[Transkrip Subtitle Indonesia] Perang Antara Hati Dan Logika – Nouman Ali Khan

Terjemah Qur’an Indonesia: Kementerian Agama RI || QS. Al Baqarah ayat 73-74

73. “Lalu Kami berfirman, ‘Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu. Demikianlah, Allah menghidupkan (orang) yang telah mati dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti.”

74. “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Pertama, Allah berfirman, Dia menunjukkan ayat (keajaiban) sehingga kamu bisa mengerti. Tentu saja, ‘mengerti’ itu untuk sesuatu yang tampak. Berkenaan dengan pengetahuan. Lalu segera setelahnya, Allah berfirman,

Tsumma qosat quluubukum.” (QS Al Baqarah ayat 74)

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras.

Siang ini, saya menyebutkan bahwa ada dua pembagian di sini. Ada, Hati kita dan Logika kita. Pertama, Allah bertanya, “Mengapa Engkau tidak berpikir?

Yang mana itu adalah bagian Logika.

Segera setelahnya Dia berfirman, “Ada alasan kamu tidak bisa berpikir jernih.

Bukan karena kamu masih kurang ilmu. Kesulitanmu yang sebenarnya,
ialah masalah dalam Hatimu (spiritual).

Hatimu menjadi keras.

Tsumma qosat quluubukum.” (QS Al Baqarah ayat 74)

Jadi, Hati dan Logika telah disebutkan. Ada hubungan yang utuh antar keduanya. Antara Logika, dan Hati. Bahasa Arab dalam Al Qur’an membantu kita memahami beberapa kerumitan dalam hubungan tersebut.

Kata “‘aql” secara harfiah berarti mengikat, “‘aqola,” mengikat sesuatu. Seperti, “‘Aqalatil mar atu sya’ra a.

Artinya, seorang wanita mengikat rambutnya. Seorang wanita mengikat rambutnya. “‘Iqol,” adalah tali, yang biasa dipakai orang Arab di atas kepala.

Pernah melihat orang Arab yang memakai selendang panjang, dan karet dilingkarkan diatasnya? Pada aslinya itu bukan karet, tetapi sebuah tali. Tali itu dipakai di sana bukan agar selendang tidak terbang, tetapi karena saat dilepas, dipakai untuk untanya. Dia mengikat unta dengan talinya. Tali, sebagai sarana pengendalian.

“‘Aql” secara harfiah berarti sarana, Logika ditujukan sebagai sarana pengendalian. Tali pengikat. Mengapa? Karena emosimu ingin kamu melakukan sesuatu. Godaan dan perasaanmu, ingin kamu melakukan sesuatu. Tetapi kamu menahan dirimu saat menggunakan pengetahuanmu.

Yang juga kita pelajari adalah saat kamu sangat marah, kamu bisa berpikir jernih. Saat emosi meninggi, Kamu bisa berpikir jernih. Saat kamu sangat sedih, sangat marah, sangat takut, emosi apapun yang meninggi, pikiranmu tidak berjalan. Kamu tidak berpikir dengan benar.

“‘Aql” adalah sarana pengendalian. Dengan kata lain, bagi orang Arab, hingga kamu bisa mengendalikan emosi, – emosi bagi orang Arab, apakah di Logika atau Hati? Di Hati. –

Hingga Hatimu terkendali, kamu tidak bisa berpikir dengan baik. Logika kita memproses beberapa hal. Kita berhitung dengan Logika. Kita beranalisis dengan Logika. Kita memahami sesuatu dengan Logika kita. Kita menghafal, belajar, hal serupa itu, kita melakukannya dengan Logika. Logika kita berkembang terus-menerus.

Dengan kata lain, Logika seorang anak umur 4 tahun, tidak sama majunya daripada saat dia 6, 7, 8, atau 10 tahun. Logikanya akan lebih, dan lebih berkembang lagi, dan saat dia berumur 20 tahun, maka Logikanya sudah matang. Saat dia berumur 30 atau 40 tahun, Logikanya akan lebih matang lagi. Untuk Logika, ia akan selalu berkembang dan mendewasa. Belajar terus-menerus, memahami hal-hal baru.

