[Transkrip Indonesia] Kapan Anda Akan Berserah Diri – Nouman Ali Khan

Hata tardho, wa lakal hamdu idza ma rodhit, wa lakal hamdu ba’da ridhoi, wa lakal hamdu abdan abdan abada.

Wal-hamdulillaah, alladzii anzala ‘alaa ‘abdihil-kitaaba wa lam yaj’al lahuu ‘iwajaa.

Wal-hamdulillaah, alladzii lam yaktakhidz waladan, wa lam yakun lahuu syaruikun fil-mulk, wa lam yakun lahuu waliyyun minadz-dzulli wa kabbir-hu takbiro.

Wal-hamdulillah, alladzii nahmahduhu, wa nasta’iinuhu, wa nastaghfiruh, wa nu’minu bihii wa natawakkalu alaihi, wa nauudzu billaahi min syuruuri anfusinaa, wa min sayyiaati a’maalinaa, mayyahdillaahu falaa mudlillalah, wa man yudlilhu falaa haadiyalah, wa nasasyhadu an laa Ilaaha illallaahu, wahdahuu laa syariikalah, wa nasyhadu anna muhammadan abduhulloohi wa rasuuluh, arsalahulloohu ta’ala bil hudaa wa diinil haq, liyuzh-hirohuu ‘alad diini kullih, wa kafa billaahi syahidaa, fashallalloohu ‘alaihi wa sallama tasliman katsiiran katsiiro.

Tsumma amma ba’ad, fainna asdaqol haditsi kitabullah, wa khairol hadyi hadiyyum muhammadin shallaahu ‘alaihi wasallam, wa inna syarrol ummuri muhdatsatuha, wa inna kulla muhdatsatin bid’ah, wa kulla bid’atin dholalah, wa kulla dholalatin finnar, yaquulu subhanahu wa ta’ala fii kitaabi karim, ba’da an aqul audzubillaahi minasy syaitoon nirrojiim.

Yaaa ayyuhalladziina aamanuu, man yartadda minkum ‘an diinihii, fa saufa ya’tillaahu biqoumin yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Adzillatin ‘alal-mu’miniina, a’izzatin ‘alal-kaafiriina, yujaahiduuna fii sabiilillaahi, wa laa yakhoofuuna laumata laaa’im.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Dzaalika fadhlulloohi yu’tiihi man yasyaaa’, waalloohu waasi’un ‘aliim.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Allaahummaj’alnaa minalladziinaa aamanuu. Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul uqdatan min lisaanii, yafqohuu qoulii. Wallaahumma tsabitnaa ‘indalmautii bi laa ilaaha illallaah. Wallaahummaj’alnaa minalladziinaa aamanuu wa ‘amilushaalihaat wa tawaashau bil haq, wa tawaashau bishshabri. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

Pertama-tama, saya meminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi saya kekuatan dan kejernihan untuk menyampaikan sebuah pesan yang bermanfaat dan sesuatu yang tetap ada dalam hati dan pikiran semua Muslim, termasuk diri saya.

Persoalan yang saya pilih untuk Anda hari ini adalah persoalan yang sangat penting. Biasanya apa yang saya lakukan dalam Khutbah adalah berfokus kepada beberapa bagian dari firman Allah. Bagian yang saya pilih untuk Anda hari ini adalah ayat ke-54 dari Surah An-Nisa.

Surah An-Nisa adalah surah Madaniyah menurut sebagian besar riwayat. Termasuk di dalamnya, berbagai perintah bagi kaum Muslim dan cara mereka untuk mengatur diri sebagai komunitas. Beberapa dasar atau prinsip untuk komunitas Muslim yang kemudian didirikan di Madinah. Dalam kehidupan Madinah.

Di dalamnya juga ada prinsip dasar untuk kita soal bagaimana berkembang dari sebuah masyarakat dan menjadi sebuah bangsa yang sesungguhnya. Anda tahu ada pemikiran tentang kita merupakan bagian paling kecil dari masyarakat sebagai seorang individu dan melebihi itu sebagai keluarga, lalu lingkungan dan kemudian masyarakat, bahkan sebagai sebuah bangsa.

Batu loncatan ini yang membawa kita menjadi bangsa yang kuat, sebuah umat. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan ayat dan perintah ini satu demi satu dalam surah tersebut. Beberapa dari ayatnya berkaitan dengan hukum perceraian, yang lain berkaitan dengan berjuang dan mengeluarkan uang di jalan Allah. Anda akan menemukan perbedaan yang menarik.

Anda akan menemukan Allah ‘Azza wa Jalla berbicara kepada dua kelompok. Satu kelompok menolak untuk menerima Islam. Kelompok lainnya yang menerima Islam dari penampakan luar, tetapi telah meninggalkan Islam di dalam, orang munafik. Ada berbagai macam orang munafik. Ada mereka yang dari awal tidak pernah percaya dan memang “fasad“.

Wa qod dakholuu bil-kufri wa hum qod khorojuu bihii.” (QS Al-Maidah ayat 61)

Mereka tidak pernah percaya dari awal. Di sisi lain, ada mereka yang datang dengan niat yang baik, mereka benar-benar berpikir bahwa Islam memberikan sesuatu yang baik dan mereka menerima Islam berpikir bahwa ini adalah kebenaran, meyakinkan, dan sesuatu yang indah.

Tetapi mengenai petunjuk dan perintah dalam Islam, juga tuntutannya, mereka mengatakan, “Saya mencintai Islam, tetapi ini menjadi agak berlebihan. Ini terlalu menuntut.

Mereka tidak seperti… Sejumlah orang yang memeluk Islam, kebanyakan dari mereka tidak seperti para Sahabat di Mekkah. Saat Anda menjadi Muslim di Mekkah, itu bukan sesuatu yang mudah. Mereka sudah tahu bahwa jika saya menjadi Muslim sekarang, semua Muslim yang saya kenal dikutuk, disiksa, dipukuli, diejek. Mereka diusir dari rumah keluarga mereka. Jika saya bergabung dengan mereka, hal itu juga akan terjadi kepada saya. Tidak ada keuntungan lebih menjadi seorang Muslim dari sisi duniawi, paling tidak di Mekkah.

Ketika Nabi ‘Alaihi Shalawatu Wassalam hijrah ke Madinah, Muslim menjadi masyarakat yang kuat. Jelas sekali lebih kuat dibandingkan saat mereka di Mekkah. Sekarang jika Anda menjadi seorang Muslim, tantangannya tidak sama dengan tantangan yang ada di Mekkah, tentunya bagi Muslim di Madinah, tidak sama.

Sering kali orang akan memeluk Islam tanpa menyadari konsekuensinya. Mereka melibatkan diri dalam kepada apa. Agama ini bukanlah hal yang mudah. Ini bukan sesuatu yang Anda ambil dengan santai. Ini tentu saja perubahan besar dalam hidup Anda.

Jadi Allah ‘Azza wa Jalla dalam ayat ini berfirman secara khusus, terdapat suatu bagian yang didedikasikan untuk sebuah diskusi tentang “munafiquun“, orang munafik. Orang munafik meninggalkan Islam dengan dua cara. Ini penting.

Ada yang meninggalkan Islam secara keseluruhan, “ridda“, seketika itu juga Anda menjadi Muslim, tetapi semua orang tahu bahwa Anda bukan lagi seorang Muslim, Anda menjadi kafir lagi.

Tetapi ada bentuk lain berpaling dari Agama, yaitu secara lahir Anda mengaku sebagai Muslim karena akan ada konsekuensi sosial jika Anda meninggalkan Islam secara terus terang, tetapi dilihat dari tujuan praktis, dan di dalamnya sudah tidak tersisa apa pun. Benar-benar tidak tersisa apa pun.

Terutama saat sekarang Anda menjadi orang yang memilah dan memilih apa yang Anda ambil dari Agama dan apa yang tidak. Ini adalah salah satu pesan pokok dari surah ini bahwa Anda tidak pada posisi untuk berunding apa dari Agama ini yang Anda terima dan apa yang tidak atau Anda merasa tidak nyaman dan Anda tidak perlu mengambil itu. Ini merupakan gagasan pokok yang disampaikan dalam Agama ini.

Baru-baru ini, sebenarnya kemarin, melalui internet saya berbicara dengan kelompok pemuda di DC dan Anda tahu sebuah pertanyaan muncul di dalam diskusi, ada seorang gadis muda yang bertanya.

Saya mencintai semua tentang Islam kecuali hijab.

Sepertinya hijab diciptakan untuk melindungi pria dari melihat kami. Jadi, aku tidak melihat ada yang penting dari hijab.

Daripada berdebat tentang keuntungan sosial dari hijab atau bagaimana hijab mengangkat kehormatan wanita dan semua itu, percakapan itu sudah menuju ke arah yang salah. Kita perlu mengambil satu langkah ke belakang dan lebih bertanya pada pertanyaan pokok.

Mari mundur selangkah dan bertanya kepada Ibrahim ‘alaihissalam. Ibrahim ‘alaihissalam juga mencintai Islam, lalu Allah membuat suatu permintaan, “Bagaimana jika kau pergi ke tengah gurun dan tinggalkan keluargamu di sana.

Dia tidaklah berkata, “Saya mencintai semua tentang Islam, tetapi meninggalkan keluarga untuk mati, saya tidak tahu.

Saya tidak nyaman dengan hal itu.

Setelah dia selesai melakukan itu, “Melompatlah ke dalam api.

