[Transkrip Indonesia] Dari Pendeta Yahudi Menjadi Seorang Sheikh – Omar Suleiman – Quran Weekly

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, Quran Weekly, ini saudaramu Omar Suleiman. Selamat datang kembali di seri Superstars.

Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam datang ke Madinah, sudah terdapat banyak suku dan agama di sana. Dan subhanallah, kita temukan beberapa pemimpin mereka masuk Islam. Dan beberapa pemimpin lainnya segera membenci Nabi shallallahu alaihi wa sallam karena mereka takut kehilangan kekuasaan mereka.

Salah seorang yang sungguh-sungguh ingin tahu apakah ini suatu kebenaran atau tidak adalah seorang rabi (pendeta Yahudi) bernama Al-Hushain bin Salam. Al-Hushain dengan huruf shod.

Al-Hushain bin Salam adalah rabi terbesar di antara orang-orang Madinah. Dia berasal dari suku yang sangat terkenal, Banu Qaynuqa’. Dia dikenal di masyarakatnya, seorang yang dihormati, rabi besar, ulama besar (Yahudi). Jadi ketika dia mendengar tentang Nabi shallallahu alaihi wa sallam, ia langsung mengetahui itu dari perspektif kitab suci yang mereka punyai.

Bahwa ini seorang Rasul yang diramalkan oleh para Nabi lainnya (shallallahu alaihi wa sallam), semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada mereka semua. Jadi dia pergi keluar dan dia menunggu untuk melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dan ia biasanya memanjat pohon setiap hari. Dan bibinya yang bernama Khalidah melihatnya. Dan dia melihat bagaimana bersemangat ia (Al-Hushain bin Salam) untuk melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dia (sang bibi) terganggu dengan itu. Dan bahkan ketika ia (Al-Hushain bin Salam) mendengar bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tiba, dia berkata, “Allahu akbar. Allahu akbar!

Dia sebenarnya melakukan takbir. Jadi dia (bibinya) berkata, “Wallahi jika Musa ‘alaihissalam yang datang, kamu tidak akan bersemangat seperti ini.

Dia berkata, “Oh bibiku, dia adalah saudara Musa ‘alaihissalam, dengan pesan yang sama seperti Musa ‘alaihissalam, dikirim oleh Dia yang mengirim Musa ‘alaihissalam.

Hingga… Jadi dia juga yakin dan menerimanya.

Jadi ia mendatangi (Rasul) dan berkata, “Saya ingin mendengar apa yang akan dikatakannya.

Jadi dia berkata, “Saya masuk ke dalam kerumunan orang dan melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dan kata-kata pertama yang dikatakannya,

Ayyuhannas afsyussalam wa ath’imutho’am wa sholluu billail wannaasu niyaam tadkhulul jannah bissalam.

Wahai saudara-saudara, sebarkan salam di antara kamu, beri makan orang miskin di antara kamu, dan salat di malam hari sementara yang lain tidur dan Anda akan masuk surga dengan damai.

Dan dia mengatakan, saya menatap wajahnya, dan dia mengatakan, “Falamma nazhortu ilaa wajhihi ‘aroftu anna wajhahulaysa biwajhin kadzab.

Ia berkata, “Begitu saya melihat wajahnya, saya mengatakan tak mungkin ini wajah seorang pendusta.

Jadi saya tatap mata saya pada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan saya tahu bahwa dia bukan pembohong. Jadi saya menuju Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan bertanya kepadanya beberapa pertanyaan. Dan Jibril ‘alaihissalam memberitahu Nabi shallallahu alaihi wa sallam jawabannya dengan segera.

Dan saya berkata, “Asyhadu ʾalaa ilaaha illallaah wa ʾasyhadu ʾannaka rasuulullaah.

Dan saya bersaksi dan menjadi Muslim.

Dan kemudian dia berkata kepada saya, “Namamu sekarang Abdullah.

Dia bertanya siapa nama saya dan saya menjawab, “Al-Hushain bin Salam.

Dan kemudian dia berkata, “Namamu sekarang Abdullah bin Salam.

Dan dia berkata, “Wallahi saya tidak mau dipanggil dengan sebutan apa pun setelah ini.

