[Transkrip Indonesia] Surah Al Kahfi – Alhamdulillah – Nouman Ali Khan


Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, washshalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyai wal mursaliin, wa ‘ala aalihi wa sahbih, wa man istanna bi sunnatihi ila yaumiddiin. Allahummaj’alna minhum wa minalladziina aamanu wa ‘amilusshalihaat wa tawashaubil haq, wa tawashau bissabr, amin ya rabbal ‘aalamiin. Tsumma ‘amma ba’d.

Fa ‘audzubillaahi minasysyaithanirrajiim, bismillaahir-rohmaanir-rohiim. Al-hamdu lillaahilladzii anzala ‘alaa ‘abdihil-kitaaba wa lam yaj’al lahuu ‘iwajaa. (QS. Al-Kahfi ayat 1)

Robbisyrohri lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul ‘uqdatan min lisaani, yafqohuu qoulii, aamiin ya robbal ‘aalamiin.

Bi idznillaah kita mulai hari ini ayat pertama surat Al-Kahfi dan pendekatan yang insya allah akan saya ambil dalam sesi ini adalah menjelaskan satu aspek dari mempelajari Al-Qur’an, yakni hubungan intertekstual yang merupakan istilah teknisnya. “Al Qur’an yufassiru ba’duhu ba’dan,” artinya Al-Qur’an menjelaskan beberapa bagian, bagian lainnya kita sendiri yang mencari penjelasan.

Jadi jika Anda ingin mendalami Al-Qur’an, sangat penting untuk mengetahui apa lagi yang dikatakan Allah tentang kalimat yang sama tersebut di seluruh Al-Qur’an. Untuk konsep yang sama tersebut bagaimana Allah mengajari kita di bagian lain Qur’an.

Jadi akan kita lihat beberapa diantaranya terkait satu bagian dari ayat pertama hari ini. Pendahuluan Al-Qur’an khususnya sangat bertenaga, dan sangat memicu untuk berpikir.

Jadi jangan berasumsi bahwa waktu yang akan kita habiskan pada bagian awal surat Al-Kahfi akan sama dengan dengan yang selanjutnya yang kita harapkan bisa menyelesaikan satu ayat per sesi. Mungkin hingga 2 ayat, dan ini sudah agak memaksa. Namun bagian dari ayat pertama ini akan memakan waktu lebih banyak. Dan saya tidak ada masalah dengan itu insya allah, saya lebih suka menggunakan waktu membahasnya dengan kalian.

Jadi kita mulai hari ini insya allah dengan sedikit pembicaraan tentang “Alhamdulillah”. Dalam kasus ini pertama kita bahas secara umum, bahasan bahasanya akan dilakukan besok. Hari ini hanya tentang konteks “Alhamdulillah,” definisi dasar, bahwa “Alhamdulillah” adalah semua pujian dan syukur adalah milik Allah. Dan dua hal yang sebaiknya kalian ketahui adalah “almadh watstsana,” yang berarti memuji dan menghargai sesuatu.

Ini adalah salah satu sisi kata “hamd,” di sisi lain ini mencakup kata “assyukr,” terima kasih. Jadi ada dua dimensi kata “hamd,” pada satu sisi ada penghargaan dan pujian, dan di sisi lain ada rasa terima kasih.

Penghargaan dan pujian adalah “almadh watstsana’,” dan terima kasih adalah “assyukr”. Ini adalah dua hal yang secara mendasar berbeda. Saat Anda memuji seseorang itu tidak berarti Anda berterima kasih padanya, dan saat Anda berterima kasih padanya tidak berarti Anda memujinya.

Jadi pertama pahami perbedaan antara dua hal ini. Sebuah mobil bagus, Anda puji atau Anda ucapkan terima kasih? Anda puji, Anda akan terlihat aneh jika mengitari mobil dan mengucapkan terima kasih. Sama halnya Anda akan memuji keatletisan atlit dari tim yang Anda kagumi. Atau Anda memuji kelucuan seorang bayi, Anda takkan berterima kasih pada bayi itu. Anda hanya akan memuji; “Oh lucunya…” Hanya pujian.

Tapi terima kasih adalah sesuatu yang sangat berbeda, terima kasih adalah reaksi. Terima kasih adalah reaksi dari sesuatu yang baik yang dilakukan kepada Anda. Dan sebagai respons, Anda nyatakan terima kasih.