Saya mencintai semua tentang Islam, kecuali semua tentang membakar diri hidup-hidup. Itu permintaan yang berlebihan.

Tidak! Anda tidak menemukan pertanyaan itu. Kemudian Allah berfirman, “Sembelih putramu, lakukanlah.

Dia (Nabi Ibrahim) berkata, “Saya cinta Islam, tetapi saya juga cinta anak saya.

Saya tidak tahu, bisakah Engkau memberi penjelasan logis kenapa saya harus melakukan ini.

Bisakah Engkau menjelaskan kepada saya keuntungan sosial atau alasan lainnya dari kenapa saya harus patuh kepada-Mu?

Idz qoola lahuu robbuhuuu aslim, qoola aslamtu lirobbil-‘aalamiin.” (QS Al-Baqarah ayat 131)

Ada alasan Allah mengajarkan kita itu di Surah Al-Baqarah. Kapan saja Allah berkata kepada dia (Ibrahim ‘alaihissalam), “Berikan dirimu, tunduk, berserah diri.

Dia mengatakan, “Aku berserah diri, Aku berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan alam semesta, lirobbil-‘aalamiin.

Sebelum kita bicara tentang berbagai aspek agama Islam dan mencoba memahami logikanya, pahami tujuan utamanya. Allah telah membuat agama ini agar kita berserah diri kepada-Nya.

Jika Anda memiliki masalah untuk berserah diri kepada-Nya. Anda memiliki masalah dengan Islam itu sendiri. Gagasan yang sangat pokok dari agama Islam. Bukan berarti Anda tidak harus mengerti hukum Allah, tetapi Anda dan saya harus sama, saat kita sudah memahaminya, apakah kita mengerti atau tidak, apakah kita memahami logikanya atau tidak, kita harus berserah diri. Kita benar-benar harus menyerahkan diri. Allah ‘Azza wa Jalla bahkan mengakui dalam Surah Al-Baqarah mengenai riba.

Dzaalika bi’annahum qooluu innamal-bai’u mitslur-ribaa.” (QS Al-Baqarah ayat 275)

Ini diskusi yang sangat menarik. Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan ada orang yang memakan riba dan mereka mengatakan bahwa bisnis sama seperti riba. Jika Anda melihat transaksi likuid dan solid, juga transaksi keuangan dan apa yang bisa didapatkannya, itu sebuah diskusi yang rumit dan bisa mengarah ke mana saja.

Anda bahkan tidak bisa membedakannya, 1920, pate do pata do, satu dua baris di dalam kontrak. Maksud saya apa masalahnya? Ini sama saja. Jika Anda duduk dan menghadapi empat jam argumen dengan seorang ahli keuangan tentang apakah riba halal atau tidak. Atau apa perbedaan antara riba dan bisnis, Anda mungkin akan mengatakan, “Ya, semua sama.

Saya tidak melihat perbedaannya.

Tetapi Allah tidak hanya membuat satu baris, daripada menjelaskan kepada Anda perbedaan yang tipis di antara mereka (riba dan bisnis). Dia berfirman ada satu hal lagi yang perlu Anda ketahui. Sekarang Anda paham dalam pikiran Anda keduanya sangat serupa, ada satu hal lagi.

Wa ahallalloohul-bai’a wa harromar-ribaa.” (QS Al-Baqarah ayat 275)

Akhir cerita. Allah telah membuat bisnis halal dan Dia membuat riba haram. Itu saja. Itu kesimpulannya. Dengan latar belakang tersebut, saya ingin Anda insyaa Allah untuk merenungkan perkataan ayat yang bermakna ini, “Yaaa ayyuhalladziina aamanuu.” (QS Al-Maidah ayat 54) Tentu saja ayat ini tertuju pada kita.

Man yartadda minkum ‘an diinihii,” (QS Al-Maidah ayat 54) yang keluar dari agama Allah (murtad), di antara kamu “minkum ‘an diinihii,” dari agamanya.

Orang yang berpaling dari agama di antara kalian. Allah tidak mengatakan semua dari kita berpaling dari agama. Hanya sekelompok di antara kita. Dan “man” adalah kata yang menarik dalam bahasa Arab, ini bisa mengacu pada sesuatu yang jamak dan juga bisa mengacu pada sesuatu yang tunggal.

Jadi dari sudut pandang “Taqliil“, itu bahkan bisa menjadi satu orang berjalan menjauh dari Islam, Anda menjauh dari agama. Saya telah mengatakan kepada Anda, hal ini bisa terjadi dengan dua cara.

Pertama, praktis mereka meninggalkan Islam secara keseluruhan.

Kedua, dengan tujuan praktis, sebenarnya di hati mereka, di dalam hati nurani, pikiran mereka, mereka tidak benar-benar berserah diri kepada Allah. Mereka sungguh tidak melihat pentingnya hidup dalam ajaran Allah. Mereka tidak melihat kegunaannya lagi.

Untuk tujuan praktis mereka sudah berjalan menjauh dari Islam. Bahkan jika tidak ada manusia yang melihat, kita melihat seorang Muslim dari luar, mereka seharusnya mengucapkan, “Assalamualaikum wa rahmatullah.

Tidak seharusnya kita menilai apa yang ada di hati mereka. Tetapi, Allah bisa. Allah melihat apa yang ada di dalam hati. Siapa pun dari Anda yang telah meninggalkan atau berpaling (dari Islam).

Kemudian apa yang Allah katakan “Fa saufa,” (QS Al-Maidah ayat 54) maka nanti dan “saufa” dalam bahasa Arab bermakna “secepatnya“.

Allah tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengambil langkah langsung dan apa langkah itu?

Ya’tiillaahu biqoumin.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Allah akan mendatangkan sebuah bangsa/kaum. Allah akan mendatangkan sebuah bangsa. Ini sangat menarik.

Bagian pertama adalah bahkan jika salah satu darimu berpaling dan kemudian Allah berfirman akan mendatangkan sebuah bangsa. Dengan kata lain, Anda pikir bahwa Anda istimewa? Anda pikir Allah membutuhkan Anda? Anda pikir Anda penyumbang untuk Islam yang tidak bisa digantikan orang lain? Bahwa Anda tidak tergantikan? Allah ‘Azza wa Jalla pada dasarnya berfirman untuk menggantikanmu.

Aku akan mendatangkan sebuah bangsa sebagai ganti dirimu. Anda bukan sebuah aset. Jangan berpikir diri Anda setinggi itu. Kita sudah ditempatkan di tempat kita. Salah satu pelajaran penting yang terdapat dalam ayat ini adalah kerendahan hati. Kita memahami kedudukan kita.

Dalam agama ini ketika kita mendapatkan kehormatan untuk mengatakan, Laa ilaaha illallah, ketika kita mendapatkan kehormatan untuk mengatakan, Muhammadur-Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ini adalah sebuah kehormatan dan hadiah yang diberi oleh Allah.

Jika Anda tidak menghargai pemberian ini, maka siapa yang membutuhkan Anda? Masih banyak Muslim lain yang bisa menghargainya lebih dari Anda dan saya. Banyak Muslim yang lainnya. Sama dengan kita juga harus berhenti berpikir, bahkan di antara kita, yang terlibat dalam aktivitas keagamaan. Mereka terlibat sebagai pemimpin dari kegiatan sukarela, kegiatan Islami. Apa pun yang mereka lakukan dalam kapasitas apa pun.

Terkadang Anda mulai berpikir, “Jika aku tidak melakukannya, itu tidak akan selesai.

Jika bukan aku yang memberikan Khutbah, yang menolong secara sukarela di Masjid, jika aku tidak bergabung sebagai pengurus.

Jika aku bukan ketua Rohis kampus, jika aku tidak menjalankan organisasi dakwah, pekerjaan ini tidak akan pernah terjadi.

Saya bahkan terkejut dengan apa yang terjadi sebelum saya ada di sini karena Allah berikan saya kemudahan dalam bekerja demi Islam.

Benar? Ya’kan?

Tanpa saya bagaimana semua itu bisa bergerak maju?

Allah ‘Azza wa Jalla memberi tahu kita semua bahwa agama-Nya melebihi Anda dan saya. Tidak seperti orang lain akan maju ke depan, sehingga mereka memberi yang lain pujian. Allah berfirman, “Ya’tillaahu biqoumin.” (QS Al-Maidah ayat 54) bukan “ya’ti qoumun“.

Ya’ti qoumun,” akan datang suatu bangsa.

Ya’tillaahu biqoumin.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Allah yang akan mendatangkan suatu bangsa. Bahkan bukan bangsa baru yang akan mendapatkan pujian. Allah mendapat pujian dengan mendatangkan mereka. Allah mendapat pujian dengan penggantian itu.

Kita bisa tergantikan. Kita juga pada posisi mendapat keistimewaan dan kehormatan. Kita harus menerima dan mengakui itu. Itu adalah hal yang merendahkan hati. Di saat yang sama, itu merupakan sebuah kehormatan, di saat yang sama Anda dan saya harus rendah hati bahwa Allah telah memilih kita dan memberi kita tanggung jawab ini. Kita harus melakukan itu dengan sangat serius.

Tidak dari segi agama kita, juga sikap kita, kita menjadi orang yang berpaling dari agama, dalam kapasitas apa pun, secara keseluruhan atau sebagian. Kita tidak seharusnya bersikap seperti ini. Kita seharusnya menjadi orang yang bergerak maju.

