walaupun kelihatannya sepele. Kejahatan spiritual adalah ketika kau mencari pembenaran atas kesalahan yang kau buat, lewat dalil-dalil agama.

Misal tadi itu, kau merasa berhak 100% mengurus ibumu, lalu dengan dalih bahwa kau harus berbakti kepada orang tua, lantas kemudian kau boleh menelantarkan istrimu.

Tidak boleh! Itu sama saja dengan kita menjual agama Allah, kita menjual ayat-ayat Allah, dan ini lebih bahaya dari sekedar kejahatan fisik.

Ketiga hal itu adalah bentuk kezaliman terhadap pasangan…

Dan kita sebagai suami, harus melindungi istri kita terhadap 3 hal tersebut, termasuk yang penyebabnya dari kita sendiri…

Jangan mengira, ayat arrijaalu qawwaamuuna ‘alannisaa itu adalah ayat pembenaran untuk berbuat semena-mena terhdap perempuan/pasangan.

Sering kan kita dengar? Atau bahkan mungkin ada yang sudah pernah menggunakan saat lagi marahan sama istrinya, kemudian bilang, “arrijaalu qawwaamuuna ‘alannisaa” seolah-olah kemudian istri kita menjadi budak yang tidak punya hak apa-apa.

No… no… no… That’s not how it works guys… Itu sendiri sebenernya sudah bentuk dari spiritual abuse. Menggunakan ayat Allah atas pembenaran kelakuan kita.

Pertama, kata qawwam tidak ada hubungannya dengan kekuasaan atau kepemilikan, maknanya ada di 4 hal tadi. Maka apa dasarmu untuk mengatakan bahwa kau berhak berbuat apa saja terhadap pasanganmu?

Dan hal terakhir yang sangat penting dan bahkan sering terlupakan oleh kita, bahwa qawwamm juga bermakna menjadi pengarah, pembimbing, mentor, coach bagi pasangan kita.

Maka, it’s embeded. Bahwa seorang suami itu harus mengarahkan, membimbing, dan menuntun istrinya ke jalan yang benar. Juga termasuk di dalamnya menjadi penuntun dan pembuka jalan agar istri bisa mencapai cita-citanya, atau harapan-harapannya, bukannya malah jadi penghalang bagi mereka. Tentu dengan catatan, bahwa cita-cita dan harapan mereka itu tidak bertentangan dengan syariat…

Sebagai penutup, saya melanjutkan pesan ustadz Nouman Ali Khan di video ini juga, bahwa khutbah ini tidak diberikan untuk lantas kemudian para istri bisa memberitahu suami mereka, “Mas, kamu harus nonton video ini.

Tidak, sekali-kali tidak.

Khutbah ini diberikan agar setiap insan dapat saling berintrospeksi dirinya masing-masing, agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik…

Mudah-mudahan kita semua mampu menjadi pasangan dan suami yang hebat, yang di ridhai Allah, yang dicintai kluarga, dan disayangi istri…

Dan buat para calon suami, beruntunglah kalian punya bekal ini sekarang. Mudah-mudahan kalian bisa terus berbenah sebalum jodoh kalian datang.

Mari kita jadikan diri sebagai pribadi terbaik bagi keluarga. Sebagaimana pesan Rasulullah, “sebaik baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik dalam bersikap dalam keluarga”.

Rasulullah tidak bilang di situ bahwa bersikap baik itu hanya kepada keluarga yang kondisinya baik. Bahkan separah apapun kondisi keluargamu, kau harus tetap berbuat yang terbaik kepada mereka.

Mohon maaf atas segala kesalahan dalam penyampaian.

Allahummaghfirlii…

SESI DISKUSI

Teh Elma:

Mau sharing tulisan yang nyambung dengan ini. Tapi konteksnya ayah. Boleh?

https://elmafitria.wordpress.com/2017/03/02/5-amanah-ayah-sang-pemimpin-keluarga/

Dulu suami pernah ngisi kulwap, diminta sharing, dari wisdom sendiri dan proses berguru. Itu saya tulis materinya di blog sendiri. Berhubung suami jarang nyimpen tulisannya sendiri 😅.

Secara sederhana dapat kita simpulkan bawah dalam Pendidikan Keluarga di Rumah (Home Education), peran ayah adalah:

1. Membimbing Istri dalam Menyempurnakan Misi Hidupnya. Seorang suami harus mengenal sifat dan potensi istrinya dan memahami apa sebenarnya peran dan misi hidup istrinya baik sebagai istri/ibu/wanita/manusia. Setelah itu, lakukanlah apapun yang bisa dilakukan untuk mendukung istri menyempurnakan peran dan misi hidupnya.

2. Memandu Anak menuju Masa Depannya. Seorang ayah juga adalah pendidik dan pelatih bagi anak-anaknya. Ia harus mengenali anak-anaknya dan mampu membantu anaknya tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa yang siap menjalani hidupnya di masa depan sesuai jalan hidup yang Allah berikan bagi masing-masing anaknya. Ayah harus mampu menjadi teman bermain bagi anak-anaknya, namun juga mampu melatih anaknya memasuki masa aqil baligh dengan baik untuk akhirnya menjadi manusia dewasa yang matang dan mandiri.

3. Seorang ayah adalah ulama, murobbi, dan da’i di tengah keluarga, baik itu keluarga inti maupun keluarga besar. Ayah lah yang harus paling bersungguh-sungguh untuk memahami ilmu agama. Paling bersungguh-sungguh mengenal dan menaati Allah. Begitu juga dalam mengenal Rasulullah dan mencontoh Sunnah-sunnahnya. Ayah adalah pendidik, pembina, dan juga role model/teladan dalam hal ini.