Lain halnya dengan Hati. Hati tidak mendewasa atau berkembang, dia berubah-ubah. Suatu waktu harimu sangat indah, selama terus mengingat Allah, menyadari keberadaan-Nya, dan suatu waktu bisa sangat buruk. Emosi Hatimu naik-turun. Hati bisa menjadi keras, bisa juga lembut. Hati bisa mati, bisa juga hidup, dan seterusnya.

Jadi, di satu sisi kamu memiliki sesuatu yang bisa berkembang. Dan di sisi lain, kamu memiliki hal yang mudah berubah dalam dirimu. Sesuatu yang rapuh. Itulah Hati kita. Kita harus menjaga Hati kita ini.

Dengan kata lain, kamu tahu, kadang seorang khatib Jum’at akan berkhutbah tentang tema yang sudah kamu dengar berkali-kali?

Dan yang akan kamu pikirkan pertama kali adalah,

Saya sudah tahu yang ini.

Saya tidak perlu mendengarkan ini lagi.

“‘Kan Saya sudah tahu.

Saat kamu tahu hal yang sama muncul lagi, Logikamu akan mengerti, tetapi siapa yang membutuhkannya? Hati-lah yang masih membutuhkannya.Hati masih butuh diingatkan.

Alaaa bidzikrillaahi tathma’innul-quluub.” (QS Ar Ra’d ayat 28)

Fa dzakkir in nafa’tidz dzikroo.” (QS Al A’la ayat 9)

Peringatan itu memiliki manfaat, yaitu manfaat untuk Hati.

Sekarang, masalahnya adalah penggambaran dari Al Quran tentang psikologi (jiwa) manusia. Saat kita memutuskan sesuatu, apakah itu datang dari Logika, ataukah dari Hati? Ini, pertanyaan fiosofis yang sangat menarik. Bagaimana kita membuat keputusan?

Dan jawaban untuk itu sebenarnya adalah gabungan kedua hal itu, tetapi Hati-lah yang memegang kemudi. Hati itu sebenarnya yang memimpin, selama, gambaran dari Al Quran tentang ini yang sedang dibicarakan.

Baik. Sekarang, Allah menyebutkan, “Hati mereka menjadi keras.

Contoh yang ingin saya berikan. Allah sudah menyatakan dalam surat Al Baqarah dan di surat lainnya bahwa Bani Israil pada zaman Rasul shallallahu alaihi wa sallam termasuk orang-orang yang sangat cerdas. Mereka adalah orang-orang yang sangat pintar. Mereka paham, mereka bisa mengenali.

Lalu, pada setengah bagian di akhir surat ini, kita akan mengetahui, saat mereka bertemu Rasul, mereka mengenali Rasul seperti mereka mengenal anak mereka sendiri.

Ya’rifuunahuu kamaa ya’rifuuna abnaaa’ahum.” (QS Al Baqarah ayat 146)

Bahkan saat mereka mengubah isi Kitab (Taurat), ada satu hal, bahwa untuk mengubah isi Kitab mereka tak menyadari bahwa ini adalah Kitab Tuhan.

Itulah kenapa saya mengubahnya. Maafkan saya.

Saya tadinya tidak berpikir saya bisa demikian.

Saya pikir saya bisa mengubahnya, karena ini adalah perkataan manusia.

Allah berfirman, “Tidak.

Yuharrifuunahuu min ba’di maa aqoluuhu.” (QS Al Baqarah ayat 75)

Mereka mengubahnya bahkan setelah mereka memahaminya. Dengan kata lain, Allah memberi mereka tuntutan bahwa setelah mereka memahami (Kitab), tetapi, apa masalahnya? Tidak ada masalah apapun di sini (di bagian Logika).

Sebenarnya, dalam sebuah riwayat hadits seorang Rabbi (pemuka agama Yahudi) mengirim anaknya, untuk menemui Rasul shallallahu alaihi wa sallam.

Pergilah dan cari tahu apakah dia orang yang dijanjikan dalam Kitab kita?

Lalu ia menghabiskan waktu dengan Rasul. Ia pun pulang dan ayahnya bertanya, “Jadi apa yang kamu ketahui?

Dia berkata, “Tidak ada keraguan. Dialah orangnya.

Ya, dia adalah rasul terakhir.

Dan kedua orang itu bersumpah, “Kita bersumpah, hingga kematian datang, kita akan terus menentangnya.

Karena hati mereka tidak mau menerima. Seorang yang bukan Yahudi, putera dari Nabi Ismail ‘alahissalam, apakah mereka mau menerima hal ini?