Anda tahu ada ungkapan menarik di dalam Qur’an untuk Muslim yang bergerak maju. Pada dasarnya, jika Anda tidak bergerak maju, bukan berarti Anda diam di tempat, sebenarnya Anda bergerak mundur.

Yaaa ayyuhalladziina aamanuu, maa lakum idzaa qiila lakumunfiruu fii sabiilillaahits, tsaaqoltum ilal-ardhi, a rodhiitum bil-hayaatid-dun-yaa minal-aakhiroh.” (QS At-Taubah ayat 38)

Bahasa dalam surah At-Taubah sangat tajam. Apa masalah Anda yang mengaku memiliki Iman ketika Anda diperintahkan untuk berjuang di jalan Allah, kaki Anda tertanam ke dalam tanah. Kenapa ini? Anda lebih menyukai dunia dibandingkan akhirat? Itu yang terjadi kepada Anda?

Bisa dimengerti bahwa Non-Muslim yang tidak memiliki konsep tentang surga, yang tidak memiliki konsep tentang neraka, yang tidak memiliki konsep tentang Hari Penghakiman (Hari Akhir). Jika dia lebih menyukai dunia ini, itu logika yang bisa saya pahami. Anda seorang Muslim!

Anda telah diberikan informasi yang lebih baik. Anda tahu banyak tentang apa yang ada di depan. Jika Anda lebih menyukai dunia ini, ada beberapa masalah serius. “Maa lakum“.

Layak untuk dipertanyakan, “Apa yang salah dengan Anda? Apa yang salah dengan Anda?

Bahwa Anda tidak bergerak maju di jalan Allah. Namun demikian, “Fa saufa ya’tillaahu biqoumin.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Kemudian Allah memberi kita kualitas dalam umat ini. Penting untuk memahami pesan yang luas dari ayat ini. Allah mengatakan ada yang berpaling dari agama ini dan sekarang Allah menggambarkan mereka yang tidak berpaling dari agama-Nya. Mereka yang mengikuti ajaran Agama-Nya. Mereka yang menjadi bangsa sesuai dengan yang diharapkan Allah.

Saat Allah memberi kita sifat dari bangsa pengganti ini. Sungguh, kita seharusnya memiliki sifat ini agar kita tidak digantikan. Itu adalah maksud dari memberi kita sifat ini. Bahwa kita seharusnya bercita-cita untuk mempunyai sifat ini pada diri kita sebagai sebuah Umat. Semoga Allah membuat mudah untuk kita semua memiliki sifat ini pada diri kita.

Allah mengatakan, “Yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya. Dia (Allah) mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya. Allah menyebutkan cinta-Nya yang pertama dan salah satu pelajaran yang terkandung dalam ayat ini bahwa Dia (Allah) sudah mencintai kita. Dia (Allah) sudah mencintai kita. Ketika kita memahami ini, sebaliknya kita juga harus mencintai Allah. Dia (Allah) telah memberi kita sebuah kehormatan.

Anda tahu ketika Anda, seringkali pemuda khususnya ketika mereka dibesarkan sayangnya di negara ini (Amerika) oleh keluarga Muslim. Sebagai keluarga kita, kita telah gagal mengajarkan anak kita bahwa menjadi Muslim adalah hal yang mengagumkan. Kita hanya membesarkan mereka secara otomatis, berpikir bahwa kita dibesarkan secara Muslim, jadi anak kita dengan sendirinya akan menghargai Islam tanpa kita harus berusaha. Mungkin kita mengajak mereka sholat Jum’at mengikuti sholat, atau kita membawa mereka ke sekolah minggu dan meninggalkan mereka di sana, mereka belajar selama berjam-jam dan entah bagaimana mereka akan menjadi saleh.

Anda menjadi sadar saat mereka remaja. Lalu, Anda mendatangi Imam berkata, “Bisakah Anda bicara kepada anak lelaki atau anak gadis saya karena mereka terlihat berbeda sekarang. Sejak mereka mendapatkan surat izin mengemudi (SIM). Saya tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka. Sejak mereka mendapatkan telepon genggam. Saya khawatir siapa teman mereka karena mereka tidak berbicara kepada saya lagi.

Hal ini mulai terjadi. Tetapi dari awal kita seharusnya menanamkan nilai-nilai tertentu kepada anak kita, kepada generasi penerus kita dan generasi selanjutnya. Salah satu dari nilai itu adalah sesungguhnya agama ini adalah hadiah, bukan penjara atau kutukan.

Seringkali para pemuda kita, ketika Anda bertanya kepada mereka, “Menurutmu, Islam bagaimana, apa yang kau tahu tentang Islam?

Mereka akan membuat daftar semua yang haram. Ini dan itu haram, senyum itu haram, kebahagiaan, kesenangan, mengambil nafas, istirahat, memiliki teman yang baik. Inilah daftar hal yang tidak boleh saya lakukan.

Itu yang mereka pikir tentang Islam. Anda tanya mereka apa yang kamu tahu tentang Allah?

Allah akan melakukan pembalasan, menghancurkan orang kafir dan Allah telah menghancurkan umat terdahulu. Dia (Allah) telah menciptakan api neraka. Pada Hari Keputusan Dia akan mempermalukan orang-orang. Hal pertama yang keluar dari mulut mereka bukanlah rahmat. Bukan rahmat, petunjuk atau bantuan. Hal pertama yang ada dalam pikiran mereka adalah pembalasan, hukuman. Ini apa yang tidak bisa saya lakukan. Saya tidak bisa hidup bebas. Itu yang mereka pikir.

Tetapi kau tahu kenyataannya? Semua orang lainnya adalah budak. Hanya kita yang bebas. Kita satu-satunya yang bebas. Semua orang itu baik merupakan budak dari nafsu atau hiburan mereka atau mereka budak dari rekening bank, pekerjaan, karir, penampilan, selera mode atau mobil mereka, rumah atau pengeluaran mereka. Kita adalah budak dari Allah, membebaskan kita dari semua hal ini.

Itu membebaskan kita dari semua hal ini. Kitalah satu-satunya yang bebas. Anda berjalan-jalan, ini seharusnya menjadi negara kita, negara ini seharusnya menjadi lambang dari kebebasan individu. Anda pergi ke sebuah SMA dan melihat sekelompok anak, cara berpakaian mereka sama. Semua kelompok gotik, kelompok Hip Hop juga berpakaian sama. Semua kelompok lainnya berpakaian sama. Mereka seakan diperbudak untuk berpakaian dengan gaya tertentu. Mereka memiliki seragam.

Negara ini seharusnya individual, bukan? Seharusnya menjadi individual. Setiap orang harus mendengarkan lagu yang sama dan menonton film yang sama, lalu melaporkan kepada teman mereka, “Aku juga menonton itu.

Apakah ini individualisme? Ini yang Anda sebut individualisme? Subhanallah. Allah telah memberi kita kehormatan untuk tidak harus mengikuti orang kebanyakan dan berubah menjadi domba. Kita tidak harus begitu. Dia (Allah) telah membebaskan kita dari ini dengan menjadikan kita hamba-Nya.

Kembali kepada ayat, “Yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Sekarang bagian selanjutnya sangat sukar dan saya ingin ini menjadi inti dari khutbah saya. Sesuatu yang benar-benar ingin saya beri tahukan kepada Anda. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang sifat selanjutnya, dan sebagian memperdebatkan sifat ini merupakan akibat dari sifat pertama, artinya jika mereka benar-benar mencintai Allah…

Jika Allah mencintai mereka dan mereka sungguh mencintai Allah, maka bagian berikutnya secara alami, yaitu “Adzillatin ‘alal-mu’miniina.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Seringkali kita melewati “Adzillatin ‘alal-mu’miniina,” dan kita langsung menuju “a’izzatin ‘alal-kaafiriina” (QS Al-Maidah verse 54) karena itu lebih mudah.

Adzillatin ‘alal-mu’miniina.” (QS Al-Maidah verse 54) Mereka tak berdaya, lemah, rendah hati, lemah lembut, halus dalam cara mereka berurusan dengan orang beriman. Mereka akrab dengan orang beriman. Mereka pemaaf terhadap orang beriman. Mereka santun dalam berbahasa. Mereka tidak menghakimi. Mereka tidak kasar kepada Muslim lainnya.

Salah satu sifat paling buruk dari masyarakat yang mengaku beriman adalah mereka mudah menghakimi, kasar dan saling menusuk dari belakang. Ini adalah salah satu sifat terburuk Bani Israil, sehingga ketika Allah mengingatkan mereka hal dasar dari agama mereka, Dia (Allah) menambahkan ke dalam hal dasar itu, “Wa quuluu lin-naasi husnan.” (QS Al-Baqarah verse 83)

Bicaralah kepada orang lain dengan santun.

Kini Anda akan menemukan sebuah stigma yang dihubungkan dengan Muslim. Semakin religius mereka, semakin terbatas mereka dalam bersosial. Semakin sulit berbicara dengan mereka. Mereka terlihat lebih pemarah.

Jika pria itu memiliki jenggot, berarti dia kesal akan suatu hal. Anda akan menghindari berbicara dengan dia. Jika seorang wanita memakai hijab, berarti dia akan menghakimi Anda karena Anda tidak memakainya. Dia akan memandangi seakan ingin membakar rambutmu.