Bahkan Anda mungkin mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang tidak patut dipuji. Ayah Ibrahim ‘alaihissalam bukanlah seorang yang layak dipuji, karena dia pembuat berhala. Tapi Ibrahim ‘alaihissalam berterima kasih kepadanya, karena Anda harus berterima kasih kepada… orang tua Anda meski mereka tidak layak dipuji. Ini bukan persyaratannya. Jadi Anda bisa memuji seseorang tanpa berterima kasih padanya, itu mungkin… Dan Anda bisa berterima kasih pada seseorang tanpa memujinya.

Bahkan Musa ‘alaihissalam mengakui Fir’aun telah menolongnya.

Wa tilka ni’matun tamunnuhaa ‘alayya.” (QS. As-Syu’ara ayat 22)

Apa yang telah dilakukannya? Musa mengakui hal itu dan berterima kasih. Dia berterima kasih kepadanya, tapi dia pasti takkan memujinya. Ini dua hal yang berbeda.

Tapi saat kita mengucapkan “al-hamd,” kita menggabungkan dua makna tersebut. Inilah definisi dasarnya. Definisi panjangnya insya allah besok. Jadi kedua hal itu terkandung di dalamnya. Hal lain yang perlu kalian tahu secara singkat tentang “alhamdulillah,” adalah bahwa ini adalah pernyataan yang tak mengenal waktu, bisa disebut “khabari” dan “insya’i”.

Artinya kalian membuat pernyataan “Kenyataannya, puji dan syukur milik Allah,” yang memang benar. Tapi pada saat yang sama karena tidak ada “inna” sebelumnya, membuatnya menjadi “kalam insyai,” artinya ini ungkapan emosi kita. Dengan mengucapkan “alhamdulillah” kita tak hanya menyampaikan informasi, tapi juga mengungkapkan apa yang terasa di hati kita.

Sebagai contoh, jika saya mengajari sebuah topik, kosa kata, atau saya mengajar konsep “alhamdulillah,” jadi selama pelajaran berlangsung saya ucapkan “alhamdulillah” sebagai informasi. Tapi saat kita menyudahi pelajaran, saya ucapkan “alhamdulillah” kita sudah selesai hari ini, itu bukan informasi, tapi apa? Ungkapan emosi rasa terima kasih yang saya rasakan dan ungkapkan dengan kata “alhamdulillah”.

Jadi “alhamdulillah” mengandung ide dan emosi, kombinasi dari kedua hal ini pada saat yang sama, jelas? Jadi “alhamdulillah” mengandung ide dan emosi.

Untuk apa “hamd” Allah? Siapa yang ingin menjawab? Silahkan… Ada batasan lain tentang untuk apa “hamd” Allah itu tapi jika dalam ayat ini Allah berkata, “Al-hamdu lillaahilladzii anzala ‘alaa ‘abdihil-kitaaba.

Dan Dia meletakkan “isim mawsul” -yang baru kalian pelajari secara selintas dalam tata bahasa Arab-, saat Dia (Allah) meletakkan “ism mawsul” di sana maka Dia telah menghubungkan apa saja yang akan datang dengan pernyataan ini, dia menjadi tak terpisahkan dengan “hamd”.

Artinya “hamd” Allah adalah untuk semua hal. Tapi khususnya adalah untuk yang berikut ini. Ada jenis “hamd” yang khusus yang dimiliki Allah karena Dia menurunkan Al-Qur’an kepada hambaNya dan tidak menyediakan kemungkinan terjadinya penyimpangan di dalamnya (Al-Qur’an).

Wa lam yaj’al lahuu ‘iwajaa.” Kalian paham?

Jadi karena penggunaan kata “alladzii” yang merupakan “ism mawsul,” ada hubungan khusus yang terjalin antara pujian dan terima kasih kepada Allah dengan turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang mana membuat saya berpikir, karena ada sekitar 23 tempat di dalam Al-Qur’an di mana Allah menggunakan “hamd”. Allah bicara tentang pujian dan terima kasih. Apa yang dibicarakanNya di tempat-tempat tersebut?

Salah satu tempat yang paling mengejutkan adalah; “Al-hamdu lillaahilladzii kholaqos-samaawaati wal-ardho wa ja’alazh-zhulumaati wan-nuur.” (QS. Al-An’am ayat 1)

Alhamdulillah” kepada yang menciptakan langit dan bumi dan meletakkan pada tempatnya dan mengizinkan keberadaan semua jenis kegelapan dan untuk meredakan semua jenis kegelapan itu apa yang juga Dia berikan? Cahaya, “Wan-nuur.