Sehingga Allah berfirman, “Sekarang, akhirnya setelah semua ini kamu tahu, bahwa dia adalah Rasul Allah.

Kamu tahu bahwa Allah bisa menghidupkan (ciptaan-Nya) lagi, dari kematian.

Kamu tahu bahwa hanya Allah sajalah yang bisa membelah Laut Merah yang kamu seberangi itu.

Kamu tahu bahwa setelah air datang dari batu besar hanya bisa datang dari Allah.

Namun, itu adalah hal yang terlihat. Semua itu tidak masuk ke mana? Di sini (Hati). Hal itu tidak pernah masuk ke dalam hati. Bahkan setelah melihat semua itu, hal ini seharusnya meluluhkan hatimu. Bahkan setelah hal-hal ini ada, maksud saya, seperti seseorang yang mati lalu hidup lagi.

Jika kamu memiliki iman yang lemah kepada Allah, dan kamu melihat orang mati lalu hidup lagi, oleh perintah Allah, di depan matamu sendiri. Kamu pasti akan berkata, “Astaghfirullaahal ‘azhiim.

Aku akan menggunakan tiga hari terakhir bulan Ramadhan dengan lebih sungguh-sungguh.

Betul? Imanmu akan baik lagi.

Namun, Allah berfirman, “Orang-orang ini…

Bahkan setelah itu…

Min ba’di dzaalik.” (QS Al Baqarah ayat 74)

Bahkan setelah itu, hati mereka menjadi keras.

Ini bukan karena masalah kepandaian, kesulitan utama pada diri kalian ialah kalian punya masalah dalam hatimu. Hatimu menjadi keras.

Tsumma qosat quluubukum.” (QS Al Baqarah ayat 74)

Ayat sebelumnya menyebutkan, “Mengapa kamu tidak mengerti?

Mengapa kamu tidak berpikir?

Tidakkah kamu mengerti?

Ayat berikutnya menyebutkan, “Mengapa kamu tidak mengerti?

Karena hatimu sudah lama mati.

Tsumma qosat quluubukum.” (QS Al Baqarah ayat 74)

Hatimu makin mengeras.

Ia menjadi demikian karena mereka melihat orang yang mati yang hidup kembali. Jika ada sesuatu yang bisa meluluhkan hati, maka seharusnya adalah keajaiban itu. Namun, bahkan itu tidak bisa (untuk mereka). Jika hal itu tidak membuatmu mendapat hidayah, maka tidak ada lagi yang bisa memberikannya. Hatimu menjadi keras, bebal.

Min ba’di dzaalik.” (QS Al Baqarah ayat 74)

Bahkan setelah hal itu terjadi.

Fa hiya kal-hijaaroti.” (QS Al Baqarah ayat 74)

Lalu mereka menjadi seperti batu.

Au asyaddu qoswatan.

Atau menjadi lebih keras lagi. Lebih tinggi tingkat kekakuannya.

Wa inna minal-hijaaroti.” (QS Al Baqarah ayat 74)

Lamaa yatafajjaru min-hul-an-haar.” (QS Al Baqarah ayat 74)

Bahkan dari jenis-jenis batu itu, ada yang terbelah, terpecah, dan sungai mengalir, keluar dengan deras darinya. Kamu tahu, “Batu” yang akan dibahas dari ayat ini, sebenarnya tidak hanya membahas tentang batu.

Ini mengenai manusia. Tiga jenis batu yang akan disebutkan, sebenarnya adalah perumpamaan dari tiga jenis Hati. Tiga jenis Hati diperbandingkan dengan tiga jenis Batu. Untuk seseorang yang pandai, mereka tipe pemikir, ketika Al Quran dijelaskan kepada mereka, mereka langsung berpikir mengenai hal itu.

Nah, saat mereka berpikir, mereka sangat cepat menemukan kesimpulannya. Jika mereka memiliki hati yang baik, maka hal itu akan berlangsung sangat cepat.

Saat seseorang teralihkan perhatiannya pada dunia, meski ia orang baik, tetapi perhatiannya tersebar, – ia memiliki banyak sekali urusan -, Kamu tidak bisa mendapat perhatiannya hanya dengan berbicara padanya. Sesuatu perlu terjadi yang mengguncangkan dirinya, yang mana akan mendapat perhatiannya. Selain dari itu, kamu tidak akan bisa.