Ya’kan? Itu persepsi yang ada. Tetapi semakin Anda dekat dengan agama, seharusnya Anda menjadi semakin santun dan baik, dermawan, mudah memahami dan memaafkan orang lain. Seharusnya Anda seperti itu.

Daripada melihat kepada orang hidup dalam ketidakpedulian. Banyak Muslim yang tidak peduli belakangan ini. Mungkin teman Anda melakukannya dan Anda tidak lagi. Tetapi jika teman Anda tidak peduli.

Anda langsung berpikir, “Astaghfirullah, saya tidak bisa percaya bahwa mereka adalah teman saya. Mereka sungguh tidak peduli. Mereka melakukan bid’ah, kekafiran, syirik, hal haram, mereka tidak peduli terhadap apa pun.

Anda adalah orang yang sama dua tahun lalu. Itu Anda dulu. Siapa yang memberi Anda petunjuk? Anda memberi petunjuk kepada diri Anda sendiri?

Wa kuntum ‘alaa syafaa hufrotin minan-naar, fa anqodzakum min-haa.” (QS Al Imran ayat 103)

Ayat yang sama mengatakan, “Fa allafa baina quluubikum.” (QS Al Imran ayat 103)

Kemudian Dia (Allah) menanamkan cinta di antara kalian. Dan ayat yang sama mengatakan, “Kau di tepi jurang neraka.

Kau di tepi jurang dan Dia menyelamatkanmu.

Jadi jika seseorang berada di tepi jurang daripada kita marah dan mengusir mereka. Bersabarlah. Jadilah santun. Bersabar. Beberapa dari Anda mendatangi Imam atau Ulama.

Anda tahu saya mencoba memberi dakwah kepada saudara saya atau teman saya. Sudah hampir sebulan tetapi tidak ada perubahan. Apa yang harus saya lakukan? Beri aku kata-kata ajaib untuk dikatakan kepada mereka.

Beritahu saya apa yang bisa saya lakukan.

Anda tahu? Apa cara ajaib dari Nuh ‘alaihissalam. Itu adalah sabar. Dia berbicara kepada anaknya sendiri dalam jangka waktu yang lama. Dia berada dalam masyarakat yang sama untuk waktu yang sangat lama.

Dia tidak berbicara kepada sekelompok orang dan mereka tidak mendengarkan, lalu dia berkata, “Saya akan pergi ke tempat lain yang mungkin ada masyarakat yang lebih baik.

Tidak! Masyarakat yang sama. Kita harus saling sabar satu sama lain, khususnya orang beriman. Itulah cara Nuh ‘alaihissalam menghadapi orang kafir. Itulah dia menghadapi kafir. Begitulah Rasulullah (shallallahu alaihi wa sallam) hampir sepuluh tahun bersama kafir Quraisy di Mekah, kafir yang terburuk. Selama sepuluh tahun.

Kini, kita bicara tentang keluarga Muslim. Kita berbicara tentang teman dan tetangga kita sendiri. Kita harus merendahkan diri di hadapan mereka. Ini ada masalah yang serius, kesombongan. Anda tahu salah salah satu pelajaran pokok dari agama kita “Laa Ilaha Illallah,” bagian awal.

Awal dari agama kita adalah mengakui kebesaran Allah. Semakin Anda menyadari kebesaran Allah, secara alami seharusnya Anda semakin menyadari kecilnya diri Anda. Semakin Anda menyatakan kebesaran Allah, seharusnya Anda menjadi semakin rendah hati.

Itu reaksi alami dari menyatakan “Laa Ilaha Illallah“. Setiap kali Anda dan saya mengatakan, “Allahu akbar,” itu bukan hanya pernyataan kebesaran Allah, itu juga pernyataan dari kelemahan diri kita sendiri. Pernyataan dari kerendahan diri kita.

Tetapi ketika orang-orang mengatakan, “Allahu Akbar,” kemudian menghakimi semua orang yang datang ke Masjid. Mereka melihat panjangnya jenggot mereka dan cara mereka berpakaian atau memerhatikan logat bahasa mereka. Saat itu terjadi…

Ketika relawan yang bekerja untuk kepentingan Islam saling melihat dengan pandangan curiga. Mereka tidak saling percaya. Ketika seseorang mengucap salam dengan tidak sungguh-sungguh. “Assalamualaikum,” kita semua tahu artinya.

Ketika itu menyatakan tidak ada masalah antara kita, saya tidak membenci Anda, saya mencintai Anda, di antara kita sungguh damai dan harmonis. Ketika Anda mengatakan, “Assalamualaikum, saudaraku!

Anda tidak sungguh-sungguh seperti itu. Anda bermaksud kebalikannya. Saya benci Anda. Tetapi, Anda mengatakan, “Assalamualaikum.

Itu yang Anda katakan dan ini adalah benar-benar kemunafikan. Anda tidak bisa katakan Assalamualaikum kepada seseorang dan membenci mereka. Tidak bisa. Itu berarti Anda katakan sesuatu dengan tidak sungguh-sungguh. Itu yang Anda lakukan. Jadi Anda dan saya, kita harus memahami “Adzillatin ‘alal-mu’miniina” dahulu. Rendah hati terhadap orang beriman.

A’izzatin ‘alal-kaafiriina.

Dan mereka keras, tegas, berwibawa menghadapi orang kafir. Kafir di sini bukanlah Non-Muslim. Kafir di sini maksudnya adalah musuh Islam. Mereka yang meruntuhkan Islam. Muslim tidak keras kepada semua Non-Muslim di Madinah.

Mereka keras terhadap siapa? Musuh Islam. Mereka yang mencoba meruntuhkan, menyerang, menghina agama Islam, mengatakan sesuatu melawan Rasulullah dan bertentangan dengan Quran. Mereka yang mencoba menyerang Madinah dari Mekkah. Orang-orang itu. Muslim harus bersikap keras terhadap mereka. Mereka tidak akan mundur dan diam saja. Mereka membela diri mereka sendiri.

Kita sedang mempelajari perbedaan tipis antara kita tidak sombong karena rendah hati, pada saat yang sama kita tidak bisa ditindas. Kita membela diri kita. Kita tidak hanya diam saja.

Para pemuda kita, kebanyakan dari mereka pergi ke sekolah negeri, pemuda dan pemudi kita. Mereka bersekolah di sekolah negeri dan orang lain mengomentari mereka. Bela diri Anda. Jangan hanya, “Saya harus sabar. Saya harus rendah hati.

Anda harus berjalan seperti… Anda baru saja selesai operasi punggung, membungkuk dan Anda pikir ini cara yang Islami bahwa Anda harus terlihat lemah atau Anda sakit atau semacamnya. Tidak!

Memang kita harus menundukkan pandangan, tetapi bukan berarti kita harus merendahkan kepala kita. Tidak berarti begitu. Kita harus percaya diri. Kita harus menanamkan kebanggaan besar terhadap agama kita, sehingga ketika melihat orang Kafir, kita melihat rendahnya mereka. Kita melihat betapa rendah dan menyedihkannya mereka. Kita melihat kebanggaan dan kebesaran yang Allah beri kepada kita dalam Islam. Kita tidak sombong, tetapi kita tentunya percaya diri. Begitu seharusnya kita.

A’izzatin ‘alal-kaafiriina,” dan selanjutnya Allah berfirman, “Laa yakhoofuuna laumata laaa’im.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Mereka tidak takut kepada celaan orang yang mencela. Dengan kata lain, banyak orang akan mengatakan berbagai hal kepada kita, mereka akan menuduh kita. Banyak orang benar-benar akan “La um,” menuduh. Banyak orang akan menuduh kita berbagai hal.

Para raja dunia akan menuduh kita sebelum pertemuan. Mereka akan melakukan itu. Tetapi kita tidak takut. Kita tidak akan berkata, “Anda tahu apa yang dia katakan tentang Muslim? Ya Tuhan, apa yang akan terjadi?

Tidak!

Kita tahu apa yang akan terjadi. Kita tahu hal itu akan datang. Kita tidak takut. Kita tidak harus menjelaskan diri kita kepada Anda. Anda tidak perlu berkata kepada kami, “Kalian gila, ini, itu, atau lainnya.

Kita tidak harus menghabiskan tenaga. Tidak! Kita tidak gila. Kita baik-baik saja. Tidak! Itu yang mereka inginkan. Mereka ingin membuat kita sibuk dengan selalu mengatakan kepada mereka bahwa kita tidak gila. Muslim tidak kejam, bukanlah ekstrimis, Muslim tidak seperti ini, atau itu. Mereka ingin kita membuat daftar yang tidak cocok dengan Muslim. Supaya kita tidak punya kesempatan untuk menjelaskan bagaimana Muslim sesungguhnya. Itu intinya.

Anda selalu sibuk menjelaskan diri Anda, “Laa yakhoofuuna laumata laaa’im.” Dan akhirnya Allah berfirman, “Yujaahiduuna fii sabiilillaahi.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Allah berfirman, “Yujaahiduuna fii sabiilillaahi.

Mereka berjuang semaksimal mungkin di jalan Allah. Dengan kata lain, umat ini harus bersatu karena umat ini dalam perjalanan. Umat ini dalam perjalanan. Ada tujuan. Tujuan itu harus bisa dicapai. Urusan di dalamnya harus diurus. Sebelum tujuan itu dicapai dan memiliki tujuan yang lebih tinggi. Anda harus mengatur rumah Anda dahulu untuk melakukan hal yang lebih besar.