Dan dia mengatakan ini adalah nama yang paling dicintai Allah subhanahu wa ta’ala, Abdulrahman dan Abdullah.

Sekarang Abdullah bin Salam kembali ke keluarganya dan mendakwahinya dan mereka juga menjadi Muslim. Istrinya, bahkan bibi dan anak-anaknya, mereka semua menjadi Muslim. Tapi Abdullah bin Salam mengatakan agar tetap merahasiakannya untuk saat ini.

Abdullah bin Salam kemudian berkata pada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Dengar, saya cendikiawan yang paling terkenal di antara kaumku, rabi paling terkenal di antara kaumku.

Ia mengatakan, “Bawa mereka ke dalam. Biarkan saya bersembunyi di balik tirai dan bawa mereka ke dalam dan tanyakan tentang saya.

Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan apa yang dia katakan. Abdullah bin Salam bersembunyi di balik tirai, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memanggil beberapa orang dari Bani Qaynuqa’. Dan dia bertanya, “Apa yang kalian katakan tentang Al-Hushain bin Salam?

Mereka berkata, “‘Aalimunaa wabnu ‘aaliminaa, khoirunaa wabnu khoirinaa, habrunaa wabnu habrinaa.

Mereka berkata, “Dia adalah ‘alim kami dan cendikiawan dan anak dari cendikiawan kami, dia adalah yang terbaik dari kami dan putra terbaik dari kami, dia adalah rabi kami dan putra rabi kami.

Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Apa yang akan kalian katakan jika saya mengatakan bahwa ia menjadi Muslim?

Mereka mengatakan, “Itu tidak akan terjadi. Tidak mungkin Al-Hushain bin Salam sang Rabi akan menjadi Muslim.

Pada saat itu Abdullah bin Salam keluar dan mengatakan, “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu annaka rasulullah.

Dia menunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Saya bersaksi bahwa hanya ada satu Tuhan dan engkau adalah Rasulullah.

Ketika ia mengatakan itu, kelompok orang yang sama mengatakan, “Syarrunaa wabnu syarrinaa.

Dia adalah yang terburuk dari kami dan anak yang terburuk dari kami.

Dan mereka mengatakan, “Jaahilunaa wabnu jaahilinaa.

Dia paling bodoh dari kami dan anak yang paling bodoh dari kami.

Jadi itu menunjukkan Anda – subhanallah – bagaimana orang-orang tercengang rabi terbesar Madinah segera memeluk Islam. Dan ini sesuatu yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam sabdakan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Khiyaarukum fil jahiliyyah khiyaarukum fil islam.

Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam (*bila dia paham agama -red).

Jadi dia memiliki karakteristik yang baik, kualitas-kualitas yang baik. Dia adalah seorang rabi yang tulus, monoteis yang tulus. Sehingga mudah baginya untuk mengakui kebenaran.

Dan ia membawa kualitas yang sama yang membuatnya menjadi seorang sarjana Yahudi ke dalam Islam. Dan karenanya ia menjadi salah satu mufti dari kalangan sahabat. Ia menjadi salah satu ulama dari para sahabat. Dan itu menunjukkan sesuatu yang subhanallah sangat istimewa.

Karena ada pemikiran bahwa semua orang Yahudi membenci Muslim dan semua Muslim anti-Semit (*benci Yahudi -red). Dan bahwa tidak ada kerjasama apapun dan tidak ada orang-orang Yahudi menerima Islam.

Dan (pemikiran) itu tidak benar, karena rabi terbesar mereka menerima Islam. Subhanallah ia menjadi seorang syeikh dan ulama di antara sahabat. Orang yang memberi fatwa, yang – subhanallah – yang semua sahabat akan mengacu (fatwanya) sepanjang hidup mereka.

Dan ia hidup sangat dekat dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dan sama seperti Nabi shallallahu alaihi wa sallam menamainya, kapanpun ia akan memiliki anak, ia akan membawanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam sehingga Nabi shallallahu alaihi wa sallam bisa menamainya.

Jadi ini sebenarnya dikisahkan dalam al-Adab al Mufrad bahwa ia membawa anaknya ketika masih bayi kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dan ia bertanya, “Yaa Rasulullah, Anda nama dia.

Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam menamainya Yusuf.