Tsummalladziina kaafaru birobbihim ya’diluun.” (QS. Al-An’am ayat 1)

Setelah itu mereka yang mendustakan itu bahkan sehubungan dengan Tuhannya. Mereka menyamakan dua hal (cahaya dengan kegelapan).

Bagaimana mungkin cahaya disamakan dengan kegelapan? Bagaimana mungkin kamu menyamakan Allah dengan hal lain, “Alloohu nuurus-samaawaati wal-ardh.” (QS. An-Nur ayat 35)

Bagaimana mungkin kamu melakukannya?

Dengan kata lain Allah mengatakan bahwa penciptaan langit dan bumi tidak bisa dipisahkan. Maka tidak ada artinya jika Allah tidak meletakkan cahaya dan kegelapan, dengan kata lain perbandingan antara kesesatan dan yang petunjuk.

Dalam ayat itu saat Allah mengatakan “Alhamdulillah,” khususnya untuk penciptaan langit dan bumi dan pembeda antara kegelapan dan cahaya. Apa yang Allah berikan pada kita kaum muslim sebagai pembeda kegelapan dan cahaya? Kitab, kitab Al-Qur’an.

Karena inilah Allah ‘azza wa jalla mengatakan, “Fa aaminu billaahi wa rosuulihii wan-nuurilladzii anzalnaa.” (QS. At-Tagabun ayat 8)

Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul dan cahaya yang Kami turunkan, Al-Qur’an itu sendiri disebut “nuur”.

Wa anzalnaaa ilaikum nuuran mubiina.” (QS. An-Nisa’ ayat 174)

Kami kirimkan padamu cahaya yang jelas.

Konsep bahwa kitab ini memiliki kemampuan agar kita bisa melihat, yang mampu memberikan cahaya. Perhatikan bagaimana Allah ‘azza wa jalla bicara soal ini. Dia berkata, “Matsalul-fariiqoini kal-a’maa wal-ashommi wal-bashiiri was-samii’.” (QS. Hud ayat 24)

Perhatikan perbandingan yang menarik itu; bagaimana mungkin dua kelompok. Salah satunya buta dan tuli, tidak mampu menangkap informasi dari mata atau telinganya. Bagaimana mungkin membandingkan mereka dengan yang bisa melihat dan mendengar?

Jadi dua hal apa di satu sisi? Kebutaan dan ketulian. Dan di pihak lain? Penglihatan dan pendengaran bukan? Masalahnya saat kita merasakan petunjuk, sebenarnya petunjuk itu bukan sesuatu yang kita lihat, tapi yang kita dengar.

Innaa sami’naa qur’aanan ‘ajabaa.” (QS. Al-Jinn ayat 1)

Sami’naa wa atho’naa.” (salah satunya Al-Baqarah ayat 285)

Ini terkait soal pendengaran.

Tapi paralelisme yang dibuat adalah; jika kamu tidak mendengar dengan baik, kamu sama cacatnya dengan jika kamu buta. Jadi gambaran ini sangatlah bertenaga di dalam Al-Qur’an. Ini juga sebabnya “Hal yastawil-a’maa wal-bashiir.” (QS. Al-An’am ayat 50/QS. Ar-Ra’d ayat 16)

Bisakah yang buta dan yang bisa melihat disamakan?

Sekarang kembali kepada surat Al-Kahfi, seberapa pentingnya perbandingan ini? Allah berkata Dia tidak meletakkan penyimpangan di dalamnya. Dan dia (Al-Qur’an) berdiri tegak -yang akan kita bicarakan nanti-.

Jadi ada perbandingan untuk segala hal yang menyimpang. Dan semua hal yang tidak berdiri tegak terhadap satu hal yang berdiri tegak. Sebagaimana ada perbandingan antara mereka yang buta dengan yang melihat, dan mereka yang tuli dan yang mendengar.

Tidak ada perbandingan antara kedua hal itu (buta vs. bisa melihat), seorang buta yang melalui suatu jalan tidak tahu apakah dia berjalan lurus. Mereka (yang buta) mungkin meng-”iwajan” (kebengkokkan) jalan mereka, namun mereka yang bisa melihat akan berjalan lurus, mereka tegak lurus.

Advertisements

One thought on “[Transkrip Indonesia] Surah Al Kahfi – Alhamdulillah – Nouman Ali Khan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s