Allah telah menjadikan kita umat dengan tujuan yang besar, yaitu “Jihad fii sabiilillaah.” Kita tidak takut dengan istilah itu, sebuah istilah mulia di dalam Al-Quran. Tidak ada hubungannya dengan kegilaan dituduhkan kepadanya. Kita harus mempelajari istilah ini dengan percaya diri dan memahami istilah itu mengacu kepada apa. Hal itu mengacu kepada misi semua Nabi. Semua Nabi.

Kita melakukan “Jihad fii sabiilillaah“. Isa ‘alaihissalam melakukan “Jihad fii sabiilillaah“. Musa ‘alaihissalam melakukan “Jihad fii sabiilillaah“, Muhammadur-Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan “Jihad fii sabiilillaah“. Mereka berjuang di jalan Allah.

Allah memberi mereka misi dan mereka berjuang di dalamnya. Umat ini memiliki misi. Ada tujuan untuk dicapai. Kita harus menyebarkan ajaran agama ini ke seluruh dunia. Kita harus menunjukkan kepada dunia keindahan Islam.

Itu tujuan yang besar. Bukan kecil. Dengan milyaran dolar dikeluarkan untuk memperburuk citra Muslim. Umat ini memiliki tujuan untuk mengatasi itu karena mungkin mereka memiliki uang yang banyak di sisi mereka, tetapi Allah azza wa jalla bersama kita. Allah ada bersama kita. Kita memiliki cita-cita. Sebuah misi.

Tetapi kita tidak bisa menyelesaikan misi ini, jika kita saling bertengkar dan berdebat. Kita terlalu sibuk mengurusi hal ini yang menahan kita dari tujuan sebenarnya Allah menciptakan kita.

Yujaahiduuna fii sabiilillaahi.

Lalu, Allah mengakhiri dengan, “Dzaalika fadhlulloohi.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Itu adalah kebaikan dari Allah.

Jika Anda dan saya menjadi sebuah umat yang sungguh berjuang di jalan Allah, saling rendah hati, tangguh saat melawan musuh. Kita menjadi tegas, tidak diam saja. Kita menjadi orang seperti ini. Lalu, Allah berfirman bahwa itu kebaikan dari Allah.

Kini, mereka membela diri, melakukan apa yang Aku (Allah) perintahkan.

Sekarang, mereka bergerak ke depan. Kita selalu berpikir dalam masyarakat kita bahwa tidak akan pernah…

Alhamdulillah, kita sudah mencapai tujuan kita sebagai komunitas.

Kita selalu berpikir apa yang harus dilakukan. Apa langkah selanjutnya. Itu adalah “Sabiil,” sebuah jalan.

Apa langkah selanjutnya di jalan ini? Apa tujuan selanjutnya? Apa yang kita butuhkan untuk menyelesaikan ini. Kita selalu berpikir ke depan. Apa lagi yang harus kita lakukan. Apa yang harus ditanamkan kepada anak kita? Kita hanya bisa sejauh ini. Kalian harus lebih baik.

Ini baru permulaan. Inilah orang yang Allah ‘Azza wa Jalla katakan sebagai rahmat dari Allah. Ini keberkahan dari Allah, “Yu’tiihi man yasyaaa’.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Allah berikan kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Dia telah berikan ini pada kita sekarang. Dia telah memberikan kepada kita. Bukannya Allah tidak berfirman bahwa Dia berikan kepada kita dan kita bisa menjaganya. Jika kita melepaskan tanggung jawab ini, kita tergantikan. Subhanallah.

Yu’tiihi man yasyaaa’, waalloohu waasi’un ‘aliim.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha mengetahui. Dia tahu apa yang kita katakan dan tahu apa yang ada di hati kita. Dia tahu apa yang kita tunjukkan. Apakah kita merupakan orang yang bergerak maju atau diam saja. Hanya karena Anda dipekerjakan, tidak berarti Anda akan melakukan pekerjaan itu. Hanya karena kita Muslim, bukan berarti kita akan melakukan tugas kita.

Kita semua harus serius. Kita harus menyusun kembali cara berpikir kita sebagai individu, keluarga, dan masyarakat. Jadilah bagian dari Masjid. Bawa keluarga Anda ke Masjid. Dengarkan ceramah yang diberikan setiap minggu. Bawa anak Anda untuk mengikuti Khutbah. Biarkan mereka mendengar ceramah setiap minggu. Ini merupakan bagian yang penting dalam membangun pemikiran mereka.

Jika Anda tidak bersama mereka, hanya ini cara paling aman untuk mempelajari agama kita. Jangan bergantung pada komputer karena komputer memiliki hal baik, namun juga banyak hal buruk. Jika Allah telah memberi kita karunia untuk bisa mendirikan rumah-Nya di setiap negara, termasuk Masjid besar di sini.

Anda harus menjawab Allah karena tidak menghargainya. Anda harus menjawab Allah karena tidak mengenalkan Islam di kehidupan anak Anda. Anda semua akan menjadi tua. Sekarang Anak Anda berumur 7, 8, 9, 10, 12 tahun.

Ketika mereka berumur 50 atau 60, mungkin mereka telah meninggalkan shalat, suatu waktu mereka berpikir, “Ayah saya pernah membawa saya ke Masjid, saya harus kembali ke sana.

Saya bertemu dengan orang seperti ini, meninggalkan shalat. Meninggalkan semua perintah agama. Lalu, di umur 60 tahun dia kembali ke Masjid. Kami berbicara kenapa Anda kembali ke Masjid?

Dia berkata, “Saya ingat bahwa Ayah saya pernah membawa saya ke sini. Sesuatu di kepala saya mengatakan bahwa saya harus ke Masjid lagi.

Dia kembali ke Masjid. Kita ingin menanamkan memori ini ke dalam kehidupan anak kita. Lakukan itu. Ambil tanggung jawab itu. Mulai dengan langkah pertama ini.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang mencintai-Nya dan Dia mencintai kita. Semoga Allah menjadikan jika sebagai orang yang tidak takut akan celaan para pencela. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang benar-benar berjuang di jalan-Nya. Semoga Allah menjadikan semua usaha kita dalam Agama ini dengan segala kekurangan kita. Semoga Allah menerima semua usaha kita dan mengampuni segala kekurangan kita. Semoga Allah menerima tobat tulus kita kepada-Nya.

Barakallahu lii wa lakum fil qur’aanil hakim wa nafa’nii wa iyyakum bil aayati wa dzikril hakim.

Subtitle: NAK Indonesia
Donasi: https://kitabisa.com/nakindonesia

[English Subtitle] When Will You Submit – Nouman Ali Khan

Hata tardho, wa lakal hamdu idza ma rodhit, wa lakal hamdu ba’da ridhoi, wa lakal hamdu abdan abdan abada.

Wal-hamdulillaah, alladzii anzala ‘alaa ‘abdihil-kitaaba wa lam yaj’al lahuu ‘iwajaa.

Wal-hamdulillaah, alladzii lam yaktakhidz waladan, wa lam yakun lahuu syaruikun fil-mulk, wa lam yakun lahuu waliyyun minadz-dzulli wa kabbir-hu takbiro.

Wal-hamdulillah, alladzii nahmahduhu, wa nasta’iinuhu, wa nastaghfiruh, wa nu’minu bihii wa natawakkalu alaihi, wa nauudzu billaahi min syuruuri anfusinaa, wa min sayyiaati a’maalinaa, mayyahdillaahu falaa mudlillalah, wa man yudlilhu falaa haadiyalah, wa nasasyhadu an laa Ilaaha illallaahu, wahdahuu laa syariikalah, wa nasyhadu anna muhammadan abduhulloohi wa rasuuluh, arsalahulloohu ta’ala bil hudaa wa diinil haq, liyuzh-hirohuu ‘alad diini kullih, wa kafa billaahi syahidaa, fashallalloohu ‘alaihi wa sallama tasliman katsiiran katsiiro.

Tsumma amma ba’ad, fainna asdaqol haditsi kitabullah, wa khairol hadyi hadiyyum muhammadin shallaahu ‘alaihi wasallam, wa inna syarrol ummuri muhdatsatuha, wa inna kulla muhdatsatin bid’ah, wa kulla bid’atin dholalah, wa kulla dholalatin finnar, yaquulu subhanahu wa ta’ala fii kitaabi karim, ba’ad an aqul audzubillaahi minasy syaitoon nirrojiim.

Yaaa ayyuhalladziina aamanuu, man yartadda minkum ‘an diinihii, fa saufa ya’tillaahu biqoumin yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Adzillatin ‘alal-mu’miniina, a’izzatin ‘alal-kaafiriina, yujaahiduuna fii sabiilillaahi, wa laa yakhoofuuna laumata laaa’im.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Dzaalika fadhlulloohi yu’tiihi man yasyaaa’, waalloohu waasi’un ‘aliim.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Allaahummaj’alnaa minalladziinaa aamanuu. Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul uqdatan min lisaanii, yafqohuu qoulii. Wallaahumma tsabitnaa ‘indalmautii bi laa ilaaha illallaah. Wallaahummaj’alnaa minalladziinaa aamanuu wa ‘amilushaalihaat wa tawaashau bil haq, wa tawaashau bishshabri. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

I first of all ask Allah ‘Azza wa Jalla that He give me strength and clarity to deliver a message that is beneficial and its something that remains in the hearts and minds myself included all of the Muslims. Because the subject that I have choose that I have chosen to share with you today is of really a paramount importance.