Sekarang yang terjadi adalah, di ayat ini Allah membicarakan tentang batu, yang terbelah begitu saja, dan sungai mengalir darinya. Ini seperti hati Abu Bakar radhiyallahu anhu.

Air dalam ayat ini adalah iman. Air adalah iman itu sendiri, keyakinan itu sendiri. Saat Quran itu dijelaskan kepadanya, air itu sudah ada banyak di dalamnya. Dia tadinya sama sekali tidak membuka celah itu. Dan apa yang terjadi? Iman ini hadir begitu saja. Tidak perlu waktu lagi untuk menerima Islam.

Jenis hati yang berikutnya. Hampir dari penafsiran yang tadi adalah contoh bagi jenis hati berikutnya. Banyak orang yang memiliki hati jenis ini. Teralihkan perhatiannya oleh banyak hal. Satu-satunya cara untuk mendapat perhatiannya adalah dengan menggertaknya.

Bagaimana Umar bin Khattab masuk Islam, kamu tahu kisahnya ‘kan? Itu adalah kejadian traumatis. Beliau memukul saudara perempuannya. Ada darah menetes dari bibir saudaranya, dan beliau kaget dengan itu. Lalu pada saat itu juga, beliau baru memperhatikan Al Quran. Pada saat itu juga. Sudahkah Al Quran ditulis atau diberikan kepadanya, pada saat ia belum memberi perhatian seperti tadi? Itu tidak akan ada pengaruhnya. Iya, ‘kan.

Lalu ada kisah lainnya mengenai Umar. Beliau juga sempat merasa terguncang. Benar-benar terguncang. Beliau bersembunyi di balik “ghilaf” Ka’bah, penutup Ka’bah, pada malam hari. Beliau tadinya ingin menyergap Rasul dan menghajarnya. Sementara Rasul sedang salat. Beliau mulai mendengarkan bacaan Rasul.

Beliau berkata, “Ini puisi yang luar biasa.

Ini indah sekali.

Rasul melantunkan bacaan,

Wa maa huwa bi qouli syaa’irin.” (QS Al Haqqah ayat 41)

Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya.

Bagaimana kamu tahu apa yang sedang aku pikirkan?

Dia pastilah seorang tukang tenung (pembaca pikiran).

Wa maa huwa bi qouli kaahiniin.

Qoliilam maa tadzakkaruun.

Dan bukanlah perkataan tukang tenung.

Bagaimana dia mengetahuinya? Apa ini sebenarnya?

Tanziilun min robbil-‘aalamiin.” (QS Al Haqqah ayat 43)

Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam. Lalu beliau lari dari sana. Beliau terguncang. Beliau tidak menjadi muslim saat itu. Beliau pergi dari sana karena ketakutan. Demikian. Beliau terguncang karenanya.

Akan ada beberapa orang yang menemukan Islam dari perjalanan keilmuan. Yang lainnya menemukan Islam karena kecelakaan mobil, setelah operasi bedah, setelah kehilangan anaknya, setelah suatu kejadian traumatis. Mereka akan datang kepada Islam setelah hampir kehilangan nyawa oleh suatu penyakit. Mereka akan datang kepada Islam setelah kehilangan seorang teman.

Sesuatu terjadi. Sesuatu yang mengguncangkan dirinya. Kau tahu. Dan inilah kedua jenis hati yang berbeda. Jadi, untuk jenis hati yang kedua Allah berfirman, “Wa inna min-haa lamaa yasysyaqqoqu.” (QS Al Baqarah ayat 74)

Fa yakhruju min-hul-maaa’.” (QS Al Baqarah ayat 74)

Ada dari hati-hati itu yang meretak terbuka, dan air keluar dari dalamnya. Ia tidak terbuka dengan sendirinya, tetapi harus dipukul, lalu ia retak dan terbuka. Sesuatu harus mengguncangkannya, dan lihatlah, kamu masih menemukan air di dalamnya.

Hal ini sangat penting untuk dipahami. Kamu tahu kenapa?

Terkadang kita bertemu orang yang kita ingin beri ajakan, yang ingin kamu berikan nasihat, bahkan dalam keluargamu. Ada sepupu yang tidak ingin mendengarkanmu. Atau saudara laki-lakimu, saudara perempuanmu, paman, siapapun itu. Mereka tidak ingin mendengarkannya darimu. Kamu merasa hati mereka sangat keras.