4. Seorang ayah adalah teladan. Dalam aktivitasnya mencari nafkah, seorang ayah akan mencontohkan ketekunan, kesungguhan, kerja keras, serta kejujuran. Ayah mencontohkan pada anak-anaknya bagaimana menjadi manusia dewasa yang produktif dan mandiri. Istri dan anak-anak pun akan melihat bagaimana cara hidup bermasyarakat dan menjadi bagian dari suatu lembaga yang lebih besar seperti komunitas, lembaga, perusahaan, dan lain sebagainya.

5. Seorang ayah adalah pemelihara, pendukung, dan pelayan keluarga. Proses pendidikan dalam keluarga tentu membutuhkan sistem pendukung yang bisa menyediakan sumber daya, situasi, media, alat atau apapun yang dibutuhkan untuk memastikan proses berjalan optimal. Dibutuhkan totalitas ayah untuk bisa menyediakan apapun yang dibutuhkan dalam proses pendidikan di rumah.

Dalam kaitannya dengan poin di atas, ayah adalah mentor, coach, atau fasilitator dalam proses mengembangkan hidup istri untuk mewujudkan misi hidupnya, serta membimbing anak-anak menuju masa depan mereka masing-masing.

Nyambung juga dengan ini:

Tugas suami sebagai qawwam, salah satunya komitmen membimbing istri menyempurnakan misi hidupnya, terutama dalam fitrah sebagai perempuan.

Almaw:

Sebelum baca ini, saya jujur tidak suka dengan ayat ini karena banyak yang menjual agama untuk pembenaran kalau laki-laki itu seolah bisa seenaknya dengan istri. Seolah tidak ada ruang untuk berekspresi bagi perempuan tanpa seizin suami. Kesan yang saya tangkap begitu. 😓

Kalau soal per-ayah an, saya sudah ada di fase “tiap org berbeda masanya, jadi saya yang harus berusaha memaklumi bila orangtua saya belum bisa memenuhi kebutuhan saya yang A, B, C, terutama kalau alasannya karena sulit komunikasi”

Teh Elma:

Kalau kaitannya dengan ayah kita sendiri, memang kita bisa ada di fase “menerima, memaafkan, memaklumi,mendoakan, dan berbakti sebaik-baiknya” 😬

Bang Syafiq:

Karena memang pernikahan adalah sebuah perjalanan yang perlu diperjuangkan bersama.. bukan salah satu dari kita.. pernikahan adalah kumpulan ujian tiada henti, karena kita ingin bersama pasangan kita hingga ke syurga…

Ini yang sering saya nasehatkan pada diri saya sendiri.. boleh marah, boleh kecewa tapi saling menasehati itu perlu, menerima kekurangan itu harus..

Cuma ya kondisi tiap keluarga kadang berbeda-beda. Kuncinya adalah:

1. Belajar… belajar… dan belajar…

Membekali diri itu perlu. Dan belajar itu bukan cuma biar sekedar tau, tapi memang untuk di amalkan…

2. Sadari bahwa ini amanah Allah…

Kita masih suka terbawa dengan adat dan kebiasaan. Memang tidak salah sih selama tidak bentrok dengan syariat. Tapi intinya adalah kita sadar, bahwa wa kalimatullahi hiyal ‘ulyaa… kalimat Allah itu yang paling tinggi. Maka mudah-mudahan bisa semangat dan ikhlas dalam menjalaninya

Saya juga kadang masih sering terbawa emosi. Untuk menenangkan diri, saya sering berkata seperti ini dalam hati. “Dia tu gak sempurna sebagaimana kamupun pasti tidak sempurna di mata dia… jadi sudahlah… Kesalahannya bukan urusan pokok, maafin… maafin… maafin…

Biasanya tidak lama kemudian mulai adem 😊

Saya itu tipikalnya kalau marah diam seribu bahasa. Karena saya sadar, sangat sadar, kalau sudah lepas, mulut saya sangat jahat dan tidak terkendali. Jadi saya tahan aja. Mending saya diam seribu bahasa, daripada ngomong sepatah yang ditunggu-tunggu oleh iblis.

Nifah:

Iya, itu ego. Makanya cara penyelesaiannya yaitu duduk bareng, di tanya kenapa, dan mintaa maaf. Udah itu baikan lagi.

Wahyu:

Ini versi yang bahas dari sisi wanita juga. Lanjutan “arrijalun qawwamuna ala nisaa“😂

Link:

Irfan Habibie:

Penekanan penting dari ustadz Nouman Ali Khan menurut saya adalah soal hak dan kewajiban. Memang mungkin ada kelebihan laki-laki atas perempuan, tapi kewajibannya juga banyak.

Keluarga bisa jalan kalau masing-masing berusaha memenuhi kewajibannya, kalau sudah seperti itu, nanti haknya akan datang sendiri. Kekacauan keluarga, mungkin juga organisasi atau bangsa, kalau sudah saling menuntut hak.

Kalau menurut buku Bu Erma gaji suami hak suami. Prinsip uang suami uang istri, uang istri bukan uang suami itu keliru menurut beliau. Tapi ada kewajiban suami menafkahi istri.

PENUTUP

Jazakumullah khairan katsir atas partisipasi aktif teman-teman semua. Mudah-mudahan banyak ilmu baru yang didapat 😊😊

Mari tutup dengan lafaz hamdalah…Alhamdulillah…

Istighfar… Astaghfirullahal’adziim…3x

Dan do’a kafaratul majlis… SubhanakAllahumma wa bi hamdika, asyhadu an laailaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik… Wassalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s