And typically what I like to do in Khutbah is to focus on some portion of Allah’s words. And the portion I have selected for you today is the 54th ayah of Surah-An Nisa. Surah Nisa happens to be the surah as early Madani by most accounts.

And includes in it many instructions for Muslims and how to set up themselves as a community. So some of the foundations or principles for Muslim community to be established in Madina. In the life of Madina.

And in it also has principles for us of how to go beyond the community and really truly become a nation. So you know there is this idea of us the smallest unit of humanity being an individual and beyond that being a family and beyond that being a neighbourhood and beyond that being a community and even beyond that being a nation.

And so these stepping stones that lead us to becoming a solidify nation, an ummah. And Allah ‘Azza wa Jalla mentions these ayahs in these injunctions in one after the other in this surah. Some of them having to do with divorce law, others having to do with fighting in the path of Allah, spending in the path of Allah.

And you find a very interesting contrast. You find Allah ‘Azza wa Jalla talking to two groups of people. One group of people that is refusing to accept Islam. And another group of people who have accepted Islam on the outside, but have walked away on Islam from the inside, the Munafiqoon. And there are different kinds of hypocrites. There are those who never really believe to begin with and it was a “fasad” to begin with.

Wa qod dakholuu bil-kufri wa hum qod khorojuu bihii.” (QS Al-Maidah verse 61)

Right? They never had to begin with. On the other hand there are those who may have come with good will, they actually thought Islam has something good to offer and they accepted it thinking that it is the truth its convincing and its a beautiful thing.

But when it came to its instructions and its injunctions and its demands, they said, “I love Islam but this is getting a little too much. This is a lot to ask of a person.

They were not like…

A lot of these people that came in to Islam a good number of them were not like the Sahaba of Makkah. You know when you come into Islam in Makkah, it is not a bed of roses to begin with. They already know if I become a Muslim now, well all the Muslims I know are being cursed at, tortured, beaten up, made fun of. They are getting kicked out from their family homes. So if I join these people then I guess that’s coming in my future too. There is no added advantages in becoming a Muslim in the worldly sense, not in Makkah anyway.

When Prophet (‘Alaihi Shalawatu Wassalam) migrates to Madina, the Muslims are to begin with a strong community. Significantly stronger than they were in Makkah. And now if you become a Muslim the challenges are not the same as the challenges that were in Makkah for the Muslim who become in Madinah that is, they are not the same.

So a lot of times people would jump into Islam not realizing the consequences. What they are getting themselves into. This Deen is not an easy thing. This is not something you can take casually. It really is a change of course for your entire life.

So Allah ‘Azza wa Jalla in these ayaat talks specifically there is an entire passage dedicated to a discussion for the Munafiqoon, for the hypocrites. And the hypocrites would walk away from Islam in 2 ways. And this is important.

One is obviously leaving Islam altogether, “ridda“, outright you become Muslim and everybody knows you are no longer Muslim, you have become a Kaafir again.

But there is another form of turning away from Deen, and that is on the outside you say that you so profess to be from the Muslims because that has social consequences if you walk away from Islam outright, and that has social consequences but for all practical purposes, and on the inside there’s nothing left. There is really nothing left.

Especially, now you have become a person of thinking and choosing what do you take from the Deen and what you don’t take from the Deen. And this is one of the central messages of this surah that you are not in a position to negotiate what it is from this Deen that you accept and what it is from this Deen that you don’t accept or that you don’t find comfortable so you are not, you know, you are not gonna necessarily take it. This is one of the central ideas communicated in this Deen.

Just recently actually yesterday over the internet I was talking to a youth group in DC and you know a question came up in the discussion, it was a young sister who asked the question.

I love everything about Islam except hijab.

And it seems like hijab is there to protect men from looking at us. So, I really don’t see a point in it.

And instead of arguing the social benefits of hijab or what hijab does to honour women and all of that stuff, that is already going in the wrong direction, that conversation. We need to take a step back and ask more fundamental question.

Lets take a step back and ask Ibrahim (‘alaihissalam). Ibrahim (‘alaihissalam) loves Islam too but then Allah make a tiny little request, “How about you go in the middle of a desert and leave your family there.

Right? He is not one that’s gonna say, “I love everything about Islam but this whole leaving my family in the middle of a die thing. I don’t know.

I am not that comfortable with that.

And after he is done with that, you know what?

Why don’t you jump in to the fire.

You know I love everything about Islam except this whole. You know, burning myself alive. That’s asking a little too much.

Nope! You don’t find that question.

Then Allah says, “Put a knife on your son’s throat, go ahead.

He (Ibrahim) says, you know, “I love Islam but I also love my son.

I don’t know can You give me a logical explanation for why I should do this?

Can You tell me the social benefits or some of the other reasons, other benefits of why should I be obeying You?

Idz qoola lahuu robbuhuuu aslim, qoola aslamtu lirobbil-‘aalamiin.” (QS Al-Baqarah verse 131)

There’s a reason Allah has taught us that lesson in Surah al Baqarah. Whenever Allah said to him (Ibrahim ‘alaihissalam), “Give yourself up, submit, surrender.

He said, “I surrender I give myself up, I submit myself entirely before the Master of all people, lirobbil-‘aalamiin.

So before we talk about any aspect of Deen and try to figure out the logic of it, understand the larger purpose. Allah has made this Deen one to submitting to Him. If you are having a hard time submitting to him. You are having a hard time with Islam itself. The very central idea of Deen itself.

It’s not to say you shouldn’t understand the Ahkaam of Allah but you and I have to be the one that once we understand them, we have to, whether we get it or not whether we see the logic of it or not, we have to give it up. We have to just give it up, you know.

Allah ‘Azza wa Jalla even acknowledged in Surah Al-Baqarah when it came to Riba.

Dzaalika bi’annahum qooluu innamal-bai’u mitslur-ribaa.” (QS Al-Baqarah verse 275)

Its a very interesting discussion. Allah ‘Azza wa Jalla says there are people who consume riba and they say that business is just like riba. I mean if you looked at liquid transactions, and solid transactions, and money and cash and what is backed by. It’s a complicated discussion it could go either way.

You can’t even tell the difference. 1920, pate do pata do, one two lines in a contract. I mean what’s the big deal? It is the same and if you sit and have a 4 hour argument with a finance major about whether riba is halal or not. You know or what is the difference between riba and business you might say, “Yeah its the same yeah.

I don’t see the practical difference.

But Allah didn’t make only one line instead of explaining to you the fine line differences between them. He (Allah) said there is only one more thing you need to know now that you understand to you and your head that they are similar, there is only one more thing.

Wa ahallalloohul-bai’a wa harromar-ribaa.” (QS Al-Baqarah verse 275)

End of story. Allah has made business halal and He made riba haram. That is it. That’s the conclusion. Now with that background in your mind I want you to in shaa Allahu ta’aala reflect upon. the words of this profound ayah, “Yaaa ayyuhalladziina aamanuu,” (QS Al-Maidah verse 54) of course the ayah is addressing us.

Man yartadda minkum ‘an diinihii.” (QS Al-Maidah verse 54)

The one who turns back, turns away among you, “minkum ‘an diinihii,” from His Deen. The one who turns back from among you from Deen.

Allah didn’t say all of us are turning back from our Deen. A group from among us. And “man” is an interesting word in Arabic, it could refer to something plural and it can also refer to something singular.

So from the point of view of “Taqleel” it could be even a single person is walking away from Deen, you are walking away from the religion. And I have already mention this to you, this can happen in two ways.

One, practically they denounce Islam altogether.

And two for all practical purposes internally in their hearts, in their heart of hearts, in their thoughts, they really don’t submit to Allah. They really don’t see a point of living by Allah’s teachings. They don’t see the point in that any more.

So for those practical purposes they have walked away from the Deen, also. Even if no body else human beings don’t see it we see a Muslim outside they are suppose to say, “Assalamualaikum wa rahmatullah.

We are not suppose to judge what’s in their heart. But Allah can. Allah sees what’s inside. So who ever of you has walked away or does so.

Then what does Allah say, “Fa saufa,” (QS Al-Maidah verse 54) then soon and “saufa” is the Arabic word that implies “very soon”.

Allah, it won’t take very long for Allah to take immediate steps and what are those steps?

Ya’tiillaahu biqoumin.” (QS Al-Maidah verse 54)

Allah will bring about a nation. Allah will bring about, Allah will bring forward a nation. Its very interesting. The first part was even if one of you walks away and then Allah says Allah will bring a whole nation around.

In other words you start thinking you are special? You think Allah needs you? You think you are a contributor to Islam that nobody else can be? That you are irreplaceable?

Allah ‘Azza wa Jalla essentially says what to speak of you. I will bring a nation instead of you. You are not an asset. Don’t think of yourself that high. Already we are being put in our place. And one of the central embedded teachings of this ayah is humility. That we understand our place.

That in this Deen when we get an honour to say, Laa ilaaha illallah, When we have the honour to say, Muhammadur-Rasoolullah (shallallahu alaihi wa sallam), then this is an honour and a gift given by Allah. And if you don’t appreciate this gift, then who needs you?

There is plenty of others that can appreciate it more than you and I. There is plenty of others. Similarly we have to start stop thinking, even those among us, who are involved in religious activity. They are involved in positions of leadership, of volunteering, of helping out Islamic causes. Whatever they are doing in whatever capacity.