Namun, kamu belum tahu, mungkin ada ‘air’ di dalamnya. Hanya saja perlu kejadian yang tepat untuk membukanya. Kamu paham yang saya maksud?

Ada dari mereka yang kita tidak bisa hanya bicara, lalu kamu harapkan hasilnya. Mereka membutuhkan waktu. Berapa tahun, – kamu harus tanya dirimu -,

Berapa tahun sebelum Hamzah radhiyallahu anhu, berapa tahun sebelum Umar radhiyallahu anhu menjadi muslim? Kamu tahu? Enam tahun. Enam tahun sejak dakwah Nabi dimulai. Kamu perlu bertanya kepada dirimu,

Apa yang mereka lakukan selama enam tahun?

Mereka bukan musuh Islam, sehingga ini menarik. Umar bin Khattab hanya menjadi advokat musuh Islam, tepat sebelum beliau masuk Islam. Kamu tahu, ketika sesuatu mencapai titik tertingginya.

Jadi, apa yang beliau lakukan selama 5,5 tahun sisanya? Beliau berkelana. Beliau melakukan berbagai urusan. Beliau sibuk dengan kehidupannya. Saat kamu melihatnya, kamu akan berpikir,

Tidak mungkin ada ‘air’ dalam diri orang ini.

Tidak untuk Umar!

Dia menjadi muslim? Ayolah…

Yang benar saja. Orang itu?

Kamu tahu apa yang ia lakukan?

Dia akan menjadi muslim?

Lalu, saat hatinya diguncangkan, iman juga keluar dari dalam hatinya. Namun kemudian ada jenis hati yang ketiga.

Wa inna min-haa lamaa yahbithu min khosy-yatillaahi.” (QS Al Baqarah ayat 74)

Meskipun begitu, ada di antaranya yang meluncur jatuh, dari rasa takut kepada Allah. Mereka meluncur jatuh dari rasa takut kepada Allah. Allah menyebutkan sebuah batu yang jatuh seperti tanah longsor. Kamu tahu gambaran tanah longsor. Batu-batu berjatuhan.

Namun, Allah tidak menyebutkan air sama sekali. Dalam kedua jenis hati sebelumnya, ada air. Satunya banyak air; dan yang lainnya. Akan tetapi, yang ketiga tidak terdapat air. Apa yang Allah sedang bicarakan adalah Islam tanpa iman.

Islam tanpa iman. Iman digambarkan dengan apa, dari contoh ini? Air.

Saat tidak ada air yang disebutkan, tetapi masih memiliki rasa takut kepada Allah, dia masih ber-Islam. Ia jatuh dari rasa takut kepada Allah, seperti orang yang jatuh untuk bersujud dari rasa takut kepada Allah.

Takwanya adalah dari rasa takut kepada Allah. Akan tetapi, ia belum merasakan iman. Memang ada keadaan semacam ini, Islam tanpa iman. Sudah menjadi muslim, beragama, tetapi belum merasakan manisnya iman.

Mungkin akalmu sudah tunduk. Dari segi ilmu kamu sudah tunduk pada misi ini, keyakinan ini. Akan tetapi, hatimu belum merasakan manisnya. Sungguh, jika merasakan manisnya. Kamu akan menangis. Akal tidak membuatmu menangis, tetapi hatimu. Benar?

Jadi Allah berfirman, “Qoolatil-a’roobu aamannaa.” (QS Al Hujurat ayat 14)

Qul lam tu`minuu wa laakin quuluu aslamnaa.” (QS Al Hujurat ayat 14)

Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.

Katakan kepada mereka, “Tidak, tidak, tidak.

Kalian belum beriman. Kalian baru menerima Islam.

Wa lammaa yadkhulil-iimaanu fii quluubikum.” (QS Al Hujurat ayat 14)

Iman belum masuk ke dalam hatimu. ‘Air’ ini belum masuk ke dalam ‘batumu’. Demikianlah. Menariknya, ayat ini dimulai dengan, hatimu sangat keras. Atau lebih keras lagi daripada batu.

Lalu Allah berbicara tentang tiga jenis batu. Tiga jenis batu menggambarkan tiga jenis hati. Tiga jenis hati agar memiliki harapan. Mereka memiliki kesempatan yang besar.

Subtitle: NAK Indonesia
Donasi: https://kitabisa.com/nakindonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s