Berkata Bohong


Pada malam itu nggak ada hujan, nggak ada angin, nggak tahu kenapa tiba-tiba saya ingin membahas masa-masa kecil kita sama teman saya. “Dulu sewaktu kecil, aku pernah nanya adhek bayi itu darimana. Lalu dijawab kalau adhek bayi itu keluar dari udel (puser). Dan aku cukup lama mempercayai kalau adhek bayi itu lahirnya dari udel”. Kata saya.

berkata-bohong

Lalu giliran teman saya si Cempluk yang gantian cerita. “Iya mbak, dulu aku pernah nggak mau makan. Soalnya makanannnya ada semutnya. Eh Ibuku bilang kalo semut itu mengandung vitamin Z, akhirnya aku makan deh makananku.” Hihihii…. kita ketawa bareng.

Ada lagi Mbak. Dulu aku pernah nanya sama bapak petir itu asalnya darimana. Lalu kata bapak, petir itu tandanya Tuhan sedang berantem sama syetan. Jadi waktu tuhan berantem sama syetan terdengarlah suaranya duarrr-duaaarrr gitu. Dan aku percaya aja.” Kata Cempluk.

Eh kalo soal petir temenku juga pernah bohongin anak-anak di sekitar rumahku. Waktu itu si abang liat anak-anak tetangga yang pada nutupin telinganya ketika liat kilat. Terus si abang dengan jahilnya bilang gini, kalau mau nggak disambar petir yang ditutupin itu bukan telinga tapi hidung. Eh anak-anak percaya aja. Jadi ketika terlihat cahaya kilat, mereka serempak langsung nutup hidung. Bersama cahaya kilat kita bisa lihat mereka nutup hidung secara serempak.” Wkwkwkwkwk aku dan si cempluk ketawa bareng.

Eh btw waktu kamu tahu ternyata kamu dibohongin kesel nggak?” Tanya saya.

Keselah mbak.” Jawab si cempluk.

Sama.” Jawabku.

Saya juga yakin banyak anak diluar sana yang masih suka dibohongin. Dan sebanyak itulah rasa kesal mereka ketika tahu bahwa kepercayaan mereka disalahgunakan. Anak-anak memang sasaran yang empuk untuk jadi korban bualan orang dewasa. Dan sampai sekarang ini masih bisa kita lihat banyak orang dewasa yang masih suka bohong ke anak-anak. Ada yang bohong agar anak-anak segera melakukan apa yang orang dewasa inginkan. Contohnya ketika seorang ibu bilang, “Eh itu ada Pak Polisi, nanti kalau nggak mau makan dimarahi pak Polisi.” Halooooo buuu…, sejak kapan ya Pak polisi bertugas menangkap anak-anak yang nggak mau makan?

Ada pula yang membohongi anak-anak hanya untuk kesenangan belaka. Seperti teman saya yang nyuruh mencet hidung biar nggak kesamber gledhek, idih ini parah banget. Mengapa kita katakan dengan baik-baik apa yang sedang terjadi? Kalau karena kita bicara jujur lalu membuat anak jadi menangis, saya rasa tidak apa-apa. Biarkan saja sesekali menangis. Toh sebentar lagi juga berhenti. Namanya juga anak-anak.

Saya pribadi memang belum punya anak. Namun terkadang saya suka mengamati anak-anak dan sesekalimendengar ceramah parenting. Saya pernah mendengar dari Ust. Nouman Ali Khan, kata beliau salah satu parameter keberhasilan mendidik itu ketika anak itu bisa menjawab faktor Why. Semisal ketika mengajari anak solat. Target kita tidak hanya melihat anak itu bisa solat, bisa gerakannya dan hafal doa-doanya. Namun anak itu bisa menjawab mengapa kita harus solat.

Saya teringat dengan video YouTube yang saya tonton beberapa waktu yang lalu. Tonton aja kalau mau nonton. Keywordnya Confession Haroon Moghul. Haroon adalah seorang anak yang dididik orang tuanya dengan nilai-nilai agama yang sangat ketat. Semenjak kecil ia sudah menghafal Qur’an. Kemudian ketika ia beranjak dewasa, ia melihat temannya minum-minuman keras dan berkencan. Kemudian muncul pertanyaan dalam dirinya. Kalau saja saya tidak mempercayai Tuhan itu ada, itu artinya saya bisa bebas menjadi apa yang saya inginkan. Itulah permulaan dia menjadi atheis.

Hal yang sama dialami oleh teman saya, dulu sewaktu kecil, dia pernah punya pikiran. Kalau aku jadi orang Kristen kayaknya lebih enak karena nggak usah solat. Saya rasa disinilah salah satu hal yang penting yang diajarkan anak-anak. Anak-anak kita mempunyai alasan mengapa ia harus melakukan seusatu yang diwajibkannya.

Menjelaskan dengan alasan yang benar juga dapat melatih analytical thinking si anak. Semisal ada anak kelas satu yang tidak suka fisika, kita bisa katakan, habis tahun ini kamu bisa free dari fisika. Nanti pas penjurusan kelas dua kamu bisa milih IPS. Namun untuk sekarang ini kamu harus belajar fisika setidaknya agar nilaimu tidak merah. Karena itulah syarat agar kamu naik kelas. Kita tidak perlu membesar-besarkan masalah seperti: Kalau kamu nggak mau belajar, kamu mau jadi apa? Masa depanmu bagaimana?

Mengajarkakan analytical thinking berarti mengajari anak untuk bisa mengerti bagaimana hukum sebab akibat bekerja. Kalau seperti ini maka akan seperti itu. Jika anak kita punya analytical thinking yang baik, maka ia akan bisa menganalisa masalah secara baik. Dan ini sangat dibutuhkan untuk menghadapi kehidupannya. Ia tidak akan mudah terjebak oleh berita hoax yang sering beredar di dunia maya. Ia juga tidak akan terbawa perasaan publik (yang terkadang) suka kebawa emosional.

Menjelaskan alasan yang benar secara logis adalah sesuatu yang penting. Selain melatih analytical thingking hal yang tak kalah penting adalah menjaga kepercayaannya. Sebab, anak tidak membutuhkan waktu lama untuk menangkap tabiat orang tuanya apakah ia seorang yang suka berbohong atau tidak. Sebab, jika anak kita tidak bisa mempercayai kita lagi, lalu pada siapa ia harus menaruh kepercayaannya?

Ditulis oleh Arkandini Leo

https://www.facebook.com/notes/arkandini-leo/berkata-bohong/10154471588179542

Posted by Arkandini Leo on Friday, January 27, 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s