Sometimes you start thinking, “Man if I don’t do it, it won’t get done.

If I am not the one giving the Khutbah, if I am not the one helping out volunteering at the Masjid, if I am not on the board.

If I am not the MSA president, if I am not running the dawah organization, man this work cannot happen.

I can’t even believe, I am surprised what was happening before I got here because I am God’s gifted Islamic work.

Right? You know?

Without me how would it even move forward?

And Allah ‘Azza wa Jalla is letting us know all of us know that you know His Deen is beyond you and I. And its not like other people will come forward and so we give other people credit.

Allah says, “Ya’tillaahu biqoumin.” (QS Al-Maidah verse 54) not “ya’ti qoumun“.

Ya’ti qoumun,” will be a nation will come.

Ya’tillaahu biqoumin.” (QS Al-Maidah verse 54) Allah will bring a nation.

It’s not even that new nation gets credit. Allah gets credit from bringing them out. Allah gets credit for the replacement. We are replaceable. And we are in a position of privilege and honour. We have to accept that and admit that. And that’s a humbling thing. And at the same time its an honour, at the same time you and I should be humble that Allah has chosen us and given us this responsibility. We should take it very very seriously. And in no aspect of our Deen, and in no ounce of our attitude, should we be people that turn their back from our Deen in any capacity, altogether or partly.

We shouldn’t be of those people. We should be of the people who move forward. You know there are interesting expressions in the Quran for Muslims moving forward. And essentially if you are not moving forward, its not that you are in your place you are actually headed backwards.

Yaaa ayyuhalladziina aamanuu, maa lakum idzaa qiila lakumunfiruu fii sabiilillaahits, tsaaqoltum ilal-ardhi, a rodhiitum bil-hayaatid-dun-yaa minal-aakhiroh.” (QS At-Tawbah verse 38)

Surah At-tawbah is very harsh language. What’s wrong with you those who claim to have Iman when you are told to march forward in Allah’s path, your feet get planted in to the earth. What it is? You prefer Dunya over Aakhirah? That’s what happened to you?

It is understandable that a disbeliever who has no concept of Paradise, who has no concept of Hell-fire, who has no concept of Judgement Day. If he prefers this world, it is logical I understand. You are Muslims!

You have been given far more better information. You know a lot more about what’s ahead. And if you still prefer this world there is some serious problem. “Maa lakum“.

Is rightfully said, “What would be wrong with you? What is wrong with you?

That you don’t march forward in Allah’s path.

Anyhow, “Fa saufa ya’tillaahu biqoumin.” (QS Al-Maidah verse 54)

Then Allah gives us qualities of this nation. And it is important to understand the comprehensive message of this ayah. Allah says there are people who may walk away from this Deen and now Allah is describing people who don’t walk away from His Deen. People who will look to the teachings of His Deen. People that He expects a nation to be like.

So when he gives us qualities of these replacements. Really we should have these qualities, so we are not replaced. That’s the point of giving us these qualities. It’s that we should aspire to carry these qualities in ourselves as an Ummah. And may Allah make it easy for all of us to carry these qualities in ourselves.

Allah says, “Yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu.” (QS Al-Maidah verse 54)

He loves them and they love him back. He loves them and they love Him. Allah mentions His love first and one of the embedded teachings in that is He already loves us. He already loves us. And when we appreciate that we should truly love Him back. He has given us an honour.

You know when you, a lot of times young people especially as they are raised sometimes unfortunately in this country you know by Muslim families. Our families, we fail to teach our children what an amazing thing it is to be a Muslim. We just raise them on cruise control, thinking we are raised Muslims so our kids are gonna be automatically appreciating Islam without us having to put any extra effort in it.

OK maybe we drag them to Jummah prayer half way through the Salah, or we bring them to Sunday school and leave them outside whatever, and they do what they do for hours and automatically somehow they will become righteous.

And reality hits you when they become teenagers. And then you come to the Imam saying, “Can you talk to my boy or my girl because they seem a little different now. Ever since they got a license I don’t know what’s happen to them. You know, ever since they got their cell phone. I am worried who their friends are because they do not talk to me any more.

That’s what starts happening. But from the very beginning we are suppose to be instilling certain values in to our kids, in to our upcoming, the next generation. And one of those values is that this Deen is actually a gift, not a prison, not a curse.

A lot of times our young people, when you ask them, “What do you think of Islam, what do you know about Deen?

They will make a whole list of things that are haraam. This is haraam that’s haraam, smiling is haraam, happiness, joy, taking a breathe, relaxation, having good friend’s company. Here is a whole list of things that I shouldn’t be doing.

That’s what seems like Islam is. You ask them what you know about Allah?

Well, Allah will take revenge, destroy the Kuffar and He has destroyed nations before. And He has created Hell-Fire. On Judgement Day He will humiliate people. The first thing that comes to their mouth is not mercy. Its not mercy, its not guidance, its not help. First thing that comes to their mind is judgement, punishment. Here is what I can’t do. I can’t live my life freely. That’s what they think.

But you know what the reality is? All other people are slaves. We are the only ones that are free. We are the only ones that are free. Every body else is either a slave to their nafs or they are a slave to their entertainment or they are a slave to their bank account or they are a slave to their job or their career or their appearance or their fashion sense or their car or their house or their payments.

And we are slaves to Allah, freeing us from all of these things. It frees us from all of them. We are the only ones that are free. You walk around, this is suppose to be our country, this is suppose to be the expression of individual freedom.

You ever been to the High School and you see a bunch of clicks, they are dressed the same. All the Goth kids dress the same, all the Hip Hop kids dress the same. All the the other groups of kids they all dress the same. It like they are enslaved in to dressing a certain way. They have a uniform.

This is suppose to be an individual country. Right? This is suppose to be individual. Everybody has to listen to the same song and watch the same movie and then report back to their friends, “Hey, I saw it too.

This is individualism? This is what you call individualism? Subhanallah. Allah has given us that honour that we don’t have to follow a crowd, we don’t have to turn into sheep. We don’t! He has freed us from this by making us slaves to His.

Coming back to the ayah, “Yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu.” (QS Al-Maidah verse 54)

Now the next part is really hard, and I want that to be heart of my Khutbah. What really I want to share with you. Allah ‘Azza wa Jalla says the next quality, and some argue that this quality is a result of the first quality. Meaning if they really love Allah…

If Allah loves them and they really love Allah then next part is natural and that is “Adzillatin ‘alal-mu’miniina.” (QS Al-Maidah verse 54)

And a lot of times we skip “Adzillatin ‘alal-mu’miniina,” and we go straight to “a’izzatin ‘alal-kaafiriina,” (QS Al-Maidah verse 54) because thats easier, you know.

Adzillatin ‘alal-mu’miniina.” (QS Al-Maidah verse 54) they are powerless, weak, humble, meek, soft in their dealings with believers. They are easy going with believers. They are forgiving with believers. They are courteous in their language. They are not judgemental. They are not harsh with other Muslims.

One of the worst qualities of a community that claims to be a believing community is that they are judgemental and harsh and back-stabbing towards each other. This is one of the worst qualities Bani Israel had developed so when Allah reminded them of fundamentals of their Deen.

He included in those fundamentals, “Wa quuluu lin-naasi husnan.” (QS Al-Baqarah verse 83)

Speak to people nicely. Speak to people nicely.

You will find nowadays unfortunately a stigma associated with Muslims, the more religious they get the more constipated they get socially. The more difficult it is to talk to them. The angrier they look.

If the guy has got a beard, it means he is just gonna constantly be upset on something. And you gonna avoid trying to talk to him. If a woman starts wearing hijab it mean she is gonna judge you because you are not wearing one. And she will look with her eyes that will burn right through your hair. Right? That’s the perception.

But the closer you come to Deen that much more you are suppose to become courteous and kind, and generous and understanding and forgiving of others. That’s what you are suppose to be. Instead of looking at someone who is living in ignorance. A lot of Muslims do ignorant things nowadays.

Maybe your friends do and and you don’t do it any more. But if your friends are doing ignorant things. Your first thought, “Astaghfirullah, I just can’t believe these people they are my friends. Such ignorance they do. They do Bida’, they do kuffar, they do shirk, they do haraam they don’t care about anything.

You are that guy two years ago. That was you? Who guided you? You guided yourself?

Wa kuntum ‘alaa syafaa hufrotin minan-naar, fa anqodzakum min-haa.” (QS Al Imran verse 103)

The same ayah which says, “Fa allafa baina quluubikum.” (QS Al Imran verse 103)

Then He put love between your hearts. And then the same ayah says, “You were at very edge of Hell.

You were at the edge of the ditch and He rescued you.

So if somebody else is at the edge of the ditch instead of getting angry at them and kicking them off. Be patient. Be courteous. Be patient.

Some you come and ask Imam or a scholar, “You know I am trying to give dawah to my brother or to my friends. Its been like to months nothing is happening. What should I do? Give me some magical thing to say.

Tell me what I can do.

You know what? What’s Noah (‘alaihissalam)’s magic trick. Its Sabr. He is talking to his own son for a very long time. His own the same community for a very long time. And its not like he talks to a group of people and they don’t listen, he says, “You know what? I am packing my bag. I am going somewhere else where maybe I can find a better crowd elsewhere.

No! Same crowd, same crowd. We have to be patient with each other. Especially believers. Especially believers. And that’s Noah (‘alaihissalam) with Kuffar. That’s him with Kuffar. That’s a Messenger (shallallahu alaihi wa sallam) for a decade with the Quraish of Makkah the worst of the worst. For a decade.