Dan ia mulai mengusap kepalanya dan berdo’a untuknya. Jadi subhanallah ini adalah sesuatu yang menjadi sebuah praktek.

Rabi agung ini menjadi sahabat besar, seorang syeikh besar, seorang ulama besar. Dan bahkan dalam masa sulit umat, ia adalah salah satu dari orang-orang yang berdiri dan mencoba untuk mengingatkan orang-orang akan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Ketika Utsman bin Affan radhiyallahu ta’ala anhu akan dibunuh, Abdullah bin Salam adalah salah satu dari sedikit orang yang berdiri membela Utsman dan mencoba untuk menasihati orang-orang dan mengajak kembali ke mediasi dan mengajak kembali ke Islam.

Tidak ada kesaksian yang lebih besar dari kesaksian Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah berkata kepada para sahabat, “Orang itu adalah seorang yang penghuni surga. Dia adalah penduduk surga.

Dan subhanallah terdapat narasi indah yang mana saya ingin mengakhiri dengannya. Ini adalah narasi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan juga koleksi otentik lainnya oleh seorang pria bernama Qais bin Abbad.

Qais bin ‘Abbad radhiyallahu anhu wa rahimahullah, dia seorang tabi’in. Jadi dia dari generasi kedua dan dia berkata,

Suatu kali saya masuk ke masjid dan saya melihat seorang lelaki yang tampak sangat rendah hati dan sangat tampan dan dengan karakter yang baik. Dan dia salat 2 rakaat dengan indah. Jadi saya bertanya kepada orang-orang tentangnya dan saya mendengar orang-orang berkata tentangnya, bahwa inilah seorang manusia al-jannah. Bahwa inilah penghuni surga. Jadi saya temui dia dan bertanya siapa namanya dan dia mengatakan Abdullah bin Salam.

Ia mengatakan, “Mengapa orang-orang mengatakan bahwa Anda adalah seorang penghuni jannah?

Jadi dia berkata, “Subhanallah! Orang seharusnya tidak mengatakan hal yang mereka tidak ketahui.

Ia mengatakan, “Ada penglihatan yang pernah saya pernah alami, salah satu mimpi yang saya alami.

Ia mengatakan, “Dalam mimpi ini saya berada di taman, di jannah, taman besar ini, jannah besar ini, raudhah besar ini.

Dan dia berkata, “Ketika saya di kebun ini, saya berjalan di sekitarnya dan saya melihat di tengah raudhah ini, di tengah-tengah taman ini ada “‘Amuud”, ada sebuah tiang.

Jadi dia berkata, “Saya berjalan ke tiang dan saya lihat tampak sangat-sangat tinggi
dan saya bisa melihat suatu pegangan tangan (buhul tali), “‘Urwah”. Dan ketika saya sedang melihat, sebuah suara memerintahkan saya untuk menaiki tiang itu. Dan saya berkata, bagaimana saya bisa naik ke sana? Dan ia mengatakan, “Tidak lama kemudian malaikat meniup (mendorong) saya dari bawah dan saya mulai naik sampai saya memegang buhul tali itu, dan memegang “‘Urwah” itu dan saya terbangun. Saya pergi ke Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan saya mengatakan kepadanya apa yang saya lihat.

Dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Ammaraudhoh faroudhotul islam.

Mengenai taman itu adalah taman Islam. Dan untuk tiang itu adalah tiang Islam. Adapun untuk “‘Urwah”, “Fa hiya ‘urwatul wutsqo.” Itu adalah buhul tali yang amat kuat yang Allah subhanahu wa ta’ala bicarakan tentangnya dalam Quran (*di surat Al Baqarah ayat 256 -red).

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Anta ‘alal islam hatta tamuut.

Anda akan berada dalam Islam hingga mati.

Tidak ada rasa takut pada Anda.

Subhanallah. Kami meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk membuat kita di antara mereka yang memegang “‘urwatul wutsqo” dan yang yakin dengan dien kita dan yang hidup dan mati dalam Islam.

Dan kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala merasa senang dengan sahabat dan membangkitkan kita dengan mereka dan keluarga Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam di jannatul-firdous.

Allaahumma Aamiin. Jazakumullahu khairan. Wassalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Subtitle: NAK Indonesia
Donasi: https://kitabisa.com/nakindonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s