We are talking about Muslim families. We are talking about your own friends and neighbours. We have to humble ourselves before them. Its a very serious problem, arrogance. You know one the great central teachings of our religion “Laa Ilaha Illallah,” the beginning.

The beginning of our religion, is acknowledging the greatness of Allah. And the more you realize Allah’s greatness, the natural result of that should be, the more you realize your own lesser status. The more you make Allah, declare Allah’s greatness, the more humble you should become.

That’s the natural result of declaring “Laa Ilaha Illallah“. Every time you and I say, “Allahu akbar,” its not just a statement of Allah’s greatness, its a statement of our own weakness. Its a statement of our own humility. But when people who say, “Allahu Akbar,” then pass judgement of anybody who walks in to the Masjid. And they look at the size of their beard or they look how they are dressed or they look at the accent of their language.

You know when that happens… When people who even working in Islamic causes look each other with suspicious eyes. When they can’t trust each other. When people say Salam without meaning Salam. “Assalamualaikum,” all of you know what that means. But when it implies there is no beef between us, I don’t dislike you, I love you, there is absolute peace and harmony between us.

When you say, “Assalamualaikum Brother!

You don’t mean it. You mean exact the opposite. I hate your guts brother. But you are saying, “Assalamualaikum.

That’s what you are saying and this is absolute hypocrisy. You can not say “Assalamualaikum” to someone and have feelings against them. You can’t.

Then you are saying something you don’t mean. That’s what you are doing. So you and I, we have to internalize “Adzillatin ‘alal-mu’miniina” first. Humbled before the believer.

A’izzatin ‘alal-kaafiriina.” And they are tough, harsh, authoritative against Kafireen. And Kafireen here are not non-Muslims. Kafireen here is enemies of Islam. Kafireen is here who are undermining Islam. The Muslims were not harsh with all non-Muslims in Madina.

Who were they harsh with? The enemies of Islam. Those who are trying to undermine Islam, attack Islam, insult the religion, say things against the Prophet, say things against the Quran. Those who are trying to attack Madina from Makkah. Those people. They have to be harsh towards them. They are not gonna be back awe. They are not gonna take it sitting. They stand up for themselves.

So over learning here is a fine line between we are not arrogant because we are humble, at the same time its not like you walk all over us either. We stand up for ourselves. We don’t take it sitting down.

Our young men, lot of them go to public school, young men and our girls. They go to public school and people pass comments at them. Stand up for yourself. Stand up for yourself. Don’t take it just, “Oh I have to be patient. I have to be humble.

And you are walking like… You’ve got a back surgery or something and your back is lowered and you think this is like Islamic that you have to look like you are weak or you are sick or something. No!

We have to lower our gaze that’s fine but that doesn’t mean we have to lower our heads. It doesn’t mean that. We have to be confident people. We have to instill confidence in our deen so much, so much that when we see Kufr we look at its inferiority. We see how inferior and pathetic it is. And we see pride and greatness that Allah has given us in Islam. We are not arrogant but we certainly are confident. That’s what we have to be.

A’izzatin ‘alal-kaafiriina,” then Allah goes further to say, “Laa yakhoofuuna laumata laaa’im.” (QS Al-Maidah verse 54)

They are not afraid of any blame of any blamer. In other words, people will say things to us, people will accuse us of things. People will literally “La um,” accuse. People will accuse us of things.

The Peter Kings of the World will accuse us of things before Congress. They will do so. But we won’t be afraid of it. We will not gonna go, “You know what he said about Muslims? Oh my God what’s gonna happen?

No! No! No! No! We knew what’s gonna happen. We knew what’s gonna come. And we are not afraid of it. We don’t have to explain ourselves to you. You don’t have to tell us, “You guys are crazy, this, that or the other.

And we have to exhaust or breath-telling. No! No! No! we are not crazy. We are normal. We are OK. No!

No! That’s what they want. They want to keep us busy constantly telling them that we are not crazy. Muslims are not violent, Muslims are not extremist, Muslims are not this, Muslims are not that. They want us to make a whole list of things that Muslims are not. So we never get to tell them what Muslims are. Right? That’s the point. You are constantly busy explaining yourselves.

Laa yakhoofuuna laumata laaa’im.

And then finally Allah says, “Yujaahiduuna fii sabiilillaahi.” (QS Al-Maidah verse 54)

Allah argues, “Yujaahiduuna fii sabiilillaahi.

They struggle as hard as they can in Allah’s path. In other words, this Ummah has come together because this Ummah is on a journey. Its on a journey. It has a goal. And its gonna get to that goal. And they have to take care of the business inside the house.

Before they can reach there. Before they can deal with a higher goal. You have to have your health in order to do bigger and better thing. Allah has made us an Ummah for a very high cause. Its called “Jihad fii sabiilillaah.

We are not afraid of that term, it is a noble term in the Quran. And has nothing to do with the craziness associate with it. We have to confidently study this term and understand what it refers to. It refers to the mission of all messengers. All messengers.

We are doing “Jihad fii sabiilillaah“ِ. Esa (‘alaihissalam) did “Jihad fii sabiilillaah“ِ. Musa (‘alaihissalam) did “Jihad fii sabiilillaah“. Muhammadur-Rasoolullah (shallallahu alaihi wa sallam) did “Jihad fii sabiilillaah“.

They struggled in Allah’s path. Allah gave them a mission and they struggled in it. This Ummah has a mission. It has a goal to accomplish. It has to clarify the teachings of this Deen to the rest of the world. It has to show the world the beauty of Islam. That’s a big goal. Its not a small goal. With all the billions of dollars being pushed in diminishing Muslims.

This ummah has a goal to overcome that because they may have finances on their side, but Allah azza wa jalla is on our side. Allah is on our side. So we have a goal. We have a mission. But we can’t accomplish this mission if we are bickering each other and arguing among ourselves. And we are too busy in dealing with these pathetic things that are holding us back from what really Allah has created us for.

Yujaahiduuna fii sabiilillaahi.

And then Allah ends, “Dzaalika fadhlulloohi.” (QS Al-Maidah verse 54)

That is a favour of Allah. That is the favour of Allah. If you and I become an Ummah that truly struggles for the sake of Allah that show humility to each other, that become tough against the enemy. We become stern. We don’t become lying down. We become these people. Then Allah is saying that is Allah’s favour.

Now these people are standing up for themselves. Now they are doing what I commanded them to do.

Now they are moving forward. We are constantly thinking in our communities we are never gonna be…

Oh! Alhamdulillah we have accomplished everything we need to as a community.

We are always thinking what we need to do. What’s the next step. Its a “Sabiil,” a path. What’s the next step in this path. What’s the next milestone? What more we need to get done. We are constantly thinking ahead. What more we need to do. And what we need to instill in to our kids. We only got this for you. You guys gonna go further. This is just a beginning.

These are the people Allah ‘Azza wa Jalla says this is a favour of Allah. This is a blessing of Allah, “Yu’tiihi man yasyaaa’.” (QS Al-Maidah verse 54)

He gives it to whoever He wants. And He has given it right now to us. He has given it to us. And Allah didn’t say He has given it to us and we can hold on to it. If we walk away from these responsibilities we are replaceable. SubhanAllah.

Yu’tiihi man yasyaaa’, waalloohu waasi’un ‘aliim.” (QS Al-Maidah verse 54)

Allah is Vast and All Knowledgeable. He knows what we are saying on our tongues and He knows what we mean inside our hearts. He knows what we represent. Whether we are people who move forward or people who don’t move forward.

Just because you have been hired for a job, doesn’t mean you’ll do it. Just because we are Muslims doesn’t mean we’re going to get the job done. We have to all get serious. We have to all re wire our thinking as individuals, families and communities. Be a part of the Masjid.

Bring your family to the Masjid. Listen to the lectures that are being offered every week. Bring your kids to the Khutbah. Let them hear the message every week. This is important part of them developing their thinking.

If you don’t associate them, these are the only safe havens left for us learning our Deen. Don’t rely on a computer because computer comes with many good things, but it also comes with a lot of garbage. If Allah has given us the blessing to be able to establish His houses all across this country, including His great Masjid here. You have to answer Allah for not appreciating it. You have to answer Allah for not breaking some part of your child’s life.

You guys are gonna grow older. Your kids are 7, 8, 9, 10, 12 years old now. When they are 50 and 60 maybe they have abandoned Salah and one day the thought come to their mind, “You know what my dad took me to the Masjid, I should go back.

I have heard people like that they left Salah. Left Deen altogether. And then at the age of 60 he comes back to the Masjid. We were just talking why did you come back? He said, “I remember my dad used to take me here. So something in my heart said I should do that again.

And he came back. We want to instil these memories in to our children’s life. Do that. Take that responsibility. Start with these first steps. May Allah make us of those who love Him and He loves us.

May Allah make us of whose who are not afraid of the blame of any one who blames us. May Allah make us of those who truly do struggle in His path. And may Allah make all of our efforts in this Deen however many shortcomings they have had. May Allah accept all of our efforts and overlook those shortcomings. And may Allah accept our sincere repentance before Him.

Barakallahu lii wa lakum fil qur’aanil hakim wa nafa’nii wa iyyakum bil aayati wa dzikril hakim.

Subtitle: NAK Indonesia
Donation: https://kitabisa.com/nakindonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s